Monstektif Hamster

MONSTEKTIF HAMSTER

karya Rickman Roedavan

Kereta kuda itu meluncur pelan menyusuri jalanan yang lengang. Melewati areal ladang gandum yang luas serta rumah-rumah penduduk yang terletak saling berjauhan. Suasananya nyaman. Sungguh bertolak belakang dengan London yang hiruk pikuk. Jadi ini rupanya Little Greenwood. Kota kecil di selatan Cornwall yang terkenal sebagai penghasil gandum terbaik.

James Wilson memang baru pertama kali mengunjungi kota kecil ini. Namun dia sudah mulai merasa betah. Semua pemandangan hijau dan ketenangan ini menjadi imbalan yang sepadan untuk membayar rasa lelahnya selama beberapa jam menggunakan kereta api.

“Masih jauh?”

“Kita sudah sampai.” kata Larry sambil menunjuk ke sebuah rumah kecil. Sang kusir pun menarik tali kekang. Memaksa kuda-kudanya melambatkan laju dan berhenti di depan halaman.

“Ayo, James.” ajaknya meloncat turun.

James mengangguk. Lelaki bertubuh tegap itu turun mengikuti rekannya. Dia sangat penasaran. Memangnya seperti apa sih wanita bernama Martha yang dijuluki “Si Cenayang” itu? Sampai-sampai Skotland Yard memerintahkan mereka berdua hanya untuk menemuinya?

Larry mengetuk pintu rumah sebanyak tiga kali. Tak berapa lama seorang nenek tua yang muncul sambil tersenyum lebar.

“Ada yang bisa kubantu, dear?” tanyanya dengan suara parau.

“Permisi, nyonya. Kami mencari seseorang yang bernama Martha Grey. Apakah dia tinggal di sini?”

“Aku yang bernama Martha.” katanya heran, “Kalian mencariku?”

“Ah, maaf, nyonya Martha. Maaf sekali sudah mengganggu hari anda. Sebelumnya perkenalkan. Namaku Hawkins. Larry Hawkins dari Skotland Yard. Dan ini rekanku, James Wilson. Sebenarnya kami berdua mendapatkan tugas…”

“Skotland Yard!” Martha terpekik. Wajah herannya berubah senang. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak kedatangan tamu dari Skotland Yard.  Ayo, masuk dulu, dear. Masuk. Jangan malu-malu.”

Mereka berdua diajak masuk ke sebuah ruang tamu yang kecil, bernuansa coklat, jauh dari kesan mewah tapi luar biasa nyaman.

“Kalian berdua mau teh, dear?”

“Err… terima kasih, nyonya. Tidak perlu repot-repot.”

“Siapa bilang merepotkan? Sama sekali tidak.” kata Martha sambil terkekeh. Tangan tuanya bergerak lincah saat menyajikan cangkir teh, susu, gula dan beberapa piring berisi kue.

“Kue-kue jahe ini baru kupanggang tadi pagi. Rasanya sangat lezat melebihi buatan tukang kue mana pun.” katanya bangga, “Resepnya pun sangat rahasia. Resep keluargaku yang sudah diturunkan secara turun temurun.”

“T-terima kasih, nyonya. Ehm.” Larry mendehem. Dia harus segera memotong pembicaraan. Jika tidak, nenek tua itu akan semakin melantur. Lagipula dia dan James tidak datang jauh-jauh dari London hanya untuk membahas resep kue jahe. “Jadi begini nyonya, kami berdua ditugaskan oleh Skotland Yard untuk menemui anda, berkaitan dengan serentetan serangan misterius yang terjadi di London.”

“Serangan misterius?”

“Serangan monster.” kata James cepat.

Martha terbelalak.

“Monster? Monster apa?”

