Hari Jumat Tanggal 13

HARI JUMAT TANGGAL 13

karya Indra Pande

Pernahkah engkau berpikir, apapun yang terjadi aku harus tetap hidup? Pernahkah engkau ingat akan dosa yang telah engkau lakukan? Dan pernahkah engkau berharap untuk dapat satu kesempatan lagi untuk memperbaikinya? Hal itu kerap terjadi dengan kita, namun bagaimana jika untuk mendapatkan kesempatan itu kau harus membunuh orang lain? Akankah kau melakukannya?

Kembali beberapa hari yang lalu, saat semua hal itu sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Sebuah Urban Legend cukup populer di kotaku ini, sebuah kota yang cukup maju. Kota metropolitan dimana berbagai macam orang bisa dijumpai disini.

Dewa kematian, ya Urban Legend kotaini mengatakan, setiap Jumat tanggal 13 Dewa Kematian akan turun dan mengambil nyawa anak muda yang telah melakukan dosa yang berat. Sayang sekali, aku sama sekali tidak percaya tentang hal itu, atau setidaknya sampai sebuah telepon berdering,

“AKU AKAN MATI!!”

“Apa yang kau bicarakan Tony?” tanyaku sambil mengerutkan alis.

Urban Legend itu…,itu nyata!!” suara Tony semakin panik.

“Tenang Ton, aku tidak mengerti yang kamu bicarakan.” aku mulai kesal.

“Bagaimana jika kamu kesini saja, kita bicarakan langsung tentang hal itu.” sambungku.

“Oh baiklah!”

Urban Legend itu nyata? kata-kata Tony masih terngiang dikepalaku. Aku rasa tidak ada gunanya kupikirkan, lebih baik aku tunggu hingga tony datang saja.

Aku duduk di salah satu sofa favoritku di ruang tamu, sambil membaca komik yang kusuka. Baru beberapa halaman aku lewati, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara bel yang berbunyi.

Aku membuka pintu perlahan, dan ternyata itu Tony. Aku sedikit kaget, rumah Tony berada cukup jauh dari rumahku, namun selang beberapa menit ia telah tiba dirumahku.

“Aku akan mati!” seru Tony.

“Ssst, jangan berisik disini, ayo kita kekamarku dulu.” ujarku menenangkan Tony.

Perlahan kami berjalan ke kekamarku, sambil berjalan kulihat Tony sangat gugup dan panik. Ia kerap kali melihat ke berbagai arah berbeda sambil berkeringat. Sampainya di sana aku duduk di atas kasurku dan mulai bertanya,

“Baiklah, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Masih gugup, perlahan tony duduk dikursi belajarku, hingga kemudian Ia berkata,

“Jadi begini vin, tadi sepulang sekolah saat aku memeriksa isi dompet ku, aku menemukan sesuatu. Ini dia….”

Tony menyodorkan sebuah kertas hitam, di atas kertas itu ada tulisan berwarna putih menyala yang bertuliskan,

Kamu akan MATI

“Jadi, hanya karena ini saja kamu percaya?” tanyaku kebingungan.

“Sebenarnya tidak Kevin, tapi kamu lihat sendiri kan tulisannya menyala bagai api dan lagi, besok itu Hari Jumat Tanggal 13. Semuanya masuk akal!”

Aku mengeleng-gelengkan kepalaku,

“Justru karena besok itu tanggal 13, makanya hal ini bisa terjadi. Pasti ada teman kita yang iseng.”

“Tidak mungkin!” Tony membantahku,

“Aku ingat betul, nggak ada satu orangpun yang sempat menyentuh dompetku hari ini.”sambungnya”

Aku terdiam.

“Terus, kalau itu memang benar. Kenapa kamu yang terpilih? Urban Legend itu bilang, yang terpilih adalah anak muda yang telah melakukan dosa yang berat.”

Tony terdiam sesaat, ia tampak semakin gugup.

“Kamu berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun kan vin?”

“Tentu saja, kita kan sudah berteman lama.” jawabku

“Jadi begini, Aku sering melakukan penipuan di internet. Aku bahkan sudah mendapatkan keuntungan lebih dari cukup untuk membeli mobil seperti milik ayahmu.”

