1 2 3 Sihir Cinta

1 2 3 SIHIR CINTA

Rista Sagita

“ Ayolah mam..”, dengan wajah memelas aku memohon  mam Bielle, guru yang mengajariku mantra dasar dan penyihir di Swordtrillyr untuk bisa mengajariku membuat ramuan yang aku ingin dan sangat aku butuhkan saat ini.  Ramuan Cinta. Ramuan yang bisa membuat peminumnya jadi enteng jodoh. Siapa yang tidak ingin enteng jodoh? Pasti semua mau. Aku sedang jatuh cinta mam, tapi aku hanya takut pada perasaanku ini. Takut mengutarakan, takut ditolak, kan aku cewek, apa jadinya kalau cewek yang mengutarakan perasaan duluan. Malu,duh. Jadi, tolonglah mam..

“Kau ini tidak capek-capeknya merayuku terus ya,Lyndrina. Sudah berapa kali saya bilang, tidak akan pernah saya ajarkan pada kamu,” Suara mam Bielle sedikit meninggi. “Mam apa tidak pernah jatuh cinta?” aku sebal sama orang satu ini, aku kenal dia orang baik dan dia sangat baik padaku sejak awal masuk sekolah penyihir di sini. Mam Bielle selalu mengajariku apa saja, mantra, ramuan, biografi penyihir ternama. Ya, mam Bielle orangnya ramah, baik, suka cerita, tapi tidak seperti sekarang saat aku bertanya tentang ramuan cinta. Pelitnya minta ampun, Huh! “Hussh! Sembarangan kamu! Mam tentu pernah jatuh cinta. Mam pernah muda,ya,” kata mam Bielle. “Ravidorfe ja!” mam Bielle mengucapkan mantra, buku-buku dan barang-barang jadi rapi. “Nah, bagi-bagi tips dong mam, supaya penyihir cowok suka sama aku. Kalau mam sedang malas bercerita ya kasih tau aku resep ramuan cinta deh,mam. Ya mam,ya?” aku tersenyum tipis. Berharap mam Bielle mau memberiku ramuan cinta. “Memang siapa yang kamu taksir?” Mam melirikku. Aku menundukkan kepala, sedikit malu. “Ezarcio,” bibirku yang sudah tipis ini ku gigit, dengan kepala masih ku tundukkan. “Coba cari di perpustakaan sana, mungkin ada,” Mam Bielle berjalan meninggalkan ruangan kelasku. Pelitnya astaga!

“..Ramuan mabuk, ramuan menyadarkan orang amnesia, ramuan menghilang, ramuan anti panas, ramuan merubah suara, ramuan.. ah capek!”, sudah sampai halaman terakhir tetap tak ada ramuan cinta. Ku tutup buku lalu ku senderkan badanku di kursi. “Ravidorfe ja!” buku-buku yang berceceran di meja langsung menjadi sebuah tumpukan di meja. “Azlu dorfe ja die buch !” buku yang menumpuk satu persatu kembali ke asalnya di mana tadi ku ambil. Aku berdiri hendak pergi ke ruang kepala sekolah. Biasanya mam Bielle berbincang-bincang dengan suaminya, Mr. Gumbr, sang kepala sekolah Swordtrillyr di sana.

“Hey, Lyndrina ! Sedang apa kamu?”. Aku menoleh ke asal suara. Ezar? “Eh, oh, a a aku?” sial. Kenapa jadi gagap. “Iyalah, aku kan panggil Lyndrina. Disini yang namanya Lyndrina cuma satu kan?” Ezar tersenyum manis. “Huaah, aku mau pergi dulu sampai jumpaaaa!”, Aku lari meninggalkan perpustakaan dan Ezar yang sudah menyapaku baik.  Kupercepat langkah kakiku. Aduh kalau sudah salah tingkah begini jadi ingin terbang saja.

