Naga Putih Vhrnikadi

NAGA PUTIH VHRNIKADI

Suzannita

Ada legenda dilembah Vrhnikadi jika kau bertemu dengan Naga Putih, artinya kau terpilih memimpin negeri ini. Naga putih diyakini selalu melindungi negeri kami dari segala ancaman, bahkan mereka menyakini jika Naga Putih adalah penyelamat, pelindung dan penguasa alam Vrhnikadi. Entah bagaimana legenda ratusan tahun itu tetap dipercaya dan diyakini dengan begitu kuat oleh para penduduk lembah.

Aku hanya mendengar cerita yang melegenda dari kakekku jika nenek moyang kami adalah pemimpin bagi seluruh rakyat Vrhnikadi. Pemimpin Vrhnikadi adalah laki-laki, tak ada pemimpin perempuan, dan aku terlahir sebagai perempuan. Aku satu-satunya perempuan yang terlahir dikeluargaku, dan tak ada yang mengetahui jika aku perempuan, karena identitasku disembunyikan sejak aku lahir ke dunia.

Aku adalah Valvasor, dan aku adalah pemimpin negeri ini. Saat takdir tak dapat dipungkiri, saat nasib menentukan jalannya sendiri. Inilah kisahku, Naga Putih Vrhnikadi.

***

“Apa dia sudah lahir?” tanya Pangeran Jacques.

“Belum, Jacques , Louise sedang berjuang, bayinya sulit keluar karena terlilit tali pusar dan posisinya sungsang”, jawab Raja Melanophore.

Waktu berjalan lambat, detik demi detik seolah tak bergerak hanya diam ditempat. Tak terhitung berapa kali Pangeran Jacques mondar mandir didepan kamarnya menantikan kelahiran anak pertama dan calon penerusnya.

“Ayah, apakah ramalan dari peramal itu akan menjadi kenyataan, jika anak yang dikandung dan akan dilahirkan Louise adalah perempuan”,  lanjut Pangeran Jacques.

Raja Melanophore menjawab “kita hanya menjalani kehidupan ini saja, karena sudah ada yang menentukan apa yang kita terima dan jalan yang kita lalui”.

Keheningan kembali mencekam, ketegangan semakin bertambah meski bulan sedang bulat sempurna namun tak memberikan sedikitpun bantuan mengikis kecemasan.

“Hoaaeee.. Hoaaeee… Hoaaeee…” suara tangis keras bayi memecahkan keheningan dan ketegangan.

Salah satu pelayan keluar dari kamar dan memberikan hormat  “ Raja Melanophore, Pangeran Jacques, bayinya sudah lahir, ucap sang pelayan.

Raja Melanophore dan Pangeran Jacques mengikuti pelayan memasuki kamar megah dengan hiasan kristal dan emas di sepanjang lorong kamar. Tak berapa lama mereka pun memasuki ruang utama kamar tersebut.

Pangeran Jacques langsung menghampiri istrinya, seraya sambil membelai dan berkata “Sayang, kau baik-baik saja…”

“Kenapa kau menangis? “ pertanyaan Pangeran Jacques itu hanya membuat Louise, istrinya menangis semakin tersedu. Pangeran Jacques pun langsung memeluk istrinya dan menepuk perlahan punggung istrinya.

“Maafkan aku sayang, aku gagal melahirkan pemimpin negeri ini, anak kita… anak kita…“ Louise tertahan melanjutkan perkataannya.

Tiba-tiba Raja Melanophore menghampiri kedua pasangan tersebut sambil menggendong bayi mungil yang sudah dimandikan dan berbalut selimut beludru berwarna merah keemasan.

“Jacques, ini anakmu… lihatlah dia sangat kuat dan terlihat hebat seperti kau saat lahir, pesonanya sangat luar biasa seperti Louise” ucap Raja Melanophore.

Pangeran Jacques menoleh dan terdiam mendengarkan ucapan ayahnya tersebut. Laki-laki  berbadan tegap itu pun tak bergeming di atas tempat tidur. Raja Melanophore langsung menyerahkan bayi mungil berkulit putih kemerahan itu kepada Pangeran Jacques. Tak kuasa menahan haru, bayi itu pun langsung dipeluk.

Ramalan Anguinis, peramal kerajaan Vrhnikadi itu pun terbukti, anaknya adalah perempuan. Namun demi menjaga rahasia, malam itu seluruh pelayan di kamar itu diberikan peringatan untuk menjaga aib itu seumur hidup. Karena tak pernah ada perempuan yang lahir dari garis keturunan darah biru Vrhnikadi. Dan sejak itulah, kehidupan sang bayi menjadi milik orang lain bukan menjadi miliknya sendiri.

Louise akhirnya meninggal dunia pada pagi harinya. Kebahagiaan dan kedukaan itu berjalan seiring, disaat kebahagiaan Vrhnikadi menerima hadirnya bayi, disaat itu pula kebahagiaan terenggut oleh kematian. Pemakaman dilakukan dengan syahdu, perahu membawa mayat Louise ketengah danau Urodele. Pangeran Jacques sambil menitiskan air mata melepaskan anak panah dengan ujung berapi dari busur hingga menancap di kapal dan membakar kapal serta Louise. Penduduk Vrhnikadi memang percaya jika kehidupan itu berawal dan berakhir di laut. Saat mayat dibakar ditengah danau, abunya akan mengalir dan kembali ke lautan.

