Chronovisor

CHRONOVISOR

karya Awi Chin

1258 Saka

Yang kutahu, tubuhku terombang-ambing di pelukan sang laut. Dari kejauhan di atasku, aku melihat cahaya terang yang seakan-akan memanggil. Datanglah, berenanglah kearahku kalau kau masih menginginkan selembar nyawa di badanmu.

Dengan sekuat tendangan dan kibasan tanganku. Udara segar kugapai masuk ke dalam paru-paru. Perlu waktu beberapa lama bagi mataku untuk melihat apa yang terjadi. Aku tengah berenang di antara kapal-kapal kayu berukuran raksasa. Layar-layarnya terkembang dengan gagahnya, berkibar menantang sang angin. Aku mulai menghitung kapal-kapal itu. Tepat setelah otakku mencapai angka dua belas. Suara itu berlari memasuki telingaku.

“Tuan, anda selamat?”

Disaat itulah aku melihat makhluk yang berbicara padaku. Seekor naga kecil bersisik hijau kemerahan. Dengan kumis panjang berwarna kuning dan mata menyala darah. Tiba-tiba saja, entah karena tubuhku yang sudah lelah mempertahankan daya apung atau kemunculan naga kecil itu, kesadaranku mulai melarikan diri dengan tergesa-gesa.

 

***

 

2037 Masehi

“John, john, woiii bangun!” Suara cempreng yang sudah sangat kukenal mulai membangunkanku dari tidur.

“Berisik ah!” Aku menggeliat kemudian melanjutkan tidurku.

“Bangun atau gue otak-atik mesin elo!”

Mendengar perkataannya, aku langsung duduk di ranjangku.

“Elo ngapain sih pagi-pagi gini gangguin gue!” ujarku sambil berkata dengan keras give me some light. Sinar merah dan biru yang terletak di sudut kamarku berkedip sekejap. Tidak diperlukan waktu lama bagi voice recognition[1] untuk mengenali suaraku. Mengirimkannya ke processor[2] yang sudah diprogram dengan artificial intelligence[3]. Tak berapa lama, suara sengau yang selalu menyapaku setiap pagi mulai menyapa. Good morning Mr. Titor.

“Jadi gimana? Udah dicoba game buatan gue?” Mark, seorang programmer yang baru-baru ini menciptakan game RPG[4] mulai menanyakan hal yang ia tanyakan kepadaku dalam setiap kesempatan.

“Belum sempet! Sibuk!”

“Yaelah, itu game bentar lagi mau dilaunching beta versionnya. Cih, tahu gitu gak bakalan gue minta elo jadi testernya.”

“Lagian elo juga! Udah tahu gue lagi sibuk! Masih aja elo nyuruh gue!” aku berdiri sambil memberi perintah untuk melipat kasurku masuk ke dalam dinding.

Mark mencibirku, “Mana gue tahu elo ngomong serius pas elo bilang ke gue kalau elo mau buat msein waktu.”

Gantian aku yang mencibirnya. Aku melangkahkan tubuhku masuk ke dalam washer. Tak sampai lima menit, tubuhku sudah bersih dan segar. Pakaianku pun sudah terganti.

“Heh. Elo liat seminggu lagi. Gue bakalan membuat breakthrough didunia teknologi.”

“Yeah, yeah, whatever you say dude. Just don’t forget to play my game and gimme some feedback, would you?”

“I will, but please noted that it’s not a promise.”

“Ya udahlah, gue pergi dulu!” ia berjalan ke arah lingkaran yang ada di sudut kamarku. Tepat sebelum ia berteleportasi melalui portal itu. Aku bertanya untuk terakhir kalinya.

“Wait a sec, elo ngehack ke jaringan portal gue lagi ya? Perasaan itu udah dikunci semalam!”

Ia menyengir iblis padaku sambil menekan touch pad di dinding, “Well, like we all already know. I’m a good programmer with a great hacking skill.”

Sesudah itu, sinar kekuningan yang berpendar sayu di bawah pijakan kakinya mulai menyala terang dan Mark pun menghilang. Meninggalkanku sendiri yang masih berpikir tentang algoritma baru untuk kuimplementasikan ke kunci portal itu. Sehingga Mark tidak bisa lagi menganggu tidurku.

