[Kuharap] Menjadi Penyelamatmu

[KUHARAP] MENJADI PENYELAMATMU

karya Hana Angelia

Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Kata-kata tersebut melintas di pikiran Ethan ketika sedang melihat kertas pengumuman yang di tempel di dinding-dinding istana. Kertas tua itu memang sengaja di tempel sebagai peringatan kepada orang kerajaan untuk membawa seorang yang menyandang kutukan api ke istana jika bertemu dengan mereka. Ethan merasa gelisah dan memegang kepalanya.

“Ethan!” Teriak seorang prajurit dari belakang. “Kau diminta untuk mengantarkan pesan penting ini kepada Tuan Gaston di kota Dorwen.

“Dorwen? Aku harus melewati Wonder Forest yang luas untuk menuju kota itu bukan?”

“Yap, lebih baik kau segera siapkan kudamu”

“Baiklah Arnaud, akan kusiapkan…” jawab Ethan lemas.

“Kau baik-baik saja? Semangatlah sedikit, jabrik coklat!”

“Baiklah, aku pergi dulu.” Kata Ethan meninggalkan Arnaud.

Ethan menaiki kudanya dan pergi mengantar pesan seorang diri. Sebenarnya ia malas sekali jika harus melewati Wonder Forest karena baginya hutan itu bagaikan labirin yang menyesatkan. Inilah negeri Mirgate, semuanya serba luas. Syukurlah kali ini Ethan dapat melewatinya dan berhasil mengantarkan pesan.

Saat perjalanan pulang, Ethan lupa rute yang ia lewati tadi. Ia merasa bodoh sekali karena tidak memberi tanda pada tiap rutenya. Akhirnya Ethan mencoba mengingat rute menuju kembali ke Istana Mirgate. Ethan menghentikan langkah kudanya ketika melihat sosok seorang gadis. Siapa itu? Apakah ada gadis yang hidup di hutan ini? Ethan turun dari kudanya dan memberanikan diri untuk melihatnya. Bisa saja gadis itu tersesat di hutan ini.

Setelah beberapa langkah Ethan mendekatinya, tiba-tiba gadis itu membalikkan badan dan dengan cepat menghajar wajah Ethan. Tapi Ethan lebih dulu memegang tangan gadis itu, gadis berpakaian lusuh yang membawa pisau di tangan satunya. Gadis itu menarik tangannya, wajahnya terlihat marah sekali.

“Siapa kau?!” Teriak gadis itu.

“Aku Ethan, prajurit Istana Mirgate. Aku tersesat di sini,” jawab Ethan.

“Bohong! Kau pasti datang untuk menangkapku!”

“Menangkapmu? Apa maksudmu?” Ethan tidak mengerti apa yang diucapkan oleh gadis yang sebaya dengannya itu. Jelas-jelas ia tersesat di hutan yang luas ini.

“Pembohong!” Balas gadis itu ketus. Ethan menatap gadis itu dan ia melihat tanda api di pundak gadis itu.

Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Kata-kata itu terlintas di kepala Ethan, membuatnya kembali gelisah. Gadis itu menyadari Ethan memperhatikan tanda pada pundaknya. Ia membalikkan badannya.

“Ya, kau pasti tahu aku seorang penyandang kutukan api,” kata gadis itu gemetar. “Kau akan menangkapku ‘kan?!”

Ethan menghilangkan kegelisahannya dan mendekati gadis itu. “Kutukan api hanya berbahaya bagi penyandangnya, karena penyandang kutukan ini berumur pendek bagaikan api yang menggerogoti nyawanya. Sama sekali bukan kutukan yang berbahaya,” kata Ethan.

“Aku tahu! Tapi kenyataannya mereka akan membunuhku! Aku tak sudi mati di tangan orang lain!” Jawab gadis itu yang segera lari meninggalkan Ethan.

Ethan memang sengaja untuk tidak mengejarnya. Ia berniat untuk datang ke tempat ini lagi.

Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Kalimat itu muncul lagi di dalam pikiran Ethan…

 

Seperti yang telah ia rencanakan, Ethan kembali lagi ke tempat ia bertemu gadis penyandang kutukan api. Ethan menelusuri daerah sekitar tempat mereka bertemu kemarin dengan kudanya. Ia bernekad mencari gadis itu lagi.