“Justru itulah yang ingin kami tanyakan padamu.” kata Larry sambil memperlihatkan beberapa lembar foto. Foto-foto itu berisi bekas luka yang berbeda dari beberapa orang korban. Bentuk luka mereka seperti habis dicakar oleh binatang buas. Martha memandangi foto-foto itu dengan kening berkerut.

“Semua serangan ini selalu terjadi di malam hari dan sudah berlangsung selama dua minggu terakhir. Kami masih belum mendapatkan satu petunjuk pun, soal siapa atau makhluk apa yang menyerang mereka.” kata Larry.

“Mengerikan. Bekas luka ini sungguh sangat mengerikan, dear.” gumam Martha. Pandangannya tak terlepas dari seluruh foto itu. “Aku pernah berhadapan dengan vampire, werewolf, ghoul, banshee dan belasan makhluk dari dunia kegelapan lainnya. Jadi aku sangat hafal dengan bekas luka yang mereka tinggalkan.”

Martha menatap mereka berdua. “Kebanyakan makhluk-makhluk itu meninggalkan jejak amarah, iri, dendam, kebencian atau rasa dengki dalam setiap serangannya. Tapi bekas luka yang ada di dalam foto-foto ini, lebih menunjukan kesombongan. Jadi ini sangat mengerikan.”

“Err… maaf, nyonya. Tapi aku tak mengerti.” kata Larry. James yang duduk di sebelahnya nyaris saja menanyakan hal yang sama. “Apa maksudnya dengan semua itu?”

Martha menarik nafas panjang.

“Satu-satunya makhluk yang mampu meninggalkan bekas luka seperti ini hanya sang iblis sendiri.” katanya pelan.

“S-sang iblis?”

“Ya, aku yakin. Karena dari apa yang kulihat, seluruh goresan cakar dan cabikan taringnya ini selalu dipenuhi oleh rasa kesombongan. Pelaku penyerangan ini adalah sang iblis, dear.” ujar Martha.

James melotot. Sang iblis? Nenek tua itu tidak sedang bercanda kan?

“Jadi pelakunya adalah sang iblis? Bagus sekali. Lalu bagaimana cara kami menghentikannya? Berdoa?” tanya James. Nadanya yang setengah mengejek itu membuat Larry melotot padanya.

“Berdoa saja tidak cukup, dear. Tindakan yang nyata juga diperlukan untuk menghentikan serangan-serangan ini.” tambah Martha yang untungnya, sama sekali tak mengerti maksud sindiran James. “Jika saja aku belum setua ini, mungkin aku akan ikut dengan kalian ke London, dan menangkap iblis itu sendiri. Tapi dengan kondisiku yang sekarang, tampaknya tak mungkin. Encokku sudah terlalu sering kambuh.”

James nyaris tergelak. Tak bisa lagi menangkap iblis karenanya encoknya sering kambuh. Alasan yang hebat. Tampaknya Skotland Yard sudah ditipu mentah-mentah.

“Tapi kalian berdua jangan khawatir. Aku akan menyuruh muridku untuk ikut dengan kalian. Dia akan membantu kalian menangkap iblis ini.”

“Muridmu?” Larry tertegun. Rasanya dia belum pernah dengar jika Martha Si Cenayang’ punya seorang murid. “Muridmu yang mana?”

***

Kantor Skotland Yard di Westminster tak pernah sepi dari aktivitas. Apalagi semenjak London dihantui penyerangan-penyerangan misterius. Seluruh anggota divisi investigasi dan kriminal bekerja keras untuk mengungkap kejadian aneh tersebut.

Dari arah lobby depan, Larry dan Peter berjalan cepat menyusuri koridor utama gedung. Keduanya tak perduli dengan orang-orang yang berlalu lalang. Mereka pun tak mengacuhkan sapaan dari beberapa rekan mereka. Kedua penyelidik muda itu terus berjalan menuju sebuah pintu yang bertuliskan ‘Inspektur Lennard’ dan mengetuknya keras.

“Masuk.”

