Merzen

MERZEN

karya R. Mailindra

 

Ketika bangun pada pukul tujuh pagi, hal pertama yang Tommy lakukan adalah memeriksa bokongnya. Mimpi gila semalam terasa begitu nyata. Ia seolah masih mendengarkan perintah makhluk-makhluk itu serta merasakan sebuah … ekor.

Ekor?

Tommy segera terduduk di tempat tidurnya dengan mata membuka penuh dan refleks melihat ke belakang saat tangannya merasakan kejanggalan. Tangannya kanannya seperti sedang memegang seutas tambang sepanjang sekitar tiga puluh sentimeter di balik celana dalamnya. Di mimpinya semalam, ia mempunyai ekor yang panjang—sampai kira-kira sepanjang kaki—tapi sekarang, setelah bangun, mengapa ia masih mempunyainya namun hanya dua jengkal?

“Memang masih pendek, dan akan tumbuh maksimal dalam tiga ratus ribu tiga ratus enam puluh deringo.”

Tepat sekali, pikir Tommy.

Tommy terlonjak. Ia mengenalinya. Itu suara makhluk yang selalu mengikutinya semalam, tapi mengapa ia masih bisa mendengarkannya? Tommy memutar badannya lalu melirik ke samping kiri dan kembali terlonjak. Astaga! Makhluk itu berdiri di sana—tepat di ujung tempat tidurnya.

***

“Sebaiknya Tuanku segera mandi dan sarapan. Ini akan jadi hari yang berat.”

Tommy menelan ludah. Susah sekali karena tenggorokannya kering dan ia merasa badannya begitu lengket seolah baru selesai maraton beberapa puluh kilometer. Setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya, pemuda bertubuh atletis itu menatap takjub makhluk yang sama sekali tidak cocok dijadikan aksesoris kamarnya karena warnanya terlalu cerah—keemasan. Makhluk itu balas menatap dan mengangguk memberi menghormat. Tommy merasa wajah aksesoris hidup itu mirip sekali dengan dirinya namun makhluk aneh itu tak tampak seperti manusia. Ia mirip gorila berbulu emas yang memakai semacam baju karet. Si gorila mengingatkan Tommy akan film Star Wars. Apakah ia salah satu penghuni planet Klingon?

“Getho?”

“Hamba, Tuanku.”

Tommy menggelengkan kepala dan menyumpahi ingatannya. Ini bahkan lebih aneh lagi, mengapa ia bisa tahu nama makhluk itu? Apakah ia masih bermimpi?

“Tuanku sudah terbangun dan kembali ke dunia selama delapan ribu deringo yang jika dikonversikan ke dalam satuan waktu Bumi adalah dua menit empat puluh detik.”

“Kau ini robot?” Tanya Tommy dengan suara serak.

“Robot paling canggih di Bumi ini masih berusaha untuk bisa berjalan, menari, menendang bola dan mencari jalan, Tuanku. Mereka bahkan lebih bodoh dari bayi simpanse. Sedangkan saya …”

Tommy mengangkat tangannya.

“Getho, namamu Getho kan? Kepalaku pusing. Coba katakan, kalau benar aku sudah terbangun, mengapa aku masih bisa mengingat semuanya dan yang lebih parah lagi, kenapa kau masih mengikutiku?”

“Tuanku sudah tahu segalanya.”

“Aku mau dengar dari mulutmu karena aku sedang tidak bisa mempercayai pikiran dan penglihatanku.”

“Tuanku harus percaya ….”

“Katakan saja!”

“Sebaiknya Tuanku membersihkan diri dan sarapan dahulu. Saya akan ceritakan kembali di dapur nanti.”
Ini Sabtu yang cerah. Dari dapurnya Tommy bisa melihat langit musim semi berwarna biru bersih tanpa awan sedikit pun dan ruangan itu sudah dikuasai aroma sedap kopi Jawa serta roti bakar yang menggoda bujang berusia dua puluh delapan tahun itu untuk melahap sarapan di atas meja sampai tuntas.

Tommy mengoleskan mentega di rotinya dan memasang raut wajah orang yang tersesat di hutan Amazon. Ia menatap minta pertolongan kepada Getho yang duduk di seberangnya. Cahaya mentari yang masuk dari jendela di belakang Getho membuat bulu-bulu makhluk itu berpendar-pendar.

