Dunia Dalam Berita

DUNIA DALAM BERITA

karya Anindito Alfaritsi

Mungkin sebaiknya aku mengawali ini semua dengan permintaan maaf.

Aku tahu aku enggak mungkin sanggup menceritakan ini semua secara baik. Jadi aku minta maaf bila kesannya berakhir bertele atau malah enggak penting.

Aku masih baru dalam menulis.Aku mengerti kalau berbuat kesalahan itu wajar. Tapi,kalau selama tiga tahun yang panjang, kauterus berurusan dengan orang yang suka mengungkit kesalahan-kesalahanmu, kau lama-lama akan menjadi sensitif terhadap kesalahan juga.

Sebenarnya, mungkin ini semua juga berawal dari sebuah kesalahan sih.

Sebuah… kesalahan mengenali orang.

“Ap-ap-apa… kita pernah ketemu sebelumnya?”

Entah apa yang sedang kupikirkanwaktu itu. Saat aku sadar, tahu-tahu saja pertanyaan itu telah terlontar.

Senyap. Tentu saja reaksi itu yang kudapatkan.

Aku benar-benar bisa membayangkan situasinya dari sudut pandangnya. Seorang cowok gemuk besar yang enggak kau kenal tiba-tiba saja mendekati, kemudian melontarkan apa yang nampaknya merupakan rayuan paling kuno dalam sejarah. Masalahnya, kau sebelumnya sama sekali enggak pernah memperhatikan cowok itu. Kau bahkan belum pernah mengenalnya.  Dan kau seorang… cewek, yang notabene menarik, yang sepertinya tak aneh sebenarnya, jika seandainya suatu hari mengalami situasi seperti itu.

Tapi serius! Aku memaksudkan itu bukan sebagai rayuan! Itu pertanyaan sungguh-sungguh! Aku benar-benar merasa pernah melihat wajahnya di suatu tempat sebelumnya!

Anehnya, bukan wajahnya sewaktu ia masih kecil atau apa. Tapi benar-benar wajahnya yang sekarang. Karena itulah, semuanya, bagiku, saat itu, benar-benar terasa tak masuk akal. Itu benar-benar perasaan nostalgia yang aneh. Aku merasa pernah melihat wajah yang cuma dimiliki seseorang ‘sekarang’ bertahun-tahun sebelumnya.

Cuma begonya—terlepas dari alasan yang mendorong aku melakukannya—aku menanyakan itu persis pas jam istirahat sekolah, di tengah koridor antar kelas, pada saat ada banyak orang lalu-lalang dan… aaaaaargh!

…Aku pasti kelihatan tolol banget.

Kurasa, waktu itu, aku cuma sudah tak tahan lagi untuk tahu jawabannya. Soal siapa dirinya. Soal mengapa aku merasa pernah melihat wajahnya di masa lalu. Memikirkannya seperti apapun, tetap tak ada penjelasan masuk akal yang bisa aku temukan. Setidaknya, pada waktu itu…

Aku pertama menyadari kehadirannya pada hari pertama kami masuk SMA. Tak ada yang benar-benar mencolok tentang dirinya, selain kenyataan bahwa secara umum dia termasuk cantik. Tapi yang benar-benar membuatku terpaku memandangnya adalah perasaan déjà vu yang kurasakan itu.

Perasaan déjà vu yang… secara berkala membuatku terus memperhatikannya dari kejauhan. Memperhatikan sosoknya setiap kali ia melintasi lorong-lorong sekolah. Sampai pada suatu titik, aku akhirnya tak tahan lagi. Sehingga pada suatu hari di tahun pertama kami di SMA itu, aku memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan itu.

Cewek bersangkutan itu, sembari menahan senyum ragu, tapi dengan tanpa-sadar-akan-betapa-keji-perbuatannya, saat itu cuma menggelengkan kepala dan dengan polosnya menjawab, “Enggak.”

Yah, oke. Mungkin dia enggak sekeji itu. Sebab ada beberapa detik saat ia dengan tak yakin menantikan reaksiku, sebelum akhirnya dengan kesopanan yang telah diupayakan dirinya kembali beranjak ke kelasnya lagi.

Masygul. Cuma itu yang kurasakan waktu itu.

Aku sempat bertanya-tanya, apa perasaanku memang sudah sewajarnya begini ya?Aku bahkan sampai tak menyadari tawa tertahan dan tunjukan jemari anak-anak lain yang menyaksikan kejadian itu.

Memikirkannya lagi ke belakang, aku benar-benar baru saja melakukan sesuatu yang menakutkan.

Tapi dampak dari pengalaman itu, entah bagaimana, seakan menyusun kepingan-kepingan kenangan lama di otakku. Menciptakan kembali ingatan lama yangakhirnya membuatku memahami dari mana perasaan déjà vu itu berasal.

Ada sebuah kenangan lama. Kenangan yang anehnya sempat kulupakan. Kenangan yang lama sekali. Sebenarnya, bukan kenangan yang benar-benar penting. Terjadinya pada waktu aku masih kecil dan masih sedang giat-giatnya mengenal dunia. Berpikir mengapa begini, berpikir mengapa begitu. Berpikir dengan sedih soal kenapa hanya karena aku gendut, anak-anak yang lain seakan…

Seakan…

Yah, itu bukan suatu hal yang dengan enak bisa kuomongin.

Aku enggak yakin segendut apa persisnya aku dulu. Tapi kurasa aku cukup gendut untuk mengundang rasa jijik dari anak-anak sebayaku. Apa aku pernah menjahati mereka? Apa aku pernah membuat mereka merasa tak nyaman? Maksudku, bahkan hingga kinipun, dengan status keadaan tubuhku yang sebenarnya masih belum banyak berubah, itu tetap jadi suatu hal yang masih belum terlalu bisa aku pahami.

