Kisah Ras Terakhir

KISAH RAS TERAKHIR

karya Jacob Julian

Tak ada yang memperhatikan dirinya. Orang-orang berlalu lalang di tempatnya duduk dan bersandar. Bahkan orang-orang yang berjalan, menengok dirinya pun tidak sudi. Bocah lelaki itu terlihat sangat lusuh; bajunya sobek-sobek di beberapa tempat, rambutnya acak-acakan dan pandangannya sayu menatap orang-orang yang berlalu lalang dari tempatnya bersandar di sebuah gang sempit antara dua gedung bertingkat. Bocah itu hanya lapar. Di pikirannya hanya bagaimana cara mendapatkan makanan untuk memulihkan tenaga dan mana-nya setelah proses perubahannya yang terakhir. Dirinya mengutuk orang yang mengejar dirinya beberapa waktu lalu yang membuat dirinya terpaksa berubah menjadi tawon dan terbang berkilo-kilo meter sampai akhirnya dirinya berada di situ karena kelelahan.

“Kupikir jadi tawon itu bisa terbang cepat dan mencari sari bunga adalah hal yang mudah. Tapi bodohnya, aku lupa kalau sekarang mencari tanaman segar itu sulit …. Sialan kau!” rutuk bocah itu sambil mendengar suara perutnya berbunyi. Tak lama di sebelahnya seekor tikus melewatinya dengan perlahan.

“Oh … sudah lama aku tidak makan daging tikus.”

Dengan gerakan perlahan, bocah itu langsung mengumpulkan mana terakhirnya dan segera berubah menjadi seekor kucing hutan dan menerkam tikus itu. Lalu membawanya menjauh dari tempat itu. Dia masih belum merasakan energi dari pemburunya.

***

Di lain tempat, seorang anak perempuan—yang umurnya tidak terpaut beda dengan umur bocah lelaki tadi, berdiri di atas sebuah bangunan memandangi kota dengan kedua matanya dan membiarkan angin menerpa pakaian serta sweater yang sengaja dia ikat di lehernya dan rambut yang panjang yang dia ikat ke belakang. Matanya menyorot tajam. Mencari sesuatu.

“Ke mana kau bocah kecil?” tanya lirih seakan berkata kepada angin.

Tak lama, seakan angin menjawab perkataannya dia memandang ke arah utara dari gedung tersebut. Melihat cahaya merah berpendar kecil. Mana bocah lelaki tadi.

“Kau menghabiskan mana-mu hanya untuk bersembunyi? Percuma …,” katanya dan dengan gerakan cepat, anak perempuan itu melompati atap-atap gedung yang berjejer dengan mudah. Menuju ke cahaya yang berpendar merah.

***

Bocah lelaki, yang sekarang masih berupa kucing hutan itu sedang menyantap perut tikus yang berhasil dia tangkap. Mengunyahnya di pinggir selokan dekat tempat pembuangan akhir kota itu. Walau dengan wujud kucingnya dia mampu mencium bau busuk yang berada di sekitarnya, dia tidak peduli dan terus mengunyah sampai dia merasakan sebuah energi mendekat. Di lemparnya bangkai tikus itu dan melompat menjadi manusia kembali begitu tempatnya tadi berada meledak berkeping-keping.

“Kau sekarang lincah. Mana-mu mendadak terisi … kau lapar rupanya,” kata suara tak jauh dari tempat bocah itu berdiri sekarang yang merasakan kupingnya berdenging karena ledakan tadi.

“Lain kali kalau kau ingin makananku, kau bisa memintanya baik-baik! Dasar nenek tua!” kata bocah itu.

Anak perempuan tadi mukanya mendadak menjadi merah karena marah karena malu mendengar omongan anak kecil tadi. Seketika dari bayangannya muncul sesosok raksasa bercakar panjang untuk menyerang bocah tadi.

“Jangan sekali-kali mengataiku nenek tua dasar bocah ingusan! Namaku Vesas! Aku adalah pengontrol persona terkuat!” teriak anak perempuan itu.

Bocah tadi kerepotan menghindari cakar-cakar monster yang berasal dari bayangan Vesas. Hampir saja badannya robek kalau bocah tadi tidak berubah menjadi burung dan terbang ke arah dinding yang tinggi di dekat mereka. Di atas dinding itu, bocah itu kembali menjadi wujud manusianya.

