Efek Domino

EFEK DOMINO

karya Tiga Telur

 

Breaking News kali ini, sebuah kecelakaan telah terjadi di pusat kota Jakarta. Kecelakaan beruntun ini menewaskan semua penumpang yang berada dalam kelima mobil tersebut. Namun seorang gadis berhasil bertahan hidup dan mengalami luka parah. Ia telah dilarikan secepatnya ke rumah sakit terdekat.

***

“Aku ingin minta tolong padamu.”

Aku menatap gadis itu seraya bertanya, “Apa?”

“Dengan kemampuanmu, tolong cegah kecelakaan yang akan terjadi di jalan ini dalam jangka waktu sepuluh menit dari sekarang.”

Dan gadis itu pun menghilang.

***

Breaking News kali ini, sebuah kecelakaan telah terjadi di pusat kota Jakarta. Kecelakaan ini menyebabkan kerusakan pada lima mobil. Semua penumpang selamat, namun seorang pejalan kaki tertabrak dan saat ini sedang dibawa menuju rumah sakit terdekat.

***

Langit terbentang hitam, tetes-tetes air perlahan turun dari langit. Pada mulanya hanyalah rintik dan dalam hitungan detik berubah menjadi deras.

Aku terengah di sudut kota, mengamati dari celah lorong antar bangunan ke arah jalanan kota yang dipenuhi oleh kereta kuda dan beberapa kendaraan uap yang tersendat. Jalanan ramai dipenuhi oleh warga yang mulai memakai jas hujan dan payung mereka.

Sirine merah dari polisi berdengung nyaring menyelimuti seluruh kota. Menurut kabar, permata kembar dari museum kota dan residen keluarga kaya Mryiam telah dicuri.

Aku menutup tudung jaketku, menatap ke atas langit, hujan membasahi wajahku. Tanganku makin erat memegang benda di tanganku, salah satu dari permata kembar tersebut. Sementara kembarannya berada pada saku terdalam jaketku. Sirine polisi dan teriakan-teriakan nyaring terdengar, teriakan untuk waspada terhadap diriku, sang pencuri permata. Awan hitam bergulung menyelimuti kota ini, sepertinya awan itu takkan pergi kemana pun dan begitu pula diriku bila aku tak segera bertindak.

Di lorong di seberang jalan, ada sebuah saluran air bawah tanah. Aku hanya perlu menyeberangi hiruk-pikuk lautan manusia dan kendaraan, dan sampailah diriku ke sana. Sayangnya, saat ini kendaraan didominasi oleh kuda para polisi dan kendaraan uap mereka.

Jadi, aku melakukan apa yang harus kulakukan.

Berjalan pelan keluar dari lorong, aku dengan santai membaur diantara kerumunan orang-orang. Ini adalah keahlianku, menjadi tak terlihat.

Aku menatap sekilas ke arah para polisi yang berkerumun di sekitar kendaraan uap mereka. Aku memfokuskan pikiranku dan mengayunkan tanganku seolah akan meremas kendaraan tersebut. Dalam sekejap, uap-uap muncul dari kendaraan tersebut, sudut-sudut bagiannya mulai penyok sedikit demi sedikit. Detik berikutnya, bunyi kencang memekakan telinga terdengar. Serpihan-serpihan sisa kendaraan tersbeut terlontar. Bau karet terbakar dan kayu terbakar dapat tercium. Kabut asap hitam melingkupi jalanan. Api besar segera berkobar, namun dalam hitungan detik api tersebut segera mengecil oleh karena derasnya hujan.

Namun, yang kuincar bukanlah api tersebut. Inilah yang kuincar.

Para warga mulai berteriak ketakutan, mereka berlari tak terarah dalam suasana padat ini, berusaha menghidari pusat ledakan. Kumpulan warga yang tadinya berjalan dengan teratur kini berlarian ke sana kemari dengan kacau, menghaburi jalanan. Beberapa kuda meringkik dan mengangkat kaki depan mereka. Asap hitam jelas menganggu hewan mamalia tersebut. Para polisi yang duduk di atasnya terjatuh, kuda-kuda berlari menuju kerumunan pejalan kaki, membuat kekacauan makin menjadi.

