Goresan Air Mata

GORESAN AIR MATA

Putri Ester

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruang tata usaha  di fakultasku. Aku kuliah di jurusan kehutanan fakultas pertanian universitas Venera. Aku mencari sosok dosenku untuk mengantarkan slip tanda pembayaran biaya praktikum. Oh… Akhirnya aku menemukan beliau di salah satu bagian ruang tata usaha. Bukan wajah ramah yang ku hadapi tapi sesosok wajah sinis.

“Tanggal berapa sekarang?” Tanya beliau padaku. “Tanggal 12 Bu.” Jawabku.

“ Kapan terakhir pembayaran biaya praktikum ini?” Tanya beliau kembali.

“Tanggal 10 Bu.” Aku menjawab dengan nada suara datar. Tak terbayang sedikit pun di pikiranku masalah yang mungkin terjadi dari jawaban yang ku berikan.

“Di papan pengumuman tanggal berapa di buat pengembalian slipnya?” Beliau bertanya kembali tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun kepadaku. Aku mulai bingung. Sepertinya ada yang salah dengan tindakanku sekarang. Mengapa beliau selalu bertanya dan bertanya. Apa susahnya sich menerima slip yang telah ku sodorkan dari tadi. Tapi ya sudah lah… pikirku. Mungkin beliau memang ingin tahu kapan tanggal pengembalian slip di papan penumuman.  Aku berusaha mengingat tanggal berapa dibuat disana.

Beberapa menit aku terdiam sambil berusaha mengingat, akhirnya aku menyerah. Aku benar-benar lupa tanggal berapa pengembaliannya. “Saya kurang tahu Bu.” Aku menjawab dengan suara lemah. Pikiranku berkecamuk apakah jawaban yang ku berikan sudah cukup bijak atau tidak. Tapi aku sudah terlanjur menjawab.

 

“Kamu jadi mahasiswa dibilang bodoh terlalu kasar. Pengumuman itu sudah lama ditempel di papan pengumuman. Bahkan saya rasa dari bulan lalu. Disana tanggal pengembalian slipnya tertera tanggal 10. Mahasiswa macam apa kamu? Papan pengumuman itu bukan pajangan. Kalau pengumuman dari bulan lalu sudah ditempel tapi sekarang kamu hanya menjawab “kurang tahu”, saya ragu apakah kamu cocok dikatakan sebagai mahasiswa atau tidak”. Suaranya tetap datar tapi sangat menyakitkan untuk didengar.

 

Aku tersentak mendengar tegurannya. Aku benar-benar malu. Aku merasa sangat bodoh dan tidak tahu harus berkata apa. Aku menundukkan kepalaku. Ingin rasanya aku menangis mendengar teguran itu. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kata-kata pedas seperti itu dari beliau. Tapi kuberanikan diriku untuk menatap wajahnya. Berusaha menghadapinya dengan wajah yang tegar. Beliau mengambil slip dari tanganku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya permisi dan keluar dari ruangan itu.

Sesaat berlalu tapi pikiranku masih tertuju pada lontaran Bu Eva, dosenku itu. “Huh…! Seandainya saja aku adalah mahasiswa yang bisa diandalkan, dia tidak akan merendahkanku seperti itu.” Aku mengumpat dalam hati. Aku mencari tempat duduk di dekat ruang kuliah. Menenangkan diri sejenak. Prestasiku di kampus memang tidak cemerlang. Dan bahkan termasuk orang yang tidak diperhitungkan dalam segala bidang. Aku terkesan lamban dalam berpikir dan mencerna kata-kata. Tapi itu semua beralasan. Aku dilahirkan dengan kemampuan otak yang terbatas, tidak seperti anak-anak normal lainnya. Dan menurut dokter yang telah merawatku selama ini, otakku akan selalu mengalami penurunan dari hari ke hari. Bahkan sampai akhirnya aku tidak akan bisa menyimpan kejadian dalam memori otakku, sekalipun itu adalah kejadian yang baru ku alami 5 menit yang lalu. Dan jika saat itu telah tiba, sudah bisa dipastikan bahwa umurku tidak akan lama lagi. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana kondisiku sesungguhnya, kecuali keluarga dan dokter yang merawatku..

