Gedung Tanaman Raksasa

GEDUNG TANAMAN RAKSASA

karya  Lisma

Di tengah sebuah hutan, sinar rembulan tak dapat menembus rimbunnya pepohonan. Cahaya yang dapat masuk hanyalah remang-remang. Di sana terdapat sebuah gedung yang tingginya mencapai 6 meter. Di dalamnya tinggal dua orang pria yang sedang melakukan observasi.

Seorang pria dengan jas seperti kepunyaan dokter, menaruh tabung reaksi yang di dalamnya terdapat cairan berwarna hijau pekat di samping kran air. Kemudian dia mengambil gayung yang dipenuhi air dan membasuh tangannya.

“Jake, kemarilah!”, ucap sebuah suara

“sebentar professor”. pria yang bernama Jake tersebut mencuci tangannya dengan sabun. Dia tergesa-gesa.

“cepatlah kesini!”. Jake pun segera membilas tangannya. Dia yang terburu-buru langsung mematikan kran. Dia tidak sadar tangannya menyenggol tabung reaksi yang ada di dekat situ.

Dia berlari dan berhenti secara tiba-tiba. “apa ini?”, tanyanya dengan terkejut

“kau lihat apa ini?”, Tanya balik si professor

“ini bunga mawar. Tapi kenapa besar sekali?”. Dia memandang lekat mawar merah yang ada di hadapannya. Mawar itu berdiri kokoh di atas tanah. Tingginya setengah dari tinggi badan Jake, kira-kira tinggi mawar itu 85 cm.

“ini akibat dari cairan tersebut”

?????

Seorang gadis remaja meratapi kepergian ibunya. Dia duduk di samping pusaran. Air mata tulusnya mengalir begitu saja. Dia mulai terisak.

“Mala, ikhlaskan kepergian ibumu. Agar dia tenang di sana”, seru wanita paruh baya. “ayo, kita pergi”. Wanita tersebut membantunya berdiri.

Karena Keluarga Mala yang tidak punya sanak saudara, terpaksa Mala sendirilah yang mengurus pemakaman ibunya. Ayahnya pergi melaksanakan tugas. Untung saja dia mempunyai seorang tetangga yang sangat peduli terhadapnya. Dengan senang hati dia membantu mengurus pemakaman. Orang itu yang sekarang ada di dekatnya.

“apakah Mala berani tidur sendiri?”, tanya wanita tadi ketika mereka sudah ada di depan gerbang rumah Mala

“iya, Mala berani tante”

“kalau ada apa-apa datang ke rumah tante ya, kami akan menjagamu sampai ayahmu pulang”

“terima kasih tante”

Tante Rina pun masuk ke dalam rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah Mala. Mala menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah.

Mala melangkahkan kakinya ke dalam sebuah kamar. Dia memandang dinding-dinding kamar yang di penuhi foto-foto keluarga mereka, mulai dari foto pernikahan, foto Mala kecil dan lain sebagainya. Kamar tersebut adalah kamar ibunya.

Dia duduk di atas ranjang. Tangannya meraba permukaan ranjang itu. Tak sengaja Mala menemukan sebuah buku harian yang tersimpan di balik bantal. Dibukanya buku tersebut secara acak.

Dia mulai membuka lembaran demi lembaran. Dia membaca tulisan yang ada disana. Kemudian, dengan semangat dia bangkit dari tempat duduknya.

?????

Tujuh hari telah berlalu.

Mala memutuskan meninggalkan Jakarta untuk mencari sang ayah. Kini dia berjalan sendirian di tengah pedesaan. Di sana dia tidak mengenal siapa pun.

“maaf, apa anda tahu alamat ini?”, tanyanya pada seorang pemuda

“iya itu disini. Tapi kalau mencari Gedung Penelitian dan Pengembangan tanaman ada di sana?”. Pemuda tersebut menunjuk ke arah Gunung Wilis.

“Gunung Wilis?”

“bukan, tetapi gedung tersebut berada di tengah Hutan Slurup”

“baiklah, terima kasih”. Mala berjalan ke depan. Dia membenahi raselnya yang mulai turun dari bahu.

“hey… aku bisa mengenalkanmu pada orang yang akan membawamu ke sana”, kata si pemuda. “bila kau mau?”

?????

Mala dan seorang pemandu gunung mulai masuk ke dalam hutan. Mereka melewati jalan setapak yang di kelilingi sungai. Airnya begitu jernih dan udara di sana sangat segar. Gemericik aliran sungai dan gemerisik dedaunan seolah menambah kesan kesejukkan.

