Cermin Paradoks

CERMIN PARADOKS

karya Xamdiz

 

Hari itu aku berada di gudang tua milik almarhum kakekku. Gudang tua tempat dia menyimpan semua koleksi barang antik hasil perjalanannya keliling dunia ini adalah warisannya untukku. Berbagai macam barang yang tersimpan di dalam gudang itu membuat jiwa petualangku menggolak.

“Yeah, waktunya mencari lampu ajaib!”

Aku segera masuk ke dalam gudang dan melihat-lihat barang yang ada di dalamnya. Kebanyakan barangnya kelihatan lebih memiliki nilai seni daripada supranatural, membuatku sedikit kecewa.

Aku sudah akan menyerah dan kembali ke luar gudang ketika sebuah cahaya yang masuk dari jendela tinggi terpantul sesuatu dan menyilaukanku sesaat. Penasaran, aku pergi ke sumber cahaya yang terpantul itu.

Di sebuah sudut gudang yang cukup tersembunyi, aku melihat sebuah cermin dengan bingkai indah menempel di dindingnya. Ketika aku mendekati cermin itu, aku melihat sesuatu yang membuatku sangat terkejut.

Di dalam cermin itu ada seorang gadis berambut emas yang kecantikannya membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Matanya yang berwarna abu-abu tampak kosong menatap buku yang sedang dibacanya dalam diam.

“Ah lukisan toh…”

Tapi memang, lukisannya luar biasa bagus sampai aku saja hampir mengira kalau itu asli.

Gadis itu membalikkan halaman bukunya.

“Argh! Dia bergerak!” teriakku panik.

Teriakanku membuat gadis itu sadar akan keberadaanku. Dia menutup bukunya dan menatapku dengan pandangan kosong tanpa emosi.

“Aku adalah cermin yang akan mengabulkan permohonanmu. Bila kamu dapat memenuhi syarat-syaratnya, permohonanmu akan kukabulkan,” katanya datar.

Jantungku berdegup kencang, apa ini mimpi? Tidak, ini mimpiku yang jadi kenyataan!

“Peraturan pertama-”

“Kalau begitu, permintaanku adalah aku ingin kamu menikah denganku,” kataku dengan lantang.

Mendengar permintaanku,gadis itu nampak terkejut sesaat.

“Baiklah, aku akan mengabulkan permohonanmu,” nadanya tetap datar seperti sebelumnya.

“Dengan syarat…” lanjutnya.

“Ya, katakan saja! Apapun syaratnya akan aku penuhi!”

“Kamu harus bisa mengeluarkanku dari cermin ini.”

Mengeluarkannya dari cermin? Yah, memang pasti akan sangat sulit kalau menikah dengan sang istri tetap berada di dalam cermin.

“Baiklah, caranya?”

Sesaat aku seperti bisa merasakan keraguan gadis itu sebelum ia menjawabku.

‘’Kamu harus memohon agar aku bebas dari cermin.”

“Oh, mudah dong. Kalau begitu aku memohon agar kamu dibebaskan dari cermin itu.”

“…tidak bisa…’’ balasnya pelan.

‘’Kenapa?”

‘’Satu orang hanya bisa memohon satu kali sehari.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali besok.”

Sebelum aku meninggalkan ruangan itu, aku untuk menatap gadis itu sekali lagi. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya seperti boneka tanpa emosi, tetapi aku tahu bahwa jauh di dalamnya ada seorang gadis manis bagaikan putri yang menunggu untuk diselamatkan oleh pangerannya, yaitu aku.

‘’Aku berjanji aku akan mengeluarkanmu dari cermin itu, karena itu kamu bisa tenang dan tersenyum.”

Ia hanya mentapku dengan diam.

Keesokan harinya aku kembali ke gudang itu, setelah melihat cermin dan gadis itu tidak berubah sedikit pun posisinya, aku menghela nafas lega dan segera berjalan dengan langkah ringan sambil berusaha menahan keinginanku untuk berlari kesenangan. Hari ini aku akan membebaskan gadis itu dan menjadi pahlawannya.

“Halo.”

Gadis itu diam saja tanpa ekspresi, matanya terpaku pada buku yang ia baca.

“Aku mau membuat permohonan.”

Tanpa mengubah posisinya, dia mengangkat kepalanya sedikit dari bukunya untuk menatapku.

“Katakanlah permohonanmu.”