Ethan menghentikan langkah kudanya. Ia melihat sebuah pondok kecil, di tengah hutan yang luas ini. Apakah itu adalah tempat tinggal gadis kemarin?

Tiba-tiba seseorang mendorong Ethan jatuh dari kudanya. Ethan kaget sekali karena melihat gadis kemarin mendorongnya jatuh. Tapi di sisi lain, ia merasa lega gadis itu baik-baik saja.

“Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?!” Teriak gadis itu.

“Aku sendiri yang menemukannya. Jadi, rumah itu adalah rumahmu?” Jawab Ethan.

“Jangan sekali-kali kau dekati rumahku!!” Teriak gadis itu secara spontan.

Ethan berdiri dan membersihkan baju besinya yang kotor karena jatuh. “Aku di sini untuk menolongmu. Aku punya bukti jika kutukan api sama sekali tidak berbahaya”

Gadis itu memusatkan pandangannya pada mata Ethan yang tegas. “Katakan! Benarkah itu? Beritahu aku!” teriak gadis itu sambil meremas lengan Ethan.

Kalimat Ethan memang benar apa adanya. Ia memiliki bukti bahwa kutukan api tidak berbahaya. “Sebagai gantinya, maukah kau memberitahu namamu?”

“Ray, namaku Ray,” jawab gadis itu. “Aku tak ingin ada yang memasuki rumah yang dibuat oleh orangtuaku agar tak ada yang menemukanku,” lanjutnya.

“Tentang kutukan api yang berbahaya, itu hanyalah propaganda,” jelas Ethan. Ray tertegun mendengarnya.

“Raja Mirgate yang membuat kebohongan bahwa penyandang kutukan api memiliki kekuatan untuk mengambil nyawa seseorang. Kebohongan ini sudah ada sejak dulu, dan akhirnya semua percaya akan hal itu,” lanjutnya. “Inilah Mirgate, semua orang harus percaya apa perkataan Raja…”

Ray terkejut, ia tidak menyangka orang yang berkuasa mutlak yang membuat kebohongan yang tak masuk akal seperti itu. Apa maksudnya? Apakah ia harus percaya kepada prajurit ini? Suaranya seakan tertahan sampai pada tenggorokannya, tak sanggup untuk bertanya. Ia hanaya bisa diam.

“Keberadaanku di sini sudah menjadi bukti bahwa kutukan api tak berbahaya. Percayalah…” Ethan mengulurkan tangannya kepada Ray. Ray menatap wajah Ethan, dan menjabat uluran tangan Ethan. Gadis itu akhirnya memilih untuk mempercayai Ethan…

Beberapa minggu kemudian Ethan tetap mengunjungi Ray untuk memastikan keadaannya. Ethan sering sekali membolos latihan berperang untuk prajurit junior hanya demi Ray.

“Berani sekali, kau tidak takut?” Tanya Ray ketika Ethan mengatakan kalau ia membolos.

“Biarlah, lagipula aku tidak terkenal di kalangan senior yang melatih,” jawab Ethan. “Aku lebih mementingkan kesehatanmu.” Lanjutnya tersenyum. Mereka sudah menjadi sedekat ini sekarang. Mereka sering bercanda bersama dengan leluasa.

“Ray, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ajak Ethan tiba-tiba.

“Ke mana? Bagaimana dengan rumahku?”

“Hanya sebentar,” paksa Ethan. “Tidak apa-apa.”

Akhirnya Ray pergi dengan Ethan. Ternyata mereka menuju sebuah padang bunga luas yang letaknya tidak jauh dari Wonder Forest.

“Aku ingin kau melihat padang bunga tulip ini,” kata Ethan ketika mereka sampai. Ray turun dari kuda Ethan dan melihat-lihat. Ethan senang memandangi wajah Ray yang tersenyum. Ia turun dari kudanya dan mendekati Ray. “Tempat ini adalah tempat favorit ibuku,”

“Benarkah? Seperti apa ibumu itu?” Tanya Ray.

