Jubah Mimpi Reve

JUBAH MIMPI REVE

karya Irene Faye

Ilustrasi oleh Failway

“Selamat ulang tahun, Reve!”

Sambutan itulah yang kudapatkan begitu aku jatuh tertidur. Bagaimana aku bisa tahu bahwa aku tertidur? Karena aku tidak ingat aku pernah bangun, atau tepatnya aku hanya tiba-tiba berada di tempat seperti ini. Tempat bernuansa pelangi aneh yang jelas bukan kamarku. Tempat yang jelas memancarkan suasana bahwa aku sedang bermimpi. Lucid dreaming? Kurasa begitu. Aku memang selalu berada dalam keadaan sadar saat aku bermimpi, hanya saja saat mendengar sambutan itu aku langsung tahu bahwa ada yang berbeda dengan mimpiku kali ini.

“Halo! Apa kau mendengarku?” pertanyaan yang terlontar dari penyambutku seketika mengembalikan perhatianku padanya.

Dia adalah seorang gadis bertubuh kecil dengan pakaian serba hitam. Baik kemeja, dan rok panjangnya yang mengembang. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai hingga sepinggang, dan wajahnya yang tenang tampak tidak sesuai dengan usianya yang mungkin baru berumur sekitar sembilan sampai sepuluh tahun. Aku tak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Hal yang jelas mengusik pikiranku, karena aku tidak biasanya bermimpi tentang hal-hal yang tak pernah kulihat.

“Hei, kau sadar tidak sih?” tanyanya lagi. Kali ini dari nada suaranya, tampaknya dia mulai hilang kesabaran dengan tingkahku. Sungguh anak perempuan yang aneh.

“Aku sedang bermimpi, jadi bagaimana mungkin aku sadar?” tanyaku seraya melontarkan seulas senyum ramah kearahnya. Gadis itu langsung memutar bola matanya. Cukup membuatku terkejut, karena biasanya saat aku mengatakan hal seperti itu mimpiku akan pudar dan berganti dengan mimpi lain sesuai keinginanku, tapi kali ini mimpiku tidak berubah. Aku tidak bisa mengendalikan mimpiku, jadi apa ini benar-benar lucid dream?

“Reve, namamu berarti mimpi, apa kau bingung mengapa kali ini kau tak bisa mengendalikan mimpimu?” pertanyaan yang seketika keluar dari mulut gadis itu langsung membuatku tertegun. Tidak pernah ada orang yang mengakui bahwa aku sedang bermimpi di dalam mimpiku. Apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini? Apa aku sadar?

“Siapa kau?” tanyaku akhirnya. Seulas senyum dingin seketika muncul di wajahnya.

“Namaku Yuan. Aku adalah penyulam mimpi,” ujarnya seraya menunjukkan dua buah jarum yang biasa digunakan seseorang untuk menyulam.

“Penyulam mimpi?” secara tidak sadar aku mengulangi kata itu sementara Yuan yang mendengarnya hanya tersenyum.

“Selamat ulang tahun, Reve dan turut berduka cita! Di usiamu yang ke dua puluh ini, kehidupanmu akan berakhir.”

Aku membuka mataku dengan cepat.

Sekujur tubuhku terasa dingin. Kata-kata gadis itu kembali terngiang di telingaku, “… di usiamu yang ke dua puluh ini, kehidupanmu akan berakhir.”

Apa maksudnya semua itu? Apa aku akan mati? Tapi itu hanya mimpi, kan? Sesuatu yang terjadi dalam mimpi tidak mungkin—

“Reve, kau harus menghentikan kebiasaanmu yang senang melompat dari satu mimpi ke mimpi lainnya!” gerutuan bernada dingin itu seketika memotong pikiranku. Gadis itu masih berada di sampingku. Aku memang tidak lagi berada di ruangan bernuansa pelangi, tapi gadis itu masih berada di sana. Berada dalam jarak yang sama. Berdiri tepat di samping sosok ibuku yang tertidur kelelahan di atas sofa.

Tunggu dulu! Di mana aku sebenarnya? Sofa? Ibuku tidak pernah tidur di sofa! Tidak, ibuku bahkan sudah tidak pernah tidur di kamar yang sama denganku lagi sejak aku berumur lima tahun. Jadi kenapa dia bisa berada di tempat ini?

“Jangan kaget dulu, ini juga hanyalah mimpi,” kata-kata gadis itu kembali menarik perhatianku. Aku langsung menatap tajam matanya. Menuntut penjelasan dari segala hal ini, tapi seperti sebelumnya gadis itu hanya tersenyum. Senyum memuakkan yang membuatku semakin membencinya. Gadis itu jelas sedang mempermainkanku.

