Lilin Milik Ibu

LILIN MILIK IBU

karya R.S.B.

Lima belas tahun sudah aku melihat sesuatu yang tidak sepantasnya dilihat oleh manusia. Selama itu jugalah aku mempelajari aksioma nomor satu yang tak terbantahkan di muka bumi ini. Bahwa tidak ada satupun hal yang pasti di kehidupan, selain kematian itu sendiri. Semuanya telah diisyaratkan oleh lilin kehidupan. Lilin gaib yang tertancap di seluruh kepala umat manusia.

Hanya aku yang bisa melihat lilin tersebut. Namun, sampai sekarang aku belum tahu secara pasti kenapa aku memiliki keahlian ini. Pernah seorang ahli nujum berkata jika diriku merupakan keturunan jauh seorang peramal kematian tersohor di Zaman Hindia-Belanda. Karenanya, secara ‘beruntung’ aku mewarisi matanya yang mampu menunjukkan lama hidup seorang manusia. Namun, mengetahui kapan seseorang mati bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Terlebih kalau kau tahu ibumu sebentar lagi akan mati.

Selain lilin kehidupan (kecuali lilin punyaku sendiri), malaikat kematian pun dapat kulihat. Ketika lilin kehidupan seseorang sudah sangat pendek, Izrail akan turun untuk mencabut nyawa si pemilik lilin. Dia akan mencabut nyawa dengan meniup lilinnya sampai padam, persis seperti yang terjadi dengan Ayah. Dan kini, malaikat kematian yang sama sudah bersiap-siap untuk mematikan lilin milik Ibu…

 

-**-

 

“Hayat, berapa panjang lilin Ibu, nak?”

“Masih panjang, Bu.”

Ibu mendengus lemah. Senyum kecil memancar dari wajah tua lusuhnya. “Anak bodoh,” ucapnya sambil terkikik lemah. Sepertinya sekarat tidak membuat Ibu berhenti untuk mencoba tertawa. “Ibu sudah merawatmu dua puluh tahun lebih, Hayat. Ibu tahu kalau kamu berbohong itu seperti apa. Sebentar lagi Ibu mati, kan?”

Tepat sekali. Tapi aku tidak mungkin memberitahukan hal yang sebenarnya. Lilin Ibu memang benar sudah pendek. Tapi aku tetap tidak rela untuk meyakini Ibu akan mati sebentar lagi. Aku tidak dapat membayangkan kehidupanku bila wanita yang kusayangi itu meninggalkanku. “Aku tidak bohong, Bu. Sudahlah. Ibu beristirahat saja agar sembuh,” timpalku. Lalu kugenggam tangan Ibu dengan erat, sambil berdoa di dalam hati sekuat tenaga Tuhan! Jangan cabut nyawa Ibu dulu!

“Hayat, maukah kau berjanji untuk melakukan sesuatu kepadaku?” Ibu bertanya sambil menutup matanya. Aku menyimak.

“Apa itu, Bu?”

“Ibu mempunyai dua mimpi yang ingin sekali diwujudkan sebelum Ibu meninggal. Maukah kau mewujudkannya?”

“Ibu! Jangan berbicara aneh-aneh! Ibu tidak akan meninggal!” sergahku, tidak sanggup kudengar Ibu berkata seperti itu.

Ibu tertawa pahit mendengarku ngotot. “Hayat, kau yang mampu melihat lilin-lilin itu seharusnya mengerti jika tidak ada sesuatu yang pasti terjadi dalam kehidupan ini selain kematian. Begitu juga dengan Ibu, nak. Suatu saat Ibu pasti meninggal.” Aku semakin gundah mendengarnya.

Kucoba membalas perkataan Ibu, “Betul, Bu. Tapi itu…” Ironisnya aku tak sanggup melanjutkan penyangkalanku sendiri. Tak ada satu pun hal yang salah dari perkataan Ibu sehingga dapat kubantah. Semua yang hidup memang akan mati, tak terkecuali Ibu.

“Bagaimana, Hayat? Apa kau mau?”

“Apa mimpi-mimpi Ibu? Hayat akan berusaha mewujudkannya!” janjiku.

Ibu mendadak membuka matanya. Lalu dia memindai rupaku dalam-dalam seakan sedang membaca pikiranku. Kemudian dia bertutur, “Pertama, Ibu ingin sekali pergi ke Paris bersamamu. Kedua, Ibu berharap dapat melihatmu menikah dan mempunyai keluarga. Setelah itu semua terkabul, mati kapan saja Ibu rela.” Menceritakan mimpi-mimpinya membuat Ibu nampak lebih ceria. Ketika Ibu ceria aku pun jadi ikut bahagia. Hanya saja, aku tidak yakin dapat melakukannya. Waktu Ibu habis sebentar lagi, sedangkan mimpi-mimpi Ibu butuh waktu panjang untuk direalisasi.

