Misteri Mount Emerald

MISTERI MOUNT EMERALD

Leona Augustine

Awan- awan bergelayut mesra di langit desa Fainterway. Angin sore menggelitik dedaunan untuk menari-nari. Russell bersandar di pohon beech kesayangannya. Matanya masih setengah terbuka, mengawasi domba-dombanya yang sedang merumput. Entah kenapa sore ini ia begitu mengantuk. Tapi tak ada waktu lagi untuk itu. Tak lama lagi gelap akan membungkus kawasan padang savana. Russell mengusap matanya mengusir kantuk. Ia bermaksud untuk mencari buah arbei di sekitar situ, lalu pulang. Tiba-tiba ekor matanya menangkap cahaya di kejauhan yang terang dan berpendar-pendar ke langit yang muram. Keindahan itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Russell pikir sumber cahaya itu berasal dari Mount Emerald. Segera ia halau domba-dombanya pulang. Tak sabar ingin segera mengkisahkan peristiwa itu pada Nenek Loretta.

“Nenek…coba ceritakan padaku…ada apa sebenarnya di Mount Emerald??” Russell berlari  menghambur ke dapur mencari neneknya.

“Hei, kenapa Russell?!  pelan-pelanlah kamu bicara…mengagetkan Nenek saja…”Nenek Loretta kaget hingga bacon yang akan  ia panggang terlempar ke bara api.

“Maaf Nenek…maaf…tapi aku..akuuu…”Russell tak bisa meneruskan kalimatnya. Ia meraih kursi makan dan mengatur nafasnya.

“Tenang…minumlah dulu…”Nenek Loretta mengangsurkan secangkir susu dingin pada Russell.

Russell menenggak susu tanpa sisa. “Baiklah…Nek…aku baru saja melihat cahaya indah…cahaya dari surga. Oh indah sekali…”mata Russell berbinar.

“Apa yang kau bicarakan Russel? Diluar langit sangat gelap…darimana ada cahaya?”Nenek Loretta mengernyit bingung.

“Mount Emerald, Nek..Ya, aku melihat cahaya berpendar di langit Mount Emerald…”jelas Russell.

Nenek Loretta terdiam. Matanya menyipit, seolah ada hal serius yang ia pikirkan. Ia berjalan ke pintu dapur. Harum bunga daisy menyelinap masuk ketika pintu terbuka.

“Kamu mengada-ada Russell…kau lihat diluar sangatlah gelap dan dingin. Tidak ada apa-apa selain kelam…Kau pasti bermimpi tadi!”ucap Nenek Loretta sambil menutup pintu kembali.

“Sungguh Nek, aku tidak berbohong…percayalah…”desak Russell.

“Sudahlah…lebih baik kita segera makan malam sebelum hujan besar datang…”Nenek Loretta menghidangkan bacon panggang, roti gandum dan sup tulang di meja.

Russell menurut. Mount Emerald. Paling tidak Nenek bisa menjelaskan sedikit mengenai gunung keramat itu…

“Nek, pernahkah Nenek pergi ke Mount Emerald?”tanya Russell hati-hati.

“Hmmm…tidak! Itu gunung keramat. Sejak dahulu orang tua melarang anak-anak mendekati gunung itu. Kalau melanggar sudah pasti kau akan celaka…”ucap Nenek Loretta sambil menusuk daging bacon dengan keras. Russell terlonjak.

“Memang ada apa disana? Naga atau ular phyton kah?”

“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”Nenek Loretta memandang tajam cucunya yang kini telah berusia sembilan belas tahun itu. Russell mengangguk. Mendekatkan wajahnya ke arah Nenek Loretta.

“Nenek moyang sering berkata ada kerajaan gaib yang sudah berabad-abad lamanya bertahta di Mount Emerald. Konon ada Raja beserta ribuan rakyatnya yang hidup disana. Tak seorangpun manusia diizinkan menjamah tempat kekuasaan mereka…”

“Lalu?”Russell meminta Nenek Loretta meneruskan kalimatnya.

“Lalu kau harus melupakan Mount Emerald dan mimpi anehmu itu!”tegas Nenek Loretta.

“Aku ingin kesana…”ucap Russell sambil menggenggam jemari Neneknya yang hangat.

