Satu Langit

SATU LANGIT

Rastya

Pangeran terkutuk!

Seorang pemuda yang tampak seperti usia pertengahan dua puluh tahunberdiri tegak di tengah padang rumput. Tubuhnya yang tinggi dan tegap dibalut pakaian tembur dari baja yang kilaunya sudah pudar, sebuah tombak berkampak tergenggam erat di tangan kanannya, dan sebuah ikat kepala biru membentang di antara rambut hitamnya yang tidak teratur dan matanya yang menatap kosong rerumputan.

Kau tidak pantas!

Kembali terngiang kata-kata yang dahulu sering didengarnya.Pemuda itu menarik napas dalam dan memejamkan mata.Kekalahan demi kekalahan yang mereka alami, jatuhnya ibukota, gugurnya mediangayah dan ibunya, dan pembelotan sebagian besar bangsawan, semua kejadian itu kembali tergambar dengan jelas di ingatannya.Sedikit terbesit di benaknya kalau mungkin kata-kata yang sering disematkan pada dirinya itu adalah kenyataan.

“Yang Mulia Riechart.”

Pemuda itu membuka matanya begitu terdengar nama yang sudah turun temurun melekat pada keluarganya dipanggil. Dia berbalik dan tampaklah di matanya seorang pria separuh baya dengan pakaian tempur dari baja yang tampak berat sedang berlutut sebagai tanda penghormatan.

“Ada apa Hreiss Alphonse?” tanya pemuda itu pada Alphonse, seorang komandan pasukan kavaleri dengan gelar Hreiss. Gelar tertinggi untuk bangsawan di negeri Fridalian, gelar yang hanya beberapa diberikan pada orang-orang tertentu terutama mereka yang sangat setia pada raja-raja garis keturunan Riechart.

“Seperti yang sudah kita perkirakan, pasukan aliansi sudah sampai di tempat ini,” jawab Alphonse dengan sigap, walaupun usianya jauh lebih tua dari sang raja namun dia tampak masih sanggup menanggung beban yang sama beratnya bahkan mungkin lebih berat dari sang raja. “Raja Lundgrend, pemimpin aliansi, bersama dengan pasukan kavalerinya bergerak dari arah utara.Sementara itu Baron Gridner dan pasukan templarnya mempimpin serangan yang datang dari arah barat laut….”

“Alphonse,” sela sang Raja. “Apa ini akan berhasil?”

Alphonse terdiam sejenak, raut wajahnya berubah dan menandakan kekhawatiran, “Yang Mulia, apa anda yakin dengan semua ini?”

“Tidak.” Jawab sang Raja tenang.

“Lalu?”Tanya Alphonse penuh kekhawatiran.“Yang Mulia… kita bisa menghindari ini, mengapa Yang Mulia tidak menunggu saat yang lebih tepat?”

Sang Raja hanya tersenyum dan dia menjawab, “jangan biarkan rakyat tanah ini menderita lebih lama lagi.”Sang Raja menarik napas dalam sebelum berbalik dan melanjutkan. “Mungkin ini terdengar bodoh, tapi kalau ada kesempatan untuk mengakhirinya, lebih baik diakhiri secepat mungkin.Biar saja aku yang menanggung semua beban ini.”

“Yang Mulia..”Alphonse menjawab dengan lirih. “….anda tidak sendiri,” lanjutnya mantap sambil menegakkan tubuhnya.

“Terimakasih… Hreiss Alphonse.”

“Yang Mulia Heinze!” kata seorang gadis muda berambut pirang dengan cara bicaranya yang canggung. “Eh maksudku, Yang Mulia Riechart!Leona datang melapor!” lanjutnya canggung sambil berlutut, seolah dia baru sadar kalau dia seharusnya berlutut di hadapan rajanya.Tampak jelas punggunya memanggul sebuah busur besar, selain itu pakaian tempurnya yang tidak sepenuhnya terbuat dari lempeng logam juga tampak lebih ringan daripada pakaian tempur yang dipakai Heinze, Sang Raja.

