Bocah Kertas

BOCAH KERTAS

karya Fredrik Nael

 

Ada beberapa hal yang dapat membangunkan seseorang dari tidurnya. Bagi si bocah, itu adalah kertas. Ia membuka matanya dan mendapati lembaran halaman buku tertiup angin menampari wajahnya. Ia tengah berbaring tengkurap berbantalkan buku yang terbuka. Ia yakin, ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Terdengar suara keramaian samar dan tercium bebauan harum lembut, menemani sensasi gatal dan pegal di beberapa bagian tubuh si bocah. Namun ia bangun, melawan pegal, dan mendapati ilalang berbunga ungu-lah yang tengah menggesek-gesek kulitnya. Tempat itu padang ilalang ungu. Ungu muda di mana-mana sampai ke kejauhan. Sudah berapa lama ia tertidur, bocah itu tak tahu. Dan lagi, bagaimana dirinya bisa ada di tempat ini, ia bertanya-tanya.

Bocah itu melihat ke sekeliling tempatnya berbaring. Tak ada petunjuk selain buku itu. Buku itu bersampul kulit, berukuran sedang, tidak terlalu tebal, dan ada bekas-bekas halaman yang dirobek. Isinya penuh dengan tulisan. Ia mengamati tulisan-tulisan itu lamat-lamat. Tidak ada satu pun yang dimengertinya. Dari banyak hal yang telah dilupakannya, ia malah teringat akan satu yang paling tidak berguna: Ia tidak bisa membaca.

Sial, batinnya.

Buku itu sepertinya penting. Tulisannya begitu banyak. Dan berhubung tidak ada petunjuk lain mengenai dirinya, ia memutuskan buku itu menjadi identitasnya.

Sambil memegang erat barang yang sekarang menjadi terpenting bagi hidupnya, bocah itu mengamati padang ilalang. Di ujung kejauhan satu, terlihat kumpulan makhluk beraneka wujud yang bergerak meninggalkan padang. Mereka-lah yang menimbulkan suara-suara. Mereka bergerak ke arah sumber cahaya di angkasa, sebuah bola lampu pijar raksasa. Di ujung kejauhan lain yang lebih dekat, tampak hutan temaram berisi pepohonan hijau besar berpucuk tinggi. Ada sesuatu berkilat-kilat yang memasuki hutan itu, dan sekilas, ia merasa melihat sesosok kegelapan yang bergerak. Di sisi lain padang, hanya ada bentangan ilalang ungu.

Bocah itu tengah memikirkan ke arah mana ia harus pergi sewaktu sekonyong-konyong selembar kertas melayang terbawa angin dan mendarat di wajahnya. Kertas itu bergambar tanda panah besar. Ketika ia membalikkan dan memutar-mutar kertasnya, tanda panah itu ikut bergerak-gerak tetapi terus kembali menunjuk ke arah yang sama. Ke hutan. Merasa tak punya banyak pilihan, ia pun mengikuti arah tanda panah dengan melintasi padang ilalang. Tak berapa lama, ia menemukan lembaran-lembaran lain yang berisi tanda panah yang sama. Semacam jejak kaki di hamparan pasir, kertas-kertas itu sepertinya adalah jejak juga dari siapa pun yang menggambarnya. Sesampainya di bibir hutan, bocah itu sudah mengumpulkan cukup banyak kertas, meski tak satu pun yang cocok dengan bekas-bekas sobekan di bukunya.

Saat mengamati kesuraman di hadapannya, bocah itu sempat ragu. Ia tidak takut gelap, namun hutan itu tak terlihat ramah. Di sisi lain, ia masih bisa melihat jejak-jejak kertas di lantai hutan. Maka setelah menimbang-nimbang, ia masuk.

Hutan itu pohon-pohonnya tidak terlalu rapat, namun semuanya tinggi-tinggi, besar-besar, dan daun-daun hijaunya begitu lebat sehingga tak berapa lama sesudah memasukinya, bocah itu mulai merindukan cahaya. Selain pepohonan, ia tak merasa ada makhluk lain di sana.

Sampai ia kehilangan jejak kertas itu.