“Ya … kau sudah ratusan kali mengatakan kalau kau adalah pengontrol persona terkuat. Di abadmu sendiri bukan? Aku tahu dirimu dari kakekku. Jadi tentu pantas kalau kau sebut dengan nenek … karena terakhir kali kakekku mengatakan perihal tentang dirimu, wujudmu dari tahun ke tahun tidak berubah kan? Vesas? Eh … nenek?”

“Diam kau bocah ingusan!” bentak Vesas marah. Monster yang keluar dari bayangannya sudah tidak ada.

“Ssstt … aku bukan bocah ingusan nenek Vesas. Namaku Killkil. Aku adalah ras terakhir dari para shifter … dan kau memburuku karena tentu saja karena kau ingin awet muda bukan? Aku bisa melihat dari sini keriputmu sudah tampak di wajahmu …” Killkil terus memanas-manasi Vesas. Dengan tujuan agar mana-nya terkumpul lagi setelah dirinya makan. Karena mungkin, pertarungannya dengan Vesas akan menjadi pertarungan terakhir rasnya, yang sekarang diwakili oleh dirinya, melawan musuh bebuyutan rasnya sendiri.

***

Killkil masih ingat ketika dia masih berada di kawanannya—orang-orang yang sama sepertinya, shifter—mendadak ketakutan ketika tempat persembunyian mereka diserang oleh Vesas. Killkil tidak tahu nama orang yang mengejar kawanannya, dia hanya mengenal Vesas sebagai pemakan segala, yang terkutuk atau nenek terkutuk. Dirinya sempat bangga saat kakeknya—ayah dan ibunya meninggal karena wabah, bukan karena Vesas—dikabarkan adalah shifter yang berhasil mengalahkan Vesas suatu kali. Killkil kecil tentu menanyakan hal ini pada kakeknya sewaktu mereka berlatih bersama.

“Benarkah?” Killkil kecil begitu polosnya mendengar cerita saat kakeknya berhasil menendang wajah nenek terkutuk ini. Sang kakek hanya tertawa.

“Tentu saja! Apalagi saat kupegang kakinya dan kupuntir lalu kulempar dirinya menghantam tembok! Dia meminta ampun dan beranjak pergi! Hahaha …”

Killkil kecil menganggap kakeknya sebagai pahlawan kawanannya.

“Apa dia tidak akan kembali lagi?” tanya Killkil kecil.

“Tentu tidak! Selama kakekmu ini masih bernapas dan mana dari alam bisa kuserap, tidak akan pengganggu dari manapun akan berhasil menempelkan debu ke kawanan kita!” Kakeknya terbahak dan Killkil hanya bisa takjub mendengarnya.

***

Hantaman demi hantaman persona Vesas yang sekarang berbentuk sulur-sulur gurita membabi buta menerjang tubuh Killkil yang berubah menjadi seekor burung kecil. Dirinya harus menghemat mana untuk berubah menjadi makhluk besar dan melawan, tapi tikus tadi belum cukup untuk menambah mana-nya.

‘Hemat! Hemat Killkil! Lari!’ teriak Killkil sendiri di dalam pikiran yang semakin kecapaian karena sulur-sulur yang dilempar oleh persona Vesas hampir saja melumat sayapnya.

Vesas semakin jengkel dengan sikap pengecut Killkil yang seharusnya gampang ditangkap dan dia sedot mana-nya agar bisa menjadi awet muda. Tapi Killkil termasuk shifter yang ulet dan tidak mudah dibunuh dengan begitu saja. Vesas mengingat kalau dia pernah melawan shifter seperti ini dulu. Kakek Killkil.

*

Beberapa pohon tumbang dan sebuah sosok beruang dengan semburan api membakar pohon-pohon yang melintangi dirinya untuk menangkap seekor monyet berbulu perak yang dengan sangat cekatan melompat dari pohon satu ke pohon lain. Vesas berlari mengejar monyet itu, sementara persona-nya yang berbentuk beruang terus menerus menerjang pohon dan membakarnya.

“Kurang ajar kau tua bangka! Kembalilah dan lawan aku!” teriak Vesas yang masih memakai tubuh anak kecil yang terlihat kecapaian mengejar monyet perak tersebut.

