Estarath: Wester 02

 

Wester 02

R.D. Villam

 

cerita sebelumnya bisa dilihat di sini

 

“Jiwa Agung memberkati. Etieret. Elier.”

Weidross menutup doa, kemudian seperti kebiasaannya setiap sebelum makan malam, memejamkan mata selama beberapa saat. Sesuatu yang hangat mengalir di udara di sekeliling mereka, dengan cara yang mungkin hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh para pengendali angin. Wester yang duduk di seberang ayahnya mengangkat wajah sejenak, lalu kembali menatap kosong sayuran dan buah-buahan harum berkilat yang tersaji di atas meja. Biasanya semua makanan itu selalu membangkitkan selera. Wester dikenal sebagai tukang makan—satu hal yang membuat tubuhnya bisa tumbuh lebih tinggi dan kuat dibanding anak-anak seumurannya. Tapi kali ini ia tidak terlalu peduli. Pikirannya justru lari ke tempat lain, yang lebih menarik, sekaligus membuatnya gelisah.

Tadi sore Mina bilang bahwa rombongan mereka akan pergi dari Lembah Heiszl besok pagi. Bukan ke timur menuju negeri Terran seperti rencana semula, tapi ke selatan. Ke Haston, negeri para prajurit, dan mungkin akan terus sampai ke Maltan di Dunia Barat. Bayangkan itu. Maltan! Negeri yang konon ada kuda terbang dan ular terbangnya!

Seperti hari sebelumnya, Mina kembali mengajak Wester untuk kabur dari Lembah Heiszl bersamanya. Wester menolak tawaran itu. Gila apa, ia berani kabur dari ayahnya saat ini, hanya untuk pergi melihat negeri-negeri yang jauh? Ayahnya bakal murka. Dan apa yang bisa dilakukannya di sana, sebagai seorang anak keturunan ahli sihir, tapi ternyata tidak punya kemampuan apa-apa? Ia bakal jadi bulan-bulanan orang banyak, apalagi jika mereka tahu ia berasal dari Lembah Heiszl. Ia tidak mungkin bisa selamat di luar sana. Ya, ia takut, dan menurutnya ketakutannya itu memang wajar.

Tapi, entahlah. Kenyataan bahwa selama sehari semalam ia gelisah memikirkan hal ini, bahkan sampai membuatnya tak bisa tidur, tentunya berarti sesuatu, kan? Wester tidak ingin selamanya tinggal di Lembah Heiszl. Di negeri ini seseorang dihormati dan disegani hanya jika ia punya keahlian sihir yang tinggi, tidak peduli ia keturunan siapa. Dan karena ia begitu bodoh dalam soal sihir, sudah jelas nanti ia bakal masuk ke dalam golongan orang-orang paling tidak terhormat. Itu memalukan! Wester tahu ia harus pergi dari Lembah Heiszl suatu hari nanti, dan kalau ia bisa pergi sekarang, kenapa harus menunggu nanti? Apakah nanti bakal ada kesempatan untuk pergi lagi seperti sekarang?

“Wester, kau tidak makan?”

Suara berat ayahnya mengembalikan Wester dari lamunan. Weidross menatapnya dengan pandangan menegur. Cepat-cepat Wester mengambil beberapa buah dan sayuran dari tengah meja lalu meletakkan di piringnya. Dengan gugup ia mulai makan. Kakak laki-lakinya, Ferren yang duduk di sisi kanan meja membuat seringai menyebalkan, sementara kakak perempuannya, Cylla yang duduk di sisi kiri hanya tersenyum tipis tanpa bicara—seperti biasa.

“Kau terlalu banyak berpikir, tapi sayangnya bukan yang penting-penting,” sindir Ferren. “Makanya pelajaranmu tertinggal terus.”

Wester diam saja. Ferren, kakak nomor empatnya, bukanlah kakak yang cukup menyenangkan. Dia sok tahu. Teramat sok tahu. Tapi ya wajar saja sih dia begitu. Di usianya yang tujuh belas tahun saat ini dia sudah menguasai cukup banyak sihir, dan karenanya, apa boleh buat, harus dihormati. Lagipula, kata-katanya mungkin benar.