“Astaga, Tapi kenapa selama ini kamu diam aja?” tanyaku dengan sedikit terkejut.

“Aku tidak berani mengatakannya.”

“Baiklah, kalau kamu memang percaya dengan Urban Legend itu, kita lihat saja apa yang akan terjadi besok. Pasti tidak akan terjadi apa-apa. Percaya lah padaku!” seruku meyakinkan Tony.

Ia menunduk sesaat kebingungan, hingga kemudian ia menjawab

“Baiklah, aku percaya padamu Kevin, kalau terjadi sesuatu padaku aku ingin kamu menyampaikannya pada keluargaku.”

“Baiklah!” jawabku tegas.

Tony pulang kerumahnya, dan aku kembali bertanya-tanya dalam hatiku. Apa mungkin Urban Legend itu  nyata?

***

Bulan telah terbenam dan matahari telah kembali menampakan sinarnya. Pagi yang cerah siap menyambut hari ini, dimana hari ini merupakan hari Jumat tanggal 13. Seperti biasa, aku bersiap berangkat ke sekolah,hingga akhirnya aku dikagetkan dengan sebuah kertas yang kutemukan didalam tasku. Kertas itu benar-benar mirip dengan kertas yang ditunjukkan kemarin oleh Tony, namun perbedaanya, di kertasku bertuliskan,

Kamu Akan MATI

23:45:03

Waktu detik dalam kertas itu terus bergerak mundur seiring aku menatapnya. Aku mulai panik. Aku bergegas pergi kesekolah, aku harus menemui Tony untuk menanyakan hal ini. Aku tidak tahu bagaimana kertas itu bisa ada di tasku, apa mungkin aku sendiri yang telat menyadarinya. Saat aku membuka pintu untuk keluar dari rumahku, aku dikagetkan oleh sebuah pisau yang tiba-tiba melesat menuju arahku.

Aku beruntung, pisau itu tidak mengenaiku, namun hanya tertancap tepat di pintuku. Aku benar-benar kaget, keringatku mulai bercucuran, dan nafasku semakin kencang. Tubuhku serasa kaku, aku mendelik ke arah pisau itu datang, disana aku melihat seorang pria berdiri sambil memegang sebilah pisau lagi. Aku semakin panik.

“Apa-apaan ini!?” aku berteriak sekeras mungkin.

Lelaki itu terlihat sedikit kebingungan.

“Apa kamu tidak tahu bocah? permainan kematian telah dimulai. Hal itu sudah tertulis jelas di kertas yang engkau dapat kan?!”

Aku melihat lagi kertas milikku, dan kemudian aku membalikkannya. Ternyata dibelakang kertas itu ada sederet kalimat lagi.

Permainan Kematian telah dimulai

Satu yang tersisa akan mendapatkan

Satu kesempatan baru

Aku panik dan berkeringat setengah mati. Kertas milik Tony yang kulihat kemarin tidak seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi aku bergegas lari keluar halaman rumahku. Lelaki itu melempar lagi pisau miliknya, namun aku berhasil menghindarinya. Aku berlari dan terus berlari dihantui dengan perasaan ketakutan dikejar oleh seorang pembunuh.

Aku berlari sekuat tenagaku menuju arah sekolah. Selama perjalanan, aku tidak melihat siapapun, jalanan terasa sepi, dan kota terasa seperti kota mati. Aku melihat kebelakang, nampaknya lelaki itu tidak lagi mengejarku. Apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa hal ini bisa terjadi padaku. Sambil tetap berlari, Aku kembali mencoba memikirkan Urban Legend itu, kalau memang aku yang terpilih, mengapa bisa? Aku tidak ingat aku pernah melakukan dosa yang berat. Dosa paling berat yang kulakukan mungkin hanya saat aku membuat Ibuku menangis. Tidak, tunggu. Aku teringat sesuatu, aku pernah menipu salah satu kerabatku saat Natal tahun lalu yang berakibat kematian seluruh anggota keluarganya, tapi aku maupun saudaraku tidak dihukum dan itu hanya dianggap kecelakaan biasa. Apa mungkin karena itu? Aku tetap berlari, nafasku semakin terengah-engah, dan beberapa saat kemudian air mata berlinang di pipiku, aku benar-benar ketakutan. Aku tidak ingin mati, aku menyesal telah melakukan semua itu. Aku ingin memperbaiki semuanya.

