Legenda Dustone

LEGENDA DUSTONE

karya Syila Fatar

Arkesya menutup buku tuanya perlahan. Tapi debu tetap beterbangan, membuat Gaye dan Maye bersin. Arkesya tersenyum. Dua cucunya itu masih saja memelototinya. Berharap masih ada kelanjutan dari kisah yang dibacanya tadi. Karena bagi mereka berdua, Arkesya selalu menyimpan akhir kisah yang mereka nantikan.

“Sudah malam, tidurlah …” ucap Arkesya seraya membelai kepala keduanya.

“Cerita kakek belum selesai. Siapa pahlawan yang akan menghancurkan Dustone ? Dia sangat jahat. Seharusnya dia musnah.”

Arkesya tersenyum mendengar protes cucunya. Ditatapnya dua pasang mata yang membulat menatapnya penuh harap. Tapi, kisah ini memang tak pernah berakhir bahagia, meski Arkesya sendiri mengharapkannya. Ayahnya, yaitu buyut kedua cucu di hadapannya, pun tak pernah bisa menceritakan akhir kisah Dustone. Buku tua dari kulit papyrus itu hanya diam membisu, menyerap semua rasa penasaran para pembacanya.

“Tidak ada yang bisa menghancurkan dia. Setelah puas, dia akan kembali ke tanah, bersama manusia-manusia itu. Dan manusia yang tersisa harus melanjutkan hidupnya. Belajar untuk tidak lagi menjadi serakah.”

“Tapi dia akan muncul lagi kan, Kek ?” tanya Gaye, “kita harus siap ketika dia muncul. Aku akan membabatnya dengan pedangku. Akan kutendang kakinya hingga dia jatuh terjengkang. “

“Aku akan menyelamatkan dunia !” pekik Maye.

Arkesya terkekeh. Selalu saja kedua cucunya itu memintanya tentang kisah-kisah heroik dari buku tuanya. Dan mereka paling suka dengan kisah Dustone. Kisah yang mengerikan bagi Arkesya, karena kisah ini adalah kisah satu-satunya yang tak berakhir dengan kegagahan para pahlawan. Dan itu sangat selalu mengecewakan kedua cucu kesayangannya. Sehingga mereka selalu meminta dibacakan kisah ini berulang-ulang.

“Lagi ! Lagi ! Cerita lagi ! Kali ini aku akan mencari kelemahannya !” teriak Maye.

“Hmm, dongeng konyol itu lagi ?”

Suara berat itu membuat Gaye dan Maye langsung bangkit dari ranjang kakeknya, menyisakan bunyi berderit ranjang tua itu. Arkesya tersenyum. Sesosok lelaki tinggi besar menutupi cahaya terang yang menerobos melalui pintu.

“Kenapa ayah masih saja menceritakan dongeng itu ? Dongeng yang tak pernah berakhir dengan bahagia. Membuat mereka mati rasa.”

Arkesya tersenyum, “Ini bukan dongeng, Tundrey. Ketika kecil, kau pun seperti kedua anakmu. Selalu meminta diulang-ulang setiap malam. Kau sudah lupa ?”

Tundrey meraih bahu kedua putranya, meminta mereka segera masuk ke kamarnya. Keduanya memprotes tindakan ayahnya, tapi kilatan tajam mata Tundrey membuat mereka menunduk dan melangkah pergi. Tidak ada yang berani membantah ayah.

“Ayah, tolong jangan ceritakan kisah itu lagi, “ pinta Tundrey, “itu terlalu mengerikan bagi mereka. Ayah mungkin tidak tahu, sampai sekarang saja, aku masih membayangkan kengerian bila Dustone bangkit lagi. Aku tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi, manusia hanya tinggal segelintir saja. Itu menyakitkan.”

“Hmm, maka untuk itulah kisah ini selalu dituturkan dari generasi ke generasi. Agar mereka berpikir, untuk mencari jalan menghancurkan Dustone. Atau, bangsa manusia akan punah. Jangankan dirimu, aku saja yang tak lagi mampu berjalan, hanya bisa membayangkan kisah itu kala terjadi. Ramalan itu, kau harus percaya. Bahwa Dustone akan muncul di generasi Maye dan Gaye. Kau harus siap-siap.”

