Conundrum

CONUNDRUM

karya Little Hyuu-su

 

(Apa yang mati tapi hidup? Apa yang hidup tapi mati?)

.

.

Prolog

Bocah itu kembali memandangi dirinya di depan cermin dengan pandangan sayu. Mungkin, inilah penyebab mengapa anak-anak lain menjauhi dirinya. Karena ia berbeda dari mereka, dari para makhluk berambut yang hanya memiliki dua tangan dan dua kaki, yang hanya memiliki sepasang mata biasa, dan tubuh permanen. Ia tak seperti mereka; di punggung kecilnya muncul sepasang sayap hitam berotot yang begitu ngilu ketika digerakkan, matanya yang berwarna abu-abu kelam dapat berubah menjadi merah darah, dan kuku-kuku tajam tumbuh pada jemari-jemarinya yang mungil.

Bocah itu terisak, berjalan menuju sudut kamar—tempat ia disembunyikan—lalu menelungkupkan kepala di sela-sela kakinya.  Semua yang dialaminya terasa begitu berat. Hanya karena ia terlahir berbeda dari yang lainnya, ia dijauhi dan ditakuti. Padahal, ia tidak membunuh (ia bahkan tak menyukai daging manusia). Hanya karena mereka—para manusia itu—beruntung terlahir dalam keadaan sempurna, apa mereka berhak menjauhinya seperti ini?

“Reyn?”

Pintu kamar terbuka, dan diujungnya, berdiri seorang wanita paruh baya seraya membawa nampan berisikan makanan. Bocah itu mendongak, lalu mencoba berdiri di atas kedua kaki mungilnya. Masih dengan mata berair, perlahan ia berjalan menuju ke arah wanita itu.

“I-ibu…” Bocah itu memeluk erat betis sang ibu, menumpahkan kristal-kristal cair pada sulaman gaun lembut berwarna keunguan itu. Sang ibu terdiam, merengkuh sang bocah dalam dekapannya setelah meletakkan nampan yang ia pegang.

“Apa masih sakit?” Wanita itu bertanya sambil mengelus lembut sayap hitam yang melekat di punggung si bocah.

“Ma-masih sakit bu…”

“Kalau begitu, bagaimana kalau ibu nyanyikan sebuah lagu?”

Sang bocah mengangguk. Dan malam itu, diantara dinding-dinding kamar yang sunyi, hanya ada lantunan suara sang wanita, dekapan hangatnya, dan sang bocah yang perlahan melupakan isak-tangisnya.

“Bu, kenapa Reyn bisa berbeda? Ibu dan teman-teman Reyn tak ada yang seperti Reyn. Apa Tuhan benci sama Reyn makanya Reyn dikutuk seperti ini? Kalau Reyn tidak seperti ini, Reyn pasti bisa berjalan di luar bersama ibu.”

Sang ibu terdiam, menatap dalam-dalam ke arah mata warna merah darah sang bocah yang perlahan kembali menjadi abu-abu kelam, “Reyn tidak dikutuk Tuhan. Reyn hanya tumbuh dengan cara yang berbeda. Suatu saat nanti, saat Reyn dewasa, Reyn boleh keluar dari tempat ini.”

“Benarkah, Bu?”

Sang wanita paruh baya tak menjawab, membuat sang bocah memandang lekat wajah sang ibu. Namun, yang dilihatnya bukan lagi seorang wanita dengan pandangan mata yang teduh melainkan seorang wanita yang menjelma menjadi sesosok monster; rambut-rambutnya terurai panjang menutupi sekujur tubuhnya yang tak berbusana, mata kanannya membesar dengan darah yang terus mengucur menuruni pipinya, dan lidahnya kian memanjang.

“I-ibu, se-sak…” Napas sang bocah terputus-putus. Namun, lidah yang membelit tubuhnya itu semakin menguat. Bocah itu kian tak berdaya. Terlebih, saat sebilah pedang tajam mengarah ke wajahnya.

“I—”

***

“—Bu!”