“Aku ke sini untuk memenuhi janjiku kemarin, permohonanku adalah agar kamu dibebaskan dari dalam cermin itu!” Aku berkata dengan suara keras penuh semangat yang kupikir akan cukup untuk sedikit menaikan semangatnya.

Tetapi dia tidak bereaksi sedikit pun. Dengan suaranya yang biasa tanpa emosi dia menjawab, “Aku akan mengabulkan permohonanmu itu apabila permohonanmu yang sebelumnya terkabul.”

Aku terdiam.

Apa maksud kata-katanya itu? Dia bilang dia akan mengabulkan permohonanku yang hari ini kalau permohonanku yang kemarin terkabul? Tapi kan aku melakukan permohonan hari ini agar permohonanku yang kemarin terkabul, kalau begitu…

Baik permohonanku yang kemarin maupun yang hari ini tidak akan dikabulkan?

“Apa maksudmu memberikan syarat seperti itu?”

“Seperti yang kamu mengerti, aku akan mengabulkan permohonanmu kalau permohonanmu yang kemarin terkabul.”

“Tapi justru untuk mengabulkan permohonanku yang kemarin, permohonanku yang hari ini harus terkabul. Dengan syarat seperti itu tidak satu pun dari kedua permohonanku itu akan terkabul! Itu kontradiktif! Itu-” Sadar emosiku meninggi, aku segera menghentikan diriku.

“Kamu baru saja menjelaskan paradoks dalam pemenuhan syaratmu, berarti kedua permintaanmu sekarang dianggap tidak sah.”

Aku terdiam lagi.

Apa maksudnya ini? Kenapa bisa begitu? Dia itu akan mengabulkan permintaankan? Kemarin dia bilang begitu? Apa ini hanya permainan untuk menjebakku saja?

“Sepertinya kamu frustasi,” katanya datar.

“Tentu saja! Bagaimana aku bisa tidak frustasi dalam kondisi seperti ini! Kemarin kamu bilang akan mengabulkan permintaanku dan ternyata kamu berbohong. Dasar sialan!” Dalam amarahku, aku memakinya.

“Maaf…” kataku.

“Aku memang bilang bahwa aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi bukannya tanpa syarat.“

“Oh… begitu,” aku menunduk malu karena kesalahpahamanku.

“Kalau begitu aku akan menjelaskan beberapa peraturannya sekarang.”

Aku segera mengambil kursi berdebu di dekatku dan duduk memperhatikan.

‘’Pertama, agar permohonanmu terkabul, kamu harus memenuhi syarat atau pertanyaan yang kuberikan. Kedua, kamu hanya dapat memohon satu kali sehari. Ketiga, cermin ini akan menjadi cermin biasa bagimu bila satu permohonanmu sudah terkabul atau kamu gagal memenuhi syaratku sebanyak tiga kali. Keempat, bila jawabanmu atas syaratku adalah paradoks, permohonanmu akan dianggap tidak sah dan gagal.’’

Aku berusaha mencerna peraturan-peraturan yang dia sebutkan. Intinya kunci dalam peraturannya adalah “paradoks”, walaupun dia bilang “syarat” yang akan diberikan kepadaku setelah memohon sesuatu adalah “paradoks”, dan hanya dengan menyelesaikannya barulah permohonanku dapat terkabul. Mungkin ini sejenis tes kepintaran untuk mengecek apakah aku berhak untuk mendapatkan permohonan itu atau tidak dan bila aku gagal sebanyak tiga kali, aku akan kehilangan kesempatanku selamanya artinya kesempatanku tinggal sekali lagi.

Aku menghela nafas panjang dan menggaruk-garuk kepalaku yang mulai terasa gatal karena stress. Aku melihat ke cermin dan menyadari kalau gadis itu sedang memperhatikanku.

“Tenang saja, aku akan berpikir keras dan menemukan cara untuk melepaskanmu dari sana. Aku sudah berjanji, jadi percayalah padaku dan… tolong maafkan aku karena sudah memakimu tadi.”

Ia memiringkan kepalanya dengan agak bingung, sepertinya dia masih ragu bagaimana menanggapi sikapku.

“Ya sudah, sepertinya aku terpaksa mundur untuk hari ini, sampai jumpa besok.”

Aku melabaikan tanganku padanya tanpa berpindah dari tempatku berdiri. Gadis itu tampak kebingungan sesaat lalu dengan ragu-ragu balas melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dan pergi.

“Hei!”