Mereka pun berhenti di sebuah gedung yang sangat tinggi. Tembok gedung tersebut berwarna putih tulang. Entah itu memang warnanya atau mungkin warna aslinya sudah mulai pudar karena termakan watku.

Pria berumur sekitar tiga puluh tahunan tersebut mulai mengetuk pintu gedung. Namun, tidak dibuka-buka.

“ayah, Mala di sini!”, ucap Mala. “ayah bukakan pintunya, aku ingin bertemu kamu”

“bagaimana kalau saya mendobrak pintu ini?”, tanya si pria

Dengan kekuatan bahu kanannya, dia mendobrak pintu tersebut dan akhirnya terbuka. Alangkah kagetnya mereka saat melihat apa yang ada di dalam sana. Berjejeran tanaman-tanaman raksasa yang sungguh luar biasa cantiknya.

Tak sempat mereka menikmati keindahan seluruh tanaman yang ada, sebuah sulur melilit kaki si pria. Sulur itu menarik si pria ke atas. Di sana sudah menanti mulut tanaman yang membuka lebar. Di tepian mulutnya terdapat taring-taring tajam.

Tubuh pria dilemparkan ke atas udara dan ditangkap dengan mulut terbuka tanaman itu. Suara kunyahan daging bercampur tulang membuat Mala merinding.

Kemudian ia tersadar dan menjerit sekeras-kerasnya. Dia memanggil nama ayahnya terus menerus.

Tanaman yang berbentuk seperti ular tersebut melihat ke arah Mala. Dia mulai menjulurkan sulurnya lagi. Dengan cepat Mala berlari menghindar. Namun, jaket yang di ikatkan pada pinggangnya tersangkut duri mawar yang berukuran 50 kali lipat lebih besar dari duri mawar pada umumnya.

Sulur yang terus bergerak akhrinya dapat melilit kaki kiri Mala. Tubuhnya dipaksa di tarik ke belakang. Jaketnya pun robek dan terlepas dari tubuh Mala. Ia masih saja memanggil-manggil nama ayahnya.

Tubuh Mala terhempas ke lantai. Sulur yang melilitnya tadi, menggeliat tak berdaya.

“ayah”, Mala bangkit dan segera memeluk ayahnya, namun dia malah menarik tangan Mala untuk mengajaknya lari.

Tanaman berkepala ular itu tak memerlukan sulurnya lagi, dia mulai menggerak-gerakkan kepalanya ke arah Mala dan ayahnya. Mereka terus berlari hingga tanaman tersebut tidak dapat menjangkau mereka.

Ayah Mala menarik ganggang pintu yang berada di atas lantai. Di sekeliling mereka, berserakan dedaunan, sulur-sulur, dan mahkota-mahkota bunga yang masih segar dengan getah. Dia menyuruh Mala untuk masuk ke dalamnya. Mereka mulai menuruni tangga dan menemukan sebuah tempat yang bisa dibilang cukup luas.

“Mala”, panggil sebuah suara

“Om Jake”. Mala berlari menghampiri suara tersebut. Dia berdiri kaku di depan pria yang dipanggilnya om Jake. “ada apa dengan kaki kanan om?”

“tidak apa-apa, duduklah di sebelah om! Ceritakan bagaimana kamu bisa ada di sini!”

“jawab dulu pertanyaan Mala, apa yang terjadi dengan kaki om?”. Om Jake hanya dapat tersenyum dan menundukkan kepalanya.

“itu karena ulah tanaman berkepala ular itu”, jawab ayah Mala

“ayah, tanaman berkepala ular itu tidak ada. Dia hanya legenda”. Mala menoleh kepada ayahnya.

“legenda katamu? Terus apa yang kamu lihat tadi? Imajinasimu?”

Mala berlagak berfikir. “oh iya, itu tadi tanaman berkepala ular”, jawabnya dengan polos. “tapi dalam komunitas ilmiah, tanaman berkepala ular tidak diakui keberadaannya dan dianggap sebagai dongeng belaka”

“Ayah tahu. Cryptobotany[1] kan? , ayah juga sempat tidak percaya tentang keberadaan tanaman tersebut. Hingga ayah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tanaman itu memang ada. Dan jauh lebih eksotik dari pada yang ada di dalam cerita”.

“dari mana ayah mendapatkannya?”