Hatiku risau memikirkan ini. Hanya karena ketertutupanku kepada orang lain tentang kondisiku yang tidak normal, tak ada yang pernah mau mengerti keadaanku. Teman baikku sekalipun tak pernah mendukungku. Pernah ada program kreativitas mahasiswa dimana mahasiswa bebas mengajukan proposal tentang usaha kewirausahaannya. Saat itu aku berharap teman-teman dekatku akan mengajakku untuk bergabung membuat proposal itu. Tapi mereka bergerak sendiri. Tak seorang pun yang mengajakku. Sedih rasanya jika aku mengingat itu. Tak ada satu orang pun yang menerima kelemahanku.

Tak kusadari air mataku jatuh. Aku menangis mengingat semua yang terjadi. Aku bosan menjadi orang yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku bosan menjadi orang yang diremehkan dan tak pernah diberi kesempatan untuk melaksanakan tanggungjawab. Aku berontak dalam hati. “Kalau bukan karena sakit yang ku derita sekarang, mungkin aku masih bisa berkarya dalam hidupku. Untuk bertahan hidup saja aku harus berjuang. Bagaimana mungkin aku bisa berkarya selama sisa hidupku? Jika saja aku diberi kesempatan untuk berkarya sekali saja dan bisa melakukan suatu hal dengan maksimal, aku akan mengusahakannya dengan baik.” Tak sadar aku mengucapkan kata-kata itu sambil terisak-isak. Aku menyeka air mata yang bercucuran dengan sapu tangan di tangan.

Sesaat lamanya aku terdiam. Perlahan mata ku tertuju kepada bekas air mata yang berada di sapu tanganku. Sapu tanganku perlahan-lahan berubah warna menjadi putih polos. Aku melebarkannya dan melihat sesuatu yang aneh di sana. Sapu tanganku telah berisi tulisan.

 

“Hapus lah air matamu. Jangan sedih. Karena tak ada yang patut engkau sedihkan. Jadilah tegar untuk menerima semua ini. Jika kamu sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu yang baik selama sisa hidupmu, kamu akan diberi kesempatan. Sampai akhirnya kamu bisa membukikan bahwa kamu dapat berkarya. Jika saat itu telah tiba, dimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu sungguh-sungguh, maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu usahakan itu. Sekalipun kamu merasa bahwa umurmu tidak akan lama lagi dan otak kamu tidak dapat melakukannya, tetaplah berusaha dan berusaha. Ketika kamu melakukan apa yang tertulis dalam sapu tangan ini, maka kamu akan disanggupkan untuk melakukannya dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh otak dan pikiranmu. Tegarlah dan bangkitlah dari kesedihanmu….!”

Aku tertegun membaca tulisan itu. Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin saputanganku bisa berubah warna? Bagaimana mungkin saputanganku bisa berisi tulisan yang sebelumnya tidak ada? Akh….! Ini tidak mugkin..! Aku pasti sedang bermimpi. Oh… Tidak..!Tidak..! Aku menampar pipiku dan berkali-kali melakukannya. Aku merasakan ada rasa sakit di wajahku bekas tamparanku tadi. Aku sadar. Aku memang tidak sedang bermipi. Ku baca kembali tulisan yang berada di sapau tangan itu. Dan memang semuanya nyata.

“Heh…! Lagi ngapain?” Tadi aku nyariin kamu loh..!

Aku kaget dengan tepukan tangan teman dekatku di punggungku, Sari. Dia langsung mengambil tempat di kursi  yang berada tepat di sebelahku. Dengan tergesa-gesa aku langsung menyimpan sapu tangan tadi ke dalam tasku.

“Eh… Nggak! Tadi aku habis nganterin slip pembayaran uang praktikum ke Bu Eva. Emangnya ada apa?” Jawabku dengan kaku. Aku masih kepikiran dengan kejadian yang baru saja ku alami.

“Hm… Nggak kok. Wi-fian yuk..! Gak tahu mau ngapain.” Sari mengajakku wi-fian.

“Sepertinya aku nggak cin, aku lagi pusing. Naik aja yuk ke lantai atas!” Kataku seraya bangkit dari tempat dudukku.

“Ah..! Ya udah deh..! Sepertinya Bu Eva sebentar lagi akan datang.” Jawabnya sambil bangkit dari tempat duduknya.