“Ini memang hanya mimpi, tapi ini juga adalah cerminan keadaanmu saat ini. kau berada di rumah sakit,” tegasnya pelan sambil menunjuk ke arahku. Bukan lebih tepatnya ke arah ranjangku.

Aku tak berani melakukannya, tapi rasa penasaranku terlanjur memaksaku melihat ke arah yang di tunjuk gadis itu.

Di sana, di tempat seharusnya hanya ada bantal kosong tempat kepalaku berbaring tadi, kepalaku masih mengisi tempatnya. Mataku masih tertutup, dan sebuah masker oksigen menutupi hidung dan mulutku. Aku menatap langsung ke arah tubuhku yang sekarat.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku masih setengah tak percaya.

“Pengalaman keluar dari tubuh. Kalau tidak salah itulah istilah yang digunakan untuk menjelaskan keadaan ini, sekalipun bagiku istilah itu tidak benar-benar tepat sih, karena sebenarnya ini juga hanyalah mimpi,” ujar gadis itu tenang sambil dengan tenangnya berjalan mendekatiku.

“Apa maksudmu?”

Gadis itu menatapku sejenak sebelum kemudian menarik tanganku dan menyeretku turun dari ranjang. Kini aku benar-benar dapat melihat tubuhku secara sepenuhnya. Tubuhku yang berada dalam keadaan termenyedihkan yang dapat kuingat.

Tiba-tiba saja dunia serasa berpusar. Kamar rumah sakit, tubuhku, dan ibuku seketika lenyap digantikan dengan pemandangan ruang kelas yang langsung membuatku terkesiap. Aku kini berada di ruang kuliahku, dan seperti sebelumnya aku juga bisa melihat tubuhku, tapi aku tidak dalam keadaan sekarat.

Diriku yang kulihat saat ini sangat sehat. Aku tampak tertawa, bersenda gurau dengan teman-temanku. Di depanku, di atas meja, laptopku menyala dan layarnya menampilkan halaman situs yang sedang kukunjungi. Aku tertegun sejenak melihat pemandangan ini. Ini jelas mimpi, tapi di lain sisi pemandangan ini juga sangat familiar. Ini adalah pemandangan kehidupanku beberapa minggu yang lalu. Aku ingat jelas hal itu karena tanggal yang tertera di laptopku jelas menunjukkan tanggal dua minggu sebelum ulang tahunku.

“Ini hanyalah mimpi,” ujar gadis itu tenang. Aku tak dapat mempercayainya tentu saja, tapi aku juga tidak dapat menerima bahwa apa yang kulihat saat ini adalah kenyataan. Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa berada di masa lalu? Dan bagaimana mungkin ini bukan kenyataan?

“Yuan, itukah namamu, tadi?”

Gadis itu mengangkat kepalanya sejenak saat aku menyebut namanya. Seperti yang kuduga, aku sama sekali tak pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi gadis itu sendiri mengakui bahwa ini adalah mimpi jadi, tidak ada yang aneh dengan hal ini, kan? Maksudku bisa saja aku melihatnya di televisi, atau berpapasan dengannya di jalan dan aku hanya tidak bisa mengingatnya.

“Kau bilang kau adalah penyulam mimpi? Apa sebenarnya yang akan kau lakukan denganku?” tanyaku pelan sambil kembali tersenyum. Berusaha menyingkirkan pandanganku dari pemandangan sekitarku yang ganjil.

Gadis itu menatapku dengan mata kosongnya selama beberapa saat, “Kau memang tidak peduli dengan kehidupanmu, ya? Apa kau tak merasa menyesal kalau kau akan mati?” tanyanya dingin. Aku hanya bisa membalasnya dengan tetap tersenyum.

“Kehidupan dan kematian hanyalah siklus biasa yang terjadi di dunia ini. Aku mati, itu adalah kenyataan yang menyebalkan, tapi aku juga tidak dapat memaksakan kehendakku untuk tetap hidup, kan? Jadi bukankah lebih baik aku menerimanya dengan tangan terbuka?”

Gadis itu tetap menatapku tanpa mengatakan apapun. Tangannya masih menggenggam tanganku, tapi kini seperti juga kata-katanya, tangannya juga terasa ikut membeku. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi ini hanya mimpi. Dia mengatakan padaku kalau ini hanya mimpi, jadi aku tidak perlu merasa takut. Betul, kan?