Tapi intinya, aku ingat bahwa pernah suatu saat ada seseorang yang menghiburku waktu itu. Dalam satu di antara sekian banyak ‘kenangan-menangis-karena-dijahati’ yang aku punya.

Perempuan. Asing. Dewasa—akubelum bisa memperkirakan berapa usianya karena masih anak-anakwaktu itu. Lalu cantik. Kesan terkuat yang kudapat dari dirinya adalah kesan bahwa dirinya cantik. Di samping itu, berdasarkan seragam yang ia kenakan, kuketahui bahwa dirinya… seorang perisal.

Seseorang yang menggeluti profesi yang bagiku, masih tak pernah jauh dari kesan seorang ‘ksatria penyelamat orang’ atau ‘gadis penyihir baik hati.’

Perempuan itu menghiburku di taman kota tempat dulu aku pernah menangis, yang hingga kini masih terkadang kulewati dalam perjalananku pulang sekolah. Setiap melewati taman itu, aku selalu merasakan sebersit perasaan nostalgia. Sebab semenjak itu, meski wajahnya entah bagaimana selalu bisa kuingat secara jelas, aku tak pernah bertemu lagisosoknya. Aku hanya bisa berpikir bahwa kebetulan saja pada hari itu, perempuan perisal itu sedang melewati wilayah yang tak biasa dia lewati.

Sampai, tentu saja, aku melihat gadis yang kuceritakan itu, di hari hari upacara penerimaan murid baru di SMA. Sebelumnya, aku benar-benar mengira takkan pernah melihat wajahnya lagi. Maksudku, yang ingin kukatakan di sini, aku seakan bisa melihat wajah perempuan itu ‘pada’ wajah gadis ini.

Wajah seorang perisal, yang untuk pertama kalinya kulihat secara jelas.

Mungkin itulah alasan mengapa sosoknya bagiku sedemikian berkesan.

Di mataku, para perisal dan perisal putih senantiasa membaktikan diri mereka dalam menolong orang.

Aku terlahir sesudah Kataklisma terjadi, dan karenanya aku tak benar-benar bisa membayangkan dunia sebelum mereka ada. Aku tak tahu seperti apa wujud Bumi sebelum berasimilasi dengan Elfrum. Maksudku, aku pernah melihatnya di buku-buku sejarah dan di film-film lama. Tapi bagiku, semua itu tetap terasa tak nyata.

Dunia tanpa kehijauan yang berlimpah dari tumbuhan yang menguasai dunia. Dunia tanpa arca dan puing—yang secara acak dan tiba-tiba—terkirimdari Elfrum.Dunia dengan gedung-gedung melebihi lima lantai. Atau dunia dengan nuansa abu-abu karena udara yang dipenuhi oleh… ‘pulosi?’

Aku tak bisa membayangkan itu semua. Bagiku, tak masuk akal jika orang menjalani hidup tanpa menyadari kematian yang sewaktu-waktu bisa datang. Maksudku, di dunia sesudah Kataklisma, ancaman kematian yang sewaktu-waktu datang sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Tapi di masa sebelum itu, sebelum asimilasi dengan Elfrum, rongga-rongga dimensi tak bermunculan begitu saja secara tiba-tiba dan berkaladari udara. Orang-orang Bumi bahkan konon tak tahu rongga dimensi itu apa.

Makanya, pada masa tatkala Kataklisma terjadi, korban yang jatuh dari sisi Bumi teramat banyak. Bukan cuma satu-dua puluhan juta. Melainkan ratusan kali lipat daripada itu. Aku benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana populasi manusia pernah sampaisebanyak itu.

Sampai tibanya orang-orang asli Elfrum, yang punya kemampuan untuk merasakan dan—dengan keterampilan memanipulasi eter—menutup kembali rongga-rongga dimensi, kudengar peradaban umat manusia sempat benar-benar terancam binasa. Kematian mendadak akibat tertimpa struktur raksasa yang tiba-tiba muncul di atas langit. Kematian akibat musnahnya tanah tempat kau berpijak. Lalu ada konflik, paranoia, gejala-gejala rasisme dan sebagainya, mengingat mereka benar-benar orang asing yang datang dari dunia lain. Bahkan ada desas-desustentangberakhirnya dunia.

…Kalau memikirkan lagi semuanya sekarang, kurasa, sejarah bagaimana dua dunia ini bersatu (meski tak secara sempurna) benar-benar luar biasa.

Tapi karena secara fisiologis mereka tak jauh berbeda dari manusia Bumi, kurasa tak aneh kalau situasi antara orang-orang Bumi dan mereka kini baik-baik saja.

Orang-orang Elfrum benar-benar tak berbeda dari orang-orang Bumi. Bahkan dari segi variasi warna kulit dan sebagainya. Hanya saja, mereka peka terhadap perubahan-perubahan aliran eter yang mendahului kemunculan sebuah rongga dimensi. Yah, di zaman sekarang, semua orang punya kepekaan sampai derajat tertentu terhadap perubahan-perubahan aliran eter. Tapi hanya mereka yang cukup peka untuk merasakannya,sertacukup terlatih untuk menghadapinya, yang kemudian menjadi perisal putih. Lalu mereka yang cukup peka untuk merasakannya, terlatih untuk menghadapinya, sekaligus bisa memanipulasi aliran eter untuk menutup sebuah rongga dimensi kembali,adalah mereka yang menjadi perisal sejati.

Karena besarnya peranan yang mereka miliki, ada sebutan profesi khusus untuk mereka: ‘perisal.’ Lalu seragam yang mereka kenakan dibuat berwarna mencolok agar dapatdengan mudahorang menemukan bila ada kemunculan rongga dimensi. Penyalahgunaan pemakaian seragam itu bisa dituntut secara hukum.