“Sudah kubilang Russell…kau tidak boleh kesana. Kau satu-satunya yang kumiliki. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu…tempat itu berbahaya…”

“Nek, aku sudah dewasa…kau bisa mempercayaiku, Nek!”

“Russell…kau harus mendengarkan Nenek…itupun kalau kau memang saya pada Nenek…”cetus Nenek Loretta.

“Baiklah…”jawab Russell lesu. Sekedar menentramkan hati Nenek Loretta. Tentu saja tak semudah itu ia membunuh keinginannya pergi ke gunung terlarang itu. Suatu saat aku akan kesana, pikirnya.

***

Matahari menjilati hijau padang savana dengan begitu ganas. Domba-domba berduyun-duyun menepi, memilih mengganyang tetumbuhan alfalfa yang tumbuh liar di bawah pohon ek. Tak seberapa jauh jaraknya, Russell sedang mengawasi domba-dombanya. Kawannya menggembala, Desmond, berbaring di bawah naungan pohon beech bersamanya.

“Oh bunga poppy…apakah sebentar lagi kalian akan musnah…?”Desmond mengendus-endus    bunga poppy yang ada di tangannya.

“Tentu saja musnah bila setiap saat kau mencabuti bunganya seperti itu…”ejek Russell sambil mempermainkan bunga dandelion di telinganya.

“Masih bisa bercanda saja kau Russell…”sungut Desmond.

“Hey, kau kenapa? Aneh…” Russell kaget mendapati Desmond yang biasanya kocak dan tengil tiba-tiba berubah menjadi semarah itu.

“Apa kau tidak takut terhadap bencana yang akan segera datang…?”Desmond menatap Russell. Pandangannya nampak pilu.

“Bencana apa? Jangan berlebihan, Desmond! Musim dingin masih lama, dan kaupun tak berhak menyebutnya sebagai bencana…”

“Jadi kau belum mendengarnya? Ah, pasti kau belum tahu…”Desmond bangkit.

“Ceritakan Desmond…Demi Tuhan aku benar-benar ingin tahu…”Russell mulai penasaran.

“Baiklah…”Desmond mengibaskan serpihan rumput kering yang menempel di kemeja linennya. Russell semakin tak sabar dibuatnya.

“Kemarin Kakek Oswald datang mengunjungi kami…ia bilang sebentar lagi akan ada bencana melanda desa kita…”ujar Desmond.

“Tunggu…kau percaya begitu saja? Bagaimana Kakek Oswald bisa mengatakan hal itu?”

“Russell, kakekku sudah bertahun-tahun hidup disini tentu saja ia bisa menangkap pertanda-pertanda alam…”

“Pertanda alam seperti apa?!”serang Russell.

“Sore itu ketika matahari berangsur menghilang, kakekku sedang menghirup kopinya di beranda. Dan cahaya itu hadir di depan matanya, tepat di atas…”Desmond belum menyelesaikan kalimatnya ketika Russell menyambar.

“Mount Emerald…”sambung Russell.

Desmond melongo. “Bagaimana kau bisa tahu?”tanyanya takjub.

“Desmond, kau tahu…aku juga melihatnya.”ucap Russel berapi-api.

“Sungguh?”

“Sungguh…dan nenekku hanya menganggapku bermimpi. Tapi kurasa ia sangat khawatir mendengarnya.”

“Tentu saja ia khawatir…para orang tua pasti tahu bahwa kemunculan cahaya terang di atas Mount Emerald adalah pertanda datangnya bencana atau musibah besar yang akan menerjang desa Fainterway…”jelas Desmond.

“Oh, benarkah demikian…?”tengkuk Russell berkeringat.

“Tapi, bila ada kemunculan cahaya untuk kedua kalinya dan lebih terang dari sebelumnya maka bisa dipastikan desa kita akan mencapai kemakmuran yang tiada terkira. Begitu kata Kakek Oswald.”Desmond tersenyum sekilas. Mencoba menghibur diri.

“Semoga cahaya itu muncul lagi…”harap Russell.

“Aku juga ingin sekali melihatnya…dan desa Fainterway akan terhindar dari bencana.”

“Kita pulangkan domba – domba terlebih dahulu. Lalu kita kembali kesini…cahaya itu akan nampak jelas sekali dari sini…”saran Russell.