 

***

 

1258 Saka.

Aku mengerjap mataku lagi. Sebelumnya, kegelapan dari lautan birulah yang menyergap mataku. Sekarang, kegelapan dari hutan hijaulah yang melakukannya.

Apa aku bermimpi? Sepertinya tidak, karena saat aku bangkit dan duduk di lantai hutan. Naga kecil itu mulai terbang ke dalam pangkuanku.

“Tuan? Tuan sudah bangun?”

“Si…, siapa kamu?”

“Taksaka, tuan dapat memanggil saya Taksaka!”

“Dimana kita? Dan terpenting, siapa saya?”

Taksaka menatapku dengan mata bulatnya. “Kita ada di pantai utara Jawa. Dan nama tuan adalah Mada!”

“Apa yang…,” aku kebingungan dengan pertanyaan yang akan kulontarkan.

“Tuan harus memenuhi takdir tuan. Menjadi seorang Amangkubhumi[5] yang akan mengantarkan kerajaan Majapahit[6] mencapai puncak kejayaan. Dan saya, Naga Taksaka, akan menjadi pemandu Tuan dalam menjalani semua ujian yang akan tuan hadapi.”

Perasaanku menjadi aneh. Aku melihat kejujuran berenang anggun dalam matanya. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Sekarang, kita harus pergi ke Kerajaan Majapahit dan menemui Raja Hayam Wuruk[7].”

Aku berdiri enggan. Belum sempat aku melangkah, hutan yang sepi tiba-tiba penuh dengan suara gemerisik dan langkah kaki. Dua makhluk raksasa berwujud seperti kera sudah berdiri dengan ekspresi marah. Siap menyerangku.

“Kita diserang tuan.”

Belum sempat aku mencerna kata-katanya. Ia sudah terbang mengelilingiku. Cahaya hijau kemerahan mulai melingkupiku dalam lingkaran besar yang semakin mengecil. Ketika sinarnya redup. Tubuhku mulai tertutup tameng yang mempunyai sisik yang sama persis dengan Naga Taksaka. Menutupi dada, dengkul, lengan, kaki dan punggung serta celanaku. Sebuah pedang panjang berlekuk seperti keris raksasa sudah tergenggam erat di tanganku. Di pangkalnya, mata merah dan mulut runcing Naga Taksaka menonjol dengan cantiknya.

“Mari kita habisi dua Genderuwo itu, Tuan!”

 

***

 

2037 Masehi

Aku tengah menyolder I/C[8] dalam mesin waktuku ketika dinding di hadapanku berdesing sejenak. Lalu wajah Mark dengan senyuman tengilnya telah memenuhi permukaannya.

“Hey man. Elo apain sistem pengamanan elo? Kok gak bisa gue terobos lagi!”

Aku hanya tersenyum culas mendengar perkataannya. Tiba-tiba sebaris tulisan berkedip tepat di depan wajah Mark.

MR. JOHNSON ASKING FOR PERMISSION TO TELEPORT. ALLOW?

Aku mengibaskan tanganku. Tulisan di depan wajahnya berganti. Begitu juga ekspresi yang beriak di air mukanya.

ACCESS DENIED.

“Oh come on man!”

“Elo mau ngapain sih? Gak lihat gue lagi sibuk!”

“I just wanna to make sure that you’re alright. Udah hampir seminggu elo gak keluar.”

Aku mendelik padanya, “Yakin? Cuma itu? As you can see, I’m all alright in here.”

“Just let me in man. Please?”

Aku mendesah. Semenjak kami kuliah dahulu sampai kami berhasil menggondol gelar doktor sekarang. Nada persuasifnya selalu saja berhasil meluluhkan hatiku untuk meluluskan semua perintahnya.

“I’ll let you in under one condition. Jangan ngoceh tentang game elo. Gue belum punya waktu buat main!” ujarku sambil berdiri dan berjalan ke arah komputerku.

