Tujuh Stráž

Tujuh Stráž

Selvi Beriane

Prolog

Kata mereka, bila kau mendapatkan mimpi yang terus berulang, hal itu akan menjadi sebuah petunjuk tentang siapa dirimu sebenarnya. Aku sudah mengalami mimpi ini berulang-ulang kali. Sang Elder berdiri ditengah ruang putih, menatap kearahku. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak terlalu jelas. Setelah itu, seseorang akan muncul dari belakang tubuh Sang Elder, seolah-olah orang itu memang bersembunyi di sana selama ini. Tudungnya yang putih menghalangiku untuk melihat dengan jelas garis wajahnya. Rambutnya hitam dan senyumnya ramah. Lekuk tubuhnya memancarkan aura pria dewasa yang bijak—seperti sebagian besar Elder. Kurasakan sentuhan lembut pada tangan kiriku. Mengalihkan pandangan, kutemukan seekor serigala keabuan—yang seakan ingin bersamaku selamanya—makin mendekatkan dirinya kepadaku. Kubelai bulunya yang halus itu. Mataku menangkap simbol vítr yang berada di pundak kanannya. Iris biru mudanya menatapku sejenak, membuatku larut dalamnya.

Aku terbangun dengan perasaan terkejut. Bulir-bulir keringat dingin mengalir pelan di pipiku. Kuedarkan pandangan sejenak, mencari sesosok serigala yang setia menemaniku. Serigala itu masih berbaring di samping kanan tempat tidurku. Dengan usaha maksimal seorang anak berumur lima tahun, aku mencoba menggapai bulu keabuan itu untuk membelai kepalanya. Tak lama, kepala itu naik meraih tanganku sehingga aku bisa mengelusnya. “Selamat pagi, Flix!” kataku ceria. Ia hanya tersenyum kepadaku saat aku turun dari tempat tidur tinggiku.

Berdasarkan cerita Mom, dunia ada banyak jumlahnya. Tersusun dari dunia kecil sampai dunia inti yang tersebar ke seluruh penjuru galaksi. Setiap dunia memiliki kehidupan, keunikan, dan permasalahannya masing-masing. Tetapi, seluruh dunia itu saling terhubung dengan satu portal yang tersembunyi di masing-masing dunia. Hanya Elder yang mengetahui dan bisa membuka portal tersebut. Sedang bagi warga biasa, yang bukan merupakan Elder, hanya bisa melewati dunia dengan menaiki kereta antar galaksi. Kereta itu bisa melewati berbagai dunia tanpa menggunakan portal. Delapan dunia dianggap sebagai pusat. Tujuh dunia sebagai wakil dari ketujuh elemen alam dan satu dunia sebagai pelindung dari seluruh dunia yang ada. Ketujuh elemen itu adalah vítr—angin, požár—api, zem?—tanah, elekt?ina—listrik, voda—air, led—es, dan tma—kegelapan. Sang penjaga—atau biasa disebut stráž—mewakili elemen-elemen tersebut. Mereka bisa memerintahkan, berbicara, atau menggunakan elemen alam sesuka hati. Stráž adalah seseorang yang keberadaannya sangat diperlukan. Ialah yang mengembalikan sistem perlindungan dunia dengan kekuatannya.

Mom juga sering menceritakan sebuah kisah kepadaku. Kisah sederhana tentang penyelamatan seluruh dunia. Mengorbankan diri untuk melindungi dunia yang mulai bergejolak akibat pelindung yang dirusak. Walau diceritakan berulang-ulang, hati ini tidak pernah merasa bosan. Malah sebaliknya. Sangat mengebu-gebu saat mendengarkannya. Aku sering berlagak seperti salah satu dari ketujuh stráž yang bertarung melawan yang jahat. Kisah yang terkesan terlalu fantasy dan tak mungkin terjadi itu, telah terpahat di hati seluruh manusia juga partner mereka. Impian setiap orang, saat mereka kecil, adalah menjadi seorang stráž. Tetapi, stráž hanya bisa diketahui dari “simbol” yang ada pada tubuh partnernya. Tidak seorangpun tau, siapa dan dimana seorang stráž akan lahir.