Tundrey meninggalkan ayahnya yang masih memeluk buku tua itu. Entah sudah berapa generasi, buku tua itu selalu dibaca menjelang tidur.  Tapi herannya, debu selalu saja menghiasi sampulnya. Tundrey ingat, dia selalu bersin ketika Arkesya menutup buku itu. Mungkin karena ini tentang kisah Dustone. Yang menanamkan pada anak-anak kecil, tentang musnahnya manusia oleh Dustone.  Oleh legenda debu dan batu. Tanpa ada yang bisa menghalangi dan mencegahnya terjadi. Tapi Arkesya selalu berkata, manusai tidak akan musnah. Karena Dustone membutuhkannya untuk bisa bangkit lagi.

OoO

Tundrey gelisah membaca laporan harian satelit  yang baru diterimanya. Gurun itu bergerak dan memadat. Ingatannya berkelebat pada Dustone. Tapi, bisa jadi ini karena tabiat bumi yang semakin tidak stabil pasca letusan beberapa gunung berapi setahun terakhir. Pergeseran lempeng terjadi di banyak bagian bumi. Tundrey meminta laporan geografis dari beberapa gurun dan sabana. Dan laporan dari Gurun Sahara yang benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang. Padatan gurun itu semakin cepat, dan membentuk pola tertentu.

“Tyar, aku ingin bertemu Presiden.”

Tyar, sekretarisnya mengangguk cepat. Seperti dugaannya, ada masalah dahsyat yang diramalkan akan terjadi. Isu itu sudah tersebar di masyarakat. Bahkan banyak komik beredar mengisahkan Dustone.  Koran-koran memberitakannya setiap hari. Sungguh konyol bila harus mempercayai dongeng sebelum tidur seperti Dustone. Tapi, pergerakan gurun itu, mengarah ke sebuah kesimpulan besar. Tyar semula tidak mengira, Tundrey akan mengaitkannya dengan dongeng itu. Tapi, isu itu beredar begitu kencang, lebih kencang dari tornado yang memporak porandakan satu negara bagian. Dongeng yang tidak pernah bisa dibuktikan. Pemerintah tidak bisa mengabaikan isu ini begitu saja, karena sudah begitu meresahkan.

“Presiden siap menerima anda sore ini, pak. “

Tundrey mengangguk. Sepertinya, dia harus meminjam buku Arkesya.

OoO

Kloryeal memainkan bibirnya dengan jempol dan telunjuknnya. Menunjukkan dia berpikir keras. Tundrey bukan Menteri Pertahanan yang bodoh. Prestasinya tak terhitung menyelamatkan bumi ini dari ancaman bencana, baik itu dari bumi sendiri maupun dari luar planet. Prediksi dan perhitungannya selalu matang dan akurat. Isu sekecil apa pun adalah bukti penting bagi Tundrey.

“Aku pernah mendengar kisah ini. Kakekku yang menceritakannya. Ini adalah tradisi dari generasi ke generasi. Tapi, beritahu aku satu hal, Tundrey. Kenapa kamu sekarang lebih percaya pada dongeng ?”

Tundrey mengangguk hormat dan menyerahkan laporannya. Kloryeal mengernyitkan kening, dan mulai tampak panik.

“Pergerakan di gurun dan perpadatan tanahnya, membentuk pola. Coba anda perhatikan, Tuan Presiden. Polanya sudah membentuk sosok Dustone.”

Kloryeal menggigit bibir, menandakan dia mulai gelisah. Akal sehatnya, seperti halnya Tundrey mulai terpengaruh dongeng itu. Dongeng itu, apakah akan terbukti ramalannya ? Tidak ada manusia yang berharap itu akan terjadi.

“Ini tidak mungkin, “ gumamnya, “kirim orang terbaik kita ke sana untuk memastikan dan menangani hal ini. Setidaknya, bukan karena dongeng itu. Tapi, bisa jadi ini bencana dari perut bumi. Kita harus meredakan kegelisahan masyarakat terhadap isu santer itu. Rahasiakan hal ini dari publik. ”

Tundrey mengangguk hormat. Dia yakin, kalimat terakhir Presiden adalah indikasi kesetujuannya. Ini adalah Dustone. Terlepas dia dongeng atau ilmiah. Tapi ini tetap bencana.

