Cat’ocalypse

CAT’OCALYPSE

karya Meong-item

 

Aku terbangun seketika, jantungku berdebar kencang mengingat mimpiku barusan. Dalam mimpi itu, aku melihat kotaku senyap bagaikan kota mati. Samar-samar terdengar dentingan jam raksasa kota, diikuti dengan suara mengeong sahut menyahut. Kemudian aku melihat Polaris berdiri di belakangku, matanya yang tajam dan berwarna biru bersinar lembut dalam balutan kegelapan malam. Mulutnya bergerak pelan, ia mencoba untuk menyampaikan sesuatu.

Tapi aku tak dapat mendengar apa yang hendak ia sampaikan.

Dalam kebingunganku, aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggung tanganku. Kualihkan pandanganku, melihat seekor kucing yang sedang mengusap-usap punggung tanganku dengan kaki depannya. Sorot matanya memandangku seolah ia mencoba untuk menenangkanku.

Aku membalas dengan mengusap kepalanya. Sambil tersenyum, aku menyapanya, “Selamat pagi, Polaris.”

 

 

Hari itu berlalu dengan cepat. Seperti biasa, pagi hari aku berangkat ke sekolah, menjelang sore aku pulang dan mengerjakan tugasku, kemudian mandi dilanjutkan dengan makan malam bersama ayah dan ibu. Satu hari lagi telah berlalu.

Tapi malam itu, kembali aku terduduk di tempat tidurku. Di depanku Polaris berdiri hanya dengan kedua kaki belakangnya.

“Polaris?” Panggilku pelan, tetapi Polaris tidak menjawab.

“Polaris?” Panggilku lagi, tapi Polaris tetap tidak menjawab. Aku beranikan diriku untuk bertanya, “Sebenarnya apa yang hendak kau sampaikan padaku dalam mimpi ini?”

Merasa ada yang aneh, aku mengedarkan pandanganku sekilas. Kamarku tetap sama, kamar kecil dengan satu tempat tidur, kursi dan meja belajar, serta lemari pakaian yang berdiri di sisi ruangan. Cahaya bulan remang-remang masuk dari pintu kaca beranda kamarku.

Kemudian aku menyadari sesuatu yang membuat bulu romaku berdiri. Persis seperti mimpiku, kota London menjadi gelap gulita.

Aku tergesa-gesa menuju beranda kamar. Dari apartemenku yang tinggi, kulihat kota London yang semula bermandikan cahaya lampu kini gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang menerangi kota London.

Seperti kota mati.

“Tuanku.”

Aku menoleh, Polaris melompat turun dari tempat tidur dan berjalan mendekatiku. Tubuhnya yang seharusnya berwarna putih bersih kini seolah bercahaya kebiruan karena diterangi oleh cahaya bulan.

“Tuanku,” Polaris berhenti beberapa langkah di depanku, “Ini bukan mimpi.”

“Berkali-kali saya telah mencoba untuk memperingatkan tuan, tapi tuan mengira itu hanyalah mimpi.” Kedua telinganya tertunduk, Polaris terlihat sedih, “Tapi sudah terlambat, rencana Cat’ocalypse telah dilaksanakan.”

“Cat’ocalypse?” Ulangku perlahan, “Apa itu?”

Polaris berjalan menlewatiku dan melompat ke atas pagar berandaku. Dari sana ia menjawab, “Sebuah rencana besar yang telah disusun sejak beberapa ratus tahun lalu oleh leluhur kami.” Polaris terdiam sesaat, kemudian ia memandang mataku dalam-dalam.

“Rencana untuk mengambil alih dunia dari tangan manusia.”

Aku tercengang. Ini tidak masuk akal! Atau mimpi yang sangat keren.

Polaris menghela pelan nafasnya, “Awalnya saya berharap untuk menyelamatkan Tuan dari rencana ini. Tapi sepertinya saya gagal.”

Aku terdiam, bingung harus berkata apa.

Tiba-tiba Polaris memicingkan matanya dan menggeram pelan.