Pada satu titik di perjalanannya, bocah itu menemukan kertas yang rusak. Ada seseorang atau sesuatu yang mencabik-cabiknya. Begitu secarik yang tercecer disentuh, semua sobekan meluruh menjadi serbuk-serbuk terang.

Ia mulai panik. Ia harus bergegas. Pada mulanya carikan-carikan kertas masih bisa ditemukan, tapi lama kelamaan yang tersisa hanyalah serbuk-serbuk terang. Ia semakin tertinggal, dan kegelapan semakin pekat.

Karena terburu-buru, ia tak memerhatikan jalan. Bocah itu jatuh tersungkur. Bukunya masih tergenggam erat di tangan, namun genggamannya pada kumpulan kertas penunjuk telah terlepas sehingga kertas-kertas itu pun melayang dan berserakan di lantai hutan.

Pada saat itu, gelap tak lagi bersahabat, sehingga ia merangkak-rangkak mencari serbuk-serbuk terang terdekat untuk membantunya penglihatannya. Ada sekumpulan yang tampak di dekat pangkal pohon di sebelah kirinya. Ia mendekat, hanya untuk menemukan sesuatu yang tak disangkanya.

Ada sebuah kitab besar yang halamannya terbuka.

Bocah itu mencoba menarik kitab, namun anehnya benda itu berat sekali dan tak mau bergerak. Karena kesal dan penasaran, ia pun meraba-raba pinggirannya guna mencari ujung lainnya, tetapi tangannya justru menyentuh sesuatu yang lain. Batang pohon yang dingin, yang pangkalnya setelah ditelusuri tidak menyentuh tanah, melainkan kertas halaman kitab. Karena keheranan ia lalu mendekati pohon-pohon lain dan mendapati semuanya sama saja. Karena keasyikan menyusuri jejak-jejak kertas, ia bahkan tidak menyadari akan kejanggalan hutan itu sebelumnya. Semua pohonnya tumbuh dari buku-buku.

Hutan apa ini, pikir si bocah. Mungkinkah para makhluk yang menjauhi padang ilalang tadi semuanya berbondong-bondong melarikan diri dari tempat ini?

Belum sempat melakukan hal lain, ia mendengar suara-suara. Ada gerakan dalam kegelapan yang mengelilinginya. Ada yang mendekat.

Bocah itu menahan nafas dan memerhatikan sekitarnya dengan tegang. Ia meraba-raba tanah di dekatnya, bermaksud mencari sesuatu untuk mempertahankan diri, namun yang terjadi berikutnya menghentikan usahanya.

Kertas-kertas bertanda panah yang berserakan di lantai hutan itu satu per satu tercabik-cabik dan berubah menjadi serbuk-serbuk terang.

Dalam keremangan cahaya dari serbuk-serbuk terang, bocah itu pun melihatnya. Sesosok bayangan gelap mengoyak-ngoyak kertas dengan bengis. Dan sang Bayangan tengah bergerak semakin mendekat ke arahnya.

Bocah itu mendekap erat-erat buku miliknya. Satu-satunya petunjuk identitasnya. Ada banyak sekali lembaran kertas penunjuk arah yang telah dikumpulkannya. Pastinya semua itu sudah cukup banyak bagi sang Bayangan, batinnya. Namun seberapa besar pun usahanya untuk menyangkal, ia tahu kalau sang Bayangan tidak akan puas. Entah kenapa sang Bayangan membenci kertas, dan pada akhirnya dia akan merasakan kehadiran kertas-kertas yang lain, yakni halaman-halaman bertulisan penting dalam buku si bocah.

Mendadak tempat itu hening. Tak ada lagi serbuk-serbuk terang yang terbentuk. Udara menjadi semakin dingin sewaktu sang Bayangan menghampiri bocah yang ketakutan. Kegelapan yang pekat menghalangi pandangan. Lalu jari-jari panjang terjulur. Bocah itu bergidik begitu ujung-ujung jari beku menyentuh permukaan kulit lengannya. Satu per satu meraih, menarik. Memaksa tangannya yang gemetar melepaskan dekapan pada buku itu. Sedikit demi sedikit, buku itu semakin bergeser. Lepas.

