Aku Harus Bertindak

AKU HARUS BERTINDAK

Smith61

Harus terus berlari.

Atau.

Mati.

 

Batang pohon melesat, darah pekat muncrat.

Satu lagi selamat dari sesat dunia bejat.

Ahaha, tidak tidak aku bukan penyelamat.

Hanya remaja laknat dengan tanggung jawab yang begitu berat dan sama sekali tidak nikmat.

Sungguh, karenanya, diri ini telah bersimbah nanah oleh fitnah.

Membuatku muak dan sesak.

Tidak bisa berhenti.

Mati tidak bisa berhenti.

Sampai kiamat.

Sampai kiamat.

Sampai kiamat.

Sampai kiamat.

Sampai kiamat.

Sampai kiamat.

Tidak. Masih ada lagi. Tidak hanya kiamat.

Bertelanjang kaki Dia berpijak pada salju merah kehitaman.

Aku bukan orang jahat. Aku bukan orang jahat. Aku bukan orang jahat. Aku bukan orang jahat.

Kakinya yang kekar tampak menegang lalu terangkat.

Aku tidak gila. Aku tidak gila. Aku tidak gila. Aku tidak gila. Aku tidak gila. Aku tidak gila.

Melompat, dirinya, juga air matanya. Kakinya menghantam sesuatu di udara.

Aku hanya mencoba membelokkan dan …

Seringai putus asa bersama tawa yang tertera di atas muka itu rusak begitu saja. Sementara otot-otot lehernya tidak mampu menyatu lagi. Kepala sang penyerang kemudian terhempas lepas. Lalu tubuh tanpa kepala itu jatuh lemas.

Darah pekat muncrat. Satu lagi selamat dari sesat dunia bejat.

Selamat? Aku menipu lagi.

Aku bukan penyelamat.

Hanya.

Hanya mencoba mewujudkan apa yang telah ditetapkan.

Api. Pinus-pinus pada pandangannya mulai ditiduri api. Lalu suara. Suara bising yang Dia kenal betul. Tatapannya beralih ke langit yang berisik. Langit sore kelam yang sakit jadi berbintik. Bintik-bintik hitam yang terbakar sedang melayang di atas sana. Yang kemudian menghujam bersama kejam.

Anak panah pertama pada dada. Yang kedua dan ketiga, kedua bola mata. Bertubi-tubi. Putus nadi. Mati. Mati. Mati. Mati. Lalu terbakar api yang berlari-lari. Bukan Dia. Tapi mereka. Mereka yang menggenggam busur hancur. Mereka yang melarat dalam jiwa berlapis karat. Mereka yang sedang memainkan orkes jerit sakit dan pekik cekik.

Meninggalkan pinus-pinus hangus, kakinya melangkah menuju puncak sebuah bukit. Hanya untuk kembali menemukan ancaman para pahlawan yang menerjang meradang. Tak kurang dari seribu kali seribu. Berbaris itu serdadu-serdadu berzirah batu yang dilukis warna biru ungu.

Mereka menyerbu naik dengan menggenggam berbagai peralatan maut terbaik. Mata mereka membelalak, mulut mereka menyalak, dan seketika itu juga gaung kematian mulai berarak.

Menyedihkan, pertunjukan perilaku manusia ketakutan.

Yang berang dan akan menjadikan bukit ini berlinang darah sehitam karang

Maaf, tidak ada kesempatan menang bagi kalian penantang dalam ini petang!

Menyatu dengan pesona matahari terbenam menjadikan siluet terakhir tarian kematian itu begitu indah. Sudah. Gundah. Sebentar lagi matahari mati. Tidak lama lagi giliran bintang yang terpampang. Oleh karena itu Dia segera berkonsentrasi dalam mata hati demi menangkap momen ini.

Usai menghela durhaka, kemudian berbaring Dia di atas tumpukan manusia tanpa nyawa. Mencoba berbagi suka citanya akan momentum warna, Dia bercerita kepada mereka. Berbisik tentang senja. Pesona jingga merayap pada atap-atap alam yang mulai meratap seakan-akan merindu malam. Bersenandung tentang agung dan memuja pesona bidadara cahaya.

