Euthanasia

EUTHANASIA

karya Fachrul R.U.N.

Hari sudah malam ketika Sheena mencapai Silvermoon. Ketiadaan listrik mulai membuat sekelilingnya menjadi pekat. Angin kencang menerpa tubuhnya, merayapkan dingin hingga ke tulangnya. Kehabisan minyak lentera, tindakan terbaik yang bisa diambil gadis berambut merah itu adalah mencari tempat bermalam.

Ia mengamati bangunan-bangunan di sekelilingnya. Semuanya gelap, bobrok, dengan jendela dan pintu yang disegel oleh papan kayu. Para pemiliknya mencoba memastikan barang-barang mereka masih ada di rumah ketika mereka kembali. Nampaknya, mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat. Iklim wilayah ini semakin dingin. Awan radioaktif dari pantai timur pun berhembus ke sini. Karenanya, Sheena mengembara ke barat.

Merasa tidak memiliki kekuatan maupun peralatan untuk membobol rumah, Sheena lanjut melangkah. Mencoba mencari tempat yang lebih mudah dimasuki.

Tiba-tiba, ia melihat cahaya di depannya. Seketika itu pula, Sheena merasakan adrenalinnya bergemuruh. Langkahnya tidak lagi lambat dan terseok-seok, melainkan cepat dan tegas; bahkan bisa dibilang hampir berlari. Setelah berjam-jam hanya menemukan mayat, tumpukan pasir, dan bangunan kosong, nampaknya ia akhirnya menemukan manusia lain.

Interaksi. Itulah yang sangat Sheena butuhkan. Ia tergolong cerewet dulu, sebelum rudal-rudal berjatuhan dan menghancurkan negerinya. Kemudian, satu persatu teman dan anggota keluarganya berjatuhan. Menyisakan dirinya seorang. Kesendirian bukanlah sesuatu yang Sheena sukai, namun ia kini merasakannya secara konstan.

Ia ingin bercakap-cakap dengan seseorang, mengatakan betapa tersiksanya dirinya terhadap situasi ini. Ia ingin memeluk orang itu, merasakan kehangatan dari tubuh yang masih hidup. Kemudian, ia ingin orang itu akan berjalan bersamanya; agar ia akhirnya dapat memiliki rekan seperjalanan lagi.

Sheena menemukan kalau sumber cahaya itu berasal dari sebuah bangunan gaya Victoria berlantai dua. Di halamannya tertancap papan bertuliskan, “Penginapan Fiona.”

Dari beranda, Sheena melongok ke dalam. Ditemukannya bahwa sumber penerangan adalah sejumlah lilin. Perabotan dan lantai bersih dan terawat, menandakan bahwa sang penyulut cahaya sudah lama tinggal di sini. Tapi, Sheena tak menemukan siapapun di lobi.

“Permisi!” sapa Sheena sambil mengetuk pintu.

“Ah, selamat malam!” langsung terdengar sahutan seorang wanita dari dalam. Usia tiga puluhan, mungkin, dengan kehangatan khas seorang ibu. “Silahkan masuk!”

“Baik. Maaf merepotkan!”

Ketika Sheena membuka pintu, semerbak aroma ayam panggang menyambutnya. Dengan perut bergemuruh, dia menapak masuk. Tak sabar untuk segera mencicipi.

Saat kedua kakinya menapak di lantai lobi, Sheena merasakan sensasi aneh. Ia seperti tengah melewati selubung kain tak terlihat. Tubuhnya didera oleh sengatan listrik bertegangan rendah, membuatnya berjengit. Digerakkan oleh refleks, kelopak matanya menutup sesaat. Ketika ia membukanya kembali, ia menemukan kejutan.

“Hei, selamat datang!”

“Selamat datang, Nona!”

“Ayo, masuk. Masih banyak tempat dan makanan kok!”