“Mam,” suaraku sedikit ngos-ngosan. Ku atur nafasku yang sedang naik turun ini. “Kamu lagi,” Eh? Mam menolak kedatanganku? Baru kali ini. “Mr.Gumbr dimana mam?” tanyaku basa basi. “Ada apa?”  WUUUUSSH! Mr. Gumbr muncul dari dinding dekat perapian. “Kalau tidak ada keperluan penting lebih baik kembali ke kelasmu.” Tentu aku tidak berani membantah ucapan kepala sekolah. “Kau tahu kan, sayang. Penyihir muda satu ini selalu bertanya hal hal yang aneh. Dia minta saya membuatkan dia ramuan cinta. Sedang kasmaran katanya,” Mam Bielle kenapa buka aib mam, aku menundukkan kepala lagi deh. “Mana ada?”, kata Mr.Gumbr dengan nada datar. “Memangnya tidak ada mam?”, tanyaku. Mam Bielle tersenyum. “Biar saya ceritakan ke kamu bagaimana saya jatuh cinta saat seumuranmu,” Mam Bielle mengeluarkan cermin kecil. “Grossevian ja durfe su !” Tubuh mam Bielle masuk ke dalam cermin. Tapi aku tak melihat mam Bielle ada di dalam cermin itu. Tapi ada sosok cewek seumuranku yang dikucir satu sedang duduk di taman. Cantik. Dia sedang melamun, aku dengan sangat jelas bisa membaca pikirannya.

“Tak terasa usiaku sudah 17 tahun dan sudah tiga kali pacaran. Gill, pacar pertamaku, adalah teman sekelasku di sekolah penyihir. Dia anak yang sangat dan selalu pendiam. Padahal teman-temannya sangat cerewet dan nakal. Namun Gill penyihir yang pandai. Guru – guru sering memujinya lantaran Gill selalu mampu mempraktekan mantra dengan sempurna. Gill sering ikut kejuaraan ataupun olimpiade penyihir, hasilnya selalu memuaskan. Dia pernah juara favorit lomba membuat ramuan penghilang jerawat di kulit kepala. Pernah juga juara 1 cerdas cermat se-Swordtrillyr, sekolahku. Gill memang hebat. Gill mencuri hatiku sejak lama, enam bulan aku menyimpan perasaan padanya. Tak ku duga saat olah raga Viws, dia menembakku. Aku pun menerimanya. Kami jadian. Hanya sebulan. Dua minggu aku jatuh cinta. Seminggu aku dilema. Empat hari ku coba kuatkan. Dua hari aku berpikir. Esoknya ku putuskan hubungan ini. Karena…

.. Dan bodohnya lagi Grill, Dorfen mengucapkan mantra Dufjugka padahal yang benar Dufgudjka, tentu saja rambutnya terbakar, dan muka nya jadi hitam..”, belum selasai cerita.. “Hahahahahaha ngrroff geeengnruoofwok ngghaahahah ngroouf nggrook huahahah wrrgruook,” Aku terdiam melihatnya tertawa.

Dan karena..

“..Kau tahu kan penemuanku itu sungguh luar biasa hebatnya. Bagaimana bisa penyihir- penyihir tidak menghargai karyaku yang satu ini. Coba bayangkan sayang, apa ada penyihir lain yang membuat ramuan penunda lapar selain aku? Adakah?,” Hgeghgehghghikhiks hmm hik hik hmm hikk. Dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku diam terpaku.

Dan kami putus. Fiuh! Lalu mantanku yang kedua adalah Zilo. Penyihir yang satu ini selalu membuatku tertawa..

“Jus Almbmu enak”, kataku. Ziol menatpku dengan senyumannya yang manis. “Terima kasih,” “Haha”. “Aku punya cerita..” “Hahaha..” “Sapu terbangku hilang..” “Hahahhhaa” “Aku tak tahu hilangnya di mana?” “Hahahahahahah aahahah..”. “Aku sudah mencarinya kemana mana tapi tetap tidak ada,” Aku tidak kuat mendengar ceritamu, lucu sekali kau Ziol. “Huaahahahaha ahahhahah hahaha..hahah,” “Apa kau juga tahu bahwa tongkat sihirku juga pernah hilang, tapi kemudian aku menemukannya, ada di balik bantalku, tapi tidak mungkin sapu terbang ada di balik bantalku bukan?”. “Huahahahaahahuahhahahah….hahahhaah..”