Lalu mulai SMA, sebagai bagian kurikulum, pendidikan dan perlakuan khusus diberikan bagi mereka yang mengikuti pelatihan di luar KBM untuk menjadi perisal atau perisal putih. Mereka yang ikut bahkan juga mendapat seragam khusus berbeda warna dan sebagainya. Sekurangnya, emblem di lengan baju, kalau pelatihan yang mereka jalani belum tuntas.

Tapi, gadis itu…

“Hei. Apa kamu… sebenernya seorang perisal?”

Demikian pada kesempatan lain aku bertanya lagi padanya. Agar tak menarik perhatian, kali ini aku coba mendatanginya secara langsung di ruang kelasnya. Aku bertanya, karena kulihat dia sejauh ini mengenakan seragam biasa-biasa saja yang sama. Tanpa emblem yang menandainya ikut pelatihan apapun.

Namun, reaksinya kini seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya.

Dia menyeretku ke satu sudut sekolah yang sepi di jam istirahat itu. Dengan syok, aku cuma meratapi hilangnya keanggunan yang selama ini ia pancarkan. Kemudian, masih dengan menahanku di kerah baju, “Kamu ini sebenernya nguntitin aku ato apa sih!”

Aku cuma bisa tergagap saat itu. Aku sama sekali tak punya persiapan untuk menghadapi reaksi seperti ini. Aku… lupa apa persisnya yang kukatakan waktu itu. Tapi intinya, hubungan kami semenjak itu agak memburuk.

Kurasa.

“Yang perisal itu ibuku.”

Itu hal terakhir yang dikatakannya waktu itu. Dengan nada getir.

Ada ‘ah’ yang saat itu juga muncul di kepalaku. Perempuan yang kutemui waktu itu justru adalah ibunya? Kemiripan mereka luar biasa! Tapi memang masih banyak hal ajaib yang belum diketahui tentang eter dan perisal. Lalu ada juga teori soal bagaimana bakat perisal itu sebenarnya diturunkan secara genetik….

Ma-Maksudku, ada sejuta pikiran yang saat itu langsung bermunculan di kepalaku.

Tapi yang paling menggangguku, tentu saja adalah kenyataan bagaimana dirinya punya semacam antipati terhadap profesi ini.

Dalam hati, aku cuma bisa berpikir, apa dia punya semacam hubungan buruk dengan ibunya?

Satu hal lagi yang hari itu aku tahu: namanya adalah Irina.

Ada sesuatu yang buatku terasa menyedihkan tentang semua itu. Makanya, semenjak hari itu, aku tak berani mengganggunya lagi. Tentu saja, sempat ada beberapa kabar mencemooh, terutama di kalangan anak-anak perempuan, soal apa yang kulakukan. Tapi karena yang tahu apa yang sebenarnya terjadi cuma kami berdua, tak ada seorangpun yang berani menghadapku secara langsung dan membahasnya.

Mungkin karena aku sudah terbiasa dipandang aneh semenjak kecil, aku jadi punya semacam kecendrungan untuk menyendiri. Aku juga jadi benci tempat-tempat keramaian dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kebanyakan orang. Makanya, entah sejak kapan aku…

…Aku sering bermain ke panti asuhan pada suatu titik.

Ada… satu panti asuhan di jalur yang kulewati buat pulang sekolah. Aku terkesan dengan para perisal, meski untuk alasan yang aneh. Dan aku terkesan dengan pekerjaan dan kegiatan dan keseharian mereka. Lalu aku dengar soal anak-anak korban rongga dimensi, yang akhirnya kehilangan orangtua mereka, yang akhirnya jadi senasib dengan anak-anak yang kehilangan orangtua mereka karena sebab-sebab lain, dan…

Entahlah.

Aku juga tak yakin apa sebenarnya yang ingin kulakukan waktu itu.

Tapi dari sekedar memberi sumbangan secara berkala, aku jadi sering bermain ke tempat mereka.

Awalnya, aku cuma duduk-duduk saja sesudah mencatatkan sumbangan, memperhatikan anak-anak yatim piatu yang lebih kecil bermain. Tapi lalu… ada… pengurus mereka, yang bilang agar aku jangan segan mengajak mereka bermain. Lalu dia menyuruh anak-anak kecil itu agar tak segan mengajakku bermain. Pokoknya, haha, jadinya agak aneh.

Semuanya sampai ke titik di mana… aku kemudian mendapatkan nama panggilanku sendiri.

“Aaaah! Ada Kak Beruang!”

Begitu mereka yang lebih kecil biasa menyambutku setiap melihat aku datang.

“Oi, Kak Beruang!”

Sementara, itulah cara mereka yang sudah mulai beranjak remaja menyapaku.

Mereka yang benar-benar sudah remaja biasanya sudah dikirimkan ke sekolah-sekolah berasrama. Tapi terkadang mereka mampir, menyapaku seakan aku teman lama, dan ikut membantu pekerjaan sehari-hari di panti ini.

Tapi pada beberapa hari sesudah aku mengetahui nama Irina, terjadi sesuatu yang agak berbeda.

Anak-anak yang sedang bermain di halaman panti, tiba-tiba saja berhenti. Anak lebih besar yang tadinya sedang asyik menceritakan sesuatu padaku, tiba-tiba saja mendongak. Dan saat aku menyadari ada bayangan panjang menutupi cahaya matahari yang menyorotiku dari halaman, aku juga tersadar:hadirnya sosok gadis sebaya yang mengenakan seragam sekolahku.

“Ooh. Gitu. Kamu naksir ibuku.”

“Apa? Enggak! Aku…”

“Ooh, jadi karena nyadar itu salah, kamu akhirnya naksir aku?”

“Hah? Tunggu, tunggu dulu!”

Aku berhutang penjelesan pada Irina, jadi aku tentu saja menceritakan semuanya kepadanya. Cuma… begitulah. Percakapannya malah jadi seperti itu. Aku dengan putus asa berusaha menjelaskannya secara baik-baik, bahwa aku tak mempunyai maksud buruk, tapi…

“Berisik! Dan lagi masih belum jelas apa bener ibuku yang kamu temuin kan? Bisa aja kejadiannya emang cuma mirip doang!”