Lobi yang semula kosong mendadak penuh sesak, dipenuhi manusia dari berbagai usia, ukuran, ras, dan suku bangsa. Dalam ucapan mereka, terkandung keramahan. Raut wajah mereka hangat, tak menunjukkan kebencian. Tetap saja, Sheena takut. Ia tahu dirinya kekurangan nutrisi, kelelahan, dan sudah mengalami gejala awal keracunan radiasi. Tapi ia yakin bahwa indera-inderanya masih bisa diandalkan, hingga mustahil ia tak menyadari pesta sebesar ini lebih awal.

Sheena mundur. Ia hanya sempat bergerak tiga langkah, sebelum terjengkang.

“Lho? Kenapa?” salah satu penghuni penginapan kebingungan melihat tingkah Sheena.

Bobot ransel membuat Sheena kesulitan untuk segera bangkit. Memaksanya mengerahkan tenaga ekstra.

Bukan saatnya santai!

Ia sudah berada di luar penginapan. Hanya tinggal bergerak sedikit, dan ia bisa lari ke tempat yang lebih “aman.” Bertumpukan lutut, ia berdiri. Di belakangnya, para penghuni penginapan terus membujuknya untuk masuk.

“Stop.”

Sebuah perintah terdengar di kepala Sheena. Pengucapnya terdengar seperti wanita yang menjawab salamnya.Mau ke mana, nak?”

Sejauh-jauhnya dari tempat ini, balas Sheena.

“Bukankah kau ke sini untuk mencari tempat berteduh? Penginapanku dapat memberikannya.”

Tidak. Ini… ini aneh.

“Tak ada yang aneh. Para penghuniku mungkin ramai dan berisik, tapi mereka orang baik. Di bawah perlindungan mereka, kau akan aman.”

Aku harus pergi…

“Kalau begitu, menginaplah semalam. Lanjutkan perjalananmu ketika kau lebih segar. Mau, kan?”

Sheena menoleh. Ada satu penghuni penginapan yang mendekatinya; wanita berambut coklat digulung, yang mengenakan gaun lengan panjang sederhana. Di wajahnya tergambar simpati tulus.

“Ayo.” Dia memegang pundak Sheena.

Sheena berdiam sejenak. Ia pastikan bahwa tangan itu benar-benar ada di sana. Tangan kanan Sheena membalas dengan memegang pipi wanita itu. Ia rasakan teksturnya, juga kehangatan tubuhnya. Ya, Sheena membatin, dia nyata.

“Hei, kenapa malah pegang-pegangan?!” seru seorang pengunjung. “Ayo masuk!”

Diiringi tepuk tangan, Sheena akhirnya dapat dituntun masuk. Penghuni lain mulai menepuki pundaknya. Beberapa bahkan memeluknya, sambil mengutarakan betapa ia akan bersenang-senang selama berada di sini.

Rasanya seperti thanksgiving ketika ia mencapai ruang makan. Berbagai jenis hidangan tersaji, dengan kalkun besar sebagai pusatnya. Bergelas-gelas anggur dihidangkan. Aroma memabukkannya menyebar cepat, memenuhi ruangan.

“Kenapa… makanan sebanyak ini… disia-siakan begini?” tanya Sheena. Tubuhnya limbung. Kepalanya tiba-tiba pusing.

“Karena kita harus berpesta, bukan?” sahut wanita ramah tadi.

Semakin sulit bagi Sheena untuk berkonsentrasi. Ketika ia memejamkan mata, Sheena dapat melihat sekelebat ruangan lain; tempat lembap dan gelap yang diselimuti debu. Tapi, begitu ia mengangkat kelopaknya, ia sudah kembali di ruang makan.

“Orang sebanyak ini…”

Dia melihat beberapa sosok familiar di kerumunan. Yang paling menarik perhatiannya adalah seorang pemuda pendek dengan ikat kepala. Orang itu mirip dengan Spade, pacarnya.

