Belum Ada Judul

karya  Aicchun

Jika kau pergi lurus menembus batas kesadaranmu, kau akan menemukan dirimu di sebuah rumah kecil yang nyaman dengan cat kuningnya dan juga sulur-sulur dari tanaman yang ditanam oleh sang pemilik rumah. Rumah itu berdiri dengan kokoh di tengah-tengah padang rumput hijau. Pemilik rumah itu tampak tengah menyirami tanamannya agar tumbuh dan bisa memekarkan bunga-bunga yang indah di dinding rumahnya.

Meskipun matahari bersinar terik, sang pemilik rumah dengan kalung berbandul kunci itu tidak tampak kelelahan sedikitpun. Ia masih tersenyum sembari melantunkan beberapa bait lagu kesukaannya sambil menyirami tanamannya.

Pemilik rumah itu seorang pemuda tampan. Sangat tampan, ditambah kaus longgar berwarna merah serta rompi putihnya, celana training berwarna hitam, rambut kecoklatan yang bersinar, mata hitam tajam –namun terlihat sangat ramah dan teduh, juga jangan lupakan kedua buah gingsul di gigi putihnya yang menambahkan kesan manis.

Pemuda tampan itu tampak menikmati kegiatannya. Namun, tak lama kemudian terdengar suara bel yang sangat nyaring dari dalam rumahnya. Pemuda itu sedikit tersentak kaget. Dengan cepat dia segera masuk ke dalam rumah kecilnya.

“Romeo, ada tamu ya?” Tanya pemuda tampan itu ke kucing putih miliknya. Sang kucing hanya mengeong lalu turun dari atas tempat tidur sang pemuda tampan. kucing putih itu berjalan menuju sebuah pintu yang memiliki banyak gembok dan kunci. Sekitar 7 gembok besar dan 7 kunci

Ia mengambil sebuah notes berwarna hijau muda di meja nakas miliknya. “Hm.. kali ini seorang perempuan heh? Yah.. berharap saja perempuan itu bisa diajak bicara dan bisa menerima dunia ini.” Gumam pemuda itu.

“Romeo,” Panggilnya. “Kuharap kau tidak berbuat nakal lagi ke tamu kita. Itu cukup membuatku kerepotan..” Pemuda itu berjalan ke arah pintu di depan Romeo.

Masih segar dalam ingatannya ketika Romeo mengerjai habis-habisan tamu mereka sampai membuat tamu mereka hilang di dunia ini.

“Aku tak ingin dia salah sangka dan tersesat seperti tamu sebelumnya.” Pemuda itu sedikit melirik kesal ke arah Romeo yang sedang menjilati kuku-kukunya dengan polos. “Haah.. dasar kucing..” Lirih pemuda itu.

Pemuda tampan itu mengeluarkan kalungnya yang berbandulkan kunci perak. Pemuda itu mulai membuka satu persatu gembok di pintu dengan kunci peraknya. “Selesai.” Katanya pelan ketika gembok paling akhir dibukanya.

Dengan sekali dorongan kecil dari pemuda tampan itu, pintu kayu berukir bunga-bunga, matahari, dan bulan terbuka. Menampilkan cahaya biru yang sangat menyilaukan. Dengan beberapa kerlap-kerlip yang tampak melayang dan juga sedikit asap –kabut berwarna putih.

“Selamat datang di rumahku.”

*

Dari kejauhan, terlihat seorang gadis berambut kuning pucat panjang –yang dibiarkan tergerai dengan indah, sedang berjalan dengan piyama pink motif gajahnya. Gadis itu terlihat kebingungan dengan lorong berkabut putih yang ia lewati.

“Dimana ini?” Gumam gadis bermata biru itu. “Aku takut..” Gadis itu menggenggam erat ujung piyamanya dan berjalan dengan sedikit takut.

Mata gadis itu dari tadi melirik-lirik ke samping kanan dan kirinya. Berharap tak ada yang bisa membuatnya makin takut dan juga berharap dapat menemukan pintu keluar dari kabut ini menuju ranjang pinknya yang sangat empuk.

Seingatnya, tadi ia berada di kamarnya yang penuh dengan renda-renda dan boneka-boneka. Ia sudah menggosok giginya lalu bersiap untuk tidur. Lalu, setelah merapatkan selimut tebalnya yang lembut, ia menutup mata dan tak lama kemudian terbangun di tempat seperti ini dalam keadaan berdiri dan bertelanjang kaki.