“Polaris?” tanyaku pelan.

Terdengar sentakan nyaring dari arah atap berandaku. “Berani sekali kau, Olivier Crompaws!”

Aku menoleh ke atas, disana ada seekor kucing lain, warnanya abu-abu dengan bagian putih pada mulut yang berlanjut ke perut dan bagian dalam keempat kakinya. Ia memakai ikat pinggang tebal berwarna gelap, sebilah pedang tersemat di sisi kiri sabuk yang ia pakai. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah…warna matanya.

Warna matanya sama seperti warna mata Polaris, berkilau indah kebiruan. Pasti akan sangat cantik rupa kucing ini, kalau saja tidak ada ikat mata yang menutupi sebelah matanya.

“Tidak hanya kau melalaikan perintah Yang Mulia Mao, tetapi kau hendak menyelamatkan anak manusia ini?!” Hardik kucing tersebut.

“Diana!” Polaris menggeram lagi, kali ini lebih keras.

“Sesuai perintah Yang Mulia Mao, semua manusia akan ditidurkan dan dibuang! Lalu kita, bangsa kucing yang terhormat inilah yang akan menggantikan manusia untuk berkuasa di bumi ini!”

Kucing yang dipanggil Diana mencabut pedangnya dan mengarahkannya pada Polaris. “Kau akan kuhukum sekarang juga atas pengkhianatanmu, Jendral!”

Diana menerjang ke arah Polaris, tapi Polaris menghindar dan segera menempatkan dirinya diantara aku dan Diana. “Kembalilah ke kamar Anda, Tuan. Ini akan menjadi sedikit berbahaya.”

“Begitu rupanya.” Gumam Diana pelan. Ia melompat turun dari pagar beranda dan berjalan pelan ke arahku, ujung pedangnya bergesekan dengan lantai beranda dan menimbulkan bunyi pelan.

“Gara-gara kau rupanya, anak manusia.” Diana menggeram, langkah kakinya ia percepat hingga ia berlari lurus menerjang ke arahku. “Gara-gara kau Jendral yang kukagumi menjadi pengkhianat!”

“Jangan coba-coba, Diana!” Polaris melompat menabrak Diana sebelum ia menerkamku. Keduanya terlempar dan berguling kesamping, saling bergulat, mencakar, dan memperlihatkan taring masing masing. Sama-sama mencoba untuk menguasai keadaan.

Postur tubuh Polaris yang lebih besar membuatnya menang dalam adu tenaga dengan kucing betina lawannya. Polaris menggunakan berat tubuhnya untuk menahan Diana agar ia tidak bergerak kemana-mana. Kedua kaki depan Polaris mencengkram kedua kaki depan Diana, pedang kucing abu-abu itu tergeletak tak jauh dari tangannya yang terperangkap.

“Grrrh! Lepaskan aku, Jendral Olivier Crompaws!” Raung Diana, mencoba meronta untuk melepaskan sekapan Polaris. “Kau buang kemana harga dirimu, Jendral?! Memangnya kau tidak ingat apa yang dilakukan oleh manusia pada kita sewaktu kita baru lahir?!” Kucing abu-abu itu menggeram keras, “Walau kau melupakannya, aku tidak akan pernah bisa!!”

“Hentikan.” Polaris bergeming. Ia menatap tajam Diana. “Dan namaku Polaris, kucing rumah biasa.”

Diana menghentikan perlawanannya dan terdiam untuk beberapa saat.

Kemudian ia menatapku dari posisinya yang terbaring di bawah Polaris. Pandangan matanya begitu membenciku, “Aku…aku tidak akan pernah memaafkanmu…”

Aku tertegun, yang kulihat dalam pandangan mata Diana bukan hanya amarah…ada kesedihan yang mendalam disana.

“Aku yakin kita pasti bisa menyelesaikan semuanya dengan damai.” Kataku tiba-tiba dengan lantang, memecah keheningan malam.

Polaris dan Diana melihat kearahku, tampang keduanya sama-sama kaget. Terutama Diana.