Di ujung jalan yang kulalui ini, aku menjumpai sosok orang lain, aku memperhatikannya dari kejauhan, ternyata itu Tony. Ia berdiri seorang diri dengan sosok mata yang dingin, dan kepala menunduk, perlahan aku mendekatinya,

“Tony, itu kamu kan? Apa yang sebenarnya terjadi. Apakah kamu tahu, aku juga dapat kertas yang mirip denganmu.”

Sesaat Tony terdiam, hingga kemudian dengan suara parau ia berkata,

“Ini semua salahmu, karena kamu tidak mempercayai kata-kataku semua jadi begini! Aku tidak bisa lari lagi, sekarang aku harus membunuh sembilanorang lainnya agar tetap hidup!!”

Perlahan ia merubah pandangannya kearahku, dengan mata yang penuh isak tangis ia menatapku dengan tajam.

“Sembilan orang? Aku tidak mengerti maksudmu…” ujarku dengan suara pelan.

Jujur saja aku sedikit merasa takut melihat Tony seperti itu, ia nampak seperti orang yang berbeda, bukan seperti Tony yang kukenal.

“TIDAK MENGERTI!!? Bacalah kertas itu! Di sudut kertas itu tertulis jumlah peserta permainan ini, yang tadi tigabelas kini tersisa hanya sembilan! Jumlah itu terus berkurang dan permainan ini akan berhenti jika hanya satu orang yang tersisa!!”

Tony berseru dengan keras, emosinya mulai labil, ia seperti orang gila.

“Saat ini kita ada di dunia yang berbeda, orang yang memiliki kartu ini tidak bisa melihat orang lain kecuali peserta permainan itu sendiri, hahaha sungguh menggelikan bukan?”

Tony perlahan mengeluarkan sebilah pisau dan mengangkat pisau itu tinggi-tinggi, hingga kemudian ia kembali berseru.

“Peserta lain yang saat ada disini hanyalah kamu Kevin, Kamu tahu apa artinya? Itu artinya Aku harus membunuhmu disini sekarang juga,  sebelum aku dibunuh oleh yang lainnya!!”

Aku kaget melihat perubahan Tony yang seperti itu, aku perlahan memundurkan langkah kakiku.

“Kamu tidak serius kan Tony?”

“Serius? Tentu saja. Apa lagi yang bisa kulakukan memangnya?”

Aku semakin panik, aku tidak tahu kenapa keadaan akhirnya jadi seperti ini.

“Tenanglah Tony. Ayo kita pikirkan bersama, pasti ada jalan keluarnya, percayalah padaku!”seruku pada Tony.

“Tidak mungkin ada jalan keluarnya, ini adalah kutukan untuk kita atas dosa kita yang berat. Kamu memberitahuku untuk percaya padamu? Menggelikan, memangnya dimana kamu kemarin saat aku menyuruhmu untuk mempercayaiku?”

Aku tidak bisa membalas kata-kata Tony, perkataannya membuatku terdiam dan tersayat. Aku rasa dia memang benar, seharusnya kemarin aku mempercayainya, bukannya malah menyangkalnya. Kini inilah yang terjadi, tanpa bisa berpikir panjang kami telah di buru oleh orang lain yang ingin membunuh kami dan terlebih lagi ada waktu yang membatasinya. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi.

Aku terdiam, hingga akhirnya aku menyadari Tony telah berlari kearahku sambil menghunus pisau yang ia bawa. Seketika aku sadar dan panik, akupun bergegas membalikkan badan dan berlari.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan, kini aku hanya bisa berlari dan terus berlari. Keringatku tak mau berhenti, dan detak jantungku tetap berdegup dengan kencang. Aku melihat kebelakang, dan nampak Tony tetap mengejarku dengan pisau yang ia bawa. Matanya memadang penuh dengan nafsu membunuh. Aku tidak tahu kalau ternyata Tony benar-benar ingin hidup dan rela untuk membunuhku, sahabatnya.