Ini adalah keahlian terbaikku, membuat kekacauan.

Mengambil kesempatan dalam kekacauan ini, aku berlari menyeberang jalan, membuka tutup saluran bawah air dan segera melompat masuk ke dalamnya sebelum asap hitam tersebut hilang. Dari bawah, aku menutup saluran air dan berlari menjauh dari keributan yang telah kubuat.

***

“Mau dengar cerita seram?”

Aku menggelengkan kepalaku dan menjatuhkan diriku ke atas sofa. Rasanya lelah sekali, setelah dua jam lebih menelusuri saluran bawah tanah tanpa penerangan. Aku ingin tidur yang cukup.

“Jadi, waktu dunia kiamat–”

Sayangnya Gwen sama sekali tak berniat untuk menutup mulutnya hari ini.

“—ada seorang manusia yang berhasil hidup. Ia adalah manusia terakhir di dunia. Saat ia sedang berada di suatu ruangan, ada yang mengetuk pintu!”

“Terus?”

“Udah, itu aja, serem kan!”

Aku mendesah.

“Jadi, Ray, nanti malam kau ada tugas?” tanya Gwen santai. Ia sedang sibuk memainkan benda yang ada di tangannya, permata kembar.

“Apa? Ada lagi yang mau kau incar?”

“Nggak. Cuma minta ditemenin ketemu klien,” ucapnya santai.

“Hah? Tumben. Kenapa?”

“Soalnya klien kali ini menarik, aku butuh bantuanmu,” ucapnya sambil nyengir.

Bila Gwen meminta bantuanku, maka hanya ada satu jawaban.

***

Malam itu, langit berawan, cahaya bulan tak dapat terlihat. Keluar dari pintu belakang pabrik, aku bersandar di tembok.

Asap hitam masih mengepul keluar dari cerobong asap, tanda bahwa para pekerja  seharusnya masih bekerja. Begitu pula diriku, seharusnya aku masih bekerja. Namun aku meminta izin untuk pulang lebih awal demi menunggu seseorang.

Menunggu Gwen.

Sejak bertemu dengannya setahun yang lalu, ia mengajakku dalam bisnis ini.

Kriminalitas.

Yah, Gwen lebih suka menyebutnya sebagai pelayanan terhadap orang-orang yang ingin membeli barang berharga dengan harga mahal.

Walau, tetap saja itu tindak kriminalitas.

Dan bodohnya diriku ikut dalam permasalahan ini.

Satu-satunya alasan mengapa aku ikut dalam tindakan bodoh ini adalah karena harga diriku.

Dulu setahun yang lalu, ia menyelamatkanku dari keroyokan para preman di jalan.

Sebagai seorang lelaki tulen, melihat dirimu dipukuli sampai habis dan ditolong oleh seorang wanita yang berumur lebih muda darimu sungguhlah memalukan.

Jadi, aku menyanggupi permintaannya untuk membantunya dalam pelayanan yang ia lakukan.

Tak mungkin kan aku menolaknya? Pria macam apa aku ini bila aku menolak permintaan dari orang yang telah menyelamatkan hidupku?

Sayangnya saat itu aku tak tahu bahwa pelayanan yang ia maksud berhubungan dengan mencuri permata kembar.

Aku menguap

Ah, sial. Baru lima belas menit menunggu, aku sudah mengantuk. Apakah aku benar-benar kelelahan?

Aku mengubah posisiku dari berdiri menjadi duduk dan bersandar pada tembok.

***

Aku melihat Gwen, ia menangis di hadapanku.

Mengapa ia menangis?

Kusadari tubuhku terbaring di tengah jalan, jalanan penuh dengan kendaraan aneh. Kami dikerumuni oleh orang banyak.