“Orang yang cantik, dan baik hati. Tapi beliau harus mati di tangan Raja Mirgate,” jawab Ethan yang memaksakan senyumannya. Mendengarnya, Ray dapat menarik sebuah kesimpulan dari kalimat itu. “Ya, ibuku juga seorang penyandang kutukan api…”

Ray tercengang mendengar Ethan, membayangkan jika nasibnya sama seperti itu.

“Jika seseorang membunuh seorang penyandang kutukan api pedang khusus, Fire Crest, maka orang itu akan mendapatkan arwah si penyandang dan membuat umurnya panjang. Itulah alasan Raja Mirgate mencari penyandang kutukan api,” lanjutnya.

“Apa kau dendam pada Raja Mirgate atas kematian ibumu?” Tanya Ray.

Ethan terdiam sejenak dan akhirnya menjawab, “Mungkin?”

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Ray lagi. Ethan tertegun mendengar pertanyaan itu. Sejak kecil ia ingin berteriak memberitahu semuanya bahwa Raja Mirgate yang membunuh penyandang kutukan api, termasuk ibunya. Tapi siapa yang akan percaya jika seorang anak kecil berbicara tanpa bukti?

“Aku memang belum punya kesempatan untuk membongkarnya,” kata Ethan sambil menggenggam tangan Ray. “Tapi percayalah, aku akan membongkar kenyataan itu untuk melindungimu…”

Ray melihat mata Ethan yang tegas. Matanya benar-benar menunjukkan ketulusannya menolong Ray. Ray semakin mempercayai pemuda yang baru ia temui beberapa minggu lalu itu.

“Aku percaya…” jawab Ray. Mereka menatap langit biru yang indah, membayangkan apa yang akan terjadi kepada mereka nantinya.

 

Mereka kembali ke Wonder Forest. Sebelum mereka sampai di rumah Ray, mereka melihat dua orang berpakaian seperti yang dikenakan oleh Ethan. Mereka sedang menggedor pintu rumah Ray. Ternyata mereka adalah prajurit senior Ethan! Ethan langsung memutar arah, bermaksud untuk kabur dari prajurit seniornya itu. Mereka pasti ingin menangkap Ray!

“Tunggu!!” teriak Ray. Ray turun dari kuda Ethan dan lari menuju rumahnya. Ethan yang kaget dengan tindakan Ray langsung menyusul gadis yang sedang dalam bahaya itu. Ia melihat Ray berdiri di depan pintu rumahnya.

“Takkan kubiarkan kalian masuk ke rumahku!!” teriak Ray. Satu dari senior-senior itu memegang pundak Ray. Dengan gesit Ethan melepas tangan seniornya dari pundak Ray lalu menghajarnya.

“Ternyata benar yang kulihat, selama ini prajurit Ethan Maverick membolos latihan dan pergi menemui seorang penyandang kutukan api,” kata senior yang satu lagi. Ethan kaget, ternyata mereka tahu kalau dirinya membolos dan pergi ke tempat ini.

Tiba-tiba Ethan melihat Raja Raymond, atau yang biasa disebut Raja Mirgate, datang menaiki seekor kuda bersama prajurit-prajurit lainnya, termasuk Arnaud, sahabat Ethan. Hal itu membuat detak jantungnya berdegup kencang. Ia sangat terkejut, sekaligus bingung apa yang harus ia lakukan.

“Berani sekali kau. Jika ia tidak dibawa ke istana, gadis itu mungkin saja mengincar nyawa orang lain untuk menambah nyawanya yang pendek, kau mengerti?” kata Raja Mirgate. “Bawa mereka ke penjara istana, dengan sel yang berbeda.” perintah Raja Mirgate kepada para prajurit. Ethan mencoba menarik Ray lari dari tempat itu, tapi gagal. Arnaud dan prajurit lainnya menghalangi jalan mereka dari semua sisi. Ethan menyesal ia tidak membawa pedangnya, sehingga ia tidak bisa bertarung untuk melawan mereka semua. Arnaud dan prajurit lainnya memegang Ethan dan Ray.

“Aku menyesal telah mempercayaimu, Ethan!!” teriak Ray ketika dipaksa untuk menaiki kuda yang akan dibawa oleh seorang prajurit. Ethan terkejut mendengarnya, ia memang tidak berbohong pada Ray. Tapi Ray pasti sudah tidak mempercayainya lagi. Ia hanya bisa menurut untuk menaiki kuda Arnaud dan dibawa ke penjara istana.

