Dunia Dalam Dunia

DUNIA DALAM DUNIA

-Pasukan imunous vs pasukan virulo dan bakterivia-

karya Nahlani Fauzan

Kapan aku bisa bahagia?

Kapan aku bisa dianggap?

Kapan aku bisa tertawa?

Kenapa hanya sedih, kecewa, dan tangis yang kuterima?

Lelah.

Aku lelah dengan semua ini.

Ya, aku ingin berhenti.

— @@@ —

Tek…tek…tek…. Seperti suara jam yang terus berputar. Keheningan yang kurasakan di kamarku, rasanya begitu mencekam. Rasanya aku ingin berlari. Berlari pada suatu tempat yang aku sukai. Tanpa ada yang membuatku menangis lagi. Tempat yang indah dan penuh senyuman. Tapi, hal tersebut belum bisa kurasakan. Hanya ngilu disetiap sendi yang kurasakan. Entahlah, kemarin setelah aku melihat sebuah mobil mengarah kepadaku dan menghantam tubuhku, aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Mungkin sekarang, ibuku sedang menangis di samping ranjangku atau malah masih pergi berbisnis ke luar negeri. Lantas, ayahku mungkin juga demikian adanya. Hemmm, hanya mbok yem mungkin yang akan setia berada di sampingku sampai bunyi jarum jam ini tak mampu ku dengar lagi.

— @@@ —

“Kita putus”, kata pacarku.

“Apa kita putus?” tanyaku pada pacarku. “Seenaknya saja kamu berbicara seperti itu kepadaku, memang kamu anggap aku ini apa?”, tanyaku kemudian.

Dia hanya terdiam. Memandang bumi tanpa henti. Sehingga aku tak tahu ekspresi wajah yang seperti apa yang dia tunjukkan. Tak sanggup menatapku lagi. Mungkin.

Dia hanya berkata dua kata saja yang membentuk kalimat tak sempurna dan mungkin ambigu. Tapi bagiku kata-kata itu jelas. Sejelas mentari di siang hari. Sejelas itu pula ketika kata-kata itu direspon oleh reseptor kemudian diteruskan ke saraf sensorik, dilanjutkan ke otak. Dengan cepat informasi itu diproses oleh otak, kemudian diteruskan ke saraf motorik dan langsung ditanggapi oleh efektor secara tepat dan cepat.

Sungguh, hati ini tak terima. Meskipun sampai sekarang aku tak tahu secara tepat di mana hati itu, tapi hati begitu mempengaruhi jiwaku saat ini. Sedih, tak terima. Sebenarnya bukan sedih atau tak terima yang mendominasi otakku, tapi ketakutan. Ketakutan akan kehilangan sosok yang selalu disampingku. Sosok yang selalu memberiku semangat. Sosok yang mau mendengarkan cerita-ceritaku. Lantas setelah ini siapa?. Satu kata. Egois. Itu mungkin sekarang yang ada pada diriku.

Belum sempat aku bertanya apa alasan dia berkata demikian, peristiwa itu terjadi. Ketika aku berlari darinya. Menjauh, sejauh-jauhnya. Dan  gelap. Hanya kegelapan yang nampak, kemudian berganti dengan warna putih. Putih seputih-putihnya hingga menyilaukan mataku. Saat itulah seakan aku melihat diriku yang terbaring di sebuah ruangan dengan alat-alat medis yang ada. Disana, tak ada siapapun kecuali setangkai bunga mawar putih yang menghiasi meja pasien dan beberapa buah apel yang merah ranum tertata rapi dalam wadah.

— @@@ —

Putus asa.

Haus akan cinta.

Bila aku boleh meminta, aku ingin pergi ke suatu daerah. Apapun dan dimanapun itu.