Monyet itu tertawa terkikik. Vesas hanya mendengar desau suara asing yang terdengar di dalam pikirannya, seperti suara itu berbisik tapi dengan keras di kupingnya.

“Hahaha! Dasar nenek tua! Umurmu denganku lebih tua dirimu! Tak sadarkah kalau kau itu sudah setara dengan nenek moyangku? Kau masih saja menyebutku tua bangka? Cih! Walau aku tua bangka seperti ini, setidaknya kau masih saja kesulitan menyamaiku! Aku termasuk darah shifter yang bisa menumpasmu sebelum kau hidup abadi seperti saat ini! Aku adalah mimpi burukmu!” teriak suara itu sampai membuat kuping Vesas berdenging dibuatnya.

Seketika monyet perak itu memekik kaget sambil jatuh tergulung-gulung. Sekitar seratus meter dari dirinya jatuh, hutan yang awalnya penuh dengan pohon mendadak menjadi gundul dan berasap. Monyet perak itu merintih kesakitan. Sebuah monster muncul dari atas; berbentuk gumpalan dengan sayap, tanpa wajah dan hanya punya satu wajah. Monyet perak itu menggeram melihat wujud monster yang berada di atasnya. Gumpalan-gumpalan di seluruh tubuh monster itu bergerak-gerak dan sosok Vesas keluar dari rimbunan pohon.

“Kau menganggap dirimu adalah mimpi buruk? Bukankah darah para shifter yang berhasil mendepakku sudah kuminum dan berhasil membuatku abadi beberapa ratus tahun? Kau salah tua bangka …. Aku adalah mimpi buruk ras kalian. Aku hanya ditugaskan untuk menikmati darah kalian. Sampai dunia ini mencapai akhir … atau sampai ras kalian sudah tidak tersisa lagi dari bumi ini ….”

Mendengar perkataan Vesas, monyet perak itu hanya menggeram sambil mencari cara menghalau monster di atasnya akan melumatnya. Dia harus segera pergi, lari dan bersembunyi sampai mana-nya penuh sekali lagi, atau bertarung demi cucu dan rasnya dengan mana terakhir yang dia punya.

Sedang di kawanannya yang sedang menunggu kakek Killkil bertarung dengan Vesas merasakan mana yang dimiliki oleh kakek Killkil semakin menipis. Beberapa kawanan shifter langsung berlarian meninggalkan kamp persembunyian mereka. Seseorang melihat Killkil yang tidak beranjak dari tempatnya.

“Kau! Killkil! Apa yang kau tunggu? Nenek terkutuk itu akan segera mengejar kita!”

“Tidak! Kakekku akan selamat! Dia akan datang menjemputku!” Killkil berkata dengan percaya diri. Tapi dia bisa merasakan mana kakeknya di tempatnya berada. Para shifter bisa merasakan mana shifter lain, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa seperti halnya mentransfer mana mereka ke shifter yang sedang membutuhkannya. Dan mana, bagi shifter adalah nyawa kedua. Jika mana mereka habis maka bisa dipastikan, shifter tersebut berada di bahaya besar dan kemungkinan besar dia akan mati.

Orang itu memegang tangan Killkil dan menariknya. Saat itu mereka merasakan kalau kakek Killkil sudah menggunakan mana terakhirnya.

*

Killkil menggunakan sisa mana-nya untuk berubah menjadi seekor ikan dan menceburkan diri ke pipa-pipa pembuangan yang arahnya menuju ke lautan. Selama berada di air dia memakan apapun yang masuk ke mulutnya dan perlahan demi perlahan mana yang sedikit tadi terkumpul lagi.

‘Brilian Killkil! Kau bisa lari sebentar dari nenek terkutuk itu dan memakan makanan ikan sebagai penambah mana! Brilian!’ puji Killkil yang terus menikmati apapun yang masuk ke dalam mulutnya dan membiarkan arus air dari pipa pembuangan ini membawanya sejauh mungkin, walau dia merasa nenek terkutuk itu tidak akan berhenti mengejarnya.

Vesas mengumpat dan paham ke mana Killkil pergi setelah pukulan terakhirnya yang dikiranya mengenai Killkil ternyata meleset. Dengan persona yang berbentuk seperti bayangan rangka burung yang menyelimutinya dengan asap hitam, dirinya segera melesat menuju ke bibir pantai.