Ada satu hal yang selalu membuatku penasaran. Partner. Kata Dad, kita tidak akan bisa hidup tanpa keberadaan partner. Bila partner kita lenyap atau meninggal, maka hal yang sama akan terjadi pada sang Tuan. Dulu—kata Mom—ada seorang bayi yang terlahir tanpa partner. Seminggu kemudian, bayi tersebut meninggal tanpa sebab. Elder Ruki—seorang Elder yang telah pensiun—menjelaskan bila tidak ada seorangpun yang bisa hidup tanpa partner. Partner seperti nyawa kedua bagi semua manusia. Bila mereka—manusia meninggal, sedangkan sang partner tetap bertahan, ada kemungkinan untuk menghidupkan kembali orang tersebut. Bila sang Tuan terpisah dari partnernya, tidak akan terjadi apa-apa selama partnernya masih bernafas. Seorang partner akan langsung lahir begitu sang Tuan lahir.

Aku beruntung memiliki seorang partner, walau aku bukan stráž. Tanpanya, aku tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Ia berkembang mengikuti perkembanganku. Serigala yang menjadi partnerku ini selalu mendahulukan kepentinganku. Ia bagaikan seekor peliharaan yang sangat setia. Mom dan Dad mempunyai partnernya sendiri. Seekor tupai merah dan seekor anjing jantan berbulu pirang pudar. Sebagai anak berumur lima tahun, aku sering tidak mengerti ucapan Mom dan Dad saat mereka terlarut dalam perbincangan. Hanya kata stráž, partner, dan Elder yang dimengerti olehku. Aku sering kali terdiam memerhatikan air muka mereka. Hal itu sudah cukup untukku. Lebih sepertinya.

Malam itu, aku bermimpi. Mimpi yang sangat aneh dan tidak biasa. Pada malam purnama tanggal 3 Juni, akan diadakan suatu ritual untuk menyegel partner milik stráž vítr. Aku tidak mengerti. Mereka semua berdiri di luar lingkaran besar yang bersinar menyilaukan. Mataku menangkap sosok  Flix yang mencoba berdiri dengan susah payah. Seperti beban besar juga berat ditaruh ke atas punggungnya. Aku meneriakkan namanya, tapi tak ada suara yang keluar. Tenggorokanku tercekat. Aku sulit bernafas. Badanku terasa sangat berat sekarang. Seorang Elder dengan tudung menutupi wajah dan jubah putihnya berjalan pelan mendekati Flix. Ia menjulurkan kedua tangan di atas Flix. Flix benar-benar terlihat kesakitan. Ingin rasanya aku bangkit dan berlari memeluknya. Saat—akhirnya—suaraku keluar, aku langsung berlari mendekatinya. Angin, berhembus dari berbagai arah, membantuku untuk bergerak. Angin itu membuat Sang Elder kehilangan keseimbangan dan terlontar keluar lingkaran. Sebelum tangan ini sempat menggapai Flix, seorang Elder lainnya menekan leher Flix dengan gerakan cepat. Aku langsung terhempas dan merasa sesak. Aku merasakan seluruh kesakitan Flix. Tak lama, pengelihatanku gelap dan aku terbangun dari tidurku.

Paginya, kuceritakan mimpi itu kepada Mom dan Dad. Setelah selesai bercerita, mereka memandang satu sama lain dan terlihat khawatir. Iris coklat muda Mom berkilat sedih, sedangkan iris violet tua Dad memancarkan ketidakpastian. Mom memelukku pelan dan membelai rambut keabuanku. Iris merah tuaku menatap Dad dengan pandangan bertanya. Sejak saat itu, mereka tidak pernah membahas mimpiku. Tetapi mimpi itu terus berulang sekarang. Aku lebih senang dengan mimpi sebelumnya daripada yang sekarang. Aku benar-benar merasakan cekikan itu. Benar-benar membuatku jengkel, bangun dengan wajah agak pucat karena kekurangan oksigen.

Berkat mimpi aneh itu, Mom dan Dad lebih sering membincangkan sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Bukannya aku tidak mau mengerti. Aku pernah mencobanya, tetapi sulit untukku mengerti. Umurku yang—kata Dad—masih terlalu muda tidak akan mengerti apapun dari perbincangan mereka. Pernah kutanyakan hal apa yang mereka bicarakan. Mom hanya tersenyum dan mengatakan “Bukan apa-apa, sayang…” atau “Bukan hal penting kok, sayang.” Aku ingin tau dan ingin mengerti. Perasaanku meluap tapi apa yang bisa kulakukan? Aku selalu memeluk tupai merah Tracis—partner Mom bila mereka memulai pembicaraan yang tak kumengerti. Flix terlalu besar untuk ditaruh di pangkuanku, begitu juga dengan Marx—partner Dad.

