Klise Mimpi Negeri Dongeng

KLISE MIMPI NEGERI DONGENG

karya Althea Jade

Seingatku, yang kulakukan semalam tidaklah jauh dari biasa—mencuci muka dan kaki, menyikat gigi, dan tidur. Seperti anak remaja lainnya, tentu saja. Tetapi entah mengapa, aku malah bisa terdampar di negeri aneh ini.

Begitu aku terjaga dari tidur nyenyakku, aku tidak dapat merasakan empuknya kasur tempatku biasa tidur. Yang terasa malah rerumputan yang menggelitik kulitku. Aku membuka mata. Cahaya matahari yang menyilaukan hampir saja membutakan mataku.

Pada saat mataku mulai dapat menyesuaikan diri dengan jumlah cahaya yang masuk, samar-samar aku mulai dapat melihat keadaan di sekitarku. Di sekelilingku adalah hamparan rumput hijau yang seakan tak berujung. Tak ada pepohonan sama sekali. Bunga dandelion beterbangan di sekitarku, dan udara seakan-akan bercahaya dan berwarna-warni.

Aku mendudukkan diriku. Mendadak, di sebelah tempatku duduk muncullah sebuah cermin kecil. Aku segera meraihnya dan memperhatikan diriku sendiri.

Astaga! Kini aku bukanlah aku yang biasanya. Kini, aku adalah seorang wanita muda berusia dua puluh tahunan, dengan rambut merah bergelombang dan mata hijau yang indah. Anehnya, aku masih mengenakan pakaian tidurku. Aku mengusap kedua mataku, dan berkedip berkali-kali. Kucubit lenganku. Sakit, berarti ini memang bukan mimpi. Tapi, mengapa bisa begini?

“Nona, mengapa kau duduk di sini sendirian?” Suara lembut itu menyapaku. Aku menoleh dan menemukan seorang pangeran berkuda putih sedang berdiri di belakangku dengan senyum yang menawan. Mahkota emasnya berkilat-kilat terkena sinar matahari, menghiasi rambut gelapnya, membuat penampilannya terlihat lebih keren. Aku pun memandangi pangeran itu tanpa berkedip.

“A—Aku… Aku…”

Keadaan disekitarku pun berubah. Mendadak aku berada di tengah-tengah sebuah pesta dansa. Kuda putih pangeran itu menghilang entah kemana, dan sang pangeran kini tengah berdiri di depanku, membuat gestur mengajakku berdansa.

Seingatku, aku masih mengenakan pakaian tidur. Dengan panik, aku memperhatikan diriku sendiri. Kini aku telah mengenakan sebuah gaun biru muda yang berhiaskan manik-manik, dengan renda-renda dan pita di sana-sini. Aku pun meraba rambutku sendiri. Tak terduga, rambutku kini sudah tertata rapi dengan gaya seperti pengantin.

Tersenyum, aku menerima ajakan sang pangeran. Kami berdansa berdua, diiringi alunan musik waltz yang harmonis. Jantungku berdetak lebih kencang dua kali lipat—tidak, maksudku sepuluh kali lipat, bayangkan itu—saat kami berputar-putar di lantai dansa.

Jam menunjukkan angka dua belas tepat—tengah malam. Lonceng pun berdentang. Satu… Dua… Tiga….

Aku teringat kisah dongeng Cinderella. Dengan susah payah, aku kabur dari tempat pesta dansa berlangsung dan berlari menuruni tangga. Aku merasakan sepatuku terjatuh sebelah, namun tidak terlalu mempedulikannya.

Dan di hitungan yang keduabelas, keadaan di sekitarku pun kembali berubah. Warna-warni di sekitarku membaur, bersatu padu, dan membuatku merasa pusing seketika. Ketika semuanya berhenti, aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan lain. Lukisan-lukisan yang terbuat dari cat tergantung di dinding ruangan itu. Beberapa kanvas kosong tergeletak di sudut ruangan, bersama dengan sebuah palet warna yang berisi beberapa cat warna, yang sudah mulai mengering.