***

Langit telah gelap sempurna. Segaris tipis cahaya oranye di ufuk barat baru saja lenyap. Desmond telah lebih dulu sampai di bawah pohon beech. Ia duduk dengan cemas. Walaupun setiap hari ia habiskan waktu di tempat itu tapi ada pengecualian untuk petang hari. Ia menyesal karena urung membawa lentera kecil yang tergantung di dekat kandang.

“Hhrrrrgggghhhh…”terdengar suara erangan di balik punggung Desmond.

Desmond seketika membeku  diserang ketakutan yang luar biasa. Perlahan otaknya bekerja dan ia bangkit.

“Tunggu…”sebuah tangan mencengkeram pundak Desmond.

Desmond berkeringat dingin. Ia menggenggam kalung taring harimau yang tergantung di lehernya.

“Hahahahaha…pecundang! Kau benar-benar pecundang Desmond…”pekik Russell.

“Sial! Kau rupanya, Russell! Kupikir makhluk dari…Kerajaan Glovazlox…huhh”dengus Desmond.

“Kerajaan Glovazlox? Apa itu kerajaan gaib yang diceritakan nenekku?”selidik Russell.

“Itu kerajaan yang ada di Mount Emerald…menurut cerita yang kudengar.”

“Kenapa cahaya itu belum muncul?”Russell mulai tidak sabar.

“Lebih baik kita pulang saja…perasaanku mulai tidak enak, Russell.”

“Penakut sekali kau…kita tunggu sebentar lagi. Setelah itu kau boleh menemui daging panggangmu di rumah.”

Angin bergemerisik menyibak dedaunan pohon beech. Nyali Desmond semakin ciut. Walaupun ia dua tahun lebih tua dari Russell tapi ia tak lebih dari seorang bayi besar yang penakut. Kini angin semakin kencang, ranting-ranting rapuh mulai berjatuhan. Barisan pohon lilac merunduk lunglai tersapu angin.

“Terserah apa pendapatmu, Russell…suasana makin mengkhawatirkan. Aku masih memiliki keinginan untuk hidup dan menikahi Bessie. Aku harus pulang…”suara Desmond terdengar parau.

“Baiklah kawan, tapi kumohon besok besertalah denganku ke Mount Emerald. Siapkan kudamu. Kita harus mengungkap semuanya.”Russell memohon.

“Baiklah…lihat saja besok.”Desmond berjalan menjauh meninggalkan Russell.

Russel masih saja berdiam di bawah pohon beech. Matanya tak lepas dari Mount Emerald. Seolah tak ingin melewatkan peristiwa apapun berlalu dari pengawasannya.

Angin semakin buas. Air hujan mulai berjatuhan. Semakin lebat dan rapat. Russell berlari meninggalkan pohon beech dengan kecewa.

***

Russell mengelus kuda pecheron-nya dengan penuh semangat. Kuda terbaik yang ia miliki dibanding dua kuda lain yang hanya digunakan untuk menarik kereta. Jarang-jarang ia mengeluarkan kuda pecheron itu. Meski begitu, pakan terbaik selalu ia hadiahkan untuk menjaga keunggulan kuda kebanggaannya itu.

“Jake…kau tahu, sebentar lagi kau akan mengemban tugas penting. Kita akan mendaki Mount Emerald.”Russell menepuk-nepuk punggung kudanya. Lantas dengan perlahan ia mengeluarkan Jake keluar kandang. Ia tahu neneknya sepagi itu pasti telah berada di ladang gandum di ujung desa. Itulah kesempatan baik untuk menyelinap pergi tanpa diketahui oleh neneknya.

Ia begitu kaget saat Desmond berjalan ke arahnya. Baru saja ia berniat menghampiri Desmond di pondoknya.

“Hai, mana kudamu? Aku sempat ragu kau tidak jadi ikut…”ujar Russell senang.

“Nenekmu sudah pergi?”

“Sudah…”

“Baik, aku ambil kudaku.”Desmond berlari ke arah pohon ek tak jauh dari pondok Russell. Rupanya ia mengikatkan kudanya disana. Khawatir Nenek Loretta akan mencurigainya.

Russell menyusul Desmond. “Kita berangkat sekarang…Yihaaaaa.”kuda Russell mulai melesat si jalan batu yang basah.

Wow, udara sangat bersahabat…sudah lama aku tidak berkuda. Rasanya sangat menakjubkan.”tukas Desmond. Ia mulai mengimbangi kecepatan Russell. Akhirnya mereka sejajar.