“Kenapa kalian terus berdiam di sini? Udara semakin dingin.”

“Untuk saat ini, jangan pikirkan yang repot-repot dulu. Bisa kan?”

Seorang pria gemuk menyambung. “Karena di dalam sini, yang perlu kau lakukan hanya bersenang-senang. Serahkan segalanya kepada Fiona.”

Fiona. Sheena melirik si wanita ramah. Nampaknya, itulah namanya. Sang pemilik penginapan.

Ada lebih banyak yang ingin Sheena tanyakan, namun instruksi tadi seperti membungkamnya. Tak lama, paranoia dan naluri bahayanya tumpul. Dia mengambil bir yang disediakan dan meminumnya dengan gila-gilaan, seakan ia tengah berada di pesta temannya. Ia menyantap makanannya tanpa memikirkan sopan santun, sementara orang-orang di sekelilingnya menyemangatinya.

Sheena tak mengira ia dapat kembali bersenang-senang seperti sebelum bom jatuh. Ia menyukainya. Masih ada bagian dari masa remajanya yang bergejolak, protes karena diakhiri terlalu dini dalam usahanya bertahan hidup. Digunakannya kesempatan ini untuk memuaskan dirinya.

Lama kelamaan, Sheena ambruk. Energinya habis sepenuhnya. Yang terakhir ia lihat sebelum terlelap adalah Fiona. Wanita itu berjongkok di dekatnya sambil mengucapkan sesuatu. Sheena tak dapat mendengarnya.

 

***

 

Sheena biasa meletakkan ranselnya persis di kanan. Jadi, bila suatu saat ia terbangun dalam situasi berbahaya, ia bisa langsung menyambar bawaannya dan melarikan diri. Ketika ia terjaga, ia langsung meraih-raih sisi kanannya sebelum matanya membuka. Yang ia temukan hanyalah dingin dan kasarnya dinding.

Sheena tersentak. Ia beringsut mencari ranselnya. Hanya butuh lima detik hingga ia menemukannya. Benda itu ada di kiri, tepat di samping tempat tidur. Sheena pun lega. Bukan hanya karena berhasil menemukan bawaannya, tapi juga karena pemandangan di sekelilingnya. Sejumlah orang tidur mengelilinginya. Ada yang di kursi, ada yang di lantai. Memberinya kesan bahwa ia dilindungi.

Sheena melongok ke jendela. Pagi datang. Gelapnya malam telah digantikan oleh warna kelabu. Langit masih mencurahkan debu dan abu ke bumi. Mematikan benih-benih tumbuhan yang muncul.

Setelah awan sirna, segalanya akan kembali normal. Kehidupan akan kembali.

Tapi itu nanti. Sekarang, dia harus melanjutkan perjalanan dulu. Dia berdiri, mengenakan ranselnya, dan dengan hati-hati berjalan melewati mereka yang tengah tertidur.

“Mau ke mana?” tanya seorang pria.

“California,” sahut Sheena sendu. “Kalian tidak ikut?”

Ada wanita kurus yang menimpali. “Kenapa harus ke sana? Dengar-dengar, kondisinya buruk lho.”

“Yah, yang jelas, aku tak bisa terus di sini. Nanti aku bisa mati beku.”

“Kata siapa?” seorang anak bertanya. “Rasakan sekelilingmu, kak. Di sini hangat!”

Memang. Sheena baru menyadarinya. Rasanya, seakan ada semacam sekat yang melindungi cuaca di luar untuk masuk ke sini. Tetap, Sheena tidak ingin bersantai. “Kalian tahu demam dengue? Penderitanya kadang merasakan suhu tubuhnya menjadi normal bila tak dirawat, padahal itu berarti dia sedang masuk fase tergawat.  Bisa jadi yang kita rasakan ini sama seperti itu.”

“Tidak, Sheena. Jangan samakan ini dengan demam. Kita semua aman di sini. Jadi, santailah. Mau kubuatkan susu?”

