L’ar~Cen~Cil

L’AR~CEN~CIL

karya Keysa Runnie

 

Terdengar bunyi petir dan kilat saling sahut-menyahut menghambur di langit malam tanpa bintang. Turun dari langit butiran-butiran air dengan derasnya yang berhasil menambahkan semarak keramaian malam di Ly~ar. Tiba-tiba terdengar suara kereta kuda disertai langkah kaki beberapa orang menuju ke rumahku.

 

Pintu pun terbuka, “Cepat kalian pergi dari sini! Selamatkan diri kalian!” ucap laki-laki paruh baya itu dengan wajah panik berselimut ketakutan. Ternyata dia adalah pelayan setia ayahku, paman Huckbert.

“Huckbert? Kenapa tiba-tiba kalian datang kemari, ada apa ini? Silahkan duduk!” dengan nada datar dan tenang ayahku berusaha untuk memahami situasi apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sedangkan aku, yang masih kecil ini, hanya bisa melihat dari balik pintu karena dihinggapi rasa takut melihat orang-orang berjubah coklat yang bersama dengan Paman Huckbert.

 

Siapa mereka? Mau apa mereka? Kenapa aku sepertinya merasa pernah melihat mereka sebelumnya? Tapi, dimana?” Sekarang pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan, sambil aku berusaha mengingat-ingat kembali siapa dan dimana aku pernah bertemu dengan orang-orang itu.

 

“Maafkan atas kelancangan saya tuan, tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang tengah terjadi sebenarnya. Tolonglah tuan, ikutlah saja dengan kami!” desak Paman Huckbert. Sepertinya baru kali ini aku melihat Paman Huckbert benar-benar sepanik itu.

 

“Apakah hal ini ada hubungannya dengan ramalan itu Huckbert?” Dari raut wajah ayahku, aku dapat melihat ada sekilas kekhawatiran yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Paman Huckbert hanya bisa diam tertunduk.

 

Akhirnya salah satu diantara orang-orang berjubah itu angkat bicara, “Ini semua adalah kesalahan kami, Ghon-ar. Jadi, biarkanlah kami menebusnya dengan menyelamatkan keluarga kalian. Membawa kalian ke dunia asal kakek moyang kalian berada.”

 

“Hmm, baiklah kalau begitu!” tegas Ghon-ar.

 

“Aku ingat sekarang, mereka adalah ….”

 

——–

 

35 tahun kemudian. Hari ini ….

 

“HEI LEE ARCEN CEPAT BANGUN!! Pokoknya jika sampai aku terlambat lagi, kau akan ku buat menyesali sisa-sisa hidup mu itu. ARCEN!! KAU DENGAR ITU!”

 

Akhir-akhir ini, pagi selalu dilalui dengan teriakan seorang gadis remaja berperawakan bak seorang model berambut panjang, dia adalah Arcil. Namun kali ini suara Arcil benar-benar membahana sampai keseluruh ruangan yang ada di dalam rumah. Ya jelas saja, karena Arcil kali ini menggunakan alat pengeras suara.

 

“Mimpi itu lagi?” Ini sudah tiga kali berturut-turut Arcen bermimpi hal yang sama. Semenjak Arcen dihinggapi mimpi-mimpi itu, ia jadi selalu bangun lebih lambat dari biasanya. Dan semenjak itu pulalah hubungan sepasang kakak-beradik kembar ini juga ikut terganggu.

 

Arcen masih setengah sadar. Sambil menerawang maksud dari mimpi-mimpi itu, ia masih belum bergerak dari tempat tidurnya. “Hmm, ini sungguh aneh!” gumam Arcen. Arcen pun bangkit dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

 

Di sekolah, Arcen terlihat menjadi agak pendiam dan lebih banyak melamun. Teman-temannya pun jadi kebingungan dan kesal dibuatnya karena setiap kali ditanya, jawabnya malah balik bertanya juga. Namun tidak demikian dengan Arcil.

 

“Kenapa? Ada masalah apa?” tanya Arcil. Belum sempat Arcen menjawab, Arcil melanjutkan, “Jangan harap apa yang kau lakukan kepada teman-temanmu itu akan berhasil denganku!”