Aku ingin bergerak namun tak bisa, kurasakan tubuhku begitu berat dan rasa sakit menusuk sekujur tubuhku.

Darah mengalir menutupi pandanganku dan segalanya berubah menjadi gelap.

“Ray! Bangunlah Ray!”

Aku membuka mataku. Oh, itu hanyalah mimpi, mimpi yang aneh.

Tunggu sebentar? Apakah tadi aku baru saja tertidur? Argh, bodoh sekali aku membiarkan diriku terlelap tanpa perlindungan. Bagaimana bila ada orang yang merampas isi dompetku?

“Heh, janagn bengong. Ayo berdiri! Pakai acara tidur segala lagi!”

“Kau sendiri yang lama,” ujarku pada Gwen sambil berdiri, “Jadi, kau butuh bantuanku untuk apa?”

“Lebih baik, kita pergi dahulu ke tempatnya.”

Kami menyusuri jalan setapak di belakang pabrik, keluar dari area pabrik mengarah ke jalanan utama kota.

Malam ini, jalanan cukup sepi. Namun, jika melihat lebih seksama, seorang atau dua orang polisi sedang berjaga di sudut kota. Pastilah bentuk pencegahan supaya tak ada pencurian yang kembali terjadi seperti siang tadi.

“Di sini.”

Aku mengalihkan pandanganku pada gedung di depanku.

Markas besar polisi.

Dalam sekejap, para polisi mengitari diriku dan Gwen.

Aku mengangkat tanganku tanda untuk menyerah.

Aku merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam kantongku. AKu melirik ke samping, tangan Gwen. Gerakan kecil tersebut cukup pelan untuk kusadari. Namun terlalu cepat bagi para polisi untuk menyadari gerakan tersebut. Gwen meninggalkanku dan bergabung dengan seorang polisi berbadan besar. Ada lambang tiga bintang pada sisi kanan lengan bajunya, menandakan bahwa ia seorang kapten.

“Jadi, diakah pencurinya?”

“Ya.”

“Darimana aku tahu kau tak berbohong?”

“Periksa saja kantong jaketnya.”

Sang kapten melangkah ke arahku, menatap wajahku sejenak dan merogoh kantong kananku. Saat ia mnegeluarkan tangannya dari katongku, permata kembar itu ada pada tangannya. Namun, hanya satu.

“Mana yang satunya!?” sang kapten membalikkan badannya, meminta jawaban pada Gwen.

Namun, ia tak menyangka akan disambut oleh moncong sebuah pistol. Aku memperhatikannya sedari tadi, tangan Gwen yang meraih pistol tersebut dari ikat pinggang sang kapten. Lalu ia mengarahkannya pada kapten selagi semua pandangan polisi menuju pada arahku.

Sebuah hari yang sial untuk sang kapten.

Namun, bagiku ini adalah sebuah keberuntungan.

Tanpa basa-basi, Gwen segera mengarahkan pistol ke atas dan menarik pelatuknya.

Bunyinya memekakkan telinga, membuat para polisi terkejut dengan perubahan alur cerita ini.

“Lari, Ray!”

Bodoh, tanpa disuruh pun aku akan segera melakukannya.

Aku segera menyambar permata yang berada pada tangan si kapten dan berlari menyusul Gwen yang masuk ke dalam gedung polisi. Segera sesudah aku berada dalam gedung, aku menutup pintu di belakangku.

Para polisi yang telah pulih dari keterkejutan mereka segera mendobrak pintu tersebut.

Namun aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Mataku memandang ke sekelilingku, berharap menemukan sesuatu untuk mengganjal pintu ini.

Aku menemukan sebuah mesin tik. Kufokuskan mataku ke arah mesin tersebut, kuremukkan mesin itu, ia berubah menjadi besi cair. Dengan  cepat kugerakkan tanganku ke arah pintu, besi tersebut meninggalkan noda panas pada celah-celah pintu. Kukepalkan tanganku dan mnegeraskan besi tersebut. Dengan ini, para polisi tak bisa masuk.