“Bangunlah Leona, ada apa?” tanya Heinze sambil tersenyum.

“Pasukan aliansi juga terlihat bergerak dari arah timur, ” Jawab Leona sigap sambil berdiri tegak.

“Baiklah, saatnyabergerak,” kata Heinze cepat.

“Yang mulia…” kata Leona resah. “Lady Hayln… maksudku Lady Claine tampak tengah memimpin sepasukan legiuner.Apa anda yakin dengan semua ini?”

Heinze tersenyum pada Leona, gadis yang sedikit lebih muda darinya itu, dan menjawab, “Terimakasih sudah mengkhawatirkanku Leona, tapi semuanya akan baik-baik saja.”

“Kalau begitu,” sahut Leona sigap sambil meletakkan kepalan tangan kanannya di bahu kirinya.“Leona dan divisi pemanah elit selalu siap menjaga dan melindungi Yang Mulia.”

“Dan kami, kavaleri Hilodan, siap mengorbankan hidup kami demi Yang Mulia Riechart dan rakyat Fridalian!”Sambung Alphonse cepat seolah tidak mau kalah dari yang muda.“Dan saya yakin, begitu pula dengan yang lainnya yang ikut bertempur di tanah ini sekarang,” lanjut Alphonse lebih tenang.

Heinze tertegun mendengar kata-kata kedua punggawanya itu.Dia menutup matanya dan mulai terkekeh.Menertawai kebodohan dirinya yang selama ini selalu melihat ke dalam rasa sakit, mengiring pengkhianatan dan sebutan kutukan yang sering terlintas di ingatannya.Entah mengapa dia lupa, kalau selama ini dia memang tidak pernah sendiri.Orang-orang ini, para punggawanya, selalu setia menemani dirinya dan mengiring idealisme yang selalu garis keturunannya selama seabad lebih.

“Terimakasih,” kata Sang Raja tenang.“Terimakasih, selama ini kalian selalu setia bersamaku. Tapi kini saatnya aku melindungi kalian… Masa depan kalian semua,” lanjutnya tenang sembari berbalik ke utara yang segera diikuti seruan setuju dari kedua punggawanya itu. Heinze kemudian berjalan menuju Strider, kuda tunggangannya, menunggangi kudanya dan berbalik ke arah divisi tombak benderang-nya.Tanpa diperintah, mereka meletakkan kepalan tangan kanan mereka di bahu kiri penuh hormat, semangat dan keyakinan yang tersirat di mata mereka pun semakin membara.

Heinze pun membalas singkat penghormatan mereka dan kembali berbalik ke arah utara di mana nun jauh di sanasang pemimpin aliansi sedang bergerak ke arahnya. Sesaat kemudian dia melirik tombak berkampaknya, sang raja pun terhenti saat menyadari sebuah jimat berbentuk kristal yang diikatkan di di dekat mata kampak pada tombaknya.

Terimakasih, walaupun mereka mengatakan yang mulia terkutuk, tapi kami merasakan Yang Mulia adalah anugerah untuk tanah ini.

Heinze kembali tertegun mengingat kata-kata seorang petani yang dijumpainya kemarin.Wajah petani itu tampak bahagia walau kekhawatiran masih tersirat di wajahnya, yang masih menjadi pertanyaan di hati Heinze sampai pada saat petani itu memberikan sebuah jimat kepada dirinya.

Semoga Yang Mulia selalu dilindungi Sang Tunggal, itulah doa kami.

Heinze membuka ikatan jimat itu dan mengalungkannya di lehernya sendiri. Pikirnya, sungguh tidak pantas sebuah doa dan harapan tulus dari rakyatnya harus dinodai darah. Walaupun banyak yang meninggalkanya pergi, teman masa kecil bahkan kekasih, tetapi sinar mentari hari itu seolah membuka pintu mata hatinya bahwa masih banyak yang bersama dirinya.Lebih banyak lagi yang mulai mengerti impiannya, impian leluhurnya, impian Raja Lochads Riechart.Seiring dengan angin timur yang berhembus tenang, ingatan Heinze seolah dibuka.Kini semua kenangan penuh tantangan itu kembali terbuka dan betapa sesungguhnya dirinya tidak pernah sendiri.Tanpa terasa bibirnya membentuk sebuah senyum, sesuatu yang lembab membasahi pinggir mata dan pipinya.Dia pun merasakan perhelatan aneh di pusat dadanya. Perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya, seolah hatinya lupa akan arti perasaan yang bercampur aduk di dadanya ini.Mungkin inilah namanya kebahagiaan.