 

Sambil tersenyum Arcen menjawab, “Kita kan kembar, bukankah seharusnya sebelum kukatakan kau sudah tahu lebih dulu?”

 

“Kau pikir aku cenayang!” sangkal Arcil ketus.

 

“Iya, iya, baiklah akan kuceritakan! Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu bermimpi hal yang sama berulang-ulang. Dimimpiku aku melihat orang-orang berjubah coklat sedang berbicara dengan seseorang, seseorang yang nampak tidak asing bagiku dan orang itu bernama Ghon-ar.”

 

Sesaat suasana menjadi hening, hembusan angin musim gugur yang dingin serasa menusuk sampai ke tulang. Awan mendung kian menyelimuti langit siang yang cerah. Sepertinya akan turun hujan. Sementara itu mereka berdua masih sibuk bermain dengan pikiran mereka masing-masing. “Ghon-ar? Aku pernah membaca nama itu terukir di salah satu benda kesayangan Paman. Kupikir itu hanya label merk biasa,” tiba-tiba Arcil angkat bicara, memecahkan keheningan yang sesaat tercipta.

 

Arcen nampak sedang berpikir keras, “Ini aneh, benar-benar tidak masuk akal.”

 

“Iya, benar, aku juga sempat berpikir begitu. Memang ada ya, label merk Ghon-ar? Baru tahu aku!” celoteh Arcil tidak jelas.

 

“Bukan itu maksudku!” lirik Arcen tajam. “Ini seperti bukan hanya suatu kebetulan biasa. Bagaimana kalau nanti kita tanyakan saja kepada paman, barangkali saja ia bisa memberikan sedikit pencerahan!” usul Arcen kemudian yang langsung mendapat anggukan tanda setuju dari Arcil.

 

Selepas sekolah karena rasa penasaran dan tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke kediaman paman mereka itu menggunakan mobil yang dikendarai oleh Arcen, dengan memakan jarak tempuh sekitar 1 ½  jam perjalanan dari sekolah mereka. Sore itu, hujan deras menemani sepanjang perjalanan yang dilalui.

 

Kemudian tibalah mereka di depan pintu gerbang yang di pinggir dindingnya bertuliskan Ir. Lee Arzend. Itulah nama paman mereka. Arcen lalu mengendarai mobilnya melewati pintu gerbang yang telah terbuka, memasuki pekarangan luas milik pamannya untuk memarkir mobil.

 

“Oh, silahkan masuk Tuan Muda Arcen dan Nona Arcil! Apa kalian mau istirahat dulu atau ….”

 

“Di mana Paman?” potong Arcen terburu-buru.

 

“Tuan Arzend ada di ruang baca,” jawab Fraghert. Arcen langsung meluncur menuju ruang baca, kemudian Arcil menyusulnya setelah mengucapkan terima kasih pada Fraghert, seorang pelayan yang memang sudah lama mengabdi untuk keluarga Lee. Usianya 40 tahun.

 

Sementara itu di ruang baca, Arzend nampak gelisah. Sesaat kemudian, muncullah seseorang dari balik jendela. Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba ia rubuh seperti orang habis kena serangan jantung. Namun tidak dalam kasus ini. Dalam waktu bersamaan, pintu pun terbuka. Dan seketika itu juga orang tadi pun lenyap tanpa jejak. Sontak Arcen dan Arcil kaget mendapati pamannya yang merintih kesakitan di lantai dekat meja baca.

 

Arcen langsung sigap bersiap membopongnya untuk dibawa ke rumah sakit. Tetapi sang paman menolaknya. “Tidak usah, waktu paman tinggal sedikit. Paman akan menceritakan sesuatu yang penting kepada kalian. Dengarkan baik-baik! Dulu paman dan ayah paman yaitu kakek kalian pernah tinggal di Ly~ar, belahan dunia lain yang berada di dimensi ruang berbeda, yah kurang lebih semacam itu lah! Nenek moyang kita sebenarnya berasal dari sana,” terlihat sekali raut muka kerinduan yang dalam pada wajah Arzend saat ia bercerita bagian itu.