***

“Valvasor, jangan berlari terus, nanti kau jatuh, kakek sudah tidak kuat mengejarmu“,  Raja Melanophore berteriak sambil berusaha mengejar Valvasor yang terus melesat bak anak kijang yang berlari lincah mengitari lembah Vrhnikadi.

“Kakek, ayo kejar dong, masak tidak kuat mengejarku, aku kan hanya anak kecil” Valvasor semakin jauh meninggalkan kakeknya.

Sejak kecil aku dibesarkan oleh Kakek dan Ayah, karena dalam garis keturunan keluarga, perempuan akan selalu meninggal saat melahirkan calon pemimpin negeri, seperti itulah yang terjadi terhadap nenek buyut hingga ibuku yang meninggal usai melahirkan. Tak ada yang tahu kenapa hal itu terjadi, tapi banyak yang berkata itu adalah harga yang harus dikeluarkan karena melahirkan seorang pemimpin negeri. Pengorbanan yang diberikan untuk negeriku.

Setiap hari bibi Qirki, pelayanku sejak bayi, selalu membebat dadaku hingga rata dan mengikat rambutku dan memasangkan rambut palsu yang khusus dibuat untukku. Rambut pendek itu membuatku semakin terlihat seperti anak laki-laki. Aku pernah bertanya kenapa mereka melakukan hal tersebut kepadaku, namun bibi Qirki hanya berkata agar aku menanyakan hal tersebut kepada kakek ataupun ayahku.

Aku sangat mencintai lembah, hutan dan danau Vrhnikadi, betapa negeri ini sangat kaya. Saat kau bergerak ke dalam hutan, jauh kedalam hingga naik ke puncak gunung Btrua, kau akan menemukan pohon kristal cantik yang berkilau. Negeri ini, memiliki puncak es abadi yang menjadikan pepohonan sekitarnya menjadi kristal abadi pula. Jika kau kikis dinding dari bukit di Vrhnikadi yang kau temukan ada berlian indah yang tak ternilai harganya. Karena negeri ini dikelilingi bukit berlian. Atau saat kau menyelam kedalam danau Urodele, kau akan melihat begitu banyak mutiara berkilau, danau itu akan semakin bercahaya saat tertimpa sinar mentari dan cahaya rembulan.

Kakek selalu berpesan agar aku selalu menyayangi alam seperti dirimu sendiri. Saat kau mencintai alam, saat itu juga alam akan memberikan cintanya kepadamu. Namun jika kau membenci dan merusak alam, maka kau akan tinggal menunggu alam murka dan memberikan balasan atas setiap perbuatanmu. Nasehat kakek semakin terpatri didalam hatiku, dengan melihat dan merasakan keindahan alamku bak surga dunia yang begitu indah dan tak tergantikan dengan apapun.

“Hey, Valvasor, kenapa kau melamun”, tanpa kusadari kakek sudah disampingku.

“Ah, tidak kek, aku hanya memandangi danau itu saja, rasanya semakin lama semakin cantik saja kek, seolah aku ditarik kedalam danau tersebut. Sebenarnya didalam danau itu ada apa ya kek” aku menoleh kepada kakek meminta penjelasan.

“Suatu saat kau akan mengerti kenapa kau seperti ini, tapi jawabannya tidak sekarang” jawab kakek.

“Apakah memang karena legenda naga putih kek”, rasa penasaran tak menyurutkanku untuk menggali jawaban dari kakek.

Kakek hanya diam seribu bahasa, aku memang berulang kali menanyakan pertanyaan itu dan kakek selalu memberikan jawaban yang sama.

Tiba-tiba ada layang-layang besar berada tepat diatas kami, jaraknya 3000 kaki diatas , tapi layang-layang itu terlihat sangat besar. Kakek langsung berdiri dan menarik tanganku seraya berkata, “ayo kita pulang segera”.

“Kakek, ada apa? Benda apa itu kek, yang melayang diatas kita, kenapa aku tidak pernah melihatnya kek”, aku bertanya.

“Kek, apa itu?” kembali aku bertanya.

Kakek diam dan terlihat raut wajahnya sangat tegang, aku tidak pernah melihat kakek demikian tegang dan cemas.

***

Tiba di istana Vrhnikadi, kakek langsung mengantarkanku kekamar dan berkata kepada Bibi Qirki, aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka. Yang aku tahu, bibi Qirki langsung mengemasi pakaian kedalam tas kain dan mengajakku ikut bersamanya.

Ayah menghampiriku dan memelukku begitu erat dan berkata “Ayah sangat menyayangimu dan sangat bangga memiliki anak sepertimu, lindungilah negeri ini dan rakyatmu”. Aku hanya diam sambil membalas pelukan ayah dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.