“Kita ada di Bumi, tepatnya Hannover, Jerman, tanggal 12 Mei tahun 2012. Sekarang musim semi dan semua hukum alam, mulai dari gravitasi hingga sebab-akibat masih tetap berlaku. Hanya saja Tuanku sekarang membawa serta kekuatan Alam Merzen.”

Tommy menggigit rotinya. Setiap selesai dua gigitan, ia menyesap kopinya. Plain, tanpa gula. Rasanya pahit dengan bayangan manis di ujungnya.

“Getho,” kata Tommy sambil mengoles roti keduanya, ”Kau lebih pintar dari ….”

“Ralat, Tuanku. Jauh lebih pintar,” potong Getho.

Oke, jauh lebih pintar dari komputer tercanggih dan bahkan bisa membaca pikiranku,” Tommy mendengus. “Aku yakin kau membawa serta kekuatan dari alam, apa namanya?”

“Merzen.”

“Ya, Merzen. Jadi kenapa tidak kau saja yang melakukan tugas itu dan berhenti mengikutiku?”

“Hamba hanya bayangan Tuanku.”

Tommy berhenti mengoles. “Maksudmu cuma aku yang bisa melihatmu?”

Getho mengangguk. Dahi Tommy berkerut.

“Jadi, kalau saat ini orang lain melihatku, aku akan tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang sedang berdiskusi dengan roti panggangnya?”

Getho mengangguk penuh simpati.

“Ampun, tobat!” Tommy menepuk jidatnya.

“Tuanku, hamba hanya bayangan Tuanku. Hamba adalah Tuanku, dan Hamba hanya dapat Tuanku lihat dan dengarkan selama nexus Tuanku ada.”

“Nexus?”

“Di sini disebut ekor atau buntut. Tapi itu tidak tepat benar karena ekor tidak memberi kekuatan sedangkan nexus menyimpan kekuatan Tuanku sejak sebelum empat ribu empat ratus empat puluh empat reinkarnasi.”

“Hei, aku tak perduli itu. Aku cuma bingung, jika ekor, atau u-us…”

“Nexus, Tuanku.”

“Ya, whatever lah, ini tumbuh sampai kakiku dalam dua jam mendatang….”

“Dua jam, lima menit, tiga puluh sembilan detik.”

“Hei, jangan memotong kalau aku bicara ….”

“Tepatnya mengoreksi, Tuanku.”

“Ampun! Kau ini cerewet betul. Maksudku, kalau ekor ini tumbuh sampai kaki hari ini, bagaimana aku menyembunyikannya waktu kerja hari Senin nanti?”

Getho memberi Tommy pandangan seorang dokter kepada pasien yang sedang sekarat. Ia takjub, mengapa Tommy tidak juga sadar hal besar yang sedang menanti malah memikirkan hal remeh yang belum pasti. Sinar mata Getho meredup ketika ia kembali bersuara.

“Tak akan ada hari Senin kalau Tuanku tidak menyelesaikannya saat mentari terbenam.”

***

Hannover Hauptbahnhof—stasiun kereta api pusat Hanover—selalu sibuk di hari apa pun. Saat waktu menunjukkan pukul 8.45, Tommy sudah berada di stasiun itu, menunggu kereta di jalur tiga yang akan membawanya ke daerah Langenhagen. Getho berdiri di samping kanannya, masih dengan bulu berwarna mencolok dan pakaian elastis berwarna coklat muda. Meski demikian, tak ada yang melihat penampakannya kecuali Tommy.

Tommy melirik ke kanan dan masih tidak percaya melakukan kebodohan ini—mempercayai makhluk yang mengikutinya. Bagaimana kalau ia sedang dibohongi atau lebih parah lagi sedang berhalusinasi?

“Getho!” bisik Tommy sambil berpura-pura berbisik kepada kabel earphone, benda yang sengaja dia biarkan menjulur mencolok sebagai langkah antisipasi agar tidak diseret ke rumah sakit jiwa. “Betul kau bayanganku?”

Getho mengangkat dagunya dan melemparkan tatapan nelangsa.

Tommy mengangkat alis kanannya yang tebal dan berwarna kecoklatan lalu menanti jawaban. Ia sangat ingin mendengar, bagaimana makhluk ‘Klingon’ ini meyakinkannya.