OoO

Gaye dan Maye memamerkan keahliannya pada Arkesya. Mereka saling berpegangan tangan dan berputar. Semakin lama semakin cepat, hingga kolam air tempat mereka berdiri membentuk pusaran seperti angin tornado. Gaya dan Maye sudah bisa mengarahkan ujung air itu ke berbagai arah. Mereka bahkan melakukannya sambil tertawa. Terutama bila ujung air yang berputar cepat itu mengenai pepohonan dan mematahkan dahannya.

“Apa yang kalian lakukan ?”

Suara berat itu lagi. Dan … byurrr. Pusaran air itu pun pecah, meluruh bagai hujan. Membasahi Arkesya di kursi rodanya, dan Tundrey yang baru saja datang. Gaye dan Maye menunduk dalam, merasa bersalah melihat ayahnya basah kuyup. Apalagi, Tundrey masih memakai baju dinasnya. Sudah pasti lelaki itu akan marah besar. Dan seperti biasa, bila Tundrey marah besar, Gaye dan Maye akan dihukum, tidak bertemu air beberapa hari. Dan hal itu akan sangat menyiksa bagi keduanya. Gaye dan Maye tak bisa lepas dari air. Arkesya terkekeh seraya mengusap mukanya yang basah.

“Kalian mau membanjiri kota dengan tingkah kalian itu ?”

Nada amarah yang berusaha diredam. Gaye dan Maye dengan cepat tahu diri. Mereka kembali berputar, dan pusaran air kembali terbentuk dari air yang berserakan di mana-mana. Dan perlahan, mereka berdua menurunkan kecepatan pusaran air, hingga airnya meluruh perlahan, kembali mengisi kolam. Baju Tundrey kembali kering seperti semula. Air tadi telah terhisap pusaran dan kembali ke kolam.

Tundrey geleng-geleng kepala. Arkesya bertepuk tangan.

“Kalian berdua, masuk ruang hukuman !” bentak Tundrey.

Gaye dan Maye keluar dari kolam dan berjalan menundukkan kepala. Dalam 3 bulan terakhir, ini sudah kedua kalinya Tundrey memergoki Gaye dan Maye melakukan Circling. Dan selalu, membuat Tundrey basah kuyup. Tapi kali ini, mereka berhasil membuat Tundrey kembali kering. Dan herannya, kemajuan itu tidak membuat Tundrey memuji mereka. Padahal, Gaye dan Maye telah belajar melakukannya selama dua bulan, dengan bimbingan Arkesya.

OoO

Makan malam hanya dihadiri Tundrey dan Arkesya. Gaye dan Maye harus makan malam di kamar hukuman. Sebuah kamar berukuran 10 x 10 yang terbuat dari kaca. Mereka tidak boleh keluar selama beberapa hari dan Tundrey dapat mengawasi mereka dengan mudah. Kamar hukuman itu tepat terletak dia atas kolam ikan. Jadi, Gaye dan Maye akan merasa sangat tersiksa karena milihat air tapi tak bisa menyentuhnya. Hal ini akan membuat mereka jera melakukan Circling lagi selama beberapa hari. Tapi, bila Tundrey bekerja, mereka akan melakukannya lagi, diam-diam.

“Seharusnya, kau bangga pada Gaye dan Maye. Hanya mereka di planet ini yang mewarisi pengendalian air. Malah sekarang mereka bisa mengeringkan air.”

Tundrey hanya menatap ayahnya sekilas, lalu melanjutkan makan malamnya. Dia berpura-pura tidak mendengar kalimat ayahnya.

“Tundrey, kita harus mendatangkan seorang guru khusus bagi mereka.”

Tundrey membanting sendoknya, mengejutkan Arkesya. Rupanya, Tundrey masih marah atas kejadian tadi.

“Aku tidak akan melakukannya, ayah, “ ucap Tundrey manahan emosi, “aku tidak akan membuat mereka mengalami nasih seperti ibunya. Sudah cukup aku kehilangan Meiya. Aku tidak mau kehilangan Gaye dan Maye !”