“But…,”

“take it or leave it, Mark!” semburku tak sabar.

“Oke, oke! Just let me in!”

Aku hanya melihat sekilas senyumannya sebelum dindingku kembali berkedip sejenak lalu pudar. Mark sudah berdiri di atas portal yang ada di sudut laboratoriumku.

“So? How is it going?”

Ia berjalan ke arah kotak besi yang belum tertutup sempurna. Dari luarnya berbagai jenis kabel dengan sejuta warna membelit dan mengular di rangka-rangka besi berwarna perak berkilauan. Mark menjulurkan tangannya menyentuh rangka luar mesin itu dan menoleh padaku.

“Sedikit lagi. Masih ada beberapa error pas gue compile programnya. Tapi sebentar lagi juga beres.”

“Are you sure it’s gonna work man? To be honest, I’m worried about you!”

“Jangan meremehkan gue Mark. I know I can make it. I can feel it in my hands! And please. Don’t worry about me.”

“I mean, udah berjuta-juta orang yang mencoba membuat mesin kayak gini. Tapi gak ada yang berhasil.” Ia berjalan ke arahku.

“Elo ke sini ngapain sih? Kalau cuma buat mendikte apa yang gue lakuin. Portal gue terbuka lebar buat elo pergi.”

“Oh easy man. I miss you sooo much!” ujarnya sambil tertawa. Mau tak mau, sesimpul senyum terikat di bibirku.

“Hahahahaha. Just wait, Mark. Sebentar lagi, gue bakalan jadi orang terkenal buat penemuan gue ini!”

Ia mendekatkan mukanya ke layar komputerku. “Elo pake teori apa sih? FTL Travel[9]?”

Aku menggeleng.

Time dilation[10]? Wormhole[11]?”

“Kurang lebih yang terakhir. Prinsipnya sama kayak portal yang kita pake. Tapi gue gak cuma mempersingkat jarak. Gue juga membelokkan waktu!”

Ia mengernyitkan dahinya.

“Oh please, jangan bilang elo gak ngerti. Itu portal kan dosen kita yang buat dan kita termasuk tim programmernya. Jangan bilang elo lupa.”

“Please, gue masih inget. Prinsipnya kan sama kayak proses apparate dan dissaparate di novel jadul Harry Potter and bla bla bla itu kan! Pada saat kita berteleport, tubuh kita bakalan terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang bakal ditransfer dengan kecepatan tinggi. Terus dikombinasikan lagi di portal tujuan kita dengan kecepatan yang luar biasa.”

“Haleluya. Ternyata temen gue masih inget teorinya. Gue pikir dipikiran dia cuma ada game doang!”

“But, there’s one thing I don’t understand. Elo cuma punya satu mesin waktu. Gimana caranya elo keluar di whatever time you wanna go? Dan gimana cara tubuh elo merekombinasikan dirinya lagi tanpa alat.”

Aku menolehkan wajahku menghadapnya, “Di sinilah peranan wormhole itu. Gue bakalan membuka satu wormhole di waktu yang gue kehendaki. Tubuh gue gak akan terpecah karena gue gak pakai teori dari portal itu. Cuma cara kerja hampir mirip kecuali dibagian itu. Elo tahu kan teori relativitas umum einstein? Melengkungkan ruang dan waktu itu suatu hal yang mustahil”

“Wait a sec,” Mark tampaknya tidak dapat menerima penjelasanku. “Gimana caranya elo balik ke waktu ini?”

Aku merogoh kantung yang ada di jas labku. Sebuah gelang yang juga belum terlapisi kuletakan di telapak tangan Mark.

“Pakai ini.”

“What? Ini mesin waktu juga? Ngapain elo buat yang segede gajah gitu kalau elo bisa buat yang sekecil ini?” cerocosnya sembari menunjuk mesin waktuku dan mengguncangkan gelang di tangannya tepat di depan mukaku.

“See, dari dulu elo gak berubah ya. Suka ngoceh sendiri padahal belum gue jelasin!” ia menarik satu bangku dari dalam lantai. Kemudian duduk di atasnya.

“Oke. I’m listening!”

