Jonsi dan Pohon Apel Emas

JONSI DAN POHON APEL EMAS

Airlynd Winslow

Anak lelaki itu berlari kencang, berusaha membawa kaki-kakinya yang kurus kerempeng mengitari jalanan berdebu dengan sekuat tenaga. Wajahnya yang kecil dipenuhi debu dan keringat dan sekarang memancarkan tekad yang kuat dan ketakutan yang luar biasa besar. Tangannya yang kotor menggenggam erat sebuah tas tangan wanita berukuran kecil. Di belakangnya beberapa pria dewasa mengejarnya dengan murka sambil meneriakkan teriakan ‘copet’ sementara tangan mereka terkepal dan teracung ingin menghajar habis anak tersebut.

Anak itu membelok tajam ke sebuah gang sempit yang dihimpit oleh dua bangunan gudang berlantai tiga yang usang. Gang itu buntu karena dibatasi oleh tembok setinggi empat meter yang membatasi gang tersebut dengan sebuah perumahan kumuh. Anak itupun menaiki tumpukan kotak kayu, berusaha memanjat tembok tersebut. Para pengejar semakin dekat dan ia semakin terdesak. Dengan tergesa, anak itu memanjat tumpukan kayu tersebut dan dengan sigap melompat berusaha menaiki tembok penghalang. Ia berhasil, tapi sialnya, tas curiannya terlepas dari tangannya dan terjatuh ke aspal gang. Sejenak ia bingung memutuskan antara menyelamatkan nyawanya atau mengambil tas tersebut, namun akhirnya ia pun memutuskan melarikan diri karena para pengejarnya sudah berada sangat dekat dengannya.

 

***

 

“Tak ada hasil hari ini?” Raung seorang pria gendut pada anak lelaki tadi yang hampir saja kehilangan nyawanya. Pria itu mengenakan sebuah kaos yang agak kekecilan yang membuat perut buncitnya mengintip dari balik kaos kotor tersebut. “Apa saja yang kau kerjakan hari ini? Apa kau pikir kita bisa makan tanpa uang?”

“Aku hampir saja tertangkap karena menjambret hari ini.” Si anak membela diri dengan suara bergetar.

“Tidak ada alasan!” Hardik lelaki itu. Wajahnya yang kemerahan seperti kulit babi menjadi agak keunguan karena marah. “Karena kau tidak mendapatkan hasil hari ini, maka kau tidak akan kuberi makan!”

“Tapi, ayah. Aku belum makan dari tadi pagi.” Si anak memasang tampang memelas. “Aku lapar sekali, dan tadi aku juga sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk melarikan diri.”

“Aku tidak perduli.” Si lelaki gendut bersikeras. “Pergi sana!”

Anak lelaki itu bernama Jonsi. Ia adalah seorang anak yatim piatu berumur dua belas tahun yang tinggal bersama ayah tirinya yang kejam sepeninggal ibunya. Lelaki yang ia sebut dengan ayah itu bernama Ronald. Seorang pengangguran malas yang tahunya hanya mabuk-mabukan dan memukuli anak dan istrinya, bahkan menurut kabar, istrinya meninggal akibat pukulan-pukulan yang ia terima selama ini dari suaminya yang kejam tersebut, hanya saja tak ada yang bisa membuktikan, bahkan tak ada yang perduli, karena tidak ada seorangpun yang mau bersusah payah mengungkap kematian seorang miskin.

Jonsi yang malang pun terpaksa pergi ke kamarnya yang bisa dibilang lebih cocok disebut kandang hewan. Ya, sebenarnya rumah tempat ia tinggal bersama ayah tirinya tersebut lebih cocok disebut kandang. Rumah itu terbuat dari kayu yang sudah keropos. Atapnya bocor disana-sini, lantainya sangat kotor sehingga lebih terlihat seperti tanah daripada semen dan kaca jendelanya banyak yang pecah dan buram. Isi rumah itu hanya ada sebuah meja persegi panjang dan kursi rotan panjang, tempat si lelaki gendut selalu tidur atau bermalas-malasan sambil menunggu Jonsi pulang membawa hasil copetan atau jambretan. Rumah itu terdiri dari dua kamar dan sebuah dapur yang hampir bisa dikatakan terhubung dengan ruang tamu. Kamar yang satu yang merupakan kamar si ayah, memiliki sebuah tempat tidur berkasur yang dipenuhi kutu busuk sementara di kamar Jonsi, hanya ada sebuah tikar usang yang sudah robek-robek. Di kamar itulah Jonsi setiap malam harus merasakan dinginnya lantai semen sambil memimpikan sebuah masa depan yang lebih baik, yang ia tahu tidak akan pernah diperolehnya.

