Dua Kata

DUA KATA
karya Luna Aegis

Cahaya matahari pagi berusaha menembus awan mendung ketika aku melihatmu melompati genangan air sisa hujan semalam. Sebuah mobil hampir menyambarmu saat kamu kehilangan keseimbangan, tapi sayangnya aku tak bisa melakukan apapun, meski hanya untuk berlari mendekatimu. Satu-satunya yang bisa kulakukan dari kejauhan hanya menahan nafas, sambil berharap agar kamu tidak jatuh.

Walau tahu teman-teman sekaumku akan melihatku dengan pandangan aneh karena perubahan emosi yang tiba-tiba ini, aku tetap menghela nafas lega saat melihatmu berhasil menginjakkan kedua kaki ke tanah dan melanjutkan berjalan lagi.

Aku terdiam sesaat, memperhatikan sosokmu yang hilang di kerumunan manusia. Keputusanku sudah bulat sekarang. Aku menggumamkan perpisahan singkat pada teman-temanku. Mobil tadi baru saja mengingatkan kalau kesempatanku bisa berakhir kapan saja. Aku beranjak dari tempatku tadi berdiri, tak menggubris mereka yang berbisik-bisik di belakangku. Hidupmu mungkin tidak ada artinya bagi teman-temanku, yang menghabiskan waktu memikirkan cara bertahan hidup. Tapi karena aku sendiri tidak memberitahu siapapun tentang alasanku, kurasa aku tak berhak marah pada mereka.

Kupandang genangan air yang memantulkan sosokku. Hari ini lagi, kamu tak memperhatikanku, meskipun tadi kita berpapasan sejenak di persimpangan. Entah kenapa aku jadi terpikir tentang pertemuan pertama kita, perpisahan kita lalu pertemuan kita kembali. Aku juga teringat akan rasa senang tiga minggu lalu, saat terakhir kalinya kamu menyahut waktu kusapa. Memang, kesalahannya bukan padamu, aku sendiri bahkan tak yakin kamu tahu ‘aku’ ada di dunia ini. Di matamu, aku hanya satu dari sekian kucing liar yang berkeliaran di dekat tempat tinggalmu.

 

Saat ini aku punya dua kata yang ingin sekali kusampaikan. Kata yang mengungkapkan seluruh perasaan yang kusimpan setengah tahun ini. Tapi, apa yang bisa kulakukan bila kamu tak mengerti setiap ucapanku?

 

Maka itulah alasanku saat berkonsultasi dengan dukun yang, katanya, paling hebat di tempat ini, yang akhirnya kuketahui keberadaannya setelah bertanya sana-sini. Kenyataannya, dia sudah bicara denganku dua hari lalu dan itu sudah membuktikan kalau kemampuannya bukan sekedar gosip.

 

“Kalau kau begitu inginnya bicara, kau kan tinggal datangi saja mimpinya,” dia bertopang dagu, lalu mengupil.

 

“Tapi, masalahnya, Mbah, aku takut dia–” dua kata terakhir menjadi gumam tak terdengar. Iya, aku takut kamu terbangun lalu melupakanku, atau sebaliknya, kamu malah terperangkap dalam mimpi dan bangun kesiangan. Lagi pula, aku ingin mengucapkan dua kata itu langsung padamu. Aku melirik si mbah, dia balas melotot. Setelah adu mata singkat, akhirnya dia mencari sesuatu di rak kayu di sampingnya.

 

“Kita mulai kalau kau sudah setuju dengan harga untuk raga sementaramu,” setelah duduk kembali, dia berkata, yang tentunya kujawab dengan angguk-angguk mengiyakan.

 

Tadinya kupikir dia sedang mengambil bahan untuk diracik menjadi ramuan atau semacamnya, seperti umumnya para dukun, tapi ternyata dia malah menyodorkan sebuah majalah yang lumayan tebal, judulnya trend model rambut mancanegara.

