Kutukan dari Kepala Terpenggal

KUTUKAN DARI KEPALA TERPENGGAL

karya H Lind

 

Satu kompi pasukan melangkah maju dengan derap yang tertahan. Di tangan mereka obor seakan membuka petak-petak Bóand yang sudah larut oleh gelap. Tombak ditinggalkan, mereka tidak membutuhkannya malam ini. Pasukan ini telah melangkah terlalu jauh dari pusat kota, dan teamat jauh dari kediaman mereka di pusat kerajaan, hanya untuk menemukan seorang pencuri.

Yang barangkali tidak akan disadari apabila ada penduduk yang keluar dari petak rumah mereka untuk menikmati semilir angin malam atau membunuh serangga berkepak pengganggu tidur adalah orang yang berada di ujung kanan depan barisan pasukan tersebut. Pria itu sedang berusaha untuk menjadi serdadu biasa dengan baju besi sampai lutut dan selapis baju pelindung dalam yang dibuat dari buntalan rambut kuda. Pria yang tengah memimpin itu tidak lain adalah raja Kerajaan Leinster sendiri.

Apa gerangan yang membuat Raja Cynbel sendiri melangkah keluar dari tembok batunya yang kokoh? Perburuan. Ya, sang raja suka akan itu. Suka akan bunyi anak panah dan bau amis di udara. Tapi kali ini ia sedang tidak memburu binatang melainkan manusia.

“Carilah seorang pencuri. Dia yang akan kau temukan di sudut tergelap lembah Bóand adalah kuncimu menuju kekuasaan abadi.”

Sungguh, ia ingin tertawa saja ketika mendengar tentang ramalan itu. Tentang ramalan yang katanya akan membawa sang raja menjadi penguasa tak berkesudahan hanya lewat menculik seorang pencuri. Ha, apalagi kalau bukan sebuah lelucon kering yang dibuat untuk menyenangkan hatinya yang belakangan ini resah. Tapi Cynbel tak bisa berbuat lain selain percaya, bagaimanapun ucapan yang keluar dari mulut tukang tenungnya selalu tepat juga nantinya.

Mata sang raja terlalu kuat untuk mengalah kepada gelapnya malam dan tamparan angin. Melewati cabang pohon adler yang berkelit-kelit ia berhenti dan berseru, “Pasukan berhenti!”

Ia telah melihat sebuah cahaya yang tersembul malu-malu di penghujung lembah ini. Sinarnya nyala-mati, terganggu oleh angin yang tak terhalang daun jendela. Pemiliknya tampak tidak sadar bahwa kegelapan nyaris menelan terang gubuknya itu. Seperti juga dirinya yang akan direnggut oleh pasukan yang tengah datang.

 

***

 

Keith kerap berkata, bukan ia yang memilih menjadi pencuri melainkan pekerjaan itu yang memilihnya. Dirinya adalah comotan dari para peri untuk dijadikan salah satu anak buah sehingga dihadiahilah ia kelincahan berkelit dan kecepatan tangan.

Tapi bukan itu yang ia katakan pada ibunya ketika perempuan dengan rambut hitam-putih di sanggulan bertanya, “Darimana kamu mendapat daun herbal itu, Keith?”

“Seorang teman saudagar memberikannya padaku.” Disorongkannya gelas tanah liat dengan daun-daun herbal itu masih bertebaran di dasarnya. “Minumlah, Bu.”

Maura yang tengah berbaring  di atas alas tempat tidur yang disamak dari kulit sapi itu mengambil gelasnya. Dia tidak ingat kapan mengajari anaknya itu berbohong, juga terkejut melihat ia telah menjadi begitu mahir dalam bidang ini.

“Ibu tidak pernah meminta banyak darimu, Keith.”

“Aku tahu, Bu.” Akan tetapi sebuah rumah tentu perlu perabotan, seperti manusia yang memerlukan keping uang.

Maura meniup permukaan gelasnya lalu seperti tersadar akan sesuatu. Senyumnya terkembang hangat, “Hei, kita masih bisa mengumpulkan carraig. Musim hangat ini pasti banyak yang beterbangan dan kita bisa menjualnya pada pemilik lahan.” Carraig, kumbang hitam berkepak dipercaya sebagai pembawa sial yang menyebabkan hujan tak kunjung datang. Pemilik lahan suka menangkap dan melumat mereka menjadi pakan babi.

Keith tersenyum. Ia teringat bagaimana dulu ia biasa berlomba dengan ibunya. Ibunya sering kebagian lahan utara sedang dirinya sendiri selatan. Ketika senja mulai muncul mereka berdua akan bertemu di bantaran sungai dan mengocok-ngocok karung mereka. Bunyi ketukan serangga dengan kulit karung terbanyaklah yang menjadi pemenang.

Tapi sejurus kemudian mimiknya kembali murung. Ia mengingat akan jumlah keping uang yang ditukarkan dengan dua karung serangga itu. Maura selalu buru-buru mengantongi uang yang baru saja didapatnya. Tidak lupa tersenyum kepada Keith ketika menggandengnya pergi.