“Pekerjaanku adalah memanen mimpi terindah dalam kehidupan seseorang dan merajutnya menjadi sebuah jubah mimpi. Jubah ini selanjutnya akan kubawa ke tokoku, dan jika ada yang menyukainya mereka akan membelinya dariku,” ujar gadis itu dingin seraya mengalihkan tatapannya dari hadapanku dan menatap lurus jauh ke depannya.

“Hei, Reve, kapan kamu mau nerbitin bukumu? Bukannya penggemarmu udah banyak?” suara salah satu temanku seketika mengalihkan perhatianku ke arahnya. Di depan kami berdua, seorang pemuda jangkung tampak menatap layar laptopku dengan penuh semangat.

Dalam pemandangan ini, aku dan teman-temanku sedang memperhatikan suatu situs. Situs itu adalah situs kepenulisan, dan aku sedang menunjukkan karyaku pada teman-temanku. Aku cukup bangga dengan karya itu. Pembacaku menyukainya, dan mereka memberiku banyak dukungan agar aku mau melanjutkannya. Teman-temanku sendiri mengatakan bahwa cerita itu bagus, tapi ada sesuatu di dalam cerita itu yang membuatku merasa malu. Aku tak ingin orang-orang mengetahuinya, karena itulah saat pertanyaan itu terlontar ke arahku, aku merasakan tubuhku bergetar ketakutan.

Kudengar diriku tertawa mendengar pertanyaan temanku tadi. Tanganku tampak dengan cepat menutup layar laptopku dan menyingkirkan wajah temanku itu dari hadapanku.

“Cerita itu harus selesai dulu sebelum aku bisa menerbitkannya, bodoh!” gerutuku sambil mengacak-acak rambutnya. Sungguh suatu pernyataan palsu yang kulontarkan hanya untuk menutupi rasa sakit hatiku.

“Hei, kenapa kau tak menerbitkannya? Cerita sebagus itu bukankah akan menarik perhatian banyak penerbit?” tanya Yuan tiba-tiba yang langsung membuatku menatap tajam wajahnya. Perasaan dalam diriku seketika bergejolak dan entah mengapa aku merasa sangat marah. Aku bukan seorang pemarah, tapi entah mengapa setiap kata yang keluar dari mulut gadis itu seolah memancingku untuk meledak.

Seulas senyum dingin kembali terlukis di wajah gadis itu, “Itu adalah salah satu impianmu. Benar, kan?”

Pertanyaan itu seolah menerobos masuk ke dalam hatiku dan memecahkan gelembung emosi yang sempat berkembang di kepalaku. Genggamanku pada lengannya perlahan melonggar dan mulutku yang sudah separuh terbuka seketika terasa kaku. Aku kehilangan kata-kata. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kukatakan pada gadis itu, karena saat itu, aku juga sudah mengetahui, bahwa aku tak lagi bisa menulis.

Kata-kata yang kulontarkan pada temanku tadi hanyalah sebuah tameng sekaligus penyemangat bagi diriku yang telah kehilangan kemampuan untuk menulis. Tidak ada lagi kata yang dapat kurangkai. Tidak ada lagi ide yang dapat kujalin menjadi cerita. Aku ingin menulis, tapi aku tak lagi bisa melakukannya. Karyaku bukanlah karya yang bagus. Kelemahan yang kututupi dengan beribu rangkaian kata itu akhirnya muncul juga di hadapanku, dan setelah itu, semua usahaku terasa sia-sia. Tanganku berhenti mengetik, dan kepalaku berhenti merangkai kata. Aku benar-benar tak lagi bisa menulis.

Perlahan, tanpa kusadari, setetes air mata mengalir dari ujung mataku. Yuanlah yang menyadari hal itu, dan gadis itu jugalah yang menangkapnya dengan salah satu ujung jarinya yang dingin. Aku langsung menatapnya dengan tajam, tapi gadis itu sama sekali tak peduli. Tangannya tiba-tiba saja sudah bergerak dengan cepat dan mengalirkan air mataku ke ujung salah satu jarum sulamnya. Secara ajaib air mata itu seketika berubah menjadi benang perak.

Yuan sama sekali tidak berhenti di sana. Tangannya dengan cepat melilitkan benang itu di jarumnya dan melemparkan salah satu ujungnya ke arah laptopku. Benang itu juga dengan ajaib tersambung ke laptopku, dan dengan keajaiban yang sama pula laptopku terburai menjadi rajutan benang. Seolah memang pada dasarnya benda padat itu adalah gulungan benang yang dirajut menjadi laptop. Tidak perlu menunggu lama, di tangan Yuan, benang-benang itu kini telah tergulung dalam satu gulungan besar. Gulungan benang perak berkilau yang terlihat mempesona. Aku benar-benar tak pernah melihat gulungan benang seindah itu sebelumnya.