Lantai yang dipijaknya memang tak terlalu dingin, malah hangat. Membuatnya kembali mengantuk karena kehangatan lantai itu. Namun, ia tetap berusaha untuk berjalan lagi. Terus berjalan ke ujung lorong panjang ini agar bisa keluar.

Harapannya terkabul ketika melihat cahaya menyilaukan di depannya.

“Pasti itu jalan keluar!” Serunya girang. Dengan tergesa, ia berlari menuju cahaya putih itu.

*

“Selamat datang di rumahku.” Sambut si pemuda tampan sambil tersenyum. “Namaku Thuver Orpicilus. Kau bisa memanggilku ‘Thuver’. Salam kenal.” Sapanya hangat ke seorang gadis berambut kuning pucat di balik kabut putih itu.

Sang gadis keluar. Menampilkan wujudnya ke hadapan pemuda yang lebih tinggi darinya sekitar lima sentimeter. Thuver mempersilahkan gadis itu untuk masuk dan membimbing tamu-nya untuk duduk di ruangan yang terlihat seperti ruang tamu.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” Tanya Thuver lalu duduk di sofa bersebrangan dengan gadis manis itu.

Sang gadis yang ditanya malah terbengong dengan keadaan sekitarnya. ‘Dimana aku..?’ Batinnya.

Thuver yang sedikit kesal karena diacuhkan, menjentikkan jarinya di depan wajah putih gadis itu. “Hei?”

Terkejut, gadis itu menundukkan kepalanya –meminta maaf. “Aku tanya sekali lagi, nona. Siapa namamu?” Tanya Thuver ramah.

Bola mata gadis itu tampak bergerak gelisah. “Na-namaku Jean..” Bisiknya pelan.

Thuver menaikkan alisnya. “Maaf?”

“Jean. Namaku Jean Merrybell.” Kata gadis manis itu dengan suara sedikit lebih keras dari sebelumnya. Mendatangkan sebuah senyuman hangat dari Thuver. Ia menyenderkan punggungnya ke sofa krem itu.

“Nah, Jean,” Panggil Thuver. “Apa kau tahu kenapa kau ada di sini?”

Jean menggeleng pelan. “Tidak. Aku dimana sekarang?”

Thuver tersenyum lagi. “Kau sedang berada di batas kesadaranmu.”

“Batas kesadaran?”

“Ya.” Dia menutup matanya lama lalu membukanya lagi. “Dimana ketika kau ingin tidur, kau sebelumnya akan melewati tempat ini terlebih dahulu. Hingga aku membantumu menuju ketempat mimpimu berada.” Jelas Thuver. Bersamaan dengan itu, kucingnya –Romeo melompat ke pangkuannya dan menggulung tubuhnya di pangkuan Thuver.

“Sebelumnya, kau pasti haus ‘kan?” Tanya Thuver. Dengan cepat, ia menjentikkan jarinya dan muncul sebuah cangkir berisi teh berwarna hijau di meja depan Jean dan juga di depannya. Beserta sepiring kue-kue kering sebagai pendamping. “Minumlah.” Tawar Thuver dan menyeruput tehnya sendiri.

Dengan sedikit ragu, Jean mengambil cangkir porselen berwarna putih polos itu dengan kedua tangannya. Sedikit mendekatkan bibir cangkir dengan bibirnya.

“Nyaa~”

Suara dari kucing putih milik Thuver membuat Jean menghentikan gerakannya. “Ada apa Romeo?” Tanya Thuver ketika mendengar kucing kesayangannya mengeong tiba-tiba.

Romeo melompat dari pangkuan pemiliknya. “Romeo?”

Kucing putih itu melirik sekilas ke arah Thuver dan keluar di balik pintu rumah mereka. “Ah.. mungkin dia sedang ingin jalan-jalan sebentar.” Kata Thuver mengambil keputusan. Ia melirik ke arah Jean yang masih terpaku melihat pintu rumahnya.

“Jean?” Panggil Thuver lagi. “Kau melamun..”

Terkejut, Jean tersentak dan sadar dari lamunannya. “Ada apa?” Tanya Thuver.