“Sekarang aku menyamak kulit untuk sepatu. Si tua pemilik toko memberiku beberapa perak tiap hari.”

Ibunya hendak berkata lagi tapi keduluan oleh batuk hebat dari dasar tenggorokannya. Keith menaruh telapak tangannya ke punggung Maura. Berbohong kepada orang yang tengah sakit serasa melipatkan perasaan bersalah.

“Keith…” ibunya berkata kepayahan, “maafkan ibu..”

Ibunya tidak bersalah. Ia telah menerima begitu penuh akan kondisi gubuknya, masa kanak-kanak yang terlewat, dan ketiadaan seorang ayah. Ia tidak berupaya memperbaiki kondisi hidupnya barang sedikit pun, ia hanya berusaha mempertahankannya.

Bejana minum silver dari Atenica, piring beronamenkan emas dari wilayah Balkan, mahkota emas dari kuburan seorang perempuan di Vix mampu dicurinya. Ia mampu berkelit-kelit sedikit di kerumunan orang, menjadi orang yang ‘tidak terlihat’, merenggut sesuatu dengan cepatnya, dan selanjutnya terserah pada nasib: akankah pikiran orang tersebut tersadar lebih cepat dibandingkan gerakan menyelinap keluarnya. Tapi yang paling penting ia jadi bisa membeli kalung manik-manik berpadu kaca dan batu ambar untuk dipasangkan di leher ibunya dan gandum untuk mengolah roti.

“Tidak, Bu.”

Maura batuk lagi. Kini tangannya sudah lelah, tidak lagi sanggup mengangkat menutupi mulut. Tabib setempat telah memvonis Maura akan penyakit galar-brecc yang menyebabkan kulitnya ditumbuhi bintil-bintil merah dan suhu badannya yang terus meningkat.

“Kamu harus menjalani hidupmu dengan kebebasan. Jadilah apa yang engkau kehendaki.”

“Tidak, ibu tidak akan mati.”

“Keith…”

“Ibu tidak akan mati!” tegasnya.

Akan tetapi untuk yang kali ini, Keith tidak sedang berbohong. Baik pikiran maupun hatinya yakin betul akan ucapannya. Meski ia bukan dewa, ia tahu ibunya tidak akan mati secepat yang dibayangkan oleh dirinya sendiri.

Karena malam dua hari yang lalu ia telah mencuri sesuatu.

Ia menemukan benda itu ketika berjalan melewati pemakaman. Ada jasad baru yang dikubur hari itu, seorang pedagang kaya yang pelit dan kikir. Kabarnya pemakaman pria itu tidak hanya mengubur jasad melainkan pula harta melimpah.

Keith telah menyiapkan segalanya. Sekop untuk membantunya menyingkirkan tanah, potongan besi dan kampak untuk merusak peti mati. Semuanya hanya menjadi beban perjalanan sebab apa yang ia temukan malam itu jauhlah berbeda.

Sosok yang ditemuinya tengah tertidur di antara nisan dan di bawah cerukan pohon mengalihkan pikirannya dari harta pedagang pelit itu. Keith mematikan langkahnya, meniadakan napasnya, tapi berjalan dengan begitu cepatnya hingga sampai ke belakang sosok itu dalam hitungan detik. Tangannya berkelit, sedikit bergetar ketika mengambil kepunyaan sosok itu. Lalu ia segera menghilang dari pemakaman tidak memedulikan peralatannya. Nyaris saja, pikirnya, ia akan mati apabila sosok itu terbangun.

“Ibu, tenanglah,” Keith mengusap pipinya yang basah. “Sebab aku telah mendapatkan?”

BRAKKK!

Dobrakan pintu menghentikan pembicaraannya. Keras sekali orang itu menendang pintu, begitu pula prajurit-prajurit lain yang melangkah masuk dan seenaknya merusak perabotan. Semuanya tampak mencari, membuka-buka dipan dan membalik meja. Teriakan Keith tidak mampu menghentikan barang sebentar kegiatan mereka.

“Dimana kau menyembunyikannya?” tanya pemimpin pasukan itu kasar sambil menarik kerah baju Keith.

Keith tersentak ketika mengenali wajah orang yang tengah menawannya. Pria yang hanya dapat dilihat ketika parade hari ulang tahun kerajaan atau ketika pasukan tengah berangkat menuju medan perang.

“Kutanya sekali lagi,” teriak Cynbel. “Dimana kau menyembunyikan?”

“Apa maksud Tuan?” tanyanya gagap.

Cynbel melongok ke sekeliling, mendapati pasukannya masih sibuk meratakan perabotan dengan lantai rumah.

Sang raja menaikkan tekanan suaranya dan berteriak, “Dimana kau menyembunyikan kepala Dullahan?”