Seorang anak lelaki dan seekor serigala yang tingginya sama dengan sang anak, sebagai partnernya. Hal itu terkadang menjadi bahan ejekan bagi anak-anak seumurku. Anak yang lainnya tidak memiliki partner setinggi badan mereka. Aku tidak mengerti. Kami semua sama. Kami semua hidup. Kami semua memiliki partner! Tetapi… Tetapi… Mereka mengolok-olok, seakan akulah yang teraneh. Itu tidak adil! Karena perlakuan mereka, aku lebih suka menutup diriku, tak membiarkan siapapun masuk dan mengenal serta akrab denganku. Hanya Flix yang akan menemaniku. Aku tak keberatan walau hidup tanpa seorang teman. Asal Flix ada di dekatku, menemaniku. Semua akan baik-baik saja. Tidak kurang dan tidak lebih.

Suatu hari, saat sedang bermain di halaman belakang, aku menemukan suatu tanda yang aneh di pundak Flix. Kuperhatikan dengan seksama simbol itu. Aneh. Aku langsung bergegas mencari keberadaan Mom atau Dad. “Apa ini?” tanyaku pada Mom dari pintu ruang kerjanya.

“Ada apa sayang?” Mom membalikan kursinya menghadapku dan tersenyum hangat.

“Apa ini?” tanyaku seraya menunjuk pundak kanan Flix.

Mom tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaanku. Ia menghampiriku dan menyamakan tingginya denganku. “Apa maksudmu, sayang? Tentu saja dia Flix, partnermu. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Aku menggelengkan kepalaku, bersemangat. “Bukan, Mom! Bukan Flix! Tapi tanda yang ada di bahunya. Kenapa tanda itu ada di situ, Mom? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini.”

Mom memiringkan kepalanya sedikit. “Dimana, sayang?”

“Ini,” kuraba bulu keabuan serigala itu dan memperlihatkan tanda itu, “apa ini, Mom? Bagaimana tanda ini bisa ada di bahu Flix?”

“Sayang,” Mom memperhatikan 2 garis kebiruan—yang seperti bentuk angin—dan menggumamkan sesuatu sehingga aku tidak dapat mendengarnya, “ini disebut simbol vítr. Simbol yang merupakan penanda seorang stráž. Tapi… Kenapa baru muncul sekarang?”

“Ada apa, Mom? Apa yang Mom maksud?” Iris merah tuaku menatapnya kebingungan.

“Ah… Tidak apa-apa, sayang. Mungkin, simbol ini baru terlihat sekarang. Janji pada Mom kalau kau tidak akan memberitahu siapapun?”

Walau bingung, aku mengangguk setuju dan tersenyum padanya. “Aku janji, Mom!”

“Baiklah,” Mom berdiri, terlihat lebih bersemangat. “Sore nanti, mari kita buat kejutan pada Dad. Mari kita tanyakan padanya tanda apa itu. Setuju, sayang?”

“Un!”

Saat makan malam, kuceritakan pada Dad tentang tanda itu. Ekspresi yang diberikannya sama seperti Mom tadi siang. Tepat saat aku ingin membuka mulut menanyakan sesuatu, telepon berdering. Mom bangkit untuk mengangkatnya. Aku hanya bisa duduk diam—menguyah makanan dalam mulutku sambil memerhatikan air muka Mom. Apa? Ada apa? Batinku bertanya-tanya. Sekitar jam 11 malam, aku terbangun. Kuseret kakiku pelan menuju dapur untuk mengambil segelas air. Saat hampir memasuki ruang dapur, aku terhenti. Lampu dapur menyala, menandakan bahwa ada seseorang di sana. Kurapatkan tubuh kecilku ke tembok dan bersiap untuk mengangetkan mereka—yang kupercayai adalah Mom dan Dad.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Suara sedih Mom menghantam gendang telingaku dengan frekuensi normal. Aku mengurungkan niat dan berdiri tidak bergerak, mendengarkan percakapan mereka.

“Tenang saja… Pasti kita bisa melewatinya…” Dad terdengar yakin walau sepertinya tidak.

“Tapi mereka sudah mengatakannya! Dunia wakil vítr memerlukan Flix!” Deg! Kuraih kepala Flix dan memeluk lehernya. Apa? Ada apa?

“Kau harus merelakannya, Marcia. Kita lakukan ini untuk keseimbangan dunia itu…”

“Tapi bagaimana dengannya?! Aku tidak bisa melihatnya sendirian tanpa partner!”

“Marcia… Aku juga tidak bisa merelakannya. Tapi, dia pasti bisa melewatinya…”

“Dia masih begitu kecil, Danil! Dia baru berumur enam tahun besok!”

