Bayangan Penyihir Dragosith

BAYANGAN PENYIHIR DRAGOSITH

karya Emmy Ayni

Clervy, anakku.

Navgard ini belum sepenuhnya aman dari kegelapan. Kegelapan masih bersembunyi di suatu tempat dan sewaktu-waktu akan muncul dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Kau harus selalu waspada dari tipu daya mereka. Penyihir Dragosith sangat kejam, kegelapan pekat menyelimuti hatinya. Ia adalah makhluk setengah Penyihir dan setengah Naga Bersayap Raksasa. Kini ia tengah terluka karena pertempuran lima ratus tahun lalu dan di tempat persembunyiannya itu ia sedang mengumpulkan tenaga untuk gempuran yang lebih dahsyat. Kau juga harus tahu kalau ia memiliki Sang Bayangan yang tak kalah hebat dengan dirinya. Jelas Ibuku.

Sampai kini keberadaan Sang Bayangan belum diketahui, namun menurut kabar ia akan muncul di Hutan Achlows. Kita harus hati-hati dan bersiap jika sewaktu-waktu Penyihir Dragosith yang bernama Xothurn itu, muncul. Kita harus membalaskan perjuangan ayahmu, Clervy.

Setelah mengatakan itu semua, Ibuku pergi dan tidak pernah kembali lagi. Esoknya jasad Ibuku ditemukan oleh prajurit Negeri Peri di Hutan Achlows. Hutan gelap dan lembab, tempat tinggalnya berbagai macam makhluk kejam yang tepatnya di sebelah timur Negeri Peri. Kulitnya membiru, kaku dan matanya membesar. Aku belum mengerti itu semua karena saat itu aku masih sangat muda.

Navgard, Dunia Tepi yang berada di Tenggara dari Dunia Tengah. Dunia yang memiliki lebih sedikit Negeri dibanding Dunia Tengah. Namun, di Dunia Tepi ini semua makhluk, hidup dengan damai. Setidaknya itu benar-benar terjadi sebelum lima ratus tahun yang lalu sebelum Xothurn muncul.

Dan kini Xothurn menghantui kami semua.

***

Aku membuka mata dengan cepat.

Aku memandang sekelilingku. Aku masih ada di ruang pertemuan Kastil Peri. Setelah mengadakan pertemuan tadi siang aku bermeditasi di sini sambil menunggu malam. Aku berjalan keluar sendirian ditengah malam ini sementara yang lain nampaknya sudah tertidur pulas. Teringat setelah pertemuan tadi, aku diminta untuk membicarakan sesuatu yang penting dan rahasia dengan seorang Penyihir malam ini.

Berjalan menyusuri lorong Kastil Peri bertiang tebal seorang diri membuatku bergidik seperti layaknya manusia. Membuat sayap tipisku menggigil dan sesekali bergetar. Dinginnya bebatuan besar berwarna yang disusun indah menjadi lantai kastil ini dapat kurasakan lagi. Karena seperti biasanya kami melayang melawan kekuatan tanah, dengan kata lain kami terbang.

Langkah telanjang kakiku yang ringan menuntun ke sebuah taman di belakang kastil dimana terdapat danau kecil di tengah-tengahnya. Di sinilah tempat Sang Penyihir akan bertemu denganku.

Langkahku terhenti.

Terlihat sosok tua berambut putih lurus rapi dengan panjang sebahu, serta berjubah putih, sedang memandangi danau kecil di hadapannya. Aku biasa memanggilnya Aglond.

Menyadari kehadiranku, ia langsung membalikkan badannya. Mata sayu dan kulit wajah yang mulai keriput terlihat dari parasnya.

“Mohon maaf Lady Clervetine, aku memanggilmu malam-malam begini.” Katanya sambil membungkukkan badan.

“Tidak apa Aglond. Lalu apa yang ingin kau bicarakan?” lalu kami berdua duduk di atas batu besar hitam di depan danau. Suasana di sekeliling kami semakin dingin, angin berhembus makin kencang.

“Ini mengenai pemuda itu, Vergan.” Katanya.

Vergan.

Sebuah nama dari seorang pemuda gagah dan ramah yang tadi pagi datang ke Negeri Peri ini. Penyihir itu memperkenalkan Vergan di hadapan Petinggi Negeri Peri pada saat pertemuan tadi siang. Ia membawa Vergan dari Negeri Manusia di Utara. Walaupun secara fisik Vergan mirip manusia, namun ia bukan manusia. Aglond mengatakan bahwa Vergan adalah penyihir. Namun, Vergan tidak menyadari dirinya seorang penyihir. Vergan tidak mengetahuinya, karena selama ini ia diasuh oleh seorang manusia yang menemukannya di Hutan Achlows. Hutan dimana Ibuku menjemput ajalnya.