Bulir-bulir keringat menetes deras di pelipis pemuda itu. Dadanya bergerak tak beraturan mencoba mengatur napas. Diamatinya ruangan tempat ia terbangun: sepi dan tak ada siapapun. Pemuda itu menghela napas pelan sebelum bangkit dari tempat tidurnya. Diraihnya segelas air di dekat meja tempat tidurnya. Dengan sedikit tergesa, ia meneguknya dalam sekali minum. Sekali lagi, ia menghembuskan napas. Kali ini lebih panjang. Ia tak habis pikir, mengapa mimpi itu selalu datang menghantuinya.

“Reyn,” terdengar sebuah ketukan pelan di pintu kamarnya, “kau sudah bangun?”

“Masuklah Lilac. Aku sudah bangun.”

Pintu bercat coklat tua itu bergeser perlahan, menampilkan sesosok gadis berkuncir satu yang tengah tersenyum manis.

“Apa aku mengganggumu? Tadi aku tak sengaja melewati kamarmu, dan…” gadis itu menggigit bibir bawahnya—mencoba mencari kalimat yang tepat, “…dan yah kudengar kau berteriak cukup keras. Apa kau bermimpi aneh lagi?”

Reyn tersenyum lembut, “Tidak, aku tidak apa-apa. Tadi, aku hanya terjatuh dari tempat tidur.”

“Benarkah?”

Pemuda itu hanya mengangguk sebelum mengarahkan pandangannya ke arah lantai. Kenangan sebelas tahun1 lalu masih melekat erat dalam otaknya. Ia masih ingat dengan jelas, bagaimana manusia-manusia keji yang mengenakan jubah kebangsawanan itu memisahkan dirinya dengan sang ibu; menyeret wanita yang dikasihinya sebelum meminumkan sebotol racun dengan paksa. Mungkin, hari itu, ia tak mampu menolongnya. Tapi, hari ini, ia akan bangkit untuk balas dendam.

 

***

Ada perasaan gelisah saat gadis itu memandang tanaman anthopsyhe2 kecil yang tumbuh di dekat jendelanya. Tumbuhan mungil yang hanya tumbuh dua cm tiap tiga tahun sekali itu nampak layu. Tiga helai daunnya sudah rontok dan dari batangnya terdengar desahan napas yang berat.

“Apa kau butuh fuscipes3 lagi?” sang gadis meletakkan telapak tangannya di atas kelopak daun yang masih tersisa. Sinar kebiruan yang hangat menguar secara perlahan dari telapaknya. Setidaknya, ruh kehidupan dalam dirinya dapat membantu agar tumbuhan itu tetap hidup4. Itulah tugasnya sebagai penjaga anthopsyhe.

Anthopsyhe adalah tumbuhan yang istimewa. Tak ada yang tahu darimana dan bagaimana ia berasal. Benih anthopsyhe tidak muncul setiap tahun. Mereka hanya dan akan muncul ketika pewaris kerajaan Asteria lahir dan akan mati bersamaan dengan kematian pewaris kerajaan tersebut. Dengan kata lain, anthopsyhe—secara tidak langsung—merupakan miniatur hidup dari pewaris kerajaan Asteria. Semua yang terjadi pada pewaris kerajaan akan berdampak pada tumbuhan tersebut; entah dia sedang sehat, sakit, sekarat, atau bahkan telah mati.

“Akan ada bencana,” ia berucap. Mata hijau tuanya menatap ke arah langit yang menampilkan rembulan yang hanya separuh, “bencana yang begitu besar. Dan hanya ada dua kemungkinan: aku5 yang mati atau kerajaan ini yang mati. Jika aku hidup, aku akan tetap seperti ini—terbalut dalam rasa sakit yang mengerikan. Rasanya, jiwa-jiwaku telah mati dan tergores parah oleh banyak kejadian menyedihkan.”

Sang gadis terdiam, merasa lemah dan tak berguna, “Maafkan aku. Hingga kini, Reischauer6 belum mampu menemukan pangeran yang asli.”