Ergh, intinya, aku cuma… tak menyangka, saking curiganya, dia sampai membuntutiku ke panti itu.

Tapi, kurasa, apa yang kulakukan bukanlah sesuatu tanpa arti.

Pada saat berikutnya kami berpapasan pada jam istirahat, kami terpaku selama beberapa jenak saat melihat satu sama lain. Kemudian, baru saat itu aku menyadari ada hal berbeda pada penampilannya. Di salah satu lengan bajunya, kini terpasang emblem. Dirinya kini sudah menyatakan pada pihak sekolah bahwa dirinya berbakat sebagai perisal; memiliki kemampuan alami untuk menutup rongga-rongga dimensi. Serta kini, pada tanggal yang dijadwalkan, dia akan menjalani pelatihan di jam ekstrakurikuler untuk mengambil langkah pertama untuk menjadi perisal sejati.

“Makasih.”

Dia tersenyum sekilas dan membisikkan itu saat melewatiku. Sikapnya normal kembali. Tapi aku sama sekali tak mengerti apa-apa yang telah berlangsung dalam pikirannya.

Tanpa perlu dikata, karena memang sudah menjadi semacam cita-cita, semenjak awal aku juga sudah mendaftar untuk menjalani pelatihan. Tetapi hanya pelatihan untuk menjadi perisal putih, karena aku tak punya bakat untuk menutup rongga-rongga dimensi. Pelatihan perisal putih hanyalah agar kita bisa memiliki kemampuan praktisnya saja—sama sekali tak ada hubungannya dengan profesi. Pada dasarnya, kita cuma diajarkan tentang bagaimana meningkatkan kepekaan dalam merasakan perubahan-perubahan aliran eter, serta diajari dan dilatih soal cara-cara untuk menanganinya. Cara-cara mengantisipasi setiap perubahan yang mungkin. Cara-cara mendobrak halang rintang. Cara-cara alternatif untuk keluar dari bangunan. Anggaplah semacam tambahan ilmu untuk bertahan hidup.

…Dan juga menolong orang.

Yang mengadakan pelatihannya adalah pemerintah. Jadi itu juga suatu kesempatan untuk bertemu para perisal sejati secara langsung.

Terus terang, aku juga memerlukan latihan fisiknya.

Tapi latihannya berat! Benar-benar berat! Ada lari dan push-up dan separuh sit-up ratusan kali dan lainnya.

Kalau kupikir sekarang, alasan aku tetap bertahan kurasa cuma karena Irina juga ikut bertahan.

Cuma karena…

Bagaimanapun, hubungan kami, semenjak itu, memang jadi agak aneh.

Dia pernah mengundangku ke rumahnya pada suatu waktu. Aku lupa persisnya karena apa.Tapi dia juga mengundang beberapa teman lain pada kesempatan yang sama.

Itulah saat aku akhirnya bertemu ibunya, dan aku takkan pernah lupa reaksinya saat pertama melihatku.

“Kok, rasanya kita pernah ketemu sebelumnya, ya?”

Saat itu…

Sial, aku tak bisa menjabarkan bagaimana perasaanku saat itu! Perasaannya terlalu rumit untuk bisa kuungkap.

Kalau kuperhatikan, di samping dua perempuan teman sekelasnya yang sering kulihat bersamanya, sepertinya Irina tak punya banyak teman lain. Setelah kupikir lagi, kurasa dirinya memang menjaga jarak selama ini agar teman-temannya tak tahu banyak tentang dirinya.

Kelihatannya, dirinya memang sempat mati-matian menutupi kenyataan bahwa dirinya keturunan perisal. Sebab nyaris bisa dipastikan keturunan seorang perisal akan menjadi perisal juga.

“Kamu udah makan coklat sebelumnya ‘kan? Enggak bisa dibiarin! Kalorinya tinggi, soalnya! Jadi, pake uangnya buat beliin aku cheesecake.”

Kadang dia dengan seenaknya meminta untuk ditraktir. Biasanya dengan memanfaatkan rasa bersalah dan rendah hatiku atas hal-hal yang kuperbuat.

Tapi lebih dari itu, kurasa hubungan kami tak ada masalah. Bahkan, mungkin bisa dibilang baik.

Dia pernah menceritakan cita-citanya padaku suatu hari. Dia bilang dia ingin keliling dunia.

Dia terpikat pada cerita-cerita lama tentang kapal-kapal udara yang sanggup menyamai kecepatan suara. Dia bilang, dengan kapal-kapal itu, orang-orang Bumi dulu bisa berpergian ke belahan Bumi lainnya hanya dalam hitungan jam! Kami di sekolah sama-sama diajari soal bagaimana fluktuasi aliran eter mengacaukan perambatan jarak jauhsinyal radio.Jadi ‘sistem navigasi’ yang dibutuhkan kapal-kapal itu sudah tak dapat dipakai lagi. Tapi, dia tetap sering terpekur memandang langit seakan berkhayal dan berkhayal. Seakan tak puas dengan balon dan kapal udara yang menjadi media transportasi paling diandalkan saat ini.

Masih berhubungan dengan itu, Irina juga sering membaca tentang Internet. Katanya, itu semacam perpustakaan sekaligus jaringan telepon yang dulu menghubungkan setiap orang dari seluruh penjuru dunia. Menggunakannya, kita bisa bertukar kabar dengan orang-orang di belahan bumi lain hanya dalam sekejap. Tapi aku pribadi mikir kalau membaca-baca isi buku orang seenaknya begitu tak mungkin sepenuhnya baik…

Namun soal ketertarikannya terhadap tempat-tempat lain, kurasa aku juga memilikinya.