Malam itu Jonsi tidak bisa tidur nyenyak karena lapar. Ia pun mengendap-endap keluar kamar agar tidak membangunkan ayah tirinya. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan dan mengintip sekitarnya selama beberapa detik. Setelah merasa aman, ia berjingkat menuju dapur berharap bisa mendapatkan makanan. Dengan takut-takut, Jonsi membuka lemari reyotnya. Pintu lemari itupun berderit, membuat Jonsi berhenti menariknya dengan spontan. Setelah yakin ayahnya tidak terbangun, ia pun menarik gagang pintu lemari itu lagi dan mengintip ke dalamnya. Ia beruntung, masih ada sepotong roti isi telur di dalamnya. Jonsi mengambil roti isi tersebut pelan-pelan lalu mengendusnya. Roti itu sebenarnya sudah tidak layak makan, tapi karena lapar, ia pun tetap memakannya.

“Berani-beraninya kau!” Amuk Ronald sambil menarik roti isi itu dari tangan Jonsi dan membuangnya ke lantai lalu menginjaknya. “Kau sudah berani mencuri di rumah ini ya!”

“Tapi aku sangat lapar, dan kupikir tidak akan ada lagi yang mau memakannya.” Jonsi membela diri.

“Walaupun tidak ada lagi yang mau memakan roti itu, bukan berarti kau boleh mencurinya!” Kata Ronald. “Kalau kau mau makan, kau harus bisa membawakan uang ke rumah ini. Jika kau berani mencuri lagi, maka aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari sini!”

“Tapi ini rumah ibuku, dan aku yang berhak untuk tinggal disini!” Jonsi memberanikan diri untuk melawan.

“Anak kurang ajar!” Ronald menampar wajah Jonsi. Bibir Jonsi berdarah akibat tamparan tersebut dan badannya menjadi agak limbung karena kekuatan tangan Ronald dan juga lapar yang menyerangnya. “Pergi kau dari sini, dan jangan kembali sebelum mendapatkan uang!”

“Tidak akan!” Jonsi mempertahankan egonya. Ini adalah luapan kemarahan terpendam yang selama ini dirasakannya. “Ini rumahku, dan seharusnya kau yang pergi dari sini!”

“Dasar anak tidak tahu diuntung!” Ronald semakin marah lalu menyeret Jonsi keluar rumah. Saat itu masih sekitar pukul dua dini hari, dan karena rumah mereka terletak agak jauh dari rumah penduduk yang lain, jadi tidak ada seorangpun yang mendengar keributan tersebut. “Pergi kau sekarang juga! Kau boleh kembali jika kau bisa membawa uang yang banyak!”

Ronald masuk dengan cepat lalu mengunci pintu sebelum Jonsi sempat memaksa untuk masuk kembali. Sekarang Jonsi benar-benar sendirian dan tidak punya tempat tinggal lagi. Ia berjalan tanpa arah dengan terhuyung karena kedinginan dan kelaparan. Setelah berjalan selama hampir satu jam, ia tiba di sebuah taman kota dan menemukan sebuah bangku taman yang kosong. Jonsi pun berjalan menuju bangku tersebut lalu membaringkan dirinya. Ia menangis sambil memegang perutnya yang melilit kelaparan dan mengingat kedua orang tuanya sembari memohon dalam hati akan sebuah kehangatan keluarga. Tubuh kecilnya sudah terlalu lelah menanggung semua siksaan dan kejamnya dunia ini. Jonsi terus memohon dalam hatinya dengan kepiluan yang bahkan dapat menggetarkan dan menjatuhkan sebuah bintang dari singgasananya di atas langit dan meluncur turun dalam kesedihan seolah sang bintang ingin sekali memeluknya dan memberikan penghiburan bagi anak laki-laki malang tersebut. Jonsi memandang bintang jatuh tersebut, memejamkan matanya dan ia pun tertidur.