Aku menarik napas panjang, ”Gelang itu bukan mesin waktu. Tapi alat komunikasi plus alat pendeteksi! Gelang yang elo pegang terhubung dengan mesin waktu itu dan bisa jadi alat komunikasi dua arah. Jadi gue bisa ngomong lewat gelang itu. Komunikasi akan terjadi dengan menembus waktu dan tempat, sampai ke situ,” aku menunjuk mesin waktu itu.

“But how?”

“Teori portal itu, remember? Dan di dalam gelang itu ada alat buat mendeteksi wormhole yang gue ciptain dari mesin waktu itu. So that’s the one and only way for me to get back here.”

Ia tampak berpikir keras, “Jadi…,”

“Jadi ya, I need you here when the time come. Buat membuka wormhole dari sini ke whatever time and place I’m in,” ujarku memotong perkataannya.

“But you never told me that before.”

“Oh please. Elo pasti mau. Gak mau pun pasti gue paksa sampai elo mau!”

“Tapi itu semua masih teori. Elo yakin semuanya bakalan lancar? Tanpa side effect?”

“Side effect pasti ada. Mungkin aja cuma sebagian tubuh gue yang berhasil berpindah. Terpotong di dalam wormhole. Atau gue malah berpindah ke parallel universe[12]. Atau kalau ternyata wormhole yang gue ciptain ternyata untraversable. Gue juga bisa aja terperangkap di dalamnya dan gak bisa keluar. Ada seribu satu kemungkinan yang dapat terjadi.”

“Whooaa man, with that kind of risk. I don’t wanna take a part of this,” tiba-tiba saja, aku merasakan kengerian di dalam matanya.

“But man,” aku memohon padanya. “I beg you, please. You know how much effort and sacrifice I pour into this project. I mean, my whole life is depend on this.”

“Yeah, literally. Your whole life is depend on that machine.”

“Please, gue udah berusaha sebisa mungkin mengeleminasi semua worst case scenario. Gue gak berniat menghabiskan dua tahun hidup gue dalam kesia-siaan belaka,” aku menatap matanya lekat-lekat. “So?”

Ia menghela napas panjang. “I don’t know man. Give me time to think. Tiba-tiba gue jadi nyesel kok gue datang ke sini ya!”

“I owe you a big time man,” aku memeluk dirinya erat. Satu-satunya sahabat yang kupunyai di dunia ini.

“Elo tahu cerita dalam mahabharata tentang Raja Revaita? Saat Beliau pergi ke surga untuk bertemu Brahma dan ketika dia kembali ke bumi, bertahun-tahun sudah lewat. Jangan sampai elo jadi kayak gitu! I hate to see you still young and I’m already became an old man!”

Aku tertawa mendengarnya, “hahahahaha, tahu dari mana elo tentang legenda itu.”

“I’ve done some research for my game. The one that you’re not playing with!”

“Yet, gue janji bakalan nyelesain game itu sebelum gue berpindah waktu dan tempat.”

“Yeah, you better do that or find someone else to help you to get your sorry asses here.”

 

***

 

2037 Masehi

Sudah berjam-jam aku menjelajahi hutan ini. Melawan beberapa Genderuwo dan segerombolan babi ngepet maupun pendekar yang mempunyai wajah ular. Staminaku semakin menurun. Namun kembali menguat setelah memakan kue lemang yang kudapat dari beberapa gadis yang kutemui di dalam hutan.

Naga Taksaka sudah kembali ke wujudnya. Yang kali ini nampak semakin membesar setelah memakan hati yang ia dapat dari sesosok jin yang kulawan setengah mati. Naga Taksaka berkata bahwa jin itu bernama Marid. Setelah memakan hatinya. Bukan hanya ukuran Naga Taksaka yang semakin membesar. Kekuatan pertahanan dari tameng yang ia lekatkan di tubuhku semakin besar. Begitu pula efek dari tebasan pedangnya.

“Kita semakin dekat, Tuan.”