Pundak Keith langsung lemas. Matanya berkedip-kedip sebelum mengalihkan pandangan ke serong kanan. Keringat berjatuhan deras dari dahinya. Sang raja telah mengetahui semuanya!

Dua malam yang lalu, Keith telah menemukan apa yang menurutnya hanya bisa ditemukan dalam mitos dan dongeng orang tua. Ia menemukan sang pengantar kematian, Dullahan, sedang bersandar di bawah pohon rindang dan terlelap. Mantel hitam menyamarkannya dengan malam.

Dari pinggir pagar pemakaman Keith bisa melihat lehernya yang menganga dan kepalanya. Kepala Dullahan diapit oleh lengan kirinya dan betis kaki kirinya. Bibirnya keriput berwarna ungu gelap; akan tampak sangat mengerikan kalau ia menyerigai. Matanya yang berbentuk bintik kecil tampak sedang terkatup. Kudanya pun terkekang di belakang, tidak siaga dengan tidurnya yang lelap.

Insting Keith mengatakan bahwa apabila ia mencuri kepala Dullahan dan mencegahnya untuk bersuara, ia tidak bisa memanggil nama orang yang akan menjadi target berikutnya dari Sang Maut. Ia juga berpikir, atau mungkin berharap, tanpa kepalanya Dullahan tidak akan bisa mendatanginya. Ia pun akan mencurangi kematian, menunda kematian ibunya meski penyakit telah menjalari tiap sendi kehidupannya. Sampai kapan? Keith berharap: selamanya.

“Tolong, hentikan!” Maura berusaha bangkit, menopang tubuh ringkihnya pada tembok.

Itu gerakan yang salah, karena sekarang Cynbel melepaskan cengkraman dari tubuh Keith dan berbalik ke Maura. Menyeret tubuh ringan itu dan menghempaskannya ke lantai. Sebelum Keith sempat membantu ibunya berdiri, sebuah pedang berkilau sudah duluan menunjuk ke leher ibunya.

“Sekarang katakan kepadaku. Dimana kepala Dullahan!”

Keith tidak punya pilihan lain selain memandang ke lantai kayu yang sedikit terbuka di sudut ruangan. Tempat ia menaruh peti kecil berisi kepala Dullahan yang baik mata maupun telinganya dibebat dan mulutnya disumpal oleh bongkahan kain.

 

***

 

Raja Cynbel membunuh malam dan menyambut fajar dengan kuda kecepatan penuh disertai beberapa orang kepercayaannya ke arah kawah Erandes, sebuah kawah gunung berapi yang katanya lidah-lidah laharnya begitu panjang sehingga dapat menyentuh atmosfer bumi.

Keith dan ibunya telah diturunkan di gerbang istana untuk diseret ke dalam penjara kastil. Sang raja belum pernah melihat ada orang yang tidak menjadi gila dan putus harapan ketika sudah mendekam di sana berbulan-bulan.

Sekarang, di depan Raja Cynbel telah terbuka sebuah kawah. Panas yang keluar dari dasar bumi itu tengah menggelora. Terpaksa sang raja merapatkan jirahnya. Ia mencoba melongok ke dalam kawah. Sebentar saja abu sudah berkumpul di bawah matanya, barangkali ada juga kulitnya yang ikut terbakar. Tidak akan ada yang selamat dari panas yang maha dahsyat itu.

Cynbel sadar Dullahan yang kehilangan kepalanya hanya akan menjadi penjaga gerbang yang kehilangan kuncinya. Sebab, konon, hanya dari mata sang Dullahanlah kematian bisa dilihat dan dari suara yang terhembus lewat bibirnyalah maut bisa hinggap. Tanpa kepalanya, tubuh Dullahan hanya menjadi sekedar sosok yang mengerikan.

Ketika kematian musnah, maka yang menguasai dunia hanyalah kekuatan fana. Dan itu berarti Cynbel yang memegang seluruh daratan dan memiliki pasukan loyal berbatalion-batalion.

Maka dibukanya peti itu. Sedikit saja ia memandang ke arahnya. Kemudian Cynbel menjambak rambut kasar dari kepala itu. Diarahkannya hingga yang ada di bawahnya adalah kawah langsung. Mengambil waktu hening sejenak sebelum ia berkata,

“Akulah penguasa dunia ini!”

Bersamaan dengan itu, ia merentangkan jemarinya. Rambut kering sang Dullahan melilit-lilit lepas sebelum akhirnya benar-benar tidak bersentuhan dengan tangan Cynbel. Hitungan detik saja kepala itu telah ditelan kawah Erandes. Tidak ada bunyi cemplungan, barangkali semuanya sudah lebur sebelum sempat tercelup.

Begitu saja. Dullahan telah lenyap dari muka bumi.

Cynbel terpaku sejenak. Tadinya dipikir alam akan murka karena keseimbangan diganggu. Tapi nyatanya tidak. Semuanya masih berjalan dengan begitu normalnya.