“Polaris…” Panggilku pelan, melihat kearah kucing putih peliharaanku.

“Kalau itu keinginan Anda, Tuanku.” Sepertinya Polaris mengerti, perlahan ia angkat kedua kaki depannya yang sejak tadi telah menahan kedua kaki depan lawannya.

Tapi kesempatan itu tak disia-siakan oleh Diana. Begitu ia merasa kaki depannya telah dibebaskan, segera kucing abu-abu itu mencakar wajah Polaris dengan sekuat tenaga, membuatnya terguling sambil mendesis kesakitan.

Dengan sigap diambilnya pedang dengan gagang berukir yang tergeletak didekatnya, dan langsung berlari menerjangku dengan pedang tajam terhunus.

“Tuan!!!” Jerit Polaris histeris.

Aku menutup mata, terdengar suara dentang logam.

Di depanku, berdiri dengan gagah seekor kucing dengan bulu coklat kemerahan. Ia mengenakan topi jerami dan selembar kain merah yang diikat bagaikan jubah superman dilehernya. Bulunya yang tebal dan panjang bergerak seolah menari ditengah belaian angin malam. Dari tempatku berdiri dapat kulihat pedangnya yang sedikit melengkung menahan laju pedang Diana dengan mudah.

“Wow…” Decakku kagum. “He—”

Belum sempat aku memujinya, kucing merah itu sudah memotong ucapanku, “Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya tidak bisa membiarkan saudara sebangsaku berbuat kejahatan dengan menodongkan senjata pada orang lemah tak berdaya.” Sahutnya tanpa menoleh ke arahku.

Dalam hati sebenarnya aku ingin memberikan komentar tentang caranya memperkenalkan diri, namun komentar itu tidak kuutarakan. Paling tidak ia telah menyelamatkan nyawaku.

Kedatangan kucing berbulu cokelat kemerahan ini menimbulkan dua reaksi berbeda dari Polaris dan Diana.

“Nyamoto!” Polaris.

“Kucing nyentrik!” Tajam dan pedas, jelas Diana.

“Aku hanyalah kucing pengembara—” Kata-kata kucing itu dipotong oleh Diana.

“Kenapa kau ada di London?! Seharusnya saat ini kau sedang ada di Asia timur!” Dalam sekejap Diana menggeram, mengalihkan pandangan tajamnya padaku. Lagi. “Jangan-jangan—!”

Cukup dengan sedikit kelengahan yang diperlihatkan oleh Diana, kucing berbulu cokelat kemerahan itu segera membenturkan pedangnya dengan pedang Diana. Pedang Diana terlepas dari genggamannya.

“Kau masih perlu banyak latihan, non.” Kucing dengan bulu kemerahan menghunuskan pedangnya ke Diana. “Kehilangan kendali atas emosi di medan pertempuran dapat berakibat fatal.” Lanjut kucing merah itu dengan senyum nakal.

Diana mendesis. Ia mencengkram pedang Nyamoto dengan kaki depannya dan mengarahkan ujung pedang itu ke dada kirinya. “Seorang prajurit lebih memilih mati daripada dikasihani oleh musuhnya.”

Wajah Nyamoto langsung berubah cemberut. Kaki depan Diana yang mencengkram ujung pedang Nyamoto mulai berdarah, menodai bagian putih kaki depannya dengan bercak-bercak merah.

“Cukup!!” Bentakku keras, mengagetkan ketiga kucing di beranda kamarku. “Cepat masuk ke kamar, lukanya harus segera diobati!”

Karena tak ada tanda-tanda bahwa mereka akan segera sadar dari kondisi kaget mereka yang mematung, aku segera beranjak dari tempatku berdiri dan menggendong Diana masuk. Kududukkan ia di tempat tidurku sementara aku mengambil kotak obat di laci mejaku.

Polaris masuk mengikutiku dan duduk disebelah Diana, sementara Nyamoto tetap berdiri berjaga di luar beranda.