Pergi ke Paris membutuhkan uang yang sangat banyak. Sedangkan dengan pendapatanku dari pekerjaan sebagai penilai resiko kematian di kantor asuransi tidak akan mungkin cukup untuk dihabiskan membeli barang satu tiket pesawat saja. Malahan, karena Ibu sakit, tabungan yang kumiliki sudah habis. Uang dari mana agar kami bisa pergi ke Paris?

Mimpi kedua Ibu pun terbatas oleh waktu. Tidak mungkin dalam waktu dekat aku langsung punya istri begitu saja. Memangnya wanita bisa begitu saja diajak menikah? Lagipula aku tidak mungkin mampu untuk jatuh cinta jika aku masih diaduk-aduk dalam duka seperti ini.

“Bagaimana?” tanya Ibu. Aku menunduk, tak berani kulirik Ibu. Tak sanggup kukatakan iya, karena mimpi Ibu terlampau sulit untuk diwujudkan. “Jika kau tidak sanggup, tidak apa-apa. Apapun yang terjadi, ingatlah selalu. Ibu akan selalu menyayangimu, nak.” Suara tulus Ibu pun menggetarkan hatiku. Sebuah benih tekad perlahan tumbuh.

Selama ini Ibu mengorbankan banyak hal untukku. Sedangkan aku belum melakukan apapun yang berarti untuknya. Aku sudah tidak peduli lagi! Walaupun mustahil, akan kuciptakan semua mimpi Ibu menjadi nyata. Tanpa perlu berpikir panjang, dengan tegas kukatakan, “Aku sanggup, Bu! Aku akan mewujudkan semuanya. Ibu akan pergi ke Paris bersamaku. Ibu juga akan melihatku berkeluarga! Tapi kumohon pada Ibu… Bertahanlah!” kukatakan itu semua tanpa tahu pasti bagaimana caranya.

Ibu tersenyum, lalu lagi-lagi tertawa. Seperti biasa, dia menjadikan lelucon atas semua tragedi. “Hahaha… Kamu mudah sekali ditipu, Hayat. Ibu hanya bercanda. Tidak mungkin kau mampu mewujudkan kemustahilan macam itu.” Namun tawa itu sebentar, mendadak Ibu kini murung. “Jika ada mimpi ketiga yang ingin Ibu wujudkan olehmu, itu adalah agar kamu menemani Ibu hingga ajal menjemputku, nak,” lalu Ibu tersedu-sedu. “Karena engkaulah mimpi terbesar Ibu yang telah terwujud. Ibu sungguh berterima kasih bisa memiliki anak sepertimu.” Aku tertegun. Mendengar itu semua langsung kupeluk Ibu…

Yang kutahu, ketika Ibu mengucapkan mimpi-mimpinya. Dia tidak bercanda. Dua puluh tahun lebih bersama Ibu, membuatku tahu kapan Ibu serius dan bercanda. Jika ada hal yang bisa kulakukan sebagai mimpi terbesarnya, maka akan kulakukan apapun untuk mewujudkan mimpi-mimpi terakhirnya. Meski aku sampai harus memaksa malaikat kematian untuk tidak meniup lilin milik Ibu. Akan kulakukan!

 

-**-

 

Tengah malam itu aku tahu Izrail akan datang. Dalam wujud kakek tua kurus bertubuh bungkuk dengan berpakaian serba hitam, dia menghampiri Ibu seperti halnya dulu mendatangi Ayah. Seperti biasa dia mendekati kepala manusia yang akan ia tiupi lilinnya, tapi sebelum itu terjadi kuhadang dia. “Berhenti!”

Izrail terus berjalan. Dia tak menghiraukan peringatanku. Membalas perkataanku sedikit saja tidak. Tubuhku begitu saja ditembusnya. Sensasi dilewati malaikat kematian sungguh mengerikan. Inderaku beberapa detik langsung lumpuh seluruhnya, sampai-sampai aku tidak sadar jika Izrail kini sudah di pinggir kasur Ibu.

“Hentikan, kumohon! Jangan cabut nyawa Ibu dulu!” Lelaki itu tak peduli, dia langsung meniup lilin Ibu. “Jangan!” teriakku. Namun tak terjadi apa-apa.

Ternyata tiupan pertama malaikat kematian tidak berhasil mengakhiri kehidupan Ibu. Nyala lilin Ibu masih bertahan. Degup jantungku sempat saja berhenti barusan. Tapi, tak ada waktu untuk lega! Izrail masih akan melakukan tiupan kedua!

“Kumohon! Ibu masih memiliki mimpi-mimpi yang belum dapat terwujudkan, berikan kesempatan kepada beliau untuk hidup. Setidaknya sampai seluruh keinginannya terkabul!” pintaku. Kakek itu tidak bergeming dari posisinya. Kini Izrail melakukan tiupan kedua. “Tidak!”

Nafasku sempat berhenti. Lilin Ibu padam. Tapi tak lama kemudian kembali hidup dengan nyala yang jauh lebih redup. Rahangku serasa baru saja copot dan balik menempel lagi.