Ia berbicara padaku pelan. Hutan yang kami jelajahi semakin kehilangan rimbun pohonnya. Dari kejauhan, aku melihat langit yang membentang. Aku yakin sekali kami sedang berada di dataran tinggi sekarang. Aku berjalan mendekati tebing itu. Melihat hutan yang masih membentang luas di bawahnya.

“Lihat Tuan. Itulah Kerajaan Majapahit.”

Di kejauhan, aku melihat bongkahan siluet yang membentuk sebuah kastil raksasa. Aku melangkahkan kaki lagi satu gerakan ke depan. Tiba-tiba aku merasa beku. Tubuhku tak dapat digerakan sama sekali. Bahkan manik mataku pun tidak dapat bergerak. Aku beku, terdiam dan terpaku.

Apa yang terjadi? Aku bahkan sudah berhenti bernapas. Jantungku pun terasa diam. Semua bunyi yang sedari tadi mengalun tiba-tiba diam. Aku masih menunggu ketika tiba-tiba saja aku merasakan sensasi lenyap. Tubuhku serasa tertarik. Semua cahaya menghitam. Gelap. Aku buta dan tak berwarna.

Hal berikutnya yang kutahu adalah, aku menghilang.

Menghilang dalam ketiadaan.

 

***

 

2037 Masehi

Aku mengirim pesan ke nomor smart phone Mark. Menyuruhnya untuk segera datang. Kira-kira lima belas menit kemudian, ia sudah muncul dari dalam portal yang ada di dalam kamarku.

“What’s up John?” ia bertanya dengan ceria.

“Game elo Mark, pas gue mainin tiba-tiba hang. Entah karena crash atau kenapa gue gak tahu!”

Ia langsung duduk di sebelahku yang tengah mengotak-atik komputer.

“How? Di bagian mana?”

“Pas gue jalanin karakternya ke arah tebing. Tiba-tiba aja gak bisa digerakin lagi!”

“Hooo, nanti gue cross check lagi ajalah.”

Aku menatapnya, “Tomorrow’s the day man.”

“What? It’s already done? You sure?”

“I’m pretty sure.”

Ia mendengus mendengar jawabanku. “I need you to be one hundred percent sure about this.”

Aku mengangkat tanganku. Melambaikan telunjuk dan jari tengahku tepat di depan mukanya, “I am sure. I swear.”

“Elo mau pergi ke waktu mana sih?”

“2011, I want to see my parent. Elo kan tahu kalau seumur hidup, gue gak pernah melihat mereka.”

Mark tampak prihatin melihatku. Berbeda dengan dirinya yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya. Orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil. Lama-kelamaan, waktu menghapus ingatanku akan wajah dan kenangan tentang mereka berdua.

“Satu hal yang pasti, jangan sampai karena satu kesalahan. Elo malah membunuh bapak elo. Elo tahu kan betapa rumitnya hipotesa yang muncul kalau itu terjadi!”

Aku tertawa mendengarnya. “Don’t worry Mark. I won’t!”

“Well, what can I say. Tomorrow right? Gue pergi dulu. Mau ngecek game gue. Gajah Mada: the Journey Begins”

Kemudian dia pergi. Meninggalkanku sendiri.

 

***

 

“So? How’s your game?” aku bertanya padanya.

Keesokan harinya, tepat di lab kerjaku. Kami tengah menyiapkan diri untuk penemuan terhebat abad ini.

“Ada bug[13] ternyata. Para tester yang lain gak terlalu menjelajahi dunia jaman Kerajaan Majapahit dengan teliti. Makanya yang itu luput. Thanks by the way. Untung elo orangnya teliti banget.”

Aku tertawa mendengar kata-katanya.

“Are you sure about this man?”

“That question again?” aku mendelik padanya sambil memasang gelang penghubung ke dalam tanganku.

Ia tampak gelisah ketika aku masuk ke dalam mesin waktu. Aku berdiri tegang di dalamnya.

“Thank you for doing this man!” aku berkata singkat padanya.

“I hope you alright man. I’m not support all this. But you’re my friend and I don’t wanna let you down.”

“I’ll be alright. I promise,” ujarku sambil memalsukan keyakinan di dalam suaraku.