Sayangnya, mereka memecahkan jendela pintu.

“Ray! Cepatlah!” Gwen berteriak dari arah tangga.

“Heh! Untuk seseorang yang mau menjebakku, kau masih berani saja memerintahku.” Ucapku kesal, namun, tetap saja aku berlari ke arahnya, mengikuti ia dari belakang.

“Kau tahu aku tak akan pernah melakukan hal tersebut,” Gwen tersenyum.

Kami berlari menaiki tangga menuju lantai ketiga, menuju ke ujung lorong dimana terdapat sebuah pintu hitam yang tampaknya terkunci.

Gwen memecahkan lubang kunci pintu dengan pistol. Segera pintu terbuka. Di hadapanku tergeletak sebuah mesin tua tak terawat, dengan monitornya yang berdebu dan tombol-tombol aneh.

“Dulu, seorang ilmuwan gila diawasi oleh polisi di tempat ini.”

Aku menaikkan alisku pada pernyataan Gwen tersebut. “Kenapa bukan di laboratorium?”

“Karena ilmuwan tersebut pernah mencelakakan asistennya dan membunuh beberapa orang yang sedang berada di laboratoriumnya. Sayangnya, pemerintah tak menginginkan ia dipenjara, karena penemuannya sangatlah berharga. Jadi, polisi mengawasi ilmuwan tersebut dan penelitiannya di markas ini.”

“Jadi, kau ingin aku mencuri mesin ini?”

Gwen menatapku sebal. “Bodoh, bila aku ingin mencuri mesin ini, aku bisa melakukannya sendiri. Aku butuh kau untuk menjalankan mesin ini.”

“Oh.” Itu jawaban paling bodoh yang pernah kuberikan. Aku menyentuh mesin tersebut. Usianya sepertinya sudah cukup tua. Ada sekitar 5 tahun mungkin. Sayangnya karena usianya tersebut dan tak adanya perawatan, mungkin agak susah untuk menyalakan mesin ini.

“Oh, kau akan butuh kedua permata tersebut,” sahut Gwen.

“Untuk apa?”

“Bahan bakarnya bodoh,” jawabnya seraya melemparkan permata yang satunya ke tanganku.

Aku segera mencari tangki bahan bakar, yang ternyata terletak di bawah monitor. Tangki tersebut memiliki dua lubang, yang ukurannya cocok dengan kedua permata tersebut. Setelah menutup tangki, aku mulai memfokuskan pikiranku pada mesin itu. Namun, derap kaki menaiki tangga mengangguku.

“Cepatlah, Ray!”

Aku berusaha mengabaikan derapan berisik itu dan kembali memfokuskan mataku pada mesin ini. Tanganku kuarahkan pada inti generatornya. Dalam sekejap mesin tersebut menyala.

Sayangnya ia padam kembali.

“Argh! Apakah mesin ini tak bisa digunakan lagi?” sahut Gwen, sepertinya ada nada frustasi dalam suaranya.

“Tunggu, akan kucoba lagi.”

Aku kembali memfokuskan mataku ke arah mesin itu dan meletakkan tanganku ke generator mesin tersebut. Sekali lagi mesin itu menyala. Untungnya, kali ini ia tak padam.

“Kurasa ia hanya akan bertahan selama beberapa detik.”

“Kalau begitu cepatlah,” ujar Gwen sambil menekan tombol yang berada pada mesin itu, sebuah lubang perlahan terbentuk di depan kami, lubang yang tak berhenti berputar.

Saat lubang tersebut berhenti berputar, Gwen melompat masuk ke dalamnya.

Saat itu juga, polisi mendobrak pintu di belakangku.

Tanpa pikir panjang, aku melompat masuk, mengikuti Gwen.

Detik berikutnya yang kusadari adalah, aku berguling di atas papan kayu tua yang keras.