Namun keajaiban terjadi. Pohon-pohon bergetar keras, diikuti dengan suara yang memekakkan telinga sewaktu semua pohon roboh dan mendadak lenyap dari pandangan. Sesuatu jatuh dari langit, dan cahaya yang menyilaukan seketika memenuhi hutan. Bocah itu menutup matanya dengan spontan seiring dengan terdengarnya geraman mengerikan dari sang Bayangan. Genggaman beku itu terlepas, dan sang Bayangan menghilang.

Dengan perasaan lega, perlahan-lahan bocah itu membuka mata. Setelah terbiasa dengan cahaya, hal pertama yang dilihatnya adalah seekor burung kelabu kecil yang berbaring terlentang tak bergerak di antara sisa-sisa ceceran lembaran penunjuk. Burung itu sepertinya mati karena terjatuh dari pohon.

Bocah itu lalu merenggangkan kaki kanannya dan dengan hati-hati menyenggol tubuh burung itu dengan ujung kakinya. Tiba-tiba burung itu tersadar dan langsung melompat tegak berdiri.

“Cacing?! Di mana? DI MANAAA~!” serunya sambil melompat ke sana kemari dengan panik.

Setelah menyadari kalau tidak ada apa-apa di sekitarnya selain si bocah, burung itu pun menggumam kesal, “Bah. Mimpi lagi.”

“Kau … bisa bicara!” kata si bocah.

Burung itu menatap dengan pandangan bosan, lalu menjawab, “Hei, kau juga!” Nadanya jelas mengejek.

Tapi bocah itu sepertinya tidak merasa, karena ia berkata lagi, “Aku tidak pernah bertemu dengan burung yang bisa bicara…” Ia berpikir sejenak sebelum melanjutkan sambil tersenyum, “Tapi aku juga belum pernah bertemu dengan burung yang ketiduran sampai terjatuh dari pohon!”

“Jangan menyindir!” balas si burung dengan ketus. “Dan tentang ketiduran… GAWAT! Mereka meninggalkanku!”

“Mereka siapa?”

“Rombonganku! Siapa lagi?” Lalu dia mulai panik lagi, melompat-lompat sambil menggerutu, “Kenapa tak ada yang membangunkanku sih?! Kerja sama? Setia kawan? Apa-apaan?!”

“Kalau kau tertinggal, kenapa tidak langsung menyusul saja?” sela si bocah. “Atau jangan-jangan… kau tak bisa terbang ya?”

Burung itu langsung mengamuk. “Sembarangan!” Dia melompat pendek dan mengepak-ngepakkan kedua sayapnya dengan sombong. “Nah! Lihat siapa jagoannya sekarang!”

Bocah itu tidak membalas, melainkan hanya diam saja, menunggu.

Namun alih-alih pergi, burung itu malah mendarat lagi. “Aku tak bisa menyusul rombonganku,” keluhnya.

“Mengapa?”

“Kau tak memerhatikan ya?” Burung itu menunjuk ke atas dengan sayapnya.

Bocah itu menengok dan untuk pertama kalinya menyadari dari mana datangnya cahaya terang. Semua pohon hijau telah menghilang dan sekarang digantikan oleh jaring-jaring laba-laba yang membentang sempurna. Dari halaman-halaman kitab yang terbuka, sekarang menjulang “pohon-pohon” baru, yakni tiang-tiang jaring yang menyibak ke langit-langit rendah hutan. Sekarang hutan itu berubah menjadi hutan jaring laba-laba.

“Tak ada yang bisa menembus itu,” kata si burung.

Bocah itu mengambil batu dan melemparkannya ke arah bentangan jaring di atas kepala mereka. Benar saja, batu itu malah melekat ke jaring-jaring.

“Ke mana pohon-pohon yang tadi?” tanya si bocah.

“Buku-bukunya akan mengganti halaman mereka secara berkala,” jawab burung itu mengacu pada kitab-kitab besar yang baru beberapa saat lalu menumbuhkan pepohonan.

