Lexica

LEXICA

karya Fenny Wong

Status Aister Ravedine: kesadaran kembali dalam: Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu.

Kandungan energi Zoc dalam tubuh: 80%.

Sorak sorai dan tawa mabuk dari kedai lantai bawah membangunkan Aister dari mimpi buruk. Kemudian ia merasakan kehadiran seseorang di ambang pintunya. Walau hanya dalam cahaya lilin, ia segera mengenali Faucilon. Sorot mata penuh keberanian pria itu kini redup di tengah remang.

Aister tidak menoleh ketika ia berbisik, “Aku tidak apa-apa.”

“Aku mendengarmu berbicara dalam tidur. Apa masa lalumu mulai kembali padamu?” Faucilon berdiri tepat di belakang Aister, membelai rambutnya yang sebahu. Helaiannya berwarna setingkat lebih terang dari beberapa hari yang lalu. Kulitnya pun menjadi lebih cerah setiap harinya. Faucilon berkomentar, “Kau penuh dengan Zoc, padahal kau tidak pernah mendapat infusi. Kau memang sepertiku, Aister.”

Cincin perak Aister berkilat ketika ia menyentuh cermin. Mata Aister kini terpaku pada pantulan sosok Faucilon di cermin di hadapannya. Mungkin hanya butuh beberapa minggu hingga rambut Aister menjadi sepenuhnya pirang, matanya jadi sebiru laut. Saat itu ia akan persis seperti Faucilon, seperti para bangsawan yang mendiami Distrik Satu.

“Jika bisa, aku ingin terlihat seperti gelandangan Distrik Lima lagi. Rambut hitam, mata hitam, kulit pucat. Ironis, bukan?” Aister tertawa dingin. “Terlihat seperti para cecunguk di Distrik Satu sementara kita adalah pemimpin pemberontakan.”

Faucilon membungkuk dan memeluk Aister dari belakang. “Pikirkanlah, Aister…. Kenapa hanya kita yang berbeda? Kita diberi kemampuan beremosi. Takdir ingin kita melawan dunia, melawan Perusahaan Assis sialan itu.”

Kata-kata Faucilon melembutkan tatapan Aister. Ia bangkit dan memeluk balik kekasihnya. Lusa adalah hari penyerangan, dan mereka mungkin akan kehilangan segalanya. Dulu, itu tidak apa-apa.

Tapi kini dengan Faucilon dalam dekapan, mengecup keningnya lembut, mana mungkin ia bisa berkata bahwa kehilangan segalanya itu tidak apa-apa?

 

***

 

Status Aister Ravedine: kesadaran penuh telah kembali dari tidur. Matahari akan terbit dalam… 10 menit dan 5.64 detik.

Suara Lexica itu kemudian terhenti. Ia tahu Aister ingin mengatakan sesuatu padanya. Bukan hanya berbicara, tapi juga bertukar pendapat. Sejak Aister dekat dengan Faucilon, ia tidak berbagi lagi. Tapi kali ini berbeda. Langka.

Aister berbisik pelan, tangannya memeluk lutut. “Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini. Kalau dia mendapatiku berbicara denganmu, ia akan khawatir lagi,” Aister mendekap lututnya. “…tentang penyerangan besok. Menurutmu, apa….”

Aister tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Tapi Lexica mengerti.

Biasanya kau tidak pernah ingin mendengar pendapatku.

Aister memanjat turun dari pembaringan ketika ia melihat ufuk timur memerah, mengubah warna langit menjadi abu-abu terang. Ia berganti pakaian, meraih Zocblade, menyarungkannya di pinggang. Jemarinya menyingkap rambut yang menghalangi wajah. Ia terlihat siap tempur.

Aister menutup pintu kamar di belakangnya dan membiarkan Faucilon tertidur sedikit lebih lama. “Aku tahu kau tidak sepaham dengan Faucilon. Ia ingin mengembalikan dunia seperti dulu lagi, walau aku tidak tahu seperti apa dunia yang lalu. Tapi kau pasti tahu, bukan, Lexica?”

Deritan kecil terdengar setiap Aister menuruni anak tangga losmen. Beberapa anggota pemberontak terbaring di meja, bau tuak tercium pekat. Kemarin malam mungkin adalah saat terakhir mereka berpesta.