Belakangan ini kami rutin mengadakan pertemuan dengan beberapa petinggi Negeri Peri. Kami saling bertukar dan berbagi informasi tentang Penyihir Dragosith yang menurut kabar akan muncul dari persembunyiannya dalam waktu dekat. Kabar tersebut dikuatkan oleh berita yang disampaikan Aglond dari Negeri Sihir. Para Petinggi Negeri Sihir dapat merasakan dan melihat Xothurn sudah mulai melakukan pergerakan.

Mereka mendapatkan penglihatan, kalau Xothurn akan memiliki seorang penerus yang dinamakan Sang Bayangan. Sang Bayangan memiliki kekuatan setara dengan Xothurn. Bahkan terlihat oleh mereka, Sang Bayangan memiliki kekuatan lebih hebat dari Penyihir itu sendiri. Aglond mendapat penglihatan bahwa Sang Bayangan akan muncul di Hutan Achlows. Ia mencurigai bahwa Sang Bayangan adalah Vergan.

Aglond telah mengawasi perkembangan Vergan selama kurang lebih dua puluh tahun, sejak usia Vergan baru dua bulan. Selama itu, ia tinggal di Negeri Manusia dan tidak menemukan hal ganjil dari pemuda itu.

Aglond memandangku sedih. Aku dapat melihat mata sayunya berkaca-kaca, namun ia terlihat sekali menahannya.

“Ada apa lagi dengan pemuda itu?” tanyaku. Aglond menghela napasnya sebentar lalu mulai berkata lagi.

“Sebenarnya ada satu hal yang belum aku katakan pada saat perrtemuan tadi. Aku hanya percaya padamu, tolong jangan katakan pada siapapun tantang hal ini. Terutama pada Dreigg. Kelicikannya membuatku takut.” Pintanya. Dreigg memang salah satu Petinggi Negeri Peri yang licik. Ucapannya tidak dapat dipercaya dan selalu ingin menjadi penguasa di Negeri ini. Oleh karena itu, ia selalu mencari-cari kesalahan dan kelemahanku.

“Baiklah, katakan saja padaku.”

Angin berhembus lagi.

“Sang Bayangan yang kita takutkan selama ini ternyata memang benar, dia adalah Vergan. Pemuda itulah Sang Bayangan.” Tiba-tiba napasku terasa sesak.

“Apa-kau yakin?”

“Pada saat diperjalanan tadi, aku mencoba melihat dirinya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Dan aku melihat sosok Naga Bersayap seperti Xothurn terdapat di dalam dirinya.” Aglond menundukkan kepalanya dan ia tidak dapat membendung airmata dari sudut mata sayunya. Baru kali ini aku melihat seorang penyihir hebat seperti Aglond menangis.

“Kau tidak boleh menggunakan perasaan, Aglond. Ini tugas kita. Kalau begitu, kita harus bunuh dia secepatnya.” Aglond nampak kaget dengan kata-kataku. Ia menatap dalam mataku.

“Oh, aku terlalu sayang padanya. Tak bisa kubayangkan aku mampu melihatnya meregang nyawa.”

“Lalu untuk apa kau bawa dia kemari?”

“Aku ingin melindunginya dan Negeri inilah tempat terbaik untuk merubahnya. Aku memohon padamu Lady Clervetine. Atau mungkin aku memohon sebagai sahabatmu, Clervy.”

Aku berdiri dan ingin menyudahi pembicaraan ini.

“Maafkan aku, Aglond.” Lalu aku pergi dari sana, masuk ke dalam Kastil untuk memikirkan rencana selanjutnya.

***

Satu bulan berlalu.

Aku belum melakukan tindakan apapun. Setiap bertemu denganku, Aglond selalu tersenyum dan membungkukkan badannya. Aku tahu itu seperti ucapan terima kasih padaku. Aku tidak bisa seperti ini terus menerus, tidak mungkin menunggu sampai Xothurn benar-benar menyerang.

Setiap hari dari hari dimana Aglond memberitahuku tentang jati diri Vergan, hingga kini, ia selalu melatih Vergan untuk memakai pedang dan mempertahankan diri. Lalu dengan bermeditasi, Aglond menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengurangi kekuatan sihir kegelapan yang ada di tubuh Vergan.