Bocah itu memandangi kitab terdekat dengan takjub. Kitab itu tebal, entah ada hal-hal apa lagi di halaman-halaman lain. Namun mendadak ia tersadar akan sesuatu yang mengerikan, “Kalau semua ini jaring laba-laba … bukankah seharusnya ada laba-labanya ya?”

Burung itu hanya menjawab sambil lalu, “Tenang saja. Mereka ada di halaman berikutnya kok.”

“Oh, syukurlah!” Si bocah menarik nafas lega. “Berarti kita harus segera meninggalkan hutan ini sebelum laba-labanya muncul!”

“Benar! Lagipula aku sudah ketinggalan!”

Bocah itu bangkit dan mulai mengumpulkan lembaran-lembaran penunjuk arah yang masih tersisa. “Maaf, Tuan Burung, tapi kau mau ke arah mana?”

“Panggil saja aku ‘Bucil’,” balas si burung, sedikit malu. “Aku dan rombonganku sedang bergerak ke arah Timur.”

“Arah Timur?”

Bucil menunjuk ke arah bola lampu raksasa di ujung angkasa yang semakin meredup. “Barat,” katanya. Lalu dia menunjuk ke arah yang berlawanan, “Timur.”

Bocah itu melihat ke kertas penunjuk dan menyadari kalau tanda panahnya selama ini ternyata mengarah ke Timur. “Arah kita sama, Bucil!” katanya senang karena mendapat teman seperjalanan.

“Ayo lekas!”

Mereka pun beranjak.

“Omong-omong, namamu siapa?” tanya Bucil.

Bocah itu menggaruk kepalanya. Ia tak ingat asal-usulnya, termasuk namanya sendiri. Ia pun menceritakan pengalamannya ke teman barunya itu, termasuk tentang buku yang sepertinya menyimpan masa lalunya.

“Sayangnya, aku tak bisa membaca tulisan manusia,” kata Bucil. Melihat tumpukan kertas yang dipegang si bocah, Bucil pun memutuskan, “Kalau begitu, namamu ‘Bocah Kertas’ saja!”

 

Tidak lama setelah berjalan, mereka kembali menemukan lembaran kertas. Karena sang Bayangan sudah hilang, kertas itu masih utuh. Mereka masih menemukan sejumlah kertas penunjuk lainnya sampai akhirnya kertas itu berubah gambarnya menjadi tanda seru besar. Tak jauh dari kertas itu, Bucil menemukan beberapa kertas bertanda seru lainnya sebelum akhirnya Bocah Kertas mendapatkan sumber yang jejaknya selama ini diikutinya.

Adalah sebuah robot logam putih yang memuntahkan semua kertas itu. Robot itu bentuknya bulat melonjong dengan sepasang antena kecil di ujung atasnya. Tingginya hanya sepundak Bocah Kertas, dan dia berjalan dengan dua baris roda-roda bersabuk. Dia terus menerus mencetak kertas bertanda seru karena rupanya rodanya tergelincir dan badan robotnya menempel pada sebuah tiang jaring.

Dengan hati-hati, Bocah Kertas memeluk tubuh si robot dan menariknya kuat-kuat. Setelah usaha ke sekian kalinya, robot itu akhirnya terbebas juga. Sebagai ungkapan terima kasihnya, dia lalu mencetak kertas-kertas baru bergambar acungan jempol.

“Sepertinya dia berbicara melalui kertas-kertas ini,” kata Bucil setelah dia terbang mengelilingi si robot dan hanya menemukan satu “mulut” untuk mengeluarkan kertas di bagian atas robot itu. “Lihat, dia ada namanya!” Bucil menunjuk ke tulisan singkat di antara antena. Tetapi karena tidak ada yang bisa membacanya, mereka memutuskan untuk memanggil robot itu dengan panggilan “Robot”.

Bocah Kertas kemudian menyadari satu hal, kalau seandainya Robot bisa mencetak kertas, mungkinkah dia jugalah yang menghasilkan buku identitasnya. Robot melakukan perjalanan melintasi padang ilalang, bisa jadi dia punya jawaban atas pertanyaanku, pikirnya.