Tempat-tempat yang jauh. Bangunan-bangunan dengan bentuk yang berbeda. Bahasa-bahasa eksotis. Kebudayaan-kebudayaan asing. Pemandangan-pemandangan yang takkan kau temui di tempat lain. Dan mungkin karena itu, setiap jam sembilan malam, kami selalu menekuni Dunia Dalam Berita di depan televisi. Hanya sekedar untuk tahu apa-apayang sedang berlangsung di tempat lain. Mencari tahu soal hal-hal yang belum kami tahu, hanya untuk membicarakannya di sekolahesok hari.

Tapi lebih dari itu, saat kami naik ke kelas dua, lulus pelatihan, dan mendapat seragam baru kami masing-masing, Irina mulaisering mencatat dan menekuni prakiraan fluktuasi eter dunia yang ditayangkan setiap sesudah prakiraan cuaca. Kurasa, ada suatu fenomena yang mati-matian tengah berusaha dipahaminya.

Aku sempat bertanya, apa dirinya meneliti cara untuk menyingkirkan dampak yang tersisa dari Kataklisma. Tapi Irina berkata,dampak seperti rongga dimensi mungkin selamanya takkan dapat dihilangkan.

Lagipula, Kataklisma bukan kejadian yang sepenuhnya buruk. Meski kita hidup di bawah ancaman kematian sewaktu-waktu, dunia sekarang berada dalam perdamaian.Lalu kita jauh lebh memahami makna hidup kita dibandingkan orang-orang yang telah lalu.

Tentang makna hidup itu sendiri…

Pulang sekolah, di salah satu ruang ekskul, aku berhadapan dengan rongga dimensi pertamaku. Ada perasaan memualkan yang seakan hanya bisa aku rasakan. Semula, aku tak yakin. Yang bisa kupikirkan hanya cerita tentang kakak kelas yang dihukum karena memanfaatkan kewenangannya memperingatkan kemunculan rongga dimensi untuk main-main.

Tapi rongga-rongga itu benar-benar muncul. Begitu saja. Bola-bola besar berpendar yang seakan menelan dan memuntahkan segalanya.

Aku memperingatkan semua orang di sekitarku tepat waktu.Jalan keluar kuciptakan dengan memecahkan jendela.

Terlepas dari rasa lega dan bangga yang aku rasakan, aku… takkan sanggup melupakan tampang Irina waktu itu. Matanya. Wajahnya. Lalu getaran di suaranya saat ia membantu menutup rongga-rongga itu.

Aku kerap berpikir, apa tak apa jika aku sudah merasakan perasaan sedalam ini?

Kami masih sangat muda. Masa depan mungkin masih jauh terbentang.

Tetapi, memikirkan semuanya sekarang, sembari menyetel televisi untuk melihat Dunia Dalam Berita yang kutahu Irina juga lihat, kurasa… keadaan kami sama sekali bukanlah keadaan yang buruk.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

45 Responses to Dunia Dalam Berita

  1. Darin Kowalski says:

    Woah, rupanya saya belum ninggalin jejak di K.com meskipun sudah baca! :p

    Kerasa banget manisnya, meskipun nggak terlalu secara eksplisit membahas soal hubungan si ‘Beruang’ (XD) dan Irina. Justru di situ poin plusnya, karena nggak terpaku sama itu aja. Masalah tentang pekerjaan para perisal dan Kataklisma jadi nggak terabaikan.

    Good luck, Bos Al! :D

    *banner sponsor: Silakan Mampir! #73*

    • Alfare says:

      Makasi udah baca, Ki.

      Sebenernya maunya JUSTRU ngebahas soal hubungan mereka berdua sih, tapi berhubung sifat tokoh utamanya kayak gitu… (<– malah nyalahin tokoh utama sebagai penyebab kelemahan pada narasi)

  2. Johan Padmamuka says:

    Yahooo! Inilah lanjutan komen dari K.com :D

    Seperti yang beberapa kali kukatakan, romantika itu bukan sepenuhnya seleraku…
    Jadi, mungkin komentarku akan bias

    Ingat, di komen sebelumnya aku bilang mengira bahwa ini adalah kisah ‘superhero yang mencoba hidup normal’? Nah, mungkin dari antisipasi seperti itulah, aku rada kecewa. Tidak ada aksi… Yang muncul di cerita adalah kisah hidup sehari-hari orang biasa di dunia yang tidak biasa…

    Bukan! Bukan berarti ini buruk.
    Aku menikmati kisah ini, seperti melihat kehidupan anak SMA atau kuliahan yang sedang menikmati masa muda. Hanya saja, ya itu tadi, aku mengharapkan interaksi lebih antara ‘dunia yang tidak biasa’ dengan ‘orang yang biasa’ bukan hanya soal masalah cinta antar dimensi…

    Masalah hubungan cinta… Hm… Gimana ya? Hubungan antara tokoh utama dan Irina itu menurutku tidak hendak ke mana-mana. Friendzone ya?

    Hubungan antara tokoh utama dan dunia yang stagnan, lalu pertemanannya yang tidak ke mana-mana dengan Irina… Alhasil, aku jadi merasa bahwa cerita ini tidak mengajukan pergolakan apa pun. Yang ada di sini adalah penjelasan tentang kehidupan ‘biasa’ di ‘dunia yang tidak biasa’.

    Maaf, bila tidak berkenan

    NB: Fluktuasi aliran eter ‘kan mengacaukan perambatan jarak jauh sinyal? Terus kenapa televisi masih bisa berfungsi?

    • Alfare says:

      Haha, makasih sekali lagi karena udah baca juga.

      Sebenernya, pengharapanmu soal ‘superhero’ yang berusaha hidup normal’ malah sesuatu yang enggak kepikiran sama sekali di kepala saya. Tapi mungkin emang begitu kesan yang ditampakkan oleh premis awalnya.