“Arnaud, tolong aku…” pinta Ethan ketika dalam perjalanan menuju istana. Arnaud hanya diam. Ethan mengerti Arnaud diam karena prajurit yang sedang bertugas dilarang keras untuk berbicara.

Mereka sampai di penjara istana, letaknya di bawah tanah. Ethan tidak tahu di sel mana Ray dikurung. Ia hanya bisa diam, kehabisan akal untuk menyelamatkan Ray. Ia tidak ingin dianggap seorang pembohong.

Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Muncul lagi. Kalimat itu selalu membuatnya gelisah. Ethan hanya bisa terduduk dan memegang kepalanya, berusaha untuk tidak mengingat kalimat itu.

Tiba-tiba terdengar tapak kaki seseorang menuju sel Ethan. Ethan tidak peduli siapa itu. Yang ada dalam pikirannya hanya kalimat tadi. Tiba-tiba Ethan mendengar suara yang membuyarkan kegelisahannya. Ia melihat kearah pintu selnya, dan mendapati Arnaud yang membuka pintu sel Ethan. Ethan segera berdiri dan bertanya bagaimana bisa Arnaud membukakan pintu selnya.

“Kau tak perlu tahu bagaimana aku bisa mendapatkan kunci ini. Gadis itu ada di sel nomor 228,” kata Arnaud sambil menyerahkan sebuah kunci yang terukir nomor 228 dan sebuah pedang. “Setelah mengeluarkannya, pergilah dari sini lewat gerbang kayu itu. Aku sudah mengurus para penjaga. Naiki saja tangga di situ, dan kau akan bertemu dengan kudamu,” Arnaud menunjuk sebuah gerbang kayu yang letaknya tidak terlalu jauh dari sel Ethan.

“Arnaud, kau percaya padaku?” Tanya Ethan yang masih ragu.

“Aku tak tahu kenyataan sebenarnya, tapi aku percaya padamu. Kau pasti punya alasan untuk melindungi gadis itu,” jawab Arnaud dengan tersenyum. “Pergilah, sebelum prajurit lain membawa gadis itu ke hadapan Raja Raymond.”

“Terima kasih, Arnaud…” Ethan membalas senyuman sahabatnya itu dan pergi menuju sel nomor 228. Ia berlari sekencang mungkin.

“Ray!” panggil Ethan ketika sampai di sel 228. Ia mendapati Ray sedang duduk termenung. Ia segera membuka pintu sel Ray, tetapi Ray tidak menghiraukannya. Ethan menarik tangan Ray dan membawanya lari menuju gerbang kayu dan sampai di halaman belakang istana. Ray masih tanpa ekspresi, meski akhirnya ia menurut ketika dipaksa Ethan menaiki kudanya. Ethan membawa kudanya berlari secepat mungkin. Dalam perjalanan keluar dari halaman istana, beberapa prajurit memang melihat Ethan dan sepertinya mereka berusaha memanggil prajurit lain untuk mengejar Ethan. Tapi Ethan tak peduli. Hanya ada satu tempat tujuan yang ada di pikirannya, yaitu padang bunga.

Ethan berhasil sampai ke tujuan tanpa ada tanda-tanda prajurit istana mengetahui keberadaannya. Ia merasa telah berhasil mengecoh mereka. Ethan melihat sekeliling, dan menemukan sebuah gua kecil yang cocok sebagai tempat bersembunyi. Ethan mengangkat Ray turun dari kudanya. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya sambil menggenggam tangan Ray.

Ray melepas genggaman Ethan dengan kasar. “Untuk apa lagi kau membawaku ke sini? Mereka sudah menemukanku!!” teriaknya. “Tak ada gunanya lagi lari… mereka akan segera membunuhku…” lanjutnya dengan nada yang sangat pasrah. Mata Ray berkaca-kaca, ingin menangis.

Ethan segera memeluk gadis yang terlihat lemah di matanya itu dengan sangat erat. Ray ingin mencoba melepaskannya, tapi ia sendiri merasa butuh pelukan itu. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Ethan.