“seorang teman dari Madagaskar. Dia meminta ayah untuk menjaga tanaman tersebut agar tidak diambil oleh penjahat yang ingin  menjualnya. Tanaman itu sangat langkah”

“bagaimana dia dapat membawanya ke sini? Tanaman itu ‘kan besar sekali?”

“Mala, dulunya tanaman tersebut bertinggi kira-kira 15 cm, namun dalam waktu dua bulan tanaman tersebut bertinggi semakin cepat hingga akhirnya seperti sekarang. Perkiraan kami tanaman tersebut akan semakin membesar. Benarkah itu Professor Riski?”

“iya jake”

“lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“kita? Tidak…. Kamu tidak boleh ikut-ikutan masalah ini, Mala. Besok aku akan mengeluarkan kamu dari tempat ini”

“tidak mau”

“harus mau”

“aku ingin tetap bersama ayah”

“tidak Mala, ini keadaan berbahaya. Ayah tidak mau kamu ikut-ikutan. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi. Lihat kaki Om Jake, dia kehilangan kakinya karena tanaman tersebut. Padahal saat itu tinggi tanaman berkepala ular itu masih 60 cm. Terlebih lagi bukan hanya tanaman berkepala ular saja yang mengancam kita. Masih banyak tanaman lain yang selalu mengintai daging kita untuk dimakannya”

“Jika Mala harus keluar dari sini, maka ayah juga harus keluar”

“tidak Mala, ayah harus menyelesaikan masalah ini. Ayah tidak akan membiarkan para tanaman karnivora ini menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar. Hal ini sangat berbahaya, bahkan bisa-bisa kami sendiri yang akan tewas”

“apa pun resikonya, Mala tanggung. Setidaknya, Mala ingin bersama ayah. Mala sudah kehilangan sosok seorang ibu. Apa Mala harus kehilangan sosok seorang ayah juga? Lalu dengan siapa Mala akan hidup?”. Mata Mala mulai berkaca-kaca

“apa maksudmu?”

Mala pun menceritakan semua peristiwa yang terjadi pada ibunya tujuh hari yang lalu. Ia juga bercerita bahwa ia menjual rumah untuk mencari ayahnya.

“kemarilah!”, ayah Mala memeluk anak semata wayangnya itu. “apakah ada sisa uang penjualan rumah, Mala?”

“ya”. Mala memberikan amplop coklat kepada ayahnya yang di dalamnya terdapat lembaran-lembaran uang.

Tak terasa malam pun datang menjelang.

?????

Mentari mulai keluar dari persembunyiannya. Ia bersinar terang, sayang Mala dan dua orang pria yang ada di dekatnya sekarang tak dapat menikmati sinar mentari karena mereka ada di ruang bawah tanah.

“ayah, Mala haus?”

Professor Riski menghidupkan kran air yang ada di dekat situ. Ia menampungnya dalam gelas kaca.

“untung dulu aku berinisiatif untuk membuat ruang bawah tanah dengan segala perlengkapan hidup. Jika tidak ada ruangan ini, mungkin kita sudah menjadi santapan tanaman-tanaman ganas di atas”, seru jake

Ayah Mala memberikan air tersebut kepada Mala. “minumlah!”

“air ini belum dimasak”, kata Mala

“minumlah dari pada kamu kehausan dan mati di sini”. Mala tak segera meminumnya. Dia mengamati air yang sekarang ada di gegamannya. “tunggu apa lagi? Ayo cepat minum!”

“tidakkah ayah merasa aneh dengan air ini?”

“kenapa harus merasa aneh?”

“ayah seorang professor ‘kan? Masa ayah tidak bisa membedakan antara air jernih yang boleh dikonsumsi dengan yang tidak?”. Professor Riski mengambil gelas kaca dari tangan Mala. Dia mengamati air tersebut

“air itu tidak jernih, melainkan sedikit kehijau-hijauan”. Ayahnya tak memberikan respon apapun. “lihatlah lebih dekat lagi yah!”

Professor Riski memperlihatkan air itu kepada Jake. Dia mulai mengamati air yang kini berada di depan matanya. “iya professor, kalau diamati lebih detail warnanya adalah kehijau-hijauan dan baunya seperti bau urea bercampur Amonium Sulfat”

“dimana terakhir kali kamu meletakkkan cairan hasil penelitian kita?”