***

Dua bulan berlalu.

“Aku ingin sekali seperti kaum Peri, dapat terbang bebas ke langit.” Kata Vergan. Aku mendengarkan Vergan dan Aglond berbincang dibalik dinding ruang pertemuan Kastil Peri.

“Apa kau benar-benar merasakan kebebasan jika kau terbang ke langit? Apa kau pernah menanyakannya pada salah satu Peri yang ada di sini?”

“Aku rasa memang begitu. Tidak, aku belum pernah menanyakannya.”

“Ada beberapa hal yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan, kita memiliki tugas masing-masing. Karena itulah tiap makhluk berbeda-beda.”

“Lalu, tugas apa yang harus aku lakukan?” cukup lama tidak ada suara yang keluar dari keduanya. Aku masih menunggu dibalik dinding, hingga Aglond berbicara lagi.

“Kau harus mengikuti kata hatimu, lawan kejahatan dan selalu tanamkan kedamaian di dalam hatimu. Baiklah, ayo kita ke ruang makan. Kau lapar, kan?” perlahan aku terbang ke atas dan memandang mereka keluar dari ruang pertemuan.

***

Tiga bulan berlalu.

Aku dapat melihat Aglond dan Vergan yang sedang berbincang di seberang danau jauh disana dari jendela kastil kamarku. Mereka terlihat sangat akrab, sesekali Vergan tertawa; sangat murni seperti Manusia. Sampai hari ini aku belum pernah berbincang langsung dengan pemuda itu. Tak bisa dipercaya bahwa dia adalah Sang Bayangan. Aku mengurungkan niatku untuk terbang menghampiri mereka saat dua orang prajurit Peri datang membawa Vergan pergi. Mereka berjalan menuju belakang kastil.

Lalu aku keluar kamar untuk memastikan atas perintah siapa prajurit itu membawa Vergan. Aku terbang menyusuri lorong kastil hingga sampai di depan gerbang belakang kastil, aku dihadang oleh Dreigg.

“Lady Clervetine,” ia tersenyum licik. Lalu Vergan dimasukkan ke dalam penjara kastil oleh mereka.

“SIAPA yang memberi perintah untuk memenjarakan Vergan?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Aku yang memberi perintah. Karena aku tahu Lady yang bijaksana, kau menyembunyikan berita ini dari kami, kan? Kau sudah tahu ini semua, kan? Kau sudah tahu bahwa DIALAH Sang Bayangan!” Dreigg berkata padaku dengan nada yang tidak kalah tinggi. Aku mengerti kelicikannya ini, ia memang selalu mengincar posisiku. Kini ia mencari kesalahanku agar Negeri Peri jatuh ke tangannya. Aku dapat melihat wajah Vergan yang kaget mendengar kata-kata Dreigg.

“Aku tidak bodoh, Clervy. Aku bisa saja memanggilmu seperti itu bila kau tidak keberatan.”

“Sama sekali tidak, Dreigg.”

“Tenang saja, tidak lama lagi aku akan membunuhnya.” Dreigg terbang dari hadapanku dengan tatapan yang sinis. Dengan perlahan aku mendekati Vergan, rasa gugup menghinggapiku berhadapan dengan Sang Bayangan yang senyumnya terlihat murni.

“Kita memang belum pernah berbicara seperti ini, tapi aku tahu kau pemuda yang sangat baik. Aku sering mendengar tentangmu dari Aglond, asal kau tahu dia sangat menyayangimu.” Vergan terdiam. Kemudian ia mulai berbicara padaku.

“Aku juga sangat menyayanginya. Tapi, apa benar yang dikatakan Peri Dreigg tadi bahwa akulah Sang Bayangan?” rasanya tak bisa aku jawab pertanyaan pemuda polos ini. Sepertinya perasaanku kini sama dengan Aglond, aku merasa sangat sayang pada Vergan.

TENG TENG TENG TENG

Lonceng menara kastil dibunyikan, pertanda bahaya akan datang.

Seketika hatiku menjadi gelisah. Aku langsung terbang menuju menara kastil, penjaganya memberitahukan bahwa Xothurn sebentar lagi akan tiba. Kemudian seluruh rakyat diberitahukan agar mengungsi ke Negeri seberang. Tak banyak barang yang mereka bawa, hanya baju yang melekat pada tubuh mereka. Beberapa rakyat harus meninggalkan ayahnya, suaminya, adiknya dan kakaknya, yang ikut menjadi prajurit Peri. Dengan bergerombol, rakyatku terbang pergi mengungsi dari Negeri yang tak lama lagi akan jatuh ini.