 

“Pilih sendiri tubuh macam apa yang kau mau,” kata si kakek sebelum menghadap ke sisi kanannya. Walau jarang melihat komputer selain dari buku, aku langsung tahu benda itulah yang sedang diutak-atik si kakek. Siapa yang menyangka kalau monitor dihias kembang-kembang yang menjuntai dan sumber suara berbentuk tengkorak bisa jadi samaran bagus di sini? Tapi setidaknya itu menjelaskan asal lagu yang tadinya kukira dipasang tetangga.

 

Aku membolak-balik halaman majalah, awalnya berlagak acuh tapi akhirnya jadi bersemangat. Ternyata meski sudah uzur, kakek ini punya selera tinggi. Kurasa di tangannya aku bisa terlihat seperti model dari agensi ternama—kalau memang hasil kerjanya sesuai buku ini.

 

Butuh waktu setengah jam, sebelum aku benar-benar yakin dengan apa yang kupilih. Takut-takut aku memanggil mbah yang terkekeh sendiri di depan monitor. Aku bahkan gemetar saat mata merahnya melotot padaku. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan dilakukannya kalau marah, kan?

 

Tapi dia hanya mengangkat sebelah alis saat aku menunjukkan wajah yang kuinginkan, sebelah lagi waktu melihat model rambut yang kupilih, dan keduanya setelah melihat warnanya. “Ah, jadi kau suka model anak baik seperti ini, ya?” dia bertanya sambil mengelus janggut. “Kurasa warna biru neon lebih cocok dengan model rambut yang kau pilih, lebih hip dan pastinya kelihatan fresh.”

 

Seharusnya aku tahu kalau janggutnya merah bukan karena noda sambal, dan helai-helai kuning yang mencuat dari bawah serban itu rambut. Aku yakin yang jadi inspirasinya adalah poster di sampingnya, yang tersamarkan oleh asap ini. Aku tak bisa baca tulisan di poster, tapi kalau kamu, mungkin bisa mengenali tulisan bulat-bulat itu.

 

“Nggak usah, Mbah, terima kasih, aku tak suka jadi pusat perhatian,” suaraku jelas-jelas terdengar gemetar. Entah kenapa sekarang aku jadi menyesal sudah mengganggunya main komputer.

 

Melihat reaksiku, kakek dukun menghela nafas, sepertinya kecewa karena tak kuijinkan berkreasi. Wajahnya tampak murung saat dia menuangkan air ke mangkuk kayu di atas meja kami.

 

“Tunggu sebentar,” dia berkata sebelum konsentrasi merapal mantra, membuat air itu menggelegak dalam sekejap. Buih-buih mewujud dan pecah bagai magma bening dalam mangkuk yang tetap diam. Andai kamu melihatnya, kamu pasti ikut terperangah. Inilah kemampuan sang dukun yang sesungguhnya!

 

Beliau memejam mata, meletakkan tangan agak jauh di atas mangkuk. Air tertarik ke telapak tangannya, tiap tetesnya semakin membentuk miniatur sosok yang tadi kupilih sebelum luruh dan kembali diam di wadahnya.

 

Sesaat kupikir kakek dukun akan memercikkan air padaku, membuatku menjelma jadi apa yang kuinginkan, lengkap dengan efek kilau seperti dalam dongeng. Nyatanya beliau menenggak isi mangkuk lalu menyemburkannya padaku. Imajinasiku telah dikhianati!

 

“Pakaian ada di sana,” si kakek kembali lagi ke komputer, sebelah tangannya menunjuk ke belakang. Pandanganku mengikuti arah tangannya, dan kutemukan di ujung, sebuah lemari sepanjang dinding yang bergantung papan bertuliskan koleksi musim panas 2012. Lengkap dengan kamar pas di sebelahnya. Aku hanya bisa melongo. Dedikasi kakek ini terhadap dunia mode sungguh luar biasa.

 

Aku melangkah canggung dengan kaki manusia ini menuju kamar pas. Menyempatkan diri bercermin sebelum menghampiri lemari, aku menemukan sosokku benar-benar seperti yang kutentukan tadi. Siapapun yang melihatku pasti akan mengira aku anak berumur sepuluh tahun berambut hitam yang terkesan sedikit bengal.