“Ya, tapi jangan lupa…ada hal penting yang harus kita ungkap disana…”ingat Russell.

“Tentu saja, kawan…”

“Kau yakin kau mampu mencapai gunung itu?”tanya Russell.

“Aku cukup meyakinkan diriku. Padahal tentu kau juga tahu, kita harus menempuh puluhan mil untuk sampai kesana…”aku Desmond.

“Jangan sampai kau meninggalkanku sendirian seperti kemarin…”ingat Russell. Desmond hanya tersenyum kecut.

Semakin lama mereka mempercepat laju kudanya. Tak ada percakapan. Mereka berkonsentrasi dengan kuda masing-masing. Hanya sekali mereka beristirahat, mengisi perut mereka. Dan perut si kuda tentu saja.

Waktu terasa berjalan begitu lamban. Ketika matahari mulai meredup mereka baru sampai di mulut Mount Emerald.

“Desmond kita telah sampai! Ayo kita naik lagi..sedikit lagi, Kawan.”teriak Russell. Tak ada jawaban. Russell menoleh ke belakang. Ia tak mendapati Desmond. Ia berbalik ke belakang. Barangkali Desmond masih tertinggal, pikirnya. Tapi Desmond betul-betul menghilang. Desmond dimangsa makhluk aneh? Diserang binatang buas? Atau ia ketakutan dan berbalik pulang? Bermacam pertanyaan memenuhi kepala Russell.

Kekecewaan dan keraguan menyerang Russell. Tidak ada waktu untuk berfikir lagi. Sia-sia jika ia pulang sekarang, pikirnya.

“Aku pemuda pemberani dari Fainterway…”Russsell menyemangati dirinya. Walaupun sesungguhnya  ia sedih karena tak mengetahui keberadaan Desmond.

Russell terus memacu kudanya. Terus mendaki dan mendaki. Tiba-tiba spektrum cahaya yang berkilauan muncul di hadapannya. Cahaya serupa yang ia lihat dari bawah pohon beech. Kali ini lebih kecil dan begitu nyata. Cahaya itu hanya berjarak beberapa langkah di hadapannya. Russell turun dari kudanya. Dadanya berdesir saat ia hampir menyentuh cahaya itu. Dan Russell benar-benar telah menyentuhnya.

Cahaya menyilaukan berpendar-pendar memenuhi pandangan. Russell begitu terpukau hingga cahaya itu perlahan membentuk sesosok wanita. Ketika sosok itu telah menjelma menjadi wanita sempurna, perlahan cahaya itupun musnah.

Wanita itu berambut coklat keemasan. Kulitnya terlampau putih serupa salju. Begitu bening. Mata birunya berbinar dan hidup. Sepasang sayap translucent berpijar di balik punggungnya. Tak kuasa Russell menggambarkan kecantikan sesempurna itu. Tak ada rasa takut. Hanya kekaguman. Terlebih ketika bidadari itu mulai berbicara.

“Hai manusia…ada maksud apa hingga selancang ini kau memasuki wilayah kami?”tanya bidadari itu dengan suara lembut. Seperti bukan suara duniawi.

“Maaf bidadari cantik…saya Russell, izinkan saya menyingkap keajaiban apa yang tersimpan di Mount Emerald yang agung ini…”Russell tersenyum sambil menundukkan kepalanya.

“Panggil aku Lady Valexine…perlu kau tahu, kau cukup beruntung karena bukan Lady Xermiz yang menyambutmu. Kalau tidak nasibmu pasti sama dengan manusia-manusia nekat lainnya.”

“Manusia-manusia lain? Bagaimana dengan Desmond? Oh, apa yang terjadi dengan Desmond?”Russell menjadi panik.

“Tenang Russell, temanmu aman. Lady Xermiz sedang menyelesaikan urusannya. Sementara ini tidak akan ada manusia yang akan tewas di tangannya.”terang Lady Valexine.

“Lady Valexine, benarkah disini bertahta Kerajaan Glovazlox?”Russell tak dapat lagi membendung rasa penasarannya.

“Memang benar adanya…Kau sangat lancang Russell. Katakan padaku, apa yang sesungguhnya menjadi tujuanmu mendatangi Mount Emerald?”cecar Lady Valexine.