— @@@ —

Setelah kupanjatkan doa itu. Rasanya jiwaku tersedot dalam pusaran air yang begitu kuat. Terperosok dalam-dalam dan kemudian aku terjatuh diatas sebuah benda yang sangat empuk. Aku melihat dunia, dunia yang begitu dinamis. Tapi dunia apakah ini?, apakah benar aku sudah mati?, apakah doaku terkabul?. Pertanyaan demi pertanyaan singgah memenuhi otakku. Ooh tidak, kenapa aku berubah seperti ini? Kenapa otakku begitu kecil. Wuaaaahhhh, Aku bukanlah aku, aku berwujud seperti bukan manusia, tapi apa? “Tidaaaakkkk, hentikan semua ini.” teriakku. Tapi ternyata setelah teriakanku itu aku tetap berada dalam dunia ini, teriakanku tak bisa membuatku kembali dalam duniaku yang sesungguhnya. “Oooohhhh, aku harus bagaimana?”, tanyaku memelas.

“Kalau berhenti di sini, bukan Aku namanya. Baiklah aku akan menanyakan kepada penduduk dunia ini, sebenarnya aku ini dimana, dan bagaimana caranya aku bisa kembali pada duniaku”, kataku dalam hati.

— @@@ —

Di dunia ini aku melihat suatu sistem yang bekerja begitu hebat. Ada alat penyaring raksasa yang menyaring benda-benda sebegitu telitinya hingga tersisa benda-benda yang besar saja. Ada banyak terowongan yang bercabang-cabang, yang membawa cairan berwarna merah menuju semua bagian dalam sistem ini. Ada alat yang mirip sarang lebah, berlubang-lubang penuh saringan, nampak di sana banyak angin yang berlalu lalang. Ada banyak benda mirip bantal yang berjajar dengan sangat rapi dan teratur. Ada pula benda yang berliku-liku lebih besar daripada terowongan yang aku lihat tadi. Tempat lewatnya benda-benda mirip bubur yang berjalan dinamis seperti sebuah mesin pencetak makanan.

Aduh, aku jadi pusing. Sebenarnya dunia apakah ini. Kebingunganku belum selesai, sampai tiba-tiba ada sesosok makhluk mirip bantal menggandeng tanganku dan menyuruhku bersembunyi. Ssssettttt!!!, diam, ada bahaya”, katanya lirih. Dalam kebingunganku akhirnya aku hanya bisa diam. Menunggu agar apa yang dikatakannya bahaya berlalu hingga aku bisa mengintrogasinya dengan aman dan tenang.

Hei, sebenarnya kamu ini siapa?, Kenapa kamu berkata pelan sekali?, Kenapa aku harus bersembunyi?, Terus sebenarnya dunia apa ini?, tanyaku tanpa henti.

“STOP”, katanya sambil berkacak pinggang. “Kamu ini penduduk sini kan!. Dilihat dari penampilanmu menggambarkan seperti itu, tapi mengapa kamu tak tahu mengapa kita harus bersembunyi?, Apa kamu penduduk baru?, tanyanya balik. “Woooiiii, aku ini bertanya kepadamu, mengapa kamu bertanya balik kepadaku. Aku ya tak tahu jawabannya-lah”, kataku berterus terang. Haduh, sudahlah mungkin kamu masih baru di sini, okey, aku ceritakan apa yang terjadi di sini, oh ya namaku makrofag-5 yang bertugas untuk menjaga dunia ini dari serangan benda-benda asing.

“Dunia ini terdiri dari beberapa sistem yang saling bekerjasama, yaitu cyrculatorivia, digestivia, endocrinivia, immunivia, integumenavia, musculoskeletalivia, nervousivia, reproduktivia, dan urinarivia. Semuanya saling bekerjasama dalam satu kesatuan tapi memiliki fungsi yang berbeda-beda. Sekarang kita berada dalam sistem immunivia. Lihatlah disini ada banyak selo-selo yang terlihat sama namun memiliki fungsi yang berbeda-beda”, jelasnya panjang lebar.

Rasa penasaranku tak kunjung habis. Rasanya aku melihat suatu pemandangan yang begitu teratur, sistematis, seperti ada suatu komando yang membuat mereka bekerja tanpa henti dengan fungsinya masing-masing. Kemudian aku bertanya pada makrofag-5, “Mengapa para selo bisa menjalankan fungsi yang berbeda-beda?”. “Ehmmm, pertanyaan yang bagus. Begini ceritanya, sebenarnya aku sendiri belum mengerti bagaimana proses ini terjadi namun pada suatu waktu dalam proses pembelahan selo yaitu pada selo evumo yang telah dibuahi oleh selo spermativo, para selo termasuk aku membentuk suatu perjanjian dalam suatu forum besar yang dihadiri oleh para selo yang ada untuk menentukan pembagian kerja diantara kami. Sehingga, para selo pun mematuhi aturan ini dengan setia.