Tiba-tiba Getho menghantam mata kanannya sendiri seolah menunjukkan keputusasaannya. Keras sekali hingga Tommy mendelik tak percaya makhluk itu nekat ingin memecahkan bola matanya sendiri. Sayangnya Tommy tidak mendelik karena bersimpati. Ia membelalakkan matanya karena merasa bokong dan selangkangannya seperti sedang ditendang Messi dan Ronaldo—dua pemain bola yang lagi tenar-tenarnya saat ini—secara besamaan. Perutnya terasa senep, hingga ia berteriak dan refleks memegang bola pusakanya seolah khawatir benda itu akan melambung dan nantinya akan disundul, diperebutkan, lalu digocek oleh Ronaldo atau Messi.

“Oke—oke, aku percaya,” kata Tommy dengan suara terbata.

Getho memegang dan mengelus mata kanannya. “Terima kasih, Tuanku.”

“Getho. Jangan diulangi!”

“Hamba, Tuanku.”

“Dan, satu lagi. Banyak-banyaklah makan sayur, terutama yang mengandung vitamin A. Jangan telalu banyak membaca, pokoknya jaga matamu agar tetap sehat dan tidak kelelahan.”

Getho terdiam dua detik, kemudian mengangguk mantap. “Tentu, Tuanku.”

Dari arah barat terdengar suara kereta, lalu pengeras suara mengumumkan peringatan di jalur tiga akan masuk kereta jurusan Langenhagen. Itu kereta yang Tommy tunggu.

***

Setengah jam kemudian, mereka sudah ada di Langenhagen, di depan sebuah apartemen berlantai tiga. Tommy melangkah ke pintu masuk yang terbuat dari kayu mahoni yang dipelitur dengan warna coklat kemerahan. Di sebelah kanan pintu terdapat enam baris tombol dan di samping tombol paling bawah ada tulisan: Katherine Swipe. Tommy menekan tombol tersebut.

“Ya,” terdengar suara seorang perempuan.

“Hi, Kath. Tommy.”

Ada suara gemerisik sebentar, lalu terdengar suara ‘teet’ panjang yang diikuti suara ‘klik’. Tommy membuka pintu dan berjalan menuju apartemen nomor satu yang ada di lantai satu. Pintu terbuka setelah Tommy mengetuknya sekali.

“Hi, masuk!” kata Katherine sambil menahan pintu menunggu Tommy masuk.

Tommy menghela napas. Empat bulan lalu, setelah membuka pintu itu, gadis berambut pirang itu pasti akan segera menciumnya sebelum membiarkannya masuk. Tommy masih bisa merasakan lembut bibir tipis Katherine menyentuh pipinya dan wangi parfum Chanel saat ia balas memeluk tubuh langsing gadis itu. Kini semuanya lenyap. Yah, setelah menyatakan putus karena bosan apa yang bisa ia harapkan? Sudah untung gadis itu masih menyunggingkan senyum meski aura getir samar memancar dari bola matanya yang berwarna biru samudra.

“Ehm!”

Tommy melirik ke kiri. Walau memiliki bulu berwarna mirip rambut Katherine tapi suara deheman yang satu ini sama sekali tidak romantis. Setelah mengangguk, dengan matanya yang bergerak dari kanan dan ke kiri, Getho memberi tanda agar Tommy masuk.

“Sudah delapan puluh deringo, Tuanku,” katanya dengan suara membahana.

Tommy tersentak, namun kembali tenang setelah menyadari Katherine tidak mendengar peringatan Getho.

 

Tommy seperti ditarik mesin waktu kembali menyusuri masa lalu. Apartemen Katherine masih meruarkan aroma yang sama, wangi rosemary. Penataan ruangannya pun tidak bayak berubah: sofa panjang di kanan pintu masuk, kabinet di seberangnya, televisi LCD, dan karpet berwarna coklat tanah. Dari tempat duduknya, Tommy bahkan masih bisa melihat fotonya memeluk Katherine—yang diambil saat mereka berlibur di Bali dua tahun lalu—dipajang di atas kabinet. Foto itu tiba-tiba hilang dari pandangan Tommy dan berganti dengan baju karet berwarna coklat. Bajingan tengik berbulu emas sudah berdiri mematung di sana mengamati foto itu seolah ia adalah kurator beken.

Getho menggeleng-gelengkan kepala. “Kerumitan ini seharusnya tak perlu terjadi jika Tuanku tetap memeluk keindahan ini,” katanya.

Kurang ajar! Tommy melirik ke arah Katherine di seberangnya dengan wajah memerah. Katherine tersenyum hambar.

So, ada apa, Tom? Kutebak, kau pasti tidak berniat membantuku membereskan pakaian dan wohnung-ku.”

“Gadis, pintar!” kata Getho.