Aku mendapati rambutku kini terasa lebih berat. Aku pun memeriksa penampilanku di sebuah cermin. Kini rambutku berubah berwarna pirang, dan ternyata telah memanjang hingga melebihi tinggi tubuhku. Mengenakan sebuah gaun merah jambu kusam, aku tampak seperti seorang pembantu.

“Rapunzel!” Terdengar suara seorang wanita dari luar sana, dari arah jendela. Aneh, pikirku. Namaku adalah Prita, dan bukan Rapunzel.

“Rapunzel!” Panggilan itu terdengar kembali, dan oktaf suaranya kian meninggi. Mau tidak mau karena merasa terganggu, aku berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar itu, dan menatap ke luar.

Ternyata, aku sedang berada di sebuah menara yang sangat tinggi. Di sebelah menara ini, terdapat menara-menara lainnya. Di bawah sana, seorang wanita tua sedang menatapku. Kedua alisnya hampir bertaut, jelas sekali bahwa ia sedang kesal.

“Ayo, Rapunzel, tunggu apa lagi?” seru orang itu. Aku mengernyit bingung.

“Lalu apa maksudmu dengan ‘tunggu apa lagi’?” tanyaku dengan lantang. Wanita itu mendengus kesal, kemudian kembali berteriak.

“Turunkan rambutmu!”

Otakku semakin pusing rasanya. Dengan terpaksa, aku menurunkan rambutku yang ternyata dapat mencapai dasar menara. Tersenyum sinis, wanita itu meraih rambutku dan mulai memanjat. Hingga wanita itu sampai ke puncak menara dimana aku berada, aku masih tidak dapat mengerti apa yang terjadi.

Aku menarik rambutku kembali dan kuletakkan ujungnya di lantai ruangan secara asal. Di saat aku menoleh ke arah wanita itu, ia sedang tersenyum lebar dengan raut wajah mengintimidasi. Tipikal… ibu tiri?

Kemudian keadaan kembali berubah. Wanita itu menghilang menjadi serpihan debu, dan lingkungan sekitarku kembali berputar-putar, bersatu padu, dan bercampur aduk.

Kali ini aku berada di ruang utama sebuah kastil. Sebuah singgasana kosong terlihat di depanku, berhiaskan batu-batu permata mulia. Aku tergoda untuk duduk di sana.

Sayangnya, baru setengah jalan menuju ke sana, sebuah sosok muncul di singgasana itu dengan perlahan. Seorang pangeran lain lagi—kali ini berambut hitam legam. Wajahnya tanpa ekspresi dan sangat datar.

Sesaat kemudian, pangeran itu berubah menjadi sesosok monster berbulu cokelat dan bertaring. Matanya merah menyala. Sosok itu seakan-akan bisa menerkamku kapan saja, dan pikiran itu membuatku takut setengah mati. Sosok itu menggenggam sebuah toples kaca yang berisikan bunga mawar layu.

Aku berjalan mundur, mencoba pergi dengan berhati-hati. Karena tidak melihat jalan, kakiku terantuk sesuatu dan punggungku pun mendarat dengan sukses di permukaan lantai.

Aku mengaduh kesakitan dengan mata yang masih terpejam.

“Bangun, ayo bangun.”

“Ayo, gadis manis, kau harus bangun.”

Suara-suara itu membuatku kembali was-was akan apa yang terjadi. Aku membuka mata, dan berteriak spontan ketika melihat apa yang ada di depanku.

Sekumpulan peralatan dapur yang bisa bicara!

Keadaan di sekitarku kembali berubah. Kali ini aku merasa seakan-akan terlempar ke suatu tempat yang sangat jauh, dan terjatuh ke dalam sebuah jurang tak berdasar.

Begitu sadar akan apa yang terjadi, aku mendapati diriku berada di dalam air. Bahkan aku dapat bernapas dalam air. Aku dapat merasakan dengan jelas, bahwa kini fisikku telah berubah menjadi manusia duyung.