Melihat tiupan tadi membuatku panik. Langsung aku bersujud, air mataku mengalir deras. “Tuan! Kumohon! Jangan tiup lilin milik Ibu lagi!”

Suasana hening sebentar. “Jadi, kau mau ibumu hidup lebih lama?” suara itu membuatku menengadahkan kepala. Inilah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi Ibu!

“Ya!”

“Apa yang bisa kau berikan kepadaku?” tanyanya angkuh.

“Apapun! Bahkan sebagian nyaw-”

“Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan nyawamu.”

“Kalau begitu apa yang kau inginkan?” tanyaku. “Aku siap melakukan apapun!”

“Hmmm… Aku ingin sebuah pertunjukkan. Kau punya dua kesempatan untuk membuatku terpukau.” Aku tidak sempat mengerti maksudnya. Setelah itu langsung saja semuanya mendadak larut dalam warna hitam pekat.

 

-**-

 

Suara sayup-sayup berupa isakan terdengar. Panorama yang baru saja tenggelam dalam kegelapan perlahan-lahan terdistorsi dan memunculkan Izrail bersama seorang perempuan seumuranku, meringkuk di sudut kamar yang sangat berantakan. Di dalam kamar itu kulihat pemandangan yang suram. Pecahan bingkai foto, pecahan cermin, baju-baju yang koyak, serta yang paling membuatku sedikit geger adalah melihat perempuan itu memegang pecahan beling, siap menggores nadi tangan kirinya. Satu kesimpulan langsung membuyarkan perhatianku. Dia akan bunuh diri. “Hentikan!” kucoba untuk menghentikan rencana gilanya, namun wanita itu tak dapat melihat ataupun mendengarkanku.

Izrail yang saat ini berdiri di sebelahnya berseru, “Jika kau ingin ibumu hidup lebih lama, maka kau harus menggantikanku untuk mencabut nyawa satu manusia yang aku pilih.”

Mendengarnya aku tertegun. “Kau memintaku untuk mencabut nyawanya?”

“Namanya Lara. Dia mati karena keinginannya sendiri. Tugasmu saat ini, ketika dia menorehkan beling itu ke nadinya, tiuplah lilin kehidupannya.”

“Tapi mencabut nyawa dengan meniup lilinnya, bukankah berarti aku membunuh? Aku akan mendapatkan dosa karenanya!”

“Dosa? Tenang saja, kau tidak akan menanggung dosa. Dosa hanya bagi manusia, bukan untuk malaikat kematian. Saat ini kau menggantikanku sebagai malaikat kematian, jadi tidak akan ada satupun dosa yang dicatat oleh si Atid,” ujarnya. “Bagaimana? Kau masih mau mengambil kesempatan untuk memperpanjang umur ibumu atau tidak? Jika tidak, aku akan berhenti berlibur sekarang dan kembali ke kamar tempat ibumu terbaring untuk menjemputnya menghadap Bos!” tegurnya dengan nada suara menantang.

Aku tidak berpikir panjang, “Demi Ibu, tentu saja!” seruku. “Lagipula manusia yang mengakhiri nyawanya begitu saja tidak pantas hidup.” Kejam memang kalimatku, tapi benar. Jika tidak menghargai hidupnya sendiri, lebih baik hidupnya diberikan saja kepada Ibu agar hidup lebih lama. Lalu aku berjalan mendekati Lara. Namun ada yang unik, kulihat perut Lara menggembung. “Dia hamil?”

“Ya. Itulah alasannya dia memutuskan untuk mati. Dia dicampakkan oleh lelaki yang menghamilinya. Setelah itu, seluruh keluarga dan teman-temannya menghujat serta menjauhinya seakan-akan ia adalah virus yang merusak tatanan masyarakat. Depresi karena tak ada orang yang membantunya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”

Mendengar cerita Izrail, membuatku berpikir dua kali. Wanita itu memiliki anak yang tidak bersalah. Lagipula aku baru tahu alasan wanita itu bunuh diri. Keraguan pun menyelinap, menggerogoti keteguhanku perlahan-lahan.

“Baiklah beberapa detik lagi dia akan bunuh diri. Tiuplah lilinnya saat beling itu memutuskan pembuluh darahnya,” tuntun Izrail.

“Tunggu sebentar, ini sal-” Izrail tidak memberikanku kesempatan berbicara

“Lima,” hitungnya, aku panik. “Empat.” Wanita itu mulai menaruh beling tersebut di pembuluh darahnya yang terlihat seperti akar hijau menyembul dari balik kulitnya. “Tiga.” Aku melirik lilin kehidupannya yang menyala dan masih panjang, serta perutnya. “Dua.” Kubayangkan lilin Ibu. “Satu.” Aku harus meniupnya!

Alih-alih kutiup lilin itu. Kuhempas tangan wanita yang memegang beling itu. Pecahan kaca terlempar dan wanita itu menjerit kaget mengetahui belingnya melayang terbang begitu saja. Pintu kamarnya tiba-tiba terdobrak keras. Setelah itu, dari balik pintu yang terdobrak, sesuatu menarikku. Seperti lubang hitam, pintu itu menyedotku dan menjatuhkanku ke sebuah aula rumah raksasa yang sangat mewah. Aku terdampar di tempat baru.