*

Dalam penglihatanya yang masih berbentuk ikan, Killkil merasa sudah berada di bibir pantai dan merasakan plankton-plankton air laut sangat membuatnya merasa segar sedikit. Baru kali ini dia memakan makanan segar walau sedikit tercampur kotoran dari pipa pembuangan.

Setelah air laut memasuki insangnya dan mengubah dirinya menjadi ikan yang agak besar untuk memakan ikan lain yang kecil, Killkil baru sadar kalau lingkungan di sekitarnya menjadi aneh.

Dan karena sudah bertahun-tahun diajari untuk melatih kewaspadaan, Killkil berhasil menghindar dari sebuah persona berwujud ikan dengan gigi yang besar-besar yang tiba-tiba keluar dari bawah dirinya. Ikan itu berusaha memakan Killkil yang segera memunculkan diri ke permukaan, merubah dirinya menjadi burung kecil. Tapi percuma, ikan yang akan memangsa sangat besar! Badannya tidak terlihat dari daratan! Hanya moncong besar yang tiba-tiba keluar dari kedalaman air.

Killkil terus berusaha mengganti wujudnya menjadi burung kecil sampai ke burung yang besar untuk mendorong dirinya agar menjauh dari mulut persona itu!

“MATI!” teriak Vesas melihat wujud Killkil yang semakin tertelan oleh moncong persona Vesas berbentuk ikan raksasa.

*

“Kakek … kalau benar kita shifter, kenapa kita hanya bisa mengubah diri kita menjadi makhluk alam saja?” tanya Killkil yang membuat kakeknya berkerut.

“Maksudmu?”

“Kenapa kita tidak bisa mengubah diri kita menjadi seperti persona nenek terkutuk itu? Kenapa kita tidak bisa menjadi makhluk buas yang menyeramkan sehingga kita tidak takut melawan nenek terkutuk itu?”

“Killkil … mana itu adalah energi bumi ini. Sekaligus energi yang kita pakai untuk ‘berubah’! Tentu saja ada batasan-batasan dalam berubah. Kau harus benar-benar menyatu dengan bumi agar kau bisa berubah. Caranya? Dengan cara menjadi makhluk lain yang berbeda dengan wujudnya agar kelak kita bisa menjaga keseimbangan ….”

“Tapi kenapa lalu muncul para persona dan nenek terkutuk itu?”

“Energi, tak selamanya merupakan energi positif. Selalu ada energi negatif yang mengikutinya dan itulah … energi negatif itu muncul dan mendominasi sehingga merusak energi positif agar dirinya berkuasa atas segala energi di bumi ini. Kita sebagai energi positif sekaligus yang bisa mengontrolnya, harusnya bisa melawan energi-energi negatif yang ada. Mengeliminasinya walau tampak percuma karena energi negatif selalu ada karena energi positif selalu ada. Tapi apa daya, ras kita hanyalah satu-satunya ras yang bisa mengontrol energi positif tadi dan harusnya mendominasi di bumi ini. Kita harus tetap ada agar energi positif tetap ada ….”

“Jadi kita tidak bisa menjadi monster-monster menjijikan seperti persona nenek terkutuk itu?”

“Hahaha … kau ingin sekali sepertinya menjadi orang jahat. Kita tidak bisa menjadi seperti persona jahat. Tapi kita bisa menjadi seperti Yang Diagungkan!”

“Y-yang D-diagungkan?” Kakek Killkil hanya mengangguk.

“Hanya orang terpilih dan siap menampung seluruh mana positif bumi akan bersatu dengan Yang Diagungkan dan menjadi salah satu dengannya sehingga bisa mengurangi energi negatif itu ….”

“Lalu kalau ada Yang Diagungkan, kenapa energi negatif seperti nenek terkutuk masih ada di bumi?”

“Keseimbangan. Kau sepertinya harus banyak belajar.”