Bahagia Dia bersama nestapa…

Lalu terlelap meraga gelap…

Malam masih hitam dan tanpa bulan, ketika Dia terjaga karena suara gema. Bukan senjata. Bukan manusia. Itu suara tawa yang menurutnya sangat berbisa. Bisa yang menyebarkan takut luar biasa terhadap seluruh indranya. Juga perih yang mendera raga. Keram pada sendi, kaku pada kaki, serta panas di antara nadi yang begitu ganas.

Akhirnya?!

Binasa..

Binasa..

Akankah aku binasa!?

Kenapa?

Kenapa aku takut?

Telinganya berusaha keras menelaah, menyapu malam kelabu, mencari tahu. Di sekelilingnya bukan, di atas juga bukan. Di bawah. Di bawah sana. Dasar bukit, tepatnya di antara tumpukan mayit. Sesosok bayangan yang kini mulai menghentikan tawanya.

“Ha..Ha..Selamat malam wahai temaram. Gelap memang sangat nyaman. Begitu pulasnya engkau sehingga melewatkan serantai kenikmatan.”

Astaga, Malaikat.

“Ha! Wajah engkau begitu jenaka! Yak engkau berhak. Selamat. Oh tunggu dulu, akan kuperlihatkan pertunjukkan kenikmatan sebelum itu.” Katanya sambil menapak pada angkasa kosong.

Gelap sekarang adalah terang. Sementara sosok yang berbicara tadi, kini menari, dengan sosoknya yang murni cahaya. Cahaya yang tersebar bagai akar. Sosok itu menggoyang-goyangkan cahayanya. Lihai dan gemulai. Kemudian seribu kali seribu tubuh serdadu mulai bergerak.

Anggota tubuh yang berantakan mulai menyatu, lalu semua jasad itu perlahan terangkat ke udara. Pada nada-nada yang melayang terbang akibat siulan sosok Sang Cahaya. Nada yang menyembuhkan terror indra yang barusan Dia rasa. Menggantinya dengan gelitik ingin berdansa.

“DANSA SEMUA!!!” Jerit Sang Cahaya yang mulai berkelap-kelip.

Sial, apa-apaan ini?

Konyol.

Tolol.

Makhluk itu seharusnya…

Ah payah

Ujung-ujungnya, Dia tidak mampu menahan gelitik melodi. Dimulai dengan goyangan malu-malu, sampai ikut melayang di antara mereka dengan penuh gaya. Lupa akan dunia. Dari aksen-aksen lemah gemulai gerakan siku dan dagu seirama lagu, hingga sentakan dan hentakan brutal nakal yang menyulut kekacauan, antara Dia, dan mereka yang tak bernyawa, hal ini menyebabkan Sang Cahaya tertawa. Tertawa biasa, bukan berbisa. Mereka berbahagia.

“Inaf, dis uil bi suvisiyen tu rilis dedimen. Its fayer taim.”

Ini dia!

Setelah berhenti memainkan nada, Sang Cahaya kini menjadi pilar besar di antara para pedansa. Pilar yang berfungsi sebagai cermin, di mana mereka semua -termasuk Dia- sedang terpana melihat pantulan jiwa.

 

Hening.

 

Hening.

 

Hening.

 

Tangis menggelegak, raungan membahana. Tangis membahana, raungan menggelegak. Seribu kali seribu pedansa satu-satu berjatuhan, lalu mengumbar kegilaan. Semua karena apa yang mereka lihat dalam pantulan jiwa.

Dosa itu.

Meski aku sudah tahu.

Sejak berikrar sebagai babu mimpiku.

Api itu begitu mampu membuatku ragu.

Ketetapan.

Semuanya sudah.

Sialan, meski aku bukan… ah baiklah. Aku terima.