“Kau juga, Cylla.” Entah mengapa tiba-tiba Ferren meneruskan sindirannya ke arah adik perempuannya. “Mulai sering bolos sekarang. Iya kan? Aku sudah dengar. Coba, tadi sore, ke mana?”

“Ke sungai,” jawab Cylla enggan.

“Cari apa?” Ferren bertambah galak.

“Main. Sebentar.” Cylla menjawab dengan singkat-singkat seperti biasanya, dengan wajah hampir tanpa ekspresi. Ia sebenarnya gadis yang manis, dan kakak yang paling disukai oleh Wester, karena tidak pernah mengganggunya. Selain itu bicaranya irit, dan dari yang irit itu, jika bicara pada Wester pasti selalu sopan dan yang baik-baik saja. Tetapi bagi kebanyakan orang ia memang aneh dan tidak bisa ditebak; tak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepalanya.

“Jangan terlalu jauh pergi ke sungai,” Weidross akhirnya berkata sambil menatap Cylla tajam. “Sudah berapa kali Ayah bilang?”

Cylla hanya mengangguk kecil. Kemudian kembali mengunyah makanannya dengan sangat pelan seperti biasa. Semua diam. Huh, satu lagi suasana makan malam yang menyebalkan, Wester menggerutu dalam hati.

Parahnya, ternyata masih ada lanjutannya.

“Kau ikut aku saja besok,” Ferren berkata pada Wester.

Alis Wester terangkat. Ke mana?

Ferren saling berpandangan dengan ayahnya, membuat Wester mulai curiga bakal ada sesuatu yang tidak menyenangkan lagi baginya.

Weidross mengangguk dan berkata, “Besok Ferren akan pergi ke utara, ke Desa Guiszil untuk berguru pada Eir[1] Zolin. Kau mungkin pernah mendengarnya, dia dulu teman dekat kakekmu. Dan dia adalah pengendali api yang hebat. Kau bisa belajar dengan lebih baik di sana. Jadi, kau ikut dengan Ferren besok.”

Wester menelan ludah. Apa lagi ini? Ia gagal belajar sihir angin, dan sekarang disuruh mencoba sihir api–sihir merah buat para prajurit penyihir yang biasanya lebih berbahaya? Kenapa bukan sihir hijau atau sihir pembuatan obat-obatan saja, yang kata orang lebih mudah dan tidak berbahaya?

“Tidak cuma sihir api kok, Zolin juga bisa sihir-sihir yang lain,” Ferren berkata dengan lebih ramah, seolah tahu apa yang ada di benak Wester. “Yang pasti, lebih banyak yang bisa dipelajari di sana,” lanjutnya bersemangat.

“Murid-muridnya juga lebih serius dan sopan,” kata Weidross. “Tidak seperti Jonar temanmu itu. Kudengar sebentar lagi ia kembali dari Hutan Ungu. Ia membawa pengaruh buruk.”

Oh, jadi itu alasannya? Wester termangu. Supaya ia tidak bisa lagi bermain dengan Jonar?

“Bagaimana, kau bisa?”

“Ya …”

“Bagus.” Weidross mengangguk. “Habiskan makananmu, setelah itu tidurlah. Perjalanan ke Desa Guiszil cukup jauh. Kau harus istirahat dengan baik malam ini.” Ia menatap Wester lekat-lekat, kemudian tersenyum. “Setelah satu tahun kau bisa kembali, dan Ayah percaya kau akhirnya bisa menjadi penyihir yang baik.”

Wester balas mengangguk tanpa berkata-kata. Ia melanjutkan makan, kemudian setelah selesai ia langsung menuju kamarnya dan berbaring. Ia termenung, memikirkan apakah memang sebaiknya ia ikut ke utara, atau justru …

Ia kembali teringat pada Mina dan tawarannya.