Heinze mengusap mata dan pipinya yang mulai basah.Dia menarik napas dalam dan menarik sangkakalanya.Setelah itu Heinze memberikan isyarat pada divisitombak benderang yang berada di bawah komandonya untuk ikut bergerak dan segera meniup sangkakala pertempuran yang membahana ke seluruh penjuru tanah pinggiran Keltran yang akan segera menjadi tempat penentuan.Sekaranglah saatnya menentukan akhir dari perhelatan panjang.Saat untuk berjuang sampai titik penghabisan.Dan yang lebih penting, saat untuk melindungi impian leluhurnya, impian para punggawanya, impian dirinya, dan terutama impian rakyat Fridalian.

Dengan mantap, Heinze dan divisinya bergerak ke arah utara sementara divisi-divisi lain yang berada di bawah komando para punggawanya bergerak ke timur dan barat. Di ufuk utara sana terderngar sahutan sangkakala menyebar memenuhi angkasa. Raungan sangkakala itu bagaikan auman singa terluka yang terdengar penuh ancaman.Tidak salah lagi, itu adalah suara sangkakala milik Raja Joshua Vonsteilh Lundgrend, Raja Fronala, pemimpin aliansi Cryssalt.Aliansi yang dibentuk untuk menahan invasi yang dahulu dimulai oleh Raja Lochads Riechart.

Tidak lama kemudian pekikan prajurit dan darah mulai membasahi tanah lapang itu dengan pertempuran antara pasukan aliansi dan pasukan Fridalian di bagian timur dan barat medan pertempuran. Sementara Heinze dan divisinya bergerak dengan cepat langsung ke jantung pertahanan lawannya, tepat ke arah Joshua.

“Yang Mulia!” Seru seorang kapten di divisinya sembari menunjuk arah barat laut di mana sebuah asap pucat terbentuk. “Sinyal dari Jendral Vahn!”

“Siapkan meriam!”Seru Heinze kepada divisinya, sembari memeriksa arah yang dimaksud dengan teropong dan kemudian membuka kompas.“Arahkan empat puluh derajat ke timur, kemiringan empat puluh lima derajat!”

Dengan sigap pasukannya mengikuti perintah Heinze dan bersiap menembakkan meriam sesuai arahan. Divisi tombak benderang Heinze memang dipersenjatai dengan meriam yang mampu memberikan hantaman keras pada musuh-musuhnya, ditambah lagi dengan kejeniusan Heinze mengatur tembakan meriam yang membuat divisinya semakin ditakuti.

“Tembak!” Seru Heinze yang langsung diikuti suara-suara keras tanda dilepaskannya tembakan dari meriam-meriam Fridalian.“Pindahkan lima puluh derajat arah timur, kemiringan empat puluh lima!”Seru Heinze kembali mengkomandokan pasukannya untuk bersiap menembak.“Tembak!”Perintah Heinze pada divisinya yang lansung disahut raungan meriam-meriam yang memuntahkan peluru-peluru besi angkasa di timur laut.Heinze terus memerintahkan pasukannya untuk menembak sampai tiga tembakan beruntun sebelum kembali bergerak ke arah utara.

“Pasukan Lady Claine datang dari arah barat laut!” seru kapten lainnya setelah mereka bergerak cukup jauh ke utara.