“oh my god”. Jake mulai teringat sesuatu. “aku menaruhnya di samping kran bak utama penampungan air dan mungkin tak sengaja jatuh ke dasarnya. Maafkan aku professor”

“sudahlah”

“ini semua salahku’

“tak usah menyalahkan diri sendiri. Kini semuanya sudah terjawab. Satu tetes cairan itu membutuhkan waktu tiga minggu untuk meluruhkannya pada air dengan takaran air sebanyak satu ember”

“dan bisa membuat percobaan kita pertama, mawar merah itu tingginya dua kali lipat setiap minggunya”

“dan satu lagi, apa kalian tidak memperhatikan postur tubuh kalian?”, Tanya Mala. “ayah, bukankah kita hanya tidak bertemu tiga bulan? Perhatikan postur tubuh ayah, dulu tinggiku setelinga ayah dan sekarang sebahu ayah. Tidak mungkin ‘kan aku mengalami irreversible[2] atau seorang pria yang mau berkepala empat mengalami pertumbuhan secepat itu?”

“cukup masuk akal. Ayah juga mengkonsumsi air yang ada di sini.”

“jadi air tersebut juga dapat membuat pertumbuhan cepat pada manusia”, kata Jake dengan bangga. “Mala, bagaimana kamu bisa secerdas itu?”

“Om Jake, ayahku saja seorang professor yang sangat mengerti tentang manusia serta organ tubuhnya, tanaman-tanaman, hewan-hewan dan lain sebagainya, masa putri semata wayangnya ini tidak mewarisi kecerdasan ayahnya?”

Jake hanya tersenyum. “professor, haruskah kita memperkenalkan karya kita ini pada publik?”

“jangan gegabah. Kita tidak dapat membiarkan air-air itu semakin membuat tanaman-tanaman di sini menjadi lebih besar dan tidak terkalahkan”

“kita harus menutup bak-bak penampungan yang ada?”, kata Mala

“bagaimana bisa? Hal itu akan sangat berbahaya bagi kita. Kita tidak bisa menebangi seluruh tanaman dengan pedang ini saja”. Professor menunjuk pedang silver yang berada di atas meja.

“bak penampungan utama?”, Tanya Mala pada dirinya sendiri. “bukankah air-airnya mengalir ke bak-bak penampungan yang lain”. Ayahnya dan Jake masih bergelut dengan pikirannya sendiri. “jika menutup satu persatu bak penampungan adalah hal yang berbahaya, kenapa kita tidak menutup aliran utamanya saja?”

“Setelah kita menutup bak penampungan utama, kita keluar dari gedung ini dan meledakkannya. Lama-kelamaan air yang ada pada bak penampungan yang lain akan kering dengan sendirinya atau ikut hancur juga”, lanjut Mala

Professor berfikir sejenak dan menoleh kepada Om jake. “apa kau berfikir sama denganku?”. Om Jake menganggukkan kepalanya. “ide yang bagus Mala”

“ide yang bagus? Kapan Mala memberikan ide, seingat Mala tadi Mala hanya asal bicara saja”

Ayah Mala mengambil ranselnya yang tersimpan di dalam lemari. Dia mengemasi barang-barang yang dianggapnya penting dan memasukkannya begitu saja. Dia juga melemparkan ransel Mala yang isinya masih tetap sama seperti kemarin.

“kita mau kemana yah?”

“bawa ranselmu dan kita akan segera pergi dari sini”

“professor lalu bagaimana denganku?”

“apa kamu mau tetap di sini bersama para tanaman-tanaman itu? Lalu aku akan meledakkan kalian?”

“lah… jangan professor, aku ‘kan belum menikah”

“kalau begitu cepat berdiri dengan menggunakan alat ini”. Professor Riski menyerahkan alat bantu jalan.

Kemudian ketiga manusia yang siap hidup dan siap mati tersebut, berjalan menaiki anak tangga. Professor membuka pintu di atasnya. Dengan berhati-hati mereka keluar dari sana. Professor sudah siap dengan pedang silver yang diangkatnya ke udara.

Tanaman-tanaman Dionaea muscipula[3] kecil telah menunggu mereka. Tak segan-segannya mereka membuka dan menutup lobus[4]nya, naluri pemangsa dagingnya seperti mulai keluar. Dengan bersemangat Jake menginjak mereka dengan satu kaki.

“om… hentikan, kau menyakiti mereka!”