Tommy menepuk-nepuk kepalanya.

“Kau tampak pucat, ada masalah?” Tanya Kathrine khawatir.

“Bingo!” teriak Getho.

Tommy mendelik.

“Sebaiknya Tuanku segera jelaskan, kita sudah kehilangan seribu deringo.”

“Kuambilkan minum,” kata Katherine sambil berdiri.

“Tak usah, Kath,” kata Tommy. “Ya, ada masalah dan aku butuh bantuanmu.”

Tommy melirik dan melotot ke arah Getho sebelum makhluk cerewet itu bersuara dan mulai menyela. Getho merapatkan kembali bibirnya sambil pura-pura melihat langit-langit apartemen.

“Aku mau ajak kau ke Kassel, Kath?”

“Kassel? kenapa?”

Kenapa? Inilah masalahnya. Tommy tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Ia sendiri—meski sudah dijelaskan dan diperlihatkan—masih sulit mencernanya. Semalam sembilan makhluk berbulu dan berbaju karet berwarna merah mengelilinginya. Mereka memperkenalkan diri sebagai Dewan Alam Merzen. Mereka mengingatkan Tommy akan tugasnya untuk menjaga Helioliteus—energi keseimbangan. Dari seluruh makhluk di dunia, cuma Tommy lah yang punya representasi di dua alam sekaligus pada saat yang bersamaan: Dunia dan Alam Merzen.

“Kau menjaga energi itu saat ia di Dunia, dan bayanganmu—Getho—akan menjaganya saat ia kembali ke Alam Merzen,” kata Ketua Dewan, makhluk yang paling besar kepalanya.

Energi itu kekal. Dia tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Banyak yang mengetahui hal itu namun yang tidak disadari orang adalah seluruh makhluk di dunia ini hanyalah representasi dari Alam Merzen.

“Kita akan mengunjungi, Kuil Hercules,” kata Tommy.

Katherine mengerutkan dahinya. Wajahnya yang putih lonjong itu jadi sedikit rusak oleh kerutan, namun tulang pipinya yang menonjol membuat Katherine tetap menawan.

Getho menggelengkan kepala seperti seorang ibu yang memberi peringatan agar anaknya tidak makan dengan mulut belepotan.

“Hidupku, hidupmu, dan seluruh makhluk, bahkan dunia ini dalam bahaya kalau kita tidak ke sana, Kath!”

Bibir Katherine yang tipis dan berwarna merah muda membuka. Matanya membesar.

Yes! Pikir Tommy. Tak sulit ternyata.

Getho menunduk menggelengkan kepala lebih cepat.

“Tom, kau pakai narkoba?” Mata Kathrine menyipit.

Kini bibir Tommy yang membuka. Tentu ekspresinya jauh dari erotis.

Dari arah pintu terdengar suara, sepertinya seseorang berusaha membuka paksa pintu. Katherine menoleh ke arah pintu, Tommy ke arah Getho.

“Orang jahat selalu tepat waktu,” kata Getho.

Tommy terlonjak, hampir melompat ke kanan menghindari Getho yang tiba-tiba berlari ke arahnya, namun terlambat karena Getho dengan cepat menabraknya dan menghilang.

Pintu terbuka, tiga orang lelaki masuk dan Katherine cuma sempat berkata “Hey” lalu bungkam karena seorang lelaki yang tingginya melebihi pintu masuk telah menodongkan pistol ke arahnya. Di belakang si pemegang pistol menyusul seorang pria berpostur atletis dengan wajah mirip David Becham. Ia tersenyum girang—seperti baru memenangkan lotere—begitu melihat Tommy.

Well, well, well, Jackpot!” katanya.

***

Tiga jam kemudian, mereka sudah berada di Bergpark (taman gunung) Wilhelmshöhe Kassel dan sedang berjalan kaki menembus taman berumput menuju oktagon batu yang di tengahnya terdapat sebuah piramida dengan patung perunggu berbentuk manusia di atasnya–patung Hercules. Bentuk oktagon batu itu mengingatkan Tommy akan petualangannya saat tidur semalam—tempat para penasehat Alam Merzen mengelilinginya.

“Tempat yang indah untuk mati, bukan?” kata si pria mirip Becham—yang memperkenalkan diri sebagai David—sambil tersenyum.

“Delapan ratus reinkarnasi aku harus menunggu,” lanjutnya. “Ah, tapi kau pasti tidak ingat.”