Di dalam ruangan besar itu, seorang lelaki berkepala botak terlihat sedang membaca berkas. Pandangannya sempat beralih kepada Larry, buru-buru merapikan berkas yang dibacanya, kemudian mempersilahkan keduanya untuk duduk.

“Kalian berdua sudah kembali. Baguslah. Jadi apa yang dikatakan Martha?”

Larry mendehem. Tampak sedikit kikuk.

“Martha mengatakan jika pelaku dari semua penyerangan ini adalah sang iblis, Sir.”

“Sang iblis?”

“I-iya, Sir.”

Inspektur Lennard mengerutkan keningnya. Ekspresinya menunjukkan jika dia sangat cemas mendengar jawaban itu. Jauh dari dugaan James yang mengira jika atasannya akan mengamuk atau tertawa melecehkan.

“Begitu ya? Lalu apakah dia mengatakan bagaimana cara kita menghentikannya?”

Well, untuk soal itu Martha…, ehm, dia telah mengirim salah satu muridnya untuk membantu kita, Sir.”

“Muridnya?” Inspektur Lennard terlihat senang. “Syukurlah kalau begitu. Mana dia sekarang? Cepat suruh masuk.”

Larry dan James saling pandang. Dengan gerakan yang sangat pelan, Larry mengambil sesuatu dari dalam saku baju dan meletakkannya di atas meja. Kedua mata inspektur Lennard nyaris meloncat keluar saat melihatnya.

“T-tikus?”

“Hamster, idiot. Apa matamu buta? Masa kau tak bisa membedakan antara tikus dan hamster?” kata hamster berbulu coklat itu sambil mengacak pinggang. Dia lalu berbalik menatap Larry galak, “Ngomong-ngomong kau pakai parfum apa sih? Beberapa detik lagi aku diam di sakumu itu aku bisa mati kehabisan nafas tahu!”

Inspektur Lennard bengong. Dia menatap kedua anggotanya. Meminta penjelasan.

“Ehm. Perkenalkan, Sir. Ini Shery. Shery Hamster.”

***

“Aku tak percaya ini.” gerutu James, “Kita adalah Skotland Yard. Badan kepolisian terbaik di Inggris. Masa kita diperintah oleh seekor hamster?”

“Aku juga mengerti perasaanmu, James. Tapi apa boleh buat. Inspektur Lennard mempercayainya. Dan untuk saat ini, aku rasa Shery merupakan satu-satunya pilihan terbaik kita.” kata Larry, “Lagipula jika kita tidak bisa menghentikan semua penyerangan itu dan tidak bisa memberikan jaminan keamanan pada seluruh warga, lalu apa gunanya kita bekerja di Skotland Yard?”

James mendengus kesal.

“Aku hanya tidak suka diperintah oleh seekor hamster.” tegasnya.

“Tenanglah. Lagipula aku rasa Shery tak seburuk itu.”

“James! Larry! Kalian berdua tuli atau tolol sih? Cepat kemari!”

James melototi Larry yang langsung mendehem-dehem. Keduanya berlari kecil mendekati Sherry yang sedang menyelidiki salah satu TKP di pinggir sungai Thames. Tak jauh dari gedung parlemen.

“Ya, nona Shery? Ada yang bisa kami bantu?” kata James dengan suara manis.

“Lihat sebelah sini!” tunjuknya pada sebuah bekas cakar di tanah. “Seorang lelaki berlari kencang ke arah sungai, namun terjerembab karena diserang oleh monster dari arah belakang. Monster itu mencakar punggungnya berkali-kali sampai dia terluka parah.”

James segera membuka buku catatannya sendiri.

“Dan di sebelah sana, hal yang serupa dialami seorang tunawisma. Orang yang ditemukan tewas itu, dia bukan tewas karena diserang monster sebenarnya. Tapi lebih karena kehabisan darah.” tunjuk Shery.