“Aku hanya ingin memastikan cahaya kedua itu benar-benar muncul. Bagaimanapun caranya cahaya itu harus muncul… Aku tidak ingin desa Fainterway dirundung bencana dan malapetaka…Lady Valexine bisakah kau menolong kami?”terang Russell.

“Kau tahu tentang cahaya dan malapetaka itu?”

“Aku sempat melihat cahaya itu Lady Valexine…”

“Itu cahayaku…”ujar Lady Valexine.

“Cahayamu? Itu artinya semua bergantung padamu…tolong keluarkan cahayamu lagi…dan aku berjanji tidak akan menjamah tempat ini lagi.”janji Russell.

“Tak seperti yang kau bayangkan. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Kurasa aku akan memenuhi permintaanmu. Dengan syarat kau akan memenuhi permintaanku juga.”tawar Lady Valexine.

“Katakan apa permintaanmu, Lady Valexine…”

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang…Bagaimana, kau bersedia?”Lady Valexine mengulurkan tangannya meminta jawaban.

“Baiklah…aku bahkan rela mati untuk keselamatan penduduk Fainterway!!!”jawab Russell mantap seraya menjabat jemari sedingin es itu.

“Baiklah, pejamkan matamu Russell…Kau harus kuubah terlebih dahulu menjadi seperti kami agar Lady Xermiz tidak mencurigaimu…atau kau akan binasa.”Lady Valexine menabur serbuk emas ke tubuh Russell.

Seketika sepasang sayap putih keperakan menyembul di punggung Russell. Jubah sutera berwarna biru laut melekat di tubuhnya. Russell merasa begitu aneh dengan perubahan yang terjadi padanya. Satu hal lagi, kini ia bisa terbang!

“Ayo ikut denganku…”Lady Valexine membimbing Russell memasuki pintu bayangan menuju Kerajaan Glovazlox.

Yang bisa ditangkap oleh mata Russell adalah negeri yang subur, penuh bunga dan aneka tetumbuhan yang mengenyangkan. Seluruh permukaan tanah tertutupi oleh serbuk gemerlapan. Lady Valexine juga membawanya menyusuri Air Terjun Madu, Sungai Susu, Pancuran Anggur dan Tebing Salju yang luar biasa mengagumkan. Terbersit keinginan Russell untuk tinggal di negeri itu.

“Itu Lady Xermiz…”bisik Lady Valexine di telinga Russell. Ia menunjukkan Lady Xermiz yang sedang mengasah ilmunya di ruang Blobalaz.

“Sedang apa dia?”tanya Russell.

“Dia sedang berlatih…karena malam ini aku, Lady Xermiz, Lady Flaxtona akan diuji ayah kami, Raja Gordex. Yang terunggul akan menjabat sebagai Princess Ruby, jabatan tertinggi setelah Raja Gordex…”jelas Lady Valexine.

“Aku yakin kau akan menang…”ucap Russell.

“Aku tidak menginginkannya…aku berharap besar pada Lady Flaxtona. Aku rasa ia pantas mendapatkannya…”tandas Lady Valexine. “Ayo, terompet sudah ditiup…saat yang ditunggu telah tiba. Jangan berdiri jauh-jauh dariku nanti disana.”pesan Lady Valexine. Russell mengangguk pasti.

Rakyat Kerajaan Glovazlox telah berkumpul di lapangan Araculaz. Raja Gordex duduk di kursi kebesarannya yang bertahtakan emas dan intan permata. Lady Flaxtona, Lady Xermiz, dan Lady Valexine berdiri di depan bola kristal Marazumazumia, tempat untuk mengadu kekuatan mereka masing-masing.

Lady Valexine sempat menjelaskan pada Russell bahwa siapa yang terkuat akan memancarkan cahaya berkilauan dari tubuhnya. Malam kemarin Lady Valexine unggul. Rupanya cahaya indah yang dilihat Russell dari bawah pohon beech itu adalah cahaya Lady Valexine. Malam ini malam penentuan. Setelah tiga abad, pada malam inilah akan dilantik Princess Ruby yang baru. Siapa yang berhasil menghasilkan cahaya itulah yang akan menjabat menjadi Princess Ruby. Sebaliknya, bila tidak ada setitik cahayapun yang keluar sudah dipastikan akan terjadi perang dan kekacauan di Kerajaan Glovazlox. Karena berarti tidak ada Princess Ruby yang bertugas menjaga ketentraman penduduk Kerajaan Glovazlox. Kekacauan di Kerajaan Glovazlox akan berdampak fatal bagi desa Fainterway. Itu sudah mutlak sejak berabad –abad lamanya. Itulah yang dikhawatirkan Russell saat ini.