Kakek Killkil menerawang sambil melanjutkan, “semuanya akan seperti siklus. Hanya saja … dari sejak leluhur, kita—shifter adalah ras yang menaruh hormat dengan mana. Sampai kalau mana terakhir shifter habis, dia akan mati. Tentu saja semua akan mati tapi para shifter yang mati akan tergabung dengan Yang diagungkan. Sekarang energi negatif terbesar di bumi ini ada di nenek terkutuk. Kita harus mencegahnya agar tidak bertambah besar. Tapi kita punya Yang Diagungkan, energi positif terbesar di dunia ini. Energi mereka seperti saling melengkapi. Jika suatu saat nanti nenek terkutuk sudah mencapai puncaknya—misalnya dirinya sudah menjadi energi negatif terbesar di dunia ini dan ras kita tidak bisa menahannya, Yang Diagungkan akan datang untuk kembali menyeimbangkan dunia ini lagi.”

“Kapan?”

“Entahlah. Yang Diagungkanlah yang tahu. Kita hanya perlu menjaga mana kita supaya tetap ada.”

“Kita tidak bisa melawan?”

“Sekali lagi, kita adalah penjaga dan pemakai mana demi keseimbangan energi. Yang Diagungkan setahuku akan terus menjaga keseimbangan.”

***

Vesas terpana apa yang dilihatnya. Makhluk yang menelan Killkil bulat-bulat hancur berkeping-keping. Dan muncul makhluk bercahaya perak dari serpihan persona Vesas. Wajah Vesas ketakutan dan raut wajah anak kecil yang dari tadi mengejar Killkil, berubah menjadi raut wajah nenek-nenek dengan keriput yang menyelimuti seluruh kulitnya.

“Y-yang D-diagungkan?” kata suara serak Vesas. Makhluk perak itu semakin memperlihatkan sosok sebenarnya. Killkil yang diselimuti oleh makhluk seperti ular yang badannya terus bergerak tiada henti. Makhluk yang menyelimuti Killkil tidak memiliki kepala, hanya badan yang bergerak dan berputar mengelilingi tubuh Killkil yang sepertinya pingsan.

“Ini waktunya,” kata makhluk perak yang menyelimuti Killkil itu. Killkil hanya diam.

“K-kenapa kau baru keluar sekarang? Ke mana saja dirimu? Apa yang kau lakukan sehingga aku harus membunuh semua penjagamu? Penjaga energi-mu? Mana-mu? Atau apalah yang biasa kau sebut?”

“Aku mengujimu. Setelah kau mendapat pengetahuan tentang kekuatan energiku, aku ingin tahu apa yang kau lakukan. Ternyata kau berbuat berlebihan.”

“Karena aku ingin bertemu denganmu! Kau abadi! Aku tidak! Apa yang salah?” pekik Vesas dengan suara seraknya dan nafasnya yang berat.

“Kau shifter juga. Kau tidak bisa bersatu denganku! Kau memakai kekuatan mana hitam dan kekuatan mana shifter dan menciptakan persona! Lalu kau tahu tentang pengetahuan lebih agar mencapai abadi! Kau terlalu melanggar hukum yang sudah kuberikan untuk dunia ini!”

“T-tapi a-aku ….”

“A-aku m-mencintaimu ….”

Vesas ambruk. Dirinya tidak kuat menahan tubuhnya yang sudah renta dan keluar asap hitam dari tubuhnya. Killkil membuka matanya dan asap hitam itu menghilang bersama dengan tubuh Vesas.

“Karena cinta tidak cukup untuk dimiliki.” Suara Yang Diagungkan menggema. Membuat Killkil tersadar dan berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya merasa ada kekuatan lain yang mengontrol dirinya. Setelah mencoba menyatu sesaat dengan energi itu, Killkil tahu kalau ini energi Yang Diagungkan. Energi mana yang besar yang tidak bisa dikendalikan. Killkil merasa ketakutan. Sekelibat bayangan tentang kematian nenek terkutuk, lewat di pikirannya.

“L-lalu bagaimana denganku?” tanya Killkil kemudian. Dia sadar sepertinya tubuhnya bukan miliknya lagi. Dia tidak bergerak dan yang dilihatnya di depan hanya tubuh Vesas yang tertiup angin.

“Kau berkah. Kau akan kuberi keabadian yang dicari oleh pelanggar hukum tadi.”

“T-tapi aku hanya ingin bertemu dengan keluargaku. Kakekku. Kawananku. Rasku,” kata Killkil dengan tetap tidak bisa bergerak.

“Tidak bisa. Belum waktunya. Kadang keabadian merupakan kutukan. Dan kadang keabadian menghampiri orang yang tidak mencarinya ….”