Aku menatap sejauh yang kubisa, tetapi yang terlihat hanyalah warna biru indah dan sekumpulan ikan trout.

Kini semuanya terjadi secara lebih cepat. Keadaan di sekitarku langsung berubah, dan dalam sekejap aku sudah berada di ruangan sebuah istana bergaya tradisional.

Seorang wanita separuh baya memasuki ruangan tempatku berada. Wanita itu sangat cantik, walaupun kelihatan bahwa usianya tidak lagi dapat terbilang muda. Wanita itu memakai pakaian berwarna kuning cerah dengan hiasan emas beserta batu permata mulia, dan rambutnya disanggul menggunakan tusuk kundai yang terbuat dari emas juga. Kebanyakan perhiasannya berhiaskan bunga-bungaan dan emas, dan itu mengingatkanku akan wanita-wanita ningrat dari keraton-keraton Jawa.

“Anakku,” kata wanita itu, “sungguh kehormatan yang sangat mulia bagiku, karena Yang Maha Esa telah mengizinkan diriku sebagai ibundamu untuk menyaksikan detik-detik dimana engkau akan berusia tujuh belas tahun.”

Suara wanita itu terdengar sangat lembut dan perhatian, mengingatkanku pada ibuku sendiri. Pada saat aku berpikiran demikian, mendadak aku merasa kangen pada suasana rumahku.

Salah tingkah, aku mengangguk dan memasang senyuman terbaikku—palsu, tentunya. Wanita itu membalas senyumanku, dan mengecup dahiku. “Ayahanda-mu punya kejutan untukmu.”

Aku terheran-heran sendiri ketika wanita itu sudah pergi meninggalkan ruangan. Kejutan? Aku tidak suka kejutan.

Aku pun menyadari bahwa keadaan sekitarku tidak juga berganti setelah beberapa menit berlalu. Aku menghela napas lega, namun tetap saja ada rasa khawatir yang masih menyangkut dalam pikiranku. Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah aku bisa pulang kembali ke rumahku?

***

Aku diarak dalam tandu menuju ke luar istana oleh para dayang. Di saat kami sampai ke alun-alun, sorak-sorai warga pun terdengar. Sangat meriah, dan membuat gendang telingaku seakan-akan bisa pecah kapan saja. Dibantu oleh seorang dayang, aku keluar dari tandu dan dituntun menuju ke tempat ‘ayahanda’ dan ‘ibunda’ku berada.

“Ayahanda,” ucapku sambil berlutut di depan pria yang mengenakan pakaian serba mewah, yang—lagi-lagi—berhiaskan emas dan batu permata mulia. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah ber-acting, batinku. Semoga dengan begitu, aku bisa cepat kembali ke rumah.

Paling tidak, itulah yang ada di pikiranku.

Aku pun melanjutkan dengan berlutut kepada wanita yang mengaku sebagai ibundaku dengan senyum palsu. Sorak-sorai warga  semakin riuh terdengar, ketika aku kembali bangkit berdiri.

“Anakku,” ujar pria yang mengaku sebagai ayahandaku. “Kini engkau telah genap berusia tujuh belas tahun. Saatnya kau menerima hadiah dari kami semua—persembahan dari rakyat kerajaan kita untuk dirimu. Hadiah ini menunjukkan betapa besar cinta mereka padamu.”

Pria itu memberi tanda dengan tangan kanannya, dan dua orang dayang muncul dari antara kerumunan rakyat. Mereka membawa sebuah bantal sutra, dimana di atasnya terdapat sebuah kalung.

“Inilah hadiahku untukmu, nak. Pakailah, dan tunjukkanlah bahwa engkau menerima cinta rakyat kita.” Setelah pria itu selesai berbicara, sang ‘ibunda’ yang sedari tadi berdiri di sebelahnya pun berjalan ke arahnya. Wanita itu mengambil kalung dari para dayang, dan membantuku mengenakannya di leherku.