“Impianmu indah, tapi ini saja tidak cukup, aku harus mencari mimpimu yang lain!”

Kata-kata Yuan kembali menyentakkanku, tapi kali ini ia tak lagi membuatku terlalu terkejut. Gadis itu kembali menarik tanganku dan lingkungan sekitar kami kembali berubah, namun mataku tetap terpaku pada gulungan benang di tangannya. Gulungan itu adalah mimpiku, dan bukan hanya sekedar mimpi, tapi juga impian terindahku. Warna peraknya yang berkilau benar-benar mencuri perhatianku. Aku tak peduli dengan kata-kata gadis itu, aku juga tidak peduli di mana kami berakhir sekarang. Yang kuinginkan adalah gulungan benang itu kembali ke tanganku. Kembali menjadi bagian dari diriku. Gulungan itu membuatku menyadari sesuatu dan aku tidak bisa melepaskannya begitu saja.

“Kau akan segera mati. Apa lagi arti mimpimu ini di tanganmu?” kata-kata dingin itu seketika menghentikan tanganku yang entah sejak kapan sudah bergerak ke arah gulungan benang itu.

Aku menatapnya sejenak sebelum kemudian menghela nafas dan meletakkan ujung jariku di atas gulungan benang impianku. Keadaan sekitar kami kembali berubah, tapi kali ini tempat yang kami datangi bukanlah ruang kelas atau kamar rumah sakit, kami kini berada di kamarku. Kamar tempat aku menghabiskan hampir dua puluh tahun kehidupanku. Ini mimpiku, aku yakin tentang hal itu sekarang dan karena hal itu, aku bisa mengendalikannya.

Mimpiku lagi-lagi tetap menampilkan diriku, tapi yang kulihat sekarang bukanlah sosok diriku yang sudah dewasa. Sosok yang meringkuk di pojok kamarku adalah sosok kanak-kanakku yang menangis sesenggukan sambil menatap ke arah pintu kamar.

Mataku tampak kosong, sekujur tubuhku dipenuhi luka cambuk, dan air mata tak berhenti mengalir di wajahku. Suara-suara bentakkan terdengar dari luar kamar. Menuntut diriku untuk segera membukakan pintu, tapi aku tetap bergeming. Mulutku terkatup diam seribu bahasa, sekalipun begitu dalam hatiku, aku sudah tahu apa yang kuinginkan.

“Apa kau tahu bahwa saat aku sekecil itu aku menginginkan kematian?” tanyaku datar sambil mengusap lembut kepala sosokku yang dulu.

Yuan sama sekali tak menjawab. Gadis itu menatap lurus kearahku sambil tetap menggenggam erat gulungan benang mimpiku. Aku tersenyum ke arahnya. Sesuatu dari apa yang telah kulihat entah bagaimana memberi satu pencerahan di ingatanku.

“Aku selalu bertengkar dengan ibuku,” ujarku pelan akhirnya.

“Beliau tak pernah menyukai kenyataan bahwa aku senang menulis cerita, beliau mengatakan bahwa apa yang kulakukan adalah sia-sia, dan selalu berusaha menghalangi usahaku untuk menulis.

“Tapi aku senang menulis. Aku begitu cinta dengan dunia kepenulisan, hingga rasanya setiap kali aku mengetahui bahwa ada yang menyukai karyaku, keinginan hidupku semakin kuat. Aku jadi menginginkan kehidupan. Aku menginginkan kehidupan di mana aku dapat melihat karyaku diterbitkan dan menjadi buku yang dibaca banyak orang.

“Tapi ibuku tetap tak menyukai hal itu. Ia berusaha membanting laptopku hari itu. Laptop yang berisikan semua karya yang berhasil kutulis.

“Kami berada di lantai dua rumahku saat itu, dan karena aku ingin menyelamatkan laptopku, kakiku seketika melompat tanpa menyadari bahwa aku berada terlalu dekat dengan tangga.

“Aku ingat merasa sakit, tapi setelah itu aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi. Aku merasa diriku tertidur, tapi kemudian aku bertemu denganmu. Siapa yang dapat menyangka bahwa kehidupan memang dapat berakhir sesingkat itu,” ujarku lagi sambil menatap sosok kecil diriku.