 

Jadi terpikir, kalau kakek ini membuka praktik ganti penampilan tanpa bedah dan bedak, seperti yang dilakukannya padaku, mungkin sekarang dia akan tinggal di rumah gedung bukannya gubuk begini. Tapi, mungkin juga ilmu jenis ini hanya bisa dilakukan pada yang bukan manusia. Aku menoleh pada kakek dan komputernya. Kelihatannya dari tadi beliau berkutat dengan sesuatu yang bertuliskan ‘pembuatan karakter’. Aku kembali berkaca. Membuat karakter, ya?

 

 

Seperti memilih tubuh, menentukan pakaian juga menghabiskan waktu lama. Setelah mencoba sana-sini, akhirnya kupilih hoodie putih bergaris merah, kaos motif abstrak dan celana biru, tidak lupa tas selempang. Semuanya merk terkenal, walau kurasa tak ada yang asli. Andai aku juga punya seluler, tentu aku takkan melewatkan kesempatan untuk foto-foto setiap baju. Karena gambar tak bisa menebar bau kemenyan seperti halnya pakaian ini.

 

“Ingat, waktumu cuma sampai matahari terbenam nanti, dan…” dia melotot lagi padaku saat aku berjalan melewatinya. “Biru neon memang lebih cocok untukmu.”

 

Aku hanya tertawa canggung sebelum melesat keluar bak hantu. Kamu pasti akan mengerti reaksiku kalau kamu juga melihat di monitornya ada karakter berambut biru yang mengenakan set pakaian sepertiku, sedang menggoda cowok lain.

 

Maaf, tapi sebelum berjumpa denganmu, aku punya satu perhentian lain. Tempatnya di kompleks perumahan yang ditinggalkan sebelum selesai dibangun. Kita pernah bertemu di dekat sana dulu. Mungkin kau sudah lupa, tapi tak apa, karena tempat ini juga terlalu berbahaya untukmu. Penyebabnya, karena serangga, hewan pengerat, penjahat, bahkan makhluk tak kasat mata sudah duluan membuat sarang di sana.

 

Merangkak masuk lubang di sisi dinding, aku kemudian disambut oleh teman-teman dalam suasana tak bersahabat. Beberapa di antara mereka menyembunyikan anak-anak di belakang tubuh lalu mendesis galak padaku, ada juga yang menatap penasaran, sambil menjilat-jilat cakar atau bengong, sisanya tak peduli karena terlalu sibuk menggerogoti makanan.

 

Untungnya ada yang langsung mengenaliku, Pearl. Namanya diberi oleh Ibu Kepala yang bersikeras nama itu sesuai surai keemasannya. Diikuti tatapan menyelidik yang lain, dia melangkah menghampiriku dengan dagu mendongak angkuh. Konon dia amnesia tapi mengaku hanya ingat kalau dia berasal dari kediaman bangsawan Prancis. Walaupun tak ada yang tahu kebenarannya, dia cukup beruntung bisa tinggal di replika istana di pojok, lengkap dengan kacung dan komunitas sesama bangsawan versinya. Aku sendiri termasuk kelompok terakhir, hanya karena aku cukup cerdas mengimbangi bicaranya. Percayalah, berhadapan dengan gadis delusional sepertinya sungguh menguras tenaga.

 

“Pearl pikir engkau hanya bercanda saat berkata ingin menjadi manusia,” aksen Pearl kentara meniru Bule yang tak fasih berbahasa Indonesia. Setelah berada selangkah di depanku, dia menatapku, dari atas sampai kaki, balik lagi ke kepala. Hening beberapa saat sebelum dia mengangguk-angguk setuju. “Rupanya engkau cepat belajar tentang dunia mode. Bukan hal sia-sia Pearl merepotkan diri menjadi guru engkau.”

 

“Oh, jelas dong!” Aku mendengus lalu ikut mengangkat dagu. Kalau aku sekolah selayaknya manusia, aku akan mendapat beasiswa penuh ke Paris, lalu di sana aku bisa sekalian mencari keluarga Pearl, kalau memang ada.