“Bersiap melancarkan hantaman beruntun!arahkan meriam tiga puluh derajat ke barat, ketinggian delapan derajat!” Perintah Heinze kepada divisinya yang langsung diikuti seruan tanda setuju dari mereka.Heinze menoleh ke arah datangnya pasukan Hayln.Pasukan bertipe legiuner yang dipersenjatai tombak dan perisai besar untuk menangkis serangan pasukan panah. Seperti dugaan Heinze, apapun yang terjadi Hayln pasti akan berusaha menghentikannya.

Beberapa saat kemudian, Heinze bergerak maju bersama Strider menuju Hayln namun langkah Strider terhenti saat para kapten divisinya memanggil Heinze.“Tetap ikuti rencana! Aku akan baik-baik saja!Tunggu sinyalku dan lancarkan tembakan beruntun!” seru Heinze kepada divisinya sebelum dia kembali berpacu menuju pasukan legiuner yang semakin dekat. Tidak lama kemudian, matanya menjumpai Hayln yang bergerak di depan dilengkapi tombak namun tanpa perisai, tampak jelas baju tempurnya yang masih melambangkan tipe baju tempur divisi lembing khas negeri Fridalian.

“Heinze!Hentikan ini semua!”Seru Hayln sembari bergerak semakin cepat meninggalkan pasukannya sendiri.Heinze mengacuhkan kata-kata Hayln dan terus memacu Strider lebih cepat, tangannya bersiap menebaskan tombak berkampaknya.

“Heinze!” seru Hayln lagi sembari berlari mempersiapkan tombaknya, jendral perempuan itu pun menancapkan tombaknya ke tanah dan menggunakan kelenturan tombaknya untuk melemparkan tubuhnya ke udara.“Berhenti!” pekik Hayln sembari bersiap menebaskan pangkal tombaknya.

Namun sebelum Hayln berhasil mencapainya, Heinze dengan sigap menghantamkan punggung tombaknyadan menghempaskan tubuh Hayln sejauh-jauhnya. Heinze terus melaju ke arah legiuner di hadapannya walaupun hatinya terasa seperti ditusuk sembilu menghadapi kenyataan apa yang baru saja dilakukannya. Dengan sigap dia berputar tepat dihadapan pasukan legiuner yang langsung mengerjarnya, memang siapapun tidak akan melewatkan kesempatan untuk menangkap pion tertinggi di pasukan musuhnya. Dia pun segera meniup sangkakalanya sesaat kemudian yang langsung disambut raungan meriam-meriam Fridalian.Ratusan bola besi kecil beterbangan di atas kepala Heinze dan menghantam divisi yang berusaha mengejarnya. Pekik kesakitan membahana di belakang Heinze saat seluruh divisi itu dimusnahkan hujan metal tanpa ampun.

Heinze kembali ke divisinya dan segera memerintahkan mereka untuk berhenti menembak saat yakin seluruh divisi legiuner yang akan menghadangnya itu telah musnah. Para legiuner memang hebat dalam menghadapi serangan panah, namun mereka tetap tidak berdaya menghadapi berondongan meriam, terutama dengan modifikasi pada peluru meriam yang menyebabkannya pecah menjadi hujan logam.Tanpa menunggu waktu, Heinze memerintahkan pasukannya untuk terus bergerak ke utara.Sesaat kemudian dia menjumpai sesosok perempuan dengan pakaian tempur khas pasukan lembing negeri Fridalian berdiri menatap rerumputan dengan tatapan kosong, tangan kanannya memegang perut bagian kirinya.  Namun Heinze dan divisinya bergerak melewati perempuan itu tanpa sepatah kata pun.

“Mengapa?Kau membiarkanku hidup?”

Heinze berhenti saat kata-kata sedih Hayln menyeruak di antara kesunyian dan menyapa telinganya. Dia memberikan isyarat pada pasukannya untuk terus bergerak sebelum menjawab Hayln, “jangan tanya, aku juga tidak tahu mengapa.”

“Heinze…….,” kata Hayln lirih.“…..maaf.”

Heinze terdiam sesaat, ini memang pertama kalinya dia berhadapan dengan Hayln di medan tempur setelah pengkhianatan yang dilakukan Baron Grisan Claine, ayah angkat Hayln, dan bangsawan-bangsawan lainnya dengan berpindah ke kubu aliansi.