“Tahan ya, akan sakit sedikit.” Kataku pelan, luka di kaki depannya kutetesi dengan obat merah sebelum kubalut. Setelah itu giliran luka cakar di wajah Polaris yang kuobati. “Semoga luka cakar ini tidak meninggalkan bekas…” Gumamku pelan.

Tiba-tiba Diana berdiri dan melompat turun dari tempat tidurku.

“Jangan kau kira perbuatanmu ini akan mengubah pandangananku terhadap bangsa manusia.” Kata Diana sinis seraya berjalan menuju beranda kamarku.

“Seorang prajurit tentunya tidak akan lupa mengatakan sesuatu setelah lukanya diobati, kan ya?” Ujar Nyamoto santai ketika Diana berjalan melewatinya.

Ucapan itu membuat Diana berhenti mendadak dan berpaling kepadaku. Pandangannya tetap tajam, tapi tidak kurasakan lagi amarah yang tadi menguasainya.

“Uh—terima kasih! Budi baikmu pasti akan kubalas.” Katanya terburu-buru. “Tapi camkan bahwa itu hanya karena aku tidak mau merasa berhutang pada manusia!”

Setelah mengucapkan kalimat itu Diana segera mengambil pedangnya dan melompat pergi.

Aku tersenyum melihat kepergiannya. Kemudian aku teringat bahwa aku belum berterima kasih pada Nyamoto yang telah menyelamatkanku. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke kucing itu, “Ah, terima kasih sudah menyelamatkanku tadi…Nyamoto?” Aku menyebut namanya ragu-ragu. Ia belum memperkenalkan diri, tapi Polaris memanggilnya Nyamoto.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanyalah kucing pengembara yang—”

“Nyamoto, Komandan Pelaksana Rencana Cat’ocalypse Asia Timur. Terima kasih Anda telah memenuhi permintaan saya dan datang ke London.” Potong Polaris cepat. “Maaf atas ketidaksopanan saya memutus perkenalan diri Anda, tapi kita harus bergegas. Waktu kita sudah tidak banyak lagi. Kita harus segera menuju Westminster Palace dan menghentikan Yang Mulia Mao menjalankan tahap terakhir rencana Cat’ocalypse.”

Aku takjub melihat kucing peliharaanku berbicara dengan nada yang begitu berwibawa. Rasa ingin tahuku memuncak, dan aku bertanya, “Bagaimana cara kalian menghentikannya?”

Raut wajah Nyamoto berubah begitu mendengar pertanyaanku, air mukanya menjadi serius, “Tentu saja dengan coup d’etat. Gulingkan pemimpinnya, saat itu kita bisa pelan-pelan mencari tahu bagaimana cara menetralkan sihir yang telah menidurkan bangsamu.”

Aku tidak bisa menerima rencana seperti itu. “Tolong ijinkan aku ikut. Mungkin aku dapat membujuk Yang Mulia Mao untuk membatalkan rencana ini.”

“Tuan, terlalu berbahaya!” Polaris menentang keras.

“Tapi setidaknya aku bisa mencoba, lebih baik daripada membiarkan pertempuran terjadi, kan!” Aku membantah, kata-kataku langsung membungkam Polaris.

Nyamoto tersenyum nakal, bola matanya yang berwarna seperti batu emerald bersinar terang. “Menarik sekali kata-katamu, hai anak manusia! Baiklah aku akan bertaruh padamu! Kalau kau dapat menggugah hati Diana, mungkin kau juga dapat mengubah pandangan tua bangka itu! Jadilah bawahanku dan mari kita berjuang demi saudara-saudaramu yang saat ini sedang dalam bahaya! Nyahahaha!”

Nyamoto melompat pergi dari beranda kamarku, tapi gema suaranya masih terdengar nyaring dalam keheningan kota malam ini.

Polaris menggandeng tanganku, “Mari kita berangkat, Tuan.”

Aku menoleh kearah kucing peliharaanku dan mengangguk pelan, Polaris memberikan senyum kecil padaku.

“Ah, walaupun Nyamoto agak eksentrik, sebenarnya dia adalah kucing yang baik, Tuan.”