“Aku tau… Tapi kita harus melakukannya. Seorang stráž harus berada di dunia wakilnya untuk menciptakan keseimbangan pada dunia itu.”

“Tidak bisakah kita melakukan hal lain? Seperti pindah kesana?”

“Aku meragukan itu, Marcia… Ijin untuk pindah ke dunia lain sangat susah didapat.”

“Tapi untuk kehilangan seperti itu, sama saja akan menghancurkan dirinya!”

“Tidak… Aku yakin… Dia anak yang kuat, jangan lupakan itu. Dia pasti bisa melewatinya. Kita harus menyemangatinya selalu, Marcia…”

Aku langsung berlari menuju kamarku, diikuti Flix. Kututup pintu kamar tanpa suara. Kubuka jendela yang ada di sebelah kiri tempat tidurku, membiarkan angin malam yang dingin memasuki kamarku. Kubelai bulu keabuan Flix dan memandang simbol vítr, sibuk dengan pikiranku sendiri. Sejak menemukan simbol ini, angin seakan berbicara kepadaku. Seorang fairy dengan sayap biru pudar dan mata hitam akan ada didekatku saat angin berhembus membelai wajahku. Tetapi, tidak malam ini. Walau angin malam berhembus, aku tidak menemukan fairy itu dimanapun. “Apa? Ada apa?” bisikku kepada sang angin, mencoba memahami mereka.

Keesokan harinya, aku tidak terlalu bersemangat. Aku terus menerus sibuk dengan pikiranku. Aku tidak dapat mengingat mimpiku tadi malam. Tetapi, apa peduliku? Sekarang bukan saatnya memikirkan mimpi yang—kuharap—tidak akan terjadi. Malamnya, aku kembali bermimpi hal yang sama. Lingkarang itu. Flix. Para Elder yang berusaha menghalangiku untuk sampai ke tempat Flix. Aku terbangun tepat saat—di mimpi—aku terhempas ke tanah. Bulir keringat dingin membasahi keningku. Kuusap kening ini dan mendongak menatap jam yang terpasang di dinding tepat di depan tempat tidurku. Tengah malam. Jendelaku berderak seakan sesuatu mendorongnya dan mencoba memasuki ruangan. Kubuka jendela itu pelan. Angin langsung berhamburan masuk. Disela-sela hembusan angin, dapat kurasakan bisikan kecil di telingaku. Fairy itu ada di depanku, melayang dengan muka cemas. “Cepat,” katanya, “sebelum semuanya terlambat!”

Kutatap bola mata hitamnya dengan tatapan bingung. “Ada apa?”

“Mereka sedang mengadakan ritual untuk menyegel partnermu! Cepat! Kami tidak ingin berpisah dengamu!”

“Flix!” Aku berbalik menatap seluruh penjuru kamar, berharap menemukan sosoknya. Kugigit bibir bawahku, sadar aku tidak mungkin menemukannya saat ini dan kembali menatap sang fairy. “Tolong tunjukkan jalannya!” pintaku tergesa-gesa.

Aku mengintip dari pintu belakang yang sedikit terbuka. Kulihat enam orang dengan tudung dan jubah putih, Mom serta Dad yang terlihat cemas. Salah satu dari keenam orang itu menggendong seekor serigala keabuan yang tak sadarkan diri. Mataku terbelalak seketika. Flix kini dibaringkan di tengah-tengah diagram 3 lingkaran. Saat orang berjubah itu keluar dari lingkaran, lima orang lainnya bersiap di sisi lingkaran, membentuk pentago. Mereka terlihat merapalkan mantra secara serentak. Telingaku dapat mendengar bisik-bisikan yang terbawa angin. Kuperhatikan gerak-gerik mereka, mencoba menimbang kapan saat yang tepat aku harus keluar dan menyelamatkan Flix.

Tiga lingkaran itu bersinar dan membesar, hampir memenuhi halaman belakang kami yang terlihat luas. Kusadari bahwa semacam pelindung melapisi rumah, membuatnya berada di dimensi lain. Kuputuskan untuk bergerak, tetapi badanku terasa berat seketika. Kutopang badan ini dengan lutut dan kedua tanganku. Rasanya sesak. Fairy itu melayang panik. Ia manatapku khawatir dan selalu mendongak ke arah Flix untuk melihat keadaannya. Ia bingung apa yang akan dilakukannya. Dengan perasaan sesak, kuangkat badan ini, memaksa kakiku bergerak.