“Selamat, Raja Cynbel,” seru salah satu prajuritnya.

Sang raja diam, tidak ingin mengganggu pengalaman magis ini.

“Tuan, apa yang akan kita lakukan dengan pencuri itu?” salah satu dari mereka bertanya.

Cynbel berkata sinis, “Dia akan menjadi bagian dari pertunjukkanku yang selanjutnya.”

“Bagaimana dengan perempuan tua itu?”

Raja Cynbel menyerigai dengan begitu menakutkannya. Hingga tampaknya gemuruh perut bumi yang berkobar di bawah telapak kakinya diam dan mempersilakan sang raja menjelaskan rencana jahatnya.

 

***

 

“Kami membawa ibumu, pencuri.” Sejumlah serdadu datang dengan girangnya.

Keith menjadi senang. Ia rindu akan kehangatan perempuan itu dan akan petuah bijaknya. Rantai yang mengikat tangan dan kakinya dengan tembok berguncang ketika ia setengah berdiri untuk menyambut ibunya.

Akan tetapi, para serdadu itu tidak membawa sebuah tubuh, ataupun peti mati. Melainkan sebuah kantung. Mereka membuka ikatannya dan menumpahkan isinya ke bawah. Serdadu-serdadu itu pun tertawa sumbang. Ada juga yang meludah kepada apa yang telah jatuh.

Butiran-butiran besar-kecil, hitam-abu berserakan di lantai. Masih ada asap yang terperangkap bersama dengan debu itu.

Keith meraung. Melengking. Ia bahkan tidak sanggup menyatukan abu ibunya. Dalam tangisannya ia mengutuk para serdadu, raja Cynbel yang lalim, bahkan dewa-dewa di langit.

 

***

 

Pagi yang baru akan menjadi pagi pertama dimana sebuah eksekusi tidak akan dinikmati. Lima orang termasuk Keith di antaranya, telah digadang ke alun-alun kota. Panggung telah disiapkan begitu juga para eksekutornya. Mentari yang baru saja muncul membimbing langkah massa untuk berkumpul, hingga semarak perlahan mengarak ke tengah kota.

“Yang Mulia Cynbel mac Cuilén,” teriak salah satu prajurit yang siaga di sudut terluar alun-alun.

Sontak seluruh penduduk menundukkan kepalanya. Sungguh jarang seorang raja ingin menghadiri pemenggalan kepala para kriminal biasa.

Cynbel memasuki alun-alun dengan kuda hitamnya. Tuniknya berkibar-kibar ketika ia melintasi banyak orang. Pelat silver yang digurati simbol dengan emas terpasang di dadanya. Ia menatap sekilas para terpidana yang berjajar di panggung. Kemudian ia duduklah di belakang panggung, dekat kursi pejabat, tuan tanah, dan druid.

Kepala para terdakwa menunduk. Doa yang didaraskan jatuh ke lantai panggung tanpa sempat dibawa oleh angin. Siapa juga yang tak bergidik memandang golok besar dan mengkilap di tangan para algojo. Yah, Keith tidak. Ia tidak hendak ngeri memandang pisau pemancung itu, juga tangan besar yang memegangnya. Ia malah sedang melihat ke arah Cynbel.

Ada kemarahan yang timbul di matanya, dendam yang bersumat di dadanya. Hingga menggertak giginya dan berguncang rantainya. Serdadu menghadiahinya dengan sebuah pukulan ke perut.

Seorang druid telah menyelesaikan ritual. Doa agar ruh-ruh jahat segera lenyap dari muka bumi dan kerajaan sentosa selalu. Setelah itu seorang petugas yang berdiri di sudut panggung menggaguk kecil, dan para algojo mengangkat pedangnya.

Cepat saja, udara terbelah, begitu pula leher tertebas hingga darah muncrat di tempat kepala diletakkan tadinya. Bergelindingan, lima kepala jatuh ke lantai panggung.

Rakyat bersorak-sorai. Pertunjukkan ini sudah terlalu sering dilakukan hingga mereka menikmatinya. Tangan mereka mengacung-ngacung dan bertepuk-tepuk.

Tapi tidak lama. Sebab meski darah sudah berhenti mengalir dari leher dan pedang sudah disarungkan kembali, raungan dari kepala-kepala tak putus-putusnya berhenti. Masing-masing masih meraung, berteriak dengan kesakitan yang amat sangat.

“Kepala-kepala itu masih hidup!”

“Mereka tidak mati!”

“Setan!”

“Pasti ada penyihir. Mereka pasti penyihir!”

Sebelum riuh itu bertambah dahsyatnya lagi, Cynbel berteriak kencang. Ia telah berdiri dari kursinya dan berjalan di atas panggung. Serigainya tampak mengerikan. Seketika massa terdiam, memandang raja mereka dengan heran bercampur takut.