“Sementara di dekat tiang lampu itu, dua orang wanita mencoba melarikan diri dari serangan monster. Tapi agak kesulitan karena mereka menggunakan sepatu berhak tinggi. Keduanya masing-masing menderita luka dibagian paha, betis dan tumit.”

James tercengang mendengar penjelasan itu. Semuanya sangat tepat. Bagaimana bisa? Padahal dia kan belum sedikit pun memberi penjelasan detil tentang semua penyerangan tersebut.

“B-bagaimana cara kau mengetahuinya?” tanya Larry ikut heran.

“Kalian tahu? Ini mengerikan.” kata Shery yang sama sekali tak memperdulikan rasa penasaran mereka berdua.

“A-apanya yang mengerikan?”

“Martha tidak salah ketika mengatakan jika pelakunya adalah sang iblis. Karena aku juga merasakan sensasi kesombongan yang sama.” tutur Shery, “Masalahnya, kini aku merasa ragu jika sang iblis mau repot-repot melakukan semua ini.”

“Maksudmu?” tanya James bingung.

Shery mendongak sekilas lalu menggelengkan kepala.

“Kalian berdua bodoh sekali sih. Lalu apa sebenarnya yang kalian lakukan di Skotland Yard? Mencuci piring?”

“Apa kau bilang?!”

“Kami hanya belum pernah mengalami kasus seperti sebelumnya, Shery.” kata Larry buru-buru menengahi, “Kami… benar-benar tidak tahu.”

Shery menghela nafas panjang.

“Yang melakukan semua penyerangan ini adalah monster-monster berbentuk serigala. Jumlahnya tiga ekor.” Dia menatap keduanya serius, “Sang iblis sangat membenci makhluk yang memiliki daging dan darah. Dia terlalu bangga dengan wujud aslinya. Sehingga rasanya mustahil jika dia mau repot-repot mengubah wujudnya sendiri menjadi serigala.”

Larry melotot.

“J-jadi maksudmu, pelakunya bukan sang iblis?”

“Justru itu…” Shery pun bingung. Martha sangat ahli menganalisa bekas luka akibat serangan makhluk gaib. Jadi hampir mustahil dia salah dalam menerka. Tapi jika melihat tempat kejadian ini… eh? Apa itu?

Shery memicingkan mata. Memperhatikan lebih teliti bekas cakaran di tanah. Pandangannya tertuju pada serbuk-serbuk hitam yang bercampur dengan tanah. Dia mencicipinya sedikit dan melotot.

Grafit?

“Akh!” Shery menjerit. Seketika saja kepalanya jadi seperti televisi rusak. Puluhan gambar, teriakan dan cahaya memenuhi benaknya silih berganti. Shery dapat melihat dengan jelas bagaimana monster-monster itu melolong, mengayunkan cakarnya, dan mencabik kesetanan. Mereka berpesta dengan darah. Sebuah pemandangan yang langsung membuat nafasnya sesak.

“Shery! Shery?! Kau tidak apa-apa?” Larry cemas. Bahkan James sampai ikut membungkuk heran.

“Ugh…, aku t-tidak apa-apa.” kata Shery terengah. Wajahnya pucat. Nafasnya sedikit tersenggal. “Dia. Pelakunya memang dia. Kenapa tidak sampai ke sana pikiranku tadi? Dasar bodoh!”

“Dia? Dia siapa?”

“Kalian bisa mengantarku ke Harrods?” pinta Shery.

“Memangnya kenapa?” tanya Larry heran.

“Ada beberapa benda yang harus kita beli.”

***

Kediaman Sir George Lewis terlihat seperti sebuah istana. Rumah bercat putih yang dikelilingi pekarangan hijau itu seperti ingin menegaskan jika beginilah seharusnya tempat tinggal seorang dari kalangan berdarah biru.

“Sir George adalah salah satu anggota dewan bangsawan. Apa kau yakin makhluk itu berasal dari sini, Shery?”