Kami naik ke lantai atas dan memasuki ruangan kuliah. Aku mengambil tempat di barisan kedua dari depan. Pikiranku masih tertuju pada sapu tanganku tadi. Tak lama sesudah kami duduk, Bu Eva datang. Aku tersadar hari ini beliau masuk ke kelasku membawa mata kuliah Sifat Fisis Kayu. Oh… Aku tertegun. Sedih rasanya jika mengingat apa yang telah dikatakan beliau padaku ketika di ruang tata usaha tadi. Dengan berat hati aku membuka catatanku dan berusaha mendengarkan apa yang beliau ajarkan. Hari ini beliau mengajarkan “Letak Titik Berat Pada Balok”. Tak jarang mataku menghindar dari tatapannya. Dan seperti biasa, otakku jenuh. Tak mengerti dengan pelajaran yang sedang ku dengarkan. Perlahan ku ambil sapu tangan tadi dari tasku dan ku letakkan di atas catatanku. Aku membukanya kembali dengan perlahan sambil menutupinya dari bagian samping dengan sebuah buku. Ku baca kembali tulisan yang ada disana.

“Pluuk..!”

Uh..! Aku tersentak kaget. Sebuah spidol mendarat di meja sebelahku. Ku lihat Bu Eva mendekat ke tempatku barada.

 

“Coba kamu yang pake baju hitam kotak-kotak maju ke depan. Kerjakan contoh soal yang ada di papan tulis!” Suruh Bu Eva pada Vita duduk di sampingku.

 

Huf..! Aku menarik nafas panjang. Lega rasanya ketika tahu bahwa bukan aku yang ditunjuk beliau, tapi Vita, teman yang duduk di sampingku. Vita maju ke depan mencoba menjawab contoh soal tersebut. Lama dia terdiam di depan menghadap whiteboard. Berusaha berpikir mencari jawaban contoh soal tersebut.

“Makanya kalau waktunya mendengarkan, jangan mengerjakan hal-hal di luar pelajaran ini. Duduk kamu! Mendengarkan saja belum tentu bisa mengerjakannya, apalagi sambil mengerjakan hal-hal lain. Kamu pikir kamu sudah pintar..?! Kalau kamu tidak suka dengan pelajaran yang saya ajarkan, silahkan keluar dari kelas ini!” Ucap Bu Eva dengan wajah penuh kemarahan.

Suasana kelas menjadi hening. Ku lihat Vita hanya tertunduk seraya kembali ke tempat duduknya.

“Coba kamu maju ke depan! Kerjakan contoh soal tadi!” Kata Bu Eva kembali.

Beliau menyodorkan spidolnya ke arahku.

Ya ampuuun..! Beliau menyuruhku.

Aku kaget bukan kepalang. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya sedangkan tadi aku tidak mendengarkannya dengan baik. Mendengarkan saja belum tentu bisa, apalagi nggak!

Pikiranku berkecamuk. Aku bingung dan aku hanya memandang beliau dengan raut tak percaya.

“Ya kamu. Maju ke depan. Jangan bengong saja!” Kata beliau kepadaku.

Aku memandang sekelilingku. Semua mata tertuju ke arahku. Aku menundukkan wajahku. Ragu. Tiba-tiba aku mengingat tulisan yang ada di saputangan tadi. Terngiang kembali kata-kata dalam tulisan itu.

…………Sekalipun kamu merasa bahwa……. dan otak kamu tidak dapat melakukannya, tetaplah berusaha dan berusaha. Ketika kamu melakukan apa yang tertulis dalam sapu tangan ini, maka kamu akan disanggupkan untuk melakukannya dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh otak dan pikiranmu. Tegarlah dan bangkitlah……

 

Aku menarik nafas panjang dan akhirnya bangkit dari tempat dudukku. Sekalipun aku ragu, tapi aku tetap maju ke depan menuju whiteboard. Sesampainya di depan, aku bingung harus menulis apa. Ku arahkan spidol ke whiteboard. Aku mulai menulis angka yang terdapat pada gambar balok dan mencoba mengingat rumus yang ku dengar di awal pelajaran tadi. Aku berusaha dan mulai menghitungnya. Terkadang aku harus terdiam, tak tau harus menuliskan apa. Sampai akhirnya soal tersebut dapat kuselesaikan sekalipun aku ragu apakah yang ku tuliskan itu benar atau tidak. Setelah selesai, aku membalikkan wajah ke arah teman-temanku dan beliau. Dengan suara yang berat, ku buka suaraku dan mengatakan: “Sudah Bu”.

“Silahkan  duduk! Ada yang bisa menggantikannya?” Beliau angkat suara.