Tommy diam saja mendengarkan ocehan itu namun menjadi gusar saat David menatap sambil tersenyum kepada Katherine, terutama ketika Katherine diam saja saat bajingan itu mulai membelai rambut pirangnya. Katherine malah memejamkan mata seolah menikmati sentuhan itu.

“Betul! Tempat yang indah untuk menggorok leher seorang blonde,” kata Tommy.

Mata Katherine tiba-tiba membuka dan membelalak.

“Kita sedang ditawan, Kath!”

Katherine memindahkan pelototannya dari David kepada Tommy.

David tertawa lalu menepuk bahu Tommy. “Selera humormu mematikan, Bung!”

***

Mereka cuma duduk diam memandangi persiapan yang David lakukan—berkomat-kamit di depan piramida. Tommy tahu itu cuma persiapan kecil. Yang sebenarnya terjadi adalah mereka sedang menunggu matahari terbenam. Dewan Merzen sudah memberitahunya semalam bahwa saat mentari tenggelam, langit di atas patung Hercules itu akan membuka lalu Zoos—penguasa utara Alam Merzen, yang ingin menggantikan manusia yang menurutnya sudah kelewat biadab dengan ras baru yang lebih beradab—akan berusaha mengambil permata Helioliteus.

Beberapa jam kemudian, warna oranye bergerombol di ufuk barat lalu perlahan warna hijau merekah di langit—tepat di atas kepala patung Hercules. Saat kegelapan telah menyebar sempurna, dari tengah warna hijau itu menyembur seberkas sinar berwarna hijau pucat ke arah kepala patung yang terbuat dari perunggu itu. Pertama cuma segaris tipis, makin lama makin tebal dan warna hijaunya semakin pekat.

“Nah, Nona cantik, sekarang giliranmu untuk membantu,” kata David sambil mengeluarkan sebuah pisau yang terbuat dari perunggu dari sarungnya. Pisau itu berukuran kecil hingga bisa ia sembunyikan di balik jaketnya. Meski kecil, jika pisau itu ditusukkan ke dada, niscaya mampu untuk menembus jantung.

“Mau apa kau?” Katherine membelalakkan mata dan meronta. “Tommy, tolong!”

Tommy tak bisa berbuat apa-apa karena pistol dari seorang anak buah David menempel semakin kencang di punggungnya dan di balik celananya, ekornya membelit pahanya.

Tunggu, belum saatnya, Tuanku.

Tak menghiraukan rontaan tawanannya, pria besar yang menjaga Kathrine menarik paksa gadis itu lalu mengikatnya di sebuah pilar di depan piramida yang berhadapan dengan patung Hercules.

“Tunggu giliranmu, Bung!” kata David sambil mengedipkan mata kirinya lalu berjalan ke tempat Kathrine telah diikat.

Sabar, Tuanku.

Belitan ekornya semakin kencang karena Getho berusaha keras untuk menahan Tommy. Dari pusar Tommy, panas menyebar naik ke dada serta turun hingga ke kaki. Nafas Tommy juga memburu dan ia merasa pistol telah berpindah ke tengkuknya dan menekannya sangat keras.

“Jangan macam-macam,” peringat pria yang menjaganya.

Sekitar sepuluh meter di depan Tommy, David berkomat-kamit lalu mengangkat pisaunya. Tiba-tiba dari kepala patung Hercules—yang menjulang 38 meter di atas kepala David—ke luar sinar hijau pekat dan sinar itu menyambar pisau David.

Pada saat yang sama, sinar hijau di langit menjadi sangat tipis—seolah semuanya telah diserap dan dipancarkan oleh kepala patung. Tommy tahu sekaranglah saatnya karena pisau perunggu itu sudah sangat pekat dengan energi. Itulah energi milik Zoos. Jika energi itu bisa menembus jantung Katherine, maka gadis pirang itu akan mati, lalu ia akan kembali ke Alam Merzen dan di sana ia akan berubah menjadi permata Helioliteus—sumber energi keseimbangan.

Zoos sudah merencanakannya. Ia telah menyusupkan energinya ke David agar bisa terus bereinkarnasi tanpa kehilangan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya untuk dapat mencari jejak manusia yang menjadi representasi Helioliteus karena cuma pimpinan Dewan Merzen yang tahu manusia yang menjadi representasi permata itu. Namun, jika Katherine mati dengan cara sekarang, ia tak akan bisa bereinkarnasi lagi dan energinya akan menjadi milik Zoos. Jelas Tommy, si penjaga Helioliteus, tak akan membiarkannya.