“biar saja, kapan lagi aku bisa menginjak mereka seperti ini lagi. Sebelum mereka semakin besar dan memakan kakiku yang lain”

“kamu mau kemana Mala?”, Tanya ayahnya

“keluar yah?”

“jangan lewat pintu depan. Tanaman berkepala ular menunggu kedatangan kita. Kamu mau di makan dia?”, guman ayahnya. “lebih aman jika kita keluar lewat pintu belakang sekaligus kita akan menutup bak penampungan air utamanya”

“jadi benar ayah akan melakukan itu?”. Professor Riski hanya diam.

Sebuah aroma yang sangat harum membuat langkah Mala terhenti. Dia mencium aroma itu lekat-lekat. Seraya memejamkan mata, dia melangkahkan kakinya menuju aroma tersebut.

“Mala”, seru ayahnya dengan menarik Mala ke belakang

“ada apa yah?”, tanyanya tanpa rasa bersalah

“apa yang kamu lakukan? Hampir saja kamu akan menjadi santapan spesies itu?”, sahut Om Jake

“tanaman apa itu om?”

“tanaman itu berasal dari penggabungan tiga tanaman, yaitu Drosophyllaceae lusitanicum[5], sarracenia[6] dan Dionaea muscipula. Kami baru saja berhasil menggabungkan ketiganya dan mereka sekarang sudah berubah menjadi moster”, gumam Om Jake dengan melanjutkan perjalanan.

“kalau aku boleh tahu, kalian beri nama apa tanaman itu?”

“kami belum sempat menamai mereka”

“perhatikan langkahmu, Mala”, tegur ayahnya

Di hadapan mereka, kini menghadang berbagai jenis tanaman, tak jelas tanaman apa saja yang ada disana. Tanaman-tanaman tersebut saling melilitkan batangnya dan daunnya seakan bertempur.  Dengan cekatannya professor Riski segera menebangi mereka, tanpa kenal lelah dia terus menebangi mereka hingga tak tersisa sedikit pun.

Mereka pun akhirnya sampai di depan bak penampungan utama. Professor Riski melihat ke dasar bak penampungan. Di temuinya sebuah cairan hijau yang mengental di sana.

“itu dia cairannya”, ucapnya

“tidak bisakah kita mengambilnya sedikit?”, Tanya Jake

“pasti akan sulit untuk mengambilnya”

“ayah, aku tidak mau berlama-lama di sini. Hal ini membuat aku takut”.

Tanpa banyak bicara, professor segera menyumbat pipa yang menyalurkan air ke seluruh bak penampungan. Setelah menghabiskan banyak waktu. Dia pun berhasil menyumbatnya.

Dia memimpin yang lain berjalan di depan untuk meninggalkan tempat tersebut. Professor mengeluarkan pedangnya lagi. Dia memotong sulur-sulur yang menutupi daun pintu. Pintu pun terbuka.

Mereka keluar dengan wajah ceria serta bahagia. Seolah semua beban yang menumpuk di pundaknya kini sudah terangkat. Mereka berdiri tidak jauh dari gedung itu.

“kalian jalanlah duluan, setelah melemparkan ini aku akan menyusul!”, perintah professor

Jake tak juga melangkahkan kakinya. Dia masih berdiri di tempat dengan Mala yang setia menemaninya. “pergilah dulu Jake!”

“tidak bisakah kita hanya meninggalkan mereka saja? Tanpa harus meledakannya?”, Tanya Jake dengan tatapan mata ketulusan

“Jake”

“mereka juga makhluk hidup. Mereka berhak hidup, bisakah jangan ledakkkan mereka?”. Hati professor mulai goyah

“apa yang kalian lakukan?”, Tanya Mala dengan berkacak pinggang

“professor, bisakah mereka tetap hidup? Biarkan mereka hidup apa adanya dan dengan caranya sendiri. Siapa tahu? Setelah lama tidak makan daging, tanaman-tanaman itu kembali menjadi tanaman seperti biasanya”. Professor Riski semakin tidak tega untuk meledakkan mereka. “kasihan mereka, seharusnya kita harus menjaganya bukan meledakkannya”

Mala menarik nafas panjang. Dia berjalan kearah ayahnya dan segera meraih bom yang ada di kepalan tangan ayahnya. Dia melemparkan bom tersebut ke arah gedung. Gedung tersebut pun meledak. Suara ledakkan menggema ke seluruh hutan bahkan sampai ke pemukiman.  Asap menggumpal pun menghambur ke udara dan membentuk awan-awan gelap di cakrawala.