      Sebenernya lagi, gambaran yang ada di kepalaku memang adalah buat menggambarkan interaksi antara ‘dunia yang tak biasa’ dengan ‘orang biasa’ kayak yang kau bilang. Dan bukannya hubungan cinta antar dimensi. Tapi kayaknya, (seperti yang Mbak Klaudiani pernah katakan juga) saya masih kurang fokus, jadinya masih gagal juga membuat rantai combo-nya secara tuntas.

      Sebenernya, soal hubungan cintanya sendiri, hubungan keduanya sebenarnya beranjak kok. Cuma, karena tokoh utamanya kayak gitu (<– lagi-lagi nyalahin tokoh utama), hal tersebut enggak terlingkupi dalam cerita. Mungkin karena bawaanku mendalami cerita-cerita romansa sekaligus misteri, aku sering ngerasa justru apa yang ENGGAK diungkapin malah apa yang sebenernya yang terpenting.

      Bagi mata orang luar, mungkin itu emang friendzone. Tapi enggak dalam arti yang sepenuhnya negatif kali ya? Kayak… 'kalo ada orang yang bakal melakukannya, aku yakin pada akhirnya itu kamu' gitu.

      Oh. Soal siaran televisi. Semuanya siaran televisi lokal, per kota, jadi bukan nasional. Aku sudah memikirkannya, tapi aku enggak ngerasa tokoh utamanya adalah tipe orang yang bakal menjelaskan. Sedangkan buat bahan berita dunianya sendiri, itu semua hasil kopian yang udah agak terlambat dibandingkan waktu kejadiannya sendiri.

      • Johan Padmamuka says:

        Yang tersirat lebih bicara ya :D

        Oh iya, mungkin sekadar masukan… Kalau televisi sebenarnya udah ga begitu menguasai kehidupan, bukankah seni tradisional (teater, ketoprak dll) jadi lebih hidup? Masukin aja Mas Bro :D

  3. xeno says:

    Numpang ngakak dulu. XD
    Bagian awal pertemuan dan kedekatan dengan Irina itu komikal abis, Al. :D

    Konsep cerita ini keren. Penggabungan dua dunia dan perisal. Dan dengan gaya berceritamu yang khas, membuat keseluruhannya menjadi unik.

    Itu aja dulu. Semangat! :)

    • Alfare says:

      Makasih. Soal konsep doang sih, aku juga bisa bangga. ^^

      Ya ampun. Dari dulu aku selalu lupa bilang. Terima kasih khusus buat Bang Xeno karena sudah ngasih ide soal istilah itu.

    • xeno says:

      Hehehe…. Kau sudah mengubah kata ‘parnaen’ jadi ‘perisal’ yang lebih membumi, Al. Naah, sumbanganku di sini bukan apa-apa. No problemo, Al. :)

  4. little owlie says:

    Tell than show. Yah. Gaya berceritanya khas Bang Al banget. Somehow, ini cerita heart warming lho. Jadi ingat sama cerita Conan, entah volume berapa aku lupa. Yang mirip model gini. Soal dunia. Kurasa Bang Al udah berhasil memaksimalkannya. Hehe…

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

    • Alfare says:

      Makasih Bu Tabib.

      Iya sih, saya sudah berusaha memaksimalkan semuanya. Tapi jadinya tetap punya kekurangan di sana-sini.

      Sejak awal, yang akhirnya bisa dibidik memang cuma WAFF-nya sih. Tapi kan bibit WAFF ga kesebar di setiap orang. Ibaratnya, kayak gimana Yokohama Kaidashi Kikou dipandang tinggi ama semua ahli manga tapi enggak bisa dinikmatin semua orang. (<– mulai OOT)

      Oya. Aku juga sedikit ngaku di sini. Aku beneran main nyari aman buat cerita ini, dengan make gaya narasi (yang sering banget kupake) kayak gini. Tapi karena waktu itu udah dipepet waktu dan enggak ada ide lain, jadi biarlah. :P

      • Darin Kowalski says:

        …Bos Al baca Yokohama Kaidashi Kikou?! :D *OOT* *plak*

        >banner sponsor lagi: Silakan mampir di nomor 73

  5. Adham117 says:

    Mungkin sebaiknya aku mengawali ini semua dengan permintaan maaf… tapi ini curhatan bukan, bung? Hahahaha *dikepret*

    I mean, narasi si Kak Beruang begitu terasa emosinya, it almost like curcol :D
    Tapi mungkin Bung Anindito cuma penulis naratif yang lebih baik daripada saya.

    Chemistry antara Kak Beruang dan Irina bagus banget. Sayang tentang pekerjaan para perisal dan Kataklisma jadi sedikit terlupakan.

    Good luck! 3/5

    Jangan lupa mampir ke 117 ya! :D

    • Alfare says:

      Sori juga. Aku juga ngeh soal gimana kau lebih suka sesuatu yang ada aksinya. ^^

      Yah, ibaratnya sih, kayak gimana orang-orang biasa dengan cueknya bisa cuma mikir soal pacar sama kerjaannya sendiri, sementara televisi nayangin soal gejolak politik, bencana alam, konflik-konflik bersenjata di propinsi lain, dan sebagainya. Soal Kataklisma dan Perisal itu sudah jadi sesuatu yang begitu biasa di dunia ini sampai-sampai dipandang enggak terlalu penting lagi. Serupa dengan polisi, pemadam kebakaran, atau bahkan penyakit-penyakit yang ditangani dokter atau masalah bangunan yang ditangani arsitek.

  6. yin says:

    wuoo aku mendarat di cerita boss
    khas gaya boss yg biasa
    dan nilai plus buat typo2 yg ada, kurang spasi
    kenapa plus? soalnya si karakter utama ngaku masih baru dalam menulis
    jadi si beruang ini pasti jenius! XD

    • Alfare says:

      Wkwkwkwk.