Lelaki yang menjaga Tommy cuma sempat berkedip ketika tiba-tiba sinar hijau meledak membutakan matanya dan tahu-tahu ia sudah melayang di udara dan terlempar sepuluh meter ke belakang.

David masih sempat menyadari ada yang menyerangnya dari samping kanan, namun ia tidak memedulikannya. Jika pisaunya berhasil menembus jantung Katherine, tak perduli dengan yang akan terjadi dengan tubuhnya, ia akan memenangkan pertarungan kali ini.

Tepat setelah pisau perunggu setajam laser itu menembus baju Katherine dan menggores kulitnya, Katherine berteriak kesakitan karena pisau itu tidak bergerak menembus daging tapi malah bergerak ke samping merobek kulit. Pisau itu membuat goresan panjang ke arah tangan kiri Kathrine namun hanya sedalam satu milimeter karena David sudah terpental dihantam Tommy.

Sambil menarik kembali tinjunya, Tommy yang berdiri di depan Katherine melihat darah merembes di baju gadis itu. Ia memeriksa sebentar dan seperti dugaannya luka itu tidak mematikan, hanya menggores kulit dan mungkin sedikit daging. Memang dada Katherine nantinya akan sedikit berbekas jika tidak dioperasi plastik, dan mungkin karena menyadari itu Katherine meraung lebih dahsyat dari seharusnya.

Keine Sorge, semuanya akan baik-baik saja, Kath,” kata Tommy yang lalu mengalihkan pandangan ke arah David.

“Oke, ganteng, sekarang giliranku,” Tommy membuka telapak kanannya dan sinar kehijauan segera membungkus tangannya.

“Bajingan!” maki David, “kau…,” ia berhenti sejenak mengatur nafas dan memilih kata. Ketika telah lebih tenang ia kembali bersuara, ”harusnya kuperiksa bokongmu. Lain kali, meski dengan wajah setampan ini, aku tak boleh takut dibilang homo.”

Tommy menyeringai. “Tak akan ada lain kali, menyerahlah. Serahkan pisau itu dan semuanya akan baik-baik saja.”

“Oh, ini yang kau mau?” David sambil memutar-mutar pisau yang berpendar-pendar kehijauan itu. Ia lalu diam, matanya lurus menatap Tommy lalu menggelengkan kepala. “Ini belum berakhir, Bung. Kita akan ulangi dari awal lagi.”

Setelah berkata demikian, David menghujamkan pisau itu ke dadanya lalu matanya melotot seolah ingin melompat namun yang keluar dari mata itu adalah seberkas sinar hijau pekat yang langsung membidik ke arah Tommy. Refleks, Tommy mengibaskan tangannya dan sinar itu terpental ke udara lalu menghilang mengikuti pendaran kehijauan di langit. Sesaat kemudian sinar kehijauan di langit pun ikut menghilang.

Sialan! pikir Tommy.

Tommy menghela napas lalu memalingkan kepalanya dan menatap Katherine yang sedang memelototinya. Mungkin seperti itulah tatapannya kepada Getho tadi pagi. Tommy tersenyum. Seperti yang Getho lakukan tadi pagi, ia pun akan menjelaskannya dengan sabar.

Cahaya kehijauan di langit telah hilang diterkam kegelapan, namun seperti yang David katakan tadi, Tommy tahu ini bukanlah akhir. Bagaimana selanjutnya? Ia tak tahu. Tapi, satu hal yang ia tahu pasti bahwa gadis di depannya itu adalah alasan dia ada di sini—di dunia ini.

[Dunia, 14 Juni 2012]

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Merzen

  1. laurentia says:

    Bahasanya mulus, kk tetangga :) Settingnya menarik juga, juga sistem dunianya terutama karakter Gethonya.
    Tapi entah kenapa cerita keseluruhannya di bagian paruh akhir jadi membuat saia lebih bingung daripada bagian depannya.. Dialognya menarik dan ada selera humornya sih, tapi cerita keseluruhannya mmbuat saia bingung :/ Atau ada yang saia lewat tanpa sengaja?

    Nanti saia baca ulang lagi untuk memastikan. Kalau sempet main2 ke lapak saia yah, itu di sebelah :)

  2. Fransisca Liang says:

    Saya mendapat kesan ini cerita ditulis pada malam piala eropa. Mumpung lagi iklan (atau sehabis gol)sempet-sempetin nulisnya. Apa benar begitu? hehe…
    ngomong2 nama tokoh utama kita nyaris mirip loh. Klo sempet ke lapak saya di 109, ya.