 

Namun segera, raut muka itu berubah jadi raut muka ketakutan. Ia pun melanjutkan, “Hingga suatu malam, waktu itu paman berusia 8 tahun ….”

 

——–

 

“Aku ingat sekarang, mereka adalah para ksatria waktu atau lebih dikenal dengan sebutan Devanesy, pemimpin sekaligus yang menemukan Ly~ar.

 

Sungguh aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat ke tujuh Devanesy secara langsung. Konon, ada yang mengatakan kalau mereka berasal dari Fairven, dunia—baru—para—dewa, namun mereka menolak untuk menempati dunia itu. Karena penolakan yang terang-terangan itu, mereka di tugaskan untuk menjaga waktu selamanya. Hingga akhirnya mereka menemukan Ly~ar.

 

“Hei Arzend, sedang apa kau disitu? Ayo cepat, ayah menyuruh kita untuk berkemas! Katanya kita akan pergi ke dunia yang lebih indah dari dunia yang sekarang kita tempati,” tiba-tiba Arkend mengagetkanku dan serta merta membuyarkan pikiranku. Arkend adalah saudara kembar laki-lakiku. Aku lahir 8 menit setelah dia.

 

Ayahku adalah kaki tangan mereka. Mereka memanggil ayahku dengan nama Ghon-ar, walaupun sebenarnya nama ayahku adalah Argond. Ghon-ar adalah semacam gelar atas jasa yang telah diberikan ayahku kepada mereka.

 

Kami lalu menuruni tangga. Salah satu dari Devanesy memberiku semacam kompas tapi memiliki penunjuk waktu yang bersimbolkan lambang astrologi membentuk seperti lingkaran jam. Aku memandangi benda yang berukir Ghon-ar di sudut bawah bagian belakangnya dengan heran. Di saat itulah aku melihat bayangan Arkend dari pantulan benda itu sedang mengendap-endap menuju pintu belakang lalu berlari sekencang-kencangnya di tengah guyuran hujan. Aku yang melihat hal itu berusaha untuk mengejar sambil memanggil namanya.

 

Hingga aku tiba di sebuah reruntuhan bangunan tua yang terbengkalai, berhenti sebentar untuk mengambil napas. Di saat itulah aku mulai merasakan suatu getaran yang aneh pada pijakan kakiku. Tanah tempatku berpijak seakan hidup. Aku ketakutan dan hampir berteriak kalau saja Arkend tidak membekap mulutku tiba-tiba dari samping lalu membawaku bersembunyi di antara reruntuhan. Ternyata benar, tanah tempatku berpijak tadi seakan menghilang ditelan kegelapan, lalu dari dalam sana muncullah makhluk tak berwujud hanya berupa gumpalan asap berwarna hitam.

 

Makhluk itu seakan bisa merasakan kehadiran kami. Kami jadi semakin ketakutan melihat makhluk itu bergerak ke arah kami bersembunyi. Karena ketakutan aku berlari menjauh meninggalkan Arkend. Spontan pandangan makhluk itu beralih ke arahku lalu mengejarku. Aku terus berlari dan berlari, namun naas, aku jatuh tersandung. Ketika makhluk itu hendak menyelimutiku, tiba-tiba saja kompas pemberian Devanesy itu bercahaya dan mengeluarkan bunyi dering lonceng yang indah.

 

Makhluk itu mengurungkan niatnya. Seketika itu juga, mucullah Devanesy dan ayahku. Lalu ia terbang ke langit disusul oleh Devanesy. Dari kejauhan, aku bisa melihat Arkend berlari ke arahku. Kemudian ia langsung memelukku sambil meminta maaf. Tiga dari Devanesy terbang turun kembali dari langit, mengajak kami untuk segera pergi dari sini. Sedangkan empat lagi masih mengejar makhluk kegelapan tadi.

 

Tak jauh dari tempat kami berada, nampak Huckbert dan Ibu sedang cemas menunggu kedatangan kami di dekat kereta kuda yang siap mengantar kami pergi. Ke empat Devanesy yang tadi mengejar makhluk tadi sudah bergabung dengan kami dan Devanesy yang lain. Mereka kehilangan jejak makhluk tadi.