Kakek pun melakukan hal yang sama “Naga putih akan datang kepadamu dan kau akan melindungi Vrhnikadi, kami percaya kepadamu nak”. Aku semakin bingung betapa semua pertanyaan  membuat kepalaku semakin penuh sesak, namun bibirku keluh untuk mengeluarkan semua uneg-unegku.

Kereta putih itu membawaku dan bibi Qirki melaju meninggalkan tanah kelahiranku. Aku hanya terdiam kebingungan  duduk didalam kereta, sambil menoleh kebelakang kulihat kakek dan ayah diikuti para jenderal dan dewan kerajaan masuk kedalam balairung besar tempat pertemuan yang hanya digunakan untuk keputusan darurat.

“Apakah sebenarnya yang terjadi pada negeriku, Tuhan… Tolong lindungi Kakek, Ayah dan negeriku” ucapku dalam batin.

Ternyata bukan hanya aku dan bibi Qirki yang pergi dari Vrhnikadi, di sepanjang jalan kulihat petani, anak-anak, ibu dan nenek juga terlihat terburu-buru meninggalkan bumi Naga Putih. Wajah-wajah cemas dan tangis mengiringi kepergian kami.

***

Aku terdiam didepan lukisan didepanku, goresan kuas diatas kanvas yang terbuat dari kulit domba itu membuat ingatanku terlempar jauh ke tanah kelahiranku. Aku kangen kakek, ayah, tanah, lembah, hutan dan danau tempatku bermain. Usiaku 5 tahun saat semua kebahagiaan itu kembali terenggut dari hidupku. Kini usiaku 20 tahun artinya 15 tahun berlalu sejak aku dan bibi Qirki  pergi dari Vrhnikadi.

Kini kami tinggal di tempat yang sama indahnya dengan negeriku. Kastil yang menjulang itu terlindung diantara dinding batu dan pepohonan, hutan membungkus tempat kami tinggal. Hawa pegunungan, wangi rumput dan pepohonan diiringi kicauan burung  membuatku semakin bersemangat menikmati indahnya alam.  Kami tidak pernah kekurangan makanan, bibi Qirki memelihara ayam, domba, hingga sapi. Bahkan bibi Qirki memenuhi halaman dengan aneka jenis sayuran dan buah.

Bibi Qirki selalu mengatakan jika nasib dan takdirku tidak dapat diubah, karenanya kini aku menjelma menjadi gadis yang cantik, demikian yang dikatakan bibi Qirki. Rambutku berkilau kuning keemasan ditambah mataku berwarna hijau seperti jamrud didalamnya lautan. Meski sebagai gadis cantik, aku ahli memainkan busur dan panah, pedang, berkuda hingga memanjat dan berlari di udara. Aku paling suka berlari di udara, karena aku seperti terbang tanpa sayap.

“Bibi, apakah disini hanya tinggal kita berdua”, aku menghampiri perempuan tua yang sedang memasak itu.

“Iya putrid Valva, kita disini hanya tinggal berdua, ada apa?  ” bibi Qirki menoleh.

“ Tidak apa-apa, aku hanya merasa masih ada mata yang melihatku, mata yang sama seperti saat aku tinggal di Vrhnikadi”, aku menjawab sambil termenung.

“Tuan putri akan mengetahuinya saat tepat berusia 21 tahun, itu artinya 3 hari lagi dari sekarang, takdir putri akan berubah selamanya”, bibi Qirki menjawab pertanyaanku sambil mengaduk sup kacang merah.

Aku beranjak meninggalkan kursi didapur, “Tuan putri mau kemana, makan malam akan siap dalam 10 menit lagi”, tanya bibi Qirki.

“Ah, tidak… aku hanya ingin kekamar sebentar, nanti aku akan turun kembali dalam 10 menit” aku menjawab dan berlalu.

Kutapaki tangga demi tangga naik menuju kamarku yang terletak di lantai dua kastil. Memang kastil tak sebesar kastil tempat tinggalku di Vrhnikadi, namun aku tetap merasa kesepian. Aku hanya ditemani lukisan yang kulukis di dinding kamar, lantai ataupun ruang yang tersisa dikamar. Aku memang selalu kehabisan kanvas domba buatan bibi Qirki. Karena memang kami hanya makan daging domba dalam dua bulan sekali. Daging yang begitu besar bisa bertahan 2 bulan lamanya dengan pengawetan khas ala bibi Qirki, yakni mengasapi daging tersebut sehingga bisa awet berbulan-bulan lamanya.

Aku mendorong pintu jendela kastil dan kulihat keluar, meski dikelilingi dinding batu dan pepohonan, namun karena kastil dibangun dibagian tertinggi dari lembah ini, aku bisa melihat lautan yang berkilau diujung mataku ataupun taburan bintang di angkasa. Dan semuanya tertuang ke dalam lukisanku. Kuamati lukisanku yang semakin terlihat hidup dan nyata. Aku berpikir kenapa lukisan ini menjadi semakin nyata dan indah sekali. Seolah aku berada di alam lukisan tersebut.