Angin kering yang dingin di Grelhein menerpa wajah Aister. Tas punggungnya ringan karena hanya ada beberapa botol kecil di dalamnya.

Dunia berubah sejak Perusahaan Assis menemukan mesin yang mampu mengubah hormon manusia menjadi energi luar biasa, mengalahkan nuklir yang saat itu biasa digunakan. Hormon itu sendiri diserap ketika manusia beremosi. Energi yang dihasilkan dinamakan Zoc.

Aister berhenti di persimpangan. Seorang gadis kecil terbaring di atas aspal. Rambutnya hitam legam, kusam terkena debu. Aister mengeluarkan salah satu botol dari tasnya, meminumkan cairan kehijauan di dalamnya pada gadis itu. Segera, rambutnya kini satu tingkat lebih terang, dan kulitnya kini bersemu sehat. Gadis itu tertidur.

Aister berjalan lagi. “Biar kutebak. Kemudian Assis menguasai peredaran Zoc  sebagai sumber energi utama. Sayangnya manusia akan kehilangan kemampuan beremosi jika Zoc mereka dieksploitasi. Karena evolusi, pada akhirnya tidak ada yang bisa beremosi tanpa infusi Zoc, kecuali orang seperti aku dan Faucilon. Yang miskin takkan mampu beremosi, lalu mati, karena tidak bisa mampu mendapat Zoc.”

Dan itulah mengapa kau berkeliling setiap pagi, membagi-bagikan Zoc pada mereka yang sekarat. Untuk apa, Aister?

Bahkan sedari dua ribu tahun yang lalu, banyak orang yang mati di atas trotoar di pagi hari karena kemiskinan mereka. Mengubah aturan dunia hanya akan menciptakan aturan lain.

Kau berbeda, Aister. Kau tidak perlu mengikuti aturan dunia. Kau, seperti pemimpin Assis dan Faucilon, masih memiliki kemampuan beremosi.

Aister berhenti. Ia mengernyit, menggenggam botol berisi Zoc di tangannya begitu erat hingga hampir meremukkannya. Ia berseru geram, “Lalu apa karena tidak ada artinya, maka tidak perlu diperjuangkan?! Lalu apa karena mereka akan mati, maka harus kubiarkan?!”

Jika menyerang adalah kehendakmu, aku takkan menghentikanmu. Takkan ada yang bisa menghentikanmu. Tapi kalau kau memberontak dan melawan Assis esok hari, pimpinan mereka, No. 1, akan membunuh Faucilon.

Apa aku perlu memberikan data persentasenya?

Aister berteriak kesal, kemudian menangis karena amarah. Di tengah gang kecil antara reruntuhan Distrik Lima, tidak ada yang datang menenangkannya. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya, karena Faucilon tidak sepenting itu dulu, dan hari yang ditentukan tidak sedekat sekarang….

Aister memeluk dirinya sendiri sementara air mata masih mengalir. Jika pemberontakan tidak lakukan, maka tidak ada perubahan. Ia harus kuat.

Jangan khawatir. Jika ia meninggalkanmu, masih ada aku. Tapi jika kau ingin ia hidup, ada satu cara….

***

Aister baru saja mendapat kecupan pagi dari Faucilon ketika tiga orang anggota pemberontak membopong mayat seorang pria masuk ke dalam kedai losmen. Beberapa orang lainnya bergegas mendekat.

“Ia ditemukan subuh ini di Distrik Dua oleh anggota yang berpatroli. Mereka juga melihat robot-robot Assis mengisap Zoc dari tubuhnya.”

Faucilon membungkuk untuk memeriksa mayatnya. “Lagi-lagi kematian yang sama pada penghuni Distrik Dua. Penghisapan emosi secara paksa. Ada bekas tembakan Zocblade di lengan dan kaki, membuatnya tidak bisa bergerak.”

Berthand, tangan kanan Faucilon, terpana ketika ia berkata, “Aku mengenalinya. Saat aku mencari jalan untuk masuk ke Gedung Assis di Distrik Satu, aku menginap di losmennya untuk satu malam,” Berthand mengepalkan tangannya, geram. “Tapi ia hanya pemilik dan penjaga losmen. Assis…. apa kini mereka juga akan membunuh orang-orang yang tidak bersalah?!”