“Aku menolak! Aku menolak untuk hidup abadi sepertimu!”

“Kau tidak bisa mencegahnya ….”

“Kalau begitu. Dengarlah ini Yang Diagungkan ….”

Yang Diagungkan diam. Dan melepas diri dari tubuh Killkil.

“Keabadian ini akan kuanggap benar-benar sebuah kutukan daripada sebuah berkah darimu. Dan ingatlah … dalam keabadianku ini, aku akan menghampirimu dan membunuhmu agar kau bisa mencabut berkahmu ini!”

Yang Diagungkan tidak menjawab. Tubuh Killkil berada di tepi pantai, tak jauh dari tempatnya berdiri adalah tempat tubuh Vesas berubah menjadi debu.

Ada cahaya dari ujung horizon yang dilihat Killkil.

“Aku tunggu ….” Suara Yang Diagungkan menggema, seperti sebuah undangan yang harus ditepati oleh Killkil.

Dan seketika itu asap hitam yang keluar dari tubuh Vesas kembali muncul dan menyelimuti tubuh Killkil.

“Kakek … kawananku … tunggu aku!”

Muncul persona hitam dari bayangan tubuh Killkil. Dengan kekuatan barunya, Killkil merupakan ras terakhir penjaga mana yang masih hidup. Dan ras terakhir penjaga mana yang bergabung dengan mana hitam atau biasa disebut energi negatif, pelanjut kutukan Vesas.

Dan kini dirinya tidak hanya memperoleh kutukan dari Vesas saja. Kutukan dari Yang Diagungkan yang membuat dirinya hidup abadi, juga didapatkannya.

Kutukan dari Yang Diagungkan yang membuat dirinya, memburu Yang Diagungkan untuk mengembalikan berkah dan kutukan yang diberikan olehnya.

***

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Kisah Ras Terakhir

  1. Rea_sekar says:

    Vesas?

    *melirik Vessa yang ada di cerpen nomer 140*

  2. nuno Qadarwaty says:

    Mana. Persona. Jadi inget main game.
    Good luck, JJ. ^_^

  3. negeri tak pernah-48 says:

    Jadinya semacam siklus gitu ya? @.@ pertarungannya menarik sih

  4. Ardani si nomer 191 says:

    Narasinya lancar dan menarik, sayang terlalu banyak flashback. Aku tidak suka flashback.

    Salah satu cerita yang punya banyak adegan pertarungan, dan pertarungannya tidak terasa terlalu membosankan. Mungkin kekurangannya cuman di beberapa dialog yang terkadang aku bingung siapa yang ngomong, tapi selain itu ga ada yang fatal kok.

  5. Adham117 says:

    Yang Diagungkan, You Suck! >,<

    Di antara semua cerpen FF yang sudah saya baca, barangkali ini yang paling panjang adegan actionnya. I like. Saya juga merasa penulisnya seperti tidak berniat untuk overachievement, sehingga tulisannya terasa effortless. I like too.

    3/5

  6. Keren! jadi minder nih usai baca cerpen ini, :) . Sepertinya aku masih harus banyak belajar lagi, terutama soal adegan pertarungan. semangat!

  7. FA Purawan says:

    Intense, keren, suspensenya dapet.

    Perlu berlatih terus untuk dapet feel yang lebih baik dalam manajemen tensi/ alur. Gue ngerasa tempo mulai tersendat kala cerita masuk ke mode flashback. Well, every flashback disrupts the flow sih, emang. Makanya kita mesti paham kapan enaknya dipakai dan berapa persen dia boleh mengganggu main story branch.

    Ada penempatan dialog yang membingungkan:

    “T-tapi a-aku ….”

    “A-aku m-mencintaimu ….”

    Biasanya dialog begini diasumsikan berlangsung saling berbalas. Pembaca akan terkecoh, nggak sadar bahwa ini diucapkan satu orang.

    Triknya biasanya dijadikan satu paragraf dan dipisah oleh keterangan apa, gitu. Contohnya:

    “T-tapi a-aku ….” tatapan Vesas meredup, “A-aku m-mencintaimu ….”

    Untuk ending, biarpun tidak jelek dan merupakan powerful twist, gue anggap ngga produktif, sebab merusak moral of the story alih-alih memperkuatnya (itu kalo lo punya sesuatu yang ingin disampaikan, tentunya… hehehe). Back to square one.