Di saat itu pula, aku mengamati kalung itu dengan seksama. Cantik sekali, pikirku. Terbuat dari emas dan batu-batu permata mulia lainnya—yang bahkan sepertinya jauh lebih mulia dari hiasan-hiasan di sanggul ‘ibunda’nya—kalung itu merupakan benda tercantik yang pernah kulihat sampai sekarang ini.

Namun, sebuah suara berkata dalam kepalaku, Buang kalung itu.

Aku tersentak kaget, namun berusaha mengabaikannya. Suara itu bukan suaraku maupun suara ‘ibunda’ku.

“…Tidak.” Aku sadar bahwa aku benar-benar mengucapkan isi hatiku, yang maksudnya untuk menolak perintah suara dalam kepalaku tadi.

“Ada apa, anakku?” tanya sang ‘ibunda’.

“Tidak, bukan apa-apa, ibunda,” jawabku berbohong.

Ketika kalungku telah selesai dipakaikan, rakyat bersorak-sorai semakin riuh. Semuanya meneriakkan, “Panjang umur, Tuan Putri!” “Selamat ulang tahun, Tuan Putri!” atau semacamnya. Mendadak, aku merasa semua yang ada di sekelilingku berputar-putar. Sensasi yang sama kembali kurasakan. Bukannya berpindah ke tempat lain, aku malah merasa semuanya menjadi gelap.

Aku merasa seakan-akan terjatuh dalam kekosongan yang tak berdasar.

***

Aku terbangun di suatu tempat lain. Kali ini, bukan tempat yang aneh-aneh lagi, melainkan di ruang tamu rumahku.

Hei, aku kembali! Aku ingin sekali menjerit-jerit senang, namun ada sesuatu yang tidak beres di sini. Rumah ini sangat sepi, tidak seperti biasanya. Paling tidak, biasanya ada suara tangisan adik kecilku yang masih bayi.

Aku berlari menuju cermin terdekat, dan memperhatikan diriku sendiri. Sudah kembali seperti biasa—seorang anak berusia dua belas tahun berambut cokelat dengan mata yang juga berwarna cokelat. Aku pun memperhatikan jam dinding yang ada di ruang makan—pukul lima sore. Sudah selama itukah aku bermimpi?

“Prita!” Terdengar suara ibuku yang memanggilku. Aku merasa senang seketika, karena akhirnya ada suara. Paling tidak, kini rumahku sudah tidak terasa sepi dan menyeramkan.

“Prita!” Kali ini ayahku yang memanggilku. Asal kedua suara itu dari lantai atas, entah tepatnya dari mana. Aku bergegas pergi menuju asal suara.

Tunggu, ada sesuatu yang ganjil di sini. Ayah dan ibu biasa kerja lembur, dan tidak mungkin mereka sudah pulang sekarang.

“Prita!” Kembali terdengar suara ibuku. Aku mulai merasa takut. Apakah terjadi sesuatu pada ibu dan ayah, atau mungkin adik kecilku, sehingga mereka pulang secepat ini?

Aku mempercepat langkahku dalam menaiki tangga yang berbentuk melingkar. Merasa was-was, aku mencoba memicingkan mataku untuk melihat ke segala penjuru, dan menajamkan pendengaranku untuk mencari sumber suara.

“Prita!” Lagi-lagi suara ayahku. Jelas sekali bahwa suara itu terdengar dari gudang. Jantungku berdegup kencang. Aku memberanikan diri untuk berjalan mendekati pintu gudang. Aku pun meraih kenop pintu dan memutarnya perlahan.

Pintu berderik saat aku membukanya. Gelap. Aku mencari-cari saklar lampu dengan meraba-raba di dinding sebelah pintu. Di saat aku sudah menemukannya, aku pun segera menekan tombol lampu. Dan dalam sekejap, ruangan yang gelap pun berubah terang benderang. Mataku langsung menyesuaikan diri dengan jumlah cahaya.