Hmm Ha? Ha? Ha? Ternyata aku baru sadar bahwa selama ini Ziol tidak lucu. Sejak kejadian itu aku membenci Ziol. Bagaimana tidak? Aku tertawa terpingkal pingkal hingga tak sadarkan diri. Ketika sadar, aku sudah berada di rumah sakit penyembuhan penyihir,Lunaicuox. Rox, salah seorang perawat di sana mendeteksi tubuhku dengan mantra “Abrux Heal ja Hertz!”. “Ada apa dengan tubuhku Rox?”.”Kau keracunan ramuan tertawa tiada henti. Dua hari lagi kau sudah bisa pulang,”ujar Rox.

Dan Ziol, kita putus!

Dua bulan aku sendiri tanpa pasangan penyihir. Namun tak kusangka suatu hari aku bertemu penyihir yang sifatnya selama ini ku cari-cari. Romantis! Dia kakak kelasku, namanya Munchin. Dia mengajariku banyak hal, seperti cara membuat ramuan pengingat kejadian,pencerah wajah. Dia hampir sama pintarnya dengan Grill, pintar mengolah ramuan, pintar segalanya, tapi suaranya saat tertawa sangat keren, tidak seperti Grill. Dan yang membuatku jatuh cinta padanya, tentu saja karena romantisnya minta ampun..

Sayang, lihat di atas sana deh, Sweer ja nise !”, Langit tiba-tiba berubah menjadi kehitaman. Awan yang semula terlihat cantik menjadi kabut tebal dengan bunyi guntur dengan keras.

“Aku takut,” Aku menoleh pada Munchin yang berada satu sapu terbang denganku. Sedikit lebih mundur dari posisi sapu terbang ku rapatkan badanku pada dadanya.

Namun seketika berubah, langit kembali cerah dan muncul tulisan di awan, Ich liebe dich.

“Munchin, terima kasih,” senyumku padanya.

Dua bulan berlalu, cintaku pada Munchin semakin hari semakin berkurang. Ku dengar kabar dari Ren, Munchin tidak hanya mencintaiku, tapi ada dua penyihir seangkatanku dan satunya lagi teman sekelasnya yang Munchin cintai dan menjadi kekasihnya. Aku kaget. Bagaimana Ren bisa tahu?

“Sungguhkah dia seperti itu?” Aku menangis.

“Ya, Bielle cantik.”

“Darimana kau tahu?,”

“Aku tak perlu menceritakan padamu sekarang. Tapi suatu hari nanti kau pasti tahu sendiri. Sekarang lebih baik kau jauhi Munchin. Oke,Cantik?”,

“Aku tak mempercayaimu,”

“Terserah kau sajalah, Tschuss!”

Aku menangis sepanjang malam. Aku tak bisa tidur. Semua kenangan indah bersama Munchin sulit aku lupakan. Tapi cerita dari Ren membuatku harus membencinya. Aku harus melupakan semua kenangan kita. Aku masih ingat betul bagaimana Munchin bisa membuatku senang dengan buku yang dia beri padaku. Isi buku kosong, namun saat kau ucapkan mantra “Verstehen nicht !”

Akan muncul puisi-puisi indah dengan tulisan warna-warni, lalu di halaman berikutnya ku dapati foto kami berdua. Dan kejadian indah lainnya yang masih ku ingat, saat dia mengejutkanku denga awan bertuliskan ich liebe dich. Sungguh Munchin orang yang romantis. Tapi semua kenangan itu harus segera ku buang. Buku pemberian Munchin juga harus ku buang. Aku beranjak dari kasurku, jam berdentang sebanyak 2 kali. Jam dua malam, dan aku belum tidur. Aku lalu mengambil buku kosong pemberian Munchin,

“Frei die Buch ja!” buku itu terbakar seketika. Hanya muncul asap  yang seketika menusuk hidungku, buku itu telah musnah.

Apa yang baru saja kau bakar?”, Mica terbangun dari tidur mencium ada bau barang yang terbakar. “Sebuah buku yang tidak penting. Lanjutkan saja tidurmu,” kataku datar. “Kau juga tidur, sudah larut malam ini,” Mica kembali merebahkan badannya ke kasur. Aku pun segera mengikuti jejaknya menuju dunia kapuk.