“Walaupun membantumu, ia tidak tahu siapa sebenarnya kau, bukan? Ia tidak dibunuh karena itu. Roil, apa kau bisa membantuku mengembalikan mayat-mayat ini pada keluarga mereka?” Faucilon berbalik dan menoleh pada Roil. Faucilon kemudian melanjutkan, “Tapi ini aneh…. Apa desas-desus itu benar?”

“Desas-desus apa?”

“Sejak kita terang-terangan menyerang, Assis tahu tempat persembunyian kita. Tapi mereka tidak sekalipun menggempur kemari. Kenapa?” Faucilon terduduk. “Assis punya pasukan bayangan, manusia-manusia yang diinfusi sangat banyak Zoc hingga mereka sekuat si No. 1. Kita pun tahu Zocblade menggunakan Zoc dalam tubuh pengguna sebagai amunisi. Konon kabarnya pasukan bayangan ini punya amunisi tidak terbatas.”

“Sepertimu,” Aister berkata pada Faucilon.

“Sepertimu juga,” Faucilon berkata balik pada Aister. “Tapi menurutku ‘tidak terbatas’ hanya konon. Kecuali, mereka berkemampuan beremosi seperti aku atau Aister. Dan orang lainnya yang kita tahu bisa hanyalah No. 1 keparat itu.”

Berthand terduduk di samping sementara para pemberontak lain membantu mengangkat mayat ke tandu. Mereka tetap dengan siaga mendengar kata-kata Faucilon.

“Jadi maksudmu, Faucilon,… mengapa mereka membiarkan kita, padahal punya pasukan bayangan kuat?” Berthand bertanya memastikan.

“Kita bahkan sempat mencuri dari gudang cabang penyimpanan Zoc Assis. Walau yang ada di dalamnya ternyata tidak banyak.”

“Kita bisa menemukan jalan pintas masuk ke dalam Gedung Assis, bahkan menyamar menjadi salah satu pekerjanya untuk mencari tahu lokasi dan keberadaan No. 1.”

“Awalnya aku mencari tahu kenapa gudang penyimpanan itu begitu kosong,” Faucilon berkata. “Lalu aku mendengarnya. Untuk menciptakan pasukan itu, mereka menggunakan banyak persediaan Zoc. Mereka harus menyerap dari No. 1 lagi untuk mengembalikan persediaan.”

“Lalu kenapa gudang sialan itu masih begitu kosong walau setelah penyerapan?”

“Bukankah hanya ada dua jawabannya?” Faucilon menenteng Zocbladenya di pundak. “Satu: No.1 tidak ada di Grelhein, jadi penyerapan tidak mungkin dilakukan. Atau dua: No. 1 kehilangan kemampuannya beremosi, karena terlalu banyak mengeksploitasi emosinya sendiri. Dua-duanya menjelaskan kenapa mereka repot-repot menyedot Zoc dari pria tadi.”

“Distrik Dua, karena mereka tidak bisa menyedot dari bangsawan di Distrik Satu?” Aister geram. “Mereka tidak peduli manusia selain mereka yang tinggal di Distrik Satu.”

Aister mencabut Zocblade-nya dari sarung pinggangnya. Pemberontak-pemberontak lain melakukan hal yang sama. Saling berbagi tatapan, mereka juga berbagi keyakinan. Walau membangkitkan amarah, tapi mereka diberi harapan:

Besok Assis akan hancur. Mereka akan menang. Dan dunia, akan baru sekali lagi.

 

***

 

“Tidakkah kau takut?” Aister bertanya. Faucilon dalam pelukannya, selimut di atas mereka berdua. Di hadapan mereka jendela besar, tertutup rapat untuk menjauhkan angin malam yang dingin, tapi memberikan intipan bulan malam.

“Takut?”

“Takut ini hanya jebakan. Mungkin No. 1 memancing kita menyerang. Kita jatuh persis dalam jebakan mereka.”

“Dan apa itu lebih buruk daripada duduk diam di sini?”

“Tidak,” Aister memeluk Faucilon lebih erat.“Tidak, tapi tetap saja aku takut. Terlalu mudah….”

“Kita akan pakai mesin mereka untuk menciptakan Zoc dari emosi kita. Lalu kita bisa membagi-bagikan Zoc pada setiap orang, siapa saja. Lalu pelan-pelan, kita akan mengubah dunia.”