“Kesempatanmu tinggal sekali lagi, sekarang. Kenapa kau tidak membunuhnya? Padahal cukup dengan mencabut nyawa manusia tak berharga itu, ibumu bisa hidup lebih lama.”

“Aku tidak bisa melakukannya karena aku pernah seperti dia,” jawabku. “Aku pernah merasa sendirian hingga yakin bila hidupku tidak artinya lagi. Terlebih ketika semua orang menjauhiku karena ketakutan dengan kemampuanku melihat lilin kehidupan. Aku sampai dipanggil anak setan karena mengetahui kapan orang-orang mati. Mengalami itu semua membuatku ingin mengakhiri hidup saja.” Aku lalu mengingat Ibu ketika bercerita, “Namun, ada satu orang yang terus melindungiku. Dan orang itu adalah Ibu. Dialah yang membuatku selama ini bertahan hidup.” Suaraku sedikit bergetar ketika mengingat jasa Ibu. “Begitu juga dengan perempuan itu. Dia harus sadar bahwa dia tidak sendirian agar ia tahu bahwa kehidupan yang dimilikinya sangat berharga untuk diperjuangkan. Dia punya alasan untuk hidup seperti alasanku untuk hidup karena ada Ibu!”

“Tapi dia sendirian. Dia tidak punya alasan untuk hidup!”

“Tidak Tuan Izrail, dia tidak sendirian. Dia punya alasan untuk hidup. Anaknya!” seruku. “Suatu hari nanti anaknya akan selalu membela dan melindunginya. Wanita itu akan sadar bahwa anak yang dikandungnya adalah mimpi terbesar yang dimilikinya. Kelak, dia akan memperjuangkan hidupnya agar terus bisa bersama dengan anaknya, sumber semangat kehidupannya! Oleh karena itu, aku tak tega untuk mencabut nyawanya. Jika dia mati sekarang, dia tidak akan melihat indahnya masa depan yang ia miliki.”

“Kau bisa berkata seperti itu, tapi kesempatan untuk menyelamatkan ibumu tinggal sekali lagi.”

“Aku yakin Ibu senang aku memilih jalan ini,” ucapku. Maafkan aku, Bu. Kesempatan terakhir tidak akan kulepaskan!

“Terserah!” ujar Izrail tak peduli. “Sekarang, kau harus mencabut nyawa wanita tua di dalam sana.” Lalu aku menengok ke arah yang ditunjuk oleh Izrail. Terdapat sebuah kamar dengan pintu besar menanti. Aku membuka kamar itu dan mendapatkan sebuah kasur besar dengan selimut sutra membalut tubuh seorang nenek tua pucat yang tengah dikelilingi oleh keluarganya.

“Dia?” tanyaku.

“Memangnya siapa lagi? Wanita itu bernama Asmanah, dia sudah terlalu tua, umurnya sebentar lagi, jadi tidak aneh kan jika nyawanya dicabut sekarang? Hanya saja kau harus mencabut nyawa wanita ini sepuluh menit lebih cepat daripada yang seharusnya.”

“Jadi, tugasku mencabut nyawanya sepuluh menit lebih cepat? Itu saja?”

“Ya. Mudah kan? Tak kau tiup lilinnya, dia juga akan mati sebentar lagi,” kata Izrail.

“Sangat mudah,” seruku yakin. Apa salahnya mencabut nyawa seseorang yang akan mati sebentar lagi.

“Waktumu tinggal dua menit lagi, bersiap-siaplah di samping wanita itu!” seru malaikat kematian. Aku pun menurut dengan senang hati. Akhirnya doaku terkabul. Mimpi-mimpi Ibu dapat terwujud. Kuharap wanita ini rela dengan sepuluh menit nyawanya yang tersisa aku ambil.

Aku sudah berdiri di dekat kasur tempat nenek tersebut terkulai. Kini aku mampu melihat lilinnya yang sangat pendek. Aku juga dapat mendengar percakapan antara Asmanah dan anak-anaknya.

“Ibu, jangan tinggalkan kami,” seru anak perempuannya. Wanita itu hanya bisa tersenyum sedih mendengarnya.

“Tidak usah khawatir anakku, Ibu tidak akan pergi ke mana-mana. Ibu baik-baik saja.” Anaknya lalu mencium kening ibunya, air mata berlinang di pipinya, ia tahu ibunya berbohong hanya untuk membuat yang lain merasa tenang. “Ibu akan selalu berada di dekat kalian. Kapan saja.” Mendengarnya, aku menjadi teringat dengan ibuku. “Kematian bukanlah perpisahan anak-anakku. Perpisahan terjadi hanya ketika kalian melupakanku. Tapi aku yakin, kalian akan selalu mengingat Ibu. Dengan begitu Ibu bisa hidup dalam ingatan kalian untuk selamanya.”