***

Aku tidak pernah mengetahui jika semuanya akan berubah. Ternyata bibi Qirki sedang menantikan perubahan itu. Tiga hari berlalu dengan begitu cepat, dan tepat malam ini aku berusia 21 tahun, sejak sore bibi Qirki tak kulihat batang hidungnya. Aku hanya menghabiskan hariku dikamar sambil menyelesaikan lukisan negeriku Vrhnikadi. Kastil, halaman, gunung, hutan dan danau semakin terasa nyata hingga membuatku ingin menabrak dinding kamarku. Aku tinggal menyelesaikan jalan yang pernah kutapaki, seolah aku tahu jalan keluar dari tempat tinggal kami menuju Vrhnikadi.

Tok… tok… tok… Pintu kamarku diketuk dari luar dan terdengar suara bibi Qirki dari luar “Putri Valva boleh saya masuk”.

“Ya, masuk saja bibi, pintunya tidak dikunci” aku menjawab seadanya.

Bibi Qirki masuk kedalam kamar sambil membawa kotak emas berukir yang sungguh indah. Kotak itu pun diletakkan dihadapanku.

“Putri Valva, boleh saya bicara”, bibi Qirki memandangku dalam-dalam.

Aku hanya mengangguk dan duduk didepan bibi Qirki .

“ Kini saatnya sudah tiba, tepat pukul 12 malam ini, jawaban atas setiap pertanyaan putri sejak masa kecil dan takdir tuan putri pun akan terbuka menuju jalan kebenaran” bibi Qirki terdiam dan kembali melanjutkan perkataannya.

“Putri Valva inilah takdirmu, didalam kotak ini kau akan menemukan jawaban” bibi Qirki menyerahkan kotak tersebut kepadaku.

Aku pun menerima kotak emas berukir dan membukanya, aku melihat bola kristal berwarna biru dengan seberkas cahaya putih didalamnya. Kupegang bola kristal itu dan tiba-tiba bola itu bersinar terang. Aku yang merasa terkejut langsung meletakkan kembali bola tersebut kedalam kotaknya.

“Jangan takut tuan putri, sebentar lagi tepat pukul 12 tepat, putri akan mendapatkan kehidupan baru. Takdir tak dapat dipungkiri, putri Valva cukup menggenggamnya saja” bibi Qirki berusaha menyakinkanku.

Jam berdentang sekali yang berarti waktu sudah memasuki jam 12 malam.

“Tuan putri, setelah ini  genggamlah takdir dan jalan hidupmu, lindungi Vrhnikadi dan rakyatnya, semua orang sedang menantikan kehadiran tuan putri untuk menyelamatkan mereka dari kegelapan” sambung bibi Qirki.

Aku hanya diam menatap dalam bola kristal yang berada didalam kotak emas itu. Aku menarik napas dalam, mengambil perlahan bola tersebut dan menggenggamnya. Tiba-tiba suara guntur bergemuruh saling bersahutan, kilat menyambar, angin berhembus semakin kencang, membuat tirai kamarku berkibar-kibar. Sementara bola dalam genggamanku semakin bersinar terang dan  menyatu masuk kedalam pori-pori telapak tangan, mengalir kedalam darahku, hawa panas pun merasuk kedalam ragaku.

Aku masih melihat bibi Qirki memandangku begitu dalam. Dan tiba-tiba aku terbang, aku naik dan naik hingga menyentuh langit-langit kamarku. Aku pun bergerak menuju jendela dan  keluar dari kamarku. Tanpa bisa kuhentikan aku terus melesat, terbang diangkasa diterpa sinar rembulan, aku semakin menjauh dari tempat tinggalku.

Tubuhku semakin tak bisa kukuasai, tak kurasakan dingin angin malam yang menusuk, badanku hangat dan aku menikmati bisa terbang. Kulintasi hutan, pegunungan, malam pun semakin larut, hingga aku berhenti sebuah danau. Aku turun dan berjalan menuju ke pinggir danau, aku haus dan aku ingin minum menghilangkan rasa dahagaku.

Betapa terkejutnya saat kulihat wajahku diatas permukaan air danau yang dipantulkan oleh cahaya rembulan. Aku mundur beberapa langkah dan berteriak, sayangnya bukan suara yang kukeluarkan namun api yang kusemburkan dari mulutku.

“Aaaagggrrrhhhh… apakah yang terjadi kepadaku, kenapa aku seperti ini, Tuhan bantu aku berikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada diriku”, batinku berteriak.

Aku kembali bergerak mendekati tepian danau dan memandang wajahku. Dibawah sinar rembulan kulihat jelas perubahan yang terjadi pada diriku. Aku berubah menjadi seekor naga, ya naga putih seperti legenda yang diceritakan dan dipercayai selama ratusan tahun dinegeriku.

“Apakah ini semua jawaban atas semua pertanyaan itu, aku harus melindungi negeri dan rakyat Vrhnikadi, seperti naga putih yang selalu menjadi penyelamat, pelindung dan penguasa alam Vrhnikadi” pikiranku berkelana saat kakek menceritakan legenda naga putih kepadaku.

Kulihat seberkas cahaya putih menghujam kedalam danau, tak kusia-siakan waktu, aku langsung bergegas menuju ketengah danau. Dan kuyakini inilah danau Urodele, ya inilah negeriku Vrhnikadi. Aku telah kembali ke negeriku, takdirku menuntunku kembali kesini.