Aku keluar dari rumah tanpa ada seorangpun yang menyadari keberadaanku. Flix mulai membuka matanya perlahan. Iris biru mudanya langsung menangkap sosokku yang mengendap-gendap dengan susah payah. Kugelengkan kepala ini pelan dan membatin padanya. Angin berhembus pelan ke arah Flix dan membisikan pesanku. Ia bergerak pelan mencoba mengangkat tubuhnya yang berat. Sinar dari tiga lingkaran itu semakin terang. Aku ingat! Kejadian yang ada di depan mataku ini adalah mimpi yang selalu menghantuiku. Seorang Elder—yang menempatkan Flix—maju selangkah demi selangkah mendekati Flix. Tidak kuasa kutahan, akupun berteriak walau merasa lelah. “FLIX!!!” Semua orang berpaling terkejut kepadaku. Angin berhembus liar, membuyarkan konsentrasi mereka.

“Halangi anak itu!”

Terdengar teriakkan salah satu Elder di gendang telingaku. Dengan panik, kuterjang mereka—yang bergerak mencoba menangkapku. Keadaan langsung menjadi sangat kacau. Mereka tidak bisa menangkap seorang anak yang baru berumur enam tahun dengan badan mereka yang besar. Aku bergerak lincah melewati mereka dengan bantuan sang fairy dan para angin. Angin membuka jalan bagiku menuju tempat Flix, menghembuskan Elder yang mencoba tetap berkonsenterasi. Tepat saat tanganku hampir mencapai Flix yang berhasil berdiri, seorang Elder muda dengan cepat menekan leher Flix. Aku terhempas ke tanah saat itu juga. Aku berusaha merangkak dan mencakar rerumputan pendek didekatku. Sedikit lagi! Padahal sedikit lagi! Flix! Aku menggeliat kasar dan menatap Flix yang semakin merasa berat. “Lepaskan Flix!! Jauhkan tanganmu darinya!!” aku berteriak putus asa. Sang fairy langsung berhembus maju. Kilau lembut di matanya telah menghilang. Bola matanya menjadi hitam pekat. Ia merasakan kemarahanku. Seraya bergerak maju, angin membuka celahnya hanya untukku. Elder muda itu terhempas menabrak tembok halaman yang tinggi. Dengan sisa-sisa kekuatanku, kuangkat paksa badan ini dan berlari menghampiri Flix.

“OUTA!!!” Flix meneriakkan namaku.

Tepat setelah ia meneriakkan namaku, seseorang menangkap tanganku dan memelukku erat, tak berniat melepaskanku. “Lepaskan!! Lepaskan aku!!” Aku memberontak dengan sia-sia. Tenaga seorang anak kecil tidak bisa menyamai tenaga orang dewasa. Elder muda—yang terhempas tadi—bangkit perlahan dan langsung memanfaatkan situasi. Dia memukul tengkuk Flix dengan terengah-engah. Flix jatuh menimpa tanah begitu juga dengan diriku yang baru berhasil lolos dari pelukkan itu. Kesadaran Flix mempengaruhi kesadaranku. Ia mencoba untuk tetap sadar walau tak bisa bergerak. Angin membawa bisikan Flix sebelum ia tak sadarkan diri. Aku memandangnya kabur dengan mata berair. “Flix… Flix….” Tak kuasa kutahan mata beratku ini, aku merasa seluruh kekuatanku hilang saat itu juga. Mataku berat. Nafasku tidak teratur. Lama-kelamaan, semua gelap.

Kubuka mata ini dengan satu sektakan cepat. Kepalaku terasa pening dan berat. Kuraba mukaku sejenak, mengembalikan kesadaranku seutuhnya. Dimana ini? Kutatap sekeliling dan baru menyadari ruangan ini hanyalah kamarku. Aku menghela nafas lega. Sedetik kemudian, aku terlonjak kaget dan memandang penjuru kamar, mencari keberadaannya. Tunggu. Siapa yang kucari? Kepalaku kembali berdenyut. Perasaanku campur aduk. Aku tidak mengerti. Siapa, atau mungkin, apa yang kucari? Semakin keras aku mencoba untuk mengingat, semakin sakit kepala ini. Kuputuskan untuk turun dari kasur dan mencari Mom atau Dad. Tersentak oleh sesuatu yang menghantam jendela, aku menengadah menatap jendela berbingkai kayu mahoni itu. Kuarahkan kaki ini, perlahan, menuju jendela itu. Kacanya berderak pelan seperti memanggilku. Kuraih gagangnya dan membuka jendela itu dalam satu gerakan cepat, sambil menutup mataku. Hening. Tidak terjadi apa-apa. Aku membuka kelopak mata kiriku, disusul kelopak kanan beberapa detik kemudian. Terheran, aku membiarkan jendela itu terbuka dan melangkah keluar kamar.