“I’m ready when you ready!”

“Any last word, Mark?”

“Hahahahaha,” ia tertawa gugup, “have a safe journey. Love you man!”

Aku menekan beberapa tombol di dinding dalam mesin waktuku, “Me too. More than you ever knew. In a minute, me, John Titor. Will make a history”

Tiba-tiba saja mesin waktuku berguncang pelan. Lama-lama getarannya makin kuat. Mark tampak berteriak panik dari luar. Namun tidak kuhiraukan. Kakiku terasa melengkung, semakin lama sensasi itu semakin merayap naik. Dapat kurasakan seribu kunang-kunang beterbangan di dalam perutku. Hal terakhir yang kuingat, aku terlipat dan membengkok. Mengecil dan terpilin. Suara kekhawatiran dan teriakan Mark mulai mengecil.

Dan aku semakin tersedot.

 

***

 

Unidentified time.

Basah, aku merasa basah di sekujur tubuhku. Seperti janin yang berenang-renang dalam rahim. Dari atasku aku melihat cahaya. Dengan sekuat tenaga aku berenang menuju sinar itu. Apakah aku sudah mati dan itu adalah cahaya akhirat?

Aku mengambil napas lega ketika berhasil selamat dari cengkraman sang lautan. Aku melihat kapal-kapal di sekelilingku. Kapal raksasa yang terbuat dari kayu berwarna cokelat dan nampak kuno. Aku berhasil! pekikku dalam hati.

Aku mengangkat tanganku. Gelang penghubung masih terpasang di sana. Tepat pada saat aku akan menghubungi Mark. Suatu suara memasuki telingaku.

“Tuan, anda selamat?”

Seekor naga kecil dengan sisik hijau kemerahan nampak berbicara padaku. Dan tiba-tiba saja, aku merasa gelap.


[1] sistem yang digunakan untuk mengenali perintah kata dari suara manusia dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu data yang dimengerti oleh komputer.

[2] komponen komputer yang fungsinya untuk memproses perintah yang diinputkan oleh user melalui input device seperti keyboard, mouse dan lain-lain.

[3] studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia.

[4] Role Playing Game. Adalah sebua game dimana pemain akan benar-benar berperan menjadi sebuah karakter

[5] Perdana Menteri.

[6] kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia. Berdiri dari sekitar tahun 1239 hingga 1500 Masehi.

[7] Raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1351-1389, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai zaman kejayaannya.

[8] Intergrated Circuit, komponen elektronika semikonduktor yang merupakan gabungan dari ratusan atau ribuan komponen-komponen lain. Berupa kepingan silikon padat, biasanya berwarna hitam yang mempunyai banyak kaki-kaki (pin)

[9] Faster Than Light Travel, sebuah teori dimana jika sebuah benda berhasil bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka menurut teori relativitas spesial. Waktu yang berjalan disekitar benda tersebut akan bergerak lebih lambat. Dan benda tersebut dapat berjalan menembus waktu.

[10] pengertian dilatasi waktu adalah perubahan atau selisih waktu dari waktu sebenarnya, jika suatu benda bergerak dengan kecepatan mendekati cepat rambat cahaya. Dilasi waktu (time dilation) merupakan kenisbian (relativitas) waktu berdasarkan hukum kedua Einstein.

[11] Lubang cacing. Sebuah topologi teoritis dimana adanya portal atau jalan pintas yang dapat menembus ruang dan waktu.

[12] Dunia alternative. Suatu konsep dimana ada suatu dunia lain di luar dunia yang kita ketahui sekarang.

[13] error dalam pengkodean atau kesalahan logika yang menyebabkan program atau sistem berhenti bekerja atau menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan.

 

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Chronovisor

  1. Adham117 says:

    PERTAMAX! Emang harus pertamax di postingan Awi! :P

    Pertama, cool title! Cool motherfather title!

    Kedua, ah w setuju ama Calvin yang seharusnya tidak perlu dialog Inggris campur Indonesia. Toh tidak menimbulkan kesan signifikan kalau pakai bahasa Inggris-Indonesia itu berarti settingnya di masa depan.

