Pohon Terlarang

POHON TERLARANG

Jacques Devosy

Sebuah kano berwarna hitam menyeberangi sungai yang memanjang. Bunyi gemerincing yang memecah keheningan terdengar dari sebuah lonceng kecil yang terpasang pada ujung kano itu. Bunyi dari lonceng itu membangunkan sesuatu yang berada di dalam sungai, sesuatu yang tampak tidak bersahabat.

Dari dalam sungai, terlihat sesuatu yang mencuat keluar. Sebuah tangan, tangan yang terlihat pucat seperti tulang. Lalu, muncul tangan-tangan yang lain yang juga pucat seperti tulang. Jumlah tangan-tangan itu sekitar puluhan, hendak meraih apa yang ada di dalam kano.

Seorang pemuda yang duduk di atas kano, tampak tidak peduli dengan puluhan tangan itu. Wajahnya terlihat dingin dan pucat. Sebuah pedang yang tergantung dekat pinggangnya membuat dirinya terlihat berbahaya.

Pemuda itu tidak sendirian di atas kano. Di depan pemuda itu ada seseorang yang sedang berdiri didekat ujung kano, memegang sebuah dayung yang tentu saja digunakan untuk membantu perahu hitam yang dinaikinya untuk bergerak. Jubah hitam yang dikenakannya terlihat lusuh dan banyak sobekannya. Wajah orang itu tidak kelihatan karena tertutup oleh sebuah tudung. “Enyahlah!” orang itu mendesis pada puluhan tangan pucat. Puluhan tangan pucat dengan patuh mematuhi perintah orang berjubah itu. Segera menarik dan membenamkan diri ke dalam dasar sungai.

Orang berjubah hitam itu segera menyandarkan kano pada tepian begitu telah sampai pada tujuan. Si pemuda yang berada di belakangnya segera berdiri dan bergegas keluar dari kano. Begitu si pemuda keluar, orang berjubah hitam itu segera meninggalkannya.

Tampak tidak jauh dari situ, terlihat sebuah bangunan yang berbentuk seperti kuil. Si pemuda segera melangkahkan kakinya menuju bangunan itu dan memasukinya. Dia memperhatikan sekelilingnya. Aroma udara yang sedikit lembab, ukiran-ukiran unik yang tertera pada dinding, dan lantai yang terdapat beberapa symbol unik, membuat pemuda itu merasakan ada perasaan rindu yang terpancar dari wajahnya ketika dia berada di ruangan itu.

Sebuah pohon berdiri dengan kokohnya di tengah ruangan. Batang dan ranting-rantingnya terbuat dari emas. Berbuah apel yang terlihat seperti berlian. Daun-daunnya yang berwarna biru memancarkan cahaya, hingga seluruh ruangan bercahayakan kebiru-biruan.

Pandangan pemuda itu langsung terpusat pada pohon itu. Dia mendekati pohon itu tapi dengan segera dia menghentikan langkah kakinya. Dia merasakan ada orang lain yang berada di ruangan, selain dirinya.

Sebuah bayangan memisahkan diri dengan bayangan pohon itu. Semakin memanjang dan menjauh. Dua buah tangan dengan jari-jari lentik terlihat muncul dari bayangan itu, menutupi sebuah wajah. Semakin naik ke atas hingga memperlihatkan yang sebenarnya. Ke dua tangan yang menutupi wajah, tiba-tiba direntangkan. Terlihat dengan jelas wajah seorang wanita yang terlihat pucat dengan senyuman aneh yang ditujukan pada pemuda itu.

“Aku sudah lama tidak melihatmu, Dafael,” kata wanita itu pada si pemuda. “Mungkin sekitar empat tahun.”

“Tiga tahun, Cheravika,” Dafael membenarkan.

Cheravika berjalan mendekati Dafael sambil memainkan rambut hitam pada jarinya. Gaun hitam yang dikenakannya terlihat unik dengan kerah yang memanjang setinggi telinga dan terusan bawahnya yang panjang terseret di lantai ketika dia berjalan.

“Sungguh tidak sopan,” kata Cheravika ketika sudah berada satu meter di depan Dafael. “Kau seharusnya memanggilku dengan sebutan guru.”

Dafael tidak menanggapi perkataan Cheravika. Raut mukanya juga tidak berubah, masih tetap keras dan dingin.

Cheravika mencondongkan badannya ke depan. Tatapannya memperhatikan wajah Dafael yang sudah lama tidak dilihatnya, lalu memundurkan kembali badannya. “Kau bertambah tua.”