Aku tertawa kecil, “Aku tahu.”

Perjalanan menuju Westminster Palace terasa berlalu dengan begitu cepat. Aku dan Polaris bertemu kembali dengan Nyamoto di dekat gerbang depan istana.

Nyamoto mengetuk-ngetuk salah satu batu di lantai dan menimbulkan bebunyian samar. Tiba-tiba terdengar bunyi dentuman keras, diikuti dengan suara mekanisme mesin bergemuruh.

Batu-batu di lantai tempat kami berdiri bergerak, sebuah lubang dengan diameter kira-kira tiga meter muncul dihadapan kami. Aku melihat tangga spiral yang terbuat dari batu menempel pada bebatuan di sisi lubang.

“Ayo masuk.” Nyamoto berjalan menuruni tangga batu itu, diikuti olehku dan Polaris. Ketika aku mulai menuruni tangga batu ini, aku menyadari terdapat lubang-lubang kecil di dinding. Didalam lubang tersebut ada lilin yang menyala, menjadi satu-satunya sumber penerangan di tempat yang gelap ini.

“Aku tak menyangka ada lubang bawah tanah disini.” Ucapku pelan, sambil berhati-hati menuruni tangga batu ini.

“Ada banyak pintu bawah tanah rahasia seperti ini yang tersebar di kota London dan kota-kota lain di dunia. Lorong bawah tanah ini terhubung ke banyak tempat lain seperti British Library, dan Tower of London.”

Mendengar penjelasan Polaris, Nyamoto meringis, “Heh, tentunya kalian manusia tidak mengira bahwa berkat buku-buku tentang sihir yang ada di perpustakaan kalian, kami berhasil mengembangkan sebuah sihir yang yang dapat membuat bangsa kalian tertidur. Kau beruntung karena Olivier Crompaws menggunahan sihir perlindungan padamu saat tahap pertama rencana Cat’ocalyspe dilaksanakan.”

Aku menoleh ke belakang, Polaris tersenyum kepadaku. “Sudah menjadi kewajibanku, Tuan.”

Akhirnya perjalanan kami menuruni tangga batu itu berakhir. Kami berdiri di depan sebuah lorong panjang, samar-samar dari kejauhan terdengar keributan dan bunyi logam berdenting.

“Sepertinya anak buahku telah duluan sampai dan memulai pesta tanpa menungguku.” Nyamoto menoleh kearahku dan Polaris, “Aku akan bergabung dengan pasukanku di garis depan. Semoga kau berhasil mengubah pikirannya sebelum kami datang dan menggulingkan tua bangka itu dari tahtanya! Nyihihi~” Nyamoto menyeringai menunjukkan taring-taringnya yang tajam.

Nyamoto berlari pergi, gema tawanya berkumandang keras sebelum akhirnya menghilang ditelan suara keributan di kejauhan.

“Mari Tuan, kita bergegas.” Polaris menggandeng tanganku, memimpinku berlari di terowongan batu ini. Kuperhatikan terowongan ini memiliki banyak cabang, disatu saat kami berbelok ke kiri, kemudian beberapa meter didepan terdapat percabangan lagi.

Polaris memimpin perjalanan ini dalam diam. Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, tapi kurasa sebaiknya dimulai dari hal yang menjadi pokok permasalahan. “Polaris, kenapa para kucing ingin membinasakan para manusia?”

Polaris memperlambat langkahnya, dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan.

“Banyak diantara kami yang membenci manusia, Tuan. Manusia telah mengotori bumi ini. Tidak hanya bangsa kucing, banyak mahluk hidup yang telah menderita karena ulah manusia.” Jawab Polaris pelan, walau terasa sakit, itu kenyataan.

“Yang paling kejam, karena manusia menganggap tingkah laku kami berbahaya, seenaknya saja mereka membunuhi saudara-saudara kami sejak dulu! Padahal yang lebih dulu mengusik tempat tinggal kami adalah mereka!” Polaris menggeram keras, “Saya dan Diana pernah diusili anak manusia pada saat kami baru lahir.”