“Aku takut… aku takut akan mati…” Ray mulai terisak-isak. “Sebenarnya aku pernah ingin mati karena sendirian sejak orangtuaku tiada, tapi aku takut… dan setelah bertemu dengan Ethan, aku semakin ingin hidup, bersamamu… ”

Kata-kata itu terlalu sedih, Ethan tak ingin mendengarnya. Ia memeluk Ray lebih erat lagi. “Kumohon, jangan menangis… percayalah, kau akan terus hidup, bersamaku!” kata Ethan tegas.

Ray menelan air matanya yang mengalir. Ia mengangguk. “Aku percaya…”

Mereka berdua duduk di dalam gua yang tadi ditemukan Ethan, hanya bisa melihat bulan. Mereka tidak tahu lagi harus kemana. Penduduk Mirgate pasti takkan ada yang mempercayai Ray karena Raja Mirgate telah mencuci otak mereka. Ethan menoleh ke arah Ray, yang ternyata tidur dengan bersandar pada pundak Ethan. Ethan membawanya ke gua yang lebih dalam dan menyelimutinya dengan baju besinya yang berat. Ia menatap Ray sejenak dan akhirnya ia bernekad kembali ke istana untuk menyelesaikan semua ketakutan ini.

Ethan sampai di istana dan menerobos semua prajurit yang mencoba menangkapnya. Ia mengayunkan pedangnya sambil membawa kudanya menuju ruangan ahli sihir istana. Dengan gesit ia menghambur buku-buku yang ada di situ. Akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya, buku yang menunjukkan kenyataan tentang kutukan api dan kebohongan Raja. Ethan berlari menuju tahta Raja Mirgate untuk segera membunuhnya. Sebenarnya sudah lama ia menunggu kesempatan ini, dan sekaranglah saatnya!

“Ethan!!” terdengar suara Arnaud dari belakang. “Mengapa kau kembali lagi ke sini?! Raja sedang menuju ke padang bunga!”

Sial, ternyata prajurit itu tidak terkecoh. Mereka sengaja menunggu Ethan keluar.

“Arnaud, tolong lakukan permintaan terakhirku,” kata Ethan yang lalu membisikan sesuatu pada Arnaud. Ethan menyerahkan buku tadi kepada Arnaud.

“Terima kasih, Arnaud…” kata Ethan sambil tersenyum. Ethan segera menaiki kudanya dan kembali ke padang bunga.

Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Kalimat itu muncul lagi di benaknya.

 

Sesampainya, Ethan melihat Raja Mirgate seorang diri mencekeram lengan Ray, dan membawa pedang Fire Crest di tangan satunya. Melihat Fire Crest membuat detak jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ethan segera lari dan melepaskan cengkeraman Raja Mirgate, dan menodongkan pedangnya ke hadapan Raja Mirgate.

Raja Mirgate tersenyum getir. “Sepertinya kau memang sudah tahu rahasiaku… sekalian saja kuhabisi nyawamu di sini!” Raja Mirgate mengayunkan pedang Fire Crestnya. Ray ingin menolong Ethan, tapi Ethan menyuruhnya untuk menjauh.

Raja Mirgate menebaskan pedangnya dengan kuat hingga mengenai banyak bunga. Ethan tidak ingin kalah kuat, ia menangkis semua tebasan itu dan mencoba mencari celah untuk menusuk bagian jantung Raja tua yang berbadan besar itu.

Akhirnya, Ethan berhasil menjatuhkan Fire Crest dari tangan Raja. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menusuk jantung Raja Mirgate, dan berhasil! Pedangnya menancap tepat di sasarannya. Raja Mirgate terduduk karena kesakitan.

Ethan tersenyum getir. “Dendamku terbalaskan…” katanya sambil menusuk pedangnya lebih dalam lagi, bahkan menembus tubuh Raja. Ethan melihat Ray yang jauh darinya, memberitahu bahwa ia berhasil.

“Ternyata, kau anak dari Ethelda yang kubunuh 15 tahun yang lalu…” bisik Raja Mirgate.

“ETHAN!!!” Teriak Ray. Wajahnya pucat. Ia berlari menuju Ethan yang jauh dari tempat ia melihat pertarungan. Ethan kembali menatap Raja Mirgate. Ia terdiam.