“Aku tahu. Ini bukan salahmu. Ini hanyalah salah satu dari kesenangan takdir dalam mempermainkan makhluk-makhluk lemah seperti kita.”

Menghela napas pelan, sang gadis hanya mampu tersenyum miris. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang membuat ngilu ulu hatinya. Perasaan seperti ini—yang sangat tidak ia sukai—adalah perasaan yang sama ketika menatap sepasang mata abu-abu kelam milik pemuda itu, pemuda yang—entahlah—beranikah ia menyebutkannya sebagai orang yang ia cintai sementara pemuda itu hendak menghancurkan kerajaan ini?

Gadis itu masih berpikir saat terdengar suara bedebum yang cukup keras dari arah balkon. Perlahan, dengan hati-hati, ia meraih gagang sapu yang bersandar di samping meja. Dan dengan langkah tanpa suara, ia menilik dari kaca jendela yang kelam. Setelah meyakinkan dirinya, bahwa ia tak melihat sesosok siapapun di luar sana, ia membuka pintu balkon itu perlahan.

“Jangan bergerak!” Sebuah tangan kekar milik seseorang mengunci pergerakan tangannya. Dengan kakinya yang masih bebas, sang gadis menendang lutut seseorang itu, lalu berbalik secepat kilat—siap menghantamkan gagang sapu ke kepala seseorang itu—namun, saat melihat mata seseorang yang berbalut kain hitam itu, ia mengurungkan niatnya.

“Reyn…” Meski tertutup kain hitam, dari kilau sinar matanya, gadis itu tahu kalau sang pemuda tengah tersenyum.

“Kau tahu untuk apa aku datang kemari, Eve.”

“Dan kau tahu jawabanku tak pernah berubah, Reyn.”

Percakapan ini selalu sia-sia. Karena sekeras apapun perjuangan pemuda itu untuk membujuknya, maka sekeras itu pula ia akan menolak permintaan pemuda itu. Entah bagaimana mereka yang sama-sama keras kepala bisa berakhir dengan keadaan saling mencintai seperti ini. Dan entah sejak kapan pula, kisah mereka terjebak dalam lingkaran pahit ini; balas dendam sang pemuda dan tugasnya sebagai seorang penjaga Anthopsyhe.

“Ikutlah denganku, Eve. Aku tak bisa membiarkanmu bertarung melawan kaumku6. Aku tak bisa melihatmu mati.”

“Dan membiarkan semua orang dalam istana mati di tangan kaummu sementara aku dapat hidup nyaman bersamamu? Aku tak bisa Reyn…” tangan gadis itu mengepal, matanya nampak berkaca-kaca. Jika saja, waktu dapat kembali berulang, ia hanya berharap—pada malam bersalju itu—ia tak pernah bertemu dengan pemuda ini, berbagi tempat di rumahnya yang kumuh, dan jatuh cinta padanya, “Jika kau berada di posisiku, kau pasti akan melakukan hal yang sama.”

Merasakan air matanya mulai menetes perlahan, gadis itu memalingkan wajahnya dari pandangan sang pemuda.

“Kalau kau tak menyesali keputusanmu, mengapa kau menangis, hm?”                                            “A-aku… aku hanya merasa sedih betapa takdir tengah mempermainkan kita.”

“Jangan menangis. Kau tahu, aku paling lemah dengan air matamu—”

“—berhenti menghiburku, Reyn. Kau hanya seorang pembohong besar. Jika kau memang lemah terhadap air mataku, apa kau akan menghentikan balas dendammu jika kupinta?”

Sang pemuda terdiam, membiarkan keheningan menjawab pertanyaan gadis itu. Melihat pemuda di hadapannya tak kunjung bersuara, sang gadis mendecih kecil, “Tch! Kau tak menjawab. Kau tak berani menjawab, Reyn. Kau yang sekarang… tak lebih dari pemuda menyedihkan yang dikendalikan oleh masa lalu,” terdengar helaan napas sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya, “dan karena kita berdua, tak bisa berada di jalur yang sama, mulai saat ini kita adalah musuh. Siapapun yang akan mati nantinya—entah kau atau aku—aku harap kau tidak menyesal.”