Aku terdiam, mengingat kucing abu-abu itu, “Waktu itu kami masih kecil dan tidak bisa melawan. Karena kejadian itu Diana kehilangan mata kirinya, dan kaki belakang saya patah.”

“Saya beruntung karena pada saat itu saya dipungut oleh Tuan yang kemudian memelihara saya sampai sekarang. Tapi Diana tidak seberuntung saya, kebenciannya memuncak begitu mengetahui banyaknya kekejaman yang telah manusia lakukan.” Polaris menggenggam tanganku dengan erat.

“Saya tahu memang tidak semua manusia kejam setelah Tuan memungut saya. Tapi banyak diantara kami yang sudah dendam dan akhirnya ikut serta dalam rencana Yang Mulia Mao untuk membalas dendam.” Telinga Polaris tertunduk, ia sedih harus bertempur dengan bangsanya sendiri, tapi…

“Ah, untungnya banyak saudara-saudara saya yang tidak setuju dengan rencana itu. Seperti Nyamoto, mereka membentuk banyak grup perlawanan.” Polaris tersenyum kecil, “Pasti mereka juga menyadari bahwa ada juga manusia yang baik budinya.”

Aku tersenyum balik, “Yap!”

Ujung terowongan itu mulai terlihat, aku dan Polaris mempercepat langkah kami. “Tuan, apakah Anda siap?”

Aku mengangguk.

Aku dan Polaris keluar ke sebuah ruangan besar berbentuk kubah. Langit-langitnya tinggi menjulang, dindingnya penuh dengan desain ukiran ornamen klasik. Ditengah ruangan tersebut terdapat miniatur bumi, lempengan yang mewakili daratan yang disangga dengan rangka yang terbuat dari logam.

Didepannya berdiri seekor kucing tua bungkuk bermantel bulu, sebelah tangannya memegang tongkat kayu. Pandangan matanya sinis ketika ia melihatku.

“Apa yang manusia lakukan disini?” tanya sang raja, tongkatnya ia angkat dan diarahkan padaku.

“Yang Mulia! Tolong hentikan rencana Cat’ocalypse!” seru Polaris, “Tidak semua manusia kejam seperti yang telah Anda kenal! Banyak diantara kami yang juga menyukai bangsa manusia, Yang Mulia!”

“Aku tahu itu, Olivier Crompaws.” Potong Yang Mulia Mao, “Tapi ini demi keselamatan bangsa kita.” Ia berbalik dan menatap miniatur bumi di depannya.

“Kau salah besar! Rencana Cat’ocalypse tidak akan menghasilkan apa-apa selain pertempuran sesama kucing!!” Yang Mulia Mao tidak memperdulikanku. “Kalau begitu kau tidak ada bedanya dengan manusia-manusia yang kau benci itu!”

Yang Mulia Mao membalikkan tubuhnya, kembali memandangku. “Apa katamu?”

“Pasti masih ada cara lain agar kita bisa menyelesaikan semuanya dengan damai! Kumohon Anda untuk segera memberikan perintah pembatalan rencana Cat’ocalypse sebelum ada lebih banyak lagi kucing-kucing yang terluka karena pertempuran dengan pasukan Nyamoto!”

“TIDAK BISA!” Bentak sang raja. “Rencanaku tak akan berhenti selama aku masih berdiri disini.”

Yang Mulia Mao membuka jubahnya, di tubuhnya terdapat banyak ukiran aneh yang bercahaya. “Tubuh terkutuk warisan leluhur kami inilah yang menjadi pemicu utama sihir yang telah menidurkan semua manusia. Kalau kau mau menggagalkan rencanaku, kau harus menemukan dan mengamankan semua kucing yang memiliki tanda ini! Kalau kalian sempat tentunya. Waktu kalian kurang dari satu jam sebelum sihir ini mencapai tahap sempurna dan semua manusia tidak akan bangun lagi dari tidurnya!!”

Tiba-tiba terdengan bunyi ledakan keras.