Wow, keren, bararti para selo tak pernah bekerja diluar kemampuan dan tugas mereka ya?”, tanyaku lagi. “Ya kamu benar, meski kami sadari kami berbeda, namun kami, para selo percaya bahwa setiap diri kami memiliki manfaat masing-masing. Sehingga kami berpegang teguh bahwa setiap diri kami tak ada yang sia-sia. Oleh karena itulah, kami selalu bekerjasama dan saling membantu di kala ada selo-selo yang membutuhkan bantuan”jelasnya lagi. “Hah, iya kah?, kalau begitu ceritanya mengapa tadi kita harus bersembunyi dari bahaya?. Apa ada selo yang membelot?”, tanyaku lagi.

“Kau pintar selo kecil. Kita bersembunyi dari bahaya yang mengancam dunia ini. Bila sistem immunivia tak berhasil menjalankan tugasnya maka dunia diambang kehancuran. Semua sistem akan terkontaminasi dan akhirnya kehilangan kemampuan kerja mereka, lambat laun semua sistem akan padam, dan saat itulah dunia ini akan berakhir”, katanya dengan wajah yang sedih.

“Hey, makrofag-5, lantas mengapa ada selo yang membelot hingga menimbulkan ketidakharmonisan dalam sistem ini?, tanyaku lagi. Sungguh aku sangat penasaran dengan hal ini.

Melanjutkan ceritanya kembali, fagosite mulai dirundung duka. Wajahnya terlihat kelabu dengan mata yang hampir meneteskan air mata. Selo yang sekarang jahat adalah sahabatku sendiri. Dulu dia sama sepertiku menjadi bagian dari sistem ini, bekerja bersama-sama dengan baik. Namun setelah suatu kejadian di luar kehendak dan pengetahuan seluruh sistem dalam dunia ini, ada bagian dunia ini yang terluka, terbuka menganga, hingga pasukan virulo dan bakterivia dengan seenaknya memasuki dan menjajah dunia kami. Sampai akhirnya telah menduduki sebagian dari sistem di dunia ini.

Kami sebagai sistem yang bertugas menjaga pertahanan dunia ini terancam karena ada sebagian dari kami yang telah teracuni dengan pasukan invader tersebut. Mereka, para invader memasukkan suatu bahan yang membuat blue print kami berubah, hal itu membuat kami bekerja dengan tak sewajarnya kami lakukan. Para selo yang terkontaminasi mengalami pembelahan yang tak terkendali. Mereka tumbuh menjadi mutan yang ganas dan sering menyerang kami.

Oleh karena itulah, pusat kendali yang berada di bagian atas di dunia ini, memerintahkan kami untuk segera siaga. Mengatur strategi, merapatkan barisan, dan berperang menghancurkan para invader tersebut. Hanya kedamaian yang kami rindukan. Bukan perang saudara seperti ini. Sebenarnya kami tak tega membunuh dan menghancurkan teman-teman kami sendiri, para selo yang terkontaminasi. Tapi tak ada yang bisa kami perbuat, kami harus melindungi dunia ini. Dan itulah tugas kami, sesuai dengan perjanjian yang telah kami buat sejak awal hidup kami.

“Hey, sudahlah, kita sudah terlalu lama di sini. Kita harus segera pergi. Karena terkadang setiap selo yang ada di sini tidak seperti selo-selo yang dulu saat belum ada pasukan penjajah datang. Mereka seperti musuh dalam selimut. Ayo, bergegaslah”, kata makrofag-5 mengakhiri ceritanya.

— @@@ —

Aku dibawa makrofag-5  ke suatu tempat dengan hamparan yang luas. Banyak bendera dan alat-alat perang tertata rapi disepanjang tenda-tenda. Begitu pula dengan pesawat-pesawat tempur dan tank-tank. Tak kalah rapinya para pasukan juga bersiaga dengan segala perlengkapannya bersiap menunggu instruksi perang yang akan segera digencarkan.