Sang gadis melangkah masuk, meninggalkan sang pemuda seorang diri. Setelah pintu balkon itu tertutup, isak-tangis yang ia simpan pecah kembali. Dari luar, sang pemuda hanya mampu mendengar suara tangisan itu dengan kepala tertunduk. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Tanpa sadar, anthopsyhe yang tergeletak di sudut ruangan menggugurkan sehelai daunnya lagi.

***

Lilac memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi pada apa yang Shougi7—dirinya yang lain—rekam dalam mata kecilnya. Dengan senyum terkembang, ia berkata pada dua pria yang ada di hadapannya, “Pasukan kita sudah memasuki wilayah istana. Meski ada beberapa yang tewas, yang lainnya berhasil masuk dan menyatroni beberapa bangsawan.”

Reyn mengangguk. Semuanya persis seperti apa yang ia rencanakan. Meski jumlah kaumnya tak melebihi seperlima dari jumlah masyarakat kerajaan Asteria, bukan berarti mereka tak mampu melumpuhkan tentara istana yang kekuatannya jauh di bawah kekuatan yang mereka miliki. “Dean, bagaimana dengan scoravismu8?”

“Tenang saja, mereka sudah mulai bergerak. Apa kau lihat awan-awan mendung yang menaungi istana itu? Itu adalah scoravis-scoravisku. Mereka akan memastikan tak ada satu pun yang mampu keluar dengan selamat dari istana.”

“Bagus. Sekarang, sebaiknya kita bersiap. Pesta ini tak akan berakhir tanpa kita.” Reyn bangkit dari kursinya, lalu berjalan dengan mantap ke arah luar. Tak dapat dipungkiri, meski pemuda itu terlihat baik-baik saja, ada sesuatu yang hilang dalam sinar matanya.                                               “Nah, nah, Lilac sayang… berhentilah menatap Reyn seperti itu. Kau hanya perlu menunggu sebentar lagi, gadis itu akan mati di tangan kita. Dan kau dapat menyandang nama Nyonya Reyn di belakang namamu…”

Gadis itu mendelik—memandang tajam ke arah pemuda berwajah tirus dan bergigi tajam layaknya ikan hiu itu, “Jaga ucapanmu, hiu! Hanya karena kau telah membantu Reyn, bukan berarti aku menyukai keberadaanmu. Jadi, berhentilah berbicara padaku, atau aku akan membungkam mulutmu selamanya!”

“Owh, kau menghancurkan hatiku sayang. Tapi, aku tetap menyukaimu. Jika kau mulai bosan dengan si Reyn itu, kau bisa datang padaku. Aku tak keberatan berbagi ranjang denganmu…” goda pemuda itu yang tentu saja dihadiahi bogem mentah di pipi kirinya.

***

Di matanya, semuanya nyaris berakhir. Sepanjang jalan, ia hanya mampu melihat tubuh-tubuh bergelimpangan tak bernyawa, entah itu dari tubuh manusia seperti dirinya ataupun tubuh-tubuh makhluk lain yang baru pertama kali ini dilihatnya. Jika dulu, ia tak terbiasa melihat perubahan Reyn ke bentuk tubuhnya yang lain, mungkin saat ini ia akan berteriak ketakutan melihat wajah-wajah monster yang tak bisa dikatakan ramah itu. Meski jiwanya telah pergi, mata yang terpampang dalam wajah sangar itu seolah-olah tengah menatapnya begitu tajam. Dan di sinilah ia terhenti: terikat bersama sang Pangeran palsu dan Paduka Raja.

“Bagaimana rasanya terikat dan nyaris mati, Yang Mulia?” dari arah belakang, Reyn muncul—tanpa terduga—bersama dengan dua orang lainnya. Dengan pelan, ia menempelkan pedang yang terselip di pinggang kirinya ke leher pria tua yang bertanggung jawab atas kematian ibunya.