Ruangan tempat kami berdiri bergetar hebat. Debu dan pasir berjatuhan dari celah retakan dilangit-langit.

“Bekat kata-katamu barusan, aku tidak akan segan-segan lagi untuk meruntuhkan tempat ini.” Terdengan suara Nyamoto dari arah lorong tempat kami datang. “Kalau semua pintu keluar dijaga dengan ketat, akan sangat mudah untuk menangkap kucing yang memiliki tanda sihir itu.”

“Ayo, anak manusia! Kita juga harus segera keluar dari tempat ini!” Nyamoto segera berlari kembali ke lorong batu itu.

Ketika Polaris hendak menarik tanganku pergi, aku menghentikannya. “Tunggu Polaris, kita juga harus membawa Yang Mulia Mao!”

Mendengar ucapanku, Polaris segera bergegas menuju ke tempat kucing tua itu. Jika sang raja tak bisa berlari, Polaris akan menggendongnya jika perlu.

“Tidak perlu, Olivier Crompaws.” Sela sang raja. Entah kenapa suaranya terasa…tenang.

“Tubuh renta ini tidak akan bertahan lama. Tak kusangka aku harus menyaksikan kegagalan dari rencana yang telah dipercayakan padaku oleh leluhur kita.” Yang Mulia Mao menutup kedua matanya. “Terlebih lagi rencana itu digagalkan oleh generasi muda yang kubanggakan sejak dulu.”

“Mao…”

“Tuan! Ayo!” Polaris berseru, menarik tanganku lagi.

“Tapi—!” Goncangan keras yang terjadi akhirnya membuatku berbalik dan berlari dibelakang Polaris meninggalkan ruangan dengan kubah tinggi itu. “…Semoga kau beristirahat dengan tenang, Mao…”

Aku kehilangan arah. Banyak lorong yang sudah tertutup longsor. Polaris juga mulai panik.

“Lewat sini!” Tanganku menyentuh sesuatu yang lembut. Aku mengenal suara itu, Diana!

“Dengan ini hutangku lunas, ya.” Suaranya bergetar. Ia berlari didepanku dan Polaris, aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi bisa kubayangkan ada air mata yang mengalir di pipinya, memandang tempat yang dulu ia panggil rumah hancur di hadapannya.

Dan samar-samar…kesadaranku…meng…hi…lang…

 

Pagi menjelang, aku dapat merasakan hangatnya sinar matahari yang menyentuh kulitku, ada pula suara-suara samar yang tidak dapat kuidentifikasi.

Aku terbangun. Sejak kapan aku terbaring di tempat tidurku?

Yang semalam…apakah itu mimpi? Ah mimpi yang sangat keren sekali.

Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke kamar mandi. Dalam kesadaranku yang samar, aku tidak menyadari bahwa terdapat seekor kucing abu-abu yang berbaring disebelah kucing putih peliharaanku.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Cat’ocalypse

  1. imajinaria says:

    umm….. ini aneh…..

    ceritanya berjalan kecepetan menurut saya, banyak detil-detil yang perlu dijelaskan malah jadi terlewatkan.

    Yang Mulia Mao, sebelumnya dia sangat benci manusia dan mau menjalankan rencana Cat’ocalypse, lalu tiba-tiba dia ngasih tau gimana cara menggagalkan rencananya itu? dan akhirnya dia…..menyesal sendiri?

    Dan lagi kayanya terlalu klise kalau ada orang (atau hewan) yang didalam mimpi mengatakan kepada kita “Ini bukan mimpi” sebagai awalan sebuah cerita didalam mimpi.

    Walaupun begitu, ada beberapa adegan yang membuat saya senyum-senyum sendiri. Terutama ngebayangin si Nyamoto pergi sambil ketawa “Nyahahaa” XD
    Dan adegan berantemnya juga lumayan seru. Tapi sayang anti klimaks.

    Ilustrasinya lucu banget, saya suka kucing. :D

    Oh ya, numpang promo sekalian…. http://kastilfantasi.com/2012/07/jane/

  2. katherin says:

    Epic Nyamoto is EPIC! RotFLMAO!!
    Pace terasa terlalu cepat walaupun masih asyik dibaca.