“Hei, kau sedang apa?” tanya Bucil begitu melihat Bocah Kertas mendekatkan tangannya ke arah “mulut” Robot dan mencoba mengintip ke dalamnya.

Mendadak, terdengar dengungan dari kedua antena. Sejurus kemudian, aliran listrik menyambar ke tangan Bocah Kertas.

“Aduh! Dia menyetrumku!” protes Bocah Kertas sambil melompat mundur.

 

Ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan. Langit sudah semakin gelap sewaktu mereka mendekati ujung hutan. Bola lampu di angkasa sudah hampir padam pijarnya. Padang gurun berhiaskan monumen-monumen tampak terbentang di luar hutan. Bocah Kertas mulai cemas kalau-kalau begitu gelap datang, sang Bayangan akan kembali.

Ketakutannya terbukti. Tepat pada saat pijar lampu terakhir mati, hawa dingin muncul lagi. Bocah Kertas menengok ke arah yang mereka tinggalkan dan melihat jejak-jejak kertas Robot kembali luruh menjadi serbuk-serbuk terang. Sang Bayangan telah datang.

“Cepat!” serunya sambil mulai berlari.

Namun sang Bayangan rupanya lebih gesit. Bocah Kertas merasakan jari-jari dingin menangkap kakinya. Tarikan itu membuat tubuhnya terpelanting dan terhempas tepat di tepi hutan, di sebelah sebuah batu penanda besar. Buku miliknya terlepas dari genggamannya dan jatuh di dekat kaki. Sang Bayangan berdiri menjulang di hadapannya.

Bucil mencoba menyerang sang Bayangan, tapi patukannya hanya mengenai udara kosong. Robot yang datang menyusul lalu membangkitkan listrik lagi dari kedua antenanya. Sayangnya seperti Bucil, setruman listrik yang dilepaskannya tidak dapat melukai sang Bayangan, alih-alih malah menyambar Bucil sehingga burung itu ambruk. Robot yang panik cepat-cepat mencetak lembaran-lembaran kertas baru dengan harapan akan dapat mengalihkan sang Bayangan. Tetapi tekad sang Bayangan sudah jelas. Dia hanya ingin menyelesaikan urusan yang sempat terhambat. Sebelum Bocah Kertas berhasil bangkit, sang Bayangan merenggut buku itu dari tanah.

“Tolong, jangan!” pinta Bocah Kertas.

Akan tetapi sang Bayangan tak mudah melupakan. Dia mengangkat buku itu dan membukanya, lalu mengoyak isinya, halaman demi halaman. Tulisan-tulisan itu pun menghilang, setiap kata, setiap makna. Setiap identitasnya. Sampai semuanya luruh menjadi serbuk-serbuk terang.

Saat bagian terakhir dari buku itu hancur, hal yang di luar dugaan terjadi.

Sesuatu menyala tepat di tengah tubuh sang Bayangan. Nyala itu membesar dan menyebar cepat ke seluruh bagian, menerangi tubuh yang ternyata bersosok seorang bocah, serta menunjukkan wajah yang merupakan cermin dari wajah si Bocah Kertas. Wajah itu menampakkan kesakitan. Erangannya memilukan. Kemudian nyala itu berpijar terang, menghapus kegelapan sang Bayangan, dan tubuh itu pun luruh menjadi jutaan serbuk terang.

Ternyata dia adalah aku, pikir Bocah Kertas. Meskipun sang Bayangan telah musnah, ia tak merasa bahagia. Ia bersedih atas bukunya yang hancur, masa lalunya yang hilang. Ia tidak ingat apa-apa, dan kini, ia sama sekali tidak punya petunjuk.

Ia lelah. Ia sendirian, ditemani kegelapan.

 

Tak berapa lama setelah membaringkan tubuhnya ke tanah, Bocah Kertas melihat barisan panjang semut merah menyala bergerak keluar dari hutan. Ia kembali duduk dengan heran, lalu merenggangkan kakinya dan menyodok tubuh Bucil.

Bucil terbangun dengan panik dan berseru, “CACING? Oh! Oh! DI MANAAA~?!”