DUARRRR!!

Tiba-tiba benteng pertahanan bagian depan dihantam batu api. Kerikil api terpercik hingga ke hadapan jari-jari kakiku. Oh, tidak! Penyerangan sudah dimulai.

Aku terbang menuju benteng pertahanan kedua. Aglond sudah ada di sana bersama seluruh Petinggi Peri, memandangi ribuan pasukan makhluk kejam bergerombol menghiasi padang lapang tandus. Mereka semua berasal dari Hutan Achlows. Sementara itu, kami hanya memiliki delapan ratus pasukan yang sedang bersiap di depan kastil. Dengan niat yang baik untuk memusnahkan kejahatan aku yakin kami mampu melawan pasukan Xothurn. Awan menjadi gelap sebagai pertanda datangnya Sang Penyihir Dragosith, Naga Bersayap Raksasa.

Naga Bersayap Raksasa muncul perlahan dari langit. Ia terbang. Sisiknya sangat besar begitu pula sayapnya yang terlihat kekar. Matanya yang hitam pekat siap menghancurkan mangsanya, kakinya memiliki kuku-kuku yang runcing dan hitam. Sementara tubuh besarnya berwarna hijau tua pekat. Pasukan Peri terlihat memundurkan langkahnya perlahan saat Xothurn muncul.

Di barisan sebelah Timur ada Lioganth; binatang berkaki empat berkuku runcing, ada tiga helai kumis di bawah hidung hitamnya, matanya kecil serta bertanduk didahinya. Di sebelahnya ada Troll besar yang bau, mereka membawa batu besar yang tadi dilempar ke menara kastil bagian depan. Dengan semburan api Xothurn terjadilah batu api. Dan yang terakhir berdiri gagah para kaum Dragosith tak bersayap bersiap dengan pedang masing-masing, mereka memang nampak seperti manusia. Ribuan dari mereka terlihat sangat kuat.

“Mereka adalah makhluk terkutuk, Clervy. Kita harus memusnahkannya, sekarang juga.” kata Aglond.

Tiba-tiba keluar suara dari arah belakang kami.

“Aku akan membunuhmu, makhluk terkutuk!” teriak Drigg, yang tanpa diketahui yang lain langsung mengambil pedangnya dan terbang menantang Xothurn. Mata hitam Sang Naga Bersayap Raksasa langsung melirik Peri malang itu. Mulut Xothurn menyemburkan api yang sangat besar, pedang peri Drigg tak mampu menahan panasnya dan begitulah akhirnya Peri Drigg menuju kematiannya.

Kemudian Sang Naga melengkingkan suaranya ke atas. Terdengar aneh dan membuat telinga kami sangat sakit. Kami semua menutup telinga masing-masing.

“Sekarang Clervy,” kata Aglond.

“SERAAANG!” seruku.

Seluruh prajurit Negeri Peri beserta para Petinggi-nya berbaur menjadi satu melawan Xothurn dan para pengikutnya. Langkah pertama diawali dengan para prajurit Peri yang terbang menuju ribuan pasukan didepannya dan merekapun tak gentar untuk maju. Para prajurit bersiap dengan pedangnya menuju Lioganth, namun dengan sigap makhluk itu menusukkan tanduknya lalu mencakar-cakar mereka dengan sadis. Cakarannya mampu merobek daging tubuh hingga tulang. Darah segar dari prajurit, tak disia-siakan Lioganth; mereka menjilat dan menghisapnya. Mengerikan.

Adu pedang terlihat pada kaum Dragosith, mereka cukup lihai memainkan pedangnya namun prajurit Peri tak kalah hebat. Beberapa kaum Dragosith tewas oleh prajurit kami. Beberapa prajurit berhasil menebas kepala mereka hingga putus. Jasad kaum Dragosith yang tewas berubah menjadi pasir hitam.

Sementara itu, para Petinggi Peri bergabung menguatkan kekuatan untuk menyerang gerombolan Troll besar yang nampaknya cukup sulit untuk ditaklukan apalagi dengan jumlah makhluk itu yang tak sebanding dengan jumlah kami. Aglond menggunakan sihirnya dengan mengubah beberapa Lioganth menjadi batu, lalu ia tendang hingga hancur berkeping-keping. Kemudian, ia menusuk jantung dan menebas para Dragosith hingga mereka tewas.