“Tak perlu.”

Begitu ia mencapai koridor, Sheena menemukan tamu yang lain. Awalnya, mereka semua terlelap. Tapi, begitu dia melewati mereka, satu persatu orang-orang itu terjaga.

“Mau ke mana?” seseorang bertanya.

Belum dia menjawab, yang lain juga bertanya. “Apa kau mau pergi?”

“Ya,” Sheena menjawab. “Sebaiknya kalian juga.”

“Tidak perlu.”

“Jangan pergi.”

“Kita aman di sini.”

Nada bersahabat mereka luntur, digantikan gaya bicara kaku nan mencekam. Mereka mulai mendekat, mencoba menghentikan Sheena. Merasa terancam, Sheena mempercepat langkah.

Saat Sheena mencapai lobi, semua orang sudah terjaga. Mereka berdiri tegap, menatapnya dengan sorot dingin. Tanpa menyampaikan ucapan terima kasih maupun perpisahan, Sheena menggapai gagang dan memutarnya. Pintu itu tak terbuka, tak peduli sekeras apa ia mencoba.

Panik, Sheena beralih ke jendela. Selot jendela yang membeku membuatnya mustahil dibuka. Kemudian, ia nekat menghajarnya dengan sikunya. Yang ia peroleh hanya sakit. Permukaan kaca bahkan tak lecet sedikitpun.

“Izinkan aku keluar!” bentak Sheena.

Yang menjawab bukan orang-orang itu, melainkan Fiona, yang bahkan tak terlihat di sana. “Kenapa?”

“Karena aku harus keluar, sialan!”

“Untuk apa? Di sini hangat, aman, dan kau tak akan lagi sendirian.”

“Ya. Aku dikelilingi oleh… orang-orang ini…” pandangannya mulai kabur. Samar-samar, ia melihat ekspresi kaku orang-orang itu berubah, digantikan oleh kekhawatiran. “Jangan… mengacaukan… kepalaku…”

“Kami mengkhawatirkanmu.”

“Kalau kau mengkhawatirkanku, izinkan aku keluar dari sini! Sekarang!”

“Apakah tempat ini tidak cocok untukmu?”

Lantai terkikis dan terurai, memperlihatkan permukaan keramik yang tersembunyi di baliknya. Dinding kayu luntur, digantikan dinding bata yang dilapisi oleh kertas dinding sederhana. Perabotan dan semua orang yang berada di sana berubah wujud, sementara ruangan itu menyempit. Begitu transformasi berakhir, Sheena berada di ruang makan rumahnya. Cahaya senja menembus jendela, tak terhalangi oleh selubung debu.

Dua orang duduk mengelilingi meja. Satu adalah seorang pria berusia 40an, dengan rambut cepak dan bahu tegap. Satunya lagi adalah seorang wanita dengan rambut dihiasi manik-manik, yang mengenakan kacamata tebal berbingkai hati. Ayah dan ibunya.

“Ngapain kamu bengong di situ?” tanya ibunya.

“Ayo duduk,” sambung sang ayah. “Ibumu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

“Kali ini bebas ganja. Sumpah.”

Inilah kehidupanmu, kata Fiona. Kamu tak pernah mengungsi dari rumah. Tak ada alasan untuk melakukannya.

Tapi, Sheena menolaknya. Luka di sanubarinya dengan kejam mengingatkannya akan kejadian yang sesungguhnya. Sang ayah bersusah payah mencoba membimbing keluarganya meninggalkan negara bagian, hingga ia terserang penyakit. Tak ada dokter yang punya waktu maupun peralatan untuk menyembuhkannya. Beliau tak terselamatkan.

Ibunya mulai mengundurkan diri dari kenyataan. Sheena masih mencoba menyeretnya dalam perjalanan lanjutan, namun tak lama, sang ibu memutuskan untuk menolak menghadapi bencana ini tanpa suaminya. Jadi dia menyayat putus nadinya.