Suasana sekitar kami kembali berubah. Kami kembali di kamar rumah sakitku dan aku kembali menatap sosok sekarat diriku yang entah mengapa tak lagi tampak semenyedihkan sebelumnya. Kali ini dalam hatiku aku tahu bahwa kehidupanku memang akan benar-benar berakhir.

Yuan menyentuhkan ujung jarum sulamnya ke tubuhku, dan perlahan aku merasakan tubuhku berpijar. Benang-benang berwarna keemasan dengan nuansa pelangi keluar dari tubuhku dan Yuan seperti sebelumnya, dengan cepat menggulung benang-benang itu.

“Impianmu, bukanlah sekedar menulis. Kau memiliki impian yang jauh lebih besar dari itu, kan?” tanyanya seraya terus menggulung. Lingkungan sekitarku seketika berpijar dan ikut berubah menjadi benang yang terus tergulung. Saat itulah aku tahu bahwa waktuku sudah tiba. Inilah akhir perjalananku.

Aku tersenyum sambil menatap dirinya,“Impianku adalah, menginginkan kehidupan. Aku ingin menjadi penulis karena dengan menulis aku bisa bertahan dan menjaga semangat hidupku.”

Gadis itu membalas senyumku. Kali ini bukan dengan senyuman dingin menyebalkan yang menyembunyikan cemooh, tapi senyuman tulus yang terasa hangat.

“Apa kau mau mengucapkan selamat tinggal?” tanyanya pelan seraya menuntunku kearah sosok ibuku.

Aku mengangguk, dan menghampiri tubuh wanita yang melahirkanku itu. Aku tahu bahwa aku sudah banyak melakukan kesalahan pada wanita itu, dan sekalipun ia selalu memperlakukanku dengan keras, aku tahu, bahwa jauh di dalam hatinya ia sangat mencintaiku.

“Maaf, aku tak dapat memenuhi seluruh harapanmu, Ma,” bisikku pelan sambil memberikan satu pelukan terakhir yang dapat kupaksakan padanya.

Wanita itu seketika membuka matanya dan selama beberapa saat pandangan kami bertemu, tapi semuanya sudah berakhir. Mataku hampir tak dapat melihat apa-apa lagi. Tubuhku sudah habis tergulung menjadi benang, begitu juga seluruh sisa pemandangan di sekitarku. Sayup-sayup kudengar suara Yuan di dalam kepalaku. Suara yang memberikan ketenangan dalam jiwaku.

“Impianmu telah terkabul, dan karena itulah impianmu itu adalah impian yang jauh lebih indah dari impian-impian yang pernah terpikirkan di kepalamu.”

Aku tak begitu merasakannya, tapi aku tahu bahwa diriku tersenyum. Keletihan luar biasa menyerang tubuhku. Aku menutup mataku, menarik nafas panjang, dan membiarkan hembusan nafas terakhir itu keluar dari tubuhku. Mimpi, kurasa aku bermimpi lagi setelah semua itu berlalu, tapi mimpi kali ini begitu indah hingga aku tak keberatan untuk tetap tidur. Aku membiarkan perasaan tenang menyelimuti diriku. Membiarkan pikiranku terbang ke tempat di mana impianku membawanya.

†††

Yuan menatap rajutan barunya dengan puas. Sebuah jubah berwarna keemasan indah dengan pinggiran perak yang menampilkan nuansa pelangi. Mimpi Reve memang bukan mimpi terindah yang pernah dilihatnya, tapi jubah yang berada di tangannya itu juga tidaklah buruk. Cukup cantik malah.

Gadis itu baru akan memajangnya di etalase saat seorang malaikat mendarat di depan tokonya. Cahaya yang terpancar dari sosok berkilau itu tampak redup, jubahnya tercabik, dan tubuhnya dipenuhi luka, tapi tetap saja wajah lembut yang terpancar dari balik tudung kepalanya menunjukkan betapa suci dan sempurnanya sosok itu.

“Uriel!” seru Yuan cepat seraya melangkahkan kakinya dan menyambut sosok pelanggan kesukaannya.

Malaikat itu tersenyum. Sayapnya dengan cepat terlipat rapi di belakang tubuhnya, dan sambil merentangkan tangan ia menerima sambutan Yuan. Ia mungkin memang baru mengalami sesuatu yang berat, tapi apapun itu, hal itu tidak menghentikan dirinya untuk memperlakukan setiap mahluk di sekitarnya dengan ramah dan penuh kasih.

Yuan menuntun malaikat itu masuk ke tokonya sebelum kemudian dengan bangga memamerkan jubah mimpi Reve ke hadapannya. Malaikat itu menyentuh permukaan kainnya dengan khidmat. Seketika itu juga seluruh lukanya lenyap, dan cahayanya berpendar semakin terang.