 

Sebaiknya aku segera beranjak ke tempatku tinggal, sebelum kamu menuduhku tukang khayal juga. Tapi sepertinya bahkan itu saja tak berjalan semulus yang kuingin, karena dengan tubuh baru ini semua jadi berbeda. Biasanya aku langsung melewati palang kayu yang membentang rendah di tengah ruangan, sekarang kepalaku membenturnya. Seakan itu belum cukup mengesalkan, teman-teman lain menghentikan aktivitas untuk menonton dan menertawaiku setiap kali aku terantuk atau terpeleset. Kupelototi mereka yang semakin terbahak itu. Andai mereka tahu betapa aku tersentuh atas perhatian mereka.

 

Setelah perjalanan panjang, aku menemukannya, kardus nomor sebelas, dekat tumpukan buku dan koran bekas yang kuambil dari pembuangan sampah dulu. Kuobrak-abrik isi kardus dan menemukan uang logam hasil memungut di jalan yang selama ini kusimpan. Dengan hati-hati aku mencocokkan jenis logam yang bisa kupakai dengan gambar di katalog uang. Setelah menyingkirkan beberapa yang ternyata cuma kancing baju, aku menghitung apa yang kupunya. Syukurlah, jumlahnya sepertinya cukup untuk membayar ongkos angkutan untuk ke tempatmu.

 

Aku menyimpan uang di saku sebelum mengambil sebuah lonceng di sudut kardus. Lonceng ini bewarna perak, diikat dengan pita merah. Aku biasa melihatnya dipakai di leher kaumku. Seingatku, benda ini sudah ada padaku saat aku sampai di sini. Ibu Kepala pernah bilang kalau barang seperti ini adalah benda pemberian pendahulu, yang akan menjaga pemiliknya dari bahaya. Aku percaya itu dan karena mungkin aku tak akan kembali lagi, kuputuskan untuk membawanya juga.

 

“Engkau tahu?” suara Pearl menghentikan langkahku yang mengarah ke lubang dinding. “Pearl rasa rambut biru neon tampak cocok di kepala engkau.”

 

Aku menepuk dahi. Ingin rasanya mempertemukan Pearl dengan mbah dukun. Mereka bisa jadi sahabat baik. Aku bahkan bisa membayangkan mereka akan membuka butik bersama nantinya.

 

Sediam saat memasuki tempat ini, aku keluar lagi. Tapi sudah ada dua pria bongsor menunggu di depanku. Cara mereka menyeringai dan memamerkan senjata sudah menjelaskan kalau mereka bukan orang baik-baik.

 

Mungkin dua detik berlalu dengan kami saling melihat, sebelum aku melompat ke samping, berlari di antara ilalang tinggi. Tujuanku adalah palang rendah yang membatasi kompleks ini dengan jalan raya.

 

Seolah mengetahui tujuanku, salah satu pria tadi menghadang jalanku, sambil mengayunkan palang besi yang jadi senjatanya, yang hampir mengenai kepalaku kalau aku tak cepat menunduk.

 

Menyusul serangan itu, pria satunya juga menyerang dengan pemukul kayunya. Refleksku adalah berguling ke samping, tak peduli walau tanah akan mengotori jaketku. Alasannya sederhana. Aku membayar mahal untuk tubuh ini, dan aku tak ingin membuat tulangnya patah.

 

Tapi itu malah membuatku bergerak makin jauh dari jalan raya. Sepertinya ini bagian dari rencana mereka, karena dua orang itu jadi semakin bersemangat mengejar sekarang. Dan aku baru menyadari itu saat aku terjebak di antara mereka dan pagar kawat duri.

 

Baiklah, sekarang aku jujur. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Tapi, karena tadi aku mencoba lari, mereka pasti akan menghajarku sampai aku tak bisa bergerak lagi. Kalau begitu, kesempatanku menyampaikan kata-kata itu padamu juga… tak akan ada lagi.

 

Aku mengangkat sebelah tangan melindungi wajah saat pemukul kayu itu diayunkan ke arahku. Sepertinya memang sebaiknya aku mengatakan pesanku lewat mimpi seperti saran kakek dukun tadi. Aku bahkan ragu apakah aku masih bisa bertahan setelah dipukuli nanti.