Angin berhembus, merontokkan dinding. Pasir emas menggerus lantai dan menyelimuti pergelangan kaki Sheena. Matahari kini bertengger di puncak. Sheena pun tak lagi berada di Worthington. Ia berpindah ke pantai La Jolla, San Diego.

Pantai penuh sesak, seperti yang biasa terjadi saat liburan. Dipenuhi gadis-gadis berbikini, pria dengan celana pendek, orang-orang yang berjemur, anak-anak yang mendirikan kastil pasir. Sementara itu, Sheena berdiri di sisi Spade, yang tengah membawa papan seluncur.

“Kok bengong? Kita tidak berkunjung ke sini hanya untuk berdiri saja, kan?”

Fiona mencoba menanamkan ke Sheena bahwa inilah realita yang sesungguhnya. Ia, Spade, dan beberapa temannya menempuh road trip panjang hingga sampai ke pantai barat. Segala kehancuran yang ia kenang hanyalah efek marijuana yang dihirup teman Spade selama di van.

Tapi, ini juga bohong.

“Cinta di akhir dunia,” demikian Sheena menyebut masa-masa terakhirnya bersama Spade. Spade begitu menyayanginya, hingga pemuda itu terus berada di sisinya meskipun anggota lain kelompoknya mati, menyerah, atau berpisah. Spade juga senantiasa mendahulukan kepentingan Sheena dalam upaya mereka bertahan hidup.

Sebulan lalu, Spade menderita demam. Dia mulai mengigau dan kesulitan membedakan mana yang nyata dan yang tidak. Sheena tak dapat menemukan obat, padahal saat itu mereka sedang berada di daerah terbuka, rawan radiasi radioaktif. Pada akhirnya, Sheena memutuskan untuk meninggalkan saja Spade di sana. Menganggap bahwa terus membawa pemuda itu malah akan membuatnya terbebani.

Dadanya sakit  karena harus mengingat kejadian itu lagi. Sensasi perih itu juga yang akhirnya menyengat Sheena hingga ia terbangun.

Kini, Sheena terbaring pada sebuah ruangan tak dikenal. Bau busuk meraja di udara, membuatnya langsung menyumpal hidung. Ada cahaya hijau lembut yang berpendar lemah, cukup untuk membantu Sheena melihat. Dia menemukan dirinya terapit di tengah-tengah mayat.

Mata Sheena terkunci ke sosok di kanannya. Dari pakaian usang yang jasad itu kenakan, nampaknya dia laki-laki. Kulit dan daging pada wajahnya telah mengelupas, memperlihatkan tengkorak yang nampak seperti mumi.

Selama beberapa saat, Sheena hanya terdiam di sana. Syok yang menderanya membuat otaknya terasa kosong, tak mampu merangkai langkah apa yang harus diambilnya. Baru ketika keterkejutannya mereda, ia mulai dapat menganalisis situasi ini. Keputusan yang diambilnya adalah bangkit.

Dalam posisi duduk, Sheena dapat melihat lebih jelas sekelilingnya. Mayat bukan hanya ada di sisi-sisinya, melainkan di setiap sudut ruangan ini. Mayoritas dari mereka berbaring dalam posisi serupa, menghadap ke atas dengan tangan tertungkup di depan dada. Hanya ada satu yang berbeda, dan ini yang paling menonjol.

Jasad itu berlutut di pusat ruangan, dengan tangan tertangkup seperti berdoa. Di punggungnya, sepasang sayap tulang terbentang tegak. Batoknya masih ditempeli oleh untaian rambut, yang kini sudah mengering. Tubuhnya-lah yang menjadi sumber dari cahaya hijau ini.

Sheena menjerit. Merasakan ranselnya masih tersandang di punggung, ia langsung mencoba melarikan diri.

“Tunggu. Kumohon.”