 

***

 

Tak terasa hari sudah siang. Sinar matahari yang menyilaukan membuat Jonsi terbangun. Ia sangat kaget ketika sadar bahwa sekarang dirinya tidak berada di taman kota lagi. Ia melihat sekelilingnya, dan terkejut mendapati dirinya tertidur di atas rumput dan beratapkan dedaunan sebuah pohon apel yang besar dan rindang dan anehnya lagi daun juga buah pohon itu berwarna kuning emas.

Jonsi yang sekarang sangat kelaparan, mengambil sebuah apel dari pohon tersebut. Ia mengetuk-ngetuk apel itu untuk meyakinkan dirinya bahwa apel itu asli, setelah yakin, iapun menggigit apel tersebut. Apel itu begitu manis dan memiliki banyak air. Dalam sekejap, rasa haus yang dirasakan Jonsi hilang. Setelah apel pertamanya habis, Jonsi pun mengambil apel berikutnya, hingga akhirnya ia menghabiskan sepuluh apel. Setelah kenyang, Jonsi lalu memperhatikan daun pohon apel yang aneh itu. Ia memetik salah satu daunnya dan terkejut. Daun apel itu tidak seperti daun biasa, tapi lebih seperti logam. Jonsi yakin betul kalau daun-daun di pohon itu memang emas sungguhan. Tanpa berpikir panjang, Jonsi memetik banyak sekali daun pohon emas itu dan menjejalkannya ke dalam kantungnya. Sekarang setelah kantungnya sudah penuh dan perutnya kenyang, Jonsi memutuskan mencari jalan keluar dari padang rumput tersebut. Ia berjalan sambil bersiul-siul riang, namun ia kemudian berteriak ketakutan karena akar dari pohon apel emas tadi menarik kakinya. Akar-akar apel emas itupun menyeret Jonsi dan menggangtungnya terbalik hingga semua daun emas yang tadi dikumpulkannya terjatuh, lalu terdengarlah suara menggemuruh yang berasal dari pohon tersebut.

“Kau tidak boleh pergi pencuri kecil!” Kata pohon tersebut. “Kau harus membayar apa yang sudah kau ambil!”

“Maafkan aku, Tuan,” Jonsi terlihat sangat ketakutan, “tapi aku tidak punya uang. Aku akan mengembalikan daun-daun yang sudah kuambil, dan aku akan pergi dari sini.”

“Lalu bagaimana dengan buah apel yang sudah kau makan?” Tanya suara itu lagi, lebih kedengaran seperti mengancam. “Bagaimana kau akan membayarnya? Yang kau makan tadi adalah apel-apel emas yang sangat berharga.”

“Tuan. Kumohon.” Kata Jonsi menghiba. “Aku tidak punya apa-apa untuk membayarnya dan aku tadi sangat kelaparan. Kumohon kasihanilah aku, Tuan.”

“Kau tetap harus membayar!” Suara itu bersikeras.

“Baiklah, Tuan.” Jonsi terlihat pasrah. “Aku akan melakukan apapun yang Tuan mau untuk membayar apel-apel tadi. Tapi setelah itu, aku mohon agar Tuan mau membebaskanku.”

“Baiklah.” Kata suara itu.

Sesaat tak terjadi apa-apa, lalu tiba-tiba akar-akar yang mengikat Jonsi menarik diri dan menyeret Jonsi bersamanya hingga ia dan akar-akar tersebut menghilang kedalam tanah.

Tempat itu begitu gelap. Satu-satunya cahaya datang entah darimana dan hanya menyorot dirinya. Jonsi berdiri diatas sepetak papan yang hanya berukuran satu kali satu meter sementara di depannya hanya ada sebuah kekosongan yang mencekam.

“Nah,” kata suara yang tadi. “sebagai awal, aku ingin kau menceritakan kebenaran tentang dirimu. Setiap kebenaran akan membuatmu semakin dekat dengan kebebasan, sedang setiap kebohongan akan membuatmu tidak mendapat apa-apa. Semakin banyak kau berbohong, semakin sulit kau untuk bebas dari tempat ini, malah kau akan jatuh kedalam kekosongan yang siap menantimu. Kau mengerti?”

“Ya, Tuan.” Jawab Jonsi.