Keheningan kembali menyapaku. Iris merah tuaku menyapu seluruh penjuru ruangan yang kusinggahi. Dimana? Pikiranku mencari keberadaan Mom dan Dad. Tetapi, badanku juga hati ini mencari sosok yang lain. Sosok berbulu yang familiar. Mungkinkah itu Marx? Bayangannya yang berkaki empat dan berbulu dengan iris biru muda. Aku tidak mengerti. Iris Marx berwarna violet pudar dan bulunya berwarna pirang pudar. Aku mencoba mengingat, tetapi sepertinya percuma. Aku terhuyung memengangi kepala. Tangan besar Dad menangkap tubuh kecilku. Bola matanya berkilat khawatir.

Beberapa hari kemudian, aku seperti melupakan bayangan itu. Sebagai gantinya, aku sering diolok-olok oleh anak seusiaku. Seorang anak yang berumur enam tahun tanpa seorang partner yang ada di sampingnya merupakan sebuah keanehan. Aku merasa, selama ini hanyalah mimpi. Hari-hariku bersama sang partner terkesan hanya impian belaka. Tetapi, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku mengingat sosok itu. Keyakinanku diperkuat saat aku menemukan foto keluarga yang terbengkalai sekitar 3 bulan yang lalu. Dad, Mom, dan aku—yang memeluk leher seekor serigala keabuan dengan iris biru muda. Saat mulai dewasa, aku semakin melupakan sosoknya. Hanya satu hal yang selalu berkecambuk dalam benakku. Kenapa?


 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2011 and tagged , , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Tujuh Stráž

  1. makkie says:

    mengamankan pertamanya dulu…

    baru baca :P

    • makkie says:

      hmmm,,,sama dengan cerita saia yang banyak istilah-istilah asing, dan ternyata memang benar memusingkan :p
      beberapa yang bikin saia binun ni…
      saia ngerasa adanya tidak konsisten pada “Elder”? hanya satu atau banyak..?? karena di awal saia menangkap kata “sang elder” sebagai satu2nya elder,,tapi ternyata ada “para elder”…menurut otak lola saia aja si..

      terus bagian “Umurku yang—kata Dad—masih terlalu muda tidak akan mengerti apapun dari perbincangan mereka.”
      lima tahun menurut saia “kecil” kurang cocok kalo “masih terlalu muda”.

      mengenai partner, saia jadi teringat dengan daemon dari trilogi His Dark Materials..dan jalan ceritanya juga jadi terlihat mirip dengan Golden Compass

      dan
      sapa itu Marx..?? tiba2 muncul begitu saja..
      dan ooohh,,Flix nya bisa bicara..?? manggil OUTA..tapi kenapa tidak sejak awal Flix dan Outa saling berbicara..?? jadi kerasa janggal..

      anyway,,ceritanya menarik…salam kenal Selvi

      • Selv says:

        maaf baru bales.. saya baru pulang soalny ^^’

        ahaha memang agak memusingkan. saya juga kadang lupa akan artinya ^^
        err.. satu-satu :)
        1. Tentang Elder, saya membuatnya banyak. Sang Elder di atas adalah seorang Elder (yang dalam mimpi Outa) yang paling tinggi kedudukannya. Penggunaan sang di sini saya arahkan hanya pada satu orang. Sebenarnya, Elder sendiri jumlahnya lebih dari satu.
        2. Maka dari itu. Terlalu muda saya gunakan karena, menurut pendapat pribadi, bisa mewakili kata kecil ini. Kata terlalu bisa memberikan pandangan bahwa-kasarnya-masih kecil atau benar-benar kecil. Saya berharap kata terlalu muda itu bisa mencerminkan kata kecil sehingga saya pakai.
        3. Memang. Banyak teman saya di Facebook mengatakan hal yang sama. Sebernarnya, saya mengambil ide cerita ini awalnya dari sebuah komik yang berjudul Lagoon Engine. Awalnya saya tidak ingat pada Golden Compass. Lalu saya gabungkan saja Lagoon Engine dan Golden Compass. Dari Golden Compass, partner yang menjadi nyawa kedua. Sedang dari Lagoon Engine, partner yang lahir saat Tuan lahir. Memang terlihat banyak komponen yang mirip. Tapi hasilnya akan berbeda.
        4. Telah ditulis dalam cerita bahwa Marx adalah nama partner dari Dad ^^
        5. Mengenai Flix, memang semua partner dapat berkomunikasi. Tetapi saya membuat sifat Flix sebagai seseorang yang hanya bicara bila perlu. Pendiam. Jadi tidak saya masukkan interaksinya dengan Outa.