      Sori Yin. Masalah spasi ini emang dari sananya. Enggak cuma ceritaku yang ngalamin masalah spasi di cerita ini. Ada error apaa gitu antar versi Wordnya yang ampe kebawa pas tayang di HTML. Agak enggak nyangka ceritaku juga kena.

      Makasih udah ngomen.

      • yin says:

        ah sebal, padahal kan asik kalo ternyata emang sengaja
        kalo mw lebih ekstrim coba dibuat narasinya ala orang baru pertama nulis beneran
        ato malah kaya narasi di charlie jenius dungu aka flower of algernon XD

  7. Chwilyswr says:

    Udah baca dan komen di kekom. Jadi numpang berbagi <3 <3 <3 aja

    • Chwilyswr says:

      padahal di kekom komen saya cuma :

      “Lanjutannya dong!!! Jadiin series!!!”

      wkwkwkwkwk

      -
      pokoknya keren lha
      -

      mengingatkan saya kepada serial tv Fringe

      • Alfare says:

        Makasih buat <3 <3 <3-nya. Tau aja saya penggemar Zelda.

        Iya ya. Aku semula enggak nyadar. Tapi emang jadi mirip ama premisnya Fringe.

  8. Jinbei says:

    maaf, gak terlalu paham dengan ceritanya. tapi … apakah ini cerita ttg dunia multi dimensi yg terhubung dengan deja vu?

    atau sebuah dunia yang bertumbukan dengan dunia tertentu sehingga unsur magis menyatu dengan “realita” ?

  9. katherin says:

    Entah aku yg bacanya dah gak bisa fokus atau narasinya terasa loncat2.
    Baru membicarakan satu hal, tiba2 keingat hal lain untuk dibahas.
    Karena ini dari PoV orang pertama, memang bisa dianggap curcol.

    Buat aku cerita ini terasa kurang fokus.
    Apakah mau membahas dunianya atau hubungan antara dua tokoh utamanya?
    Dan terus terang judulnya tidak mencerminkan ceritanya.

    Anyway good luck…
    Sorry, untuk kalo cabenya kepedesan. >.<

    • Alfare says:

      Enggak, memang bener kok. Terus terang, alasan utamanya memang akunya yang malas dan udah keburu dikejar deadline. #plak.

      Kayak yang sudah kusebut buat komen Johan Padmamuka, ide awalnya adalah aku mau menggambarkan interaksi antara ‘orang-orang biasa’ dengan ‘dunia yang tak biasa’ ini. Tapi jumlah kata yang diperlukan agar aku bisa mencapai rantai combo yang minimumnya tak mencukupi.

      Dengan kata lain, ini lagi-lagi jadi salah satu cerpen FF-ku yang berakhir dengan enggak maksimal. ^^ Tapi biarlah, seenggaknya kali ini aku bisa ngeles soal sifat si tokoh utamanya yang ngebikin hasil kayak gini. (<– jahat)

  10. Fapurawan says:

    Settingnya dapet banget. Gue suka komen mengenai internet dan ngebaca buku orang bukan merupakan hal baik! Polos banget, haha.

    Perisal? Dari akar kata apa, ya?

    Dan yea, gak jelasnya plot mengarah ke mana, membuat teks ini jadi terasa sebagai pembabaran setting doang.

    • Alfare says:

      Hmmmmm. Plot? Wut plot? *digampar*

      Eniwei, yea, setelah membacanya sendiri waktu aku baru beres ngetik, aku juga ngerasa isinya emang cuma jadi soal world building doang. Tapi tetep aja rasanya agak bahagia kalo dipuji soal setting ama Om Pur. ^^

      Istilah perisal itu sebenernya dateng dari istilah conlang random yang kuminta dari Bang Xeno. Tapi aku sesuaian dikit agar bisa punya akar dari kata ‘risalah’. Sebenernya asal istilah lain ini enggak sampai dijabarin sama si tokoh utama sih. Walau sebenernya ada, dan sudah sempet aku pikirkan.

    • Alfare says:

      Maaf. Tadi kelewat.

      Makasih banyak karena sudah sempatkan mampir.

  11. dotre says:

    sudah dikomen di kekom ya~
    yang mengganjal tinggal pedobearnya itu aja :))

  12. Rea_sekar says:

    Protes saia cuma satu:
    Dunia Dalam Berita malah enggak jadi masalah utama di cerpen ini ._.

    Btw btw,
    Perisal itu dari risalah ya. Entah mengapa saia rasa lebih asik bila dijadiin risalawan, cf. ilmiah//ilmuwan. Atau jika mau ke ilmiah//alim, bisa jadi arsal. Hum hum hum…

  13. Cecilia Li says:

    Lagi nganggur~ mampir tempat bos Al… komennya udah ya XD~ semangat semangat!

    P.s kapan mau ngobrol dan diskusi soal makna kehidupan? Wkwkkwkk..

    • Alfare says:

      Makasih karena udah mampir! >.<

      (Aku tau koneksimu kadang buruk. Tapi kapanpun ada yang mau diomongin, kontak aja ^^.)