Sesaat berlari, akupun menyadari sesuatu. Jalan yang kulalui ini hanya akan membawaku kembali ke tempat orang yang pertama kali kutemui di depan pintu rumahku. Aku kebingungan, kulihat sekeliling, ada banyak bangunan pertokoan di pinggir jalan. Aku melihat Tony semakin mendekatiku, tidak ada waktu lagi untuk berpikir, akupun bergegas masuk ke salah satu  toko. Beruntung, pintu Toko itu terbuka. Aku tidak peduli lagi dengan benda-benda yang ada didalamnya. Aku berlari dengan sangat ketakutan, banyak benda-benda yang kutabrak di dalam toko itu. Aku berusaha untuk mencari tempat untuk bersembunyi di dalam toko itu. Aku naik ke lantai 2 dan bersembunyi di salah satu ruangan. Aku tidak tahu ruangan apa ini, ruangan ini nampak gelap hanya disinari oleh sinar matahri remang-remang yang terlihat dari luar, namun tidak cukup untuk membuat ruangan ini terang karena tertutup oleh sebuah gorden.

Aku bersembunyi di balik meja yang ada diruangan itu, aku jongkok sambil memegang kedua kakiku. Disini aku berusaha untuk menenangkan diriku dan mengatur nafasku.

Aku kembali terkejut, saat aku mendengar sayup-sayup langkah kaki mendekati ruangan ini. Apa mungkin Tony telah menemukanku? Aku terdiam, dan berusaha untuk tidak membuat suara apapun. Semakin lama, suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas. Apa yang harus kulakukan jika Tony menemukanku?

Suara pintu yang dibuka dengan keras terdengar. Diikuti langkah kaki yang semakin terdengar jelasmengarah ketempatku bersembunyi, keringatku semakin banyak bercucuran dan jantungku berdetak semakin kencang. Aku benar-benar ketakutan.

Anehnya, beberapa saat kemudian aku merasa ruangan ini telah kembali kosong. Aku berusaha memberanikan diri untuk keluar dari persembunyianku dibalik meja ini. Aku melihat sekililing ruangan ini, pintu yang tadinya tertutup tampak terbuka.Nampaknya tadi memang ada seseorang kemari. Sesudah merasa sedikit tenang, aku melangkah keluar ruangan ini untuk mencari cara untuk memenangkan permainan ini.

Baru selangkah kakiku keluar dari pintu ruangan ini, aku sudah dikagetkan dengan sosok pria yang membawa sebuah senapan. Aku sangat kaget dengan apa yang kulihat, pria itu telah berada di posisi siap menembakkan senapannya di kepalaku. Ternyata selama ini dia bersembunyi untuk menungguku keluar. Seketika aku terkaget dan tak bisa berbuat apa. Salah langkah dan peluru senapan itu pasti akan melubangi kepalaku. Keringatku kembali bercucuran.

“Akhirnya!” teriak pria itu sambil tersenyum puas.

Aku hanya terdiam dan tak bisa berbuat apa, aku melirik ke arah jemari tangannya yang telah siap menarik pelatuk senapan itu. Keringatku semakin deras bercucuran, dan begitu juga dengan detak jantungku. Sesaat terpikir berbagai macam fantasi dalam otakku. Kekuatan, keajaiban, hal-hal yang aku tahu tidak akan pernah terjadi. Otakku seolah melakukan permainan pikiran, sebelum akhirnya aku akan tewas dalam kenyataan. Dari semua yang aku miliki, kini yang tersisahanyalah penyesalan. Seandainya, aku berpikir seandainya aku dapat satu kesempatan lagi. Aku pasti tidak akan pernah melakukan dosa-dosa apapun lagi, dan aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Larut dalam pikiran angan-anganku, aku mulai meneteskan air mata, air mata yang saat itu kupikir akan menjadi air mata terakhirku dalam hidup ini.