Menurut cerita makrofag-5, para pasukan di jaringan limfoid porifer yang bertugas menjaga jalan masuk utama invader ke dalam dunia ini sudah kalah. Daerah-daerah pertahanan yang penting sudah dikuasai oleh para invader, seperti daerah tenggoroku yang berbentuk tonsil dan adenoid. Padahal daerah ini bertugas menangkap invader dari udara. Saluran digestivia juga demikian adanya, pasukan invader telah berhasil masuk dan menjajah daerah tersebut. Begitu pula daerah ketiovia dan lipat pahivia. Semua daerah pertahanan eksternal telah dikalahkan. Sekarang komandan memerintahkan pasukan imunous untuk bersiaga menangkis serangan invader, begitu penjelasannya.

Setelah penjelasannya berakhir, makrofag-5  memerintahkanku untuk pergi meminta bantuan kepada selo-selo yang masih tertidur. Cirinya selo tersebut memiliki genos-genos yang yang berkilau di dalamnya namun belum bisa berfungsi. Aku disuruh untuk mengaktifkannya kembali.

“Cepat pergi!, tak ada waktu lagi”, teriaknya. “Pergilah ke arah dimana kamu bisa merasa tenang dan bahagia, cepat pergi!”, dia terus berteriak dan segera menyuruhku pergi. Dalam kebingunganku dan kekalutan sistem di sini, sungguh aku belum paham atas semua ini. Aku hanya tahu aku disuruh untuk mengaktifkan para selo yang memiliki genos yang bercahaya di dalamnya. Baiklah, aku akan pergi.

Beberapa detik kemudian, benar apa yang dikatakan oleh makrofag-5. Para invader yang dikomandani virulo dan bakterivia telah terlebih dahulu menabuh genderang perang. Mereka berlari, menyerang pasukan-pasukan imunous tanpa ampun. Aku melihat para pasukan imunous mengendarai pesawat tempur dan tank-tank mereka menembakkan peluru-peluru yang dapat menetralkan racun mereka hingga mereka tak berkutik kembali. Para makrofag termasuk makrofag-5 sahabatku, juga dengan sigap memakan para invader. Mengunyahnya dengan lahap. Namun, para invader jumlahnya terlalu banyak, mungkin karena para invader telah berproliferasi hingga jumlah mereka menjadi banyak. Akhirnya bala tentara bantuan sel B dan sel T datang. Mereka bekerja saling membantu menghadang para invader.

Cukup, aku juga ingin berkontribusi dalam agenda besar ini. Rasanya baru sekarang aku dipercaya untuk melakukan suatu tugas yang penting. Aku harus segera pergi menjalankan amanah dari makrofag-5.

— @@@ —

Deru, suara tembak-tembakkan masih terdengar hebat, suara pedang masih berdesing di telinga. Berarti aku belum jauh dari tempat tadi, aku harus segera berlari. Segera menemukan tempat itu. Suatu tempat yang membuatku bahagia. Tapi dimana, aku melihat daerah di sini terlihat sama dan tak ada yang istimewa. Aku harus bagaimana?, Bagaimana menemukan tempat itu?, tanyaku pada diriku sendiri. Dalam peluh yang menjadi-jadi dan terengah-engah, aku kembali tersedot dalam sebuah lingkaran berwarna hitam, layaknya medan magnit yang berkekuatan besar.

— @@@ —

“Dokter…dokter….Non Zia dokter, Non Zia… Kenapa badannya berguncang-guncang Dokter?, Suster tolong segera panggilkan Dokter”, teriak mbok yem panik. Aku melihat tubuhku diguncang-guncangkan dengan suatu alat yang tak kuketahui itu apa. Dengan kelihaiannya, aku melihat dokter itu berkata sesuatu pada mbok yem. “Kami pasrah Bu, kami tak bisa berbuat apa-apa. Bila satu jam mendatang, tak ada respon lagi, maka pasien dinyatakan meninggal dunia”, kata Dokter lirih. Kemudian Dokter tersebut keluar dari ruanganku, diiringi oleh para Suster.