Kini setelah dua minggu aku putus dengan Munchin. Tiba-tiba Grill dan aku menjadi dekat lagi. Bukan cinta, bukan sayang, bukan apa, dia kasihan padaku saja. Sejak aku putus dengan Munchin, aku sulit berkonsentrasi pada pelajaran. Mengucapkan mantra salah, naik sapu terbang jatuh, melempar Gorx tidak pernah tepat sasaran. Kapalaku juga sering sakit, pusing.

Hari ini, aku janjian dengannya di taman, dia janji membawakan ramuan penghilang jerawat di kulit kepala. Kata Grill dia sering melihatku susah berkonsentrasi, mungkin aku stress. Penyihir kalau sudah stress ya begini ini, muncul jerawat deh.

“ Apa yang kamu fikirkan, Biel?”, tangan kanannya membelai kepalaku. Grill mulai melihat dan menghitung jumlah jerawat di kulit kepalaku. “Cuma ada tiga,” katanya lagi. “Sudah sini ramuanmu aku minum,” aku mengambil botol kecil yang Grill genggam di tangan kirinya. “Apa yang kau fikirkan,Biel?” dia mengulangi pertanyaannya yang belum ku jawab.

“Aku mencintai Munchin, tak habis fikir mengapa dia menghianati cintaku, dia juga mencintai penyihir yang lain. Apa salahku hingga dia tega berbuat seperti itu?,” ucapku terbata bata.

“Apa buktinya?”

“Ren cerita padaku seperti itu,”

“Ren?”

“Iya, sahabat dekatmu itu membeberkan semua kelakuan Munchin yang sebenarnya padaku.”

“Dan kau percaya? Hey, tunggu dia sering mendekatiku, tapi kami bukan sahabat”

“Ku kira dia sahabatmu. Kalian begitu dekat,”

“Kau sudah hampir dua tahun sekelas denganku, sekelas dengan Ren, harusnya kau tau tingkah laku penyihir yang lain.”

“Maksudmu?”

Mam Bielle keluar dari kaca. Gambar seorang penyihir cantik yang semula duduk di taman hilang. Gambar penyihir muda yang menemaninya di situ dan lingkungan taman semakin lama semakin memudar. Kabur dan tak jelas, hingga yang tampak adalah wajahku. Cerminnya kembali menjadi cermin normal.

“Maaf tidak bisa menceritakan padamu sampai selesai, Lyn. Tampaknya aku lupa bahwa cermin itu hanya memutar kejadian selama 30 menit. Mungkin hal-hal yang bertele-tele tidak seharusnya saya ceritakan,” Mam Bielle mengambil cermin yang aku pegang dan memasukkan cermin tersebut ke dalam sakunya.

“Mam kisah menangis semalam dan adegan bakar buku itu tidak penting ah mam, seharusnya tidak perlu diceritakan,” protesku. Mam Bielle tertawa.

“Memangnya kisah tadi tidak bisa diteruskan?” tanyaku. Jujur saja aku penasaran. Bagaimana Mr. Grumbr dan Mam Bielle menikah jika Mr. Gumbr tidak pernah diceritakan kejadiannya oleh cermin tadi.

“Mr. Gumbr tidak muncul dalam cermin tadi. Kapan kalian bertemu? ” “Bagaimana sih,Lyndira kamu itu!,” Mam Liebe kaget. “Dia belum paham. Mungkin karena ceritanya terpotong.” Mr.Gumbr membelaku, “Cermin tadi hanya menceritakan kejadian yang diinginkan pencerita hanya satu kali dalam waktu 30 menit. Aku akan menceritakan kisah kami padamu tapi tentu dengan versiku, kejadian hidupku,”. “Baiklah,” jawabku.

“Keluarkan cermin tadi Biel,” pinta Mr. Gumbr. “Grossevian ja durfe su !”