Ibu, apakah ini yang kau rasakan?

Air mata Ethan mengalir. Bodohnya ia melepas baju besinya, Fire Crest telah menancap di dadanya. Raja Mirgate masih kuat menusuk dada Ethan ketika Ethan menatap Ray, Ethan lengah. Mereka berdua saling menusukkan pedangnya makin dalam.

Darah mengalir dari mulut Ethan, tapi ia tetap tersenyum getir. “Ternyata kau masih ingat… percuma membunuhku, kau takkan mendapat nyawaku! Aku lebih dulu membunuhmu!! Lihatlah, tubuhmu sudah mulai menghilang!”

Ya, tubuh Raja Mirgate rusak perlahan-lahan. Memang seharusnya Raja Mirgate sudah tiada sejak dulu. Raja Mirgate berbisik.

“Seandainya saja aku juga membunuhmu saat itu… kau, Ethan Maverick…”

Tubuh Raja Mirgate menghilang, bagai kelopak bunga yang terbang terbawa angin. Kini Ethan lega, tak ada lagi yang akan mengancam Ray. Ethan terjatuh dan melihat Ray yang sudah ada di depannya. Ray mencabut Fire Crest dari dada Ethan. Ray menangis. Ethan mengusap air matanya.

“Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu

Ray langsung menatap Ethan ketika mendengarnya.

“Kalimat itu dikatakan oleh ibuku sebelum ia meninggal,” kata Ethan. “Sebenarnya aku juga seorang penyandang kutukan api yang umurnya tak lebih dari 25 tahun,” lanjutnya. “Raja Mirgate tahu bahwa aku dan ibuku menyandang kutukan ini dan mengincar kami… tapi ibuku menyerahkan dirinya dan membuat perjanjian dengan Raja agar melepaskanku. Akhirnya aku menjadi prajurit untuk mencari cara balas dendam. Hidupku penuh dengan hasrat itu…”

Ray hanya bisa diam mendengarkan dengan air mata yang tetap mengalir.

“Tapi setelah bertemu denganmu, hidupku berubah… hasrat itu berubah menjadi hasrat untuk melindungimu…” lanjut Ethan. Air matanya mulai mengalir. “Ray,” panggilnya.

Ray menggigit bibirnya, menahan air matanya. Mendengar Ethan mengucapkan namanya dengan pelan dan tegas.

“Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu” kata Ethan.

“Apa kini aku berhasil menjadi penyelamatmu…?” lanjutnya sambil tersenyum tipis. “Aku mencintaimu, Ray…”

Isakan keluar dari tenggorokan Ray. Air matanya mengalir lebih deras. “Kalau begitu jangan tinggalkan aku!!” teriak Ray sambil meremas lengan Ethan. “Aku juga mencintaimu!!”

Terlambat, tubuh Ethan mulai menghilang seperti Raja Mirgate. Fire Crest telah merenggut nyawanya. Ethan mengusap air mata Ray lagi dan tersenyum.

“Terima kasih, Ray…”

Tubuh Ethan menghilang. Mata Ray terbelalak. Tangan yang mengusap pipinya tak ada lagi. Ia melihat sekitar, seolah mencari sosok Ethan. Tapi tak ada, Ethan tak ada lagi bersamanya! Tubuhnya sudah hilang bersama angin!

Pandangan Ray kosong. Ia menundukkan kepalanya, dan melihat Fire Crest di sampingnya.

Apa dengan ini aku bisa bertemu denganmu?

Tangan Ray telah menggenggam Fire Crest yang diarahkan ke perutnya. Tak ada gunanya lagi hidup, semua orang yang ia sayangi meninggalkannya.

Tidak.”

Angin bertiup kencang seketika dan membuat Fire Crest jatuh dari pegangan Ray yang tak erat.

Hiduplah, hingga saatnya nanti kita bertemu lagi…”

Air mata Ray mengalir lagi. Itu suara Ethan! Ia mencari asal suara itu, tapi tak menemukannya.