Maka Jonsi pun mulai menceritakan tentang dirinya. Ia menceritakan masa kecilnya ketika orang tuanya masih hidup, yang walaupun penuh dengan kekurangan, tapi mereka bisa merasa bahagia. Ia pun menceritakan tentang ayah tirinya yang jahat, dan bagaimana ayah tirinya memaksanya untuk menjadi pencuri. Pada awalnya Jonsi mencoba untuk berbohong dan ia tidak mendapatkan sepetak papan untuk menyeberang, dan ketika ia kembali jujur, papan yang lain muncul kembali di depannya. Meninggalkan kekosongan selebar satu meter di depannya sehingga ia harus melompat untuk menuju ke papan berikutnya. Setelah melihat akibat dari kebohongannya, Jonsi memutuskan untuk tidak berbohong lagi. beberapa menit berlalu, dan akhirnya Jonsi tiba di depan sebuah meja yang diatasnya ada tiga buah kotak yang terbuat dari kayu, emas dan perak dengan hiasan yang terbuat dari rubi pada kota perak dan sebuah mutiara hitam pada kotak kayu, sementara kotak emas tidak memiliki hiasan apapun. Di seberang meja tersebut, Jonsi bisa melihat sebuah pintu setinggi empat meter menantinya. Selain itu, hanya ada kegelapan total.

“Sekarang,” perintah suara itu lagi. “kau harus memilih salah satu dari ketiga kotak tersebut.” Suara itu terdiam sesaat lalu melanjutkan. “Aku akan memberimu petunjuk, kotak mana yang harus kau pilih. Dengarkan dan cerna baik-baik! Jauhi si pesolek karena hatinya hitam, tapi jangan tertipu dengan kesederhanaan karena ia adalah penipu manis yang akan menjerumuskanmu dengan kesederhanaannya yang palsu. Hanya dia yang anggun tanpa polesan yang akan menuntunmu pada kebenaran.”

“Apa yang akan terjadi jika aku salah memilih kotak?” Tanya Jonsi penasaran.

“Kau akan berakhir seperti anak-anak lainnya. Terkurung disini selamanya.” Jawab suara tersebut.

“Apa maksud anda dengan anak-anak yang lain?” Tanya Jonsi bingung.

“Anak-anak yang datang kesini sebelum dirimu dan salah memilih kotak,” jawab suara itu lagi. “dan akhirnya jiwa sebagian dari mereka terpenjara disini dan yang lainnya ditarik oleh makhluk-makhluk kegelapan menuju sarang mereka. Kau nanti akan dapat mendengar suara-suara jiwa anak-anak yang terperangkap disini. Mereka akan membantu atau malah akan menyesatkanmu. Sebaiknya kau tidak mendengarkan mereka. Ikuti saja nalar dan kata hatimu.”

Jonsi ketakutan mendengar jawaban tersebut. Ia pun bepikir keras untuk mengartikan petunjuk yang diberikan tadi. Ia mengingat-ingat perkataannya dalam hati dan mengabaikan suara-suara anak-anak yang terperangkap di ruangan itu yang sekarang sudah mulai berebut untuk memberinya saran. Satu jam berlalu, dan akhirnya Jonsi menyadari sesuatu. Ia teringat kalimat terakhir suara tersebut, lalu ia pun meletakkan tangannya diatas tutup kotak emas. “Aku memilih kotak ini.” Katanya ragu-ragu dan kontan saja suara-suara anak-anak yang terperangkap di ruangan tersebut menghilang.

“Apa kau yakin?” Tanya suara itu.

Jonsi menarik nafas lalu menjawab, “Ya.”

“Apa alasanmu?”

“Karena ia tidak terlihat sederhana dan ia tidak memiliki hiasan seperti kedua kotak lainnya.” Jawab Jonsi mantap.

“Baiklah jika itu pilihanmu.” Kata suara itu. “Bukalah!”

Jonsi membuka kotak emas itu dengan perasaan cemas kalau-kalau tebakannya salah, dan setelah kotak itu terbuka, terlihat kelegaan di wajahnya. Sebuah kunci berukuran sedang tergeletak dalam kotak tersebut.

“Hebat juga penalaranmu.” Puji suara tersebut. “Sekarang bukalah pintu itu. Kau semakin dekat dengan kebebasanmu.”

Jonsi berjalan menuju pintu tersebut, kemudian memasukkan kunci yang ia dapatkan tadi lalu membukanya. Di balik pintu itu, ada sebuah ruangan kosong yang hanya berisi tiga buah cermin setinggi dua meter.

“Masuklah!” Kata suara misterius tersebut, tapi kali ini suaranya tidak terdengar menggema dan besar. Suara itu seperti suara lelaki paruh baya yang penuh dengan kebijaksanaan.