“Mungkin yang kau maksud adalah bertambah dewasa,” ujar Dafael.

“Sifatmu itu sama sekali tidak berubah,” kata Cheravika. Raut mukanya yang terlihat santai kini berubah serius. “Jadi, apa yang kau lakukan ditempat ini?”

“Buah Terlarang,” jawab Dafael.

Cheravika langsung terkejut mendengar jawaban dari mantan muridnya itu. “Jadi, kau ingin kembali menjadi bangsa Cerebelion?”

“Tidak,” jawab Dafael.

Jawaban yang sangat singkat dari Dafael membuat Cheravika terkejut sekaligus kecewa. “Apakah ini ada hubungannya dengan dia?”

“Namanya Alice.”

“Hahaha!” Cheravika tertawa dengan sangat keras.

“Apa yang kau tertawakan?” Dafael terlihat bingung. “Sama sekali tidak ada yang lucu.”

“Jadi memang benar. Kau datang kemari karena ada hubungannya dengan perempuan itu,” kata Chevarika. “Dafael, ternyata kau sudah gila!”

Dafael tidak mempedulikan hinaan dari mantan gurunya itu.

“Kau ingin memberikan buah terlarang pada kekasihmu itu?” Cheravika kembali tertawa. “Kau ingin merubah dia menjadi seperti kita?” Cheravika tersadar akan perkataannya, dia lalu mengubahnya,”maksudku ingin merubahnya seperti aku atau bangsa Cerebelion?”

“Benar. Dan sebaiknya kau tidak menghalangiku mengambil buah terlarang,” ancam Dafael.

“Wow, aku takut dengan ancamanmu,” Cheravika berpura-pura gemetar ketakutan.

“Aku tidak memiliki waktu berbicara denganmu, Cheravika,” kata Dafael. Dia berjalan melewati Cheravika begitu saja. Tujuannya ke tempat ini hanya satu, yaitu mengambil buah terlarang.

“Berhenti!” perintah Cheravika.

Dafael tidak mempedulikan perintah itu. Dia kini berada sangat dekat dengan pohon terlarang. Tinggi pohon itu hanya sekitar tiga meter, hingga dia tidak perlu memanjat untuk mengambil buah terlarang. Tangan Dafael diangkat keatas, siap untuk memetik buah terlarang.

“Kubilang berhenti, Dafael!” seru Cheravika kembali. Tangannya diarahkan ke Dafael dari jauh dan mengibasnya. Dafael seketika itu juga terhempas menghantam dinding. Ketika tangan Cheravika mengibas, seperti ada sesuatu yang tidak terlihat yang melemparnya.

Dafael tersungkur dilantai dan berusaha bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit dipunggungnya. Dia berjalan kembali menuju pohon terlarang.

“Kau sungguh keras kepala,” kata Cheravika. Dia kembali mengarahkan tangannya ke Dafael dan mengibasnya.

Dafael kembali terhempas dan menghantam dinding. Rasa sakitnya kini terasa dua kali lipat dari rasa sakit yang tadi. Dia berusaha berdiri, berjalan tertatih-tatih menuju pohon terlarang. “Tidak ada waktu,” gumam Dafael.

Cheravika sangat marah dengan kelakuan Dafael. Dia terbang menuju Dafael dan berhenti tepat didepannya, hingga menghalangi Dafael.

“Jangan menghalangiku,” kata Dafael.

Tiba-tiba sebuah tamparan yang keras mendarat di pipi Dafael. Dafael hanya diam mendapat perlakuan yang kasar dari Cheravika.

“Berhenti berbuat bodoh!” teriak Cheravika. “Aku bisa saja membunuhmu.”

“Minggir,” kata Dafael.

“Dimana rasa kebangganmu yang dulu?” tanya Cheravika. “Rasa bangga menjadi seorang Cerebelion.”

“Minggir.”

“Kau melakukan ini demi dia yang seorang manusia?” tanya Cheravika terheran-heran. “Manusia adalah makhluk yang kasar dan pemarah. Meraka juga sangat rakus dengan harta. Mencuri, membunuh, dan bermoral rendah–itulah manusia”

“Kubilang minggir!” Dafael mencabut pedang dari sarungnya dan mendekatkan ujungnya ke leher Cheravika. “Alice, bukan seperti itu.”

“Kau mau membunuhku, Dafael?”

Dafael hanya diam. Mereka berdua bertatapan cukup lama. Hingga akhirnya Dafael menjauhkan pedangnya dari Cheravika dan menjatuhkannya.