Aku menyapa gadis itu dan duduk di depannya.

“Tadi malam aku sudah berpikir cukup panjang dan aku sampai pada beberapa kesimpulan.”

Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang ia baca dan menatapku dengan penasaran.

“Pertama, kamu sama sekali tidak ada niat untuk mengabulkan kedua permintaanku yang sebelumnya kan? Walaupun kamu bilang menyelesaikan paradoks adalah syarat untuk membuat permintaanku dikabulkan, pada akhirnya hanya satu permintaanku yang bisa dikabulkan. Tetapi kedua permohonanku sebelumnya memiliki syarat yang saling berikatan dan untuk mengabulkan satu permohonan, permohonan yang lain juga harus terkabul berarti total dua permintaan harus terkabul pada saat yang bersama dan itu jelas tidak mungkin.”

Gadis itu mengangguk.

“Kalau begitu apa mungkin bagimu untuk memberikanku sebuah syarat atau pertanyaan yang bisa kujawab atau tugasmu dari awal adalah untuk mencegah agar tidak satupun permohonan dapat terkabul?”

“Kesulitan syarat tergantung dari tingkat kesulitan permohonannya. Selama aku berada di cermin ini sudah ada beberapa orang yang permohonannya terkabul.”

“Kalau begitu aku benar,” kataku sambil mengangguk-angguk bangga.

“Lalu hal kedua yang kusadari adalah alasan kamu memberikan syarat yang tidak mungkin untuk kuselesaikan adalah karena kamu tidak ingin menikah denganku, benar kan?”

“Iya.”

“Ugh, sakitnya penolakan. Tapi kamu tidak membenciku kan?”

Gadis itu menggeleng.

“Bagus, artinya aku masih punya kesempatan, ya kan?”

“Eh…” dia tampak kebingungan dan tidak nyaman.

“Yah sudahlah, tugasku saat ini adalah mengeluarkanmu dari cermin. Kalau soal cinta aku yakin bisa membuatmu suka padaku.”

“Eh?”

Aku menempelkan telapak tanganku di permukaan cermin yang agak berdebu itu.

“Lebih baik kita mulai dengan saling memperkenalkan diri, salam kenal namaku Adi.”

Gadis itu menatapku dengan dengan mata terbuka lebar dan hanya terdiam saja.

“Siapa namamu?”

Dia tampak kebingungan sesaat seperti tidak tahu harus apa, dia melihat ke sekelilingnya dengan panik seperti berusaha untuk sembunyi. Tapi setelahnya dia mengangkat tangannya dengan agak ragu dan menempelkannya di sisi lain dari telapakku.

“Elva…”

“Baik, salam kenal Elva.”

Aku tersenyum lebar padanya. Walaupun permukaan cerminnya dingin, namun aku merasa hangat karena sepertinya hati kami mulai mendekat satu sama lain.

“Yah, aku inginnya kita berjabat tangan sih, tapi karena kamu ada di cermin ini mirip-mirip lah ya!”

Aku tertawa senang sementara Elva hanya diam saja sambil menunduk berusaha untuk tidak menatapku langsung.

‘’Oh ya, aku boleh kan datang ke sini untuk mengobrol saja dan tidak untuk meminta permohonan?”

Elva mengangkat kepalanya sedikit dan mengintipku lewat sudut matanya.

“Boleh…”

“Baiklah kalau begitu! Mulai besok aku akan datang ke sini setiap hari untuk mengobrol denganmu, kamu tidak keberatan kan?”

“Se- setiap hari?” kata Elva kaget.

“Ya, setiap hari sampai kita berdua menjadi dekat satu sama lain sampai masing-masing dari kita tahu rahasia terdalam masing-masing seperti berapa banyak cacing yang kumakan waktu TK dulu!”

“Aku tidak mau tahu itu…”

“Tapi apa yang akan kita lakukan yah?”

Aku menyilangkan kedua tanganku dan berpikir sejenak, kira-kira apa kegiatan yang bisa kita nikmati berdua sementara Elva ada di balik cermin?

“Hey Elva, apa semua buku yang kamu punya itu milikmu?”

“Eh… iya. Ketika aku baru terperangkap di sini, ibuku memberikanku satu perpustakaan penuh buku juga.”

“Aku asal tebak itu sepertinya sudah ratusan tahun yang lalu kan? Jadi pasti kamu sudah membaca semua buku di perpustakaan itu kan?”