Tangisan semakin meriah, dan masih berpadu dengan raungan yang begitu mewah. Seribu kali seribu pesakitan ramai-ramai bergulingan dalam kebakaran, oleh api yang muncul dari tubuh mereka sendiri. Semua karena apa yang mereka lihat, dengar, rasa, hirup, makan, pikirkan. Kenikmatan. Perbuatan. Kesesatan. Kenikmatan. Kerusakan. Kenikmatan. Kerusakan. Kelalaian. Kenikmatan…

Ingin juga menangis apalagi meraung, namun apa daya, Dia lahir ke dunia ini tanpa kemampuan itu. Dia hanya bisa tersenyum mengulum darah dan memejamkan nanah sambil menanti  Sang Api. Api agung yang tadi menyapa bersama siksa dari pilar cahaya.

Letupan-letupan panas di dalam jantungnya mulai menggila. Dapat dirasakannya aliran api terpompa ke seluruh tubuh, membuat bola mata, mulut, telinga, dan lubang-lubang lain melepuh dan mengaduh.

Sambil menikmati siksa itu, Dia berjalan menghampiri jasad-jasad yang meratap, lalu menghirup api mereka hingga habis dan musnah bersama keberadaan mereka.

Mungkin aku bukan pembawa berita apalagi penyelamat.

Tapi sungguh pedih mendengar rontaan kalian.

Menghirup sebanyak itu. Kepalanya sudah sangat tersengat. Api setajam duri seakan menari di dalamnya. Setiap detik berlalu, siksa itu semakin liar berkampanye tentang ragu dan murka. Membuat dirinya mulai kacau. Kacau. Kacau. Kacau.

Apa aku? Ah, kenapa aku mempertanyakan itu lagi?

Kenapa aku? Karena…hanya karena adalah karena dan karena

Di mana aku? Masih di dunia palsu

Bagaimana aku? HAHA AKU BAHAGIA

“Wahai makhluk muram, sudah siapkah kau?” Sang cahaya menjulurkan  lengannya.

SANGAT!

Lengan Sang cahaya menerjang masuk melalui mulutnya, lalu menarik keluar sesuatu. Sesuatu berwarna putih yang menggeliat-geliat, menyambar-nyambar, menjilat-jilat. Sesuatu itu perlahan membentuk dirinya menjadi serupa Dia, ya, wajah, tubuh, yang sungguh-sungguh sama hanya saja dalam versi api yang berwarna putih.

“Oke selamat tinggal!!! Bay de wey, yor dens was so ku-u-u-u-ul en Ase-e-em, si ya-a in heven~<3” Sang Cahaya lantas hilang seketika.

Haha Si Malaikat bangsat minggat!

Heh jadi kau Api Agung?

Haha Si Malaikat bangsat minggat! Heh jadi kau Api Agung? Huh manusia.Jawab api putih yang ukurannya tiba-tiba membesar jadi dua kali lipat lalu berkacak pinggang sambil menggoyang pantat.

Dasar setan!

Setan! Umpama aku berani durhaka padanya, aku tak akan bersama dengan kau.

Sialan! Sudahi fase ini.

Masih banyak tugas keji untukku nanti.

Cepat bakarlah! Apa kau ragu?

Cepat bakarlah! Apa kau ragu? kamulah yang ragu hu… Hihi Mari kita berkeliling dunia sekali lagi terlebih dahulu hu…”

Tidak. Tidak. Tidak…makhluk si—

“Bercanda!!! Hua ah ah ah ah!!!” Sahut Sang Api sambil sedikit menari berputar.

Bukti kalian kadaluarsa dan hina.

“Ya ya, oke, saya mulai saja. Hmmm, kamu mau yang sakit atau tidak? Cepat atau lambat? Atas atau bawah dulu?”

PERSETAN! TERSERAH!

“He he ho ho, wai suo fakin seyriyus? Naw bern!!! Enggelfd iyn fleeeeeym en daaaaay!”

Sudah cukup aku hidup dalam benci yang meletup-letup.

Ditemani api yang membumbung tinggi.