        Thanks sudah baca ^^ salam kenal juga

  2. makkie says:

    oo iya..kelupaan…judul Tujuh Stráž nya ga begitu mengena dengan cerita..dan lagi2 ini menurut pendapat saia yang sotoy…

    • Selv says:

      The Seven Stráž adalah judul aslinya. (well.. diubah tanpa pemberitahuan ‘-’)
      Cerita ini hanya bagian prolog yang saya ikut sertakan. Jadi mungkin (bukan mungkin sih) judulnya kurang pas. Saya hanya mengikut sertakan bagian prolog dari cerita tersebut. Saat itu, saya sedang kekurangan ide, sehingga hanya terlintas ide prolog The Seven Stráž saja ^^’

      • klaudiani says:

        Tanpa pemberitahuan? Kamu yakin?

        from clickdian@gmail.com
        to Selvi Kohara
        cc Rd Villam
        date Thu, Jun 23, 2011 at 9:57 PM
        subject Re: Pendaftaran Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2011

        Dear Selvi,

        … (tidak ditampilkan)
        Silakan ganti judulnya dan informasikan kembali ke fantasyfiesta@kastilfantasi.com secepatnya. Terima kasih.

        Dian

        Coba cek emailmu sebelum membuat pernyataan ‘tanpa pemberitahuan’. Kamu tidak menjawab email.

        • Selv says:

          eh? saya sudah mengecek email saya. hm.. mungkin belum masuk.. sewaktu saya cek memang tidak ada email dari panitia..
          mohon maaf atas kesalahan saya..

  3. Kuning says:

    wow. prolognya Saga. menjawab bbrp teka-teki ttg Outa ni.
    btw, pas ptama kali baca “iris biru mudanya” saya kira tu smcam simbol ato apa, stlh bbrp paragraf baru nyadar lagi ngomongin warna mata. unik banget gaya bahasanya ^^
    lanjutin dong critanya di FB :D
    mampir di no. 38 ya

    • Selv says:

      are? Anda tau Saga?
      Iya. Ini hasil re-write prolog Saga yang lama. Teka-teki Outa terjawab mulai dari prolog.
      Haha maaf. Saya baru mempelajari gaya menulis seperti ini ^^
      Thanks ya. Di FB pasti dilanjutkan tapi setelah Pisen selesai :)
      Baik. Saya akan mampir ^^

  4. Meimei says:

    Hmmm, prolog yaaa….
    baguss,
    lanjutkan!! :)

  5. Little King Fachrul says:

    woah, ternyata bener2 ngirim prolog ya XD pantesan konfliknya terasa baru tumbuh dan bukannya selesai :P

    ada beberapa paragraf yang nampak terlalu padat, sampai lebih dari 10 baris. akan lebih bagus kalau paragraf model panjang begini dibatasi, IMO

    dan usul, yang lebih ke personal preference gw, kayaknya pendamping para Straz itu sebaiknya diberi sebutan yang lebih unik. bukan sekedar partner, gitu. yang simpel2 gitu memang bagus, tapi untuk kasus seperti ini…well, kayaknya akan lebih nendang kalau mereka memiliki julukan yang lebih unik.

    btw, kalau ada waktu, silahkan berkunjung ke 29 :D

  6. FA Purawan says:

    Aduh, itu loh tanda-tanda apa namanya? Yang nggak standar dan bikin capek yang nulis maupun yang baca :(

    What for? Nggak nambah ataupun ngurangin excitement dari cerita yang udah kamu rangkai.

    Sebenernya aku ngelihat dunianya cukup menarik. Bukan bumi, tetapi merupakan sebuah alternate universe yang seolah menjadi ‘pusat’ semua universe lain, berkat pengetahuan mereka akan adanya universe lain dan cara-cara untuk memelihara satu sama lainnya.

    Makanya dalam setting ini, sayang banget kamu menggunakan setting Mom and Dad just like plain american homes. Gue malah melihat kesempatan untuk memposisikan kultur di universe ini lebih ‘tinggi’ dari Bumi, mungkin mirip kultur dewa-dewa alam mitologi, yang disederhanakan. Maka panggil bapak/ ibunya bisa dengan sebutan lain, dan property barang, rumah, pakaian, bahkan tingkat usia (lima tahun berasa setengah dewasa) jadi bisa beda dengan kehidupan lazim.