“Tidakkah kau bertambah takut?”

“Apa lagi?”

“Takut kita akan berubah persis seperti No. 1. Lalu kita akan mendirikan perusahaan, persis seperti Assis. Takut kita menjadi egois, karena dengan  kemampuan memproduksi Zoc, kita adalah dewa di dunia ini.”

Aister merasakan jemari Faucilon masuk ke sela-sela rambutnya. Belaiannya berusaha menenangkan Aister, tapi seakan menertawakan kekanak-kanakannya.

“Aku….,” Aister mendesah. “Aku takut kau mati besok.”

Faucilon meraih wajah Aister, berusaha mengecupnya, tapi Aister membuang muka. Faucilon berbisik pada telinganya, “Jika kau tidak menoleh padaku sekarang, mungkin aku memang lebih baik mati saja.”

Menyerah, Aister menciumnya. Pandangan biru mereka saling temu. Kemudian Aister memutuskan untuk berkata, “Terima satu hal dariku. Hanya satu hal saja.”

Faucilon terdiam. Senyum di suaranya, “Dirimu malam ini?”

“Cincinku. Satu-satunya ikatan pada masa laluku yang terlupakan,” Aister melepas cincinnya, memakaikannya pada jari telunjuk Faucilon. “Suara dalam benakku…. Ia berkata ini akan melindungimu.”

Faucilon mengecup cincin yang diberikan Aister, kemudian mengecup Aister sendiri. Malam itu panjang.

 

***

 

Itu bukan pertempuran yang mudah. Mereka terengah-engah, terlalu lelah. Di tengah medan perang yang hampir menjadi puing-puing, para pemberontak khawatir mereka akan ikut hancur.

Walaupun Aister mempunyai amunisi yang tidak terhingga, tapi jumlah robot Assis terus bertambah dari segala arah. Bertempur di sampingnya, Berthand terjatuh ketika Aister berusaha menembak robot yang mendekat.

“Aku tidak apa-apa,” Berthand berkata, kemudian menunjuk Faucilon. “Bantu Faucilon. Robot-robot ini semua mengincarnya!”

Faucilon segera menunduk ketika salah satu robot menyasar kepalanya. Lasernya mengenai pundak kanan Faucilon, menorehkan luka bakar menyakitkan. Setelah beberapa tembakan telak, Faucilon berhasil membuat satu lagi robot jatuh dan rusak.

Sebuah robot lain melompat ke depan Faucilon. Faucilon yang masih meringis kesakitan melompat mundur dengan sigap. Tapi robot lain menahannya dari belakang, menendang kaki Faucilon hingga ia terjatuh.

Faucilon berguling dan menghindari tembakan para robot. Satu robot menembaknya berulang kali, tapi Aister menembak balik robot itu. Suara decitan dan asap mengepul dari tubuhnya.

Tapi terlambat. Faucilon sudah tertembak, kali ini pada paha kanannya. Aister berlari ke arahnya, membantunya tetap berdiri.

“Tidak apa-apa, aku masih bisa,” Faucilon berkata, berdiri tanpa papahan Aister. Ketika Aister berusaha melepas tabung Zoc cadangan pada kalungnya, Faucilon menghentikannya.

“Walau hanya sedikit dalam tabung ini, tapi bisa membantu mempercepat penyembuhan lukamu,” kata Aister, masih memaksa.

“Simpan itu untuk anggota lain, keadaan mereka lebih gawat. Dengan bantuan regu pemberontak lain sekalipun, jumlah kita masih kalah. Mereka adalah robot; kita harus mencari inti penggerak mereka.”

“Aku tahu,” Aister berkata. Ia kemudian berseru, “Lexica, kau dengar itu? Apa kau bisa bantu aku dan Faucilon?”

Input diterima. Inti penggerak berada di dalam setiap tubuh robot masing-masing.

“Kau sedang bicara pada suara dalam benakmu?!” Faucilon berkata, menembaki robot yang mendekati mereka. “Dia bisa tahu hal semacam itu?!”

“Untuk alasan yang tidak kutahu, dia seperti inti komputer yang sangat informatif dan pintar. Tapi untuk sebagian hal ia menolak untuk memberitahuku,” Aister berusaha menjawab Faucilon sesingkat mungkin sementara ia berkonsentrasi pada jawaban Lexica. “Kalau begitu, cara lain untuk menghancurkan mereka bersamaan, apa ada?”