Itu persis seperti suara Fiona. Karena asalnya dari jasad berlutut, Sheena tak mendengarkannya.

Izinkan aku menjelaskan!

Belum sempat ia mencapai undakan, kaki Sheena mengkhianatinya. Merasa lemas, ia terjatuh. Membuatnya membatin kesal, Ini bukan saatnya!

“Setidaknya jawab pertanyaanku… apa yang akan kau lakukan setelah kau keluar?”

Sheena tak tahu kenapa ia repot-repot membalas ucapan hantu, tapi ia tetap melontarkan, “Lari. Mengusir bau busuk tempat ini dari nafasku.”

Kalau begitu lanjutkanlah tidur. Aku akan menjagamu. Akan kuberikan kau mimpi indah, yang dapat membuatmu melupakan semua ini.”

“Kemudian apa yang akan terjadi?” akhirnya Sheena berhenti dan memutar tubuhnya, hingga ia menghadap jasad itu. “Kau akan membuatku terus bermimpi sampai menjadi mayat kering? Itukah yang kau lakukan pada orang-orang ini?!”

“Ya.”

“Tidak! Aku masih mau hidup!”

“Lalu apa yang akan menantimu di luar?

Gersangnya alam yang sudah diselimuti pasir dan debu. Jalanan panjang yang menjanjikan harapan, namun hanya menuntunnya menuju kematian. Tak ada kekasih yang akan memeluknya, mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tidak ada sambutan hangat orang tuanya, yang sudah repot-repot memasakkan menu favoritnya.

“Aku sudah mengorbankan nyawa orang yang paling kusayangi di dunia ini, untuk sampai sejauh ini.” Pengakuan itu mulai membuat air mata Sheena mengalir. “Karenanya aku tidak akan mati begitu saja. Aku akan hidup ketika matahari kembali bersinar di bumi!”

Jasad itu seperti mendesah. “Sebelum aku mengorbankan diriku untuk menjadi pilar mimpi, aku rajin membaca buku… Sheena. Aku tahu bahwa yang akan menanti bumi setelah semua abu dan debu turun dari awan adalah musim panas nuklir. Stratosfer yang rusak akibat ledakan akan membuat bumi menjadi oven, hingga segala yang tersisa musnah. Dan karenanya aku ingin mengorbankan diri agar jiwa-jiwa malang sepertimu bisa berhenti menderita sebelum ajal menjemput.”

Sheena juga menyadari skenario tadi. Ia hanya menolak untuk mempercayainya. Ia merasa tak adil bahwa keputusan sekumpulan pemimpin idiot akhirnya melenyapkan segala sesuatu yang ada di bumi. Pasti ada akhir yang bagus untuk tragedi ini, pikirnya ngotot.

“Itu hanya hipotesis. Belum terbukti kebenarannya,” sahut Sheena.

“Sebelum rudal berjatuhan, musim dingin nuklir juga merupakan hipotesis. Sejauh ini, teori itu benar. Bukankah kalau begitu skenario lanjutannya pun benar?”

“Akan kubuktikan itu salah!” teriak Sheena. “Lagipula, apa yang bisa kau berikan kepadaku? Euthanasia?!”

Ya. Akan kuserap energi kehidupanmu, sementara aku memproyeksikan apapun yang kau inginkan. Ini akan berlangsung hingga kau mati.”

“Mati dengan mengerikan, heh?!”

“Tidak. Kau tak akan merasakan apapun. Kau hanya akan melihat seberkas cahaya, dan segalanya berakhir.”

Tenaga di kakinya kembali, Sheena berlari. Menaiki undakan, membuka pintu yang tak terkunci, dan melanjutkan berlari hingga ke lobi. Fiona ada di sana, membungkuk menyambut niatnya untuk pergi. Tapi suaranya yang berasal dari jasad di bawah tanah masih berbicara ke kepala Sheena.

