Estarath: Seith 03

Seith 03

Alexia Dee

 

cerita sebelumnya bisa dilihat di sini

 

Seith sungguh berharap ia bisa terbangun dari mimpi buruk ini. Karena dengan semua kegilaan yang terjadi digabungkan dengan chareon berarti ia sedang bermimpi. Atau mengalami halusinasi parah.

Bukankah chareon itu tidak ada?

Seith merasa dirinya bergerak mundur perlahan. Ia tidak berhenti sampai sesuatu yang keras menggesek punggungnya. Seith menoleh dan Cylla yang membeku di dalam kristal es menatapnya kembali dengan pandangan kosong.

Seith menggertakkan rahangnya. Ia memejamkan mata. Menggeleng kuat-kuat. Berharap dengan begitu semua ini akan berakhir. Ia akan segera terbangun dan menertawakan mimpi konyol ini.

Namun ia keliru. Karena saat ia membuka kembali matanya, harimau es di depannya menggaum sekali lagi, dan serpihan-serpihan es yang melayang di sekitar makhluk itu menghambur ke arahnya. Seith jatuh berlutut dengan tubuh penuh luka. Kristal-kristal es setajam pisau menancap di sekujur tubuhnya. Membuat darah segar mengalir keluar.

Seith memaki. Mencabut beberapa kristal es yang menancap di wajahnya. Ia mulai mengumpulkan kekuatan. Sedikit terhuyung oleh tubuhnya yang terus menggigil. Lalu ia merasakan kehangatan mengalir keluar dan darahnya berdesir. Udara di sekelilingnya memadat saat Seith menciptakan dinding pelindung di depannya.

Harimau es di depannya mengendus udara. Lalu menyengir. Atau Seith mengira ia melihat makhluk itu mengangkat sudut mulutnya.

Sihirmu tidak akan mempan padaku, manusia. Jadi simpan saja tenagamu.

Seith berjengit. Ia harus melakukan sesuatu. Namun giginya yang terus bergemeletuk dan tubuhnya yang tidak berhenti menggigil membuatnya tidak mampu berkonsentrasi. Ia harus berusaha keras mempertahankan perisai tipis rapuh di depannya.

“Si-siapa… kamu?” Ia hampir saja menggigit putus lidahnya.

Harimau es itu mendengus. Uap putih keluar dari moncongnya.

Kau mendengarku dengan sangat baik, manusia. Aku Arszaron, chareon–

Seith menyela, “Aku tahu. Kau Arszaron, chareon penjaga Hutan Arszarik.”

Sial. Jadi itu benar? Tapi bukankah chareon hanyalah makhluk dalam legenda? Chareon itu tidak nyata. Tapi kenapa mahkluk di depannya mengaku bahwa dirinya adalah chareon?

Seith merasa pijakannya goyah. Tubuhnya tidak lagi mampu bertahan oleh dinginnya udara.

Arszaron mulai mendekati Seith.

Aku sudah lama menunggumu. Penantian selama ribuan tahun.

Kekuatan makhluk itu luar biasa. Saat Arszaron berada hanya beberapa langkah darinya, tekanan udara bertambah. Memaksa Seith menjatuhkan tubuhnya. Menyerah pada kedua kakinya yang saat ini sudah mati rasa. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Perisainya hancur. Seith telah lupa bagaimana caranya berkonsentrasi.

“A-apa… y-yang… kau…” Jantungnya berpacu, napasnya pendek-pendek, “i-inginkan d-dari… k-ku?”

Chareon adalah makhluk tanpa wujud berkekuatan magis pemakan manusia.

Pikiran itu memukulnya telak. Seith terduduk lemas di lantai es. Punggungnya bersandar pada kristal es yang membungkus Cylla. Ia mulai mengutuk para tetua yang menceritakan kebohongan tentang chareon.

Memang benar kalau chareon memiliki kekuatan magis yang sangat dahsyat. Tapi tanpa wujud? Seith menggertakkan rahangnya kuat-kuat, menghentikan giginya yang terus bergemeletuk. Makhluk sialan yang saat ini menatapnya dengan angkuh berwujud harimau es.

Dan harimau es itu akan membunuhnya saat ini juga. Seith memejamkan matanya frustasi. “Jika k-kau ingin m-membunuhku, s-sebaiknya… lakukan d-dengan… cepat.”

Arszaron terbatuk beberapa kali.

Seith membuka matanya. Tertegun. Lalu merasakan kemarahan mulai menguasai dirinya. Makhluk itu bukan batuk, tapi sedang tertawa.

Aku tidak akan memakanmu, manusia. Bukan begitu cara kerja kami. Dia menelengkan kepalanya. Aku akan membuat sebuah penawaran untukmu.

Mata Seith terbelalak.