***

Sinar matahari menyengat kulitku, saat kurasakan sebuah tongkat menyentuh tubuhku. Dan sayup-sayup kudengar suara.

“Dia masih hidup, lihat dia masih hidup… kenapa gadis ini ada disini, tubuhnya basah, apakah dia terdampar didanau Urodele”.

Kubuka mataku dan kulihat samar-samar sepasang manusia didepanku. Keduanya terlihat sudah berusia lanjut diatas 60 tahun.

“Ayo kek, kita bawa ke rumah, dia harus kita tolong, sebelum kondisinya bertambah parah” ajak sang nenek.

Kakek itu pun langsung memanggul tubuhku dan memindahkanku keatas gerobak. Keduanya langsung naik dan keledai pun menarik gerobak yang kutumpangi itu. Aku hanya melihat langit begitu biru, matahari bersinar tepat diatasku. Aku tak bisa mengingat apapun yang membuatku tak sadarkan diri dipinggir danau. Yang kuingat aku berubah menjadi naga putih dan bergerak kedalam danau saat kulihat cahaya menghujam tepat ditengah danau.

Kupegang tubuhku, kusentuh mukaku, tak ada lagi guratan dan kulit keras naga putih, aku kembali berubah menjadi manusia. Aku pun mengucapkan syukur dan aku kembali pingsan.

Saatku tersadar, aku sudah berada didalam sebuah kamar, tubuhku diselimuti dan aku sudah berganti pakaian. Tak lama kemudian, sang nenek masuk kedalam sambil membawa secangkir susu hangat dan roti gandum.

“Kau sudah sadar nak”, sapa sang nenek.

Aku hanya mengangguk dan sedikit tersenyum kepadanya.

“Coba kau makan ini dulu, sebagai pengganti tenagamu” nenek yang berwajah tenang itu  menyodorkan makanan kepadaku.

Usai makan, aku pun keluar dari kamar dan menyapa pasangan kakek nenek yang menyelamatkanku tersebut. Kakek Proteus dan Nenek Trasheria pun bercerita tentang Vrhnikadi yang kini berubah menjadi kering dan tandus. Tak ada lagi pepohonan, air danau mongering, puncak salju semakin terkikis tak bersisa.

Peperangan yang terjadi telah merenggut nyawa kakek dan ayah. Vrhnikadi kini dipimpin oleh Anguinis, peramal kerajaan itu berkhianat. Dia marah karena penerus kerajaan adalah perempuan. Aku hanya diam mendengarkan kakek Proteus dan nenek Trasheria bercerita “ternyata rakyatku sudah mengetahui jika aku adalah perempuan” pikirku.

“Kakek, nenek, aku akan merebut kembali Vrhnikadi dari tangan jahat Anguinis”, ucapku.

Keduanya pun langsung terdiam dan memandangku dalam-dalam.

“Kamu siapa sebenarnya nak?” tanya kakek Proteus.

“Aku sebenarnya Valvasor, penerus kerajaan yang merupakan seorang perempuan itu” jawabku.

Tiba-tiba keduanya langsung bersimpuh dan memberikan hormat kepadaku. Aku terkejut dan buru-buru mengangkat tubuh keduanya.

***

Setelah satu purnama berlalu di Vrhnikadi dan menyusun strategi. Aku memutuskan menyerang Anguinis. Menjelang purnama aku bergegas ke danau Urodele, disanalah aku akan berubah menjadi naga putih dan memberikan balasan kepada Anguinis. Kutatap danau Urodele dan kulihat seberkas cahaya menghujam ke tengah danau. Aku pun bergegas kedalam danau. Saat danau diam tak beriak, aku melesat keluar menuju kerajaan Anguinis.

Sesaat terbang aku pun bertengger di atas benteng, dan kusemburkan hawa panas dari mulutku. Prajurit Anguinis pun kocar kacir. Semuanya bergerak, berlarian mengeluarkan senjata dan menyerangku. Aku pun terbang beralu menuju kerajaan. Kudapati Anguinis didepanku, sebagai peramal dia sudah mengetahui kedatanganku.

Anguinis berteriak sambil berkacak pinggang “Valvasor, kau masih hidup, ternyata kau masih berumur panjang padahal berulang kali kau kucelakai tapi tetap saja kau hidup”.

Aku diam, dadaku bergemuruh, kutatap Anguinis dengan tajam. Tiba-tiba Anguinis mengeluarkan senjata dan menyerangku. Malam itu menjadi peperangan besar, tanpa kusadari ternyata kakek Proteus dan nenek Trasheria mengumpulkan rakyat Vrhnikadi dan ikut menyerang kerajaan Anguinis.

Pertarungan dengan Anguinis terus berlanjut hingga menjelang fajar, saat aku terpojok dipinggir kastil, Anguinis berlari hendak mendorongku, aku pun melompat. Disaat itulah Anguinis  terlempar dan jatuh dari atas kastil. Anguinis tewas bersimbah darah tertancap diatas tombak. Perangku pun berakhir, matahari pagi menerpaku dan aku kembali menjelma menjadi manusia. Seluruh rakyat Vrhnikadi bersorak, dan ajaib Vrhnikadi kembali seperti semula.