Mari menjinakkan mati, untuk mengetahui bukti.

Lalu aku akan berlari ke tanah janji diiringi dosa-dosa suci yang bernyanyi.

Demi misi keji yang terpatri dalam nadi.

Aku akhirnya mati.

Bukan.

Bukan akhir.

Ini sensasi peralihan, yang diperkenankan dalam semacam lorong panjang penghubung dunia agung yang berkabung. Bangkai dirinya terduduk di ujung tanduk sepasang cahaya tukang tanya yang hobinya menyiksa. Luka-luka yang diterima banyak manusia Dia juga rasa. Tapi Dia sudah terbiasa dengan siksa apalagi bukan itu hal terburuk di alam sana.

Yang terburuk adalah memori dan visi.

Memori perangai yang jalang bagai badai dapat seketika menggilas dengan begitu jelas. Kejelasan itu berikut berbagai raja-raja daripada singgasana duka serta konsekuensi-konsekuensi yang sedikit banyak tidak dapat disadari. Hanya tertera dalam alam bawah sadar di mana menciptakan banyak, sangat banyak dampak pada rentang hidup yang berwujudkan visi dalam  kesempurnaan ngeri.

Yang penting adalah Dia harus terus ingat pada hakikatnya. Oleh karena itu Dia berpegang teguh. Merengkuh peluh berpuluh-puluh keremajaan abadinya yang begitu berapi-api dan tak terkendali. Keremajaan yang menjadi salah satu motivasi untuk tetap melangkah mantap, dan berani menatap yang lebih pedih dari mati.

Tidak mau ketinggalan juga Sang Api. Dengannya, Dia bertukar bisik dengan begitu asik. Selalu saling melontar tampar melalui tatap nanar. Sang Api belum menyadari dan masih saja mencaci serta menyakiti. Terhadap Dia yang bukan mereka, dan Dia yang akan membebaskan mereka dari kejadian yang sama pada kaum Api.

Mutilasi percaya diri oleh memori dan visi. Siksa Cahaya juga caci Api.

Makhluk rendahan.

Aku tidak keberatan.

Karena inilah ketetapan.

Ini jua merupakan salah satu persiapan.

Untuk mencegah siklus kemalangan para ciptaan.

Mengeluh ia mendengar lorong itu bergemuruh. Sembari perlahan runtuh, berlapis-lapis gelap di sekeliling lorong itu mengumandangkan tangis. Cahaya-cahaya durhaka menerjang gelap dengan garang, membawa udara petaka bersamanya.

Silau.

Kacau.

Parau.

Mengandalkan sedikit celah-celah musnah, Dia mencerna suasana sebelah sana. Manusia hidup ternyata masih ada. Bahkan dari penampilannya, mereka tampak sungguh bersuka cita. Namun ekspresi mereka sungguh tak serasi, karena ekspresi itu. Ya itu adalah senyum. Senyum yang mengandung nujum. Ya, manusia-manusia itu telah sepenuhnya menjadi belahan jiwa para Api.

Mereka terlihat melambaikan tangan. Menyambut kabut maut yang memerahkan langit. Berlompatan riang di atas tanah gersang yang sebentar lagi hilang. Membuang air dari mata seraya menyanyi terbata-bata.

Akhir pertama dan kedua. Pertama bagi yang masih bernafas dan berdiri. Kedua bagi penghuni lorong mati.

Dengan kedatangan akhir ini, sudah merupakan bukti bahwa ini bukan akhir.

Satu lagi bukti.

Ini..

Ah…terompet itu akan segera berbunyi.

Aku tidak boleh takut.

Segalanya terlalu cepat untuk dilihat apalagi diperhatikan. Ketika suara terompet berbunyi memusnahkan sunyi, dunia sudah layaknya kepingan angan yang tercerai berai oleh badai. Kehancuran yang begitu dahsyat dalam rentang waktu hanya beberapa saat. Tidak ada yang sempat ingat. Tak aka nada yang sempat melihat. Sempat bertaubat bukanlah kemungkinan.  Apalagi selamat. Dari Kiamat.