Gwen menembakkan pistolnya pada mesin yang berada di depan kami.

Dan lubang tersebut tertutup.

“Kau lama sekali.”

***

Kami berada di sebuah kota, yang mirip dengan kota yang biasa kutinggali. Namun keadaan di sini sangatlah berbeda.

Jalanan dipenuhi olah kendaraan-kendaaran bermesin, yang mengeluarkan bunyi memekakan. Suasana di tempat ini pengap dan panas. Tak banyak orang yang berjalan di trotoar kota. Ya, aku dapat melihat penyebabnya, karena trotoar di tempat ini telah banyak yang rusak.

Bangunan tempat kami keluar pun bukanlah gedung polisi, melainkan gedung tua yang terbengkalai.

Anehnya, aku merasa pernah berada di tempat yang tak familiar ini.

“Ini adalah kota Jakarta. Tempat kelahiranku,” ucap Gwen.

“Aku tak pernah mendengar nama kota itu.”

“Tentu saja tidak. Karena kota ini tak ada di tempat tinggalmu. Ini adalah dimensi lain dari kota yang biasa kau tinggali.”

“Maksudmu mesin tersebut adalah mesin antar dimensi?”

“Ya. Sekaligus mesin waktu.”

Gwen berbalik arah dan menatap diriku.

“Aku ingin minta tolong padamu.”

Aku menatap gadis itu seraya bertanya, “Apa?”

“Temukanlah diriku di tempat ini.”

Dan dengan perlahan, badan Gwen mulai lenyap.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa, ia telah menghilang.

***

Aku tak tahu apa maksud Gwen. Dan aku tak mengerti mengapa ia tiba-tiba saja menghilang. Tempat ini sungguh aneh, berbeda 100% dari tempat yang biasa kutinggali. Pakaian orang-orang disini pun aneh, namun bagi mereka yang aneh adalah pakaianku.

Karena itu aku mencopet dompet seorang wanita di dalam kendaraan besar yang mereka sebut sebagai bis dan membeli baju baru untuk diriku.

Aku butuh waktu yang lama untuk membiasakan diriku dengan tempat ini. Namun, tetap saja aku harus mencari Gwen terlebih dahulu. Itulah prioritasku.

Aku berjalan keluar dari toko tempat aku membeli baju. Saat itu juga, seorang gadis remaja berjalan melintas di hadapanku. Aku mengenalinya, ia adalah Gwen.

“Gwen!”

Gadis itu tampak terkejut.

“Ray, kaukah itu?”

Aku mengangguk. Pupil matanya segera mengecil, ia menatapku dengan rasa yang tak  bisa kulukiskan. Antara takut, terkejut dan emosi lainnya yang tak mampu kujelaskan.

Gadis itu membuka mulutnya. Kalimat yang hendak ia ucapkan seakan-akan menggantung di udara.

“Seharusnya kau sudah mati.”

***

“Jadi, dulu kau menciptakan mesin waktu dan ternyata mesin tersebut adalah mesin dimensi?”

Saat ini kami berada di tempat yang Gwen sebut dengan Café. Tempat ini dingin, namun sofanya terasa nyaman, dan kopinya pun enak.

“Ya.” Angguk Gwen.

“Lalu kau sampai pada dimensi tempat aku tinggal dan menemukan diriku?”

Sekali lagi ia mengangguk.

“Setelah mengetahui kemampuanku, kau memintaku untuk menghentikan kecelakaan yang akan terjadi pada orang tuamu. Dan sebagai gantinya, akulah yang meninggal karena tertabrak mobil?”

“Kau hanya mengulangi apa yang telah kuucapkan, Ray.”

“Bila aku sudah mati, mengapa aku berada disini?”

“Itulah yang aku tak mengerti. Tapi aku senang kau masih hidup.”

Hening sejenak.

“Kau tahu, yang mengantarku ke tempat ini adalah dirimu. Namun dirimu yang tampak lebih tua.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Ia memintaku untuk mencari dirimu.”