Namun ternyata saat kupikir ia akan menarik pelatuk itu, tiba-tiba ia terjatuh. Aku sangat kaget.Mataku mendelik sambil terlinang air mata. Apa yang terjadi, sesaat aku tidak mengetahuinya hingga akhirnya aku melihat Sosok seseorang dibelakang pria itu. Ternyata dibalik pria itu ada Tony. Ia membawa sebilah pisau yang berlumuran darah, sekejap aku langsung melirik kembali ke arah pria yang membawa senapan itu. Ternyata ia telah ditusuk dari belakang oleh Tony. Saat itu aku benar-benar bersyukur, aku yang hampir mati diselamatkan oleh Tony.

Pria yang kusangka telah tewas itu tiba-tiba menggerakkan tangannya, ia berusaha menggapai kembali senapan yang terlepas dari tangannya saat Tony menusuknya. Saat itu aku kaget, namun aku lebih kaget lagi ketika aku melihat Tony maju perlahan kearah Pria itu sambil menusukkan kembali pisaunya kebadan pria itu berkali-kali hingga pria itu benar-benar tewas. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

“…..Te….te..rimakasih Tony…” ujarku kepada Tony pelan.

Bukannlah sebuah ucapan balasan yang kudapat, namun ayunan sebuah pisau yang menggores tanganku.

“Arggggh!!!!” aku berteriak kesakitan.

“Kamu pikir aku melakukan itu untuk menolongmu? Jangan membuatku tertawa Kevin”

Sosok Tony kini benar-benar terlihat seperti pembunuh berdarah dingin, dengan pisau penuh darah ditangan kanannya. Aku sambil merintih kesakitan memegang tangan kiriku yang terluka berusaha untuk menjauh perlahan dari Tony.

“Kenapa Tony!? KENAPA!!!?” aku berteriak sekencang mungkin.

“Kenapa? Tentu saja karena aku ingin hidup!” Tony membalas teriakkanku.

“Masih banyak hal yang ingin kulakukan, aku masih ingin kaya, ingin punya istri, ingin mencoba banyak hal. Kalau kamu pikir aku akan melewatkan kesempatan ini hanya karena kamu sahabatku, kamu salah besar Kevin!!!”

Aku pernah mendengar bahwa saat manusia berada diambang kematiannya, maka saat itulah ia akan menampakkan sosoknya yang sebenarnya. Jadi inilah sosok Tony yang sebenarnya, sebuah kerakusan yang berwajah manusia. Aku tidak bisa menyangkal hal itu karena memang aku juga merasakan hal yang sama. Aku masih ingin hidup, dan ingin memperbaiki semua kesalahanku.

Aku menangis di tengah kebingungan. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku ingin hidup namun dilain pihak aku tidak bisa membunuh sahabatku sendiri. Mengapa Tuhan memberikan takdir yang kejam untuk kami. Apakah ini hukuman untuk para pendosa?

“Bagaimanapun aku akan keluar dari dunia ini dan hidup kembali, tinggal kamu seorang Kevin. Dengan membunuhmu maka aku akan kembali ke dalam kenyaatan yang disebut hidup!”

Tinggal aku seorang? Sesaat aku berpikir, dan aku teringat dengan kertas hitam itu. Aku melihat di sudut kertas itu tertulis angka 2. Tony benar, peserta yang tersisa hanya dua orang yaitu aku dan dia. Itu berarti jika aku bisa membunuh Tony sekarang, aku akan mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahanku. Aku semakin larut dalam kegelapan. Akankah aku mengabaikan semua insting manusiawiku dan memilih untuk menjadi pembunuh berdarah dingin seperti Tony demi satu kesempatan itu. Akankah aku puas dengan hal itu? membunuh sahabatku demi mencapai tujuan ku yang egois.

Tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba aku melihat Tony menerjangku sambil menghunus pisaunya. Aku sangat kaget dan berusaha untuk menghindarinya. Aku beruntung aku bisa menghindarinya, namun kini ia kembali berlari kearahku. Seketika aku mengambil tas dipunggungku dan melemparnya kearah Tony sekuat tenagaku dengan tangan kananku. Tas itu berhasil menghantam Tony tepat diwajahnya. Aku memanfaatkan kesempatan itu, saat ia kehilangan ku untuk beberapa saat. Aku berlari sekencang mungkin dan melajutkannya dengan menendang Tas yang ada tepat dihadapan muka Tony itu sekuat tenagaku. Tony terlempar dan pisau yang ada ditanganya terlepas. Aku berpikir saat itulah kesempatanku untuk membunuhnya. Aku bergegas mengambil pisaunya yang terlepas, saat aku akan menghunuskan pisau itu kepadanya, terlihat ia telah berdiri dan perlahan mundur menjaga jarak dariku.

“Kevin, kamu tidak akan membunuhku kan?” tanya Tony lemas.

Aku berada diantara dua pilihan yang berat, entah apa yang harus kulakukan. Tony terlihat semakin ketakutan, ia mulai berkeringat dan tatapannya mulai berubah cemas. Aku menghentikan langkahku, dan berkata,

“Baik Tony, aku akui aku tidak bisa. Bagaimana kalau kita pikirkan cara yang….”

Belum selesai aku mengakhiri kata-kataku, tiba-tiba aku melihat Tony secepat mungkin berlari kearah senapan milik Pria yang ia bunuh tadi. Seketika aku kaget, dan aku mengayunkan pisauku. Tony berhasil menghindari luka fatal dari ayunan pisauku, ia hanya tergores dibagian punggungnya. Aku sedikit terlambat mengayunkan pisauku. Sambil berteriak ia meraih senapan itu dan berusaha mengarahkannya padaku, terdengar suara letusan senapan api itu. Aku sangat kaget, aku pikir senapan itu telah mengenaiku, ternyata karena luka yang didapat Tony, ia tidak sanggup membidik dengan tepat. Menyadari hal itu aku bergegas menghampirinya dan menendang senapan itu menjauhinya. Kini ia benar-benar tak berdaya.

“KEVIN!!!” Tony berteriak.

“Jika kamu tidak mau membunuhku, maka aku yang akan membunuhmu. Aku akan cari cara untuk membunuhmu sebelum waktu itu habis!”

Tony benar-benar terlihat gila, namun mendengar kata-kata Tony aku menyadari sesuatu, bagaimanapun tidak ada cara untuk kami berdua lolos dari permainan ini, salah satu harus mati. Aku menarik dalam-dalam nafasku dan menyiapkan diriku untuk keputusan yang akan aku buat.

“Maafkan aku Tony, Maaf….”

***

Aku berhasil lepas dari mimpi buruk itu. Aku tersadar diatas tempat tidurku, seketika aku ingat hal yang telah terjadi aku langsung bergegas bangun dan melihat sekeliling. Aku menanyakan pada orangtua ku, dan ternyata hari ini masih hari jumat tanggal 13, sesaat aku kaget. Aku berpikir kembali, apakah kejadian yang kualami itu hanyalah mimpi? Lalu mengapa itu bisa terasa begitu nyata?

Berusaha untuk melupakan hal itu, aku bergegas berangkat kesekolahku. Sepanjang perjalanan aku melihat ada banyak orang dan kendaraan. Aku yakin kini aku tak lagi bermimpi. Aku telah kembali kedunia nyata.

Saat aku tiba disekolah, aku menanyakan pada temanku bagaimana kabar Tony. Aku sangat terkejut. Tidak ada satupun orang yang mengingat siapa itu Tony. Apa maksud semua ini? Apa itu artinya kalau kejadian itu memang nyata? Dan orang-orang yang mati saat kejadian itu akan benar-benar lenyap dari kehidupan ini? Bahkan dari ingatan orang-orang. Sungguh menyedihkan.