Hitam. Hanya hitam. Perhiasan kelip-kelip milik langit sudah musnah juga, apalagi daratan tempat dulu segalanya berada. Hanya pasir yang berputar-putar, dan melingkar bagai ular yang dapat Dia lihat dari celah.

Celah itu mendadak rusak. Pasir menyergap. Lidahnya kaku. Matanya buta. Telinganya tuli. Kulitnya mati. Hidungnya cuma dapat mengenali aroma api.

Haus.

Panas.

Bau.

Silau.

Pahit.

Dia mendorong tubuh bangkainya sehingga bangun. Semua indranya kembali lagi, namun kini Dia merasa bahwa akan lebih baik jika tidak.

Jalan panjang.

Dataran yang luasnya tak dapat dikira.

Lihat mereka.

Sejauh mata mengayuh.

Menyedihkan.

Hanya terlihat makhluk-makhluk khianat yang mengenyam takdir laknat dan menggendong belahan jiwa Apinya, sama seperti dirinya.

Hanya perjalanan, hanya penghitungan, hanya penempatan, hanya pembalasan, lalu siksa dan ampunan. Belum. Setelah itulah yang aku tuju. Ini bukan apa-apa.

Sosok-sosok Cahaya berlalu-lalang di atas kepala sambil menggenggam lentera panas luar biasa. Bermacam penampakkan makhluk buruk dan berbau busuk berkerumun murung di sekelilingnya, membuatnya sesak dan muak. Angin-angin berlarian menerbangkan pasir duri tajam yang dengan senang hati menikam dengan begitu kejam.

Semuanya berbondong-bondong menuju pasir gosong, dan sesampainya di sana setiap anggota raga mulai berbicara tanpa ada yang memaksa. Apa yang dibicarakan kebanyakan adalah hal yang teramat hina, sehingga kemelut takut membuat mereka turut larut ke dalam kabut. Mereka ribut-ribut menyahut meminta maut. Sementara Dia hanya tertawa sambil menikmati segala derita.

Selesai namun belum usai.

Hanya sangat-sangat sedikit yang dapat lepas dari laknat. Tidak termasuk Dia, yang kini berdiri di sudut badai api. Sejenak ia terpaku karena ragu.

Meski.

Ia mulai berlari.

Semua.

Ia berteriak-teriak gila.

Ini.

Api Agung dipunggungnya mulai bernyanyi.

Hanya.

Terbakar. Membara. Rasa sakit sempurna.

Karena.

Terperosok bersama banyak sosok lainnya yang sama hina.

Mimpi.

Dia tersenyum geli, membuat para Api bergidik ngeri.

 

***

Dia hanya remaja cacat, pelupa, gagal, sedikit puitis, agak autis, dan sebatang kara yang diberkati sebuah mimpi.

Mimpi. Tentang nasib semua kaumnya. Semua manusia,  entah yang durhaka ataupun yang setia. Di dalam bunga tidur itu tak ada yang berguna. Ketika ciptaan yang baru menyapa dengan segala kedigdayaannya.

Dalam mimpi itu. Hanya dirinyalah yang mampu bersuara. Karena Dia tidak lupa akan cerita lama yang menjebak segalanya dalam angkara. Yaitu ketika Api Agung dihadapkan kepada segumpal Tanah Mulia.

Musibah musnahnya pilihan.

Entah Dia berhasil atau tidak mencegah musibah itu ia … lupa, dan itu membuatnya sangat murka.

Dia bersikeras bahwa mimpi itu adalah ketetapan. Apalagi ketika setelah terbangun, dan mendapati fakta bahwa Dia telah menjadi sakti mandraguna, maka Dia memutuskan untuk menyebarkan kematian, supaya dunia berakhir lebih cepat. Menciptakan kerusakan, supaya menambah luka pribadi yang dapat mempererat keintiman terhadap mimpinya.