Jonsi mencari sumber suara tersebut dan terkejut ketika melihat sesosok lelaki tua berjubah putih. Jonsi sama sekali tidak menyangka bahwa suara yang ia dengar tadi berasal dari seorang lelaki tua renta seperti yang sedang ia lihat saat ini.

“Namaku Thaddeus, tapi orang lebih sering memanggilku dengan sebutan Oracle.” Kata lelaki tua itu. “Akulah pemilik pohon apel emas itu, bahkan bisa dikatakan, akulah jiwa pohon tersebut dan aku pulalah yang sudah membawamu kesini.”

“Apa maksudmu?” Tanya Jonsi bingung.

“Kau membuat permohonan ketika sedang berada di taman oleh karena itu aku membawamu kesini untuk mengabulkannya.”

Tapi aku hanya meminta kehangatan sebuah keluarga. Apa hubungannya dengan ini semua?” Jonsi semakin bingung.

“Kau akan tahu nanti.” Jawab Thaddeus. “Sekarang kau harus kembali dulu dan bawa ayah tirimu kesini!”

“Tapi itu tidak mungkin. Ia tidak mau melihatku lagi, apalagi jika aku tidak membawakan uang untuknya.”

“Berikan ini!” Thaddeus memberikan sehelai daun emas pada Jonsi. “Pastikan pada saat kau memberikan daun ini padanya, kau juga menyentuh daun ini, karena daun ini adalah jalanmu kembali kesini dan mendapatkan permohonanmu.” Jonsi pun menerima daun emas itu dengan tampang agak bingung. “Tapi pertama-tama,” kata Thaddeus lagi, “kau harus memilih salah satu cermin yang ada di depanmu. Ingat, ikutilah kata hatimu agar kau bisa selamat sampai di rumah.

Jonsi berjalan menuju cermin-cermin tersebut kemudian memandang ke dalamnya. Di cermin pertama, ia melihat dirinya menjadi seorang raja yang sangat kaya dan ia sedang menghitung emas yang sangat banyak di ruang hartanya. Di cermin kedua, ia melihat dirinya menjadi seorang raja yang sedang berdiri di singgasana emasnya dan sedang disembah-sembah oleh rakyatnya. Lalu di cermin ketiga ia melihat dirinya menjadi seorang raja berpakaian sederhana, yang sedang berjalan diantara kerumunan rakyatnya sambil membagikan roti pada mereka. Jonsi berpikir sejenak sambil mendengarkan kata hatinya untuk memilih, dan akhirnya ia pun memilih cermin ketiga dan memasukinya. Sesaat sebelum ia masuk, ia mendengar Thaddeus berkata, “Jangan lupa pesanku. Bawa ayah tirimu kesini!”

 

***

 

Jonsi tiba di depan rumahnya dan kemudian mengetuk pintu. Setelah beberapa saat, Ronald pun membukakan pintu. “Berani sekali kau datang kesini!” Hardiknya. “Apa kau membawa uang?”

“Tidak.” Jawab Jonsi agak gemetaran. “Tapi aku membawa ini.” Katanya sambil mengeluarkan daun emas yang diberikan Thaddeus.

Ronald memandangi daun emas itu dengan pandangan rakus dan langsung mengambilnya. Tepat ketika ia menyentuh daun tersebut, mereka pun menghilang dan muncul kembali di ruangan Thaddeus tempat tiga cermin tadi berdiri.

“Ini dimana?” Tanya Ronald bingung sambil memandang sekelilingnya. “Siapa kau?” Tanyanya ketika melihat sosok Thaddeus.

“Apa ini ayah tirimu?” Tanya Thaddeus pada Jonsi.

“Ya, Tuan.”

Thaddeus pun berbalik pada Ronald lalu memperkenalkan diri dan menjelaskan pada Ronald bahwa ia akan mendapatkan keinginannya jika ia memilih salah satu dari ketiga cermin yang ada disitu. Awalnya Ronald ragu, namun setelah Thaddeus meyakinkannya ia pun memandang cermin-cermin tersebut sambil tersenyum rakus. Cermin-cermin itu menghadirkan citra seperti yang dilihat oleh Jonsi, hanya saja kali ini yang tampak di dalamnya adalah sosok Ronald sendiri. Tanpa berpikir panjang Ronald pun memilih cermin yang menampilkan dirinya menjadi raja kaya yang sedang menghitung emas, dan ia pun tersedot kedalamnya.