Seorang gadis kecil membawa terompet kerang raksasa. Ia menaiki mimbar batu pualam yang berhias bunga anyelir.  Ditiupnya terompet yang mengeluarkan suara melengking itu. Raja Gordex berdiri dan menghentakkan tongkatnya. Pertarungan resmi dimulai.

Lady Valexine, Lady Flaxtona, dan Lady Xermiz mengerahkan kekuatannya masing-masing. Cahaya mulai keluar menembus bola kristal  Marazumazumia. Kekuatan ketiganya masih terlihat sebanding. Tak lama berselang, tak ada satupun cahaya yang keluar dari ketiganya. Mereka makin bertarung dengan alot. Russell khawatir. Ia melihat Lady Valexine memejamkan mata dan melemahkan gerakannya. Lady Valexine sengaja mengalah, terka Russell. Perlahan-lahan cahaya kembali muncul. Kali ini dari tubuh Lady Flaxtona. Semakin lama semakin terang. Begitu menyilaukan. Rakyat bersorak-sorai meluapkan kegembiraan. Lady Xermiz terpelanting ke belakang bersamaan dengan cahaya gemerlap yang menguar dari tubuh Lady Flaxtona. Russell berteriak lega.

Raja menghentakkan tongkat dan mengumumkan hasil keputusannya. “Lady Flaxtona, putriku, malam ini kuangkat kau menjadi Princess Ruby yang mengemban tugas menjaga ketentraman Kerajaan Glovazlox…”

Lady Faxtona menerima tongkat kebesarannya. Rakyat bersorak riuh seraya mengelu-elukan namanya. Lady Valexine menyelinap. Orang-orang sedang sibuk memperhatikan Princess Ruby yang baru. Ia menarik Russell pergi.

“Lady Valexine, kau tadi sengaja mengalah…”tukas Russell saat mereka telah sampai di pintu bayangan.

“Aku sudah bilang aku tak menginginkan jabatan itu…aku hanya ingin rakyat Glovazlox dan penduduk desamu bahagia.”ujarnya sambil tersenyum. Baru kali itu Russell melihat senyuman Lady Valexine. Senyuman manis bidadari. Bidadari cantik berhati mulia.

“Lady Valexine kau telah mengabulkan permohonanku, kini sebutkanlah permintaanmu…”ucap Russell.

“Nanti akan kukatakan…”Lady Valexine membawa Russell ke sebuah pondok kecil. Desmond duduk di dalam pondok itu sambil menggigit apel yang merah dan ranum. Kuda Russell dan Desmond terikat di luar.

“Sekarang kita akan kembali ke Fainterway…”Lady Valexine menabur serbuk emas di sekelilingnya. Semuanya lenyap.

***

“Auchh…”Desmond mengaduh mengusap kepalanya yang tersepak kaki kudanya.

Russell, Desmond dan kuda masing-masing tiba-tiba saja telah berada di depan pondok Russell. Dan Lady Valexine ada bersama mereka. Sayapnya yang translucent perlahan-lahan mulai lenyap. Tanpa sayap ia tetap saja mempesona. Penampilannya terlihat tak jauh berbeda dengan manusia lainnya. Desmond yang menyaksikan perubahan wujud Lady Valexine seketika jatuh pingsan.

“Lady Valexine, kini sebutkanlah permintaanmu segera.”pinta Russell untuk kesekian kalinya.

“Baiklah…aku ingin menjadi istrimu dan hidup bahagia di desa Fainterway bersamamu, Russellku…”jawab Lady Valexine. Permintaan yang mengejutkan sekaligus membahagiakan bagi Russell. Dan ia tak bisa menolaknya.

“Bukan permintaan yang sulit…”ucap Russell sembari mengecup jemari Lady Valexine. “Tapi bantu aku menjelaskan semuanya pada nenek…”goda Russell.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Misteri Mount Emerald

  1. Kohaku says:

    Halo Leona Augustine, salam kenal. :)

    Yang jadi masalah saya di sini, penggunaan tanda (…) yang bertebaran di mana-mana, padahal tidak perlu. Dan romansa yang kamu bangun… maaf, harus saya katakan tidak ada chemistrynya. Ketika sampai di bagian ending saya cuma bisa bengong. Permintaan dari sang Lady tidak masuk akal.