Arszaron mengalihkan matanya dari Seith dan menatap Cylla.

Gadis itu. Dia penting bagimu, bukan?

Seith merasakan dirinya mengangguk.

Dia mati.

Darah segar mengalir dari sudut bibir Seith. Kemarahan membuatnya menggigit bagian dalam mulutnya tanpa sengaja.

Dia mati karena dirimu. Karena rasa penasaranmu. Karena kecerobohanmu.

Seith memang tidak lagi bisa merasakan tubuhnya. Tapi ia tahu kalau air matanya tumpah. Lalu membeku di wajahnya. Mengeras di pelupuk matanya.

Kau akan membawa rasa bersalahmu ke liang kubur. Arszaron berpaling kembali pada Seith. Makhluk itu menekuk kaki depannya. Memajukan kepalanya hingga kedua mata esnya yang
berwarna biru terang sejajar dengan mata Seith. Tapi itu tidak perlu kau lakukan jika aku menghidupkan kembali gadis itu.

Seith merasa sesuatu berdenyut jauh di sudut hatinya.

Benar. Aku bisa menghidupkan kembali gadismu. Dengan satu syarat.

“Ssss…hh…” Seith tidak mampu menggerakkan lidahnya. Apa itu? Syarat apa, brengsek? Apapun akan dilakukan Seith jika itu berarti Cylla hidup kembali.

Kau masih tetap bertahan. Hebat, manusia. Arszaron memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan tajam. Kalau begitu putuskan dengan cepat. Aku akan menyelamatkan gadismu, dan kau memberiku nyawamu. Bagaimana?

Jadi begitu? Alih-alih mendengus, Seith hanya mengeluarkan erangan tertahan. Ia mencoba tersenyum. Namun gagal. Tidak ada bagian tubuhnya yang dapat digerakkan. Lapisan es tipis kini membungkus seluruh tubuhnya.

Bagaimana? Arszaron mendesak. Putuskan sekarang, atau kau juga akan mati oleh suhu dingin. Dan semua ini sia-sia. Kau mati. Gadis itu mati.

Amarah kembali menguasai dirinya. Makhluk itu mempermainkan dirinya dan Cylla. Menganggap nyawa mereka seolah sampah. Darahnya bergolak. Jantungnya memompa cepat. Sesuatu di dalam perutnya terasa panas. Lalu panas itu seperti mengalir ke setiap nadinya, mengisi pembuluh darahnya.

Mungkin dirinya akan mati. Tapi jika itu bisa menyelamatkan Cylla, Seith tidak perlu berpikir ulang.

“L-la…ku…kan… L-laku…kan… Lakukan! LAKUKAN!” Lapisan es yang menyelimuti tubuhnya mendesis, lalu pecah berkeping-keping. Es di bawah kakinya ikut mendesis. Beberapa bagian tampak meleleh. Seith berdiri. Kedua kakinya yang kaku gemetaran. Tapi ia bisa berdiri.

Harimau es di hadapannya menegakkan tubuh. Mundur satu langkah. Sepasang mata esnya menatap Seith dengan campuran antara bingung, heran, dan takjub.

“Lakukan sekarang juga! Ambil nyawaku! Asalkan Cylla hidup kembali.” Setiap es yang diinjak Seith mengeluarkan asap putih dan mendesis.

Baiklah. Perjanjian telah disepakati. Pertukaran akan dilakukan. Lalu Arszaron melompat mundur. Tubuhnya yang besar dan berat mendarat tanpa suara di depan gua es yang menjulang tinggi.

Angin kembali menderu, berdesing, dan berputar. Badai mengamuk dan kabut bergulung. Membawa ratusan, bahkan ribuan kristal es ke udara. Semuanya bagaikan terhisap oleh Arszaron. Ribuan kristal es itu membungkus tubuh Arszaron. Menempel erat membentuk sebongkah kristal es raksasa. Lalu bongkahan es itu pecah, meledak menjadi puluhan ribu kristal es kecil yang berbentuk pipih, panjang, dan tajam.

Seith melindungi wajahnya saat kristal-kristal es dalam jumlah besar terhempas melewatinya.

Namun tidak satu pun yang mengenainya.

Seith menurunkan tangannya. Menatap takjub puluhan ribu kristal es yang seolah berhenti di udara. Melayang seolah waktu berhenti.

Kemudian secara berlahan, semua kristal es bergetar. Mula-mula pelan. Lalu semakin cepat dan cepat. Kristal-kristal es tersebut terhisap kembali. Udara berdesing, lalu mulai berputar dan memilin. Menjalin sebuah pilar es raksasa yang memanjang ke atas. Menembus rimbunan pepohonan. Sinar matahari yang sebelumnya terhalang kini menyinari hutan yang tertutup es, membuat Seith menyipitkan matanya. Pilar es masih terus memanjang, menembus awan dan langit.