“Waktumu sepuluh detik lagi.” Izrail mengalihkan perhatianku dari percakapan terakhir wanita itu. Aku bersiap-siap meniup lilin wanita itu. “Lima.” Kulihat wajah anak-anak mereka yang tengah harap-harap cemas. “Empat.” Kulihat wajah wanita tua itu. “Tiga.” Aku bersiap meniup. “Dua.” Kuingat Ibu. “Satu…”

Aku terdiam dan tidak melakukan apapun…

Izrail mendengus. “Habis sudah!” ucapnya datar.

Suara pintu kamar terbuka, memunculkan seorang pelayan. “Nyonya, ini kertas dan penanya.

“Terima kasih. Ada banyak sekali pesan yang akan kuberikan kepada kalian anak-anakku. Dan juga ada banyak orang-orang baik yang selama ini membantuku untuk kuberikan hadiah perpisahan,” lirih wanita itu. Dan itu kalimat terakhir yang kudengar. Setelahnya, aku kembali ke kamar rumah sakit, tempat Ibu tertidur.

 

-**-

 

“Kau tahu konsekuensinya kan?” tanya malaikat kematian. Dia sudah siap untuk menjemput Ibu.

“Berikan aku kesempatan untuk mengucapkan kata perpisahan, sebentar saja,” pintaku.

“Waktumu satu menit.”

Aku mendekati Ibu. Tak sengaja air mataku membasahi pipi Ibu. “Aku tidak bisa. Maafkan aku, Bu. Aku bukan anak yang baik. Aku tidak mampu mewujudkan mimpimu,” tangisku sambil mengelus wajah Ibu yang mulai dingin. “Aku tak mampu meniup lilin itu. Melihat wanita tua itu, membuatku sadar jika keadaan kita dan mereka tidaklah berbeda jauh. Bahkan sepuluh menit saja untuk bersama orang yang kau cintai, bukanlah sesuatu yang sepele. Setiap detik kehidupan yang kita miliki bersama orang yang kita cintai adalah momen yang sangat berharga. Aku tidak bisa mengambil kesempatan mereka untuk bersama ibunya lebih lama walau hanya sepuluh menit, karena aku juga pasti ingin mempunyai kesempatan seperti itu denganmu, Bu.”

“Waktumu habis.” Izrail pun tanpa menunda lagi, langsung meniup lilin milik Ibu.

“Ibu, maafkan aku. Terima kasih atas semuanya.” Kukecup kening Ibu.

Lalu nyala lilin Ibu padam dengan tiupan Izrail yang lembut. Akhirnya beliau wafat dalam tidur. Aku menemaninya hingga akhir, setidaknya mimpi ketiga Ibu terkabul…

Kepergian Ibu diiringi oleh dengung elektrokardiogram monoton yang nyaring. Lalu dokter berlarian datang bersama para suster. Setelah kedatangan mereka, Izrail hilang. Semua orang bergerak cepat, mencoba menghidupkan lagi Ibu. Tapi aku tahu, itu percuma. “Tuan Hayat, maafkan kami. Ibu anda telah meninggal,” kata Dokter.

Aku tak bisa berkomentar, aku hanya bisa mematung sambil menatap kosong wajah Ibu yang kini telah ditutup kain putih oleh suster. Tapi, “Loh!” tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu yang janggal. Di atas kepala suster tidak ada lilin kehidupan! Begitu juga di kepala dokter! Apa yang terjadi?

“Aaaaah!” suster melengking kaget, perhatianku teralihkan. Lalu kudapatkan sesuatu yang tidak masuk akal. Wanita tua yang kusayangi itu terbangun dan masih hidup.

 

-**-

 

“Sepuluh ribu tahun rasanya Ibu berjalan di padang pasir itu, anakku. Hanya ada kehampaan yang Ibu rasakan. Lalu tiba-tiba pada suatu senja seorang kakek datang menghampiri Ibu. Ibu diundang berpesta bersama teman-temannya. Di sana Ibu sangat terharu ketika melihat ayahmu, sahabat lama, dan juga keluargaku hadir. Mengetahui itu, Ibu sadar kalau Ibu sudah meninggal. Tetapi alih-alih Ibu diajak pergi bersama mereka menemui Tuhan setelah pesta usai, Ibu diberikan kakek itu sebuah lilin untuk ditancapkan di atas kepala Ibu. Dan Ibu kembali tersadar di rumah sakit.”

Aku tertegun mendengar cerita Ibu. Mati suri merupakan sesuatu yang langka. Aku tak menyangka jika Ibu ditakdirkan untuk mengalaminya.

“Oh iya, kakek tua itu menitip pesan kepada Ibu untukmu.”

“Apa itu, Bu?”

“Pertunjukan yang bagus katanya.”

“Hanya itu?”

“Ada satu lagi. Dia berkata jika tidak ada satupun yang tahu kapan seseorang mati kecuali Tuhan, bahkan jika kau mampu melihat lilin kehidupan.”