“Bagaimana rasanya melihat kematianmu yang semakin dekat?”

“…”

“Aku bisa saja menyuruh mereka langsung membunuhmu. Tapi, itu tak akan sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh ibuku sebelas tahun silam. Apa kau ingat?” Reyn memainkan ujung pedangnya untuk mengangkat dagu pria itu, “Jika tidak… Biar kuingatkan. Dia adalah wanita yang telah kau paksa untuk meminum racun…”

Mata pria tua itu membulat. Bagaimana mungkin rahasia yang telah ditutup rapat-rapat itu dapat menyeruak? Tak ada yang tahu tentang semua ini, terkecuali dirinya dan para pengawal yang telah berjanji untuk tutup mulut. Selain itu, tak ada yang tahu. Terkecuali… jika pemuda ini adalah anak dari wanita itu—sang bocah monster9—yang berhasil melarikan diri setelah membunuh beberapa pengawalnya.

“Kau… bocah itu?”

Reyn terkekeh kecil sebelum menampilkan seringai di bibir tipisnya, “Kau sudah ingat? Apakah kau juga ingat alasan mengapa kau membunuh ibuku?”

“Kau ingin aku menjawab seperti apa anak muda? Bahwa ibumu adalah seorang penjahat yang telah menukar bayiku yang baru lahir dengan anak orang lain yang tak kukenal?”

“Kau pembohong! Ibuku bukan penjahat! Kalianlah10 penjahatnya. Kalianlah yang memaksanya meminum racun. Dan kalian pula yang membiarkan masyarakat-masyarakat itu mendiskriminasi11 kaum kami!”

“Tapi, itulah kenyataannya. Dia hanyalah pelacur murahan yang memintaku bertanggung jawab atas anak yang bukan milikku.”

“Diam—”

Perlahan tapi pasti, mata pemuda itu berubah menjadi merah darah. Kuku-kukunya menajam dan dari punggungnya tumbuh otot-otot bersayap hitam. Dengan geram, ia mencengkeram sang raja—mengangkatnya ke arah langit-langit ruangan itu—sebelum menghantamkan sebuah pukulan ke arah perutnya yang membuat pria tua itu terjatuh ke lantai. Semua yang berada dalam ruangan itu hanya mampu terpaku melihat kemarahan pemuda itu. Evelin—sang penjaga anthopsyhe—tiba-tiba merasakan sakit di bagian dadanya. Diliriknya anthopsyhe yang ia bawa di kantung bajunya. Tanaman itu nampak kian melayu dari sebelumnya. Sakit pada bagian dadanya memang selalu terjadi jika tanaman itu berubah menjadi lebih layu. Mungkinkah, Pangeran yang asli itu adalah…?

Reyn terbang merendah, mengacungkan cakarnya tinggi-tinggi dan siap menusukkannya ke jantung pria tua itu. Namun, yang terjadi, adalah hal yang paling tidak disangkanya. Evelin—dengan tangan yang masih terikat—berlari, menumbalkan diri untuk keselamatan sang raja. Meski ngilu di daerah dadanya kian terasa menyakitkan, ia tetap merasa bahwa memang inilah takdir yang dituliskan untuknya, “Ak-hir-nya, a-ku me-ne-mu-kan-mu, Pa-nge-ran…”

“Jangan banyak bicara. Seseorang—siapapun—cepat tolong dia…”

Gadis itu hanya tersenyum sebelum mengarahkan pandangannya ke arah langit-langit ruangan. Semuanya kian terasa buram. Dan matanya merasakan kantuk yang teramat sangat. Tepat saat ia memejamkan matanya, waktu pun terhenti. Dari tubuhnya, muncul cahaya hijau kebiruan. Perlahan, cahaya itu berjalan mendekat ke arah tanaman anthopsyhe, sebelum memberi pelukan lembut pada jiwa-jiwa hitam tanaman itu. Bersamaan dengan itu, potongan-potongan memori dalam diri Reyn keluar dari dalam tubuhnya; kenangan saat ia terkurung dalam ruangan kamarnya, kenangan saat ibunya mati di hadapannya, kenangan saat ia bertemu dengan Eve…

“Kein, lihatlah bebek-bebek mungil yang kutemukan ini.”