“Aku!” Teriaknya keras. “Aku yang telah menyebabkan mereka tidak mati meski mereka telah ditebas kepalanya. Kemarin aku telah melenyapkan kepala Dullahan di kawah Erandes. Kini tidak ada lagi yang benar-benar bisa mati sebab sang pengantar kematian pun telah tiada. Kematian telah musnah.”

Orang-orang terlongo. Gemetar tak bisa mereka tahan. Sedangkan kepala-kepala itu masih saja menjerit. Dasar neraka seperti dekat sekali rasanya.

“Siapapun yang menentangku akan berakhir dengan cara yang sama. Kepala terputus tapi tidak akan bisa mati. Tidak akan bisa berakhir kesakitan itu. Satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan mengikuti aku.”

Raja Cynbel merentangkan tangannya, “Akulah penguasa kalian!”

Mereka terdiam, memandang satu sama lain. Lalu satu per satu lutut jatuh, menghantam tanah. Dahi sejajar dengan kaki. Semuanya menyembah Cynbel tanpa berani memandang wajahnya.

Kecuali Keith, yang meski darah sudah tidak mengalir ke kelopak matanya, masih saja memandang Cynbel dengan murka. Bahkan tanpa berkedip ia menyaksikan raja lalim itu sedang tertawa terbahak-bahak.

Ia tidak menghendaki kematian untuk dirinya melainkan untuk Cynbel. Tapi bagaimana bisa? Ia hanyalah seonggok tubuh tanpa kepala yang bahkan tangannya saja masih terikat dengan rantai. Sayup-sayup, di tengah kemurkaannya, ia menemukan suara. Seperti suara ibunya yang berkata dahulu untuk menjadi apa yang diinginkannya.

Apa yang kauinginkan?

Tanpa ragu, ia menjawab. Bunuh, aku ingin membunuhnya.

Tapi Dullahan telah tiada. Kepalanya telah leleh di kawah Erandes. Bersamaan juga dengan tubuhnya.

Ia menimpali lebih keras. Bunuh! Aku ingin membunuhnya.

Suara itu  seperti terkekeh. Maka jadilah engkau, wahai anak-Ku, Keith Uillster.

Tiba-tiba ia seperti mendapat kekuatan untuk berdiri. Dan ajaibnya kunci borgol itu terbuka begitu saja ketika bersentuhan dengan kulitnya. Tubuh Keith berdiri, kemudian memungut kepalanya. Menaruhnya tepat di dada.

Cynbel memandang pencuri itu dengan terkejut. Tak ia sangka masih ada yang bisa berdiri setelah kesakitan itu.

“Aku kagum, Keith,” katanya. “Tapi apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Cynbel mengeluarkan pedangnya. Mengkilat diterpa sinar matahari, kelihatan sangat jauh jangkauannya. Dia tidak akan segan untuk menyabetnya hingga putus lagi bagian tubuhnya.

Keith jadi terdiam. Ia tidak memiliki senjata di sekelilingnya. Pukulannya pun akan terpental jika bersanding dengan pelat dada sang raja. Ia tidak memiliki data apapun tentang kelemahan si raja. Ia bahkan tidak tahu apa-apa mengenai sang raja. Kecuali namanya.

Kini ia tahu apa yang hendak dilakukannya. Tangannya memegang erat-erat kepalanya, sedangkan bibirnya sendiri bergerak terbuka. Ia berteriak,

“Cynbel mac Cuilén!”

Sang raja terperangah. Apa lagi yang hendak dilakukan oleh orang buntung ini? Ia melangkah maju. Perhatian orang-orang pun terkumpul lagi di panggung, melihat seorang yang sudah tereksekusi itu berani menghadapi Raja Cynbel.

“Cynbel mac Cuilén!” Keith berteriak lagi, lebih keras.

Kini sang raja hanya tinggal merentangkan sikunya untuk menggores perut Keith. Di tengah keheranannya, ia tidak menganggap apa yang sedang dihadapinya berarti banyak.

Sedangkan Keith mencoba berkonsentrasi. Ia mencoba mengingat bagaimana kemarahan membakar tubuhnya ketika melihat ibunya menderita, mencoba membayangkan bagaimana sakitnya Maura ketika terpercik oleh api, mencoba menyatukan kekuatan itu ke dalam suaranya. Kemudian ia berteriak,

“CYNBEL MAC CUILÉN!”

Sekonyong-konyong, percikan terlihat membentuk lingkaran di tempat Cynbel berdiri. Lalu api besar menyembur begitu saja. Setinggi tiang kapal, sebesar pilar koloseum. Berkobar dengan Cynbel di dalamnya.

“Arghh!” Raja Cynbel menggelepar, berguling-guling di lantai panggung yang juga ikut gosong. Tapi api seperti tak bisa lepas dari padanya. Seperti sebuah mantel yang melekat di tubuhnya, tak bisa lepas, tak bisa padam.

Saat kulitnya mulai mengelupas selapis demi selapis, ia meregang. Tapi tidak lama; ada yang aneh. Nyawanya telah terangkat ke langit. Berbentuk gumpalan putih yang hanya terlihat oleh Keith.