“Tapi sekarang aku tidak bisa melihat lilin itu lagi. Kemampuanku sepertinya sudah diambil dia. Mungkin sebagai harga agar Ibu hidup lebih lama.”

“Apa kau tidak senang karena kau tidak bisa melihat lilin kehidupan lagi?”

“Hahaha… Tidak senang? Ibu bercanda! Ini adalah sesuatu yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku tidak bisa lebih gembira lagi!”

Ibu ikut tertawa. Sudah lama tidak melihatnya sesenang ini. Lalu tiba-tiba di atas kepala kami, kristal putih muncul berjatuhan dari langit. “Salju di Paris lebih indah jika dilihat secara langsung, ya,” kata Ibu, aku mengangguk setuju.

Di atas menara Eiffel kami melihat pemandangan kota Paris yang dibalut salju dengan khidmat. Hari ini Ibu telah mendapatkan salah satu mimpinya. Takdir memang lucu. Sebulan setelah bangkitnya Ibu, seorang pengacara datang ke rumah kami untuk menyampaikan sebuah wasiat dari sahabat Ibu yang baru saja meninggal. Di satu menit terakhirnya, teman Ibu sempat menulis nama Ibu sebagai ahli waris berupa sejumlah uang yang sangat banyak sehingga kami mampu membeli dua tiket ke Paris. Tapi yang paling mengejutkanku, nama teman Ibu Itu adalah Asmanah. Wanita yang hampir kucabut nyawanya sepuluh menit lebih cepat.

“Oh iya, Hayat. Bagaimana keadaan teman perempuanmu itu?”

“Maksud Ibu, Lara?”

“Iya. Bagaimana dia dan anak yang dikandungnya?”

“Dia sehat-sehat saja, begitu juga dengan anak yang dikandungnya. Sekarang dia berusaha untuk menjadi penulis fiksi dan hidup mandiri dengan bekerja sambilan di perusahaan penerbitan.”

“Oh, hanya itu? Apa tidak ada rencana untuk mewujudkan mimpi Ibu yang kedua?” goda Ibu. Aku hanya bisa terkekeh menanggapinya.

“Kita lihat saja.” Kataku menutup hari indah itu.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

69 Responses to Lilin Milik Ibu

  1. Rawr, here I go.

    Hmm.

    Tidak ada komentar untuk segi teknisnya, tentu saja, rawr.

    Hmm, tapi untuk ceritanya sendiri …

    Gimana yah …

    *panda gugulingan*

    *lalu inget ada bambu ketinggalan di sini jadi ngambil dulu*

    Jadi begini–kremus2–ceritanya terasa agak … idealis. Tadinya saya sempat berharap ada twist lalu kecewa karena kayaknya nggak ada lalu jadi krik2 karena twistnya ada tapi nggak greget.

    Hmm–kremus2–jadi rasanya dari awal sampai akhir ceritanya hanya jadi sekitar “begitu saja”.

    Hehe.

    • R.S.B. says:

      Sip! Kremus-kremus juga deh. Thx btw ^_^ Ya rasanya, sepertinya terlalu idealis. Dan yah saya orang yang idealis, dan sepertinya sudah banyak yang ngasih tau itu ke saya baik secara lembut/terang-terangan di dunia nyata #Mesti-berkaca-lagi =_=)”’.. *Oh iya Ngasih bambu yang ketinggalan dulu.

      Btw thx, sudah memberikan komentar. Berarti makin banyak ilmu yang saya dapat. Dan masih banyak yang harus saya pelajarin untuk bikin sesuatu yang lebih nggg… nggg… sepertinya kata yang lebih tepat untuk dicari adalah membuat cerita yang lebih dewasa… Aku juga sempat merasa begitu di cerita ini… Sepertinya saya telah menampilkan sesuatu yang agak, ngg…. ngg…. idealis. Atau ini sepertinya disebabkan karena ego penulis sendiri… Sepertinya harus belajar dunia abu-abu lebih dalam lagi…#plak. Okey!

      Terima kasih…. Mantoel Toeink…. Ini sangat berguna dan mengingatkan saya untuk menulis sesuatu yang jangan sampai terlalu idealis…#Kasih bonus bambu… ^_^) Appreciate your comment…

      • Dini says:

        Oh tidaaaakkk… Ini alamat tahniah tabik dan dadah bubbye untuk Shaman Queen saya ya sepertinya? RSB, need appreciate back~~! Panda jagoan lho main game fighting. Serasa di Negeri Tirai Besi gua mah.

        *untunnnggg stok asparagus, wortel, bayam dan daun ubi banyak* Sniff Sniff… Kok wangi melati? Alah siah. Ada penampakan Makki si pemilik profpic Naruto. Peeves, balas jahili dia! Maaf untuk super duper lebay alay dan semoga tidak jablay.

  2. Jovyanca says:

    Ini mantap! Very gOOd! I like a lot. *tHumbs up* b^^d

    Halo, R.S.B.! ^^ Salam kenal.