 

——–

 

Arcen sangat terkejut dan hampir tidak percaya atas apa yang didengarnya, “Ini … sama seperti dimimpiku akhir-akhir ini! Bagaimana bisa …?”

 

“Sebelum kakek kalian meninggal, ia pernah bercerita kepada paman tentang sebuah ramalan. Dikatakan bahwa akan ada kegelapan menyelimuti Ly~ar. Hanya sepasang anak dari garis keturunan antar dunia dan waktu yang bisa membawa cahaya kembali ke Ly~ar pada saat usia mereka genap 18 tahun”.

 

Dengan sisa-sisa tenaganya, Arzend berusaha menjangkau sesuatu di laci meja bacanya. Ia menyerahkan kompas itu kepada Arcen dan juga Arcil. “Kalian harus memusnahkan kegelapan di Ly~ar, walaupun berarti membawa kehancuran bagi Ly~ar.” Arzend menghembuskan napas terakhirnya. Isak tangis mewarnai kepergian Arzend.

 

Selesai mengurus pemakaman pamannya, Arcen duduk termangu di bangku dekat ia memarkir mobilnya sambil memandangi kompas yang diberikan pamannya. “Kita harus kesana!” kata Arcil tiba-tiba dari belakang yang sontak mengagetkan Arcen sampai kompas tadi terlepas dari tangannya, menggelinding beberapa senti ke depan, kemudian dipungut oleh Fraghert.

 

“Bukankah ini kepunyaan Tuan Arzend?” tanya Fraghert heran.

 

“Iya, kau memang benar Fraghert! Ceritanya panjang,” jawab Arcen datar seraya meraih kembali benda tadi dari Fraghert.

 

“Kalau begitu ringkas saja ceritanya, ambil bagian yang penting lalu tarik kesimpulan!” gurau Fraghert sambil tersenyum ramah seperti biasanya. Gurauan Fraghert berhasil mencairkan suasana yang semula agak suram.

 

“Kau bisa saja Fraghert!” sahut Arcil. Kemudian dilanjutkan oleh Arcen, “Ringkas cerita, paman memberikan ini kepada kami karena ada sebuah ramalan. Kesimpulannya, kami harus pergi ke dunia lain yang kami sendiri tidak tau di mana karena ramalan itu.”

 

“Oh begitu, jadi benda itu adalah satu-satunya petunjuk yang ada untuk ke Ly~ar!” Arcen dan Arcil jadi terhenyak akan akhir perkataan Fraghert tentang Ly~ar. Sebelum sempat bertanya, Fraghert melanjutkan, “Ayah saya yang bernama Huckbert pernah menceritakan tentang Ly~ar kepada saya sewaktu kecil. Saya juga pernah membantu Tuan Arzend meneliti benda tersebut.”

 

“Benarkah itu Fraghert!” kata Arcil penuh semangat.

 

“Apa kau juga tahu jalan masuk ke Ly~ar?” tanya Arcen ragu. Fraghert tidak langsung menjawab, ia sedang berpikir. Arcen dan Arcil cemas menunggu jawaban Fraghert. Kemudian Fraghert menatap Arcen dan Arcil bergantian, lalu berkata, “Apa kalian yakin mau pergi ke sana?”

 

Dengan memantapkan hati, Arcen dan Arcil kompak secara bersamaan berkata, “Ya, apapun yang terjadi kami sudah siap!”

 

——–

 

Jarum jam telah menunjukkan pukul 17.45, tinggal 15 menit lagi sebelum portal menuju Ly~ar terbuka. Mereka bertiga sedang berlari menelusuri hutan dekat gunung Fuji, berharap tiba tepat pada waktunya. Karena portal tersebut hanya akan terbuka selama 8 menit tepat di sebelah barat kaki gunung Fuji. Portal itu berbentuk silinder, menyentuh tanah dan memiliki tinggi sekitar 180 cm.

 

Menurut petunjuk yang sudah ditinggalkan Arzend kepada Fraghert, portal menuju Ly~ar akan terbuka pada saat jarum pendek di kompas menunjuk arah simbol astrologi yang melambangkan kembar, yaitu gemini dan jarum panjang menunjuk arah simbol astrologi yang melambangkan pemanah, yaitu sagitarius. Yang apabila di samakan dengan jarum jam, maka bisa dikatakan portal tersebut akan terbuka pada pukul 18.00 waktu setempat.