Keith mulai bersabda, begitu saja ia tahu ketika melihat ke deretan orang-orang jabatan tinggi, “Dunham Cairbre…Kemble Ua Laidhgnen…Arland de Fearghus.” Lalu satu per satu, prajurit, bangsawan, perwira kerajaan terbakar api yang sama. Melelehkan dan membakar hingga mereka menjerit kesakitan.

Para penonton takjub lagi. Ketakutan menjalar lagi. Terbirit-birit mereka keluar dari alun-alun. Monster tanpa kepala itu begitu mengerikan.

Ketika semua orang telah keluar dari alun-alun dan yang tersisa hanya para kepala yang kini tidak lagi mengaduh kesakitan, tapi memandang takzim minta dibebaskan, Keith meneriakkan nama orang- orang itu. Saat gumpalan putih yang sama menguap dari tubuh mereka, bibir dari kepala itu berhenti menjerit dan tubuh mereka berhenti menggelepar. Mereka sudah bebas.

Tapi masih ada satu lagi. Yah, masih sisa satu. Keith bisa merasakannya, satu nyawa masih meronta-ronta di atas bukit sana, di ubin penjara dingin.

Mata Keith menitikkan air mata. Ia memanggil sendu nama terakhir itu, “Ma-maura Uillster…”

Dari kejauhan sana sebuah gumpulan putih merasuk ke luar. Meliuk-liuk di udara, dan menghilang ketika mencapai awan. Keith tidak sempat mengucapkan salam perpisahan.

Ketika tak ada lagi yang tersisa ia menjadi tidak yakin akan siapa dirinya, bagaimana semua ini bisa terjadi, dan siapa gerangan suara yang tadi telah memberinya kekuatan. Tapi di pikirannya ia tahu pasti, Keith si pencuri sudah mati ketika kepalanya dipenggal oleh raja lalim. Berganti menjadi sebuah sosok yang bisa memanggil api dan mencabut nyawa: Dullahan.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Kutukan dari Kepala Terpenggal

  1. Little Owlie says:

    Lind nulis gore… T________________T
    Adegan kepala dipegang itu epik.. Asli bikin merinding.
    Anw, mengenai cerita. Aku kurang jelas Dullahan itu apa dan siapa? Apa semacam dewa? Kenapa kalo kepalanya hilang, maka ga ada kematian lagi? aku juga kurang paham kenapa Keith nyolong kepala itu? Dan dari mana sang raja tahu Keith yang nyolong?
    Aku kebanyakan nanya ya? Oh, well ^^;;;

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

    • H.Lind says:

      Dullahan itu pengendara kuda tanpa kepala yang biasa dikenal di mitologi Irlandia, biasanya terlihat kalau ada orang yang meninggal. Sangat berkenan kok komentarnya. Makasih kak Anggra :)

  2. Siapa Ya Siapa Dong? says:

    9.8/10

    Bert, andai dikau lebih sering bikin fantasi. Cerpen ini bener-bener keren. TT_____TT

    Menurutku sih, memang ada elemen gore di cerpen ini, tapi rasanya ga seberapa dibandingin sisi tear-jerking dan emosionalnya. Dan kurasa aku udah ga perlu nulis surat cinta soal betapa aku suka narasimu untuk kesekian kalinya. :P

    Cuma ganjel satu hal, kenapa ya si previous Dullahan ini rasanya ceroboh plus powerless (?) banget, bisa-bisanya ketiduran sampai gak nyadar ada orang mau menggal kepalanya? O_o

    Eniwei, kudoain semoga cerpen ini bisa dapet sesuatu. Good luck. ;)

  3. Darin Kowalski says:

    Onion-slicing ninjas. Onion-slicing ninjas everywhere! Q_Q

    The rise of Dullahan yang berikutnya keren. Cuma, gimana bisa si Dullahan sebelumnya kepalanya dicuri begitu aja, ya? Apa waktu dia tidur (lirik komen sebelumnya) dia nggak nyadar?

    (Tapi setidaknya kita tahu dia nggak musnah secepat itu.)

    Great!

    >> banner sponsor: Silakan mampir di nomor 73

    • H.Lind says:

      Yeah onion-slicing :D. Sepertinya emang disitu bagian kurangnya ya. Oke deh
      Thanks ya. Secepatnya saya mampir :)

  4. Bu Pri B-29 says:

    Hmm, bisa jadi ini adalah kombinasi legenda Dullahan dengan plot cerita seperti Macbeth – William Shakespeare. Klasik! Pantas saja “siapa ya siapa donk” pancing2 pembaca kemari.

    • H.Lind says:

      Saya merasa tersanjung. Thanks ya :)

      • Dini Afiandri a.k.a Desire Purify Loki says:

        Hallo H. Lind. Mau Peppermint Royal Chocolate? ;)
        Hari ini prinsip kafeku monggo mampir. Kalau nggak enak, silahkan salahkan saya. Kalau enak, pesan lagi ya? :D

        Daripada Orhan Pamuk Tea dan Neil Gaiman Hazelnut Coffee-nya saya hapus dari daftar menu? Hehehe.