    Ah w kehilangan sentuhan magis u dalam narasi. Narasi u yang seharusnya luar biasa cantik malah tertutup dengan penggunaan dialog Inggris-Indonesia.

    Good luck Awi! 3/5

  2. Darin Kowalski says:

    Hmmm … Penggunaan dialog Inggris-Indonesia sudah disinggung komentator sebelumnya … ada baiknya kalau dibuat italic.

    Good luck!

  3. fr3d says:

    sebagai penebusan dosa karena gak mengomentari Bujang Dara, aku akan ngasih komen buat cerita ini aja :D

    pertama,
    ini adalah cerpen, wi
    jelaslah kalau catatan kaki (bahkan sampai #13!) akan menjadi turn-off buat banyak orang :(

    kedua,
    tentang editing dan EYD yang masih kacau
    cerpen ini sebenernya punya materi yang sangat bagus, apalagi di bagian “bug” yang lumayan ngeganggu hati nurani banget (halah xD)
    tapi materi bagusnya jadi ketutupan sama editing yg gak bersih
    contoh yg fatal adalah di scene Gajah Mada yg ke-3, di situ tahunnya salah banget :|

    ketiga,
    pemakaian bahasa Inggris-nya
    sebagai polisi grammar (:P), masih ada sejumlah error di beberapa bagian
    tapi kurasa salah grammar bisa dimaafkanlah mengingat si John dan Mark ini sepertinya adalah orang Indonesia (?), jadi seyogya-nya memang wajar-wajar aja sih kalau masih ada yg salah bahasa Inggrisnya –> malah bisa memperkuat karakterisasi *ngeles xD

    jadi kesimpulannya, imo, ini seharusnya masih bisa jadi jauh lebih baik lagi
    ;)

  4. katherin says:

    All your base are belong to us.

    Mungkin familiar dengan kalimat ini?
    Terus terang penggunaan campuran bahasa inggris sebagai dialog bukannya membuat keren, malah membuat malas baca. Apalagi ditambahin grammar yg miss di sana sini.

    Footnote nya juga sangat mengganggu.
    Gimana sih rasanya lg baca, tau2 ketemu footnote dan harus scroll ke bawah cuma buat baca footnote?

  5. Shelly Fw says:

    Ide dan konsepnya sudah menarik padahal. 6/10

    Alangkah lebih baik jika bahasanya dikemas lebih rapi lagi dan ya, perlu huruf italic.

    Cheers^^

  6. Awi says:

    terima kasih semua bagi yang sudah komen.
    Hahaha, dari awal sudah yakin kalau ini memang bukan kontender yang bagus.
    Masalah footnote sih awalnya biar gak membingungkan pembaca aja sih, tapi jatuhnya malah kebanyakan yak.
    >,<

  7. negeri tak pernah-48 says:

    Sebetulnya ini cerita dengan konsep yang keren. Sayang kerennya berkurang karena hal-hal yang udah disebut di komen. Hehe..

    Yang saya kurang nangkep: sebetulnya zaman Gajah Mada itu dalam game atau si tokoh utama betul-betul terbang ke zaman itu yah?

  8. gurugumawar gurugumawaru says:

    Pertama baca… Ho, judulnya keren. uhum, uhum.. terus scroll scroll ke bawah.. eh, Titor? John Titor yang itu maksudnya?? scroll scroll, nyahaha, bahas mesin waktu, ternyata ini cerita beneran soal John Titor XD

    Seru! ceritanya seru buat saya. Pertama-tama saya emang terganggu dengan gaya bahasa campur-campurnya, tapi makin lama makin kebiasaan, malah ngerasa lucu juga liat hubungan pertemanan John & Mark >w<. Masalah foot note well, udah saya skip dari awal, karena saya beranggapan ntar juga ngerti (salah besar, saya gak ngerti sampe ceritanya beres, saya memang odong =_=).

    Well, kayanya temen-temen di atas udah pada komen, jadi saya aminin aja.