Elva mengangguk, sepertinya dia masih tidak yakin apa yang ingin kulakukan.

“Kalau begitu mulai besok aku akan membawakanmu banyak buku untuk kita baca bersama!”

“Eh?”

‘’Akan sulit bagimu membaca buku dari luar sementara kamu di dalam cermin, jadi aku akan membacakan semua bukunya untukmu!”

“Eh?”

“Baiklah sudah diputuskan! Buku seperti apa yang kamu suka, Elva?”

Elva tampak ragu untuk menjawab, mungkin alur tindakanku terlalu cepat untuknya yang sudah terbiasa pada ketenangan.

“…aku suka semua jenis buku, tapi legenda dan buku filosofi dan logika adalah favoritku.”

Uwaah,kedengarannya sangat sulit bagiku yang harus membacanya.

“Baiklah, besok aku akan membawakanmu beberapa buku dongeng dan novel fantasi!”

“Eeeh?”

Aku berbalik pergi untuk kabur dari kemungkinan protesnya.

Setelah ini aku akan pergi ke toko buku dan mencari buku-buku yang tampaknya menarik. Mungkin mengintip buku filosofi dan logika yang dia mau juga, tapi tentu saja cari yang mudah dulu. Lalu, cerminnya tadi cukup berdebu jadi aku akan membersihkannya besok.

Dipenuhi dengan ide akan apa yang mungkin kulakukan esok hari aku berjalan dengan hati senang. Sesaat aku teringat Elva menyebut sesuatu soal ibunya, tapi aku memutuskan untuk menunda memikirkan hal itu untuk lain waktu.

Keesokan harinya aku datang ke gudang dengan membawa alat-alat kebersihan. Aku sengaja memakai pakaian pembantu rumah tangga perempuan untuk menarik reaksi dari Elva, tapi dia hanya menatapku dengan bingung, sepertinya perbedaan budaya di antara kami lebih jauh dari yang kuduga.

Setelah membersihkan cermin Elva dari debu, aku menata sedikit daerah gudang di sekitar cermin menjadi tempat yang nyaman untukku duduk dan membaca sambil minum teh. Sepertinya Elva belum pernah melihat teh dan tampak sangat tertarik dengan sejarahnya, setelah itu aku langsung mengumpulkan pengetahuan soal teh untuk memenuhi keingintahuan Elva. Dari teh, Elva menjadi tertarik soal perdagangan Eropa-Asia dan pertukaran budaya di antara kedua daerah itu. Dari situ ia tertarik lagi ke topik lain dan begitu seterusnya sampai kami berdua menghabiskan setiap harinya mengobrol dan berdiskusi mengenai banyak sekali topik.

Diskusiku dengan Elva membuka pikiranku terhadap banyak sekali hal di dunia ini yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Hari ke hari membuatku semakin kagum dan jatuh cinta pada Elva dan secara perlahan Elva membuka dirinya kepadaku. Aku merasa beruntung dapat melihat Elva mengeluarkan beragam emosi tawa, tangis, takut, marah, malu, dan emosinya yang paling kusukai adalah ketika ia bersemangat bercerita soal suatu topik.

Suatu hari ketika aku sedang membaca buku cerita bersama Elva, sebuah ide muncul.

“Hey Elva, bisakah kamu memberiku sebuah soal paradoks? Hitung-hitung latihan untuk syarat ketigamu nanti. Tapi yang memang bisa dijawab yah.”

“Hm…” Elva berpikir sebentar.

“Bagaimana dengan paradoks pinokio?” katanya kemudian.

“Pinokio? Pinokio yang sedang kita baca bukunya ini?”

“Sedikit berhubungan.Hidung pinokio akan bertambah panjang kalau dia berbohong, apa yang akan terjadi pada hidung Pinokio bila dia berkata “hidungku akan memanjang sekarang”?”

Hm, kalau hidungnya bertambah panjang berarti dia tidak berbohong dan hidungnya tidak akan bertambah panjang, tapi kalau hidungnya tidak bertambah panjang berarti dia berbohong dan hidungnya seharusnya bertambah panjang.

Hm…

“Aku menyerah.”

“Kamu jangan menyerah secepat itu dong!” ujar Elva kesal.

“Maaf-maaf, jadi apa jawabannya?”

“Mudah saja, hidungnya akan bertambah panjang.”

“Loh kenapa?”