“Tapi… maukah kau menghentikan semua ini?” tanya Hayln menyambung kata-katanya. “Kalau kau mau menghentikannya, Raja Lundgrend…… dia pasti mau mendengarmu.”

“Namun tidak dengan yang lainnya,” jawab Heinze mantap. “Semuanya harus..”

“Jangan mati…” kata Hayln lirih memotong kata-kata Heinze.

Heinze menghela napasnya dan menjawab, “aku tidak berencana mati.”

Heinze kembali memimpin divisinya dan pasukannya bergerak lebih jauh ke utara secepat yang mereka bisa, sebelum ada lagi divisi yang mampu membelah barikade pasukan di barat dan timur dan itu bisa berarti rencana mereka untuk konfrontasi langsung dengan Joshua akan hancur. Semakin jauh mereka bergerak ke utara, di tanah lapang itu terasa getaran-getaran yang sedikit demi sedikit semakin kuat.Heinze tidak merasakannya dengan jelas, tapi dia bisa tahu dari kegelisahan pergerakan Strider yang tampak semakin gelisah.Dengan sigap dia memberikan tanda untuk berhenti dan memberi perintah, “bersiap melancarkan ‘gerbang pelontar’!”

Dengan sigap divisi tombak benderang itu bergerak dengan teratur menyiapkan formasi yang diperintahkan Heinze, sementara getaran-getaran yang menyalur di tanah terasa semakit kuat.Tanah itu berguncang hebat seolah diamuk bumi.Namun, berbeda dengan amukan ibu pertiwi, guncangan itu begitu seragam seolah pergerakannya diatur tangan tak terlihat yang elegan. Beriringan dengan guncangan itu, gemuruh derap langkah menebar teror dari ufuk biru langit utara. Pertanda datangnya pasukan kavaleri Raja Joshua.

“Bersiap!”Seru Heinze mengacungkan tombak berkampaknya ke udara, matanya menatap tajam ke utara di mana pasukan kesatria berkuda tampak bergerak cepat, tampak mereka menggenggam erat lembing di tangan mereka dengan mantap.Begitu jarak mereka tidak terlalu jauh, pasukan itu mendadak berhenti.

“SEKARANG!”Heinze memekik keras saat para kesatria berkuda itu melemparkan lembing mereka bersamaan dengan berhentinya pergerakan kuda mereka.Dengan sigap, Heinze dan divisinya bergerak mundur ke sayap belakang menghindari hujan lembing yang melayang bagaikan gerombolan tawon di angkasa.

“TEMBAK!”Seru Heinze saat formasi pasukannya membuka jalur tengah dan membuka tabir formasi yang menghalangi posisi meriam dan para kesatria berkuda. Meriam-meriam itupun meraung bagai guntur memecah langit menjawab komando Heinze saat para pengendalinya dengan sigap menancapkan bara api ke sumbunya. Dalam waktu yang singkat itu, langit berubah layaknya badai.Badai yang dihujani pecahan-pecahan lembing dan kerikil besi.

Begitu badai itu berakhir, bumi kembali berguncang saat para kesatria besi yang sebagian besar masi selamat dari serangan meriam berpacu dengan cepat menuju para kesatria bertombak benderang. Meriam-meriam Frieadalan pun kembali meraung memuntahkan bola-bola besi ke arah para penunggang yang berpacu seolah tidak mengenal takut.

“Tinggalkan meriam!Bersiap menghadapai hantaman!”Perintah Heinze kepada pasukannya yang lansung meninggalkan meriam-meriam mereka dan memasang formasi mengitari Heinze dengan tombak-tombak benderang mereka menghunus ke arah luar.Sesaat kemudian pekik pertarungan membahana di sekitar Heinze saat para kesatria berkuda itu menghantam para kesatria berkampak benderang.Pertarungan pun terjadi diiringi dengan jatuhnya korban di kedua belah pihak. Dan kedua Raja dengan segenap kekuatan mereka menghantam satu sama lain, namun tidak ada satupun yang ambruk karena masing –masing masih berpegang teguh pada idealitas mereka.