“Apa yang biru itu—yang lebih mungil dari yang lainnya—adalah bebek juga? Coba lihat wajahnya. Lebih mirip rakun dan—”

“—berhenti menghinanya Reyn! Hanya karena dia tak terlahir seberuntung yang lainnya, bukan berarti kau harus membedakannya seperti itu.”

“Aye, aye, Tuan Putri, berhentilah mengerucutkan bibirmu seperti itu. Lama-lama kau nampak seperti ibu bebek, kau tahu? Hahahaha…”

“Ya, ya, ya—tertawalah sepuasmu. Aku akan mengurus bebek-bebek ini dan kau, jangan coba-coba mengganggu bebek biruku. Ia juga harus diberi kasih sayang yang sama seperti yang lainnya. Ia, tentunya tak pernah berharap dilahirkan seperti ini.”

“Aku tahu. Aku tahu rasanya.”

“Kalau kau tahu, kau juga pasti bisa menjawab teka-teki ini.”

“Apakah hal itu penting?”

“Ck! Tentu saja. Ini adalah teka-teki yang diberikan seorang pria tua saat aku berniat merawat bebek-bebek itu. Ia bilang, jika aku tahu jawabannya, aku dapat memperlakukan bebek biru ini secara adil. Pertanyaannya adalah, apa yang mati tapi hidup? Apa yang hidup tapi mati?”

… satu-persatu, semua kenangannya menipis dan menghilang. Setelah ini, semua akan baik-baik saja: pemuda itu akan terlepas dari masa lalunya sebagai seorang monster, dan sebagai gantinya, semua ingatan masa lalunya akan menghilang.

.

.

Epilog

“… Apa yang mati tapi hidup? Apa yang hidup tapi mati?

Musim dingin tahun ini hadir lebih cepat. Kristal-kristal salju terus berhamburan jatuh dari langit, saling berlomba menutupi pepohonan, atap rumah, dan jalanan. Beberapa bocah nampak keluar dari rumah mereka sambil mengenakan jaket tebal. Lantunan-lantunan lagu menggaung di udara saat mereka mencoba membunuh kebosanan sembari menanti salju yang belum juga menumpuk.

Dari kejauhan, di jalan setapak, seorang wanita tengah berlari tergesa-gesa sambil mendekap erat sesuatu. Sapaan dari bocah-bocah yang mengenalnya tak ia hiraukan. Ia terus berjalan menembus salju yang bertumpuk.

Saat tiba di sebuah gubuk berwarna biru tua, ia baru menghembuskan napas lega. Dengan pelan, ia memasukkan anak kunci ke lubang kecil di pintu itu. Saat pintu terbuka, hanya cahaya dari rembulan dan lilin tua yang menyambutnya.

Ia melangkah lagi, hingga mencapai sebuah kursi panjang berlengan yang ada di ruangan itu, lalu meletakkan sesuatu yang didekapnya sedari tadi di atasnya. Dengan sedikit penerangan dari cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah jendela di rumah itu, sosok bayi yang terbungkus kain itu dapat dengan jelas ia lihat; tubuhnya yang gempal dengan tangan mungilnya yang terus meregam ke arah atas.

Gadis itu memejamkan mata—mencoba meyakinkan dirinya sebelum mengeluarkan pisau dari balik punggungnya. Meskipun berbagai sugesti telah ia masukkan ke dalam pikirannya bahwa ia harus membunuh anak ini, tapi entah mengapa hatinya berkata lain. Namun, jika ia berpikir kembali, terlalu banyak alasan yang bisa ia pilih untuk membunuh anak ini. Anak ini adalah anak dari pria brengsek yang telah membuainya dengan janji-janji palsu, pria yang telah merenggut keperawanannya dan dengan mudahnya mengatakan maaf lalu meninggalkannya untuk menikah dengan putri kerajaan ini. Jadi, saat ia menukarkan anaknya—yang seharusnya ia bunuh saat berada dalam kandungan—dengan anak sang putri, tak ada yang salah, kan? Hal ini seperti saling menukarkan kado: penderitaan yang ia alami ditukar dengan kebahagiaan yang mereka dapat.