Melihatnya, Robot membangkitkan kembali listrik di kedua antenanya dan bermaksud menyetrum Bucil, tapi Bocah Kertas menghalanginya.

Bucil lalu teringat dengan kedua rekannya. “Oh, hai,” sapanya pendek malu-malu.

“Lihat di sana,” ucap Bocah Kertas sambil menunjuk ke barisan semut yang memanjat naik ke monumen-monumen silinder yang tersebar di padang gurun, menjulang tinggi ke angkasa. Semua semut berkumpul di puncak-puncak monumen dan membentuk bola yang semakin besar. Setelah barisan terakhir semut bergabung dengan rekan-rekannya, bola-bola di puncak monumen itu kemudian meledak dan satu per satu berubah menjadi nyala api yang menerangi seluruh gurun. Barulah Bocah Kertas menyadari apa sebenarnya monumen-monumen nan megah itu.

“Lilin-lilin raksasa,” bisiknya kagum.

Terdengar suara berat yang menguap di sebelah mereka. Bocah Kertas menengok dan melihat di permukaan batu penanda yang berlumut telah terbentuk rekahan yang lebar. “Ah, aturan tentang hal-hal,” gumam batu itu parau.

“Apakah kita perlu khawatir dengan batu yang bisa berbicara?” bisik Bocah Kertas ke Bucil.

Bucil menggeleng. “Dia aman kok.”

Dengan penerangan dari cahaya ratusan lilin raksasa, maka teranglah langit temaram. Sekelompok burung tampak tengah terbang melintasi langit ke batas cakrawala di kejauhan. Selain itu, tak tampak kehidupan lain di gurun.

“Itu rombonganku!” seru Bucil kegirangan.

Bocah Kertas turut gembira untuk kawannya, namun masih ada pertanyaan yang mengganjal di benaknya, “Bucil, mengapa kalian pergi menyongsong ke arah Timur sementara semua makhluk bergerak ke arah sebaliknya?”

“Kami memang harus bermigrasi ke sana. Bukankah aku sudah pernah bilang?”

“Tapi kenapa yang lain justru meninggalkan tempat itu? Ada apa di sana?”

“Lah di sana itu tempat mulanya lembaran baru, harapan baru.” Bucil menatap bingung seolah-olah semuanya sudah jelas.

“Lembaran baru?”

“Aku harus pergi,” potong Bucil, “kalau tidak, aku akan ketinggalan lagi.”

Bocah Kertas paham, ia harus melepaskan kawannya. Ia pun mengangguk.

“Selamat tinggal, Bocah Kertas. Semoga kita dapat bertemu lagi!” kata Bucil. Dia melompat pendek, mengepak sayap-sayapnya, lalu mengangkasa.

“Sampai jumpa, Bucil! Jangan sampai ketiduran lagi!”

Bucil terbang semakin tinggi dan semakin jauh. Kemudian sampai pada satu batas, sesuatu terjadi padanya. Tubuh burung kelabu itu berubah tiap-tiap bagiannya menjadi kertas. Namun seolah-olah tak terjadi apa-apa, burung kertas abu-abu itu tetap melaju pergi.

“Jadi itulah yang dihindari oleh para makhluk yang lain,” gumam Bocah Kertas begitu menyadari kalau batas itu semakin bergerak maju dan membuat nyala-nyala lilin raksasa berubah menjadi kaku.

“Oh, halaman baru lagi!” sela suara parau batu penanda.

“Kau kan tak punya mata, kau tak bisa melihat,” balas Bocah Kertas.

“Tapi aku bisa merasa.”

Bocah Kertas kembali mengamati batas yang mendekat perlahan itu. “Aku tidak paham, Tuan Batu.”

“Ah, itulah yang akan datang. Halaman baru.” Tuan Batu menguap lagi.

“Halaman baru? Seperti yang terjadi pada pepohonan yang tumbuh dari kitab di dalam hutan?” tanya Bocah Kertas.

“Kau kira dunia kita muncul dari mana?”

Di atas sebuah buku. Dari tulisan-tulisan. Kata-kata berkekuatan.