 

Tapi aku mendengar suara berisik disusul serapah yang diteriakkan dua orang itu. Saat membuka mata, aku melihat Ibu Kepala, Pearl dan teman-teman lain menyerang dua orang itu. Bahkan Tambun yang biasanya pemalas juga ikut dalam kelompok itu.

 

Pearl hampir terkena sabetan besi ketika teman penyerang itu menahannya. Mereka berdialog panjang, tapi aku menangkap intinya kalau bos mereka percaya kaumku adalah penjaga tempat ini dan sudah melarang mereka menyakiti satupun dari kami.

 

Teman-temanku sekarang berdiri di antara aku dan kedua lelaki itu, menatap garang pada mereka yang akhirnya berlalu sambil menggeram marah setelah menyumpahi kami dengan berbagai makian.

 

Aku merosot duduk setelah mereka tak terlihat lagi. Kedua kakiku seperti tak mau berhenti gemetar. Teman-temanku segera mendekat melihatku seperti itu.

 

“Kalian tahu aku di sini?” aku bertanya dengan suara serak. Kulihat Ibu Kepala mengangguk sebagai jawaban.

 

“Untunglah Pearl mengawasi cara engkau berjalan tadi,” gadis itu berdiri di sampingku. Dari matanya aku melihat jelas dia khawatir.

 

“Aku sudah membuat kalian dalam bahaya tadi,” suaraku terputus-putus. Aku tak bisa membayangkan kalau dua orang tadi malah jadi kalap. Aku tak bisa membayangkan teman-temanku mati gara-gara aku.

 

“Saat ditolong, biasanya orang berterima kasih, bukannya menanyakan!” Ibu Kepala terdengar jengkel saat mengucapkannya. Aku menoleh untuk menatapnya, menemukan dia sedang menatap tajam padaku, seperti yang biasa dilakukannya saat menghadapi anak-anak yang nakal, membuatku tanpa sadar jadi tertawa karenanya. Saat suasana sudah mencair dan bicara terasa lebih mudah, sesuai perintah Ibu Kepala, aku berterima kasih pada semuanya.

 

“Kami akan mengantarmu sampai keluar,” Sen berkata. Dia bertubuh paling besar di antara kami, tampak mengintimidasi apalagi ditambah codet melintang di wajahnya. “Siapa tahu mereka mengincarmu dari belakang.”

 

Mengangguk, aku lalu berdiri, menepuk-nepuk rumput yang lengket di celana. Kulihat jaketku sudah penuh bercak tanah. Karena tidak mungkin kupakai lagi, terpaksa aku melipatnya dan menyimpannya dalam tas. Kamu juga pasti enggan bicara denganku kalau aku kelihatan sekotor ini, kan?

 

Dikelilingi teman-temanku, aku berjalan lagi ke arah jalan raya sambil sesekali dikomentari oleh Pearl tentang gaya jalan yang baik, benar dan berkelas. Beberapa orang lewat memandangku yang dikelilingi teman-temanku, tapi aku tidak keberatan. Karena selain mereka telah menolongku, kurasa aku takkan bertemu mereka lagi setelah matahari terbenam nanti. Sesudah mengucapkan selamat tinggal pada mereka, aku menaiki angkot yang akan mengantarku ke tempatmu.

 

Matahari sudah condong ke barat saat aku melihatmu sedang melangkah sendirian di antara keramaian. Bersedekap di depan etalase, aku melirikmu yang berjalan mendekat. Kutarik nafas dalam, lalu memberi kendali pada tubuhku. Mungkin kenyataan kalau ragaku hanya bertahan sampai sore itulah yang memberiku keberanian. Karena itu, jangan kaget kalau tiba-tiba aku menghalangi jalanmu sekarang.

 

Permintaanku tak masuk akal, ya? Siapapun pasti akan terkejut kalau dihadang di jalan. Oleh orang tak dikenal pula. Termasuk kamu. Terlihat ekspresi kaget, bingung dan sedikit marah di wajahmu. Aku jadi merasa bersalah telah membuat jantungmu berhenti sesaat tadi.