“Kumohon jangan menghalangiku, Cheravika,” pinta Dafael.

“Apakah kau lupa?” kata Cheravika. “Aku adalah penjaga pohon terlarang. Tidak akan kubiarkan bangsa lain memakan buah terlarang selain bangsa Cerebelion.“

“Aku sangat membutuhkan buah terlarang!”

“Bukan kau yang butuh tapi manusia itu.”

“Alice sekarat,” ada perasaan sedih bercampur takut dari suara Dafael. “Hidupnya tidak akan bertahan lama lagi.”

“Pada akhirnya manusia akan meninggal.”

“Tapi dia masih terlalu mudah untuk pergi meninggalkan dunia ini.”

Cheravika berpikir sejenak. Di satu pihak dia ingin membantu Dafael, tapi disisi lain dia adalah penjaga pohon terlarang. “Apakah pendirianmu tetap sama?”

“Benar,” jawab Dafael.

“Baiklah, kau boleh mengambil buah terlarang,” kata Cheravika.

“Benarkah?” Dafael tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Kau boleh mengambilnya, tapi–kau harus membunuhku terlebih dahulu.”

Dafael terkejut dengan apa yang didengarnya. “Aku tidak bisa.”

“Jangan bersikap pengecut, Dafael!” kata Cheravika. “Ambil pedangmu kembali dan hunuskanlah padaku.”

Dafael hanya diam.

“Apa yang kau tunggu?” tanya Cheravika. “Baiklah kalau begitu.”

Bayangan Cheravika tiba-tiba bergerak, menjalar ke seluruh tubuh Dafael, dan membelenggu tubuh mantan muridnya itu. Dafael meronta-ronta dalam dekapan bayangan Cheravika. Tangannya berusaha di arahkan pada pedangnya. Pedang yang berada dilantai bergerak-gerak sendiri. Beberapa saat kemudian melayang  dan mendarat digenggaman Dafael. Dafael dengan segera menebas Chevarika, tapi Cheravika berhasil menghindar dengan terbang kebelakang. Bayangan yang membelenggu Dafael segera lepas.

“Bagus Dafael,” puji Cheravika. “Ternyata kau masih tetap seorang ksatria Cerebelion.”

Dafael segera berlari menuju pohon terlarang.

“Tidak akan kubiarkan kau mengambil buah terlarang.” Cheravika menjentikkan jarinya. Sebuah portal besar berbentuk lubang muncul di atas Dafael. Dari portal itu muncul sebuah tangan besar yang mengarah menuju Dafael .

Dafael segera melompat ke belakang agar terhindar dari serangan yang tiba-tiba itu. Jika sampai Dafael terkena serangan itu, mungkin tubuhnya akan tercabik-cabik oleh cakar dari tangan besar itu yang setajam belati.

Sebuah tangan yang lain pun muncul, lalu sebuah kepala ikut muncul. Kepala itu memiliki bentuk dan wajah yang sangat buruk, dimana tidak memiliki rambut, dua buah mata yang berwarna putih keseluruhan, terdapat banyak jahitan di seluruh wajah, gigi-gigi yang terlihat seperti kumpulan jarum, dan lendir hijau menetes dari mulutnya yang menghancurkan lantai ketika terkena lendir itu, seperti air keras. Makhluk itupun keluar dari portal.

Dafael terperangah dengan ukuran makhluk itu yang begitu besar. Bahkan makhluk itu harus sedikit menunduk, agar kepalanya tidak terbentur platform.

“Apakah kau mau berkenalan dengan peliharaanku, Dafael?” tanya Cheravika. “Perkenalkan, namanya Abaddon.”

“Apa peliharaanmu ini tidak pernah dimandikan, Cheravika?” Dafael balas bertanya. “Tubuhnya berbau tidak enak.”

Abaddon menatap Dafael dan mengeluarkan suara yang terdengar serak.

Terdengar suara Cheravika yang sedang tertawa dengan keras. “Abaddon bilang kau terlihat lezat,” ujar Cheravika.

Abaddon kembali menyerang Dafael. Dafael menahan serangan itu dengan pedangnya, tapi Dafael terlempar ke samping karena tidak kuat menahan kekuatan Abaddon yang besar. Dafael segera bangkit berdiri, berlari menuju Abaddon, dan menebas betis kiri Abaddon. Tidak tampak terbelah betis Abaddon, bahkan tergorespun tidak. Abadon menatap Dafael dengan heran. Seolah-olah berkata apa yang sedang dilakukannya. Dafael segera mundur kebelakang, berjaga-jaga jika Abaddon akan menyerangnya lagi.