“Iblis berusaha mendahuluiku untuk mencapai tokomu, dan aku harus bertarung dengannya untuk memperebutkan benda ini, namun setelah aku menyentuhnya, aku tahu bahwa usahaku tidak sia-sia. Aku akan mengambil jubah ini. Sebagaimana jubah ini menyembuhkan lukaku, jubah ini juga pasti mampu untuk menyembuhkan duka manusia”

Yuan hanya tersenyum saat ia mendengar pernyataan Uriel itu. Ia menganggukkan kepalanya dan dengan penuh pengertian, membungkus jubah itu sebelum menyerahkannya kembali pada Uriel.

Malaikat itu mengusap kepalanya dengan lembut dan kemudian meletakkan pembayarannya di atas etalase sebelum melayang pergi. Terbang meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan tugasnya. Meninggalkan Yuan yang menatap kepergiannya dengan senyuman.

Gadis itu kini menatap ke dalam kristal di atas etalasenya. Kristal yang menjadi pembayaran untuk jubah mimpi yang tadi berhasil dijualnya. Sekilas memang kristal itu tampak seperti kristal biasa, namun bagi Yuan, kristal itu tak akan pernah terlihat biasa. Gadis itu menyentuhkan ujung jarumnya ke benda itu, dan seketika itu juga kristalnya bersinar, memancarkan pantulan cerita yang tersimpan di dalamnya.

Dalam cerita kali ini, kristal itu menampilkan sosok seorang seorang wanita yang sedang menangisi kematian putranya. Uriel muncul di belakang wanita itu, dan dengan lembut membuka bingkisan jubah yang tadi dibungkus Yuan beberapa saat yang lalu.

Jubah keemasan itu seketika terkembang lebar. Menutupi tubuh si wanita. Memberikan kehangatan dan ketenangan pada hati yang tersentuh olehnya.

Duka memang masih meliputi hati wanita itu, namun dalam sekali lihat Yuan tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bagaimanapun juga wanita itu mengasihi putranya, dan sekalipun ia tidak memahami mimpi putranya, melalui jubah itu, Yuan tahu bahwa wanita itu akan mencoba mencari tahu makna dibalik kehidupan putranya. Hal itu memang sulit dilakukan, tapi setelah ia berhasil menemukannya, ia pasti dapat melanjutkan hidupnya dengan lebih baik. Kehidupan yang harus dijalaninya, demi putranya yang menginginkan keinginan untuk hidup.

Sambil menarik nafas panjang, Yuan menghirup pantulan cerita dari kristal itu. Gadis itu kemudian menutup matanya dan membiarkan pikirannya kembali terbang. Memburu mimpi-mimpi lain yang dapat dirajutnya menjadi jubah.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

61 Responses to Jubah Mimpi Reve

  1. Tsuki says:

    saya datang membalas budi

    saya tertohok oleh cerpen ini
    [sial,novel saya belom ada yang kelar]

    dan saya mulai bertanya-tanya,, sekarang banyak cerpen FF2012 yang memberikan kita pelajaran hiduo. dan di cerpen ini banyak yang bisa diambil dibandingkan cerita lain

  2. shaoan says:

    Hi Irene, salam kenal! :D
    Komentar resmi: Banyak mengingatkan saya pada diri sendiri. Dan cerpen ini ditutup dengan ending yang cukup mengharukan.

    Komentar tidak resmi: Hmm… adegan malaikat (yg habis lomba ama iblis itu) di akhir kerasa agak aneh. Scr pribadi, ending paling ‘enak’ itu waktu Reve pergi. Tapi ceritanya nuntut ending yg malaikat itu sih keliatannya.
    Ah, gw koq jadi ngelantur. :D

    Kalo sempet mampir yah ke: http://kastilfantasi.com/2012/07/suatu-hari-ketika-semuanya-berakhir/

  3. Saya jadi bersyukur punya orang tua yg kasi kebebasan anaknya mo menmpuh jalan yg mana buat masa depan dan karirnya, ehehehhe…

    Rata2 protes sm bagian malaikat sm iblis toh…dan jawabannya ud ada juga tadi gw baca diatas…. kalo penjelasan tentang kondisi iblis yg dpt jubahnya bisa bkin ibunya merasa bersalah, mungkin buat yg merasa ada puzzle yg hilang dr crita bisa terpuaskan. Jadi gada yg mempertanyan soal malaikat dan iblis lagi krn ceritanya jadi lebih lengkap dan jelas.