“Berhenti Heinze! Menyerahlah! Bersatu di bawah aliansi!” kata Joshua, seorang laki-laki dewasa bermata biru berambut cokelat dengan pakaian tempur berat yang berkilau mirip seperti milik Alphonse, dengan napasnya yang terengah-engah.

“Dan bergabung bersama dengan orang-orang busuk itu?” balas Heinze sinis. “Apa kau buta Joshua? Kau pun korban mereka.”

“Aku akan mengubahnya dan membawa kedamaian,” balas Joshua mantap.“Tapi sebelum itu, kami harus mengalahkan ancaman dari luar, atau mengubah pemikiran mereka.”

“BUKTIKAN!” seru Heinze memacu Strider ke arah Joshua, memutar tombak berkampaknya untuk serangan terakhir.

“PASTI!” balas Joshua memacu kuda putihnya ke arah Heinze, dengan tombak terhunus.

“KLANG!BRUK!”

Dalam satu hantaman terakhir itu, tubuh Heinze terhantam keras oleh tombak Joshua dan sang raja muda pun terjatuh dari Strider. Menyadari lawannya telah ambruk Joshua berbalik dan bergerak mendekati tubuh Heinze yang dibaluri darah.Matanya membelalak tidak mempercayai pemandangan di hadapannya, kepalanya seolah menolak kenyataan bahwa tubuh raja Fridalian itu sudah tidak bergerak lagi.Tangannya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang, dia segera mengambil sangkakalanya dan meniupnya keras.Sebuah tanda bahwa dia telah mengalahkan Heinze.

Seluruh langit seolah berguncang saat seluruh pasukannya berteriak riuh gembira menyambut kemenangan Joshua, ditemani pekik panik para kesatria bertombak benderang.

“Biarkan mereka pergi,” perintah Joshua pada para kesatria berkudanya.Dia merasa tidak ada baiknya mengejar mereka yang sudah kalah.Namun dia merasa heran, seperti ada sesuatu yang hilang di sini.Joshua kembali melirik tubuh tidak bergerak Heinze.Terbesit sedikit kesedihan di hatinya saat melihat akhir seorang raja yang menjunjung tinggi idealitas untuk perdamaian dengan memayungi seluruh tanah Gurdan di bawah satu panji, di bawah satu langit.

“DOR! KLANG! BRUK!”

Terdengar suara senapan menembak dan robohnya seorang kesatria di dekat Joshua, dia dan kudanya ambruk dan menghantam Joshua dan kudanya, menyebabkan sang raja jatuh tersungkur ke tanah. Suara itu disambung dengan rentetan tembakan lainnya yang menjatuhkan para kesatria berkuda itu di tengah kepanikan mereka berusaha melindungi raja mereka dari berondongan tembakan.Berondongan peluru itu baru berakhir saat kesatria terakhir ambruk.

Joshua bangkit di antara pasukannya yang tewas dengan terkejut, dia melihat di hadapannya berdiri Baron Grisan Clyne dengan senyum sinis, dan agak jauh di belakanganya berdiri sebuah divisi penembak menodongkan senapan mereka ke arah Joshua.

“Selamat Joshua,” senyum Grisan licik. “Terimakasih telah membunuh anak terkutuk itu dan menyatukan tanah ini untukku.”

“Baron Grisan, kau…” Joshua menggeram penuh kekesalan ternyata benar di bawah alansi Crissant masih banyak bangaswan busuk yang licik.

“Ada kata-kata terakhir?” Grisan tersenyum lick dan menghunuskan pedangnya ke jantung Joshua.

“Crak!”

“Mustahil!”Baron Grisan membelalak melihat mayat yang berdiri di hadapannya.

“Heinze!” pekik Joshua terkejut melihat Heinze yang berlumuran darah mendadak berdiri di antara dirinya dan Grisan, menerima tusukan pedang Grisan dengan bahu kanannya.