Pedangmu tidak akan mampu melukainya,” kata Cheravika. “Kulit peliharaanku ini sekeras baja.”

Dafael sedikit mendekatkan jarinya pada pedangnya. Dia menggerakkan jari telunjuknya ke seluruh pedang, seperti sedang menulis sesuatu di atas pasir dengan jari. Pedang yang dipegang Dafael tiba-tiba bersinar, semakin lama semakin terang. Tampak ketertarikan dari wajah Cheravika. Kagum dengan apa yang diperbuat oleh Dafael pada pedangnya.

Dafael segera bergerak menuju Abaddon dan menyerang kedua kaki makhluk itu. Abaddon menjerit kesakitan dan terjatuh berlutut, tidak kuat menopang badannya yang besar itu.

Dafael segera melanjutkan serangannya, menghunuskan pedangnya tepat pada jantung Abaddon. Abaddon kembali menjerit, tapi kali ini jeritannya terdengar sangat keras. Cheravika terlihat tenang saja, seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi pada peliharaannya.

Dafael melepaskan pedang dari genggamannya, membiarkan pedangnya tertanam pada jantung Abaddon. Abaddon berusaha mencabut pedang Dafael dari jantungnya, tapi tangannya langsung terbakar begitu menyentuh pedang Dafael. Semakin lama pedang itu membakar tubuh Abaddon, hingga Abaddon hangus terbakar dan tergeletak di lantai dengan keadaan tak bernyawa.

Dafael mencabut pedang dari tubuh makhluk tak bernyawa itu dan menyarungkannya.

“Pertarungan masih belum selesai, Dafael,”Cheravika mendarat di depan Dafael.

“Cukup. Aku tidak mau melukaimu,” kata Dafael.

“Kau sangat percaya diri sekali.” Cheravika mendekati Dafael dan membisikkan sesuatu pada Dafael.

“Hentikan,” ujar Dafael. Dia merasakan tubuhnya mengalami kesakitan dan tidak bisa digerakkan.

Cheravika masih terus membisikkan sesuatu dan itu semakin membuat Dafael bertambah kesakitan.

“HEN–HENTIKAN!” jerit Dafael.

Cheravika pun berhenti berbisik. “Kau telah kubacakan kutukan. Dalam waktu tiga belas menit, nyawamu akan segera tercabut dengan sendirinya.”

Darah mulai mengalir dari kedua mata Dafael. Dia ingin menggerakkan tubuhnya, tapi usahanya hanya sia-sia.

“Kau terlihat sangat menderita,” sindir Cheravika. “Kau harus berterimakasih padaku karena wanita itu–Alice akan menyusulmu kedunia sana.”

“Diam,” gumam Dafael.

“Atau mungkin sebentar lagi kau yang menyusulnya. Mungkin sekarang Alice sudah tak bernyawa lagi.”

“DIAM!” bentak Dafael.

“Kau terlihat sangat ketakutan.” Cheravika mengarahkan tangannya pada pohon terlarang.

Buah terlarang terpetik dengan sendirinya, melayang menuju Cheravika, dan mendarat di telapak tangannya.

“Kau ingin buah ini?” tanya Cheravika dan mendekatkan buah terlarang didekat wajah Dafael.

“Apa maumu?” Dafael dapat menebak apa yang Cheravika rencanakan.

“Kau memang pintar. Aku akan memberikanmu buah terlarang ini, tapi–”

“Tapi apa?”

“Kau harus mengabulkan satu permintaanku,” jawab Cheravika.

Dafael merasakan ada sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya jika dia menerima kesepakatan itu.

“Ba–baiklah. Apa maumu?” Dafael akhirnya menyetujuinya. Dia tidak memiliki pilihan lain.

Terlihat senyuman kemenangan yang terpancar diwajah Cheravika.

*

Sebuah kamar kecil diterangi oleh cahaya mentari pagi. Bermacam-macam bunga indah menghiasi kamar kecil itu, membuat aroma kamar menjadi wangi. Disitu, tampak seorang gadis terlelap di atas sebuah ranjang. Wajahnya pucat dan tampak kesakitan. Jemari gadis itu digenggam erat oleh Dafael. Gadis itu tidak menyadari jika Dafael berada disisinya.