Seperangkat alat aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya, kini berada di dalam gudang itu. Alat itu terlihat seperti layar televisi raksasa, namun tidak memiliki antenna. Aku terhenyak ketika menyadari bahwa gambar di layar itu menampilkan sosok diriku sendiri yang sedang menatap sebuah layar, yang juga menampilkan diriku. Layar itu menampilkan apa yang sedang kulakukan, begitulah analisaku.

Terlihat sebuah kursi besar di tengah-tengah ruangan, menghadap ke arah layar itu. Kursi itu bergerak, berbalik dan menunjukkan orang yang tengah duduk di sana.

“Bagaimana, Prita? Terkesan dengan hasil penemuanku?”

Betapa kagetnya aku karena orang itu adalah tetanggaku, seorang ilmuwan yang sering dianggap gila oleh orang-orang yang pernah melihatnya. Namanya adalah Cyrillus. Lelaki yang usianya sudah menjelang usia tua itu seringkali berpapasan denganku dalam perjalanan pergi maupun pulang sekolah, dan biasanya aku akan lari menghindari senyuman lebarnya yang mengerikan.

“Kenapa kau… kenapa kau ada di sini? Dimana ayah dan ibu?” tanyaku dengan ragu.

“Kenapa? Hm… Aku hanya ingin mencoba hasil penemuanku saja. Ayah dan ibumu masih belum pulang, tenang saja, karena aku hanya memanipulasi suara mereka,” jawab Cyrillus santai. “Bukankah tidak masalah bila aku menggunakan dirimu sebagai bahan percobaan?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. “Alat apa itu?” tanyaku.

Cyrillus berdiri dari kursinya dan memandang hasil penemuannya dengan mata berbinar-binar. “Alat ini adalah alat untuk mengontrol mimpi. Sudah terbukti, bukan, alat ini benar-benar bisa membuatmu memimpikan apapun yang kau inginkan—ah, dalam hal ini, yang aku inginkan? Dan bukankah mimpi itu terasa nyata? Eh… Untunglah, ternyata alat ini benar-benar bisa berfungsi dalam percobaan tadi.”

Aku tertegun, mencoba mencerna kata-katanya. Memang benar, pikirku. Aku sempat terbuai dalam mimpi buatannya tadi, dan menikmati peranku sebagai boneka yang ia kendalikan.

“Lalu bagaimana jika hasil penemuanmu ini tidak berjalan sesuai dengan yang kau harapkan?” tanyaku dengan serius. “Bagaimana jika mimpi buatanmu tidak dapat berhenti?”

“Maka…” Ia menghentikan ucapannya sesaat. “Maka kau tidak akan pernah bangun dari tidurmu.”

Aku tersentak kaget. Kemudian, aku memicingkan mataku. “Kalau begitu… aku beruntung, rupanya.”

“Baiklah, kalau begitu… Ikutlah denganku,” kata Cyrillus seraya menggaruk-garuk rambutnya yang sudah beruban. “Aku telah memastikan bahwa kau memenuhi standar sebagai kelinci percobaanku. Aku akan terus menyempurnakan alat ini sehingga dapat mengontrol mimpi semua orang tanpa kecuali! Aku akan menjadi penguasa mimpi. Dan aku… Aku….”

Ucapannya terhenti.

“Apa?” tanyaku.

“…Sejak saat itu. Mimpi buruk pertamaku,” ujar Cyrillus dengan lirih. “Aku dikejar-kejar manusia serigala. Aku hampir diterkam manusia serigala itu. Namun ternyata semuanya hanya mimpi. Namun, tetap saja….

Setelah saat itu, mimpi buruk selalu datang menghantuiku. Setiap kali aku bermimpi, pasti memimpikan mimpi buruk. Sejak saat itu, mimpi indah tidak pernah datang padaku. Karena itu, aku benci!”

Aku memperhatikan Cyrillus yang sudah mulai gila. Bola matanya mendelik, seakan-akan bisa lepas kapan saja. Gerak-geriknya semakin aneh, ia berjalan tanpa arah yang jelas. Kemudian ia kembali duduk di kursi dan meraih sebuah benda yang terlihat seperti remote control.