***

“Bagaimana ceritanya, menarik bukan?” ucap kakek menutup cerita kami.

“Kakek, aku ingin menjadi Valvasor, aku ingin menjadi naga putih Vrhnikadi” kutatap kakek dengan serius.

Kakek hanya memandangku dan menggengam jemariku erat-erat.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Naga Putih Vhrnikadi

  1. Cahya says:

    Ayo diterbitkan :D.

  2. suzannita says:

    Makasih ya Cahya, Amien… semoga cerpen ini terpilih dan bisa diterbitkan ngarep.com :D

  3. dora says:

    aku juga mua jadi valvasor !! hehe ;p
    dora doain cerpennya terpilih terus diterbitin ^^
    amiiin ;)

  4. Rio says:

    sedikit kesulitan mengeja sebagian nama-nama tokoh di cerpen ini hehe..
    nice Suzan, keep up the good work! :D

  5. Farhan says:

    lanjutkan mbak

  6. itikkecil says:

    semoga cerpennya terpilih :D

  7. Heinz says:

    Jujurnya, ini salah satu cerpen yang menarik untuk kubaca karena judulnya (meski ada tiga cerpen naga putih yang lain).

    Bagian awalnya sih sip. Tapi makin lanjut, aku gak bisa bilang makin menarik walau emang gak jelek juga. Segalanya berjalan terlalu mudah dan lancar. Agak klise.

    Tingkah laku Valva umur 5 taun ato 21 taun gak ada bedanya.

    Hm, aku gak tau apa hubungannya liat layangan 3000 kaki (ini gimana cara ngukurnya ya ampe pas gitu…) dengan pertanda bakal ada bencana?

    Lalu adegan Valvasor memperkenalkan sebagai putri dan si kakek nenek langsung percaya, duh itu juga nggak banget. Dan tiba-tiba pula Anguinis jadi si penjahatnya. Lalu apa alasannya? Coba lihat kalimat ini: “…Dia marah karena penerus kerajaan adalah perempuan…” Oh no….

    Dan endingnya itu. Aku sungguh gak ngerti. Awalnya kan lagi cerita tentang aku si Valvasor. Eh, akhirnya kenapa si kakek yang lagi cerita ke si aku. Did I miss something here?

    Yuk, marilah terus menulis dan berfantasi ria.

    • suzannita says:

      iya makasih banget loh, dah mau baca cerpenku, meski masih mengecewakan, tapi ini adalah karya fiksi pertama saya , ehheheh ^m^ … memang masih lompat sana lompat sini, apalagi terbatas di 3000 kata, ya anggap aja newbie belajar nih :D

  8. katherin says:

    Mampir baca ya.
    Wah, konsep ceritanya menarik.
    Mungkin karena terbatas pada 3000 kata, tapi pace cerita terlalu cepat sehingga ada beberapa konflik yg kurang digali (ex: layangan apa? isi ramalan? apa aja yg sdh dilakukan Anguinis u/ nyelakain Valvasor padahal gak pernah disebut ada kecelakaan apapun menimpa ybs?)

    Dan terakhir kalimat yang paling mengganggu ‘Setiap hari bibi Qirki, pelayanku sejak bayi, selalu membebat dadaku hingga rata dan mengikat rambutku dan memasangkan rambut palsu yang khusus dibuat untukku. Rambut pendek itu membuatku semakin terlihat seperti anak laki-laki.’
    Bukankah umur Valvasor waktu itu 5 thn? Anak perempuan berumur 5 thn blm punya dada. Dan rambut rasanya cukup dipotong pendek. Toh Valvasor masih berumur 5 thn. Kesulitan u/ menyembunyikan gender wanita itu biasa dimulai pada usia kira2 14-15 thn, saat hormon estrogen mulai diproduksi.

    Mohon maaf kalo comment-ku pedas… Tapi overall ceritanya enjoyable u/ dibaca kok. Good luck ya.

    • suzannita says:

      hohohoho… wah cukup teliti juga ya, mohon maaf kalo cerita ini masih kurang memuaskan, ya namanya juga masih baru nih, gak pa pa comment pedas kan ada sirupnya … nah loh ^m^

  9. idpramudita says:

    Hai, cerpen pertama, nih? Pertama aja sudah menarik kayak gini, apalagi klo terus berlatih yaa..
    Idenya bagus, tapi banyak yang belum tergali. Mungkin karena pertama kali dan terbatas pada 3000 kata. Bagian akhirnya sedikit bikin bingung. Over all: still enjoyable. Good luck ya!

  10. Kohaku says:

    Halo Suzannita, salam kenal. :)

    Wah, cabe saya udah dikasih sama om Heinz di atas, jadi saya cuma bisa bilang perbanyak lagi tulis menulisnya. :) Ayo semangat. :)

  11. Rea_sekar says:

    Kenapa gak potong rambut aja?