Dan Bocah Kertas pun menyadarinya. Seperti membalik halaman buku dari arah kanan ke kiri; masa depan ada di sebelah Timur dunia, sedangkan masa lalu ada di sebelah Barat-nya.

“Lalu apa yang akan terjadi pada halaman yang ini, Tuan Batu?”

“Menjadi kertas seperti seharusnya, sampai kemudian buku ini dibuka lagi dari awal, dan dunia di halaman ini menjadi kembali.”

Seperti Bucil yang menjadi kertas, Bocah Kertas membatin. “Apakah Bucil akan sampai di lembaran baru itu? Ada apa di sana?”

Tuan Batu tergelak. “Oh, mana kutahu? Kau kira dengan kondisiku yang begini, aku pernah ke sana?”

“Tidak. Maaf.” Bocah Kertas tersenyum.

“Tapi kau bisa ke sana.”

Bocah Kertas menggeleng. “Aku telah kehilangan masa laluku di sini. Aku tak punya masa depan.”

Akan  tetapi itu tidak sepenuhnya benar, karena pada kenyataannya Bocah Kertas telah mendapatkan potongan masa lalunya dari sang Bayangan. Dirinya di kegelapan. Dirinya dalam kemarahannya. Dirinya, buku, tulisan, dan ketidakmampuannya.

Tuan Batu menenangkan, “Setiap makhluk punya masa lalu. Namun pada akhirnya, yang lalu juga akan menjadi lama. Untuk apa berkawan dengannya?”

Robot yang sedari tadi menyimak kemudian berangsur mendekat. Dari mulutnya, dia memuntahkan sebuah buku baru.

Bocah Kertas tertawa. “Aku tidak bisa membaca.” Namun ia tetap mengambil buku itu dan membuka halaman-halamannya.

Buku itu kosong.

“Sayangnya, aku juga tidak bisa menulis.”

Robot mulai memanggil listrik ke kedua antenanya. Kali ini tegangannya terlihat jelas berkeretak-keretak mengerikan.

“Baiklah, aku akan belajar!”

Mendengarnya, Robot tampak puas dan kembali tenang.

Bocah Kertas kembali menghadap ke hutan dan melihat sisa-sisa serbuk terang dari bukunya melayang tersapu angin.

Aku terbangun, batinnya.

Dan ia pun berpaling, meninggalkan yang telah lalu. Ditemani Robot, mereka menyongsong lembaran baru.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Bocah Kertas

  1. dan Jerapah berkata: (maaf telat) says:

    *ubah nada bicara*

    Sayang, di bagian-bagian awal sampai agak pertengahan, narasinya terasa “ditahan-tahan”, sehingga suara ceritanya jadi kurang kuat, dan membuat saya memerlukan konsentrasi penuh saat membacanya. Pemotongan pada bagian “tell” seperti kata-kata “anehnya”, “ajaibnya”, mungkin dapat membantu alur cerita ini berjalan lebih cepat.

    Kurangnya alur penyampaian cerita ini agak saya tekankan, sebab, kelambanan alur cerita, dapat mengurangi kesabaran pembaca -terutama yang lumayan lawas- untuk mengakhiri cerita yang mereka baca, yang justru -saya duga- berisi berisi cerita dan “pesan” Anda yang sebenarnya. Sungguh sayang, bila banyak yang tak mencapai bagian itu, bila mereka telanjur kelelahan di awal cerita ..

    Tentang imajinasi dan pembangunan dunia sendiri, tak ada masalah selain membuat saya bertanya-tanya, apakah bila cerita ini direalisasikan menjadi animasi, bisa menyihir penontonnya seperti kisah Sen to Chihiro no Kamikakushi?

    Sekian dari saya, dan terima kasih telah menulis cerita ini.

  2. d3pi says:

    Berat, ini cerita berat banget sih…..*in good way*
    Cuma yang bikin sedikit bingung setting dunianya, mulai dari dunia dalam jaring laba2 sampai Bucil bisa terbang bebas. Tapi salut banget untuk imajinasinya.