  14. Grisel says:

    Manis bos. Manis banget. <3

  15. fr3d says:

    Kak Beruang! Kak Beruaaang~! xD

    pertama,
    saya berkali-kali salah baca judul-nya jadi “Dunia Dalam Derita”

    entahlah… mungkin hidup ini sudah terlalu kelam… (tsaah…)

    *berpose untuk difoto*

    kedua,
    ini cerita yang rasanya sangat panjang ^^?
    berhubung tidak ada konflik (kecuali tentang siapakah Irina?), cerita ini isinya jadi penuh penuturan dan lumayan terlalu datar di tengah

    ketiga,
    kapan ada cerita dengan POV 3? #trivia
    cerita dengan POV 1 membuat saya déjà vu… :|

    tapi saya suka dengan kemanisan cerita ini sebenarnya
    tokoh yang secara fisik mungkin nasibnya bisa berujung pada bully-bully, namun dengan menyenangkannya mendapatkan kesempatan untuk jadian sama tokoh yang secara fisik mengarah ke kesempurnaan

    jadi, Kak Beruang, cerita ini memuaskan!
    :P

    • Alfare says:

      OTL

      Euh, maafkan aku. Semenjak aku ngebikin cerita ini, aku emang jadi rada ngerasa kalau aku enggak pernah ngeluangin cukup banyak energi kalau ngebuat cerpen. Setiap kali FF, misalnya, aku selalu dibikin penasaran ama seberapa banyak ‘durasi’ cerita yang sebenernya bisa kutuangin ke dalam 3000 kata (dan dari sepanjang aku ikutan FF, kayaknya di cerita ini aku paling berhasil). Tapi sebenernya, itu kulakuin buat apa? #curcol

      Emm, maafkan aku lagi. Salah satu pertanda aku enggak serius dalam membuat cerita itu emang bila aku dengan seenaknya make POV 1. Biasanya saat aku sungguh-sungguh aku cenderung makenya POV 3. Ini lagi-lagi sesuatu yang baru kusadari belakangan.

      Maafkan aku. Cerita ini masih banyak kelemahan. Tapi kata-katamu begitu baik.

      OTL

  16. Mungkin sebaiknya aku mengawali ini dengan permintaan maaf :D (Beneran. Haha)

    Entah karena pengaruh gw baca ini pas lagi ga bisa tidur, atau entah ada sebab subjektif lainnya, gw ngerasa cerita ini agak datar. Selain itu, typo spasinya sedikit mengganggu, tapi gw bisa paham karena cerita gw juga bernasib sama kaya punyamu untuk typo spasi ini.

    Oh satu lagi, gw kurang nangkep kenapa judul cerpen ini Dunia Dalam Berita ya, sementara fokus ceritanya sendiri kayanya bukan di sana (atau mungkin gw yang ga nangkep? @_@)

    Di luar itu, gw cukup bisa nangkap setting ceritanya :D Dan gw somehow bisa nangkep dengan tujuanmu membuat cerita ini: Interaksi ‘orang biasa’ dengan ‘dunia yang tidak biasa’ . Dengan mengecualikan typo, penulisannya udah rapi. Sepertinya ini menarik kalau dikembangkan jadi cerita yang lebih panjang.

    Btw, kenapa perisal dibedakan jadi ‘perisal’ dan ‘perisal putih’ ya? Agak bingung aja karena perisal terdiri dari ‘perisal’ dan ‘perisal putih’ , bukan (misalnya) ‘perisal hitam’ dan ‘perisal putih’. Somehow hanya menggunakan ‘perisal’ aja bikin sedikit bingung sih.

    Yap sekian komentar dari gw. Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya :D Makasih.

    • Alfare says:

      Enggak, cerita ini emang datar. Aku emang agak terlalu kefokus ama latar dan tokoh utamanya ketimbang plotnya sendiri.

      Soal masalah spasi, nanti biar Kapten Kucing tanggung jawab.

      Soal judul, sori, itu salahkan aku juga karena enggak kepikiran ama judul lain.

      Soal istilah perisal, aku juga enggak bener-bener tau. ^^

      Soal mampir, IA, akan aku sempatkan ke sana juga. Aku pengen perjalanan FF tahun ini bisa ikut kutamatin juga. XD

  17. Hai Bang Alfaree

    Akhirnya bertandang kemari. Ingin bertanya soal pemancaran radio televisi, tapi kemudian sudah ada yang menanyakan tentang itu sebelumnya di atas. Pemakaian kata ‘masygul’ membuat saya bingung dan meng-googling, lalu ketemu jawabannya. Kata perisal, kataklisma pun saya googling, tapi tidak ketemu jawabannya, lalu saya sadar itu adalah istilah cerita sendiri, kemudian lanjut membaca. Kalau ada cara untuk meminimalisasi istilah-istilah ini, rasanya bakal lebih lancar bacanya.

    Yang saya ingin komentari adalah soal setting. Sepertinya digambarkan dunia pasca kataklisma ini adalah dunia yang hijau, dengan manusia yang jauh lebih sedikit. Tapi entah kenapa saya sulit membayangkannya, karena tampaknya kehidupannya masih terasa metropolitan, dengan sistem pendidikan yang mirip, bahkan dengan gaya hidup yang hampir sama (televisi?).

    Selain itu, rasanya inti ceritanya cukup lugas dan tersampaikan.
    fighting! :)

  18. negeri tak pernah-48 says:

    Wah…. Memang sih rasanya cerita ini datar. Memang plotnya ga jelas ke arah mana. Memang fokusnya masih belum ada.

    Tapi, tapi, tapi, aku suka cerita ini T.T

    Kenapa, ya, aku bisa baca dengan tenang dan hidup dalam dunia ‘post-Kataklisma’ ini lewat si Beruang. Sip deh :D

  19. Mr A says:

    Mungkin sebaiknya aku mengawali ini semua dengan permintaan maaf.

    Aku rasa ini ceritanya belum selesai, atau mungkin memang sengaja tidak selesai, atau tidak terselesaikan?

    Terus cerita ini juga kurang bisa membangun emosi. Ada terlalu banyak penjelasan tapi menurutku gak terlalu fokus dan penting untuk ceritanya sendiri.

    Besides that, I love the concept.. about eter, perisal, etc…

    Gudlak kaka Alfare ;)

  20. Hai, Bos Beruang. Entah karena apa, mendadak aku ingat kalau aku belum mampir ke lapakmu dan merasa harus mampir sekarang juga. (Dan oh, aku makai akun asliku buat komentar ini. :p )

    Aku nggak yakin aku bisa komen apa, tapi kupikir ini agak datar aja sih. Apa ini spin-off dari salah satu proyekmu lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>