    Aku mendorong pintu jendela kastil dan kulihat keluar, meski dikelilingi dinding batu dan pepohonan, namun karena kastil dibangun dibagian tertinggi dari lembah ini, aku bisa melihat lautan yang berkilau diujung mataku ataupun taburan bintang di angkasa.
    Euh… commalove. Beneran, kebanyakan koma. Padahal saia kira bisa loh ini dipisah pake titik. Kalo dipaksa bagini ya pembaca (terutama saia) bakal ngos-ngosan bacanya. Lalu… setelah “meski” kok masih ada “namun”? Ini pasti gara-gara commalove, haha. Nah! Perbaikan versi saia kira-kira begini:
    Aku mendorong pintu jendela kastil dan kulihat keluar. Meski dikelilingi dinding batu dan pepohonan, kastil dibangun di bagian tertinggi dari lembah ini. Aku bisa melihat lautan yang berkilau di ujung mataku dan taburan bintang di angkasa.

    Sumpah, motif si Anguinis apa banget deh.

    Dikau nulis bahwa keturunan Vhrnikadi semaunya cowok karena “harga yang harus dibayar untuk menjadi pemimpin negeri”. Lah kalo yang lahir perempuan harusnya seneng, dong! Kan itu berarti “kutukannya” udah terangkat. Saia sih nyimpulinnya negeri itu dipimpin lelaki karena ya emang takdir, bukan pilihan. Jadi, jika takdir memberikan pemimpinn perempuan ya harusnya terima aja.

    Maaf. Maksud saia begini:
    1. Lahir anak cowok. Jadi pemimpin.
    2. Lahir cowok lagi. Abis itu lahir cowok lagi. Lagi. Lagi.
    3. Jadinya pemimpinnya cowok melulu. Oke, jadi dianggap wajar lah… ini takdir.
    4. Berarti sebenernya siapapun yang lahir itu pasti jadi pemimpin.
    5. Berarti cewek pun bisa, asal dia lahir dari royal family. Namun selama itu belum pernah ada lahir anak cewek.
    6. Anak cewek lahir. Bisa dong jadi pemimpin? Kan dia lahir dari royal family.

    Ah, saia gak mau komen tentang endingnya. Hum hum.

  12. Villam says:

    terus menulis ya, suzan.
    don’t stop. :-)

    • suzannita says:

      makasih ya bang Villam,

      asli awalnya ikutan hanya karena iseng aja,… ternyata aku sudah tercabik-cabik hikssss… *menangis*

      • @andrychang says:

        Come on, naga putih! Berdirilah tegar! Telanlah terus hujan cabe api bergizi itu dan bertengger di puncak gunung dengan kepala tegak! (Yeah g sendiri juga ngaku terburu2 ngirim sih, hikz).

  13. KD says:

    aku sudah pernah komen di sini, tapi terjadi kesalahan teknis sehingga komenku tidak muncul.
    —————————————-
    begini SUZ: (mengendap-endap)
    1. ceritamu akan SEMPURNA jika bagian terakhir kamu hilangkan.

    2. kalau sempat berkunjunglah di cerpen BEIBH dan BHUPENDRA GAGAN, di situ ada SATU KATA yang mempengaruhi seluruh cerita menjadi KEREN. Di ceritamu ini sebaliknya, SATU FRAGMEN menghancurkan jalinan cerita yang sudah kamu bangun dengan baik.

  14. Alfare says:

    Bagian awal cerita ini benar-benar menarik. Nuansa legendanya benar-benar sangat kuat. Dari tengah menjelang akhir, sepertinya ada terlalu banyak hal yang berusaha disampaikan. Kupikir, materi cerita yang di bagian ini mungkin lebih baik dipilah dan dipertimbangkan lagi. Ingin tahu tentang awal mula legenda naga pelindung.

    Berjuanglah.

  15. Rawr. Here I go.

    ==

    Sebagian besar komentar sudah diborong oleh Heinz dan bbrp rekan di atas.

    Kalau saya boleh menambahkan komen pribadi sih, entah redundan atau tidak dengan yg di atas:

    Cerita ini pada dasarnya bagus. Saya–somehow–bisa melihat ada fondasi yg kuat untuk setting ceritanya, membuat saya merasa cerita ini adalah versi ringkas dari sebuah cerita yg lebih panjang dan detail.

    Utk soal typo dan teknis, tidak banyak kesalahan, saya menduga karena kejar2an dengan deadline makanya tidak sempat di-edit lebih lanjut lagi.

    Pace ceritanya agak membuat nuansa yg sudah dibangun di awal bubar jalan. Menjelang akhir, ceritanya menjadi lebih terburu2. Sekali lagi, ini jg faktor yg membuat saya berpikir sebenarnya ada versi panjang dari cerita ini.

    Beberapa pertanyaan berkaitan dgn logika sudah ditanyakan Heinz di atas, salah satunya sih tentang layang2 yg bisa disebut2 scr akurat berada di ketinggian 3000 kaki.

    Pertanyaan menyangkut logika dari saya sih, si peramal itu, ada alasan apa dia sampai baru mengkudeta saat si karakter utama berusia 5 thn? Kalau dia mengkudeta tidak lama setelah si karakter utama lahir, kemungkinan usahanya berhasil jauh lebih besar, saya kira.