“Tidak…tidak…aku tak mau mati sekarang…. aku ingin sembuh, aku ingin kembali di dunia ini, dunia manusia, meski berat yang akan ku hadapi nanti. Tapi aku belum menghasilkan suatu karya apapun, belum bermanfaat bagi siapapun. Bagi diriku sendiri saja belum. Tidaaaakkkkkk” teriakku tersengal-sengal. Aku ingin bicara, tapi tak seorang pun mampu melihatku.

Aku melihat mbok yem hanya bisa pasrah dan menangis. Begitu pula seseorang disampingnya. Aku merasa aku mengenalinya, tapi siapa dia. Rasanya meski mengenalnya, aku ingin melupakannya. “Siapa dia?”, tanyaku sendiri.

Dia berkata, “Zia, ketika tiba saat kita meninggal, tak akan yang mampu memundurkan atau memajukan waktunya, meski sedetikpun. Zia, kau belum bertanya mengapa aku memutuskan kisah kita. Jawabannya adalah karena aku ingin kamu bahagia, dan aku pun juga. Kamu selalu berkata aku yang membuatmu bahagia, kau salah zia. Dirimu sendirilah yang membuatmu bahagia bukan aku. Karena hidup adalah pilihan. Tinggal apa yang akan kau pilih, sedih atau bahagia, berpikir positif atau negatif, tersenyum atau menangis, kalah atau menang. Zia, aku tak tahu rasa apa ini. Dulu aku mencintaimu, tapi cintaku terasa hampa dan tak bermakna. Apa karena kasihan atau seperti apa, aku tak mengetahuinya. Percayalah zi, semuanya akan indah pada waktunya. Izinkanlah aku kembali pada jalan yang sebenarnya. Aku percaya kamu dapat bahagia di mana pun dan kapan pun itu. Bila kau mau”. Setelah itu dia pergi dari ruangan ini, meninggalkan mbok yem, dan aku yang terbaring di ranjang.

Ingatanku belum pulih, aku masih belum mengenalinya. Tapi kata-katanya mengapa membuatku begitu sakit, sakit sejadi-jadinya. Aku ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar lagi. Sepertinya sudah kering, hingga setetes pun tak ada yang mengalir.

— @@@ —

“Wuuuuuaaaahhhh, tidaaaakkkk”, teriakku kembali. Aku  kembali tersedot dalam lubang hitam yang membawaku ke dalam dunia bukan manusia. Aku ingat daerah ini, dan aku kembali teringat dengan amanah yang harus aku lakukan. Aku segera berlari kembali mencari sebuah daerah yang membahagiakan. Tapi sudah jauh aku melangkah, mengapa belum juga aku temukan daerah itu. “Pasti makrofag-5 dan teman-temannya membutuhkan bantuan. Aku harus segera menemukan genos-genos yang tertidur itu”, kataku lagi.

Lagi-lagi aku dirundung keputusasaan yang begitu menyiksa. Rasanya otakku berputar-putar, melayang. Pusing aku dibuatnya. Namun tiba-tiba ingatan tentang kata-kata yang baru saja aku dengar dari dunia manusia, membuatku memiliki ide cemerlang. Bila kebahagiaan dapat diperoleh dimanapun dan kapanpun, berarti dapat disimpulkan aku bisa menemukannya disini. Ya disini. “Tapi bagaimana caranya?”, tanyaku.

Kemudian aku memejamkan mataku, membayangkan kehidupanku di dunia manusia. Begitu tersiksa rasanya hingga kebahagiaan tak terasa di sana, tapi ternyata aku lupa bersyukur. Bersyukur atas semua yang aku miliki, atas anugerah yang aku terima. Dan akhirnya, aku memilih untuk bersyukur, aku memilih untuk tersenyum dan aku memilih untuk bahagia tanpa tahu alasan apa yang membuatku bahagia.

Tiba-tiba saja hatiku terasa tenang, seperti anak kecil yang di nina bobokkan oleh ibunya. Setelah kubuka mata, kulihat begitu banyak sinar di sekelilingku. Berjuta-juta, bahkan mungkin bertrilyun-trilyun semburat cahaya itu. “Ya, itu adalah cahaya yang aku cari”, kataku girang. Para selo dengan genos-genos yang tertidur.