Jean menunjuk ke pintu rumah Thuver yang memang sedikit terbuka, jika dilihat dari posisi Jean sekarang, ia dapat melihat keluar rumah dengan jelas. “Aku sedikit penasaran dengan keadaan diluar.. Apa itu padang rumput?” Tanya Jean.

Thuver mengangguk. “Baiklah. Aku akan mengajakmu berkeliling di sini serta memberi tahu lebih lengkap mengenai misiku.”

Mendengar ucapan Thuver yang terlihat meyakinkan, mata Jean langsung berbinar. “Benarkah?”

“Tentu saja.” Thuver tersenyum lalu menyeruput tehnya lagi. “Sebelum itu, isi dulu perutmu. Kau pasti belum makan malam bukan?” Thuver kembali tersenyum lembut ke arah Jean.

Jean terpaku. Dengan canggung, ia meminum teh herbal buatan Thuver yang diakuinya memang terasa sangat menyegarkan dan enak. Namun, satu hal yang membuatnya penasaran..

‘Kenapa dia bisa tahu kalau aku belum makan malam?’ Batin Jean bingung.

*

Sekarang, Jean terlihat tengah berlarian di hamparan padang rumput yang luas. Setelah memakan cemilan mereka, sesuai dengan janji Thuver, ia akan mengantarkan Jean untuk melihat-lihat terlebih dulu. Sedangkan, orang yang mengajak kini hanya memandang gadis manis itu dari jauh dengan tatapan lembut.

“Jean! Hati-hati!!” Seru Thuver tiba-tiba. Membuat Jean menghentikan larinya dengan reflek. Tak sampai setengah detik, Jean kehilangan keseimbangannya karena rem mendadak barusan dan jatuh ke padang rumput luas itu.

Melihat Jean yang terjatuh, Thuver segera berlari ke arah Jean. “Jean!!”

“Kh..” Rintih Jean. Dia bisa melihat ada sebercak darah merah di lututnya.

Thuver mendekati Jean dan mencoba menenangkan Jean yang terus-terusan merintih. “Sudah kubilang untuk berhati-hati, bukan? Kenapa kau masih bisa terjatuh, eh?”

Jean memajukan bibirnya imut. “Bukan salahku! Kau yang memanggilku tiba-tiba ‘kan?” Jean membela dirinya sendiri.

Thuver mendesah pasrah dan mengacak rambut kuning pucat Jean. “Iya.. Maafkan aku kalau begitu.” Jean tersenyum senang. “Ini tidak akan sakit. Sebentar ya,”

Thuver mendekatkan jari telunjuk kanannya ke arah luka Jean. Perlahan demi perlahan, luka itu menutup dan tak menimbulkan bekas lagi. Membuat Jean berdecak kagum.

“Wah.. Kau hebat Thuver!” Jean menyamankan dirinya duduk di atas rumput. Diikuti oleh Thuver yang juga duduk disebelahnya.

“Tentu saja. Aku ‘kan seorang penjaga pintu. Aku harus bisa menguasai hal-hal kecil seperti ini untuk menjaga tamu-ku tetap selamat sampai tujuan.” Kata Thuver melirik ke arah Jean.

Mendengar kata ‘penjaga pintu’, Jean mengernyitkan dahinya. “Oia, katanya kau ingin memberitahuku tentang misimu ‘kan?” Tanya Jean penasaran.

“Ah.. Benar juga.”  Thuver menjentikkan jarinya –menandakan kalau ia baru saja mengingatnya.

“Aku mendengarkan.” Jean lalu memposisikan dirinya menghadap Thuver dan memeluk kakinya erat.

Thuver terdiam dan mengambil nafas. “Jadi, tempat ini namanya ‘Gerbang’. Di Gerbang inilah tempatku tinggal dan beberapa penjaga pintu lainnya tinggal.” Thuver menghentikan kalimatnya.

Sebelum Jean berbicara, Thuver memotongnya. “Tapi kau tak akan melihat penjaga lain di sini. Mereka berada di Gerbangnya masing-masing. Dan inilah Gerbang milikku. Gerbang adalah tempat dimana perbatasan antara dunia nyata dan juga dunia mimpi. Sebelum kau menjejakkan kakimu di dunia mimpi, kau –tidak.. Bukan kau saja. Namun, Semua tamu diwajibkan untuk melewati Gerbang milik penjaga kuncinya.”