Gwen diam. Tampaknya ia sedang berpikir.

“Bisa kau bawa aku ke gedung tempat pertama kali kau sampai disini?”

***

Kami masuk kembali ke dalam gedung tua terbengkalai itu. Malam sudah semakin larut, namun jalanan masih padat dipenuhi oleh kendaraan yang Gwen sebut dengan mobil. Mobil-mobil tampak memenuhi jalan. Menyesakkan kota yang sesak ini. Lampu-lampu jalanan menyala terang benderang begitu pula dengan lampu-lampu di bangunan tinggi di sekitar jalan.

“Jadi, ini mesinnya?” tanya Gwen.

Aku mengangguk.

“Tampak seperti mesin ATM tua. Bagaimana mesin ini bisa sampai disini?”

“Aku tak tahu. Bukankah kau yang membuat mesin waktu antar dimensi itu?”

“Ya, tapi mesin yang kubuat berada di rumahku dan tak berbentuk seperti ini.” Gwen memeriksa keadaan mesin tersebut. Ia menyadari peluru yang berada tepat di monitor mesin tersebut.

“Oh, itu dirimu yang menembaknya, untuk mencegah para polisi yang mengejar kita.”

Ia menaikkan alis matanya.

“Sebenarnya apa yang telah kulakukan sampai para polisi mengejar kita?”

“Er, itu cerita yang panjang.”

Gwen tetap mengamati mesin tersebut.

“Hey, Ray, bisa kau bantu aku disini? Tolong bantulah aku membetulkan mesin ini.”

“Baiklah.”

Aku meletakkan tanganku ke mesin tersebut. Secara perlahan, peluru yang menancap pada mesin itu terlontar keluar dan monitornya kembali menjadi utuh.

“Selesai.”

Gwen segera mengutak-atik mesin tersebut, mengetik pada tombol-tombol kotak mesin itu dan menekan tombol berwarna hijau.

Dalam sekejap sebuah lubang terbentuk di depan mesin tersebut, lubang tersebut berputar-putar dan membentuk lingkaran yang cukup besar untuk satu orang masuki.

“Ray, aku akan kembali ke masa lalu dan mencegah kematianmu. Jangan ikut. Tunggulah di depan pintu masuk gedung.”

Dengan itu Gwen melompat masuk ke dalam lubang dan menghilang.

Lubang itu tertutup.

Aku cukup terkejut dengan perkataannya. Kurasa aku tak akan pernah mengerti jalan pikiran gadis itu.

Aku turun ke bawah dan keluar dari pintu gedung.

Setengah jam aku menunggu dan Gwen tak muncul.

Saat aku mulai mengantuk, sebuah kilasan muncul di kepalaku.

Seperti memori yang telah lama menghilang muncul begitu saja.

Atau bisa dibilang seperti memori yang baru saja terbentuk.

Aku melihat Gwen mendorongku menjauh dari mobil, menggantikan diriku ia tertabrak.

Sekujur badanku langsung lemas. Aku gemetaran.

***

Breaking News kali ini, sebuah kecelakaan telah terjadi di pusat kota Jakarta. Kecelakaan ini menyebabkan kerusakan pada lima mobil. Semua penumpang selamat, namun seorang gadis yang melindungi seorang pejalan kaki tertabrak dan saat ini sedang dibawa menuju rumah sakit terdekat.

***

Aku berlari menuju lantai dua, berlari ke mesin waktu itu.

Sial, mana tombol untuk mengaktifkan mesin ini!? Aku memfokuskan pandanganku pada mesin itu, berusaha mengatur tanggal dan tempat yang sesuai dengan tanggal yang berada dalam ingatanku. Sebuah lubang segera terbentuk di hadapanku.

Aku melompat masuk ke dalamnya.

Di sisi lain lubang, aku berdiri di trotoar jalan, menyaksikan saat Gwen mendorong diriku dan sebuh mobil melaju kencang hendak menabraknya.