    Pas ketemu kata ‘coup d’etat’, berharap kalo itu adalah ‘ cat d’etat’ atau ‘miauw d’etat’.

  3. shiennyms says:

    setuju ama Kath, epic rasanya kalau diganti cat d’etat XD

    PS: I’m officialy a Nyamoto fangirl >:)

  4. 145 says:

    Nyaa nyaa nyaaa
    Terjemahan: Kami sudah menguasai dunia ^o_o^

  5. Shelly Fw says:

    Polaris? Temen Oris dong?
    London? Errrrrr jadi pengen terbang kesana >,<

    Tapi terlepas dari penuturannya, cerita ini bisa saya nikmati. Apalagi tentang dunia kucing dari segi semacam fabel seperti ini. ^^
    8/10

  6. Nyahahaha! Sugooooi!
    Ini menarik, seru, dan menghibur. Saya juga suka dengan ilustrasinya.

    3.5/5! Good luck!

    Mampir ke lapak saya ya, di 117! Sebagai hadiah, ini lagu buat Nyamoto: http://www.youtube.com/watch?v=wZZ7oFKsKzY

    Nyahahahaha! *Ngacir*

  7. negeri tak pernah-48 says:

    Ilustrasinya aku suka :)
    Ceritanya juga menarik. Ada beberapa bagian yang aneh tapi udah dibahas di komen-komen sebelumnya. Jadiii….

    Nyahahaha!
    Fans Nyamoto tambah 1 lagi!
    *nyengir sambil ngemut ikan asin
    *kabur ke nomer 48, duduk agak jauh, noleh ke belakang berharap diikutin…

    • Desire Purify Loki says:

      Kau tenang saja, Negeri tak Pernah, aku sedang nongkrongin nomor 48.
      Ada yang mau nyusul bawa semua rudal cabe ke 260 nggak?

      Tentang ilustrasinya, itu Kapten Kucing vs siapa ya? Uhm Uhm Uhm.
      Sekedar sumbangsih saran ilustrasi (yang aku ndak kenal goresane sopo),
      Yang satu oke, ada caping bekas sabetan, tapi kok pinggangnya kosong? Lawannya kaya Ninja, tapi kok bawa sarung pistol? :0

      Nyamoto Fans Club? Naa Naa Naa Naa! (Ini jadi dilafalkan “nya” kalau pake basa jepun yah?) Terjemahan: Apa itu Nyamoto? Hiks… Tweeww. Saya harus baca ulang semua cerpen sepertinya! Oh tidakkk! :(

  8. Nyahaha! Salam kenal ya :D

    Umm, menurut gw pribadi, sebenernya ide dari cerita ini udah sangat oke. Haha. Action fantasy dengan binatang kucing (dan entah kenapa banyak cerpen fabel di fanfest 2012 dengan tema hewan kucing)

    Oh ya, gw setuju sama bagian akhirnya kurang pas. Kok tiba-tiba aja Mao menyesali rencananya? Padahal ga sampai beberapa kalimat sebelumnya ia masih berkeras menjalankannya.

    Di luar itu, semua oke kok ^_< b Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya.

    P.S. : Pendaftaran Nyamoto Fans Club masih dibuka kan?

  9. red_rackham says:

    Despite of lack strong evil motive (and drive) on the antagonist side….

    Saia suka cerita ini~!
    Action-fantasy campur fabel emang jadi salah satu favorit saia.

    Good luck and keep on writing~! (o__<)b

    PS:
    Sudahkah anda berkunjung ke Planetarium saia di no.18?

  10. frenco says:

    “Tidaakkk.. kenapa Tuan cepat sekali terbangun.. ayo tidur lagi, kita lanjutkan kembali mimpi itu dan tuntaskan misi kita menggagalkan cat’ocalypse!!!!” jerit Polaris. “Polaris bosan jadi kucing rumah terus, mau jadi kucing pahlawan!” jeritnya lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>