Thuver mengambil nafas lagi. Sedikit melirik Jean yang antusias mendengarkan penjelasannya. “Setiap orang di dunia ini hanya bisa mengunjungi tempat ini sekali seumur hidupnya. Ketika kau tertidur lagi untuk esok harinya, kau tak akan merasakan pengalaman seperti ini. Para petinggi mimpi sudah menetapkan seperti itu.”

Jean mengedipkan matanya. “Jadi, aku hanya bisa merasakannya sekarang? Untuk kedepannya aku tak akan merasakan hal seperti ini?” Tanya Jean.

Thuver mengangguk. “Memangnya kenapa?”

“Aku sudah menganggapmu seperti keluargaku.. Ini terdengar gila mengingat kita hanya bertemu beberapa menit yang lalu. Ahahaha..” Jean tertawa pelan sambil menggaruk leher belakangnya.

Thuver mengacak rambut Jean. “Aku tahu masa lalumu, Jean.. “

Jean mengadah unutk melihat wajah Thuver yang kini kembali tersenyum hangat untuknya. “Dari mana kau-”

“Aku tahu segalanya tentangmu.” Ucap Thuver dengan senyuman. Membuat Jean terpaku beberapa detik karena kata-katanya barusan.

Thuver bangkit dari duduknya. “Nah, sekarang kita harus bersiap-siap untuk berangkat ke mimpimu.” Thuver menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor. Pemuda tampan itu mengulurkan tangannya ke Jean –mengajaknya untuk bangkit.

Jean menerima uluran tangan Thuver. “Terima kasih.” Kata Jean dengan sedikit tersenyum kaku. Gadis berpiyama ini masih sedikit syok dengan apa yang barusan Thuver katakana padanya. Sejak kapan dia mengenal Thuver di dunia nyata?

“Ayo kembali ke rumah. Aku akan menyiapkan beberapa perlengkapan.” Ajak Thuver. Jean hanya mengikutinya dari belakang.

*

“Ayo berangkat.” Ajak Thuver.

“Bagaimana degan kucingmu?” Tanya Jean bingung. “Dia ikut?”

Thuver menggeleng. “Tidak. Dia memang sudah terbiasa menjaga rumah kok. Lagipula, Aku tak ingin membahayakan keselamatannya.” Thuver membuka pintu rumahnya, menampilkan padang rumput luas dengan langit biru yang tak kalah luas. “Kita pergi sekarang?”

Jean tak bergeming sedikitpun. ‘Membahayakan keselamatan katanya? Apa ini akan menjadi perjalanan yang berbahaya?’ Batin Jean.

“Jean?” Panggil Thuver yang kini berada di luar rumah –menunggu Jean.

“Oh, iya..” Jean lalu menyusul Thuver pergi.

Mereka mulai berjalan menjauhi rumah Thuver. Kini mereka tak lagi berada di padang rumput lagi. Sebuah sungai yang lumayan besar menghadang mereka. Air sungai itu sangat jernih, sehingga Jean dapat melihat ikan-ikan yang berenang bebas di dalam sungai itu.

“Wah.. Tak kusangka di sini juga mempunyai sungai sejernih ini..” Kagum Jean. Ia tersenyum lebar lalu memasukkan tangan kanannya ke dalam air sungai. Jean sedikit tersentak ketika kulitnya menyentuh air sungai yang dingin.

“Sebaiknya kau berhati-hati dengan tanganmu, Jean. Kadang, di sungai ini muncul ikan pemangsa.” Ingat Thuver. Reflek, Jean menarik tangannya cepat.

Thuver terkekeh pelan melihat tingkah Jean barusan. “Oia, sekarang sudah tengah hari ya?” Tanya Thuver.

Jean menggeleng. “Entahlah. Memangnya ada apa? Apa ada monster yang akan datang?” Kata Jean sedikit takut.

“Tidak.. hanya saja kurasa ini sudah waktunya untuk makan siang.”

Thuver meletakkan tas punggungnya dan mengambil beberapa bahan makanan dari tas itu. “Kita berhenti di sini sebentar. Aku akan mencari kayu bakar.” Kata Thuver. Jean mendudukkan dirinya di sebuah batu yang lumayan besar di samping sungai itu. “Jean, apa kau bisa membantu menyiapkan bahan makanannya?” Tanya Thuver lembut.