“Sheena. Karena kau sudah menempuh jalan yang berat, aku tahu kau sudah menyadarinya…”

“Diam!”

“Tidak ada akhir indah bagimu. Kau bisa melanjutkan berjalan, hingga radiasi, perampok, musim panas, atau kegilaan merenggutmu. Atau kau bisa memegang janjiku, bahwa aku akan memberikanmu satu kesempatan terakhir untuk berbahagia. Tolong… pikirkanlah ini.”

Sheena sudah berada di luar. Suara makhluk itu melemah, tapi ia masih memberikannya pertanyaan terakhir. Memangnya siapa kau, dengan sombongnya memberikan gambaran masa depan dari manusia yang baru kau temui?

“Makawee O’Connell. Saudari kembar Fiona O’Connell. Sejak kecil, aku mewarisi kemampuan ibu untuk membimbing mimpi seseorang. Sekarang, di penghujung dunia, aku mengorbankan diri untuk membahagiakan manusia yang mengetuk pintu rumah saudariku.”

Omong kosong.

Dengan mantap, Sheena melangkah. Ia akan mencapai California, menyaksikan kembali La Jolla; yang secara ajaib akan terlindung oleh asap radiasi dari rudal-rudal yang diluncurkan ke Los Angeles. Di sana, temannya, orang tuanya, juga Spade akan menanti; secara ajaib berhasil hidup kembali.

Tapi, tak ada keajaiban. Ya, ia sudah melalui begitu banyak kejadian pahit hingga ia meyakininya. Kalaupun ia berhasil, ia hanya akan sampai ke kawah nuklir. Di mana ia akan meringkuk di tengah mayat, menunggu kematian. Seorang diri.

Apakah itu yang kuinginkan?

Apakah itu yang pantas kudapatkan?

Apakah… memang harus begitu?

Tidak.

Tak ada harapan.

Baik bagi dirinya, maupun bumi.

Jadi, haruskah ia terus maju? Menentang masa depan suram yang belum ia ketahui? Ataukah ia harus berbalik dan menyerah, seperti mayat-mayat lain di ruang bawah tanah?

Sheena tersenyum. Ia tahu apa yang harus ia pilih.

 

***

 

Sheena terbangun di jok depan sebuah mobil; di samping pemuda pendek yang mengemudikannya. Di belakang, duduk seorang pria kekar dan wanita berambut dimanik. Wanita itu menggulung marijuana dengan kertas sebelum menyulut dan menghisapnya.

“Ms. Aieros?” sapa Spade sambil membuka jendelanya, membiarkan asap untuk berhembus keluar. “Bisa tolong jangan merokok sekarang?”

“Iya, Ma! Hentikan sekarang!” bentak sang ayah.

“Diam ah. Ini salahmu juga sih, boy. Kalau begini caranya kita tidak akan sampai ke La Jolla.”

Ini Interstate 8. Mereka masih berada di sekitar Arizona. Terlihat di sekelilingnya hamparan gurun dan bukit-bukit merah yang tinggi. Matahari mulai tenggelam, membangkitkan warna jingga di langit.

“Cyn,” Spade memanggil Sheena dengan panggilan khasnya. “Bisa tolong bujuk ibumu untuk berhenti?”

Alih-alih menjawab, Sheena malah menyandarkan kepalanya ke pundak Spade. Ia biarkan matanya terpejam, sementara hembusan angin memasuki jendela. Segalanya, bahkan aroma marijuana, terasa begitu artifisial. Sheena tak mempermasalahkannya.

Karena Sheena tak menginginkan mobil ini menabrak, maka ia pun tak akan menabrak apa-apa. Kendaraan ini akan terus melaju dengan tenang, hingga ia bisa sekali lagi merasakan kehangatan dari orang-orang yang ia kasihi.

Mobil meninggalkan Interstate 8. Langsung memasuki La Jolla, meski seharusnya mereka melewati wilayah lain dulu.