Ronald yang tamak, akhirnya mendapatkan hukumannya. Ia terjebak di dalam cermin dan tidak akan bisa keluar selamanya. Thaddeus menepati janjinya. Ronald mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia akan selamanya berada di dalam cermin bersama emas-emas yang dicintainya. Ronald yang ketakutan menjerit-jerit minta dikeluarkan sambil mengetuk-ngetuk cermin, tapi itu hanyalah usaha yang sia-sia. Jonsi terlihat terkejut juga kasihan melihat nasib ayah tirinya. Ia menatap dengan sedih pada cermin tersebut hingga akhirnya cermin itu menghilang.

“Kau tidak perlu memikirkan apa yang kau lihat. Itu adalah balasan yang setimpal baginya. Sekarang waktunya aku menepati janjiku padamu.” Kata Thaddeus pada Jonsi. “Kau akan kukeluarkan dari sini. Setelah itu kau harus berjalan kearah timur hingga kau melihat sebuah negeri. Negeri itu bernama Undralandi. Temui raja negeri itu dan katakan padanya bahwa aku yang mengirimmu, dan berikan bungkusan ini padanya. Dia nanti akan mengangkatmu menjadi anaknya dan kau akan menjadi raja Undralandi kelak.” Thaddeus memberikan bungkusan itu pada Jonsi, kemudian melanjutkan. “Kau nanti akan menikah, tapi tidak akan punya anak, itu adalah konsekuensi karena kau sudah memakan apel emas, tapi suatu saat nanti akan datang seorang anak perempuan padamu yang kemudian akan menjadi anak angkatmu dan nantinya akan menggantikanmu memimpin Undralandi.”

Jonsi kaget, bingung sekaligus senang dan sedih mendengar penjelasan si Oracle. Senang karena ia akan mendapatkan keluarga dan sedih karena tidak akan memiliki keturunan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan pasrah. “Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ya.”

“Apa anda melakukan ini semua untuk mengujiku?”

“Ya.” Thaddeus mengiyakan sambil tersenyum bijaksana. “Kau memiliki hati yang polos, tapi terkadang kepolosan hati akan hilang ketika seseorang melihat kekayaan atau kemewahan. Aku mengujimu untuk melihat apa kau memang pantas untuk menjadi pemimpin Undralandi.

Jonsi tidak menjawab apa-apa. Hanya tertunduk merenungi nasibnya kelak.

“Sebaiknya kau berangkat sekarang.” Thaddeus menyarankan. “Terimalah ini!” Thaddeus memberi Jonsi lima buah apel emas dan sekantung air minum. “Perjalananmu akan sangat panjang.”

“Tapi, Tuan,” Jonsi agak enggan menerima apel emas tersebut, “inikan apel emas, bukankah saya tidak boleh memakannya?”

“Tidak jika tanpa seizinku.” Jawab Thaddeus. “Nah, tutup matamu! Aku akan membawamu keluar dari sini.”

Jonsi pun menuruti perintah Thaddeus, dan ketika ia sudah berada di padang rumput itu lagi, Thaddeus menyuruhnya untuk membuka mata dan berjalan kearah timur. Jonsi menuruti perintah Thaddeus. Ia berjalan kearah timur selama kurang-lebih lima jam, hingga akhirnya ia tiba di negeri Undralandi. Jonsi pun menemui sang raja dan menjelaskan siapa dirinya. Sang raja dan ratu sangat senang dengan kedatangan Jonsi dan menyambutnya dengan mengadakan pesta rakyat tujuh hari tujuh malam. Enam belas tahun kemudian Jonsi pun diangkat menjadi raja dan menikah dengan seorang wanita cantik berhati lembut dan penyayang, lalu, tiga puluh tahun kemudian datanglah seorang anak perempuan seperti yang pernah dikatakan oleh Thaddeus yang suatu saat nanti akan menggantikannya menjadi pemimpin Undralandi.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to Jonsi dan Pohon Apel Emas

  1. cloud says:

    winslow, kamu keren. ini cerpen kesekian yang membiarkan imajinasinya mengalir lepas. beberapa deskripsi memang perlu diperbaiki, terutama di bagian deskripsi mengenai tiga kotak. maaf, saya dapat menebak dengan mudah petunjuk yang kamu berikan. namun dari segi alur dan perwatakan, saya bisa merasakannya dan membayangkannya. hehehe…

    saya senang kalimat bercabang ini :
    Jonsi terus memohon dalam hatinya dengan kepiluan yang bahkan dapat menggetarkan dan menjatuhkan sebuah bintang dari singgasananya di atas langit dan meluncur turun dalam kesedihan seolah sang bintang ingin sekali memeluknya dan memberikan penghiburan bagi anak laki-laki malang tersebut
    keren…

    berkunjung ke bawah juga ya. ke Alkemis Kunang-Kunang saya.
    salam

    • Airlynd Winslow says:

      Makasih ya atas pujian ‘n kritiknya.. :D
      Iya nih.. Maklum ga pande bikin teka-teki, jadi bikin yg sederhana aja.. Hehehe.. :D

  2. Ivon says:

    cerita dongeng yang menarik… :)

  3. Zehel says:

    Cerita sederhana, tertebak, tapi tidak menjadikannya jelek.
    saya suka kesederhanaan di sini.

  4. idpramudita says:

    Hai,
    Suka cerita ini. Mudah dicerna, klasik, dan ada moralnya. Cerita yang sederhana pun dapat tampil memukau. Penulisannya juga rapi. Yang bikin sedikit kurang sreg bagian endingnya aja karena tau-tau terlalu mudah bagi Jonsi untuk diterima raja dan ratu. Tapi aku yakin ini karena keterbatasan kata saja sehingga detilnya kurang. But, ini salah satu cerpen yang bikin “hangat”.

    Good luck! :)

  5. [.Re] says:

    Mudah dicerna, simpel, tidak bertele-tele dan memberi pesan moral yang bagus. definitely good stories for children… gw pengen bikin yang kek gini tapi ternyata emang bukan kesukaan gw. a little bit jealous nih eheheh :D

    tapi seperti yang sudah disebut, endingnya agak mudah ditebak. feelnya berasa hitam-putih banget. tapi emang simplisitasnya itu justru yang bikin orang nggak ngerutin kening pas baca.

    • Airlynd Winslow says:

      Wah.. Makasih ya.. :D
      Jgn Jealous.. Re juga pasti bisa, cuma belum dapat inspirasi aja.. Hehehe..
      Iya nih.. terlalu sederhana, mungkin karena saya lebih memfokuskan cerita ini untuk anak2x.. Plus saya amsih amatiran.. XD

  6. Kuning says:

    a sweet story :D bagus banget, penasaran sama si anak perempuan yg dicritain di bag trakhir
    klo sempet mampir ke no. 38 ya :)

  7. serasa baca buku dongeng :)

    mampir ke no 94 ya :) #ngasahgolok

  8. Rawr. Here I go.

    ==

    Ini cerita sederhana yg jadi bagus karena penulisannya rapih. Great, modal plg mendasar utk tulis menulis sudah kamu kuasai. :D

    Ceritanya sendiri simpel dan gak ada twist yg gimana banget, saya tidak akan mengomentari lebih lanjut mengenai kesederhanaannya. Tapi saya pengen komentar soal teka-teki yg terlalu kentara jawabannya. :P Mengingatkan pada tipe2 cerita penebang pohon yg tidak sengaja menjatuhkan kapaknya ke danau dan ditanya kapak mana yg tadi dia jatuhkan.

    Overall, this is a good story.

    Sekedar masukan buat latihan nulis selanjutnya sih, coba memadatkan kata-kata dalam kalimat. Di awal cerita ini masih ada kalimat2 yg terasa panjang padahal kalau 1-2 kata dihilangkan, esensinya tidak hilang. Trik memadatkan kata2 dlm kalimat itu berguna utk mengatasi batasan kuota 3000 kata dan bisa mendongkrak daya tahan pembaca dlm menikmati cerita (kdg2 ada pembaca yg merasa capek baca tengah jalan, salah satu sebabnya krn kalimat panjang, IMHO).

    Hehe.

  9. Pingback: Daftar Cerita Fantasy Fiesta 2011 | Kastil Fantasi

  10. Pingback: Daftar Cerita di Fantasy Fiesta 2011 « Konudrakka's Blog

  11. franci says:

    Krg tanda baca n ada salah kata mengganggu yg baca. klo di tambahkan, tentu akan lbh baik :)
    pemilihan kata dlm merangkai kalimatnya aku suka.
    Cocok buat cerita anak :)

  12. naizar says:

    Airlynd Winslow minta biografimu dong

  13. iril says:

    Airlynd Winslow minta biografimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>