 

“Kita hampir sampai!” seru Fraghert sambil terengah-engah. Tinggal 1 menit lagi portal terbuka dan akhirnya, secara satu persatu mereka berhasil melewati portal tersebut sebelum tertutup.

 

Setelah mereka berhasil melewati portal, tibalah mereka di Ly~ar. Ternyata kedatangan mereka telah disambut oleh pertarungan beberapa pasukan beraura gelap dengan para ksatria berjubah coklat. Ya, tidak salah lagi, mereka adalah Devanesy.

 

Mereka nampak bingung melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka itu. Alih-alih untuk bergerak menjauh, mereka hanya berdiri terpaku di tempat. Hingga kemudian, salah seorang dari pasukan itu menyadari kedatangan mereka. Ia lalu berusaha untuk menyerang mereka. Untung saja berhasil dicegah oleh seorang Devanesy. Bersamaan dengan itu, Devanesy berhasil memenangkan pertarungan.

 

“Di luar sini tidak aman, mari ikuti kami!” Devanesy tadi berkata sambil berjalan masuk menuju sebuah gerbang besar. Mereka bertiga menurut saja yang kemudian diikuti oleh Devanesy lain.

 

Di dalam gerbang nampak layaknya sebuah kota kecil dengan lingkungan yang asri, sangat bertolak belakang dengan keadaaan di luar yang diselimuti sepenuhnya oleh kegelapan. Arcen dan Arcil hanya bisa tercengang melihat pemandangan itu.

 

Seorang Devanesy memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis, “Sudah lama sekali Ly~ar kehilangan cahaya dari langit. Kegelapan telah menyelimuti dan merubah segala macam yang dilewatinya, bahkan makhluk hidup sekalipun menjadi jahat dan kejam. Tetapi di sini kalian aman, karena kami sudah memberi aura pelindung yang menutupi seluruh gerbang sehingga kegelapan tidak bisa memasuki area ini.”

 

“Sampai separah itukah? Sulit dipercaya!” gumam Arcen sambil menelan ludah.

 

“Kalau begitu, bagaimana cara kami menghancurkannya?” tanya Arcil yang kelihatan mulai gusar.

 

Tidak terasa, mereka telah sampai di kediaman Devanesy. Berdiri di depan mereka, sebuah kastil yang indah dan megah. “Nanti akan kami jelaskan di dalam. Silahkan masuk!”

 

——–

 

Pembicaraan berlanjut di ruang rapat setelah mereka beristirahat sejenak.

 

“Kegelapan di Ly~ar tidak semudah itu dihancurkan. Kami sudah mencoba dengan seluruh kemampuan yang kami punya untuk menghancurkannya, namun hasilnya sama saja. Hingga kami memutuskan untuk membentuk aura pelindung ini dengan menggabungkan setengah dari kekuatan kami semua.” jelas seorang Devanesy.

 

Arcen dan Arcil hanya bisa saling memandang satu sama lain, keraguan mulai merasuki pikiran dan hati mereka. Kemudian Devanesy itu melanjutkan, “Kalian tidak perlu ragu dan takut, cukup ikuti kata hati kalian karena ….”

 

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar yang menimbulkan gempa. Sontak mereka semua keluar istana, melihat situasi yang tengah terjadi.

 

Ternyata telah terjadi serangan mendadak yang dilakukan oleh pihak kegelapan. Namun kali ini, pihak kegelapan menyerang habis-habisan dengan seluruh pasukan yang dimilikinya yaitu para makhluk hidup yang sudah diselimuti kegelapan.

 

Sesampainya di luar kastil, Arcen seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedangkan Arcil, sangat terkejut sambil berusaha mengendalikan dirinya dengan menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Perlahan tanpa sadar, air mata mulai mengalir di pipinya. Kemudian satu kata meluncur begitu saja dengan pelan dari mulutnya, “Ayah!”