    Ceritamoe baguuzzz. Sangat menginspirasi. Dekat banget dengan kehidupan sehari-hari, so feelingnya kena sekale deh. Keren. :D

    Sedehnya pas baca bagian lilin Ibu ditiup. T.T huhu.. Ya, kematian memang menyedihkan sangat. *sniff*

    Tapi gambarnya serem uey~ wew.. Kaget pas scroll2 lewatin judul. Bacanya pas tengah malem lage. Hadeh.. Untung bukan cerita horor. Wkwkwk.. Tapi gambarnya sukses membawa nuansa gelap ke dalam ceritanya. :)

    Overall, ini cerita T.O.P. B.G.T.!

    Sukses ya. ^^

    Bila ada kesempatan, mampir2 ke 129 juga ya. tQ~ :D

  3. Connie says:

    so touching dehhh…ternyata happy ending yaaa… lara akhirnya jadi kekasih hayat?? moralnya itu kek berpesan apapun yg kita lakukan akan kita tuai hasilnya ya??? hmmm…:) niceee

  4. Fauzi Atma says:

    Cerita ini berkebalikan dengan cerita Tarian Putri Aurinko no. 85. Cerita ini gelap, tetapi indah. Saya suka cara terwujudnya keinginan sang ibu yang tidak ujug-ujug, tetapi merupakan hasil dari perbuatan Hayat yang tidak terduga.

  5. fr3d says:

    *balas berkunjung*

    hei… i like this story! :D
    ceritanya ngalir dengan sangat enak dan endingnya juga bagus (baca: memuaskan)

    cuma satu hal yang selalu kepikiran sepanjang baca…
    cerita ini mirip banget (BANGET! –> sengaja diulang, biar heboh xD) sama 1 episode di serial Supernatural (season 5 atau 6 gitu, lupa)
    kecuali soal lilin-lilin-nya itu sih

    nah, yg tentang lilin ini justru mengingatkan sama buku “Numbers”
    tapi alih-alih lilin, yang keliatan di buku itu adalah tanggal kematian orang yang tertera di jidatnya

    btw, lilinnya kalau lumer bukannya jadi panas banget, bisa bikin rambut rontok, dan akan sangat-sangat menghalangi penglihatan yah kalau ngalir ke muka segala…?

    *membayangkan*

    *plak

    xD

    but I still really like this! :D

  6. Maicih says:

    ah, Romy, Romy, ga salah kalau kamu menjadi salah satu dari lima penulis generasi 2010 Aksara :))

    Yak, sesuai janji, saya datang kemari dan komen, walau sebenarny komen dari teman-teman di atas sudah bisa mewakili, jadi daripada kamu banjir pujian, mending saya banjiri dengan caci maki (shit, man, emang gua siapa gitu? becanda, ding, saya hanya akan berkomentar dari sisi subjektif, saya):

    1. dari segi judul, entah kenapa kamu terasa sangat bermain aman. ayolah, Rom, saya tahu kamu punya pilihan judul lain, alih-alih Lilin Milik Ibu. menurut saya, terlalu nge-pop. jangan takut membuat judul liar atau bahkan absurd. atau balik ke poin awal, ini subjektifitas saya;

    2. ini, y, kenapa kamu tanya perbedaan show dan tell? well, jika mau jujur, di cerpen ini kamu terlalu tell, ah, ya ya, jangan-jangan kamu memang pengen tell story, eh? tapi tetap saja, menurut saya tell dominan 70%. c’mon, masa iya, ketika si ‘aku’ sedang tertawa, bahagia, keberatan, kecewa bahkah berada di ambang batas keputusan, penceritaan kamu datar amat. coba gambarkan, orang kecewa seperti apa? entah hidungny kempas-kempis kayak nahan kentut, atau wajahnya muram kayak habis dapat IP 2,8 atau bagaimana? padahal jujur saja, cerita kamu berpotensi menjadi salah satu 10 terbaik, kalau menurut saya. saran saya: banyak memperhatikan sekitar kamu, mimik, ekspresi bahkan kalau perlu sampai tingkah laku. kamu berpotensi menjadi seorang penulis yang dikategorikan ‘baik’, loh;

    3. latar. well, entah kenapa, saya sangat surprise gitu tahu kalau latarnya ini tuh di RS (atau jangan-jangan karena nama kamu disingkat RSB?). walau kayaknya sepele, deskripsi latar (entah tempat atau waktu) sangt penting bagi pembaca. hampir saja saya membayangkan tempat cerita ini di puskesmas, loh. atau, menurut kamu penceritaan latar di cerita kamu ini sudah sangat sesuai porsinyakah? ah, entahlah. saran saya: tolong deskripsikan latar. ah ya, 1 lagi, tolong latarnya yang kelam, ya, dark;