“Aku memang belum bisa mengendalikan mimpi sepenuhnya, buktinya tadi kau tidak mematuhi skenario cerita Telaga Warna versiku sendiri,” katanya dengan suara parau. “Selanjutnya aku akan mencoba memberikan mimpi buruk dan mengendalikannya. Jika kau mau mematuhiku dan menjadi kelinci percobaanku, maka setelah aku berhasil menyempurnakan alat ini, aku akan memberikan mimpi indah setiap harinya padamu.”

Janjinya terdengar begitu menggiurkan. Mimpi indah setiap hari, siapa yang mau menolak tawaran semacam itu?

Tetapi kemudian aku tersadar. Aku mencoba berpikir rasional. Sebelum aku bisa mendapatkan hadiah berupa mimpi indah, mungkin aku akan diberikan puluhan mimpi buruk terlebih dahulu. Ah, tidak, tetapi ratusan. Ratusan mimpi buruk harus kulewati, sebelum aku mendapat hadiah mimpi indah yang dijanjikannya.

“Tidak! Aku tidak mau,” seruku tegas. “Tidak ada gunanya menjadi kelinci percobaanmu, ilmuwan gila!”

“Gila?” Ia terkekeh. “Baiklah, aku akan memberitahumu apa yang benar-benar gila.”

Cyrillus menekan tombol remote control-nya. Mendadak kepalaku terasa pusing, dan sensasi yang sama kembali menghantuiku. Dunia di sekelilingku berputar, dan mendadak aku tengah berada di antara awan-awan yang berarak.

Aku terjatuh dari ketinggian. Angin dingin menerpa kulitku. Aku tersentak kaget saat sebuah pesawat melintas di atasku—semuanya terasa begitu nyata, sehingga aku sempat meragukan bahwa ini semua adalah mimpi.

Belum sampai terjatuh di tanah, sebuah selendang merah menangkapku. Selendang itu melilit dengan sendirinya di pinggangku, dan dengan kuat menarikku kembali ke langit biru. Aku meronta-ronta, ingin melepaskan diri, tetapi hasilnya nihil. Selendang itu tetap menarikku ke suatu tempat. Entah tepatnya kemana, aku tidak tahu. Namun, yang jelas, aku merasa bahwa aku tidak akan pernah bertemu dengan keluargaku lagi. Aku akan merindukan mereka, sangat merindukan mereka….

***

Cerpen itu terputus dari sana. Cerita yang diselesaikan oleh teman baikku, Prita, untuk tugas mengarang di sekolah dua hari yang lalu, sebelum ia menghilang tanpa jejak dan tidak ditemukan lagi. Aku menghela napas, meletakkan kertas itu di meja belajarku dan pergi merebahkan diri di tempat tidur.

Apakah Prita benar-benar diculik untuk dijadikan kelinci percobaan ilmuwan itu? Ah, setahuku memang ada seorang ilmuwan yang merupakan tetangga Prita, tetapi aku tidak tahu siapa namanya. Apakah namanya Cyrillus? Entahlah, yang jelas ilmuwan itu kini juga entah ada dimana.

Lalu, apa yang akan terjadi kemudian? Apakah ilmuwan itu benar-benar akan dapat mengontrol mimpi semua orang?

Itu pun jika kejadian dalam cerpen Prita benar-benar terjadi.

Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar-putar dalam otakku, membuatku merasa pusing. Aku berusaha merilekskan pikiranku, dan memejamkan mataku. Biar waktu yang menjawab semuanya, pikirku.

Aku pun mengucapkan selamat tidur pada diriku sendiri. “Selamat tidur, Lilia Anne,” bisikku lirih seraya menarik selimutku. “Semoga Cyrillus si ilmuwan gila tidak mengganggu tidur nyenyakku malam ini.”

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Klise Mimpi Negeri Dongeng

  1. Aditya RF says:

    Akar, ane gak paham jalan ceritanya, tapi idenya keren.