 

“Dia bukan ayah kalian lagi,” kata seorang Devanesy, “kegelapan sudah mengambil alih tubuhnya sepenuhnya. Dia sekarang adalah Darken, penguasa kegelapan. Dialah yang harus kalian kalahkan!”

 

Sementara itu, bunyi dentuman serangan berbagai senjata masih terus-menerus terdengar dilakukan dari luar. Arcen dan Arcil hanya bisa bergeming. Perasaan mereka berkecamuk campur aduk tak karuan dibuatnya. Masing-masing Devanesy mulai membagi tugas.

 

Fraghert yang sedari tadi diam hanya mengekor di belakang Arcen, berbicara, “Ingatlah pesan Tuan Arzend, kalian harus membawa kembali cahaya ke Ly~ar karena memang hanya kalian yang bisa melakukannya. Masa depan dunia Ly~ar ada di tangan kalian. Apa kalian rela melihat tubuh Tuan Arkend dipakai untuk melakukan kejahatan?”

 

Arcen tersadar dan mulai mengendalikan dirinya. Namun tidak dengan Arcil. Ia menolak untuk melawan Darken. Sempat terjadi adu mulut diantara sepasang saudara kembar itu. Pertengkaran itu berakhir dengan munculnya makhluk yang sama yang menyerang Arzend dulu dari dalam tanah secara tiba-tiba yang lalu menyelimuti Arcil dan membawanya keluar dari gerbang.

 

Sontak melihat hal itu, Arcen langsung berlari mengejar sampai keluar pintu gerbang yang disambut oleh beberapa pasukan kegelapan. Arcen ingin sekali menghindari pertarungan karena sifatnya yang cinta damai, tetapi sudah tidak ada waktu lagi. Akhirnya, Arcen memutuskan menggunakan teknik shodan-nya dalam aikido. Dalam sekejap, mereka berhasil dikalahkan. Ia kembali mengejar Arcil dengan mengendarai kuda.

 

Walaupun Arcen kehilangan jejak Arcil, ia tetap berusaha dan yakin akan menemukannya. Tiba-tiba saja Darken muncul dihadapannya. Ia lalu menghentikan kudanya. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang muncul dari belakang Darken. Ia adalah Arcil.

 

“Arcen, apa kabarmu, nak? Sekarang kau sudah besar ya!” sapa Darken dengan ramah.

 

“Kau bukan Ayahku!” jawab Arcen dingin.

 

“Jaga ucapanmu Arcen!” bentak Arcil.

 

Mendengar itu, Arcen sudah merasakan kalau ia bukanlah Arcil yang ia kenal selama ini.“Ia bukanlah Ayah kita, ia adalah Darken. Kumohon sadarlah Arcil!” pinta Arcen dengan memelas. Namun usaha yang sia-sia. Arcil sudah di selimuti oleh aura kegelapan. Darken berusaha membujuk Arcen dengan cara baik-baik agar mengikuti jejak Arcil. Jelas saja, Arcen menolaknya mentah-mentah.

 

“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, nak! Tidak perlu berbasa-basi lagi.” Selesai Darken berbicara, seketika itu juga muncullah makhluk yang membawa Arcil tadi hendak menyelimuti Arcen.

 

Di saat jarak makhluk itu sudah tinggal beberapa inci, dua Devanesy datang menyelamatkan Arcen. Darken marah. Ia langsung turun tangan menyerang mereka. Dari kedua tangannya muncul petir yang menyambar mengenai ke dua Devanesy tadi dan hampir mengenai Arcen.

 

Melihat itu, Arcil sekuat tenaga melawan kegelapan yang ada pada dirinya lalu kemudian menyerang Darken secara tiba-tiba dari belakang dengan karatenya. Namun Darken telah mengetahuinya, lalu menyerang balik Arcil dengan membantingnya ke depan jauh terhempas.

 

Arcen bergegas menghampiri Arcil yang tubuhnya tergolek tidak jauh darinya. Ia lalu merebahkan Arcil dipangkuannya. Arcil tersenyum lalu menutup matanya. Tangannya terkulai tak bernyawa lagi.

 

Darken menyeringai, “Itulah akibatnya berani melawanku. Apakah sekarang kau juga mau bernasib sama seperti saudara dan juga pamanmu, si Arzend?”