“Bangunlah para genos-genos yang tertidur. Aku ingin hidupku bahagia. Aku akan menjalani setiap hari semaksimal mungkin dengan bersikap positif dan penuh optimistis”, kataku kemudian. Entahlah kata-kata itu mengalir begitu saja, hingga terucap tanpa kendali saraf sepertinya.

Genos-genos itu pun bercahaya, dan mulai bekerja menghasilkan protenos-protenos kebahagiaan yang dikirim sebagai bala bantuan untuk menghadapi pasukan invader. Kemudian para protenos terbang, layaknya kapas yang dihempas angin, terbang melayang dengan cepat. Aku pun naik di salah satu protenos memimpin pasukan kebahagiaan menuju laga pertempuran.

Sesampainya disana, para pasukan imunous sudah banyak yang tewas, tinggal beberapa saja yang masih bertahan. Akhirnya aku memerintahkan mereka untuk bekerja menghasilkan peluru-peluru kebahagiaan yang mampu meluluh lantakkan pasukan invader. Dor….dor…dor… begitu banyak tembakan yang harus dikeluarkan karena memang pasukan invader begitu banyak. Hingga akhirnya pasukan invader benar-benar kalah. Habis tak tersisa. Dan kemenangan telak ada di pihak kami para pasukan imunous.

— @@@ —

Sorak sorai kemenangan menggema diseluruh sistem, karena telah berhasil mengalahkan para invader yang dipimpin oleh virulo dan bakterivia. Mereka kembali pada posisi masing-masing berbenah kembali dan menjalankan tugas dan fungsinya lagi. Ada kelegaan di hati. “Tapi dimanakah makrofag-5, sahabatku?’tanyaku. Di sela-sela puing reruntuhan pesawat aku melihat dia terluka begitu parah, aku pun mendekatinya. Dia hanya berkata lirih, “Aku harus pergi, karena waktuku telah habis. Tapi tenang saja akan ada yang menggantikanku dan teman-teman yang telah tiada. Mereka juga akan berbuat sepertiku dan mematuhi peraturan yang ada. Berjanjilah selo kecil, kau akan terus bahagia, mengaktifkan semua genos-genos yang tertidur, berjanjilah”. Dia memandangku seperti mengiba, kemudian dia berkata lagi, “kaulah raja dalam hidupmu”. “Ya, aku berjanji akan bahagia, aku akan berbuat banyak kebaikan dan menjadi makhluk yang berguna”, kataku dengan bercucuran air mata. Air mata yang mengalir begitu saja. Akhirnya dia tersenyum, dan memejamkan mata.

— @@@ —

Tek…tek…tek… Akhirnya aku kembali pada duniaku setelah itu. Aku bisa kembali mendengar suara jam, bisa melihat mbok yem di sampingku. Kata mbok yem, aku hampir saja meninggal. Namun, sungguh ajaib, aku masih bisa hidup sampai detik ini. Rasanya, kemarin aku telah berpetualang dalam diriku sendiri. Ikut berperang mengalahkan musuh-musuh dalam tubuhku.

Ya, sekarang aku sadar bahwa hidup ini adalah anugrah yang harus aku syukuri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tak usah menunggu kebahagiaan, tak ada lagi kata kecewa, sedih dalam kamusku. Karena aku adalah raja atas diriku sendiri. Aku berkenan untuk memilih hidupku, menyikapi hidup lebih bermakna lagi. Untuk pertama kalinya, aku merasakan kehangatan dan ketenangan. Hanya dengan sebuah senyuman yang aku lontarkan kepada mbok yem. Akhirnya aku memilih untuk bersyukur, berpikir positif dan berbahagia.

— @@@ —

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dunia Dalam Dunia

  1. xeno says:

    Halo, Nahlani Fauzan.

    Aww… Perjuangan setiap kehidupan terkecil dan semangat untuk bahagia. So sweet.
    Agak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan si tokoh utama. Dia mengalami kecelakaan atau terkena infeksi virus/bakteri? Lalu bagaimana bisa dia melihat tubuhnya sendiri itu apakah bagian dari NDE atau mimpi? Ah, tapi metafora kerja sel-sel dan organnya cukup menarik. :)

    Itu aja dulu. Tetap semangat! :)

  2. ERNA says:

    wassalamualaikum…nuhun sanget atas komentarnya,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>