“Kan aku tidak bilang kalau hidungnya tidak akan bertambah panjang kalau dia tidak berbohong. Jadi walaupun kata-katanya jujur, hidungnya tetap bisa bertambah panjang.”

“Apa-apaan itu! Itu sih pertanyaan jebakan!” kataku kesal.

“Ini saja tidak bisa kamu jawab, kalau begitu kapan kamu bisa menjawab pertanyaanku yang serius? Katanya kamu mau mengeluarkanku dari cermin ini.”

“Ugh…”

Elva tertawa senang melihatku kalah. Aku pun ikut tertawa bersamanya.

“Oh ya Elva?”

“Hm?”

“Aku penasaran bagaimana ceritanya sampai kamu bisa berada di dalam cermin?”

“I-itu…” ekspresi Elva berubah begitu aku menanyakan itu.

“Ah maaf, kamu tidak perlu menceritakannya kalau kamu tidak mau.”

“Tidak apa-apa, kamu memang berhak tahu soal ini.”

Elva menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita, tatapan matanya tampak menerawang seperti sedang mengingat kenangan yang sudah berlalu lama sekali.

“Dari dulu aku senang sekali membaca. Keingintahuanku besar dan aku selalu berpikir dan bertanya mengenai banyak sekali hal. Tetapi pada zamanku dulu, perempuan dilarang berpendidikan, bisa membaca saja sudah bisa dianggap anak setan dan dihukum. Tapi aku sangat penasaran, sehingga aku diam-diam belajar membaca dan menulis dari kakakku yang seorang calon sarjana. Awalnya semua berlangsung lancar, tetapi semuanya berubah setelah kakakku meninggal karena cacar, tidak lama kemudian ayahku mati karena penyakit yang sama. Begitu mengetahui bahwa aku bisa membaca, penduduk desa menyalahkanku sebagai penyebab kematian kakakku dan menyebabkan keluarga kami mendapat kutukan. Mereka hendak membunuhku namun Ibuku melindungiku. Sebelum menikah dengan ayah, Ibuku sebenarnya adalah seorang penyihir dari bangsa Saxon. Ia lalu memasukkanku ke dalam cermin ini dan membiarkan penduduk desa membunuhnya,” air mata mulai mengaliri pipinya ketika ia selesai bercerita.

“Begitu rupanya, ibumu benar-benar memikirkanmu.”

“Ya, karena cermin ini bisa mengabulkan permintaan, selalu ada orang yang melindungiku sehingga aku tetap selamat sampai sekarang.”

“Bukan cuma itu.”

“Hm?”

“Satu-satunya cara agar kamu bisa keluar dari cermin itu adalah bila ada seseorang yang memohon agar kamu dibebaskan kan? Menurutku ibumu berharap suatu hari akan ada seseorang yang mencintaimu apa adanya, baik dirimu sendiri maupun pengetahuanmu. Orang itu harus bisa menjawab pertanyaanmu yang mengolah pikiran dan mengorbankan kesempatan untuk mendapatkan segalanya dengan satu permohonan itu untuk membebaskanmu dari cermin itu.”

Elva tercengang, ia menatapku dengan diam dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan menjadi orang itu. Aku akan membuat permohonan sekarang dan membebaskanmu dari cermin itu.”

“…aku takut,” katanya lemah.

“Kenapa?”

‘’Aku tahu hari ini pasti akan datang, tapi aku tidak bisa tidak takut. Bila kamu gagal menjawab untuk ketiga kalinya kita tidak akan bisa bertemu lagi kan? Aku sudah cukup senang dengan bisa bertemu dan mengobrol setiap hari seperti ini. Kalau kita tidak bisa seperti itu lagi, aku…”

“Elva…”

Aku hanya bisa diam sementara air mata mulai mengliri pipinya lagi.

“Tenang saja, aku sudah berjanji akan mengeluarkanmu dari cermin kan? Percayalah sedikit padaku.”

Elva tertawa kecil sambil mengusap air matanya.

“Kamu selalu bilang begitu.”

“Jadi? Apa kamu bisa mempercayaiku?”

“Bagaimanapun juga kamu akan tetap memaksakan? Dari pertama bertemu kamu selalu begitu, tidak pernah memperdulikan pendapatku dan bertindak sesuai keinginanmu sendiri.”

“Hey hey hey, aku begini karena memikirkanmu kan? Jangan bilang begitu dong.”

Elva tertawa.

“Yah, mungkin juga.”