Kedua anak kembarnya memang spesial. Tapi Tundrey tidak ingin, banyak orang mengetahui kelebihan mereka. Banyak pihak akan memanfaatkan keahlian tersebut. Apalagi bila orang-orang di Departemen Pertahanan mengetahuinya. Tundrey bisa kehilangan Gaye dan Maye, selamanya. Dia tidak akan punya hak lagi terhadap Gaye dan Maye. Bahkan mungkin tidak akan bisa lagi bertemu selamanya. Seperti halnya Meiya. Saat Presiden mengetahui Meiya memiliki kemampuan mengendalikan air, pemerintah memeras tenaganya untuk mengendalikan banjir di salah satu negara bagian. Memindahkan air bah sebanyak itu ke laut. Lalu menggerakkan kincir air untuk pembangkit listrik tenaga air laut di sebuah negara bagian yang mengalami krisis energi.  Dan Meiya pergi setelah kehilangan begitu banyak energi. Tidak sedikit orang seperti Meiya. Dimanfaatkan pemerintah karena mereka membutuhkan keistimewaannya. Tapi pemerintah selalu ingkar janji. Dan Tundrey tahu benar akan hal itu, karena dia berkecimpung di dalamnya. Dalam setiap tugas-tugasnya, dia kerap bertemu dengan anak-anak yang memiliki keistimewaan pengendalian. Tapi, Tundrey tidak pernah melaporkannya ke Departemen.

“Gaye dan Maye diperuntukkan untuk jaman ini, Tundrey. Kamu harus siap. Kamu tidak akan mengira, jiwa mereka penuh berisi kepahlawanan.”

“Itu karena ayah selalu mencekoki mereka dengan dongeng-dongeng konyol !”

Tundrey bangkit dari kursinya kesal. Pikirannya begitu kalut. Pergerakan gurun di Sahara itu semakin nyata. Dan Tundrey tidak yakin kali ini dia bisa bencana ini. Dustone. Gaye dan Maye. Dan Meiya. Tundrey tak ingin kehilangan miliknya yang paling berharga.

OoO

Tundrey mengguncang tubuh Arkesya perlahan. Dia membangunkan ayahnya tanpa ingin mengejutkannya. Arkesya membuka mata perlahan.

“Waktunya sudah tiba, ayah. Kita harus pergi.”

“Pergi ? Ke mana ?”

“Ayah, ikut saja. Para pembantu sedang mempersiapkan bekal untuk kita. Juga anak-anak.”

“Dustone. Ya kan ? Dia sudah bangkit. ”

Tundrey tidak menjawab. Tapi bunyi sirene meraung-raung di luar adalah jawaban bagi Arkesya. Presiden memerintahkan evakuasi. Beberapa pesawat antariksa sudah dipersiapkan untuk evakuasi sebagian besar penduduk bumi. Juga kapal-kapal besar untuk berlayar di samudra. Dan itu, tidak mencukupi. Hanya orang-orang kaya yang mampu membayar biayanya. Orang-orang yang tidak mempunyai uang untuk menyelamatkan jiwa mereka, berlarian ke hutan-hutan, berharap bisa selamat. Kisah itu akan kembali terulang.

“Tidak ada yang bisa selamat dari Dustone, Tundrey. Meskipun kita pergi ke tengah laut atau ke antariksa. Kita tetap harus kembali ke bumi. Kau tahu itu, kan ? Penduduk bumi tidak pernah mempersiapkan evakuasi dengan matang sebelumnya, padahal mereka sudah tahu ramalan itu akan terjadi. “

“Aku harap ayah tidak membuat Gaye dan Maye ketakutan. Kita hanya berlibur sementara.”

Tundrey mendorong kursi roda Arkesya. Di ruang tengah, Gaye dan Maye berdiri tegak menatap layar televisi selebar satu setengah meter. Dan dengan layar sebesar itu, keduanya bisa melihat liputan mengerikan itu disiarkan dengan sangat gamblang.

Dustone. Dongeng itu benar adanya. Dia telah bangkit dari gurun. Sekujur tubuhnya, adalah padatan debu dan batu, membentuk sosok mirip manusia raksasa. Tangannya menjamah manusia-manusia yang tampak seperti ujung kukunya, dan melemparkannya ke mulut besarnya. Dia tidak bermata. Hanya kepala dengan mulut terbuka lebar. Tempat dia memasukkan manusia-manusia yang dia tangkap dengan kedua tangannya. Langkahnya mendebam, mengguncang dan meruntuhkan gedung. Dia meraup begitu saja manusia-manusia yang berlarian seperti semut, lalu menelannya. Gedung-gedung itu dia patahkan, dia angkat ke udara dan mengguncang-guncangnya. Hingga manusia-manusia berjatuhan ke mulutnya. Tak satu pun luput. Dia begitu telaten menyibak hutan dan mencomot manusia yang histeris di dalamnya. Kendaraan dan pesawaat yang berlari menjauhinya, dia hantam dengan gumpalan batu dan debu hingga. Hingga tak ada yang selamat dari dia. Semua manusia ditelannya.