Semua inti penggerak robot menarik Zoc dari sebuah sumber. Hancurkan sumber Zoc.

“Beri tahu aku di mana sumbernya!”

Jalan hingga ujung lorong, belok kiri, kemudian belok kanan lagi, turun tangga hingga ujung. Kau akan menemukan sebuah pintu besi untuk masuk ke Ruang Inti.

Aister segera berlari. Faucilon mengikuti di belakangnya. Ketika mereka telah berbelok ke kiri dan kanan, sebuah pintu besi menyambut mereka. Di baliknya ada tangga terpanjang yang pernah mereka tahu, dengan pintu besi serupa di sebelah kirinya setiap beberapa meter. Ratusan robot berdiri, siap menghadang.

Faucilon berdecak, mulai menembaki robot-robot itu, menapaki anak tangga satu per satu. Aister memilih untuk naik ke pegangan tangga, Zocblade di tangannya menembakkan amunisi bertubi-tubi sementara ia meluncur, turun jauh ke bawah.

 

***

 

Ruangan itu putih, lebih kecil daripada ruangan mana pun di Gedung Assis. Setiap incinya tertutup kabel perak yang tertata rapi, masing-masing kabel tersambung pada tabung yang berdiri di tengah ruangan. Sinar kehijauan dari cairan tabung itu membuat ruangan itu ikut menghijau.

Rambut hitamnya yang panjang melambai-lambai di dalam cairan, menentang gravitasi. Matanya tertutup, tapi ia tidak sedang bermimpi. Pakaian pelindung dari metal yang dikenakannya berkilat. Tapi ia tetap bergeming. Kabel-kabel sintetis menusuki ujung lehernya, turun sepanjang tulang belakangnya. Dua set lainnya ditusuk berjajar dari bahu hingga ke pergelangan tangan.

Sebuah helm kaca keperakan seakan menyedotnya dari atas hingga membuat kakinya tetap mengambang di dalam tabung. Sebuah kabel lain yang bercahaya terhubung dengan cincin yang dikenakannya di jari telunjuk. Pada tangan lainnya, ia menggenggam sebuah Zocblade kecil.

“Diakah…. No. 1?” Faucilon berbisik tidak percaya. “Tapi dia… terlihat persis seperti-—!”

Status Aister Ravedine: pengembalian data. 01010101111110011010110111110111110101110101010101111110101010110101101111010111110101000001011101101010101…..

Aister berlutut mencengkram kepalanya. Ia berteriak kesakitan, membuat Faucilon menyerukan namanya khawatir.

“Hentikan, Lexica!” Aister berteriak kesakitan. “Hentikan!”

Memori yang kembali begitu banyak, memaksanya untuk mengingat satu demi satu. Tumpang tindih. Saling silang.

Selamat datang kembali di Assis, No. 2 — Aister Ravedine.

Suara itu tidak muncul di benak Aister saja, tapi menggema di seluruh ruangan. Seakan ada orang yang membisikkannya pada telinga mereka dari berbagai penjuru. Faucilon menatap Aister tidak percaya, kemudian menatap No. 1. Aister yang masih terengah-engah berlutut di lantai, mengembalikan tatapan Faucilon tidak berdaya.

Enam bulan adalah waktu yang terlalu lama untuk membawa Faucilon Gallux ke hadapanku.

Ada empat Zocblade besar tertanam pada keempat ujung ruangan. Dengan decitan kecil, dua di antaranya diarahkan pada Aister. Sebelum senjata itu sempat menembakkan amunisinya, Faucilon telah menembak balik dengan cekatan. Aister masih belum bergerak, tangannya terkepal di di lantai, badannya bergetar.

Faucilon mengarahkan Zocbladenya pada No. 1, “Omong kosong, keparat! Di sini akan kuakhiri!”

Tapi Aister melompat ke hadapannya dan merentangkan tangannya di depan tabung. “Tidak, ia benar.”

“Apa yang kaukatakan? Minggir, Aister.”

“Dia benar,” Aister mengulang. “Kau ingat pasukan bayangan yang katanya dibentuk Assis hingga Assis kehabisan persediaan Zoc? Hanya satu orang yang mereka buat: aku. No.2.”