Aku menundukkan kepalaku.  Seperti biasa. Apa yang ku kerjakan tak pernah benar. Aku kembali ke tempat dudukku dengan wajah kecewa. Pikiranku tertuju pada tulisan di saputanganku  itu…

…………Sekalipun kamu merasa bahwa……. dan otak kamu tidak dapat melakukannya, tetaplah berusaha dan berusaha. Ketika kamu melakukan apa yang tertulis dalam sapu tangan ini, maka kamu akan disanggupkan untuk melakukannya dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh otak dan pikiranmu. Tegarlah dan bangkitlah……

Persetan dengan semua itu, pikirku. Ku ambil sapu tangan yang ditutupi oleh buku tadi. Ku remas dengan geram dan ku lempar ke dalam tasku. Aku tak mempedulikannya lagi. Sekarang pikiranku tertuju pada whiteboard di mana Bu Eva sedang menjelaskan sesuatu. Aku berusaha mengikuti setiap kata yang terucap dari mulutnya dengan cermat. Tapi sama saja. Tak ada satu hal pun yang bisa ku ingat jika aku mengulangnya kembali di otakku. Sampai akhirnya pelajaran usai, satu hal pun dari sekian banyak yang beliau ajarkan tak ada yang berhasil ku ingat.

 

*********

Sesampainya di rumah, ku keluarkan seluruh isi tasku. Terlihat olehku saputangan yang telah berubah warna tadi siang. Ku buka kembali dan ku letakkan di atas meja belajarku. Aku duduk dan membacanya kembali secara berulang-ulang.

“Hapus lah air matamu. Jangan sedih. Karena tak ada yang patut engkau sedihkan. Jadilah tegar untuk menerima semua ini. Jika kamu sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu yang baik selama sisa hidupmu, kamu akan diberi kesempatan. Sampai akhirnya kamu bisa membukikan bahwa kamu dapat berkarya. Jika saat itu telah tiba, dimana kamu bisa membuktikan bahwa kamu sungguh-sungguh, maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu usahakan itu. Sekalipun kamu merasa bahwa umurmu tidak akan lama lagi dan otak kamu tidak dapat melakukannya, tetaplah berusaha dan berusaha. Ketika kamu melakukan apa yang tertulis dalam sapu tangan ini, maka kamu akan disanggupkan untuk melakukannya dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh otak dan pikiranmu. Tegarlah dan bangkitlah dari kesedihanmu….!”

Aku menarik nafas panjang. Ini tidak benar. Apa artinya sebuah tulisan pada sapu tangan yang tidak  berguna. Toh aku sudah mencoba untuk membuktikannya, tapi hasilnya  nihil! Seruku dalam hati. Kuremas saputangan itu. Tak sadar aku menangis kembali. Air mataku jatuh berderai. Dan secara tidak disengaja tetesan air mataku mengenai sapu tangan yang berada pada remasan tanganku. Seketika itu juga aku melompat dan terjungkang ke belakang. Saputangan tercampak ke bawah meja. Ku lihat warnanya telah berubah menjadi biru muda. Aku bingung dan ragu. Apa yang terjadi? Apakah aku harus mengambilnya? Apa yang salah dengan saputanganku? Ini tidak mungkin! Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.

Aku bangkit dari tempatku terjatuh tadi dan berjalan ke tempat saputanganku berada. Akhirnya ku putuskan untuk mengambilnya dan membukanya kembali. Tulisan baru muncul lagi di saputangan itu.

“Hapus lah air matamu. Jangan bersedih lagi. Apakah kamu bisa bersemangat jika kamu menangis? Jangan takut! Kami adalah bagian dari dirimu yang tidak menghendakimu bersedih dan selalu bersedih. Kami rindu melihatmu tersenyum dan bisa bangkit dari keterpurukan. Sekalipun engkau melihat keterbatasan dalam dirimu sepertinya tak bisa diubah, berusahalah…! Bukankah kami telah mengatakan bahwa jika kamu melakukan apa yang tertulis dalam sapu tangan ini, maka kamu akan disanggupkan untuk melakukannya dan bahkan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dijangkau oleh otak dan pikiranmu? Bukankan kami telah mengatakan Tegarlah dan bangkitlah dari kesedihanmu….? Setialah pada proses, maka perubahan yang kamu nantikan itu akan datang. Kami adalah bagian dari dirimu yang menginginkan kamu dapat tersenyum dan bisa selalu berusaha. Mencoba itu tidak hanya sekali, karena bagaimana kamu akan melihat perubahan itu jika kamu hanya mencoba sekali saja? Bangkitlah dan berusahalah…!”