    Ide tentang penyulam mimpinya saya suka, seru juga kali ya kalo jadi serial ttg penyulam mimpi. Bisa jd komik serial ato serial tv, dan setiap episodenya selalu ada pesan indah buat penontonnya. Nice job!!

    • IreneFaye says:

      rencana saya mo bikin seriesnya tapi ntar cerita saya yang lain gak beres2 dong hahaha

      saya pending dulu deh rencananya

      makasih

  4. Cecilia Li says:

    Halo Irene ^_^ susah bener buka ceritamu… koneksi payah…
    Apa ada yang beda ya dari di k.com? Mungkin kelewat tapi ake scan sekilas rasanya engga ada. Komennya kalau gitu udah ya ^_^ Here, copy paste~

    Penulisanmu dengan pov 3 lebih bagus. Ini sepanjang cerita memang dari sudut pandang “aku”, tapi kurang tergali. Aku buka2 lagi ceritamu yang pakai sudut pandang “dia”, jauh lebih kena feel-nya. Selama bagian perjalanan sama Yuan itu bisa dipotong sedikit-sedikit biar temponya agak cepat untuk bangun plotnya ke klimaks. Misalnya:

    “Apa maksudnya semua itu? Apa aku akan mati? Tapi itu hanya mimpi, kan? Sesuatu yang terjadi dalam mimpi tidak mungkin—”
    “Tunggu dulu! Di mana aku sebenarnya? Sofa? Ibuku tidak pernah tidur di sofa! Tidak, ibuku bahkan sudah tidak pernah tidur di kamar yang sama denganku lagi sejak aku berumur lima tahun. Jadi kenapa dia bisa berada di tempat ini?”
    Gadis itu mengangkat kepalanya sejenak saat aku menyebut namanya. Seperti yang kuduga, aku sama sekali tak pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi gadis itu sendiri mengakui bahwa ini adalah mimpi jadi, tidak ada yang aneh dengan hal ini, kan? Maksudku bisa saja aku melihatnya di televisi, atau berpapasan dengannya di jalan dan aku hanya tidak bisa mengingatnya.”
    ….etc etc.
    Menurutku pribadi kebanyakan adegan ngomong sendiri, berasa kayak di sinetron2.

    Nah aku lupa, poin bagusnya, idemu keren! Narasimu lancar! Deskripsi pas! :D
    Okeeeh~ semangat!

  5. Grisel says:

    Ini. harus. masuk. kumcer.

  6. meibee says:

    kirain reve itu cewek…ternyata cowok….^^

    agak mencium pengalaman pribadi nih, mmhhh.

    Yuan-nya terlalu imut, karakter reve jadi agak terlalu datar.

    yo! good luck~

  7. M.Asa says:

    Hai Irene, salam kenal *jabat tangan :)*

    Oke, di sini aku gak mau komentar tentang gaya penceritaan, karena udah OKE :)

    Tapi ada beberapa hal yang ingin aku komentarin.
    1. Ini gak terlalu penting sih sebenernya. Coba kita lihat cuplikan berikut (berasa jadi host acara musik :) ):
    “Kehidupan dan kematian hanyalah siklus biasa yang terjadi di dunia ini…..”
    Kukira penggunaan kata ‘siklus’ kurang tepat di sini, karena setahuku yang dinamakan ‘siklus’ itu adalah sesuatu yang bermula dari suatu titik dan akan kembali ke titik tersebut (semacam lingkaran). Dan kupikir kematian bukan hal seperti itu, kecuali kau percaya dengan ‘reingkarnasi’. Mungkin akan lebih tepat digunakan kata ‘pola’.

    2. Cerita ini dituturkan dalam dua POV. POV 1 (Reve) dan POV 3 (Yuan). Entah kenapa aku ngerasa POV 1 yang memakan hampir semua bagian cerita justru terasa meredup pada saat POV Yuan muncul. Aku merasa Reve yang menjadi gak ‘terlalu penting’ pada saat POV Yuan dituturkan. Sedikit saran aja, mungkin akan lebih bagus lagi kalau keseluruhan cerita disampaikan dalam POV 3/POV Yuan, tentu saja dengan penyesuaian2 di beberapa tempat.

    3 Mengenai judul, lagi-lagi bukan masalah berarti (hanya masalah selera :D)
    Jubah Mimpi Reve
    Dari judulnya, aku kira ini akan bercerita tentang mimpi (arti (1) KBBI: sesuatu yg terlihat atau dialami dl tidur), tapi ternyata aku salah. Mimpi yang dimaksud di sini adalah mimpi arti (2) KBBI yang lebih mengacu pada impian/angan-angan. Tenang aja, ini tidak akan mengurangi penilaianku terhadap kisah ini.