  3. Desire Purify Loki says:

    Ketua Karang Taruna Mailindra,
    Merzenmu memang menuruti kaum deadliners yang tho’at.
    Aku suka saja dengan anekdot “bola” itu. Tapi konflik terutama puncak plot pas pertarungannya kok kurang greget? :-S

    Ada banyak sekali bolongnya di sini. Aku lebih prefer Boxinite-mu, deh…..
    Yah, sudahlah, namanya juga kakak seperguruanku. Kalau kau punya salam tinju kanan diadukan dengan telapak tangan kiri tepat di depan dada, maka salamku begini saja:

    _/|\_

    “Namaste” => Artinya, aku menghormati jiwamu, dan demikian pula denganmu, menghormati jiwaku. (Taken from a common Yoga’s greetings, Desire Purify Loki)

    • R. Mailindra says:

      Boxinite yang kau baca di buku, sudah diedit berdasarkan banyak masukan, Dini.
      So, hajar cerita ini kalau mau ia jadi lebih bagus. Kau pasti paham, kalau mau sakti harus mau terima gebukan.

  4. Cecilia Li says:

    Ahh ini sebenernya bagus dan berpotensi. Kamu pinter merangkai cerita sehingga bikin pembaca bertanya2 dan baca sampai habis. Tapi sampai terakhir pun banyak tanda tanya yang gak terjawab. Di beberapa titik pun humornya sedikit lebai, biarpun aku ada ketawa2 juga~ Eniwei, semangat semangat!

  5. fr3d says:

    bwahahahaaa~!

    gue menunggu-nunggu kapan Vicky akan muncul dan meramaikan suasana, tapi ternyata gak kejadian yah, wkwkwk xD

    oh, Tommy, Tommy… you’re so busted, lol

    gue gak tau mau komen apa untuk Alam Merzen ini… it’s just so bizarre! xP

    izinkan gue untuk mengulang: bwahahahaaa~!

    cheers, bung ron! :P

  6. negeri tak pernah-48 says:

    Salam kenal~

    Asli, narasimu enak banget dibaca. Humornya nyatu sama cerita. Karakternya ekpresif. Bacanya jadi enjoy :D

    Setuju sama yang komen di atas, aku mulai bingung waktu penjelasan konflik deket patung Hercules. Seudahnya actionnya oke, endingnya juga okelah. Kebayang si Tommy harus jelasin lagi @.@.

    Paling epic waktu bagian ini:
    Ketika telah lebih tenang ia kembali bersuara, ”harusnya kuperiksa bokongmu. Lain kali, meski dengan wajah setampan ini, aku tak boleh takut dibilang homo.” ROTFL

    Oiya, setuju juga sama komen yang bilang ini cerpen Piala Eropa banget hahaha :D

    Begitulah. Mampir ke nomer 48 juga ya :)

  7. Desire Purify Loki says:

    Siap! Sekarang, siapapun yang mau macam-macam sama Merzen akan berhadapan dengan Shaman Queen saya. Makasih bung R, sudah mengingatkan.
    Masukan kecil saja ya: Kenapa sebuah happy ending harus dibuat ala Da Vinci Code? Settingmu ketika berantem itu, amat sangat mirip dengan tuh buku. Kalau udah namatin Fantasy Fiesta, mestinya bang Ron udah mengabsen semua cerita, nggak hanya men-scan daftar isi. Kurasa itu saja.

    Seorang pengarang harus lepas dari perguruan mengarang kalau mau jadi penulis. Penyair akan marah-marah kalau huruf, spasi, dan tanda bacanya kurang satu. Dan penulis Fantasi… Seharusnya imajinasinya tinggi, jari-jarinya selalu siap di atas alat ketik meskipun manual, dan semangatnya harus dipertahankan kalau mau bikin novel. *ups* Pasti kamu ngerti, kakak seperguruanku… ;)

    *Tonjok Villam ah. Kayanya Kastil Fantasi ini emang satu-satunya situs tempat orang berkomunitas terbesar di Indonesia. Pantesan ID-ID baru berdatangan. Buat Kapten Kucing, waspadai oknum yang ngomel hanya karena 1 komentar tidak terposting, apalagi kalau Woedpress-nya udah ngomong demikian*

    Inilah hasil mencuri ilmu programmer-mu, bang. Sungguh pusing bekerja di tengah belitan kabel. Hiks….. (T_T)

  8. FA Purawan says:

    Kocaknya beda dengan lawak. Inilah humor, bisa membuat tertawa karena konteksnya pas.