Agar mimpi itu lebih dekat. Segala resiko siksa ia sikat!

 

***

Ini buruk.

Insting dasar makhluk yang takluk adalah merajuk. Keputusasaan sudah tanpa ampun merasuk tulang rusuk yang sedang ditusuk-tusuk. Dia mulai menganggap mimpi itu adalah sesuatu yang terkutuk. Yang membuat dirinya kini terpuruk dalam busuk.

Tapi. Tidak rela. Meski tersiksa dan ingin lupa segalanya. Dia belum mampu untuk membiarkan mimpi itu berlalu. Apa yang dapat ia perbuat kini hanyalah menunggu.

Menunggu. Lagi?

Sepertinya dari apa yang selama ini kualami, hanyalah merupakan bermacam bentuk dari menunggu. Sungguh. Kali ini kusadari bahwa siksa yang paling membuatku menderita adalah menunggu sebuah kejadian dari sebuah mimpi yang bahkan hanya kuingat sebagian.

Bahkan. Mimpi itu belum tentu.

Ah, kenapa aku kembali ragu?

AKU HARUS SEKUAT BATU!!!

Menunggu.

Menunggu.

Menunggu.

Di dasar tungku.

Dalam siksa beribu-ribu.

Dia pasrah kepada semua itu.

Masa siksa untuknya ternyata tidak selamanya. Karena Dia pasrah? Karena Dia diam? Karena Dia tidak melontarkan makian? Karena Dia tidak memohon-mohon? Karena Dia tidak menyanyi janji-janji munafik? Karena Dia adalah Dia?

Naik?

Ke tempat yang lebih baik?

Apa yang lebih baik?

Ah, tempat ini begitu dingin, hmm ya? Aku perlu berendam dulu?

Sebegitu kotorkah dosaku?

Wow, air ini sangat nyaman dan.

Dan juga menggiurkan, boleh kuminum?

LUAR BIASA!!!

SEPERTI INIKAH SEMUA HAL DI SURGA?

OH WOW, MESKI AKU MASUK SURGA PALING RENDAH, AKU BENAR-BENAR GEMBIRA~

Di dalam surga Dia berjaya. Dengan fisik sempurna Dia selalu tertawa bahagia. Menjelajah setiap sudutnya dengan bangga dan penuh wibawa. Meraba gembira setiap bidadari yang ditemuinya dengan ceria. Menapak bukit-bukit indah dan menegak susu dan menyiram madu pada puncaknya. Merengkuh segala nikmat gila yang membuatnya terlena.

Terlena.

Ia nyaris lupa.

Suatu hari, ketika sedang terlalu girang menunggang bidadari. Sesuatu seperti mencubit isi dirinya. Dan hal itu membuatnya kembali merasakan rasa sakit sejak …

Sejak kapan?

Sejak siksa lampau dalam neraka?

Kenapa aku dulu di neraka?

Karena aku dulu berbuat kegilaan dan dosa ketika di dunia?

Kenapa aku berbuat seperti itu?

Karena mimpi?

Mimpi?

MIMPI APA???

AKU LUPA!

Gila. Dia Gila. Berlarian seperti kesetanan pada penjuru surga tanpa busana. Bertemu penghuni lain, segera Dia bertanya, “Apa yang aku lupakan?” Namun apa daya, semua yang ia tanya tidak tahu apa-apa. Sampai ia mulai putus asa dan bersandar pada sebuah pohon raksasa di sudut surga.

“Hey Bung! Kamu ingin mengingat sebuah mimpi?” Pohon itu bersuara.

“Darimana kau tahu?” Tanya Dia dengan curiga.

“Hehe, mari, tidur di bawah rindang saya dan kamu akan menemukan kembali mimpi itu.”

“Tidur? Apa itu tidur?”

“Aduh, kamu ini. Sini, begini caranya hehe..” Tiba-tiba pohon itu semakin rimbun, dan bayang-bayangnya mulai menebar kantuk. Membuat Dia merasa tenang, tentram, lemas, aman, dan nyaman. Terlalu nyaman, membuatnya ingin lupa segalanya.