Aku bingung ketika membacanya. Ku baca lagi berulang-ulang. Dan sampai akhirnya aku bisa mengingat beberapa bagian kata dari tulisan itu.

 

*************

“Hei Put..! “ Terdengar seruan dari belakang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah seruan itu dan ku lihat Nicho setengah berlari ke arahku. Dia adalah salah satu teman kuliahku.

“Ada apa Nic..?” Aku kembali bertanya. Dia berhasil mensejajari langkahku sekarang.

“Hm…nggak. Tadi aku dapat brosur. Ada yang bagi-bagi brosur di perpus. Nih kalo mau..!” Serunya seraya menyodorkan brosur ke tanganku dan berlalu setelah itu.

Aku mengambilnya tanpa bertanya lagi. Sepertinya brosur beasiswa dan isinya memang beasiswa. Aku berniat membuangnya ke tong sampah. Tapi tiba-tiba terngiang di benakku kata-kata yang tertulis di saputangan itu.

Setialah pada proses, maka perubahan yang kamu nantikan itu akan datang. Kami adalah bagian dari dirimu yang menginginkan kamu dapat tersenyum dan bisa selalu berusaha. Mencoba itu tidak hanya sekali, karena bagaimana kamu akan melihat perubahan itu jika kamu hanya mencoba sekali saja? Bangkitlah dan berusahalah…!”

Terpikir di benakku untuk mencobanya. Yah… memang tak ada salahnya mencoba, pikirku. Aku mengurungkan niatku membuang brosur itu ke tong sampah dan menyimpannya dalam tasku.

Setelah sekian lama, aku memang mengalami banyak kemajuan. Berkat tulisan di saputanganku yang bisa berubah dari tiap waktu ke waktu jika aku mengalami kesedihan dan putus asa. Banyak hal yang bisa ku raih. Ketika akhirnya aku bisa mengingat suatu hal yang sebelumnya sangat susah untuk kulakukan, bahkan memenangkan sebuah lomba karya tulis ilmiah. Perubahan-perubahan yang sangat berarti bagiku.

Aku berlari menuju ruang kelas. Tapi tiba-tiba aku merasa pusing dan mataku berkunang-kunang. Aku jatuh dan tak sadarkan diri.

 

******

Aku membuka kelopak mataku. Kulihat sekelilingku. Putih, bau obat. Hm…Aku baru sadar. Sekarang aku berada di rumah sakit. Kutolehkan pandanganku ke arah kiriku. Ku lihat mamaku berdiri dengan wajah yang lembut, tapi matanya sembab. Di sebelahnya ku lihat kakakku yang setia mendukungku, juga dengan mata yang sembab. Ku tutup kembali mataku. Aku sadar bahwa mungkin waktuku memang sudah tak lama lagi. Tapi aku senang, banyak hal yang telah kulakukan sebelum aku pergi.

 

******

Aku kembali kuliah seperti biasa setelah keluargaku membawa aku pulang ke rumah dan memutuskan untuk merawatku sendiri. Katanya agar lebih intensif. Tapi aku sadar bahwa mereka melakukan itu agar mereka dapat menghabiskan waktu bersamaku sampai nanti waktunya tiba.

Sesampainya aku di kampus, aku melihat sesuatu di papan pengumuman. Sesuatu yang benar-benar membuatku gembira.

“Selamat ya..! Akhirnya kamu mendapatkan beasiswa itu” Ku dengar seruan di belakangku. Aku menoleh dan tersenyum. Aku melihat Sari, sahabatku dengan wajah tulus mengucapkan kata-kata pada itu padaku.

Hahaha…  Akhirnya aku berhasil. Berkat kata-kata di saputangan itu, aku bisa bangkit dari keterpurukanku. Seruku dalam hati.

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan kelas. Tiba-tiba…

“Brrukk..!!”

Aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Mungkin ini lah saat-saat terakhirku untuk mengkhiri semuanya.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Goresan Air Mata

  1. Meimei says:

    Wah,,,,,,
    sayang banget, kamu membuang jatah 3000 kata menjadi kurang efektif.
    kenapa kata-kata ini ditulis berulang kali?
    “Hapus lah air matamu. Jangan bersedih lagi……………………………………”

    • Putri Ester says:

      hua…….
      walah..walah… mf kak… masi pemula…
      maksi buat sarannya…
      ceritanya membosankan ya..?? hihihi…. ntar cerita lainnya diperbaiki dh….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>