Tubuh Mr.Gumbr menghilang dari ruangan kepala sekolah. Dia masuk ke dalam cermin. Lingkungannya masih sama di sana, sebuah taman. Ku lihat wajah seorang penyihir muda yang pernah ku lihat sebelumnya. Itu Grill. Hey, aku tahu jalan fikirannya. Grill mengejar seseorang penyihir. Itu Mam Biele ketika muda. Grill menahan Bielle pergi.

“Mau kemana Biell?”, cegahku. “Menemui Ren,”jawab Bielle datar. “Untuk apa?” tanyaku. “Menyuruhnya mengaku apa yang sebenarnya terjadi, siapa Munchin, pacar-pacar Munchin?” Bielle berhenti melangkah menoleh ke arahku. Dia menunggu jawabanku, “Aku ikut”. Bielle membalikkan badannya dan melanjutkan jalan. Jalannya menjadi sedikit cepat. Aku mempercepat langkahku. Kami menuju kelas. Berharap ada Ren disitu.

“Tidak ada,”

“Sial, di mana dia”

“Tzodicelox!” mantra itu membuat rutinitas penyihir di ruangan ini dalam 5 menit yang lalu bisa tergambar jelas. Terlihat bayangan raga Ren berjalan keluar kelas menuju lapangan sapu terbang. Aku dan Bielle mengikutinya. Di lapangan sudah ada Munchin sedang naik sapu terbang. Munchin tersenyum menatap Ren. Mereka berdua lalu pergi jauh dengan sapu terbang Munchin.

Rues!” sapu terbangku ku panggil. Ku tarik tangan  Bielle, “Naik, kita harus tahu apa yang sedang mereka lakukan,”. Bielle berada tepat di belakangku, dia hanya menunduk. Sepertinya dia lemas. Aku khawatir dia stress melihat Munchin dan Ren berduaan. Jerawatnya bisa muncul lagi. Botol yang ku berikan padanya adalah stok yang terakhir. Mencari bahannya saja susah.

“Cepat jalan Grill, tunggu apa?”, nada Biel datar.

Rues segera terbang membuntuti perjalanan Munchin dan Ren.  Munchin dan Ren berhenti di atas danau. Hari mulai senja. Mereka sedang berbincang mesra. Aku hanya tidak tahu apa isi percakapan mereka. Tak lama, awan berubah jadi hitam. Suara halilintar menyambar. Tapi hanya sesaat keadaan itu. Setelah itu awan kembali cerah.

“Setelah ini pasti ada tulisan Ich liebe dich,” ucap Bielle lirih.

“Bagaimana kau bisa tahu?,” tanyaku heran. “Munchin dan aku pernah kesini dalam keadaan seperti ini. Setelah itu Munchin memberiku kejutan..”,belum selesai Bielle berkata, suara benda jatuh ke kolam sangatlah keras. Byuurr !!

Ren jatuh. Munchin membalikkan arah sapu terbangnya. Munchin melihat aku dan Bielle duduk bersama di atas Rues. Dia menghampiriku. Dia tersenyum pada Bielle dan mengulurkan tangannya padaku, “Jaga Bielle baik-baik,”.

Mr. Gumbr keluar dari cermin. Dia tersenyum padaku dan Mam Bielle. Mam Bielle menghampiri suaminya itu kemudian memeluknya. Pelukan yang lebih hangat dari perapian di ruangan Mr.Gumbr.

Aku pergi meninggalkan Mr.Gumbr dan mam dari ruangan karena bel telah berbunyi. Sebenarnya masih banyak pertanyaanku yang muncul di benak. Namun satu permintaan yang aku minta dari mam Bielle kini sudah ku urungkan. Aku tahu mam tidak punya ramuan cinta. Seandainya ada pun tak akan aku mau memakainya. Buat apa? Hidup dengan kebohongan tidak akan bisa menjadikan seorang penyihir bahagia. Hidup dengan kebohongan hanya membuat batin tersiksa.