    Oh, kurasa komentarku sudah cukup panjang. Jadi aku cukupkan di sini saja.
    GoodLuck *Pasang Spanduk* Silakan mampir ke lapak 63 jika sempat :)

  8. Salam kenal ya Irene :D

    Ah ide ceritanya unik banget, tentang penyulam mimpi ya. Sebenarnya gw merasa seolah-olah kaya ada dua cerita dalam satu cerpen ini sih, jadi entah kenapa agak terasa kurang fokus di klimaksya. Gw pribadi sebenarnya lebih suka cerita ini cukup dari salah satu POV tokohnya saja (Kalau Reve ya selesai sampai Reve meninggal, paling dengan sedikit banget cuplikan jubah mimpinya yang digunakan untuk menaungi sang ibu)

    Ah kalau dari teknis penulisan dan cara penceritaannya udah oke banget :D Pesannya juga tersampaikan kok. Gw merasa agak mirip sama si Reve (ga sepenuhnya sih). Haha.

    Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya :)

  9. R.S.B. says:

    Maaf telah menjadi tetangga buruk karena baru sekarang meninggalkan jejak (Tapi sebenernya ngebaca cerita ini sudah dari awal-awal kok, bahkan saya sempat sekilas baca teasernya di k.com)

    Perubahan POV di cerita itu sangat beresiko menurut saya. Bisa bikin cerita jadi unik dan keren beut, Atau malah jadi fokus cerita membingungkan. IMO di sini perubahan POV itu terasa kurang lezat ^_^ malah merusak fokus cerita. Lebih suka kalau penulis mengusahakan tetep dari sudut pandang Reve sampai akhir bahkan walaupun Reve sudah mati…. hahaha….

    Btw ada kalimat yang kurang sreg bagi saya, Dialog si Yuan di awal:
    “Reve, namamu berarti mimpi, apa kau bingung mengapa kali ini kau tak bisa mengendalikan mimpimu?”
    rasanya menambahkan -namamu berarti mimpi- ini terasa kurang natural…

    Narasi sudah mengalir. Idenya juga menarik. Nilainya (7.5/10) Sepertinya cerita kita sepertinya punya tema-tema yang mirip yah. Selain mimpi, juga ada kematian, dan tokohnya ibu serta anak :^0. Mampirlah ke lapak 96, oke ^_^…!b Thx for the story.

  10. IreneFaye says:

    kadang saya berpikir untuk mengganti judul cerita ini jadi: Jubah Mimpi Yuan ahahahaha
    tapi udah terlanjur terkirim, dan ilustrasi juga udah terlanjur jadi, yah, akhirnya saya biarkan sajalah

  11. Jovyanca says:

    Wow. Ini menarik. :D Halo, Irene. Salam kenal. ^^

    Saia suka narasinya. Tapi baroe nyadar kalo Reve itu cowo pas bagian ibunya berduka. ;p Kenapa bisa begitu ya. ^^a hahahaha.. Pokoke gak da bayangan ama sekale kalo Reve itu cowo. OMG. What had got into me? #lebay#

    Yak. Anyway, I like the idea. Penyulam mimpi, kedengarannya kerennn~ Bagian Reve ingat kembali bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit itu sampe akhirnya dia meninggal itu baguzzz~ Good jOb! b^^

    Sukses ya! :D

  12. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Reve, dude, we share the same probs. Here, take this poke poke.

    Baca cerpen ini berasa ditampar realita. Novel belom ada yang kelar? PLAK! bilangnya belom beres padahal kena WB akut? FATALITY!

    untungnya orangtua saya gak ngelarang saya nulis sih…

    Anyhooo, saya rasa cerpen ini enak dibaca. Tipe yang ngasih perasaan anget-anget gimanaaa gitu. Ide penyulam mimpinya juga bagus.

    3,5 out of 5. Good luck ya! ^^

  13. shiennyms says:

    Akhirnya mampir membalas kunjungan ^_^

    saia ngga akan reply soal teknis ya, karena udah terwakili komentar2 lain kayaknya
    secara konten dan pesan saia suka, ceritanya juga menyentuh

  14. 147 says:

    keren bgt kak :D
    ttg mimpi dan impian :3
    agak lucu aja pas uriel balapan sama iblis, klo misalnya iblis yg menang trus jubah itu bakal diapain kak? :o

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>