“Yakin sekali.” kata Shery, “Sensasi itu kurasakan semakin kuat dari arah lantai dua. Jendela yang sebelah sana.”

Larry menatap rekannya.

“Kau siap?”

“Terserah.”

“Yang penting lakukan saja semuanya seperti kata-kataku, okay?”

“James?”

“Ya, ya. Baiklah.” sungut James sebal.

“Dan jangan lupa Siapkan pistol kalian, tuan-tuan. Aku rasa kita akan sangat membutuhkannya.” tukas Shery yang kembali bersembunyi dibalik saku Larry.

“Kalau begitu kita masuk.” Larry pun berjalan memimpin memasuki pekarangan megah itu. Ketiganya menunggu beberapa saat setelah Larry membunyikan bel pintu. Seorang lelaki yang tampaknya adalah seorang pelayan menyambut mereka dengan wajah heran.

Yes?”

“Selamat pagi, tuan. Kami berdua dari Skotland Yard.” kata Larry sambil memperlihatkan tanda pengenal. “Sir George ada di rumah?”

“Err… maaf. Tapi hari ini tuanku sedang menghadiri pemakaman keluarga di Bristol. Ada keperluan apa Skotland Yard mencari tuanku?” tanya pelayan itu heran.

“Kami baru saja menerima sebuah surat kaleng yang berisi ancaman pembunuhan terhadap Sir George.”

“APA?” pelayan itu pucat.

“Itu sebabnya kami berdua datang untuk memastikan keadaannya. Apakah semua jendela rumah ini sudah dipasangi teralis? Setiap pintu memiliki kunci dan selot? Gembok barangkali?” kata Larry.

“I-iya, tuan. S-semuanya sudah…”

“Boleh kami periksa?”

“T-tapi…”

“Ini adalah prosedur standar Skotland Yard, tuan. Demi menjamin keamanan seluruh anggota dewan bangsawan. Anda tentu tak mau jika dua tiga hari ke depan tuan anda ditemukan dalam keadaan tewas tak bernyawa bukan?” kata Larry dengan nada meyakinkan. Ekspresi wajahnya membuat pelayan itu tak punya pilihan lain.

“B-baik. Silahkan masuk, tuan.”

Tak berbeda jauh dengan pekarangannya. Bagian dalam rumah Sir George pun terlihat mewah bukan main.

“Lantai bagian bawah aku rasa tidak masalah. Kita lanjutkan pemeriksaan ke lantai dua?” pinta Larry yang dijawab anggukan oleh pelayan.

“Kamar yang itu. Kedua dari kanan.” bisik Shery.

“Permisi, pak. Tapi yang itu kamar siapa?”

“Oh, itu kamar nona Anabella. Putri bungsu tuanku. Dan aku rasa sebaiknya kita tidak menganggunya. Beberapa hari terakhir ini, moodnya sedang tidak baik.”

“Tapi kita tetap harus memeriksanya.”

“J-jangan, tuan. Dia bisa marah kalau…” kata-kata pelayan itu terpotong karena Larry telah terlanjur membuka pintunya.

Larry tercengang. Begitu pula dengan James. Karena di dalam kamar itu, terdapat banyak sekali kertas berserakan. Kertas yang berisi sketsa gedung-gedung terkenal seperti istana Buckingham, Big Ben, sampai museum London. Meski semua gambar itu hanya dibuat  dengan menggunakan pensil, namun semua gambar itu terlihat mirip sekali dengan aslinya.

“SUDAH BERAPA KALI KUBILANG JANGAN GANGGU AKU KALAU SEDANG MENGGAMBAR!” teriak Anabella keras. Bocah perempuan berumur sembilan tahun itu mengambil beberapa boneka, sepatu, gelas, hiasan kaca dan apa saja lalu melemparkannya ke arah mereka. “CEPAT PERGI!”

Prang! Prang!