Jean mengangguk. “Tentu saja.”

“Baiklah. Aku tak akan lama.” Thuver lalu pergi ke arah selatan meninggalkan Jean sendiri.

Merasa sedikit bosan, Jean memutuskan untuk menyiapkan bahan makan siang mereka –sesuai dengan permintaan Thuver. Gadis manis yang masih memakai piyama pinknya ini menyusun rapi beberapa sayuran dan juga daging ayam yang tadi mereka bawa dari rumah. Tangannya yang terampil mengambil pisau dan memotong sayuran-sayuran yang sebelumnya dibasahi dulu dengan air sungai.

Poni kuning pucatnya menutupi hampir sebagian mata Jean ketika ia sedang menunduk. Membuat gadis berumur kurang lebih 15 tahun itu berdecih pelan. Dengan sigap, ia menyelipkan poninya ke telinga kanan. Senyumnya mengembang. Sudah lama ia tidak melakukan hal seperti ini.

Perasaan ketika ia memasak di alam bebas bersama seseorang. Seperti sedang melakukan camping. Ia selalu menginginkan saat-saat seperti ini. Jean tak pernah melakukan camping lagi setelah kejadian yang menimpanya dan keluarganya.

Tangan Jean tiba-tiba berhenti perlahan ketika ia mengingat keluarganya. Matanya berubah menjadi sendu. Wajahnya yang semula cerah berubah menjadi gelap.

“Ah, sudahlah Jean.. Lupakan masa lalumu.” Hibur Jean untuk dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya keras –berharap ia bisa melupakan tentang masa lalu kejam yang menimpanya dan juga keluarga tercintanya.

Jean kembali berkutat dengan sayurannya. Tak lama setelah itu, terlihat dari kejauhan Thuver tengah melambai ke arahnya sambil membawa beberapa batang kayu bakar.

“Lama sekali?” Jean membantu Thuver untuk menyusun kayu bakarnya.

“Mencari kayu bakar di padang rumput luas seperti ini tak semudah yang kau bayangkan.” Jawab Thuver sembari mendudukkan dirinya di rumput. “Aah.. Aku lapar..”

“Tunggu sebentar. Setelah ini, kau bisa makan sepuasnya.” Jean tersenyum ke arah Thuver. Thuver hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Saat masakan mereka selesai, Thuver langsung memakan makanannya dengan cepat. Sepertinya Thuver memang benar-benar kelaparan. Jean terkikik pelan melihat cara makan Thuver yang mengingatkannya ke kakak laki-lakinya.

Trek

Thuver melihat Jean menundukkan kepalanya. Piring berisi makanan yang tinggal setengahnya tersisa itu diletakkannya di atas rerumputan. “Kau sudah kenyang?” Tanya Thuver bingung.

“Ada apa?” Penasaran, Thuver meletakkan piring kosong itu di sampingnya. “Kau tidak apa-apa ‘kan Jean? Apa kau sakit? Masih bisa melanjutkan perjalanan kita?” Tanya Thuver tanpa henti.

“Tidak ada apa-apa..” Jean mengadahkan kepalanya hingga matanya bertemu dengan manik hitam milik Thuver. “Hanya teringat sesuatu yang familiar.” Kata Jean dengan senyuman. “Ah, aku sudah kenyang.”

Thuver mengernyitkan dahinya. Mencoba mencari kebenaran di mata Jean. “Baiklah kalau begitu..” Pemuda tampan itu mencuci piringnya dan piring Jean. Lalu sedikit mengelapnya agar tidak basah dan memasukkannya kembali ke tas punggungnya.

Jean juga merapikan peralatan-peralatan yang tadi mereka gunakan dan memasukkannya ke tas selempangnya. “Thuver, apinya?”

Thuver berbalik. Ia menjentikkan jarinya dan dengan itu, segumpal air dari sungai melayang dan tumpah ke atas api unggung yang tadi mereka buat. “Ayo. Kalau sudah terlalu sore, makhluk-makhluk aneh akan berdatangan ke sungai ini.”

Jean bergidik. Dengan cepat, ia menyambar punggung Thuver dan menggenggam erat rompi putih yang dikenakan Thuver. Pemuda tampan itu hanya tersenyum tipis dan berjalan –membuat Jean juga otomatis ikut berjalan.