 

“Aku—aku,” tergagap, aku berpikir keras tentang skenario apa yang akan kumainkan. “Aku tak tahu jalan pulang…”

 

Kupikir fakta bahwa saat ini aku seorang bocah, sedang sendirian dan menatapmu dengan wajah memelas sudah mendukung kalimat yang kuucapkan. Tapi kurasa aku butuh alasan lain agar kamu tahu aku hanya mau bicara denganmu seorang.

 

“Aku pernah lihat Kakak di taman bunga, rumahku dekat sana, aku mau pulang,” aku tahu kata-kataku berantakan, karena aku harus cepat berpikir sebelum kamu meminta bantuan orang lain dan segera berlalu. Soalnya, kesempatanku hanya sekali ini, jadi, kumohon. Kumohon. Kabulkanlah.

 

Mendongak untuk melihat reaksimu, aku melihatmu mengangguk, setuju mengantarku ke taman bunga. Kamu juga ikut tersenyum saat melihatku tertawa. Lalu aku berjalan di sampingmu setelah kamu mulai melangkah.

 

Saat berjalan, kadang kamu menanyakan tentang keluargaku, tapi aku lebih sering bertanya soal kehidupanmu karena terlalu banyak hal yang tak bisa kuceritakan tanpa kebohongan. Termasuk tentang rumah di dekat taman bunga. Sebenarnya alasanku mengajakmu ke sana ada hubungannya dengan dua kata yang ingin kuucap. Tapi lebih baik kuberitahu nanti saja.

 

Setelah kita sampai ke tempat kita pertama kali bertemu dulu, di taman itu.

 

“Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Kakak,” setengah berlari, aku menarik tanganmu ke barisan pohon dekat jalan kecil di taman itu. “Kakak ingat anak kucing yang dulu Kakak temukan?”

 

“Waktu itu, kalau Kakak nggak langsung merawat kucing itu, sekarang pasti dia sudah mati,” aku berkata lirih. Berdiri di atas tumpukan daun, aku menyeraknya kaki. Meski sudah sangat samar, mata yang awas pasti bisa menemukan bercak kecoklatan di bawah tumpukan daun itu. Noda darah yang sudah lama.

 

Aku menoleh padamu, yang sedang menatap ke noda darah itu, terlihat berusaha mengingat-ingat tentang bercak darah itu.

 

“Setengah tahun lalu, ada kucing yang dilindas sepeda motor di sini,” aku memulai. Tentu saja, tak ada yang memperhatikan kucing itu. Bahkan tak ada yang peduli. Dunia tak akan berhenti berputar hanya karena seekor kucing ditabrak mati.

 

Bangkai kucing itu sudah dibuang saat kamu melewati tempat ini. Kamu berhenti saat merasa mendengar suara kucing mengeong. Kamu mencari di balik semak setelah yakin di sanalah asal suaranya.

 

Di sana kamu menemukan hanya seekor anak kucing yang seolah menangisi empat lainnya yang telah mati. Kamu mungkin menduga kalau anak-anak kucing itu mati kelaparan karena tak menemukan induknya di mana-mana. Akhirnya kamu memutuskan memberikan sisa makan siangmu pada kucing kecil itu. Awalnya dia terlihat takut-takut saat kamu menyodorkan makananmu, tapi setelah mengendus-endus dan menggigit sedikit, kucing itu malah menghabiskan semuanya.

 

Sejak itu setiap sore kamu membawa sisa makananmu dan kucing itu menghabiskannya. Tapi di minggu kedua, kucing itu tak ada lagi. Kemudian kamu mendengar orang-orang mengatakan pemilik taman ingin membersihkan taman ini dari binatang liar. Berpikir mungkin kucing itu sudah mandiri di luar sana, kamu memutuskan untuk melupakannya.

 

Lalu hari ini aku mengingatkanmu kembali. Mungkin sekarang kamu bisa menduganya? Kalau akulah anak kucing itu. Aku menarik nafas sebelum meraih dari saku, kalung leher yang tadi kusimpan.