Wanita itu kembali mengacungkan pisaunya ke arah atas. Hanya perlu sedikit tusukan pada dada mungil makhluk itu dan penderitaan yang ia alami akan impas. Namun, saat melihat lensa mata abu-abu yang menatapnya polos—seolah meminta belas kasihan, pisau dalam genggamannya terlepas begitu saja. Ia tak sanggup.

“Maafkan aku…” Ia terisak sambil menggenggam tangan mungil bayi itu. Sang bayi… yang tak pernah mengerti apa-apa, yang tak pernah tahu bahwa wanita yang kelak akan ia panggil dengan sebutan ibu adalah orang yang memisahkannya dari ibunya yang asli, hanya tersenyum, lalu menggenggam salah satu jemari wanita itu dengan erat.

Masa lalu, itulah jawabannya.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Conundrum

  1. Rahadin says:

    Ini keren! Kisah rebellion yang menyentuh, and nice twist O.O
    Saya masih bingung sih bagaimana Reyn bisa ‘berbeda’ begitu hanya karena dia anak sang putri (or did I miss something?). Dan juga ada anggota2 rebellion yang nggak begitu terekspos karakternya.

    Tapi tetep, ini cerita yang sangat bagus! :)

  2. Salam kenal ya :D

    Gw rasa cerita ini sangat bagus dan alur ceritanya juga sangat rapih, dengan hampir ga ada typo. Namun, kok gw melihat ada beberapa paragraf yang tersambung jadi satu ya O_0 Kesalahan teknis mungkin?

    En satu lagi, kok ada beberapa kata yang ada tanda footnotoe-nya? Dan gw memang merasa sebagian dari kata itu butuh penjelasan, tapi sampai akhir cerita ga ada ^^; Dan terus terang beberapa istilah yang kurang jelas itu bikin sedikit ganggu pemahaman cerita.

    Di luar itu oke semua kok. :D Nice story. Mampir ya ke lapak 244 kalau sempat

  3. negeri tak pernah-48 says:

    Aku ga ‘ngeh’ sama plotnya. Mungkin nanti harus baca lagi.

    Kenapa Reyn bisa berbeda? Orangtuanya (yang saya nangkep) manusia biasa kan? Kenapa dia mimpi ibunya berubah jadi monster? Ini mimpi atau memori?

    Istilah yang pake footnote terlalu banyak. Juga banyak kata yang pakai italic. Kenapa aku atau seseorang ditulis miring? Kalau hanya satu atau dua untuk penekanan baca, wajar. Tapi dalam cerita bahkan ‘aku’ ditulis miring berulang-ulang dalam satu paragraf.

    Begitulah. Silakan komen balik ke 48. Maaf kalau komennya kurang berkenan :D

  4. gimana cara menghilangkan rasa gunda gulana,di waktu saya bermipi sinar masuk kekepalaku

    • Fapurawan says:

      Bikin jendela agar sinarnya bisa keluar lagi, gan!

      Jadi kepala ga sesak, hati ga gundah gulana….

      Tabik!

    • Dini says:

      Oi Oi Oi Muhammad Tahir.
      Kalau ada kegundahan ketika sinar pencerahan masuk, cukup sugestikan dirimu secara positif. Biarkan saja endapan galau itu, lalu ketuk lorong imajinasimu agar Hatimu secerah sinar itu. Bang Fapur, klo buka jendela, nanti masuk angin. Seriously, urang hayang sare yeuh… Naha jadi main ka dieu nya? *celingukan nyari peta Dora The Explorer*

      Yasudahlah. Zzzzzzzzzzz…… Groookkk…… Zzzzzz….. (Semaput di atas Laptop)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>