Aku menfokuskan pikiranku kea rah mobil itu, berusaha memperlambat gerakannya. Bersamaan dengan itu, aku berlari ke jalan raya, menarik  Gwen ke belakang dan berhenti memfokuskan pikiranku.

Mobil tersebut kembali melesat dan menabrak pembatas jalan.  Pada akhirnya benda beroda empat tersebut berhenti dalam keadaan terbalik. Saat kukira kami telah aman, sebuah mobil lain melaju ke arah kami.

***

Breaking News kali ini, sebuah kecelakaan telah terjadi di pusat kota Jakarta. Kecelakaan ini menyebabkan kerusakan pada lima mobil. Semua penumpang dan pejalan kaki yang tengah menyeberang selamat, namun seorang pengemudi mobil meninggal dunia.

***

“Aku ingin minta tolong padamu.”

Aku menatap gadis itu seraya bertanya, “Apa?”

“Dengan kemampuanmu, tolong cegah kecelakaan yang akan terjadi di jalan ini dalam jangka waktu sepuluh menit dari sekarang.”

Dan gadis itu pun menghilang.

 

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Efek Domino

  1. Little Owlie says:

    Way better dari draft yang dikau kirim ke aku. ^^
    Semangat, Hyka.

    #sukses!

    (Anggra)

  2. Darin Kowalski says:

    Ujungnya kerasa (hampir) endless loop kalau dilanjutkan. Well, that is fate, kalau menurut saya :|

    Yang agak membingungkan lagi masalah karakternya si Gwen, sebenernya. :v Mungkin saya perlu baca ulang.

    Salam kenal, good luck! Silakan mampir ke nomor 73.

  3. Connie says:

    hmmm…setuju dengan Darin soal Gwen. tp idenya unik, efek domino seperti di film final destination :)

  4. salam kenal ya :D

    Ahaha konsepnya menarik sih, tapi gw sedikit bingung. Mungkin karena pace ceritanya yang mendadak jadi cepat banget di tengah sampai akhir sih, tapi it’s ok sih. Ngomong-ngomong, setting awalnya tuh jadi kota Jakarta di dimensi dan waktu yang berbeda dari dunia yang sekarang yah berarti?

    Btw, sedikit penasaran dengan kekuatan si tokoh utamanya. Namanya ga ada ya? atau gw yang miss ya? Hmm O_o

    Kalau dari segi teknis, paling cuman ada beberapa typo sih. Sisanya oke. Konsepnya menarik karena ini mengarah ke infinity loop. Haha :D

    Kalau sempet silakan mampir ke lapak 244 ya. Makasih ;)

  5. negeri tak pernah-48 says:

    Halo dari lapak 48~

    Oh, maksudnya efek domino tuh begini toh…
    Jadi endingnya itu sebenernya muter balik ke awal lagi ya?

    Konsepnya keren, tapi buatku ceritanya agak susah dicerna. Entahlah, mungkin konsep paradoks waktunya masih belum nyampe ke otak.

    Narasimu bagus, banyak kejutannya :D
    Begitulah~ mampir ke nomer 48 kalo sempet yaa

  6. red_rackham says:

    Saia bingung. Alur cerita dan perpindahan antar scene terasa sangat melompat-lompat. Saia paham inti cerita ini adalah endless-loop dan semacam time-paradox. Tapi eksekusi idenya kurang pas, jadinya tidak terasa mind-bending bagi saia. Tema loop ini mirip dengan cerita klasik Time Machine karya HG Wells dicampur mesin pindah dimensi alternatif ala serial TV Fringe.

    Eeen….kalau settingnya di Jakarta (atau entah dimana itu), kenapa nama2 karakternya nama inggris? Akan lebih believable kalau karakter2nya itu orang pribumi dan (atau) orang belanda.

    Anyway….good luck and keep on writing~! (o__<)b

    PS:
    Sudahkah anda berkunjung ke Planetarium saia di no.18?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>