Lalu hening. Tidak ada suara sama sekali. Segala sesuatu seolah berhenti bergerak.

Seith masih mendongak, menatap pilar es di hadapannya. Sebenarnya ia berniat mengecek keadaan Cylla. Namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya tetap di sana.

Mendadak terdengar suara menderu. Pepohonan di atas kepala Seith terbelah, menyingkir dan mempersilakan cahaya matahari untuk menyusup masuk.

Namun bukan itu yang terjadi. Kedua mata Seith membelalak ketakutan saat pilar es raksasa meluncur ke arahnya dengan kecepatan mematikan.

Aku Arszaron, sang chareon es, penjaga Hutan Arszarik. Dengan ini nyawamu menjadi milikku.

Setelah suara menggelegar itu, yang ada hanyalah warna putih.

***

“Seith… Seith…”

Seseorang menepuk-nepuk pipinya.

“Seith…”

Seith membuka matanya perlahan. Menatap sepasang mata coklat hangat milik Cylla.

“Cylla?”

“Kau tidak apa-apa, Seith?” Gadis itu meneliti wajahnya. Sorot matanya tampak cemas.

“A-aku…” Seith langsung terduduk tegak. “Aku…” Ia menoleh bingung pada Cylla, “masih hidup?”

“Tentu saja kau masih hidup,” Kening Cylla berkerut. “Apa kau yakin kau baik-baik saja, Seith?”

Seith tidak menjawab. Ia meraba wajahnya. Kemudian memeriksa tangannya, kakinya, dan saat matanya menatap pakaiannya yang berlubang di beberapa bagian, sadarlah Seith bahwa semuanya bukan mimpi.

“Luka-lukamu sudah kusembuhkan,” ujar Cylla hati-hati. Lalu gadis itu mengalihkan matanya, menatap sekeliling dengan bingung. “Apa yang sebenarnya terjadi, Seith? Hutan ini kembali normal. Tidak ada sungai yang membeku ataupun gua es lagi.”

Seith mendongak. Cylla benar. Mereka berada tidak jauh dari sungai. Namun kali ini, sungainya jauh lebih besar, dengan air yang mengalir deras. Lalu ada ikan-ikan yang berenang dan melompat. Bukan sungai tanpa ikan yang membeku. Gua es juga
sudah menghilang. Kabut tebal telah menipis dan hanya melayang rendah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Seith bertanya dalam hati. Ia juga ingin tahu.

“Terakhir yang kuingat adalah,” Cylla kembali menatap Seith, wajah pucatnya diliputi ketakutan, “aku membeku.”

Seith tidak mampu menjawabnya. Cylla hidup kembali. Itu berarti Arszaron menepati janjinya. Tapi kenapa dirinya tidak mati?

“Dan saat aku sadar, kita berada di tepi sungai. Dengan kau terbaring pingsan di dekatku.” Cylla menunjuk satu titik di belakang Seith. “Lalu aku menyeretmu menjauhi tepi sungai. Tapi, Seith…”

“Ya?” Seith memandang sekelilingnya dengan heran. Cahaya matahari menimbulkan bayang-bayang di tanah berumput. Mereka tidak lagi berada di dalam hutan.

“Saat itu aku sadar, kalau kita tidak lagi berada di tempat dimana seharusnya kita berada.” Cylla menatap Seith lekat. Kedua matanya melebar. “Kita sekarang berada di tepi Sungai Ars-Newtier, Seith. Kita sudah keluar dari Hutan Terlarang Arszarik.”

“Cylla, aku tidak mengerti apa yang telah––“ Seith masih belum pulih dari kekagetannya saat semak-semak di depan mereka bergemerisik.

Cylla bergerak ke depan Seith, memasang perisai di sekeliling mereka. Seith bangkit berdiri dengan waspada. Menarik Cylla ke belakangnya.

Semak-semak bergoyang semakin hebat. Lalu seorang pria setengah baya melangkah keluar. Diikuti seorang gadis kecil di belakangnya.

 

– bersambung –

 

Pilihan cerita berikutnya:

 

Seith 04

POV: Seith

Pembuka: Seith tidak mati! Itu sebuah berita besar baginya. Ia, yang menjual nyawanya pada chareon es demi menghidupkan kembali Cylla, ternyata masih hidup. Dan Arszaron malah menghilang entah ke mana. Lalu mereka bertemu dengan Veysia dan Keir, penduduk desa Ars-Arun. Seith mendadak diserang sakit kepala parah dan jatuh pingsan. Dan tahu-tahu, begitu terbangun, ia berada di rumah Keir, di desa Ars-Arun, dimana desa itu diserang oleh sekelompok binatang yang sudah
mati.