 

Kesedihan dan kemarahannya semakin menjadi mengetahui ternyata Darkenlah yang telah membunuh sang paman. Di saat itulah terdengar suara semacam telepati seperti membisikkan sesuatu ke telinganya namun seperti tidak asing. “Satukan qi mu dengan kompas itu saat tanganmu berhasil menyentuh Darken tepat di hatinya”.

 

Darken menyerang Arcen dengan bertubi-tubi. Sambil terseok-seok terkena beberapa serangannya, Arcen berusaha melangkah maju mendekati Darken. Hingga saat yang ditunggu pun tiba. “Musnahlah kau kegelapan!” teriak Arcen saat tangannya berhasil menyentuh Darken tepat di hatinya. Seketika itu juga, terjadilah ledakan dahsyat yang meluluh-lantakkan Ly~ar. Sesaat sebelum ledakan, ke dua Devanesy tadi tiba-tiba menghilang.

Usai ledakan itu reda, cahaya mulai menampakkan dirinya dari ufuk timur. Fraghert dan para penghuni Ly~ar yang berlindung di dalam gerbang selamat dari ledakan itu berkat aura pelindung. “Tuan Muda Arcen dan Nona Arcil, saya tidak akan melupakan pengorbanan kalian demi Ly~ar. Memang benar Ly~ar telah hancur, tetapi bukan berarti ini adalah akhir dari dunia ini,” kata Fraghert berkaca-kaca sambil menatap ke arah cahaya, “jadi, saya beserta para penghuni Ly~ar akan membentuk dunia yang baru dengan nama L’Ar~cen~cil.”

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to L’ar~Cen~Cil

  1. Nectarpilair says:

    Saya tertarik baca judulnya. Hahaha..
    Kurira pelesetan. Hahaha.. >_<)

    Overall menurutku pribadi 6/10.
    Lumayan enak dibaca. Walaupun sy berharap isi ceritanya lebih unik dan menarik lagi.
    Sepintas udh baca, saya ngerasa ini cerita terkesan dibuat untuk merasionalkan 'judul'. benarkah itu?
    Saya ketawa ngakak waktu baca gn.Fuji, karate, dan shodan-aikido. Hahaha…
    Well, good job~

    btw, sy ingin tau kenapa paman Arzen rubuh pas didatengin? Timingnya pas banget..

    • Keysa Runnie says:

      Jujur, sebenarnya saya sendiri sebagai ‘selaku pembuat cerpen ini’ *@_@ bhs’y sangat diplomatis sekali, tumben* juga berharap isi ceritanya lebih unik dan menarik. Tapi apa mau dikata, otak lagi buntu dan waktu mepet jadi beginilah hasilnya! *sigh ….*

      Kalau masalah judul … mungkin bisa dikatakan seperti itu, hanya kebalik, justru judullah yg dibuat untuk merasionalkan cerita. Hehhehee …. ^^’

      Soal paman Arzend rubuh itu dikarenakan diserang oleh Arkend, kembarannya. Saat itu kan paman Arzend lagi gelisah soal ramalan itu, berhubung mereka kembar, Arkend juga bisa merasakan kegelisahan Arzend yang sebenarnya udah dari dulu mengawasi kediamannya karena takut Arzend mengetahui kelemahannya. Yah … , kira-kira begitulah!

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya! *bungkukin badan*
      Salam kenal Nectarpilair^^v

  2. Fapurawan says:

    Teknik Shodan? Mana ada? Shodan kan level (sabuk) di aikido.

    • Keysa Runnie says:

      Ehem … sebenarnya maksud saya teknik yang ada pada shodan (sabuk hitam) di aikido itu sendiri. Jadinya saya tulis, teknik shodan. he … ^^’ terbiasa to the point dan tidak suka ribet sih soal’y * ngeles aja, apa hubungannya coba -_-a*

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya! *bungkukin badan*
      Oia, salam kenal Mas Fapurawan ^^

  3. Adham117 says:

    Pertama, saya ingin bertanya: Mana Hyde-nya?! >o<
    Wait, ini bukan cerita tentang band Jepang Laruku ya? LOL.
    *Ditabok*

    Tulisannya sudah rapi, tapi setuju dengan komen2 di atas

    2,75/5

  4. Hm, saya jadi dapat dugaan dari planet mana asal-usul L’arc-en-Ciel itu.

  5. katherin says:

    Descent story.
    Plot standard dan IMO (sorry) klise.
    Narasinya lancar tp pace terlalu cepat.