 

“Ini dari anak kucing itu,” aku berusaha menunjukkan senyum paling tulus yang bisa kubuat. Tapi, aneh sekali, saat kamu menerima hadiah itu, aku merasakan mataku berkaca-kaca. “Untuk membalas kebaikanmu dulu.”

 

Matahari mulai terbenam. Bersamaan dengan itu, tubuhku memudar. Pendar-pendar cahaya dari tubuhku terbawa ke arah matahari yang makin tak terlihat. Begitu juga dengan ingatanku dan semua kenangan yang kumiliki, sebagai bayaran atas tubuh sementara ini.

 

“Karena kamulah, aku tetap hidup sampai sekarang,” Ah. Pendar cahaya ini membuatku tak bisa menangkap jelas sosokmu. Tapi, sebelum waktuku berakhir, aku akan ucapkan dua kata itu. Aku memejamkan mata dan menarik nafas.

 

“Terima kasih.”

 

Aku menggeram waspada. Ada makhluk asing berdiri di depanku, menatapku agak lama lalu ke benda aneh warna merah di tangannya. Sepertinya dia tidak berbahaya, tapi lebih baik aku segera kabur darinya.

 

Melangkah mundur pelan-pelan, aku lalu pergi dari sana secepat yang kubisa.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Dua Kata

  1. negeri tak pernah-48 says:

    Ah.. jadi si aku ini.. kucing ya?

    POVnya ga biasa. Hebat lho bikin cerita dengan sudut pandang model begini. Bagian dukun gaul pecinta anime itu bikin ngakak abis.

    Eniwei, semangat dan sukses! :D

    Mampir ke 48 jika berkenan. <<promosi lapak ga boleh lupa

  2. Nuno says:

    Hai Luna salam kenal. ^0^
    Um, seneng ngebacanya gak berpapasan sama typo. Narasinya oke. Idenya juga suka, tokoh si ‘aku’-nya itu kucing. Sambil menerka-nerka tokoh si ‘kamu’ yang selalu diomongin sama si kucing, sekilas pikiranku langsung inget Little Mermaid yang pengen punya kaki karena jatuh cinta sama pangeran. For all, i like it. :)

    Hanya saja di sini tidak ada pemenggalan dari adegan satu ke adegan yang lain, ya? Jadi kaya jalan tol, langsung jalan saja. Dukunnya juga gaul banget dan tahu mode. Jarang-jarang kan ada dukun kaya gitu. Kesan takutnya hilang. Apalagi dia punya janggut merah dan rambut kuning. WOW. d(^_^) Hhheee… Dia sampe punya lemari dengan koleksi baju musim panas 2012. *Eeehhh, ini settingnya di Indonesia, kan? Musim panas, agak kurang pas.

    Oh iya, apa dukun ini adalah dukun tanpa pamrih? Tidak ada kah sesuatu timbal balik untuk si dukun yang udah ngebantu si kucing jadi manusia? *Mungkin ada atau aku kelewat bacanya?* Salah satu praktek dukun ini membuat karakter dengan menggunakan komputer? Jadi ini penggabungan ilmu apa?

    Maaf ya kalau komentnya terlalu ‘cabe’. Good luck Luna *tanpa Maya* Hhhheee. Silahkan balas komentnya di lapak 67, yang pastinya banyak banget kekurangannya. n_n

  3. Connie says:

    bagussssssss…tp endingnya maksudnya “aku” jadi amnesia ya??

  4. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Kenapa cerita ini sedikit banget yang baca? Kenapaaaaa

    Padahal ceritanya bagus lho! Saya suka sama POV-nya, saya juga pernah bikin cerita dengan POV gini, dan itu gak gampang ;) cerita ini mainin emosi saya. Yang awalnya ketawa-ketawa gara-gara si dukun gaol, sampe jadi terharu gara-gara ngebayangin kucing kecil ngeong kelaperan, di samping sodara-sodaranya yang udah mati T^T

    Saya salah satu fans kucing soalnya.

    4 out of 5!! Good luck ya! ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>