*             *             *

“ Lynd,” sapa mam Bielle. Mam Bielle tidak bisa melihat aku dan Ezar sedang berduaan apa? Ini baru pertama kalinya mam aku bisa berada di dekat Ezar selama ini. Biasanya kan aku kabur, salah tingkah. “Ezar, mam Bielle memanggilku, turun ya?,” pintaku. Ezar mengarahkan ruesnya menghampiri lapangan di mana mam Bielle di koridor telah menunggu. Sampai di lapangan Ezar dan aku turun dari sapu terbang dan berjalan menuju mam Bielle. “Ada apa mam?,” tanyaku. Mam Bielle mengeluarkan cermin dari sakunya dan memberikannya padaku. “Untuk apa mam?,” tanyaku lagi. “Barang bagus tidak perlu ditanya fungsinya Lyn, sewaktu waktu mungkin kamu butuh. Saya dan Mr.Gumbr sudah tidak bisa menggunakannya lagi,”. “Mam, perasaan kemarin waktu Mr.Gumbr bercerita belum sampai 30 menit mam,? Oh iya, Grill itu nama lengkapnya Gumbr Grill ternyata. Haha, Ezar yang memberi tahuku ”. “Dia lupa lanjutan ceritanya. Cermin tidak mau menunggu lama, jadi Mr. Gumbr dikembalikan. Dasar, Nama lengkap kepala sekolah Swordtrillyr sendiri bisa-bisanya kamu tidak tahu,”. “Ziol sekarang dimana mam? Munchin juga?” pertanyaanku yang menumpuk akhirnya bisa aku keluarkan. “Nama guru-guru penyihir kamu tidak hapal Lyn? Dasar. Tanya Ezar sana.” Kata mam Bielle.

“Ziol? Dopr Ziol, guru pengajar ilmu hitam kita nanti jika kita naik kelas. Munchin? aku tidak tahu,” ujar Ezar menerangkan. “Mam juga tidak tahu dia dimana sekarang,”.

Mentari sedikit tertutup oleh awan. Keadaan berubah jadi mendung. Aku berharap hujan akan tiba. Aku ingin bermain hujan dengan Ezar, orang yang mencintaiku . Semoga dia benar-benar mencintaiku. Ternyata benar. Tidak lama suara halilintar menyambar. Hujan deras mulai mengguyur lapangan Swordtrillyr. Ezar menuju lapangan yang basah sambil memanggil ruesnya. Dia lalu mengajakku bermain hujan. Ketika hendak menghampirinya mam Bielle memanggilku, “Lynd, sebenarnya ramuan cinta itu ada kok. Kamu mau ibu memberikan resep pembuatannya padamu?,” tanya mam Bielle. Aku meninggalkan mam dan berlari menuju lapangan. Aku menaiki sapu terbang Ezar dan memeluk erat. Ketika rues pada ketinggian 2 meteran, aku menoleh kepada mam Bielle yang melihat aku dan Ezar di atas sapu terbang sambil tersenyum. Sedikit keras aku berteriak, “Aku tidak ingin seperti Ren, mam!” aku tertawa.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to 1 2 3 Sihir Cinta

  1. Good story :)
    Aku suka dengan cerita fantasi yang dibaluti aroma cinta…
    Seperti Harry Potter, pakai mantra gitu…
    Semangat terus buat Rista Sagita… :D
    Dan jangan lupa juga, baca cerpen aku “Pangeran Sejagad” di urutan ke-36…

    (NP: Boleh nanya nggak, ramuan buat cepet dapat jodoh apa yah, hehehe ^^)

  2. Meimei says:

    Bagus…
    Hiks,
    Pengen deh, bisa bikin mantra sihir.
    ajarin dong. haha

  3. Klaudiani says:

    Rista, maaf, judul cerpenmu terpaksa diterjemahkan

  4. musthaf says:

    bingung, ya, simpelnya itu, bingung
    hmm, jadi cerita ini intinya adalah bahwa “magic love” itu tidak menyenangkan ya? saking ga enaknya, mam bielle yg biasanya ramah jadi pelit. tapi masalahnya, saya kurang dapet nangkep pesan bahwa magic lovenya itu ga enak. Ren jatuh, and what? apakah ga enaknya itu cuman karna jatuh? ah, binun…

    lalu format penulisannya juga, di awal dan akhir ada banyak dialog yang dibundel menjadi satu paragraf yang kaya tanda petik, ini menyebalkan. padahal, di bagian tengah uda ada penulisan dialog yang enak. what’s going on??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>