Aku berpikir bagaiamana kalau waktu itu yang mati adalah aku, apakah aku juga akan terlupakan? Lalu aku akan pergi kemana? Dan apa yang aku akan lakukan? Ini lebih buruk dari kematian. Jika saat mati engkau masih bisa hidup dalam kenangan dihati orang-orang, namun ini bahkan tak satupun yang bisa mengingatmu. Walau tampaknya aku egois, tapi aku merasa benar-benar bersyukur bahwa akulah yang masih hidup. Kini aku punya satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan menjadi sosok manusia yang lebih baik lagi dan aku tak ingin menyesal akan perbuatanku lagi.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Hari Jumat Tanggal 13

  1. negeri tak pernah-48 says:

    Hmmm.. Mengingatkan pada Hunger Games. Kalau dalam cerita ini, kurang kuat alasan kenapa hanya orang muda yang masuk dalam permainan itu. Lalu sebenarnya kenapa kertasnya Tony beda? Dan kenapa tiba-tiba dia tau peraturan permainannya?

    Kalau plotnya lebih digarap lagi, pasti cerita ini bisa sangat seru. Semangat :)

    • Indra Pande says:

      makasi banyak komentar nya. hehe ini cerita pertama saya, masih kurang pengalaman. sebenarnya masih banyak yang pengen dijelasin tapi karena keterbatasan kata jadinya agak kepaksa gitu. btw thx bgt komentarnya :)

  2. gurugumawaru gurugumawaru says:

    hmm…. sebenernya ide ceritanya menarik, seriusan! Ide soal ‘malaikat maut; bakal dateng buat nyabut nyawa seseorang dengan dosa terberat tiap hari jumat tanggal 13 itu beneran bagus. Tapi begitu Kevin dapet kertas juga, dan ternyata mereka harus saling membunuh, saya langsung turned off.

    Bukan, bukan karena mirip Hunger Gamesnya. Tapi lebih ke… maksudnya. Ko orang yang paling berdosa malah disuruh bikin dosa yang lebih gede lagi dengan cara ngebunuh orang? dikasih reward 1 kali kesempatan pulak kalo berhasil. Kesannya kan kayak ngasih penghargaan buat ngelakuin sesuatu yang salah. Dan lagi, kalo gitu, tiap jumat tanggal 13, ada 12 orang dong yang mati. Dibunuh pulak.

    2,5 out of 5 :) Cheers!

    PS: penggunaan kata ke dan di-nya masih banyak yang harus dipisah. kalo menunjukkan keterangan tempat, harus dipisah dari katanya. Contoh: disana –> di sana, kearahku –> ke arahku, dll. bedakan dengan penggunaan di yang tidak menunjukkan tempat: dimarahi, dilukai, dilatih, dll. ;)

    • Indra Pande says:

      makasi banget juga komentarnya mas gurugumawaru gurugumawaru. untuk masalah kenapa mereka harus saling bunuh maksud saya sebenarnya karena mereka udah kehabisan kesempatan untuk hidup di dunia karena dosa mereka udah banyak. sebenarnya plot awal mau saya buat dewa kematian datang utk mencabut nyawa mereka semua tapi nggak jadi dan ternyata mereka di kasi satu kesempatan lagi yaitu dengan cara harus ngebunuh yang lain(aka jd pengganti dewa kematian itu sendiri) tp karena keterbatasan jumlah kata jadi saya singkat seperti itu hehe. masalah penulisan akan saya ingat,, berhubung ini tulisan pertama saya, masih banyak yang harus dipelajari. makasi banget komentar. maaf baru bales komentar2nya, koneksi saya di rumah tdk memadai :)

  3. hai salam kenal ya :D

    Menurut gw ide ceritanya menarik banget kok, meskipun punya konsep saling membunuh untuk bertahan hidup seperti Battle Royal atau Hunger Games. Di luar penulisan yang masih ada typo seperti yang sudah disinggung sebelumnya, gw rasa lu ada bakat buat bikin cerita thriller :D tegangnya kerasa kok. hehe.

    Btw, mau nanya aja paling. Kan di cerita disebut bahwa pemegang kertas bisa hanya bisa melihat pemegang kertas yang lain, tapi disebutkan pula bahwa mereka berada di dunia alternatif. Apa ga sebaiknya cukup disebutkan kalau mereka di dunia lain aja, karena kalau hanya bisa melihat pemegang kertas yang lain, seolah-olah mereka masih di dunia yang sama dengan dunia asli. Hehe.

    Ya itu aja sih. Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244. Gw juga masih amatir banget kok :D Mari sama-sama belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>