Penulis: Alexia Dee

 

Keir 01

POV: Keir Reahld

Pembuka: Keir menemukan dua orang asing di tepi sungai Ars-Newtier. Salah satu dari mereka mendadak pingsan. Namun Keir tidak ingin mendapat masalah. Ia tidak ingin terlibat dengan orang asing. Dengan membawa Veysia, Keir meninggalkan tempat itu dan kembali ke Ars-Arun. Saat malam tiba, desa itu diserang oleh binatang-binatang yang telah mati. Keir panik. Saat itu juga ia menyuruh Veysia mengemasi barang mereka dan pergi secepatnya dari Ars-Arun. Mereka akan mencari kota yang lebih aman untuk ditinggali. Mungkin Denz adalah tempat yang cocok.

Deskripsi: Laki-laki. 35 tahun. Berambut dan bermata coklat tua. Ayah dari seorang gadis kecil bernama Veysia. Istrinya meninggal saat melahirkan Veysia. Keir adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Namun sayangnya, pribadinya sangat tertutup. Dan sikapnya pada Veysia sangat over-protected. Itu dikarenakan dirinya adalah seorang necromancer sebelum ia dan putrinya pindah ke Ars-Arun. Keir
berasal dari keluarga besar Reahld yang merupakan keluarga penyihir hitam. Keluarganya dibantai karena dituduh mempraktikkan ilmu hitam dan menggunakannya untuk membunuh orang. Keir tahu ayah dan ibunya tidak bersalah. Namun ia tidak pernah mengenal kakek dan neneknya ataupun saudara sepupunya yang lain. Dengan membawa Veysia, Keir bersembunyi di Ars-Arun dengan harapan memperoleh ketenangan.

Penulis: belum ada

 

Veysia 01

POV: Veysia Reahld

Pembuka: Veysia tidak setuju kalau ayahnya meningalkan dua orang asing yang ditemukan mereka di tepi sungai. Dengan setengah memaksa, Veysia menyuruh ayahnya membawa mereka ke rumah. Ia senang sekali saat ayahnya akhirnya setuju. Malamnya, desa mereka diserang oleh sekelompok binatang yang sudah mati. Veysia disuruh ayahnya segera meningalkan tempat itu, bersama dua orang asing yang diselamatkannya dari tepi sungai. Namun ayahnya tidak akan ikut pergi dengan mereka. Dia mengatakan akan menyusul setelah membereskan binatang-binatang yang menyerang desa. Saat di tengah jalan, Veysia kabur dan kembali ke desa Ars-Arun, mencari ayahnya.

Deskripsi: Perempuan. 11 tahun. Berambut pirang dengan mata berwarna coklat tua. Veysia adalah seorang anak yang ceria, penurut, dan sayang kepada ayahnya. Namun Veysia tidak memiliki seorang teman pun. Hal ini disebabkan ayahnya sangat protektif terhadapnya. Veysia terlahir istimewa. Dengan bakat alami seorang necromancer. Ia dapat melihat makhluk-mahkluk halus bahkan berkomunikasi dengan mereka. Ia juga mengenali tanda-tanda yang muncul pada orang yang tidak lama lagi akan meninggal.

Penulis: belum ada

 

Bagi yang ingin menulis dua cabang cerita yang masih kosong di atas (POV = Point of View alias sudut pandang Keir dan Veysia) dipersilakan mengirim idenya ke alamat rdvillam@yahoo.com dengan judul “Ide Cerita Estarath“. Yang memiliki ide paling menarik dan sesuai dengan dunia Estarath   akan   dipilih menjadi penulis, dan ceritanya akan dipajang di Kastil    Fantasi.  Plotnya bebas, dan boleh menggunakan set karakter yang sudah    ada maupun menciptakan karakter baru, tetapi tetap harus menggunakan    POV yang sudah  ditentukan di awal.

Syarat  cerita: panjang cerita adalah  1000-1500 kata dan memiliki 3 buah  pilihan di bagian penutup.  Masing-masing pilihan menggunakan POV yang  berbeda (1 POV awal dan 2 POV  baru). Selanjutnya, penulis mempunyai hak  pertama untuk melanjutkan  cerita dari POV pilihannya. Dua POV tersisa  akan dibuka untuk penulis  baru.

Konsep * Daftar Cerita * Dunia Estarath * Daftar Karakter

Spesial * Idea * Penghargaan * Galeri * Kedai * Saran & Usulan

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Estarath and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Estarath: Seith 03

  1. Xamdiz says:

    2 sekaligus keluar.

    Ditunggu kelanjutannya!

  2. Pingback: Estarath: Seith 02 | Kastil Fantasi

  3. kayzerotaku says:

    Wah, hebat…saya salut.
    Ditunggu lanjutannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>