    Sukses terus, ya.

  8. gurugumawaru gurugumawaru says:

    iya setuju, dialognya ada yang bikin bingung *tunjuk atas*

    Selebihnya? saya suka cerpen ini, ceritanya ngalir. Dan adegan flashbacknya mulus, menurut saya.

    Komplennya? er… Killkil bisa punya keturunan kan? apa nanti anaknya bakal jadi shifter juga? berarti ada kemungkinan dia ga jadi shifter terakhir dong? (ini sih bukan komplen, tapi penasaran =__=).

    3 out of 5 :D

  9. rick luck says:

    keren. cuman yang aneh itu masalah si versas mencintai yang diagungkan. asa gubrakngisme. padahal sebelum sampe kesitu ceritanya keren.

  10. adhow says:

    Mana? kayaknya penulisnya suka maen game nih ^^ ahihi… just kidding ^^v

    balik ke topik…
    seandainya setiap adegannya diperhalus n didramatisir, pasti bisa jadi lebih “wah” di setiap pertarungannya ^^
    misalnya waktu Vesas nyerang Killkil dengan bayangannya. klo cerita di atas kan tiba killkil cakar2 bayangan Vesas. waktu baca itu q langsung kaget bingung, “lho kok tiba-tiba gini”
    coba ditambahin bayangannya yg mendekat, ato tiba-tiba muncul tapi dengan efek dramatis. pasti lebih enak n bikin tambah efek pertarungan ^^

    cuma itu aja sih… maaf klo kurang berkenan ^^

    Klo sempet mampir ke “Penjuru Angin – 213″

  11. Impian says:

    Nggak mau ngomentarin teknis sih, Mas JJ udah nggak diragukan lagi.

    aku awam fantasi, dan untuk komen orang awam, aku ingin adegan pertarungannya lebih detail dan didramatisir lagi. Ngoten mawon, suwun.

  12. jacob julian says:

    @impian
    ya moga berkah ultah ketularan di novel ini :D

  13. Salam kenal ya Jacob :D

    Waw gw suka ide ceritanya ^_^b mana, persona, yang diagungkan, dan twist di belakang. Honestly, twist ceritanya mengingatkan akan serial game Shin Megami Tensei (apa ada sedikit inspirasi dari sana? Hohoho)

    Untung sudah ditunjuk sebelumnya, gw bingung sama dialog aku mencintaimu itu. Haha. Ternyata itu maksudnya Vesas mencinati Yang Diagungkan? Aww T_T Sepertinya cerita ini kalau mau dikembangkan, bisa jadi dark romance fantasy. Plotnya keren.

    Oh ya, kalau ada waktu silakan mampir ke lapak 244 ya :D makasih.

    • jacob julian says:

      makasih udah mampir.

      untuk kemiripan aku malah belum pernah tahu Shin Megami. pernah main gamenya tapi nggak tahu cerita seperti ini -__-v …
      dan persona ini aku ambil dari artinya yaitu topeng–istilah di stand up comedy (yap lagi mencoba jadi comic sih :P). istilahnya individu yang lain dari diri kita. kalo ternyata mirip ya … hihihi. masa aku juga harus tulis persona ini shadow?

      btw makasih sarannya. aku mampir ke sana!

      greeting!

      [JJ]

  14. Richa Miskiyya says:

    Keren, Je. Akhir yang tak terduga :D

  15. Alfian Daniear says:

    Great in action!
    Tapi …. tiba-tiba saja saya terjerat virus “alamat palsu” gara-gara mana-mana-mana (termasuk juga persona, shifter, dan istilah lainnya) –> harap maklum, saya bukan gamers atau apalah, so saya berusaha mencari keterangan soal istilah tersebut di cerpen yang agak susah dicerna.

    Well, secara utuh seperti yang saya sampaikan di awal, this story has great action scene :) Good Luck

    • jacob julian says:

      makasih sob udah mampir!

      hihohohiho istilah emang ada di kebanyakan game RPG. jadi yang bukan gamer agaknya susah menerima … :P

      masih sulit bikin world building sama istilah yang baru

      gud luk to you too

  16. marry kenzhu says:

    hmm cerita’y lumayan menarik, walau agak bingung dikit hkhkhk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>