Para Petinggi Peri mengetahui kelemahan pada Troll besar itu, dengan cepat mereka mencongkel matanya. Beberapa Troll besar kesakitan dan mundur, serta ada yang langsung tewas saat ditusuk tepat dijantungnya. Salah satu Petinggi Negeri Peri tewas akibat pukulan Troll yang bertubi-tubi ke kepalanya.

Akupun sudah menebas hampir lima Lioganth dan tujuh Dragosith. Tak kuketahui dari arah belakang seorang Dragosith menusuk bahu kiriku. Aku langsung berbalik lalu menebas kepalanya. Tusukan ini membuat bahu kiriku mati rasa; tak mampu digerakkan.

Dari kejauhan datang pasukan dari Negeri Sihir sekitar lima ratus, mereka menunggangi kudanya secepat kilat. Mereka membantu prajurit Peri memerangi Xothurn. Dengan pedangnya, para Petinggi Sihir serta prajuritnya melawan gerombolan Troll yang berjalan ke arah mereka. Lalu mereka juga ambil bagian menusuk para Lioganth dan Dragosith. Syukurlah bantuan telah datang.

Xothurn belum beranjak dari posisinya sejak tadi. Ia menggerakkan kepalanya perlahan dari kanan ke kiri dan sebaliknya berulang-ulang seperti sedang mencari sesuatu.

Bukan sesuatu, dia sedang mencari seseorang! Dia mencari Sang Bayangan, VERGAN!

Setelah menusuk satu Lioganth, aku terbang dengan cepat ke penjara kastil di belakang.

Teralis serta ruang penjara sudah hancur. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Dimana pemuda itu?

WHUUUSS

Hampir saja aku kena tebasan pedang seorang Dragosith, lalu aku adu pedang dengannya. Aku langsung menusuknya saat ada kesempatan. Ia tewas, kemudian aku terbang kembali ke medan pertempuran. Dari atas sini terlihat begitu banyak makhluk yang tewas, mereka yang masih hidup tetap berjuang demi kemenangan.

Begitu pula aku.

Aku memegang pedangku lebih erat lagi, aku terbang dengan cepat menuju Xothurn. Mulutnya terlihat bergerak perlahan, bersiap untuk mengeluarkan api yang besar. Aku sudah siap-siap untuk menyingkir, tiba-tiba ada sesuatu yang mendorongku ke bawah hingga aku terjatuh dikerumunan medan perang. Apa itu yang mendorongku?

Saat ku melihat ke atas, terlihatlah seekor Naga Bersayap sangat besar yang bentuk dan warnanya mirip dengan Xothurn hanya saja sayapnya terlihat lebih kecil. Itu Vergan.

Oh, tidak! Kekuatan mereka bertambah.

Troll nampak gembira, begitu pula kaum Dragosith tak bersayap dan Lioganth. Makhluk terkutuk itu kembali menyerang prajuritku, yang jumlahnya makin sedikit dengan semangat yang berapi-api.

Xothurn terbang perlahan mengepakkan sayapnya menuju Vergan, Sang Bayangannya.

Lalu tiba-tiba Vergan menyemburkan api kepada Xothurn, membuat Sang Naga itu mundur dengan cepat ke belakang. Xothurn kaget dan ia terlihat marah; ia menyemburkan api yang benar-benar sangat besar ke arah langit. Seketika Negeri Peri berubah merah.

Xothurn yang marah itu mengeluarkan sihir kilat dari mulutnya menuju Kastil Peri. Seketika itu juga Kastil Peri meledak, hancur berkeping-keping. Vergan terbang menuju Xothurn dan mendorongnya ke belakang hingga terjatuh, lalu Xothurn bangkit dan menyemburkan api besar ke arah Vergan. Vergan tak tinggal diam, ia pun menyemburkan api yang tak kalah dahsyat ke arah Xothurn. Dan terjadilah adu kekuatan diantara mereka.

Vergan mendorong Xothurn kembali, lalu Xothurn mendorong tubuh Vergan lebih keras. Ia menggigit leher Vergan hingga berdarah. Lalu Vergan mengepakkan sayapnya berulang kali hingga gigitannya terlepas. Vergan terbang ke langit dan disusul oleh Xothurn. Mereka terbang jauh sekali hingga tidak terlihat oleh mata Peri-ku. Kini aku mengangkat pedangku untuk menghantam kepala Troll bau. Kulihat Aglond masih terus berjuang melawan kawanan Lioganth. Jumlah mereka sangat banyak.