Dafael terlihat sedih. Tidak seperti Dafael yang tadi, yang memiliki ekspresi yang keras dan dingin. Di dekat gadis ini, Dafael seakan berubah menjadi sosok yang lain, menjadi sosok yang memiliki kepribadian lembut dan ramah.

“Aku tidak akan membiarkanmu menderita,” kata Dafael pelan pada gadis itu, berusaha untuk tidak membangunkannya.

Suasana terasa hening. Dafael berusaha menahan rasa sedih di hatinya. Dilihatnya ada sesuatu yang terselip dibawah bantal. Dafael menarik benda itu dengan pelan.

Sebuah buku harian.

Buku harian itu dibuka olehnya. Bentuk tulisan yang jelek dan berantakan tertera pada lembaran-lembaran di buku harian itu.

“Tulisanmu sangat jelek sekali,” gumam Dafael dengan tawa bisu yang dipaksakan.

Dafael membuka terus halaman demi halaman hingga dia sampai pada tulisan terakhir. Dia memajukan wajahnya pada buku harian agar mudah terbiasa dengan tulisan-tulisan yang sulit untuk dibaca.

 

Aku tidak tau ada apa dengan Dafael akhir-akhir ini. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya murung. Jika kutanya apa yang sedang dia pikirkan? Dia pasti mengatakan kalau dia sedang tidak memikirkan apa-apa.

Aku tau kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu. Aku yakin jika itu ada hubungannya denganku, yaitu PENYAKITKU.

Aku selalu berakting untuk selalu kelihatan sehat, agar dia tidak cemas dengan kondisi tubuhku. Mungkin aktingku yang berpura-pura kelihatan sehat terlihat sangat buruk, hingga dia tau kalau kondisiku semakin memburuk.

Wajahnya tampak kurus dan tampak lebih pucat tidak seperti sebelum aku pertama kali mengenalnya. Bila melihatnya seperti itu, hatiku terasa perih. Aku bahkan menahan rasa ingin menangis di dekatnya atau menangis secara sembunyi-bunyi. Aku tidak ingin dia melihatku menangis, tidak ingin dia bertambah sedih.

Penyakitku ini seperti memberikan penghalang dari setiap aktivitasku, bahkan untuk memasak saja tidak bisa karena asap dari tungku api bisa membuat napasku sesak dan itu akan memperburuk kesehatanku. Jika aku sembuh, aku akan memasak masakkan yang enak untuknya.

Setiap hari dia pasti datang untuk menemani dan merawatku, tapi sejak pagi hari sampai sekarang, Dafael tidak kunjung datang. Apakah sesuatu terjadi padanya? Kuharap tidak.

Tanpa sadar aku mulai menangis. Aku sangat takut, takut kalau dia pergi meninggalkanku. Jika itu benar, mungkin itu sesuatu yang baik baginya. Kebebasannya akan terbelenggu jika dia harus mengurusku setiap hari. Aku harus siap jika dia pergi meninggalkanku.

Kurasa tangisanku sudah tidak bisa kukendalikan lagi. Untunglah Dafael tidak berada disini sekarang, karena dia beruntung tidak melihatku menangis. Sebaiknya aku harus berhenti menulis dan menenangkan diriku.

 

Dafael menutup buku harian tersebut dan meletakkannya diatas meja. “Dasar gadis bodoh,” gumamnya. “Aku selalu tau jika kau menangis.”

Tanpa sadar sesuatu mengalir di pipi Dafael. Air mata.

“Kau tau,” kata Dafael. “Kau membuatku sangat repot, Alice. Tapi, aku senang bila kau merepotkanku.”

Dafael melepaskan genggamannya dan mengambil sesuatu dibalik jubahnya. Sebuah buah terlarang. “Kau harus tetap bertahan hidup,” kata Dafael. “Dan jangan terlalu baik pada semua orang, mereka nanti akan memanfaatkan kebaikan hatimu. Oh iya, hilangkan sikap cerobohmu itu.”

Dafael tersenyum, tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya. Dia tidak mampu untuk menghentikan tangisannya. Dengan segera, dia menggigit pangkal jari telunjuknya, berusaha menahan agar tangisannya tidak terdengar.Dia lalu menaruh buah terlarang di atas badan Alice. Sebuah kejadian aneh muncul kemudian. Buah terlarang itu bersinar dan menembus badan Alice, seperti melewati asap. Wajah Alice perlahan-lahan berubah dari pucat menjadi cerah. Dafael segera bangkit berdiri dari tepi ranjang. Dan melakukan sesuatu yang harus dilakukannya. Dia sedikit membungkuk diatas Alice dan menempelkan bibirnya di kening Alice.