“Jadi, apa kamu sudah siap? Apa kamu bisa percaya padaku.”

“Hm…” Elva tampak seperti berpikir keras lalu menatapku sambil tersenyum.

“Baiklah.”

“Kalau begitu aku akan membuat permohonannya, tolong jangan membuat petanyaan main-main seperti tadi lagi yah. Aku ingin kamu serius.”

“Tentu saja.”

Aku menarik nafas panjang.

“Aku ingin membuat permohonan!”

“Kalau begitu sebutkanlah permohonanmu. Tapi sebelum itu…”

Aku bingung, ini pertama kalinya aku melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Selama ini kamu sudah menemaniku, membuka duniaku lebih lebar walaupun aku ada di dalam cermin. Bagaimanapun sikap dan protesku di awal, kamu tetap berjuang demi aku.”

Elva menarik nafas panjang.

“Aku mencintaimu, Adi. Kalaupun kita tidak akan pernah bertemu lagi, aku akan selalu mencintaimu.”

Aku tertawa.

“Haah, masa kamu yang ngomong duluan sekarang? Seharusnya aku yang bilang begitu. Sejak pertama bertemu denganmu sampai sekarang, aku selalu kagum padamu dan karena dirimulah duniaku menjadi semakin luas walaupun kita tidak beranjak dari gudang ini. Aku mencintaimu Elva dan setelah kamu kubebaskan dari cermin itu kita akan menikah seperti janjimu saat kita pertama bertemu dan aku tidak menerima tidak.”

Elva ikut tertawa.

“Baiklah, sebutkan permohonanmu.’’

‘’Aku ingin agar kamu dibebaskan dari cermin ini.”

Elva dan aku saling bertatapan sambil tersenyum selama beberapa saat, lalu Elvapun mengeluarkan pertanyaannya.

“Paradoks Pinokio, aku akan mengabulkan permohonanmu kalau kamu bisa menjawabnya. Apa yang akan terjadi pada hidung Pinokio kalau dia berkata “hidungku akan bertambah panjang sekarang”?”

Pertanyaan yang sama dengan sebelumnya, tapi…

“Tetapi dengan syarat bahwa hidung pinokio hanya akan bertambah panjang kalau dia berbohong.”

…kali ini Elva serius.

“Elva, selama ini ketika kita berbicara soal paradoks dan penyelesaiannya, kamu selalu mengalahkanku. Pengetahuan dan kepintaranmu jelas lebih dariku dan untuk menjawab suatu paradoks secarra objektif, aku tidak mungkin menang darimu.”

Elva hanya tersenyum tenang.

‘’Tapi, kali ini aku akan menyelesaikan paradoks Pinokio dari sisi yang lebih subjektif, sesuatu yang jarang sekali kita pikirkan, yaitu perasaan Pinokio itu sendiri.”

Elva diam dengan ekspresi terkejut, dia sama sekali tidak memikirkan itu.

“Hidung Pinokio hanya bertambah panjang kalau dia berbohong kan? Kalau begitu aku bilang dia tidak berbohong dan hidungnya tidak bertambah panjang. Dia benar-benar percaya bahwa saat itu hidungnya akan bertambah panjang karena itulah dia tidak bisa dibilang berbohong. Memang karena hidungnya tidak bertambah panjang saat itu, perkataan Pinokio akan menjadi salah, tapi itu bukan karena dia berbohong melainkan karena dia tidak tahu.”

Aku berhenti dan menarik nafas.

“Itulah jawabanku, bagaimana?”

Elva terdiam dalam keterkejutannya, tapi perlahan senyum mengembang di wajahnya.

“Jawabanmu tepat, aku sama sekali tidak memikirkan itu. Permohonanmu akan kukabulkan.”

Saat yang kami tunggu tiba, aku menarik nafas panjang lagi untuk menenangkan hatiku dan merentangkan kedua tanganku lebar-lebar.

“Kalau begitu aku ingin kamu, Elva, bebas dari cermin itu, meloncat ke pelukanku, dan bahagia sebagai istriku selamanya.”

Elva tertawa, air mata mulai mengalir dari matanya.

“Itu lebih dari satu permohonan, dasar bodoh.”

Sebuah cahaya terang muncul dan bersamaan dengan meredupnya cahaya itu, seorang gadis cantik berambut emas mendarat di pelukanku. Aku membalas pelukannya erat-erat dan berjanji untuk tidak akan melepaskannya.