*

Hari sudah semakin gelap. Thuver dan Jean masih berjalan di padang rumput yang rasanya tak ada batasnya. Kemanapun mata memandang, yang ada hanya padang rumput yang berwarna keemasan karena efek dari cahaya matahari tenggelam.

Angin lembut menerpa wajah Jean. Membuat sang gadis mengadahkan kepalanya untuk merasakan kenyamanan dari sang angin yang seolah-olah ingin memeluknya. Jean sudah terlalu lelah berjalan. Meskipun ia beruntung karena dipinjami sepasang sepatu berwana merah milik Thuver yang ia akui cukup membantu daripada ia harus bertelanjang kaki.

Tapi, rasa lelah itu tak bisa disembunyikan lagi. Jean menghentikan langkahnya. Mencoba mengatur nafasnya yang entah kenapa dari tadi memburu. Dia sedikit berjongkok. Tangan kanannya ia gunakan untuk menahan tubuh rampingnya.

“Thuver.. Tunggu sebentar..” Panggil Jean. Thuver berbalik.

“Ada ap-JEAN!!!” Reflek, Thuver berteriak ketika melihat sesosok makhluk hitam di balik Jean.

Jean membalikkan badannya. Seketika, matanya terbelak lebar. Jean melihat sosok hitam itu membawa jam pasir berwarna emas. Tubuhnya melemas, dan tak bisa ditahan lagi, ia terduduk di rumput.

Thuver segera berlari ke arah Jean. Ia lalu memeluk gadis berambut kuning pucat itu. Dari tangan kanannya, keluar sebuah cahaya yang menyelimuti mereka, membentuk sebuah pelindung seperti barrier. Sosok hitam itu mengerang.

“AAAAAARRH!!!!!!” Cepat, sosok hitam itu mencoba menerkam mereka. Sosok hitam itu memukul-mukul barrier putih yang dibuat Thuver. “BUUUKHAARGH!!!” Teriak sosok hitam itu.

Thuver makin mengeratkan pelukannya ke Jean ketika dirasakannya gadis manis itu bergetar hebat. Sosok hitam itu terus mencoba membuka barriernya. Membuat Thuver harus menggunakan tenaga ekstra untuk menahan barriernya agar tidak pecah.

“CHANGE!!!” Thuver berteriak. Dengan sekejap, Thuver dan Jean menghilang bersama barrier itu.

Kini mereka berada di bawah pohon besar yang berdaun lebat. Thuver yang masih memeluk Jean mencoba mengatur nafasnya yang terputus-putus. Sudah lama Thuver tak menggunakan sihir itu lagi. Dan karena itu, tenaganya berkurang drastis.

“Thuver..” Lirih Jean menatap Thuver yang tampak sangat kelelahan.

Thuver menggeleng.  Tangannya mengacak rambut Jean. “Kau akan menemukan mimpimu di balik pohon ini..” Thuver menopang tubuhnya ke batang pohon besar itu. Jean menggeleng. Gadis bermata biru itu membantu Thuver menopang tubuhnya.

“Masuklah, Jean! Di sini berbahaya!” Seru Thuver di tengah gelapnya malam. Ya, matahari sudah terbenam tadi. Jean menggeleng. Dengan sekali tarik, Thuver membawa Jean ke belakang pohon besar itu. Menunjukkan sebuah pintu kayu. “Masuk!”

Lagi-lagi Jean menggeleng. Thuver yang merasa kesadarannya makin melemah segera membuka pintu itu. Ia mendorong Jean masuk. “Thuver!!” Jean berteriak kencang ketika pintunya di tutup oleh Thuver.

Bersamaan dengan itu, tubuh Thuver terjatuh ke tanah.

*

Jean tahu ini tempat apa. Ini adalah ruang keluarga di rumahnya. Kenapa ia bisa berada di sini? Jean melihat beberapa orang yang duduk di sofa. Matanya membesar, bibirnya bergetar. Ingin sekali ia memeluk tiga orang yang duduk santai sambil bercanda di depannya itu.

“Oh, Jean? Kemarilah sayang..” Seorang wanita cantik memanggilnya agar duduk di sofa juga.