    Iya, saya juga bingung dengan konfliknya. Well, kalau menerapkan rumus protagonis specialized-task plus co-protagonis object specialized task versus antagonis specialized power/spell and world domination scenario… cerita ini mudah ditebak. Tapi khan, akan lebih nikmat bila hal itu dihantarkan secara pas oleh para karakter katimbang pembaca bikin kesimpulan (nekat) sendiri.

    Dalam adegan sarapan, gue sempat membatin si Tommy kayaknya langsung beradaptasi dengan ekornya, gak canggung waktu duduk, pup (sorry) dan lain-lain.

    Wattjefuk itu si Gheto ngeplak mata, kenapa yang ngilu jadi…..? :) wkwkwkwk.

    David Becham, sengaja ya? Kupikir itu David Beckham.

    Satu penasaran yang belum bisa kutemukan dalam teks. Kenapa harus Jerman?

    Salam,

  9. Karena kakak seperguruanku ini ahli bahasa Jerman. (Berharap nggak akan digampar tonfa bang Ron karena bocorin ini di mari, Bang FAPurawan). Tolong ingatkan saya klo mulai mencla mencle atau ngehe ya… Mending latihan kendo pake sapu lidi deh *sweat*. Hfffff…………

  10. M.Asa says:

    Emm….aku bingung mau ngomeng apa.
    Ngomen teknis menulis? Udah gak perlu dikomenin.

    Ngomen ide? Udah keren.

    Oh, mungkin nanya aja deh.

    Ekor (Nexus) itu muncul kalo manusia udah bisa ‘ngelihat’ bayangannya dari dunia Merzen, atau emang tiap manusia punya Nexus yang hanya bisa dilihat (juga dirasakan) jika ‘bayangannya’ udah muncul?

    Dan satu lagi, seperti pertanyaan om Pur, konsep bayangannya itu gimana? kok si Getho nonjok matanya sendiri, tapi Tommy….(you know what I mean :) ) ?

    Ditunggu kunjungannya di lapak 63 (http://kastilfantasi.com/2012/07/amba-titik/)
    :D

  11. xeno says:

    Halo, Ron. Aku mampir baca-baca aja, ya. :)
    Eh, tapi, senep iku opo tho? XD

  12. Hai salam kenal ya :D

    Konsepnya menarik sih, tapi entah kenapa bacanay sedikit bingung pas setengah akhir @_@ Awal-awalnya ngalir banget, tapi pas mulai kemunculan David Bec.. *ups* Maksudnya David, sampai akhir cerita, rasanya pace–nya sedikit dicepetin ya? Haha.

    Setelah baca lagi bagian akhirnya, udah lebih ngerti sih. Dari segi teknis no comment deh. Udah mantep ^^b

    Adegan paling konyol itu menurut gw waktu sarapan dan pas si Gheto ninju bola matanya yang berakibat si Tommy.. Ughh. Jadi ikut ngilu juga bacanya @_@

    Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya. Makasih.

  13. shaoan says:

    Hi Mailindra! :D
    Bagian awalnya lucu! :D Cuman kayanya Kligon ga berbulu deh, Om. Dia dr Star Trek yg di kepalanya ada kue pancong itu kan? Krn dikau nyebut gorila berbulu emas di Star Wars, yg kebayang di kepala gw sih si Chewbacca (planetnya apa ya? Lupa. Bangsanya sih wookiee kl ga salah). Sempet meringis jg ngebayangin bola pusaka disundul, diperebutkan, & digocek. Wkwkwk. :D
    Tp buat gw pribadi, mulai dari bagian Tommy & Kath ketemu David Becham sampe ending, cerita jadi fast forward dan rasanya agak ber-’jejalan’ gitu deh. Tommy ternyata penghubung dua dunia, Kath yg ternyata representasi energi keseimbangan, Zoos, Dewan Merzen, reinkarnasi, dsb. Semua itu cuma dikasih jatah ngisi setengah cerpen ini, jd pembaca kayanya agak bingung mencerna cerita yg ber-‘jejalan’ sekaligus itu. Sementara setengah bagian awal, dikau cuman jelasin kenapa si Tommy punya ekor & siapa Getho, dan kesannya santai banget sampe gw pikir ini bakal jadi slice of life gitu. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>