    3 out of 5 buat saya ^^

    PS: keren juga ya kalo ada yang mau bikin semacem AOM versi mitologi Indonesia XD

    • gurugumawar gurugumawaru says:

      oh iya, ada satu salah sebut tahun, pas bagian ini:

      2037 Masehi

      Sudah berjam-jam aku menjelajahi hutan ini. Melawan beberapa Genderuwo dan segerombolan babi ngepet maupun pendekar yang mempunyai wajah ular. Staminaku semakin menurun. Namun kembali menguat setelah memakan kue lemang yang kudapat dari beberapa gadis yang kutemui di dalam hutan.

      Mengingat settingnya, mungkin maksudnya taun 1258 Saka kali ya, bukan 2037 Masehi, itu aja ^^

  9. M.Asa says:

    Mampir ke tetangga ah *bawa puding*

    Ternyata selain kita tetanggaan, cerita kita ada persamaannya. Sama-sama ada setting jaman Majapahit :)

    Oke, mulai berkomentar.

    1. Masalah penggunaan dialog Kamus (Inggris-Indonesia :)). Masalah ini udah dikomen banyak orang, jadi aku mau bilang aja kalo tujuan penggunaan dialog kamus itu untuk melihat betapa bedanya waktu dua masa itu, maka itu tak perlu. Tanpa itu pun ke dua masa itu udah terlihat beda banget.

    2. Catatan kaki. Aku bukan anti catatan kaki, tapi kupikir catatan kaki dalam cerita ini berlebihan. Bukan hanya dari segi jumlah untuk sebuah cerpen, tapi kadang yang sudah jelas aja masih kamu beri catatan kaki. Misalnya Majapahit, menurutku setiap orang udah tahu Majapahit itu apa.

    3. Terakhir aku merasa ada ketidak sesuaian di awal dan endingnya. Di awal si tokoh utama hilang ingatan (Sampai tidak ngerti siapa dirinya), tapi di akhir ia masih ingat akan gelang dan ingin menghubungi Mark. Ini berarti di bagian akhir dia gak hilang ingatan. Padahal sepenangkapanku dari cerita ini bagian awal dan akhir adalah kejadian yang sama. Ato apakah aku yang salah tangkap???

    Sekian, maaf jika kurang berkenan :(

    Silakan mampir ke lapak 63 (http://kastilfantasi.com/2012/07/amba-titik/) jika sempat :D

  10. Hai salam kenal ya :D

    menurut gw ini cerita yang keren kok. Whew. Seperti ada dua cerita dalam satu cerpen, setting majapahit dan setting masa depan. Penulisannya udha enak, dan akhirnya ada lagi cerpen yang pakai bahasa gaul *Terharu karena ga satu-satunya cerpen yang pake bahasa gaul*

    Soal dialog campur indo-inggris, gw lebih nangkepnya karena hubungan John-Mark sebagai sohib sih. Sesuatu yang wajar sih kalau duo sohib pake bahasa Indo campur bahasa lain, meskipun gw rasa emang kebanyakan sih inggrisnya. Hehe. (Asumsi ini settingnya indo).

    Soal footnote sudah banyak disinggung di atas ya. Honestly, gw pernah baca sekilas artikel tentang wormhole dan time-travel theory lain jadi ga gitu keganggu, tapi ngeliat footnote bertebaran di sebuah cerpen pastinya cukup bikin pembaca kurang enak liatnya ^_^ kecuali pas ni udah dibukukan sih.

    Soal ending, gw nangkepnya Kalau John ini justru malah masuk ke parallel universe, yang notabene merupakan game buatan si Mark, bukannya kembali ke jaman dahulu kala. Sementara itu, kita tahu di awal kisah game-nya si Mark, bahwa main chara game-nya ngehang saat nyampe titik tertentu. Jadi, bagian kisah game gajahmada itu jadi semacam foreshadowing untuk apa yang bakal terjadi setelah ending. Itu yang gw tangkap sih. Sory kalau salah ^_^

    Cerita yang menarik banget. Kalau sempat, silakan mampir ke lapak 244 ya. Btw Chronovisor sendiri artinya apa ya? Atau gw yang miss? Haha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>