  2. noey ismii says:

    Akar … emmm, banyak banget mimpinyaaa… hihihi, *garuk kepala* tapi suka sih, ><
    mampir di 113 Mutiara Matahari yaaa… ^^

  3. hantu says:

    ini pendapat saia:
    1. terlalu banyak mimpi, mengurangi “kenikmatan” mimpi indah
    2. emosi Prita kurang dapet feelnya
    3. latar belakang “psycho”nya Cyrillus kurang
    4. cerpen yang ditulis Prita tidak sinkron waktunya dengan kejadian dalam cerita
    5. jika ini hanya cerpen dari Prita, maka bukan fantasi, lebih ke arah misteri

    - hantu -

    • Althea says:

      Aduh, makasih kakak hantu karena udah mau kasih cabe ^o^
      1. Itu memang geje kak, hehe.
      2. Saya mengakui kalau saya payah soal karakterisasi ><
      4. .___.
      5. iya, lebih ke misteri kalau dipikir-pikir lagi.
      Tapi makasih ya kak karena udah mau komen… Cabe, lagi… Pokoknya makasih! Sebelumnya saya kira nggak ada yang sudi berkunjung… Dan ngasih cabe, hehe. ^^v

  4. DPL :) says:

    Althea…. Saya voting ceritamu untuk jadi pemenang lomba FF ini! Kamu menggabungkan Beauty and the Beast, Rapunzel, Sleeping Beauty, Inception, dan kedahsyatan huruf di sini.

    Saya sih nggak peduli ada yang mau komentar apa. Ceritamu membuat saya “goosebumps”. Aku minta link ke facebook atau emailmu dong? Prita, asal namanya seperti Putri Salju. Kue kering, lidah kucing, dan semua yang semanis madu. Saranku hanya satu pada portalmu, tokoh Lilia Anne lebih baik jadi lelaki. Namai dia Lumiere Sargue. Itu saja. Berkunjung ke kompasiana ya? Nih: http://www.kompasiana.com

    Ingatlah bahwa spasi adalah Tuhan bagi penyair. Kalau ada message therapist, tanpa spasi akan jadi the rapist. Tontonlah Sweeney Todd, atau Edward the Scissorhand. Suka Johnny Depp, Jude Law atau Dwayne Johnson? ;)

    Di film kadal raksasa, The Rock nyanyi pake ukulele lho. Damn, how I love that movie. :D

  5. Hai salam kenal ya :D

    Menurut gw, konsep ceritanya menarik kok. Yang disayangkan emang masing-masing mimpi agak terlalu cepat berlalu (kecuali mimpi yang terakhir, kisah Telaga Warna?).

    Gw setuju sama komentar sebelumnya yang mengatakan bahwa latar psycho si Cyrillus kurang dapat. Mungkin kalau lebih diperdalam lagi, cerpen ini berpotensi bagus buat jadi thriller mystery. Hehe.

    Kalau dari segi teknis sih gw no comment ya. Udah cukup rapih, namun sepertinya ada beberapa dialog yang lebih baik dijadikan satu paragraf aja. Misalnya yang ini :

    ________
    “….. Aku hampir diterkam manusia serigala itu. Namun ternyata semuanya hanya mimpi. Namun, tetap saja….

    Setelah saat itu, mimpi buruk selalu datang menghantuiku. Setiap kali aku bermimpi, pasti memimpikan mimpi buruk…..”
    ________

    Menurut gw sih lebih baik digabung jadi satu paragraf, atau diberi jeda supaya seolah-olah dialognya memang terhenti sebentar seperti ini :

    ________
    “Aku hampir diterkam manusia serigala itu. Namun ternyata semuanya hanya mimpi. Namun, tetap saja..,” ucapnya sambil menundukkan kepala sebentar.

    “Setelah saat itu, mimpi buruk selalu datang menghantuiku. Setiap kali aku bermimpi, pasti memimpikan mimpi buruk….”
    ________

    Yah kita- sama-sama masih belajar ya. Hehe. Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>