“Apa yang kaukatakan?” Faucilon mengulang, kini tangannya lunglai. “Apa yang telah dia lakukan padamu?”

“Bukankah aku mirip dengannya?” Aister mendelik, kumpulan air mata menggenang menutupi matanya yang merah. “Aku dengan No. 1. Dengan Lexica. Aku adalah kloningnya.”

Jemari Faucilon kembali. Bergetar, ia mundur beberapa langkah dari Aister. Sebuah tawa getir muncul dari bibirnya. Aister mengarahkan Zocbladenya pada dirinya sendiri, tapi Zocblade lain yang digenggam Faucilon diarahkan tepat pada No. 1.

“Untuk alasan apapun itu, turunkan itu, Aister. Atau akan kutembak dia.”

“Selamat tinggal, Pemberontak.”

Detik di mana Aister menekan pelatuknya, Faucilon tidak peduli lagi. Ia melempar Zocbladenya, menerjang ke arah kekasihnya. Tapi amunisi sudah ditembakkan, dan gadis itu kini terbaring di lantai, tidak bernyawa.

Rambutnya yang semakin hari semakin kepirangan kini berubah hitam legam. Kulitnya secara cepat memucat drastis, nadinya kehijau-hijauan terlihat di baliknya. Faucilon menggenggamnya, kegeraman memuncak dalam dirinya.

Apa kau tahu kenapa dia membunuh dirinya sendiri, Pemberontak?

Cincin yang diberikan Aister menekan kulit jemarinya, memberikan sensasi yang menyakitkan untuknya. Seakan menahan amarahnya, tapi tidak bisa. Seakan menyedot semua sensasi yang seharusnya ada di dalam tubuh Faucilon. Cincin itu mengisap sesuatu.

Apa kau tahu, untuk apa aku menghapus ingatannya, mengirimnya ke losmenmu, dan membuatnya benar-benar mencintaimu enam bulan ini?

“Diam!”

Karena hanya dengan itu kau bisa tertipu dan mencintainya balik. Dan hanya dengan mencintainya, kau akan begitu sedih ketika ia mati di hadapanmu. Sedih, sedihlah! Emosi itu yang kuinginkan. Berikan lagi padaku, semua Zoc-mu.

“Diam!!” Faucilon menggeram, meraih Zocblade-nya. Ia menengadah, menatap No.1 yang sedang mengalami perubahan drastis. Cairan kebiruan mengalir dari kabel yang menyambung dengan cincinnya. Kulitnya mulai berubah warna, begitu pula dengan rambutnya.

Lalu kau akan tahu. Semua ini hanya sandiwara untuk mengambil amarahmu, ketika kau tahu semuanya hanya dirancang untukku. Bukankah impas? Aister yang membuatku lemah, jadi dialah yang harus kembali menghidupkanku.

Sayangnya, jumlah Zoc sebanyak itu untuk memulihkanku hanya bisa didapat darimu, manusia istimewa. Sayangnya lagi, kau begitu membenci Assis. Bagus juga, bukan? Selain kesedihan, aku juga mendapatkan amarahmu sekarang.

Faucilon menembakkan amunisinya pada tabung itu. Lasernya memantul, mengenai dinding di sebelah kiri. Tapi tidak satu goresan pun terbentuk pada dinding kaca tabung. Semakin Faucilon tahu ketidakberdayaannya, semakin ia murka. Dan semakin cepat pula warna kepirangan itu mengalir dari akar hingga ke ujung rambut Lexica.

Tidak seharusnya aku menciptakan Aister. Cecunguk sialan itu, untunglah ia sudah mati.

Kabel-kabel itu satu per satu lepas dari tubuh Lexica dengan kecepatan yang mengejutkan. Cairan hijau itu surut, dan helm yang melingkari kepalanya terangkat. Pintu tabung kaca itu terbuka, mengeluarkan Lexica yang berdiri tenang.

Faucilon mengarahkannya pada Lexica, berusaha untuk menarik pelatuknya, tapi wajah yang serupa dengan Aister melambatkannya. Dan Faucilon sadar, Zocblade-nya kehabisan amunisi. Seluruh Zoc Faucilon telah terhisap ke dalam tubuh Lexica. Lexica mengangkat Zocblade kecil di tangannya, menembak Faucilon balik.