    Dan bagi saya, ada lebih baiknya kamu mempersingkat bagian awal dan fokus di pertengahan saja. Karena di bagian pertengahan mulai muncul kata-kata asing di sana-sini sementara tidak ada penjelasan yang memadai. Dan di bagian pertengahan itu saya merasakan kalau kamu terasa terburu-buru sehingga saya tidak bisa menyelami keindahan dunia yang kamu bangun.

    Hm, dan entah mengapa saya merasa penggunaan kata-kata asing di sini sebenarnya bisa diminimalisir hanya sebatas untuk tumbuhan saja. :)

    Rasanya segitu saja sih, semangat dan tetap menulis. :)

  2. KD says:

    cerita kamu ini asal-asalan. tidak ada energi yang mampu menggerakkan jiwa pembaca. ceritamu ini kering, dan tampak sekali kamu miskin kreativitas.

  3. FA Purawan says:

    … Glovazlox….

    Sounds like a glue brand for me… :)

    Ayo Leona, keep writing. Pada saatnya nanti kamu akan beejar bahwa kamu bisa mencapai story telling power fantasy yang lebih kuat tanpa perlu bergantung pada nama-nama aneh… :)

    Sukses ya…

  4. Villam says:

    ah. ini. mestinya namanya diganti aja jadi Gunung Zamrud kali yak…
    bagus kok nama itu. sama-sama enam huruf. hehe.
    gimana, Leona?

    • Leona Augustine says:

      Ya malah jadi ngakak ni! Kalau diganti jadinya Misteri Gunung Zamrud donx! jd keinget ma Misteri Gunung Merapi. Sarang si Mak Lampir. :P

  5. Leona Augustine says:

    Ya ya ya saya sudah siap dengan komentar2 di atas. Walaupun cerpen teenlit saya sudah beberapa yang dimuat di media tapi untuk genre fan-fiction saya memang masih nol…Ya inilah hasil kenekatan saya hehe. Tapi tak apa, saya akan terus menulis dan menulis…thanks all.

  6. alfare says:

    Sebenarnya, ini jenis latar cerita yang lumayan kusukai. Tapi kayaknya masih perlu latihan lagi. ^^

  7. Ivon says:

    …….

    sebaiknya, kamu punya alasan bagus untuk mengakhiri 90% dialog cerita ini dengan “…”

    dan aku kaget setengah mati saat melihat keterangan si tokoh utama itu umurnya sembilan belas tahun. dia lebih terdengar seperti anak kecil yang menurut perkiraanku berumur sekitar 7 – 13 tahun.

  8. Zenas says:

    Where’s Gandalf? I much desire to speak with Gandalf…

  9. fr3d says:

    bacooon…!!! nyam nyam!
    dan ya ampun… air terjun madu? S-s-sungai susu?! Kyaaa! Kyaaa…!!! xD *lemas*

    salam kenal, leona! ^^
    aku setuju soal ending
    kecuali endingnya, pas Lady Valexine mendadak minta kawin (agak terkesan jablay, eniwei… sususu… eh, salah! fufufu… :D), sebenernya ceritanya lumayan

    keep on writing! ;)

  10. Hai, numpang komentar ya. Aku sih suka aja dengan cerita ini, tapi menurutku endingnya kurang pas. Rasanya terlalu dipaksakan gitu. Bukankah sebelumnya mereka belum pernah saling bertemu? Jadi aneh.

  11. Prince Janssent says:

    Yah ampun,,ceritanya aneh banget!!!

    suer deh,,,sampe garut2 kepala nieh!!!

    Endingnya benar2 tidak memuaskan,,,suer deh!!

    Padahal dari pertama da bagus loh,,,!!!

  12. ashara says:

    okay, objectively, cerita ini gaya bahasanya lumayan bagus, terlepas dari typo2 yang ada. Masalahnya 1: alur. Coba diperbaiki alurnya. Menurut saya alurnya kurang kuat. Endingnya memang tidak mudah ditebak, tapi ini tidak mudah ditebak yang bikin ‘gubbrakk’… Nanti dibenerin dulu yaa… ^^ anda punya modal gaya penceritaan yang cukup bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>