    And I was hoping for a parody… ~_~a

    Overall, still good.
    Good luck…

    • Keysa Runnie says:

      Terima kasih atas komentarnya!
      Dan maaf secara tidak langsung telah mengecewakan harapanmu! he … ^^’

  6. negeri tak pernah-48 says:

    Hai Keysa. Kamu fans Laruku kah? Haha :D
    Mampir karena penasaran sama judulnya.

    Komen bertabur cabe keriting..

    1. Pertama-tama, pindah POV dari mimpi ke waktu bangunnya bikin bingung. Waktu mimpi si tokoh pake ‘aku’, tapi waktu bangun jadi POV orang ketiga (dia/ mereka). Waktu baca jadi Lho Lahh Lho? Ternyata di bagian berikutnya ada lagi. Baru deh ngerti maksud penulisnya. Eniwei, itu bikin narasimu jadi ga lancar. Sayang lho.

    2. Awalnya kukira Arcen dan Arcil itu anak kecil. Karena dialognya begitu…polos. Sampai di bagian Arcen menyetir mobil O.O

    3. Waktu si Paman sekarat, dia bisa cerita begitu panjang dan detilnya.. Paman yang berdedikasi T.T terharu.. *plakk*

    4. Si Fraghert…koq bisa tiba-tiba tau pesan terakhir si Paman? Detil per kata pula?

    5. Kejadian-kejadian yang ada muncul tiba-tiba dan cepet banget. Mengalahkan kegelapannya juga jadi kerasa gampang. Endingnya pun jadi ga kerasa emosional. Padahal pasti sedih banget kalau seorang anak harus menghancurkan-alias-membunuh ayahnya sendiri.

    Begitulah. Overall, penulisan cukup oke. Idenya juga bagus. Tinggal dipermak biar bisa sebombastis konser Laruku :D

    Maaf kalau komen ini ga jelas, kepedesan, membuat bingung, atau kesal.

    Mampir ke nomer 48 juga jika berkenan :)

  7. Dini Afiandri a.k.a Desire Purify Loki (Shaman Queen Saya sudah Lepas Harapan) says:

    Hmm…. Aku suka saja anagram kamu dengan anak kembar 3 ini.

    Klo boleh kusarankan, hati hati dengan aforisma. Saya sering sekali membuat tulisan ketika terlalu semangat, sampai ada kecenderungan membuat terlalu banyak karakter. Saya juga fans Laruku. Arigatou Dozaimashita! Jangan ragu makanya klo riset via internet maupun pengalaman…. Jangan berbasis hanya pada asal bahasa maupun genre bandnya. Klo mau di-twist, buatlah dialog yang ada bumbu ngakaknya. Klo mau horror, jangan buat 17 plus. Intinya sih kamu oketa begetoh, tapi saya kan bukan Pak Tino Sidin… Jadi ya… So far so good lah. :)

    Tahu slogan-slogan iklan sekarang kan? Perang provider yang kadang suka bikin ngakak? Tekunilah itu. Kalau bosan dengan tulisanmu, tanya pendapat orang terdekatmu. Jangan kaya KasFan ya… Ada Tavern segede itu di Purnama tapi malah nggak ada yang naikin…. Hehehehehehehehehehehehehehehe. *3M=Murah Meriah Mencret*

    Yang mau ngopi, silahkan merokok di luar sanah! *tendang Kapten Kucing*
    Villam, adu main anggar yuk? Ada yang ngefans berat sama tokoh dan nama British nih! Kekekekeke. Xie Xie! :P Itadakimasu, all. Tsuuu ka!

  8. R. Mailindra says:

    mmm, aku seperti kenal gaya penulis cerita ini. Mungkin kah kau….?
    Yah, inilah kandidat paling mungkin diantara semuanya.
    Salam, Bung.
    Cerita bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>