Tundrey langsung mematikan televisi.

“Nonton filmnya lain kali saja ya ?” kata Tundrey dengan senyum lebar.

“Itu bukan film, ayah. Itu berita !” protes Gaye.

“Dustone telah bangkit dan dia akan memakan kita semua !” teriak Maye.

Tundrey tahu dia tidak bisa membohongi si kembar. Tapi dia berusaha menutupi apa yang telah terjadi di muka bumi. Dia tidak ingin, si kembar mempunyai pikiran aneh tentang akhir kisah Dustone yang selama ini meraka harap dari buku tua dari papyrus itu.

“Ayo, semua masuk ke mobil. Kita akan pergi ke bulan !”

Gaye dan Maye diam mematung. Tundrey tak bisa lagi bicara.

“Sampai kapan kau akan membohongi mereka, Tundrey. Gaye dan Maye adalah bagian dari dongeng itu, “ ucap Arkesya seraya menangkup kedua tangannya ke dagunya, tanda dia hendak memberikan nasehat bijaksana.

“Tidak ! Tidak !” teriak Tundrey, matanya memerah, “kalian semua, ayo cepat naik.”

Para pembantu bergegas keluar dan naik ke dalam mobil yang sudah disiapkan Presiden. Tundrey adalah Menteri Pertahanan yang tak boleh ditelan oleh Dustone. Dia dan keluarganya harus diselamatkan seperti halnya Presiden.

“Ayah, kami akan menyelamatkan dunia, “ ucap Gaye dan Maye serempak, “kata kakek, hanya kami yang bisa.”

“Tidak, sayang … tidak…”

Tundrey menubruk kedua anaknya dan memeluknya erat. Dia tidak ingin kehilangan keduanya. Kekuatan mereka berdua sudah diramalkan. Dan kedukaan bagi Tundrey ketika mengetahui bahwa kemampuan mereka sudah semakin terasah.

“Ayah … tolong, hentikan !” pekik Tundrey pada Arkesya.

Arkesya terpaku di kursi rodanya. Ini adalah takdir bagi seorang pahlawan.

OoO

Tundrey dan beberapa pasukan berhasil memancing Dustone mendekati pantai. Tempat yang selalu dijauhi makluk mengerikan itu. Dan sesuai prediksi Tundrey, Dustone tidak berani mendekat, ketika jaraknya satu kilometer dari pantai. Tapi dia mulai melemparkan batu dan tanah di sekitar pantai. Batu dan tanah itu langsung memadat ketika menyentuh pantai, membuat langkah Dustone semakin maju mendekati garis pantai.

Gaye dan Maye berdiri di sebilah papan, yang tergantung di helikopter milik Departemen Pertahanan. Tubuh mereka terikat erat. Dan hanya Tundrey yang memperbolehkan dirinya mengendarai helicopter tersebut. Tak dipedulikannya teriakan Presiden di radionya. Bagaimanapun juga, Tundrey tidak akan mengorbankan kedua anaknya begitu saja. Setidaknya, dia pun harus ikut bersama Gaye dan Maye menjadi korban Dustone. Lemparan gumpalan batu dan debu dari Dustone berhasil dihindari oleh helikopter Tundrey dengan tangkas.

Gaye dan Maye mulai berputar.  Saat tangan Dustrone menyambar mereka berdua dan siap menelannya, kekuatan mereka menyambar air laut dan membentuk pusaran. Tundrey berusaha mempertahankan kendali helikopternya, di dalam pusaran air. Mereka tepat berada di atas mulut Dustrone yang terbuka. Dan dalam hitungan detik, Tundrey melepaskan tali penahan papan Gaye dan Maye. Kedua anaknya itu jatuh meluncur ke mulut Dustrone, dan pusaran air laut mengikuti mereka.

“Aku mencintaimu, Gaye … Maye !” bisik Tundrey.