    4. btw, kamu tahu ga, kalau gaya kamu bercerita ini bisa digolongkan ke dalam teknik ‘shadowing’? well, kamu bisa dibilang cukup cerdas untuk mengkaitkan 1 scene ke scene lain, hingga tercipta ending yang manis (jujur, sayangnya aku sudah menebak endingmu. dan sayangnya lagi, kamu seharusnya bisa menggali sisi kelam cerita ini hingga endingnya juga kelam (hell ya, saya suka yang kelam *abaikan*). tekniknya udah bagus, mengingatkan saya dengan cerita Christmas Carol. hanya saja, masih terlalu gampang ditebak. really. saran saya: banyak bereksperimen dn membaca :) kamu keren dlam cerita ini;

    5. cerita ini jenis cerit anak-anak absurd alih-alih fantasy (dan hei, absurd itu ya fantasy. jadi lupakan komen pada poin ini);

    6. cerita ini berpotensi masuk surat kabar nasional, kalau saja kamu bisa membuat latar, suasana, alur cerita menjadi lebih kelam. percayalh, cerita kamu ini cocok dibaca oleh remaja 17 tahun kebawah. saran saya: coba sesekali sudut yang dewasa;

    7. si kakek pencabut nyawa masih sangat baik sekali dan aura shinigaminya kurang. padahal saya berharap si kakek itu sangat jahat dan bisa berperan sangat kocak karena kesangatjahatannya itu (well, memain-mainkan jatah kehidupan manusia itu sangt kocak bagi saya). si ibu? okelah, not bad, i like hers. si saya? masih kurang, masih datar.

    8. poin: 85/100 :) ih, saya bahkan ga bisa buat yang sama baiknya dengan ini, jadi bisa jadi komen pedas saya di atas karen keirian saya sama kamu haha. 1 hal lagi: jangan mabuk pujian, kalau mau jadi penulis nasional.

    kalau kamu ga masuk dalam kompilasi lomba ini, segera hapus dan kirim ke surat kabar.

    nb: plis jangn ke kompas dulu.

  7. Bobby Huang says:

    Hallo. Saya berkunjung dengan membawa beberapa komentar. Hehe

    Ceritanya syik dan bergulir nyaman untuk dibaca sampai akhir. Hanya saja, bagian Ibunya mau ke Paris itu menurut saya sedikit berlebihan. Keren banget Ibu-Ibu dengan typical karakterisasi seperti di cerpen ini berpikiran ampe mau ke Paris (Nggak salah sih, hanya kurang nyaman aja baca pas bagian ini). Mungkin hal ini mau dikaitkan dengan cerita si nenek. Jadi mungkin dari awal, kamu udah masangin, ini plot untuk plot bersangkutan lainnya :D

    Kedua, pekerjaan si tokoh utamanya harusnya bergaji besar. Tentunya profesinya unik dan sangat dibutuhkan perusahaan asuransi. Dengan peran penting seperti itu, .
    saya rasa gaji seperti itu tidak relevan.

    Tapi, selain yang 2 itu. Overall, alur dan idenya amat menarik :D Salah satu cerpen yang wajib dibaca di fantasi fiesta kali ini :D

    Ditunggu kunjungan baliknya di http://kastilfantasi.com/2012/07/leang-lampit/ :D

  8. Darin Kowalski says:

    Hei! (Setelah sekian lama saya baru mampir ke sini. Maaf, ya. Hehe.)

    Begitu lihat ilustrasi surealis sebelum ceritanya dimulai, saya kira ini bakal nyastra atau high-fantasy atau yang sejenis. Ternyata lumayan simpel dan bisa diikuti dengan mudah.

    Masalah tema, cukup banyak entri FF tahun ini yang mengangkat tema tentang kematian dan mimpi. Tapi, cara masing-masing peserta membawakan tema itu dalam ceritanya juga bermacam-macam. Saya suka ini karena tata bahasanya nggak terkesan terlalu tinggi dan narasinya (buat saya) cukup lugas.

    Kritik, er… cuma masalah EYD, ada beberapa kesalahan pengetikan, tapi sepertinya sudah terwakili komentator sebelumnya.

    Great story!

    *banner sponsor: Silakan mampir! –> #73 – Click Here*

  9. gurugumawaru gurugumawaru says:

    dari awal saya agak-agak bingung mo baca ato ga. Karena, satu. saya orangnya cengeng. dari kecil, sampe sekarang, saya orang yang gampang nangis. Dua, saya tipe family person. Saya berhenti baca buku Mitch Albom yang For One More Day karena topiknya soalnya keluarga. Belum bagian yang (katanya) palng sedih aja saya udah basah pipinya.

    anyhowwwwww (kenapa jadi curcol). Ini seriusan, beneran, salah satu cerpen yang saya jagoin menang. Saya bener-bener suka. Sampe bikin mata yang udah kriyep-kriyep jadi melek lagi. Terutama twist endingnya. gyaboooooooooooooooooooooooo XDDD

    4,5 out of 5.

    ini siapa sih motong-motong bawang deket saya??

  10. 147 says:

    berkunjung balik :3
    kesan pertama, gambarnya menyeramkan kak
    kesan kedua, lucu jg pas ibunya minta ke paris, langsung kpikiran ibunya matre #pletak xD
    tp ternyata endingnya bagus bgt kak, pesan moralnya pas bgt :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>