    Konsep Partner, mestinya gak cuma terlihat nyamain Daemon nya His Dark Materials doang, tapi juga ada hubungannya dengan kultur pelindung universe itu sendiri. Thei have to have partners, because…… (mungkin ini ada di versi novel, yach)

    Dan ya, percuma masukin konsep (bahkan judul!) tujuh Straz tanpa meng-includekan di plot dalam porsi yang pantas. Alasan Prolog, buat gue adalah alasan egois dari pengarang, yang seolah gak peduli sama pembacanya (yang hanya punya kesempatan membaca seper bagian cerita ini). Tapi, it’s your choice, your call. Hak anda.

    Tapi akibatnya sebagai sebuah cerita, ini memang terpaksa jadi gak koheren. Terpaksa berakhir di titik dimana pembaca sadar dan akan bertanya… lha? Terus?

    Tanpa sadar kita waste their valuable time.

    Makanya, udah… terusin aja! Hehehehe

    • Selv says:

      benar sekali. saya sendiri merasa kecewa dengan hasil saya yang ini. memang banyak kekurangan yang saya lihat dalam cerita ini.

      kalau masalah dunia, memang konsep dunia yang ditampilkan dalam cerita ini adalah suatu dunia yang sederhana dan mirip bumi. dunia yang tidak terlalu dilirik orang, kasarnya.

      thank you for reading :)
      i’ll try my best

  7. Rea_sekar says:

    Hum. Saia ketinggalan ngomen nih… udah telat. Jadinya udah dibabat sama orang-orang di atas. Hehe.

    Oh ya,
    1. Kalo si Outa ini partner-nya disegel supaya jadi straz, kenapa ortunya galau? Katanya menjadi straz itu impian semua orang…
    2. Si ibu udah tau kalo lambang di pundak Flix itu straz vitr, tapi kok dia bilang “mari kita tanya ayah artinya apa”? Udah gitu, pas ketemu si ayah, Outa malah gak ikut bicara. Katanya “mari”, kok Outa gak diajak? Hum.
    3. Di akhir-akhir kok gak kerasa bahwa Outa udah jadi straz? Kok Outa gak langsung dikirim ke dunia-wakil-vitr? Outa malah hidup seperti biasa.

    Eh ternyata… ini prolog ya? Haha. Yasuda, pertanyaan tersebut gak usah dijawab juga gapapa. Btw, ini dikau tulis di pesbuk? AAAAAAAA saia mau baca!!

    • Selv says:

      ahaha tidak ada kata terlambat yang terlihat bagi saya :)

      1. hm.. walau impian, tapi partner-nya disegel loh. artinya tidak akan ada sosok partner yang menemani. konsep yang saya ambil adalah, kasarnya, tidak ada partner = bukan manusia. seperti itulah :)
      2. itu sebenarnya hanya pengalihan saja. anak kecil biasanya akan terus bertanya bila merasa tidak mendapatkan jawaban yang menurutnya itulah yang harus dijawab. jadi sang ibu mengalihkan pertanyaan Outa. dalam kata “mari” ini, saya tidak terlalu menegaskannya. seperti biasa, banyak orangtua yang berpendapat kalau kalimat itu hanya sebagai sampingan dan tidak ada hubungannya dengan sang anak. jadi mereka lebih memilih mendiamkan sang anak dan berdiskusi sendiri. urusan yang bukan untuk anak kecil, kasarnya. banyak orangtua yang berpikir demikian.
      3. untuk masalah dikirim, si Outa akan pindah dan tinggal bersama siapa? dalam cerita ini, keluarga Outa hanyalah keluarga biasa. untuk bisa pindah ke dunia-wakil-vitr, perlu ijin dan semacamnya. prosesnya rumit dan kemungkinan besar tidak dapat dilakukan. ayahnya juga sudah bilang kalau hal itu diragukan. mungkin belum terlalu terlihat. :/

      haha iya ini hanya sekedar prolog. maaf telah mengecewakan..
      dan sekali lagi, iya. cerita ini akan dilanjutkan di FB begitu Píse? selesai dibuat. kalau mau membacanya, saya akan sangan senang sekali ^^ boleh minta nama FB-nya? mungkin kita bisa share cerita :)

  8. Prince Janssent says:

    Lagi-lagi jumpa cerita berat….DUH kalo dibikin jadi novel sangat bagus loh

    Anyway ceritanya bagus kog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>