“Jean? Dari mana saja?” Kali ini suara bass dari sosok pria yang tengah memeluk pinggang wanita cantik tadi. Jean tetap berdiri terpaku.

“Jean.. Selamat datang kembali.” Jean mengenal suara itu. Suara kakaknya. Suara pemuda tampan yang mempunyai dua buah gingsul manis. Suara Thuver..

Dengan cepat, Jean berlari kepelukan sang kakak. Jean memeluknya erat. Tak lama, wanita dan pria tadi menghampiri mereka dan memeluk kedua anaknya erat. “Aku merindukan kalian..” Bisik Jean dengan sedikit terisak.

*

“Tugasmu selesai.” Sebuah suara membangunkan pemuda tampan dari tidurnya. Ia merasakan sakit di bagian kepalanya. “Terima kasih,” Sosok itu kemudian menjilati bulunya lagi.

Thuver tersenyum lembut. “Sudah sewajibnya seorang kakak harus menjaganya.”

*

Matahari mulai bersinar. Burung-burung berkicauan. Seorang gadis manis membuka matanya perlahan. Ia tersenyum manis. “Terima kasih, Kakak.”

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Belum Ada Judul

  1. xeno says:

    Halo Aicchun. Salam kenal. :)

    Wah, idenya manis, ya. Dunia antara mimpi tidur dan kenyataan. Hanya saja, mungkin alur dan motifnya masih butuh diperjelas, mulai perpindahan seting belum cukup halus hingga latar belakang Jea, Thuver serta Oliver. Apalagi judulnya itu yang belum ada. Ahahahaha…. XD

    Itu saja dulu. Tetap semangat! :)

  2. frenco says:

    belum ada judul? sekarang sudah ada judulnya kan, yaitu Belum Ada Judul. hehehe

    senada dg komentator di atas, motif Thuver itu mesti diperjelas. Cerita di awal sampai ke tengah agak membosankan (sorry). Baru ke bagian akhir, menjadi lumayan seru.

    masalah penulisan kalimat langsung

    “Selamat datang di rumahku.” Sambut si pemuda tampan sambil tersenyum.

    semestinya demikian

    “Selamat datang di rumahku,” sambut si pemuda tampan sambil tersenyum.

    Kemudian, penggunaan tanda hubung (setrip pendek) juga keliru. Untuk pemisahan kalimat utama dengan kalimat tambahan informasi semestinya memakai koma atau tanda pisah (setrip panjang)

    Begitu saja, tetap semangat ya… jangan lupa membalas komentar saya di 218. hehe

  3. Jovyanca says:

    Salam kenal.Aicchun :D

    Idea ceritamoe menarik. Si Kakak yang sudah meninggal ternyata menjadi seorang penjaga kunci Gerbang antara dunia mimpi dan kenyataan, membantu Si Adik untuk bertemu kembali dengan keluarga mereka melalui mimpi ya. Sedeh juga karena ternyata perjalanan sebelum mimpi itu hanya bisa dilakukan sekali. Kalau tidak khan Jean bisa bertemu Thuver lagi.hehe..

    Gud luck & tetap semangat ^^

    PS. Kapan2 mampir ke tempatkoe ya di 129.
    #PromoMODe# :P

  4. katherin says:

    Tertarik karena judulnya. BTW itu sengaja judulnya seperti itu atau krn emang gak kepikir judul?
    Idenya menarik. Dunia antara kenyataan dan mimpi.

    Sayangnya, plotnya kurang fokus dengan adegan2 yang sebenarnya tidak perlu (ex. jalan2 ke padang rumput).

    Anyway, good luck…

  5. Salam kenal ya Ai :D

    Ide ceritanya menarik banget, penulisannya juga cukup rapih kok menurutku. Tapi gw sempet agak bingung sama dunia ‘Gerbang’ itu sih. Hehe. Kenapa ada kebijakan bahwa setiap manusia hanya akan sekali saja melewati ‘Gerbang’ sebelum bermimpi ya? Jadi kalau ga lewat ‘Gerbang’, mereka lewat mana donk untuk masuk dunia mimpi? Ini cuman pengen tanya aja lho, bukan berarti jadi plothole di ceritanya :)

    Btw, serem banget di ‘Gerbang’ ada monster-monster juga. Haha.

    mampir di lapak 244 ya kalau sempat. Makasih :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>