Sekarang dan selamanya.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Cermin Paradoks

  1. Xamdiz says:

    Saya mengaku bahwa cerita masa lalunya Elva itu sebenarnya sangat terinspirasi dari cerita masa kecil Joan di novel Pope Joan. Dengan beberapa perubahan sih, terutama karena di novel aslinya si ayah tidak meninggal dan ibunya bukan penyihir (novelnya fiksi historikal jadi tidak ada sihir).

    Semoga nggak tergolong plagiat, waktu nulis nggak terlalu dipikir tapi waktu dibaca lagi sekarang jadi khawatir nih…

    Aduh maaf ya semua, anggap saja tribute karena saya suka novelnya (seenaknya). :P

  2. Shelly Fw says:

    Cermin, eh cerita ini dikemas dengan baik kurasa. 3/5 :)

    Ada beberapa dialog yang diulang-ulang padahal mungkin bisa diminimalisir sebenarnya.
    Wah saya belum pernah baca novel Pope Joan. Apa di novel itu juga dijelaskan paradoks pinokio? *penasaran.

    Apapun itu, ayo kita buat cerita yg lebih baik tahun depan! ^^ *halah

    • Xamdiz says:

      Hahaha, nggak ada. Yang mirip cuma bagian masa lalunya saja dan itupun diubah sisanya ide sendiri.

      Iya, dialog yang berulang itu gara-gara ini diedit di jam-jam terakhir. Banyak bagian tengah yang dipotong dan ditulis ulang, tapi ada juga yang dibiarkan, yang berulang itu dialog lama yang tidak dihapus, ide yang sangat terbatas karena agak panik jadi nggak sadar kalau ada pembicaraan yang mirip di bagian akhir. >.<

      Versi aslinya itu 5 kali percobaan dan ada Crocodile's dillema, tapi kebanyakan kata. Jadinya dihapus jadi cuma 3 percobaan tapi gantinya dialog antara Adi dan Elva diperbanyak. Niatnya ingin 50% logika 50% romantis sih tapi susah juga yah hahaha.

      Terima kasih semangatnya! Ayo kita tulis cerita yang lebih bagus lagi!

  3. Nectarpilair says:

    Ini cerita yang sangat mendalam bila kita memikirkan setiap motif dan perasaan di balik pertanyaan yang ada. Bagaimana ke-confidence-an si tokoh utama tersirat di dalam pertanyaan yang diserahkannya.
    Uh.. sy tetep lebih suka kalo dia ga nanya frontal ‘-kau tak ingin me–?’ Dan dibalas ‘ya.’. Biarkan tebakan itu disimpan di dalam pemikiran tokoh. Dan kurasa alasan cewek itu sdh cukup jelas dan jd lebih romantis.
    In the end, saya suka banget dialog penutup endingnya. Haha.. >_<)

    Kuberi nilai 8/10.

  4. katherin says:

    Good story. Plot menarik, narasi lancar.
    Dialog… OK lha walaupun krn menyangkut logika dan paradoks (definitely not my thing), sempat bikin kepala melayang2.

    Good luck…

    • Xamdiz says:

      Terima kasih!

      Oh ya? Membingungkan yah? Wah, gagal deh, tadinya berusaha bikin cerita yang bikin orang biasa pun ngerti paradoks yang dibicarakan. Tapi ternyata susah yah.

  5. Jovyanca says:

    Maniezzz~ cerita yang maniezzz.. hehehe..

    Salam kenal, Xamdiz ^^

    Saia suka ceritamoe. Terutama bagian dialog2nya. Percakapannya tidak kaku sama sekali, mengalir lancar. Saia kurang ngerti istilah teknisnya, tapi idea ceritamu keren. Dibawain dengan bahasa yang asik pula. Tidak membosankan. Good job~ :D

    Cuman agak penasaran. Si Adi umurnya berapaan ya? :p

    Yak. Sekian dari saia.
    Kalo sempet..mampir2 ya ke 129 ^^ tQ~

    • Xamdiz says:

      Waktu menulis ceritanya dalam bayangan saya itu si Adi belum lama lulus kuliah. Jadi sekitar 21 atau 22 tahun mungkin. Jurusan matematika, karena dari keluarga orang kaya dia nggak buru-buru nyari kerja. XD

      Terima kasih kunjungan dan komentarnya! Langsung kunjungan balik sekarang! ;)

  6. Cukup kunikmati, cute little story.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>