“Jangan buat aku menunggu! Aku ingin terus bersamamu!” teriak Ray. Tapi tak ada jawaban lagi. Ia memukul tanah dan terisak-isak. Tak ada lagi yang menjawab jeritannya. Suara Ethan tak ada lagi…

 

Kini tak ada lagi yang mengancam Ray. Arnaud telah mengumumkan kenyataan tentang kutukan api yang sesungguhnya pada penduduk Mirgate, segera setelah Ethan menyerahkan buku yang menjadi bukti. Mereka percaya dan akhirnya menerima penyandang kutukan api apa adanya.

Tapi tetap saja, Ethan telah tiada. Ray hanya bisa menjalani kehidupan pendeknya bersama orang-orang yang baru dikenalnya, dengan terus mengingat Ethan, orang yang menyelamatkannya.

“Kuharap aku bisa menjadi penyelamatmu…”

Kalimatmu memang benar apa adanya, jika kau tak mengucapkan kata ‘kuharap’. Karena lama sebelum kau mengucapkan kalimat itu, kau lebih dulu telah menyelamatkanku dari niatku untuk mengakhiri hidupku ketika kau bertemu denganku untuk pertama kalinya. Jika kau tidak datang, aku takkan bertemu denganmu… kau yang menghilangkan kesepianku dengan adanya keberadaanmu bersamaku…

Terima kasih, penyelamatku…

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to [Kuharap] Menjadi Penyelamatmu

  1. Hoshi - Lapak 162 (mampir, yaaa) says:

    Uoooh, akhirnya sempet mampir~ >o<

    Poin minus: Ada typo dan masih ada juga beberapa bagian kata yang sebenarnya bisa dipangkas untuk menghemat quota. Penulisannya juga masih bisa dirapikan lagi sebenarnya (perihal tanda baca, dsb).

    Poin plus: Bener-bener nggak nyangka versi finalnya ini bakal semengharukan ini! Jujur waktu baca versi draft-nya rasanya biasa aja, nggak nemu sesuatu yang lebih. Terus pemanfaatan judul ke dalam cerita juga aku suka (you know what i mean). Endingnya juga~ Sukaaa~

    Delapan koma sembilan dari sepuluh.

    Mampir juga ke lapak 162, yaa.. Tuan Kelinci lagi butuh cabe, nih~

  2. H.Lind says:

    Kalau menurutku pada saat Ethan ketemu Ray ama adegan berantem terakhirnya bisa dieksplor lagi. Mungkin bisa ditambahin deskripsi atau soundeffect biar jadi lebih kerasa dan ga kelewat gitu aja.

    Saya suka dengan idenya, penyandang kutukan api. Juga cara penyandang kutukan api mati, kayak moksa. Salam ^^

    • Hana Angelia says:

      Sorry 4 late reply ><
      Buat Hoshi & H.Lind thanks :)
      @Hoshi: setelah kuperiksa memang ada bbrapa typo, yah, sepertinya kelewat waktu lagi meriksa dulu~ lalu soal pemanfaatan judul, endingnya juga baru terpikir saat dapat judul itu (you know what i mean too)
      Thanks a lot anyway :)

      @H.Lind: thanks bgt sdh mampir di lapak sepi ini!!
      soal battle nya itu saya terburu-buru bikinnya + sdh hampir mendekati max character, jadi saya buat minimalis :( sebenarnya pengen nampilin efek battle yang 'wah' tpi sepertinya gak bisa ^^"
      Thanks udah baca cerita saya ^__^

  3. negeri tak pernah-48 says:

    Halo~

    Huwaah.. sedih T.T
    Jadi akhirnya si Ray tetep cuma bakal hidup sampe umur 25 ya?

    Sepertinya konfliknya masih bisa digali lebih dalem sedikit, supaya konspirasi si raja jahat lebih ‘berasa’. Karena si raja udah ketauan jahat dari awal-awal jadi kurang seru. Pendapat pribadi sih.. :D

    Begitulah. Mampir juga ke 48 klo sempet~

  4. Hai salam kenal ya :D

    Ceritanya seruuu! Cukup mengharukan juga akhirnya, cuman gw setuju kalau beberapa adegan terasa diburu-buru. Mungkin ada batas dari kuota sih, tapi overall alur ceritanya oke. Secara subjektif, gw suka dengan judul yang dimasukkan dan direpetisi berkali-kali di dalam cerita kaya ini. Hehe.

    Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya :D makasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>