“Kau harus terus bahagia, kau tidak boleh sedih,” bisik Dafael pada Alice.

Pemuda itu pun meninggalkan gadis itu seorang diri di kamar. Di depan pintu rumah tampak Cheravika sedang menunggu seseorang.

“Sudah selesai?” tanya Cheravika ketika Dafael muncul didekatnya.

Dafael tidak menjawab. Kepalanya tertunduk lesuh dan sedang tidak ingin di ajak bicara.

“Kau habis menangis?” Cheravika kelihatan terkejut. Dia melihat ada bekas air mata di pipi Dafael.

“Kau menang Cheravika,” ujar Dafael. “Keinginanmu telah terkabul.”

“Ini demi kebaikanmu sendiri,” kata Cheravika.

“Aku sama sekali tidak merasa baik.”

“Baiklah, ayo kita kembali ke tempat seharusnya kau berada. Selamat, karena kau telah kembali menjadi seorang Cerebelion kembali.” Cheravika sama sekali tidak peka terhadap perasaan Dafael yang lagi sedih.

Dafael pun berlalu, meninggalkan Cheravika dibelakangnya.

“Kau sudah mengucapkan salam perpisahan padanya?” tanya Cheravika.

Dafael sama sekali tidak mempedulikan Cheravika.

Cheravika segera mengikuti Dafael dari belakang. Mereka berdua pun berjarak cukup jauh dari rumah Alice, hingga tidak terlihat lagi.

Di dalam kamar, Alice tampak tersadar dari mimpinya. Dilihatnya ada bekas lengkung dipinggir ranjang, jemarinya terulur dan merasakan hangat. Dia menyadari kalau Dafael tadi duduk di pinggir ranjang.

Alice segera beranjak dari ranjangnya dan keluar dari kamar. “Dafael!?” panggilnya.

Sama sekali tidak ada balasan.

“Mungkin dia sedang keluar,” pikirnya.

Sesaat kemudian Alice tersadar akan sesuatu. Dia merasakan seluruh pikiran dan tubuhnya terasa segar, dia tidak percaya kalau dia telah sembuh. Alice pun segera melompat sebanyak tiga kali.

“Aku telah sembuh!” teriak Alice dengan perasaan tidak percaya. “Dafael pasti akan terkejut kalau aku telah sembuh. Aku akan memasak masakan kesukaan Dafael,” gumam Alice. Dia pun berlari ke dapur dengan semangat.

Setelah satu jam lebih, masakan telah siap untuk disajikan. Alice meletakkan masakan yang dibuatnya di atas meja. Selama dia sakit, Dafael yang memasak untuknya.

Alice memundurkan kursi dan mendudukinya. Dengan sabar dia menunggu Dafael. Berharap Dafael akan datang dan terkejut melihat dirinya telah sembuh.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

43 Responses to Pohon Terlarang

  1. franci says:

    Ah ada cerita romantis jg. hahaha.
    Ummmm crita ini cm pendahuluan sebuah novel? Krn kisahnya kepotong, gk bs byk komen.

    • Jacques Devosy says:

      Cerita ini sebenarnya bukan bagian dari novel. Tapi ada kepikiran mau mengangkatnya ke dalam novel.
      Makasih sudah menyempatkan diri untuk membaca.

  2. Desire Purify Loki says:

    Saya yakin bagus. Kenapa tidak dilanjutkan? Ini ibarat kopas sekali jadi, Mister. Ada yg mau kopi Luwak ga? *haruuuuuum*
    Oh tidak, pasti ga enak. Abis, cerobong dan cerutu Kuba aja ga ada yang ngalahin baunya. Villam, Klaudiani, Magdalena dan Dini, bagaimana ini???!

  3. Oh, okay. Klo gitu, nyeduh green tea oke kan? Aku punya lemon kok, biar antioksidannya tambah banyak. Hm maaf ya klo selama ini aku sotoy. Gmn kabarnya semuanya? Novelku udh nyaris seujung kuku nih, barangkali karena doa semua anggota kastil jg kali ya?

    Btw, aku liat spectre, peri bersayap kaca, dan roh2 kecil yang blom asup surga lho. Kapten kucing, Opsir Panda, dan Admin pa kbr?

    *Aku paing takut Balthazaar lho. Please deh, jangan melotot gitu, emang aku Putri Indonesia, apa?*

    :P

  4. Jacques Devosy says:

    Kok malah ngomongin kopi Luwak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>