“Memisahkan seorang raja dan calon ratunya sudah cukup buruk, apalagi mencoba membunuh seorang Raja Pahlawan,” Heinze tersenyum sinis dan menatap tajam mata Grisan.

“Pa-pasukan,Te-tembak!”
“UAGH!”

Baru saja Grisan memerintahkan divisinya untuk menembak, pekik kesakitan terdengar dari arah para penembak itu saat langit ditutupi ratusan panah yang menghujani mereka tanpa ampun. Tanpa menunggu waktu, Heinze menendang jatuh Grisan dan mennghantamkan pangkal tombaknya  ke kepala Grisan yang langsung membuatnya pingsan.

“He-Heinze… kau..”Joshua menatap Heinze seolah tidak percaya.

“Raja Pahlawan, kau terlalu silau akan sinarmu sendiri,” kata Heinze terengah-engah.“Kau buta akan ketidakberdayaanmu menghentikan orang-orang seperti ini.”

“Aku kalah,” kata Joshua lirih.“Kau bisa membunuhku sekarang.”

“Astaga, apa Raja Fridalian ini tampak sejahat itu?” tanya Heinze terkekeh sambil mendudukan tubuhnya di rerumputan. “Aku tidak berniat membunuhmu, bagaimana kalau kita berteman saja?”

“Apa?”Joshua membelalak dengan terheran, dia tidak percaya kata-kata itu terucap dari Raja Fridalian.Tapi setelah melihat senyum di wajah Heinze, dia seolah mengerti tindakan raja muda itu. “Tapi itu akan menghalangi mimpi satu langit-mu kan, itu juga melanggar mimpi leluhurmu Raja Lochads Riechart,” lanjut Joshua sembari melangkah ke Heinze menyodorkan tangannya.

Heinze terkekeh namun tawa terhenti rasa sakit di luka-lukanya.Dia meraih tangan Joshua dan berkata, “apa arti sebuah idealism jika dia membawa penderitaan, selama kita menjaga hubungan dan berusaha saling mengerti entah itu di bawah sebuah aliansi atau di bawah sebuah panji, aku yakin semuanya akan jadi baik-baik saja.Selama tanah ini terus damai, impian Raja Lochads Riechart telah tercapai.”

“Dan aku tetap menang,” lanjut Heinze tersenyum saat Joshua memapahnya.“Karena kita semua akan damai di bawah satu langit yang bernama ‘pengertian’.”

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Satu Langit

  1. Ah, andai pengertian dan perdamaian bisa didapat semudah itu. Coba baca cerpenku di Fantasy Fiesta 2010, “Pedang dan Kapak” dan perhatikan komentar2 di sana, kamu akan paham maksudnya. Belajarlah dr pengalaman saya itu.
    Btw, ini cerita epik dan medieval, mungkin masuk seperti zaman Napoleon. Bila sepanjang perang dan tarung banyak penggunaan sihir atau senjata2 dewa, saya mungkin akan mengklasifikasikan ini dalam genre fantasi.

  2. Rastya says:

    Wah terimakasih banyak ats komentarnya. Iya terkadang kalau baca lagi saya merasa endingnya seperti mendadak damai >.<

  3. Ivon says:

    …aku ingat game Brigandine klo membaca ini, hehehe…

    …uh… maaf. aku sudah tiga kali membaca cerpen ini, tapi gambaran peperangannya tidak sampai ke dalam kepalaku…

    btw, menurut ak sih… raja boleh2 saja merasa sedih… tapi kurasa kesedihannya itu bukan sesuatu yang boleh terlihat oleh pasukannya. gimana yah… kan pasukannya dalam peperangan, dan sudah pasti punya kemungkinan tewas kapan saja… jadi aku rasa, kalau mereka melihat raja mereka terharu begitu… moral mereka bisa runtuh seketika, hahahah ^^;;;

  4. Pingback: Daftar Cerita di Fantasy Fiesta 2011 « Konudrakka's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>