“TIDAK! Kau bohong, ‘tidur’ sepertinya akan membuatku justru semakin lupa.”

“Hehe? Jadi kamu maunya bagaimana? Ah saya ada satu lagi cara…”

“Beritahu aku!”

“Hehe, kamu yakin? Mudah sebenarnya. Kamu coba cari buah busuk di sekitar akar saya sebelah sana itu lho.”

“Hmmm, astaga, maksudmu buah busuk-rusak-yang-jelek-dan-sudah-digigit ini?”

“Tepat sekali Bung.”

“Errrr dimakan nih?”

“Memangnya diapain lagi selain dimakan? Hehe? Enak kok? Meski penampilannya begitu, hehe coba saja kamu cium aromanya terlebih dahulu.”

“Whoa! Wangi ternyata! Meski wanginya tidak pekat, namun sangat menggoda jika dihirup begitu dekat!!!”

“Ya, ya, ya, memang. Apalagi rasanya lho.”

KRIUK

KRUWESS

KRUWESS

Ketika tersadar, ia kembali terbakar. Namun ia tidak menyesalinya. Karena ia telah kembali menggenggam kuat mimpinya. Dan ia tahu bahwa kejadian itu tidak akan lama lagi. Benar saja, karena semua siksa tiba tiba reda. Kerak-kerak neraka berderak dan mulai menanjak.

Semua area. Termasuk juga surga. Bergerak menuju suatu arena. Dimana terdapat suatu panggung yang luar biasa agung dengan tirai emas yang bercahaya menutupinya. Makhluk-makhluk masih terduduk pada kursi yang disediakan sesuai jabatannya.

Ini dia.

Ciptaan baru yang akan mengancam keberadaan semua ciptaan lama.

Termasuk manusia.

Semua akan diperintahkan sujud menghormatinya…

Dan bodohnya, ketika makhluk lain telah memutuskan tindakan apa yang mereka ambil -meskipun hanya taat kepada ketetapan- manusia hanya diam!!!

Pokoknya, aku. Aku harus bertindak! Berbuat sesuatu, atau manusia akan mendapat musibah, entah apa.

Dia melangkah. Dengan tekad sekuat batu yang telah ditempa api dan disucikan cahaya. Setelah melewati banyak makhluk, ia kini sudah berada dipinggir arena, masih menjejak dan memasang tampang galak meski Malaikat sudah menyeru dan Setan menyalak-nyalak. Dia justru sedih karena tidak mendengar suara apa-apa dari para Manusia.

Diam, brengsek, kalian makhluk kadaluarsa, diam!

Hey manusia, kalian bersuaralah!

Ada yang aneh.

Ketika kakinya selesai menapaki pada tangga panggung terakhir, lampu menyorotnya, semua makhluk terpana sebuah kemilau entah dari mana, lalu suara Sang Pencipta menggelegar merdu.

PERKENALKAN.

CIPTAAN TERBARU.

MAKHLUK BATU YANG TAHAN API DAN MEMANTULKAN CAHAYA BEGITU INDAH.

NAMANYA ADALAH DIA.

Astaga…

HA HA HA HA HA!!!

YA, AKULAH CIPTAAN BARU

KALIAN SEMUA SUDAH KADALUARSA

SEKARANG SUJUDLAH!!!


 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

200 Responses to Aku Harus Bertindak

  1. Fenny Wong says:

    ……… oke gw gatau harus komentar apa.
    ninggalin jejak aja deh gue.