Wester menutup wajahnya dengan bantal. Kalau tadi ia tidak suka, kalau ia tidak mau, kenapa tadi ia bilang ‘ya’?

Hmpf. Ia melepaskan lagi bantalnya. Didengarnya Cylla juga sudah masuk ke kamar sebelah, hampir tanpa suara. Sementara Weidross dan Ferren, samar-samar terdengar, masih meneruskan berbincang di meja makan tentang segala macam, mulai dari soal sihir Zolin sampai desas-desus tentang kemungkinan adanya serangan dari para ksatria di utara Lembah Heiszl.

Kabarnya para ksatria mengincar Batu Suci yang tertanam di suatu tempat tak jauh dari Desa Guiszil, entah karena apa—alasan yang belum bisa Wester pahami. Weidross mewanti-wanti bahwa jika benar nanti terjadi serangan, lebih baik Ferren membawa Wester kembali ke selatan, dan biar pasukan penyihir saja yang melawan. Ferren bilang tak mungkin para ksatria sampai berbuat senekat itu, tapi ia berjanji.

Wester mendengar semuanya. Walaupun tempat yang bagus buat belajar, Desa Guiszil di utara ternyata juga bukan tempat yang benar-benar nyaman dan aman.

Dan, yang pasti, sekali lagi, pergi ke sana bukanlah keinginannya.

 

— bersambung —

 

Pilihan cerita berikutnya:

 

Wester 03

POV: Wester

Pembuka: Wester akhirnya memilih kabur, pergi dari Lembah Heiszl bersama Mina dan rombongannya.

Penulis: R.D. Villam

 

Ferren 01

POV: Ferren

Pembuka: Ferren membawa Wester pergi ke Desa Guiszil di utara untuk berguru pada Eir Zolin.

Penulis: Harbowoputra

 

Cylla 01

POV: Cylla

Pembuka: Cylla diam-diam pergi ke sungai, untuk bertemu guru rahasianya yang mengajarkan ilmu-ilmu gelap. Ferren sudah pergi ke utara, sementara Wester menghilang entah kemana.

Penulis: Laurentlia

 

Seluruh cabang cerita sudah terisi. Bagi yang ingin ikut serta menulis bisa melihat di Daftar Cerita untuk mencari cabang cerita yang masih kosong, kemudian mengirim idenya ke alamat rdvillam@yahoo.com dengan judul “Ide Cerita Estarath“. Yang memiliki ide paling menarik dan sesuai dengan dunia Estarath akan dipilih menjadi penulis, dan ceritanya akan dipajang di Kastil Fantasi. Plotnya bebas, dan boleh menggunakan set karakter yang sudah ada maupun menciptakan karakter baru, tetapi tetap harus menggunakan POV yang sudah ditentukan di awal.

Syarat cerita: panjang cerita adalah 1000-1500 kata dan memiliki 3 buah pilihan di bagian penutup. Masing-masing pilihan menggunakan POV yang berbeda (1 POV awal dan 2 POV baru). Selanjutnya, penulis mempunyai hak pertama untuk melanjutkan cerita dari POV pilihannya. Dua POV tersisa akan dibuka untuk penulis baru.

Konsep * Daftar Cerita * Dunia Estarath * Daftar Karakter

Spesial * Idea * Penghargaan * Galeri * Kedai * Saran & Usulan


[1] Eir adalah panggilan untuk para penyihir yang paling dihormati

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Estarath and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Estarath: Wester 02

  1. Pingback: Estarath: Wester 01 | Kastil Fantasi

  2. REOG says:

    Weidross? Weirdo wkwkwkwk.

  3. Pingback: Estarath: Cylla 01 | Kastil Fantasi

  4. Pingback: Estarath: Wester 03 | Kastil Fantasi

  5. Pingback: Estarath: Ferren 01 | Kastil Fantasi

  6. Pingback: Proyek Estarath Telah Dimulai | Kastil Fantasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>