    Dan, memangnya kalau ramalannya dia benar bahwa pimpinan kerajaan adalah seorang wanita, si peramal bakalan dipecat …? Saya tidak terlalu menangkap alasan mengapa si peramal merasa perlu untuk melakukan kudeta krn calon pemimpin kerajaan adalah seorang wanita. Kecuali kalau dia pada dasarnya memang haus kekuasaan dan berniat jahat. Itu malah terasa lebih masuk akal.

    Komentar ngawur: Si peramal ini diam2 emg rada2 dodol nampaknya …

    Rawr. Maaf kalau makin ke bawah komentarnya terkesan ngawur dan melewatkan banyak hal dalam cerita.

    Hehe.

    • suzannita says:

      iya sih, jujur ngetik ini hanya sekitar 1-2 jam saja, parah banget ya, udah batas mau deadline pula :D, jadi masih banyak yang bolong sana sini, makasih ya, ini masih harus banyak belajar lagi

      *mohon bimbingan ya*

  16. xeno says:

    Halo, Suzan. :)
    Seperti yang aku bilang di twitter, aku suka ilustrasi naga putihnya. >,<

    Hmm, udah banyak komen yang masuk, jadi aku nambah dikit aja. Saat Valva memutuskan untuk menggenggam bola kristal pembarian pengasuhnya, kamu tulis di luar muncul halilintar dan angin kecang. Nah, tidak lama kemudian Valva keluar dari kastilnya dan kesan badai angin dan petir sebelumnya mendadak hilang tanpa petunjuk, tergantikan dengan cahaya rembulan.

    Lalu, sebelum dan ketika Valva bertemu Anguinis, dia beruwujud naga, manusia, atau ada perubahan disela-selanya? Soalnya saat tiba Valva kamu tulis menyemburkan api. Namun kemudian Anguinis mencoba mendorong gadis itu–yang mengakibatkan kematiannya sendiri. Ah, apa ada yang udah aku lewatkan ya? ^^a

    Dan satu lagi, soal naming. Jacques dan Louise entah kenapa berasa Perancis, Valvasor ada taste Latin di sana, dan Proteus itu klo gak salah nama dewa laut Yunani, cmiiw. Hehehehe…. Unik. ^^a

    Anw, ceritanya sendiri cukup asik. Dan ya, plot yang kamu angkat emang sepertinya bisa jauh lebih panjang dari ini. Coba kamu beri waktu sedikit lama lagi bagi Proteus menggalang dukungan rakyat, dan perjuangan Valva untuk menggulingkan pemerintahan Anguinis. Bagian pertempurannya bisa jadi epic tuh. :)

    Ah, itu aja dulu. Semangat! And good luck, Suzan. :)

    • suzannita says:

      iya asli, emang kepengen lebih panjang lagi, rasanya bisa jadi novel cerita ini, heheheh… tapi apa daya terbatas 3000 karakter :D

      terima kasih atas komentarnya *aku terharu*

  17. fr3d says:

    mampir ke lapaknya suzan!

    akhirnya baca cerita tentang naga yg naganya beneran naga… :D

    menurutku cerita ini sebenarnya punya landasan yg bagus, karena dari settingnya sudah ada, latar konflik juga ada, dan aku paling suka kejutan kalau ternyata si Valvasor ini bisa berubah jadi naga putih
    tapi ya memang cerita ini enggak cukup hanya jadi cerpen dengan batasan kata, karena suzan menceritakannya dari awal Valvasor lahir, sampai dia dewasa, lalu diakhiri dengan perang, yang mana jelaslah terlalu banyak yang harus diceritakan ^^
    akhirnya semua jadinya cuma pendek2 dan gak dapat porsi penceritaan yang cukup

    bagian endingnya juga memang gak perlu, karena berpotensi jadi bikin bingung apakah kisah naga putih ini hanyalah dongeng atau memang beneran?
    lebih baik dianggap beneran aja, hehehe x)

    hayo menulis fantasi lagi, zan!
    ;)

    • suzannita says:

      xixixixi… makasih ya, jujur ini tulisan pertama saya tentang fantasy yang fantasy hehehe, masih harus banyak belajar dari para suhu yang ada disini… *mohon bimbingan ya para Master dan Suhu sekalian* :D

  18. suzannita says:

    Sebenarnya saya mengangkat cerita Naga Putih Vrhnikadi ini dari kisah di kota Vrhnikadi Slovenia Selatan, bekas Yugoslavia, tahun 1685 ada naga putih yang ditangkap dan dipamerkan disana :D heheheh :D

    • xeno says:

      Hee? Tahun 1685 ada naga beneran yang ditangkap dan dipamerkan di Slovenia? Bukan cuma cerita rakyat aja kan? Apa naga putih itu berasal dari jenis dinosaurus? *dihajar karena banyak tanya* *beringsut minta info ke mbah gugel*

  19. Pingback: Daftar Cerita Fantasy Fiesta 2011 | Kastil Fantasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>