  2. fr3d says:

    *baru baca; telat parah gak ketulungan*

    semiiitt!! najiiiiss abiiiss!
    ini masih narsis kek tahun lalu kan?!?
    DIA itu masih = si penulis narsistik egosentris itu?!?
    bwakakakak

    aduduh, ini cerpen sebenernya bagus banget (kayaknya)
    ceritanya tentang **** ***** yang ***** terus ******* dan **** **** lalu **** ***** sampe jadi ****** kan?!
    hayo, ngaku lah kau!

    dan ane cukup yakin kalau cerpen ini di-EDIT (paling gak, secara teknis EYD, dst)
    gak mungkin lah kalau gak di-edit bisa rapi gini :D

    lalu sepanjang baca, gw cuma kepikiran satu hal…
    … YES! Cerpennya segera habis! … (ternyata belum) … *baca lagi* … YES! udah bau-bau ending nih! … (ternyata belum) … *baca lagi* … Kali ini PASTI TAMAT! Gue YAKIN SEYAKIN-YAKINNYA… (ternyata belum) … *baca lagi* … (sampai depresi berat…) fiuh, untunglah akhirnya selesai juga… xD

    cape banget, mit, bahasanya
    dan gak yakin juga ini cerpen harusnya dibaca lambat2 atau cepet2, karna ane coba dua2nya, ternyata salting juga ujug2nya, >_<'
    tapi SERIUSAN, ide ceritanya sebenernya bagus banget tentang **** ******** gitu

    btw, itu banyak banget kata dan kalimat2 diulang maksudnya supaya jadi kuota minimal 2500 kata yah? *nuduh*
    aseli, keren banget… xD

  3. [.Re] says:

    Wah canggih nih… ‘Adam’ yang baru ternyata Obsessive Compulsive :))
    repetisinya epic dah. ni gw rasa dah masuk tataran dunia baru nih. Level mind controlnya ketinggian sampe langsung mind blasting ><
    Biasanya gw skimming sekarang gw skipping. Bener2 diajak level up nih! Lu ngebuka mata gw akan dunia baca baru nih Mith ^^;
    Baca depan, baca belakang. Surealnya bener2 jadi sereal nih. Sayang maqam gw ga nyampe. Pake piring ato cangkir apa aja ga mempan.
    Tapi asli, gw beneran ga kuat baca ni cerita. Terlalu banyak yang ganggu flow adegan. Let alone logic deh kalo dah gini. Diantara beberapa karya FFiesta yang gw baca, ini satu-satunya yang bikin gw ga nyaman di 5 menit pertama. *tepuk tangan* ada award khusus ini ga sih?

    P.S: jangan2 lu seneng nih bkin kita pada komen kek gini? @_@ yang manapun jawaban lu… Tafaddhol aja deh. Gw speechless ^^;

  4. [.Re] says:

    *baca kedua kalinya… *habit editor komik*
    entah napa bagian akhirnya baru bisa gw nikmatin ni cerita… a bit i mean. gw (akhirnya) bisa grasping adegannya *hore!*. hampir2 mirip karya Dante “Divine Comedy”.

    simposium teologis dan penggambaran after life yang… bisa dimengerti. yang menarik bagi gw adalah paham lu tentang dunia yang recycled, bahwa surga dan neraka ada hanya sebagai jembatan lagi untuk next world, next creation, next god-experiment. ngebaca ini ngingetin gw sama temen2 edan gw kalo dah bahas esoterisme agama :P

    all in all… gw rasa lu sebenarnya sekalian aja bikin epos dengan format puisi deh. macam Illiad, Troy, Divine Comedy dan sebangsanya ^^
    kemampuan thesaurus lu menggigit kayak Dino :)
    *ngumpulin stamina buat baca yang ketiga… or not…*

  5. Opa si pelayan says:

    Hi Tuan Smith… *muncul dari kapal selam*
    Ini Opa si pelayan… Opa adalah pengagum Tuan… karena Opa adalah salah seorang yang percaya, jika suatu saat nanti, Tuan Smith bakal jadi penulis terkenal… Itu sebabnya, Opa tetap ingin—dan harus—nyapu2 di lapak Tuan… Opa juga tetep–dan harus—doain agar karya2 Tuan selanjutnya, sukses selalu. Harus! Opa harus doain! … Seperti kata Tuan Smith! Opa harus bertindak! Yeaaah… *mengangkat tangan*
    dari penggemarmu,
    -Opa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>