  5. M.Asa says:

    Kunjungan balik dari lapak 63, sori lama :D

    Idenya Keren, tentang kematian sang pencabut nyawa. Plot juga oke.

    Sayangnya aku kurang suka dengan narasinya. Masih banyak kalimat-kalimat yang tidak efektif bertebaran, yang justru berpotensi bikin bingung. Contohnya kalimat ini:

    Yang barangkali tidak akan disadari apabila ada penduduk yang keluar dari petak rumah mereka untuk menikmati semilir angin malam atau membunuh serangga berkepak pengganggu tidur adalah orang yang berada di ujung kanan depan barisan pasukan tersebut.

    Butuh beberapa waktu untuk benar2 tahu maksud kalimat panjang itu, dan sampai sekarang aku juga belum benar2 yakin maksud kalimat itu apa *mulai curiga pada diri sendiri :( *

    Terus ‘puitisasi’ narasinya juga agak mengurangi kenikmatan membaca (setidaknya bagiku). Contohnya pada kalimat ini:

    Butiran-butiran besar-kecil, hitam-abu berserakan di lantai.

    Bukankah akan lebih informatif kalau kata-kata “Butiran-butiran besar-kecil, hitam-abu” diganti menjadi “Abu jenazah”. Selain lebih informatif, juga bisa menghemat jumlah kata.

    Sori jika kepedesan.
    Tetap semangat ya :) *Bijak Mode: ON* karena kefasihan dalam penarasian akan terus berkembang seiring latihan yang kita lakukan.

    GoodLuck :D

  6. AadUncu says:

    Ide ceritanya menarik, Keith yang mencuri kepala Dullahan akhirnya menjadi Dullahan

    Ada yang sedikit aneh dengan perubahan Keith menjadi Dullahan. Saat akan menjadi Dullahan, Keith mendengar suara ibunya, dan kemudian suara itu emm.. mungkin bisa dibilang mengangkat Keith menjadu Dullahan baru. Kalau benar itu adalah suara ibunya, terasa janggal karena sepanjang cerita ibunya Keith sepertinya hanya orang biasa tanpa punya kekuatan khusus. Ato memang ibunya Keith sebenarnya punya kekuatan khusus??

    Selain itu saat suara ibu Keith bilang
    “Tapi Dullahan telah tiada. Kepalanya telah leleh di kawah Erandes. Bersamaan juga dengan tubuhnya.”
    bukankah sebelumnya diceritakan bahwa Raja Cynbel hanya melemparkan kepala Dullahan saja??

    • H.Lind says:

      Bagian suara itu memang saya serahkan sepenuhnya kepada imajinasi pembaca, hehe, sama seperti semua peristiwa lain di cerita ini. Makasi sudah berkunjung :D

  7. elbintang says:

    Al wow…
    akhirnya dirimu ikutan pesta juga. Congrats. Congrats :-)

    Suramnya cerita ini, penuh sampe ke serat-serat tulang.
    Pekatnya bikin gw pengen mengalihkan pandangan. !Phiuh, gw sama sekali gak dapat pegangan yang gak bikin terbakar di cerpen ini. Berdusta, mencuri, marah, balas dendam, membunuh…hoaaa…(and think to put mom’s whisper like that-makes truly cruel- for i)

    Narasinya lancar dan renyah seperti biasa. Thumbs up, dear.
    keknya tahun depan Kastil kudu bikin pesta gore, deh…he.he…

    • H.Lind says:

      Wuih kak El datang. XD
      Iya akhirnya tertarik untuk ikut pesta ini. Kak El sendiri ga ikutan ya :(.

      Pertamanya ga maksud bikin Gore sih. Hehehe. Makasih ya kak El :)

  8. Johan Padmamuka says:

    WOW! Cerpen kelima yang menarik! Penceritaan mengalir lancar dengan narasi sedap. HEBAT! :D

    Pencuri yang menjadi Dullahan.

    Ada beberapa hal yang aku ga paham. Pertama, gimana caranya Keith mencuri kepala Dullahan? Kedua, bagaimana bisa Keith jadi Dullahan? Ketiga, jika Dullahan mati, maka akan ada Dullahan berikutnya? Dan pencabut nyawa di dunia ini Dullahan? Si Raja jahat, itu biasa. Hanya saja, aku kurang mengerti, apa yang didapat sama raja dengan membunuh Dullahan? Kerajaan immortal? Kalau begitu semua orang di dunia ini juga ga bisa mati donk?

    Maaf, kalau kurang berkenan. Overall cerpen ini hebat kok!
    Mampir ya di lapak no. 59.