Helikopternya berputar tanpa kendali, terkena pusaran air laut. Pusaran air laut itu tertarik oleh kekuatan Gaye dan Maye, masuk ke dalam mulut Dustrone. Terdengar suara bergemuruh yang dahsyat. Mulut Dustone mulai meleleh terkena air laut. Perlahan lelahan itu merambat ke seluruh kepala. Pusaran air laut semakin besar. Tundrey berhasil keluar dari pusaran air, dan mendaratkan helikopternya di tepi pantai. Masih dalam helikopter, Tundrey mengkomando untuk merudal Dustone. Rudal-rudal air mendera tubuh Dustone. Semula, rudal-rudal itu hanya tertelan oleh tubuh Dustone dan tak ada reaksi apa pun. Tapi, seriring dengan melelehknya kepala dan leher Dustone, kedua kaki raksasanya tak bisa lagi menahan beban tubuhnya. Rudal-rudal air membuat sebagian besar kakinya menjadi lumpur. Perlahan Dustone ambruk diiringi suara gemuruh. Dan pusaran air Gaye dan Maye menjadi hujan air laut, luruh, menyiram gurun.

Terdengar sorak sorai para tentara.  Legenda itu tak akan pernah lagi tertutur ke generasi selanjutnya. Dustone sudah musnah. Tundrey menatap debu dan batu yang berterbangan, yang kemudian luruh ke bumi. Yang dilakukannya kemudian hanya satu, menemukan Gaye dan Maye dalam reruntuhan batu itu. Maka dia pun berlari, diikuti para tentaranya, mengobarak-abrik lumpur dan batu. Dan sungguh aneh, sudah jutaan orang yang ditelan Dustone, tapi tak satu pun bekasnya ada dalam tubuhnya. Dustone benar-benar memusnakah manusia dalam gerusan debu dan batu di tubuhnya. Maka, tak heran, legenda itu tak pernah lekang oleh jaman. Tertutur dan ingin dilupakan, tapi tak pernah bisa terlupa.

Tundrey memukul-mukul lumpur di hadapannya.  Berteriak memanggil Gaye dan Maye. Legenda itu telah musnah, bersama kedua putra tercintanya. Keduanya terlahir dan pergi sebagai pahlawan.

OoO

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Legenda Dustone

  1. negeri tak pernah-48 says:

    Wah.. jarang cerita dengan ending macam ini. Sedih T.T

    Bagus koq. Sukses ya :)

  2. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Dustone… debu satu?

    Secara cerita, saya ga nemu sesuatu yang beda sih, tapi bukan berarti ceritanya jelek ya. Saya sendiri cukup menikmati kok ^^. Tapi endingnya itu! WHY? iya sih manusia selamat, tapi…. *usrek usrek tanah*

    Ah, dan kalo saya boleh kasih masukan, kalo mau pake tanda baca setelah satu kata, jangan dispasiin, tapi ditempel. contoh: Tidak ! Tidak ! -> Tidak! Tidak!

    3 out of 5, Cheers ^^

    • syila says:

      Debu dan batu disenyawakan jadi dustone. Makasih masukan EYD-nya.
      Ada masukan gak tentang ending daripada *usrek usrek tanah* …. hehehe

  3. Fapurawan says:

    Ceritanya bagus, dramanya kuat. Tapi saya nggak bisa nempel sama dunianya. Saya seperti berada di tengah kabut, mendengarkan seseorang bernarasi dan beberapa tokoh bercakap-cakap, tapi saya tidak bisa membentuk kabut imaji itu menjadi dunia yang pas buat mengiringi cerita ini.

  4. Bobby Huang says:

    Wah.. Endingnya kok pahlawannya mati :(

    Mengorbankan diri seperti itu :(

    Alur ceritanya terlalu flat. Banyak part yang sebenernya bisa lebih digali lagi *halah
    Mungkin konfliknya lebih ke pertentangan batin sang Ayah yang tak ingin kehilangan kedua anaknya. Walaupun pada akhirnya merelakannya. Tragis banget nasib si Ayah, sudah kehilangan istrinya, sekarang kehilangan kedua anaknya.
    Klimaksnya harusnya lebih daripada itu :D
    Mungkin pertarungan kedua anak melawan Dustone bisa lebih sengit lagi.
    But overall, saya baca sampai habis loh :D
    Cerita heroik yang bagus :D

  5. syila says:

    makasih sudah berkenan membaca.
    Memang tak bikin pahlawannya mati biar agak nyengit gitu.
    Konflik batin sang ayah yaaa, oke terima kasih sangaatt. Jadi memikirkan klimaks yang lebih heboh lagi. Juga pertarungan sang anak yang lebih dahsyat lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>