Indah, komentar Sheena terhadap pantainya.

Lalu pandangannya diselimuti cahaya putih.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

105 Responses to Euthanasia

  1. franci says:

    mmm… asem bgt nih critanya (fiuuh)

  2. MR A -156 says:

    halo mas Fachrul ^^
    ah, teknik penulisannya udah ga usah dipertanyakan.
    emosi dan konflik batinnya dapet, seremnya kena, tapi agak statis . dan entah kenapa, kayaknya agak ga ngaruh aja gitu tentang saudara kembarnya si Fiona segala.. kenapa ga fionanya aja, knp harus sodara kembarnya gitu >.<

    terus pas bagian dipanggil cyn itu lucu yaaah hahahaha

    jujur, cerita thriller (bener gak?) ini keren.

    kalo berkenan dan frekuensi pekerjaan sedang menurun, mampir ke lapak saia ya mas di 156. ^^ GudLak Men! :p

  3. Cecilia Li says:

    Aaah akhirnya aku bisa mampir di sini….
    Sial, ini cerita keren banget. Tapi menurutku, waktu Sheena berubah pikiran, terlalu cepet, padahal dari awal Sheena digambarkan kuat mental. Tapi, inipun gak merubah terlalu banyak, still 9.5/10! Good job!

  4. fr3d says:

    MANA ZOMBIE-NYAAAH~?!? AAARGH! –> agak over; terlalu banyak nonton Walking Dead

    but again, zombie-like-creature-nya udah direkrut di Apollyon sih… humm… :|

    nice story, eniwei
    x)

  5. Jovyanca says:

    Ini bagUz! Banget! I like! Awesome! ^^

    Rasanya simpel, tapi kesannya kuat. Perasaan Sheena tersampaikan dengan baik. Sedihnya, putus-asanya, dan pasrahnya di akhir cerita. Banyak adegan yang saia suka; kamu mendeskripsikannya dengan keren. Hahaha..

    Satu pertanyaan saja. Kenapa sang pembimbing mimpi bisa sampai punya sayap? *just being curious* ^^

    Yak, anyway, salam kenal, Fachrul. :D

    Sukses ya. Dan bila ada kesempatan, mampir2 juga di #129. :) tQ~

  6. Alfare says:

    O___O

    Awesome is the King!

  7. Bobby Huang says:

    Hoah.. Keren-keren *_* (dengan mata berbinar-binar)

    Di awal sempet bingung juga kenapa Sheena nggak milih gabung aja bareng kelompok di penginapan itu. Tapi selanjutnya jadi ngerti.
    Konflik batin banget sih. Walau di dunia nyatanya, ending untuk Sheena sad ending, tapi jauh di alam sekarang ia berada, ia sudah merasakan kebahagiaan :D

    Nice story! :D

    Kalau sempet mampirlah di cerita saya, 71.Leang Lampit :D

  8. *Ketok2 pintu

    Khas Mas Fachrul banget!!! xD
    Dark dan mencekam, narasinya mulus walau ada yang miss (“ia ingin orang itu akan berjalan bersamanya”), tapi remeh banget sampe sebenernya nggak perlu kutulis.
    Tapi!
    Formula yang senada dengan Apollyon ini sebaiknya tidak di over-abuse, kalau nggak entar jalan ceritanya jadi ketebak. Nggak seru dan kaget lagi dong entar. Hehehehe~

    (bertanya2 apa di dalam Hailstorm juga banyak darah seperti di sini dan Apollyon)

  9. dan Jerapah berkata ... says:

    *absen*

    Heh, heh .. walau banyak yang nampaknya protes dengan ending tersebut … saya sendiri malah merasa ending tersebut adalah pilihan yang paling “canon”, menimbang banyak hal yang telah Sheena alami sebelum ia tiba di rumah tua tersebut.

    Good job, my Lord of Darkness, me adore thy skills ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>