    Ternyata emang beda ya, yg pro dengan yg amatiran, jadi minder sendiri hehehe…

  3. Fred, I love this, I really do. Kind of like a slash between Wizard of Oz and Alice in the Wonderland. Selama membacanya, aku ngebayangin lagi baca buku bergambar, dengan sedikit tulisan dan gambar berwarna-warni di setiap lembarnya. Kayaknya kalau dibuat jadi cerita anak bergambar, bakal mantap sekali.
    Sarat moral, pula. Lengkap.
    *acung jempol

  4. Amarillo Heinz says:

    Kupikir judul bocah kertas itu memang denotatif tentang mainan orang-orangan dari kertas (tapi bukan buat voodoo loh). Terus baca-baca lagi ketemu burung kecil dan robot, somehow aku teringat wizard of oz.

    Awalnya agak lamban. Perlahan mulai memikat ketika muncul si burung kelabu. Gemes ama nih burung. Dunianya mulai masuk. Dan jadilah ini cerita yang menyenangkan. Sisi petualangannya kurang tersorot tapi memang sepertinya teralihkan pada sisi filosofis.

    Karena awalnya si bocah terbangun dari tidur, kukira keseluruhan cerita adalah tentang mimpi dan fantasi si bocah yang bakal relate dengan kehidupan nyatanya. Hm, tapi ternyata bukan. Jadi agak lost dengan endingnya. Masa kok cuma gitu doang?

  5. shaoan says:

    Hi Kak (bukan Om) Fred! :D
    Ini kalian bertiga (Saku, Ivon, ama elu) koq bisa urutan gini? *curiga yg ga penting*
    Fantasinya kentel banget. Keren. :D Cuman kl gw pribadi, agak kurang sreg ama dialog di kapital & bbrp dialognya jg di bbrp bagian agak kurang tajem (terutama antara si bocah & bucil di awal). Jadinya agak ngerusak bayangan gw dari fantasi surealis ke anime. Tapi itu di gw sih. Dan gw emang ga tau juga elu mau ngarahinnya kemana. Hmm… agak kurang ngerti kenapa si bocah yg ga bisa baca-tulis bisa memutuskan buku jadi identitasnya? (kl bukunya buku Enny Arrow gimana? Hihihi). Cuman rasanya sih identitas itu biasanya deket ama sesuatu yg dikenal. Bener ga sih? :D
    Oh ya Kak Fred, sepertinya dikau suka sekali burung ya? *curiga lagi*

    • Klaudiani says:

      Shao An, I was thinking about that too!

      Coba deh.. Di Sang Pelukis ada burung disebut2, di Bentala Imaji juga ada burung, dan di Bocah Kertas juga ada! Bahkan avatarnya pun burung!
      Ada apa dengan burung? Kenapa Fred sepertinya suka sekali pada burung? Burung jenis apa yang paling disukai Fr.. err.. gak jadi xD

      • fr3d says:

        I’ve answered this before xP
        di komen Bentala – Imaji dulu, kalau gak salah, ke popon

        ada 3 cerita tentang parkit abu-abu, 3 episode (R. S. T.)
        and in case everybody wonders, parkit abu-abu cuma muncul di cerpen-cerpen yg kukirim ke FF kok ;)

        pada kenyataannya, aku gak terlalu suka sama burung… kutunya banyak… :|
        but i like to see them flying, and definitely wishing I, myself, can do the trick too :P

        • Pantesan aja ada yang gulirin isu buat hapuskankucingdariduniafantasi cuma gara-gara ga kreatip? :|

          Kutu burung emang mending daripada kutu kucing. Wajar saja. Tapi klo ada Rocky anjing saya, 3 parkit, dan kapten kucing, yang akan ada itu bukan kebon binatang, tapi medan perang, jendral Fred!

          Eh, aku suka ketuker Fred sama Fred yang atu lagi. Hadoooh.

  6. 147 says:

    maap baru komen kak x3
    ini keren bgt kak, membingungkan tp imajinatif :D
    ini ceritanya cuma d satu halaman ya kak?
    bagus kak, terutama plg suka sama si bucil <3

  7. kikuk says:

    wah romantis sekali ceritanya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>