Faucilon terjatuh di samping Aister. Di dalam kesadarannya yang memudar, ia melihat Lexica berjalan melewatinya, mendekati panel komputer besar yang muncul di dinding ruangan. Map gedung dan semua yang ada di dalamnya muncul di layarnya.

Faucilon menoleh, Aister terbaring di sampingnya. Faucilon menyingkap rambut Aister untuk terakhir kalinya, membelainya seperti yang selalu ia lakukan, lalu ia melihatnya.

Sebuah tabung Zoc di leher Aister. Satu tarikan memutuskan rantainya, membuka penutupnya. Faucilon meneguknya. Kemudian dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, ia mengarahkan Zocblade-nya pada punggung Lexica.

Satu tabung cukup untuk satu kesempatan. Bagaimanapun, Lexica tetap manusia yang mati bila tertembak.

Faucilon hanya bisa berdoa sasarannya tidak meleset.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

34 Responses to Lexica

  1. @gurugumawaru gurugumawaru

    wahhh harusnya saya gak ceritain ya dia berhasil dodge apa kagak xD
    itu kan hanya ada di bayangan saya saja, tidak tertulis di cerpen, jadi anggaplah itu bukan lanjutan resmi cerpen ini. x)

    Iyak, betul sekali, sama dengan Lexica yang ada di kepala Aister. :3 Dia mengendalikan Aister lewat suara hati, karena Lexica sendiri terlalu lemah setelah semua Zoc dia terpakai… untuk membentuk Aister. Ironisnya, Aister jadi harus keluar, memancing Faucilon, dan mengorbankan dirinya sendiri untuk memulihkan originalnya (Lexica) kembali.

    Thanks for reading!

  2. Science-fantasy~!

    Ada dua plot device di sini yang saia rasa agak keseringan dipake. Satu, “suara di dalam kepala,” dan “emosi sebagai sumber energi.” .

    Kabar bagusnya, kedua plot device ini dipakai dengan lebih baik dari rata-rata karya fantasi lain yang menggunakannya. Twist “suara di dalam kepala” misalnya, bukan ada karena ada aja, tetapi karena si tokoh dibikin oleh pemilik suara itu. Masih generik, tapi lumayanlah.

    OTOH, emosi jadi cairan… oke, that’s new. Saia baru pertama kali lihat yang seperti ini. Entah kalau saia ternyata kuper. Moga2 ngga.

    Beberapa hal sempat membingungkan. Pertamanya saia kira Faucilon yang cewek, dan Ainster yang cowok. Baru setelah merasa ada yang off, saia tuker dan ngeh kalau saia salah.

    Ada juga penggunaan kata yang kurang tepat. “Map,” misalnya, bisa diganti “peta.”

    Zocblade juga ngutang banyak kepada gunblade-nya Final Fantasy VIII dan XIII (dan IxaCalibur, dan WizarGunSword… daftarnya panjang kalau kita bicara senjata gun x sword di dalam budaya pop Jepang XD). Kalau gak akrab dengan keduanya, orang mungkin akan bingung gimana pedang bisa nembak.

    Begitupun, gunsword itu kan biasanya dipake untuk nyabet juga. Disini kayaknya murni nembak ya. Kenapa repot2 gunsword kalau gitu, nggak pistol aja? :-?

  3. @Luz: thanks komentarnya! Hahaha, iya, aku miss soal zocblade itu, harusnya zocgun aja sekalian. Mbak DPK juga komentar soal itu di penilaiannya. Makasih ya udah berkunjung! ^^

  4. Ahaha, ternyata emang saia telad. X”D

    But why settle for Zocgun if you can have…

    BaZocKa
    ZocCannon
    ZocMissile
    ZocPlasmaLauncher

    Tapi yang paling saia inginkan adalah…

    ~SAILOOOORRR ZOOC! Dengan kekuatan Zoc, akan menghukummu!~

  5. Wkwkwkwk melihat usul2mu aku jadi kepikir ..
    bikin reptil raksasa robot buatan Assis yang napasnya alih-alih api (terlalu mainstream), jadi Zoc.

    Mari kita sebut dia GodZoclla xD

    (Oh well, maybe next time, kalau premis cerpen ini kupakai lagi di sesuatu yang lebih panjang xD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>