    :D

    • H.Lind says:

      Sangat berkenan kok. :) Tapi kayaknya saya ga bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya, semuanya saya serahkan kepada kak Johan buat menjawabnya sendiri. Hehe. Maaf kalo ga bisa jawab

      Oke aku mampir secepatnya. Thanks ya :)

  9. fr3d says:

    membalas kunjungan ^^

    lind, ceritanya agak-agak ketebak endingnya, tapi itu bukan masalah sih karena kurasa semua pembaca tetap pengen melihat (membaca) gimana akhirnya si Keith bisa jadi Dullahan baru :D

    yang membingungkan buatku adalah berhubung Dullahan lama udah mati, kenapa ibunya Keith bisa mati juga ya? –> harusnya meski dibakar, ibunya gak mati-mati juga (serem dan sadis, xD)
    jadi si Dullahan ini pencabut nyawa atau pengantar roh?

    trus kalau semua orang baru bisa mati lewat tatapan dan suara Dullahan, kok Dullahan sendiri bisa mati begitu aja dilempar ke kawah? siapa yg menatap dan menyuarakan dia?
    *lama-lama jadi memusingkan*
    wkwk xD

    • Alexander Blue says:

      Salam kenal ya Lind :D

      Wow gw suka dengan ide ceritanya. Untuk gore-nya lumayan bikin merinding. Seram juga membayangkan kepala-kepala yang terpenggal masih menjerit-jerit sakit. Begitu pula dengan ibu Keith yang terbakar, sadis banget ya ^^; Udah jadi abu tapi tetap ga mati dan merasakan penderitaan yang amat sangat.

      Hmm gw juga sebenarnya sedikit bingung dengan Dullahan lama yang terkesan ceroboh. Dia kan semacam dewa, apa ga terlalu ‘mortal’ ya karena mati dengan cara seperti itu? Atau mungkinkah Dullahan lama juga manusia seperti keith pada awalnya? Wkwk.

      Ah gw suka kok dengan penulisannya yang rapih :D Kalau sempat tolong mampir ya ke lapak 244. Makasih.

    • H.Lind says:

      Well sebenarnya sedikit juga data yang gw dapet soal Dullahan, lebih banyak mengenai Banshee. Haha, sebenarnya mereka berdua cukup punya kesamaan soal kekuatan (menurut yang saya baca sih).

      Thanks udah baca. :)

  10. negeri tak pernah-48 says:

    Wah…

    Pertama-tama maaph saya bacanya sedikit loncat. Bukan karena narasinya butut atau ceritanya geje, tapi tiap ada adegan potong-sayat-tebas-dan-kawan-kawan langsung otomatis mata menghindar.. << ga kuat horor, darah, gore, dan gengnya

    Eniwei, plotnya keren dan tulisannya rapi. Dullahan itu ternyata begitu toh. Selama ini taunya cuma dari game doang. *manggut-manggut

    Biarpun serem, tapi seru banget bacanya dan endingnya juga mengharukan..
    T.T jadi si Maura itu biarpun udah dibakar, teteup arwahnya harus dipanggil dulu ya?

    Begitulah… Mampir ke nomer 48 yah :)

  11. Atla Rhat says:

    hai tetangga..maav baru berkunjung.. *ttngga mcm ap aq ini?? -,-

    wawaaaa .. suka bgd! idenya bnr2 brillian ..
    yah mskipun ke.geje.an infrmasi ttg dullahan bkin agak bgg..tapi mnurutku crita ini jempolan bgd!
    entah gore ato apalah aq ttp suka.. :D

    oiya.. ttg dullahan baru..
    ap gk lbh baik klo dullahan lama ttp ada. tapi cm pura2 lenyap dan kasi ksempatan minjemin kkuatan bwd keith..
    *cuma ide..sudah lupakan saja xp

    intinya..walau gj saia ttp suka :)

    mampir ya ke sblh..
    aq udh siapin kopi dari abu maura zzzz….

  12. Ini oke banget buat orang yang demen ngintipin mitos Irlandia macam saia. Tapi demi mereka yang nggak terlalu familiar sama legenda dullahan, ada baiknya kalau deskripsi diperbanyak. Kalau takut kebentur kuota, saran Mas Asa di atas bisa dipake. Bahasanya bikin lebih lugas agar nggak ada masalah kalau deskripsi ditambah.

    Sedikit pertanyaan untuk bagian ini:

    Setinggi tiang kapal, sebesar pilar koloseum

    Ini dari sudut pandang Keith, kan? Kapan dia ke Roma untuk lihat koloseum? Kalau dia cuma pencuri, agak sulit ngebayangin dia nyeberang lautan dan pergi ke Roma. Kecuali dia merangkap assassin top kayak Ezio Auditore, dan disewa sama seseorang di Roma sana. :-?

    Seingat saia juga, dullahan itu takut sama emas. *Saia ricek di wiki dan kayaknya bener* Jadi kalau Keith bisa nyolong bros emas sebiji dan makein itu ke Maura… hmm…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>