“mereka memang makhluk hidup, tetapi jika mereka tetap dibiarkan maka berapa banyak orang yang akan meninggal? Berapa banyak anak-anak yang tidak berdosa harus kehilangan ayah atau ibu mereka hanya karena ulah kalian?”, guman Mala. “Om Jake, ingatlah salah satu dari mereka telah memakan kaki om, karnivora tetaplah karnivora. Mereka tidak akan berubah”

Penduduk pun mulai berdatangan. Ekspresi keingintahuan tergambar jelas di wajah mereka.

“ada apa ini?”, Tanya salah satu dari mereka. Professor pun menjelaskan yang terjadi kepada mereka, termasuk kematian si pemandu gunung. “ikutlah bersama kami! Istirahtalah di pemukiman kami, bersihkan diri dan pulihkan stamina. Kalian sudah melakukan hal yang benar. Tapi tanaman-tanaman itu tidak akan tumbuh lagi ‘kan?”

“ya….”, jawab professor .”Dan satu lagi, jangan dekati gedung itu apalagi mengambil barang yang tersisa dari sana, biarkan waktu yang akan mengubur semuanya”

?????

 

 


[1]Cryptobotany adalah studi tentang berbagai tanaman eksotik yang tidak diyakini ada oleh  komunitas ilmiah

[2]Irreversible adalah sifat pertumbuhan yang tidak bisa kembali seperti semula. Seperti: pertambahan berat tubuh, pertambahan tinggi tubuh dan lain sebainya.

[3] Dionaea muscipula atau yang disebut dengan The Venus Fly Trap adalah Tanaman penangkap dan pencerna mangsa binatang (terutama serangga dan arakhnida) dengan perangkap yang dibentuk oleh terminal masing-masing bagian dari tanaman daun.

[4] Lobus adalah alat pada tanaman yang berfungsi untuk menjebak mangsanya.

[5] adalah tanaman asli Portugal, Spanyol dan Maroko, dan merupakan salah satu dari beberapa tanaman karnivora yang tumbuh di tempat kering, tanah alkalin. Tanaman ini memiliki aroma yang berbeda, yang menarik mangsa serangga di atasnya.

[6] Tanaman ini hidup di rawa-rawa asam di wilayah timur dan selatan Amerika Serikat, Kanada. Serangga tertarik oleh nektar seperti sekresi di bibir pitchers, serta kombinasi warna dan aroma.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Gedung Tanaman Raksasa

  1. xeno says:

    Halo, Lisma. Salam kenal. :)

    Wah wah, ini cerita fiksi ilmiah yang penuh dengan istilah nama-nama tumbuhan dan penjelasan singkatnya. Imajinasinya liar. Hiiy…. ngeri juga kalau beneran ada tanaman raksasa suka menangkap manusia. >_<

    Tapi, untuk ukuran sebuah cerita, mungkin kemunculan info-info ilmiah itu disesuaikan sesuai kebutuhan saja. Kan aneh kalau di situasi genting, lagi mengendap-endap melewati monster tanaman, ketiga orang dalam cerita ini malah sibuk membahas nama latin tumbuhan di sekitar mereka. Lebih pas kalau mereka bertiga bersikap sigap–berhati-hati dan tidak banyak bicara kecuali perlu.

    Selain itu narasinya juga masih bisa dibuat lebih teratur lagi di setiap situasi yang terjadi. Begitu juga benang merah setiap kejadian, seperti kenapa ayah Mala tidak menghubungi yang berwajib saat tumbuhan-tumbuhan mulai mengganas, lalu dari mana dia mendapatkan bom, dll.

    Oh, iya. Sedikit penasaran nih. Natrium Sulfat dan Urea itu sama-sama pupuk penghasil Nitrogen untuk pertumbuhan tanaman, kan? Hmm, apa kedua kimia itu benar-benar bisa juga mempengaruhi pertumbuhan tubuh manusia secara cepat?

    Ah, itu saja dulu. Ide ceritanya menarik lho. Jadi tetap semangat menulis, ya. :)

  2. Maaf, sebelumnya saya tanya, kamu punya novel kan di rumah? Coba cek penulisan tanda baca dan sebagainya, karena tulisanmu masih tidak sesuai itu. Harus diperhatikan lagi ya. Untuk ceritanya, saya tidak berhasil menangkap, belum cukup memikat saya untuk melanjutkan baca. Well, harus terus berlatih menulis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>