Teringat akan kata-kata Ibuku, makhluk kejam inilah yang membuat Dunia Tepi menjadi tidak aman. Makhluk kejam inilah yang membuat Ibuku tewas. Tak akan kubiarkan mereka hidup terlalu lama.

BHUUUGG!!

Tiba-tiba seekor Naga jatuh dari langit, membuat tanah sedikit retak. Naga itu jatuh dan tak bergerak. Luka diperutnya menganga lebar mengeluarkan darah hijau menjijikan.

Itu Xothurn atau Vergan?

Tak lama kemudian seorang pemuda terjatuh dari langit. Sudah pasti itu Vergan. Ia telungkup, lemas. Dengan cepat Aglond menghampiri pemuda itu dengan mata yang basah. Ia mengangkat kepalanya dan mengusap wajah luka Vergan.

Sementara itu, tubuh Xothurn perlahan berubah menjadi gundukan pasir hitam. Melihat Penyihir Dragosith bersayap telah tewas, para makhluk terkutuk seluruhnya bergerak mundur menyisakan jasad prajurit yang gugur dimedan perang.

Aku berjalan menuju Aglond, sayapku tak kuat lagi untuk terbang. Bahu kiriku semakin mati rasa dan nyeri. Aku lepaskan pedangku dan berjalan perlahan. Aku memegang pundak Aglond lalu memperhatikan pemuda polos dihadapanku.

“Bukan seperti ini Nak, yang aku inginkan darimu. Aku tidak ingin…” ucapan Aglond terhenti karena ia terisak. “aku tidak ingin kau pergi, Nak.” Katanya. Lalu ia mengecup kening Vergan dengan kasih sayang.

“Aku mau…kalian bahagia. Dia…sangat kuat. Hati kecilku berkata…kalau cuma aku yang…dapat memusnahkannya. Aku…” Vergan memandang wajah Aglond dengan tersenyum. Ada aliran airmata dari sudut matanya.

“Aku ingin…kau…tahu Aglond, aku…sangat menyayangimu.” Vergan menyentuh wajah keriput Penyihir itu dengan jarinya dan kemudian terlepas. “Aku lebih menyayangimu, Nak. Selamat jalan, terima kasih.” Aglond tertunduk, ia mengeluarkan airmata lebih deras lagi. Aku melingkarkan tanganku didadanya dan memeluknya dari belakang. Terlihat para Petinggi Peri serta prajurit yang masih tersisa menurunkan pedangnya serentak dan berlutut pada jasad pemuda itu.

Anehnya tubuhnya tidak berubah menjadi pasir hitam.

Mengapa?

Aku tak tahu.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Bayangan Penyihir Dragosith

  1. Yeeey! Pertamax! :D

    Pertama saya mau minta maaf karena sudah menjadi tetangga yang buruk. Padahal lapaknya bersebelahan tapi saya baru mampir sekarang. Hehehe.

    Ini cerpen fantasi konvensional yang cukup seru. Peri, penyihir, naga, all that jazz. Penuturannya juga tidak begitu ribet. Good job.

    Overal 3/5. Good luck ya!

    Monggo mampir ke 117 jika sempat! :D

    • Gemmyni says:

      Saya juga minta maaf karena membalas terlalu lama dan blm kunjung mengetuk lapakmu, hehe..
      Terima kasih banyak ya :D
      Aku akan ke lapakmu sekarang jg, hiiiyyaaahh… *terbang

  2. negeri tak pernah-48 says:

    Kalau cerita fantasi itu makanan, ceritamu nasi timbel komplit. Lengkap. <<lagi lapar

    Overall, narasi oke, penulisan rapi, deksripsi oke. Perangnya berlangsung cepat tapi ga kerasa di fast-forward. Alur cerita sampe ending boleh dibilang ketebak sih, tapi ga jelek juga.

    Malang nasib Dreigg. Di waktu perang, namanya berubah jadi Drigg. Dia frustasi, lalu disembur napas naga. Matilah dia.

    Umm, Aglond cowo apa cewe ya?

    Begitulah… Mampir ke nomer 48 juga yaa :D

    • Gemmyni says:

      hallo, maaf ya baru membalas sekarang.. hehehe, saya ngga liat Dreigg nya berubah. Pas udh dikirim baru liat lagi, itu salah satu kesalahanku.. Pasti masih banyak, baru 2 yg mampir. hehe.. terima kasih banyak ya :D
      Oh iya, Aglond itu cowo. Ngga tergambar ya, maaf ya :’(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>