“B-baik, nona. K-kami akan pergi. Kami pergi.” kata pelayan itu panik sambil berusaha menarik Larry pergi.

“JANGAN GANGGU AKU!”

“Itu pensilnya!” desis Shery. Tanpa pikir panjang, dia langsung meloncat dari dalam saku Larry. Bergerak lincah memanjat sebuah kursi, melompati meja, bergerak terus menaiki lemari, dan meloncat jauh untuk mencapai meja gambar.

“Tikus!” pelayan itu menjerit.

“Pensilnya aku pinjam!”

Anabella yang sempat tertegun melihat kelincahan Shery itu kemudian menjerit keras. Seluruh matanya menjadi hitam. Urat-urat menonjol dari dalam lehernya.

“JANGAAAN!”

Bersamaan dengan teriakannya, gambar-gambar yang ada di atas kertas itu bergerak. Atau lebih tepatnya, debu-debu grafit yang telah membentuk gambar itu bergerak. Mereka semua melayang. Meninggalkan kertas tempat mereka ‘hidup’. Menggumpal di udara dan membentuk serigala.

“Apa?” James melotot tak percaya. Dia pernah melihat sketsa serigala di atas sehelai kertas. Tapi sketsa yang sama menggurat di udara? Rasanya mustahil!

“Tembak mereka, idiot! Akh!” Shery yang baru saja mencoba melarikan diri terpental menabrak dinding karena disapu Anabella dengan sebuah buku. Pensil yang tengah berada di genggamannya pun terlepas.

“Pensilnya!” Larry bergerak untuk mengambil. Namun sepasang serigala sudah terlebih dulu menghadangnya. Mereka menyergap Larry dan mencabiknya ganas. Larry menjerit kesakitan. Beruntung dia masih sempat mengambil pistol dan menembakannya. Serigala-serigala itu hancur menjadi kumpulan debu hitam dan lenyap di udara.

“Larry!”

“Pensilnya, James!”

“JANGAN SENTUH PENSILKU!”

James menerjang maju. Dia menyeruduk Anabella yang mencoba memungut pensil. Keduanya bergumul hebat. Namun James yang kewalahan. Dia tak menyangka jika anak sekecil Anabella bisa memiliki tenaga sekuat itu.

“Akh!” James menjerit ketika Anabella mengigit tangannya. Dia pun melenguh ketika kepalanya disikut, dan dipukul keras. James bahkan tak berdaya ketika Anabella mencekiknya dengan kedua tangan. Tenaganya kuat sekali.

Larry terus menembaki beberapa ekor serigala yang mencoba menyerangnya. Peluru-peluru karet yang meluncur dari pistolnya sangat ampuh untuk menghancurkan mereka. Anehnya, serigala-serigala itu seolah tak pernah habis. Dan terus bermunculan dari dalam kertas. Dari satu gambar ke gambar yang lainnya.

“Cepat lempar padaku, bodoh!” teriak Shery keras.

Teriakan itu seolah menyadarkan keduanya. Larry segera melemparkan sebuah bungkusan dari dalam bajunya. Sementara James berontak bagai sapi gila. Dan berusaha sekuat tenaga menendang pensil berwarna hitam itu ke arah Shery.

“Bagus!” Shery mengambil pensil itu cepat, membuka bungkusan, dan memasukannya dalam-dalam.

“Rasakan ini!”

“AAAAAAAKH!” Anabella menjerit. Suaranya melengking tinggi sampai membuat retak beberapa kaca jendela. Serigala-serigala itu pun melolong. Mereka hancur menjadi debu dan terhisap kembali ke dalam kertas tempat mereka ‘dilahirkan’. Kejadian itu berlangsung singkat dan semuanya berubah hening. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Anabella jatuh pingsan karena kehabisan tenaga. Semua kejadian tadi berlangsung begitu singkat. Bagaikan sebuah mimpi yang terlalu buruk untuk menjadi kenyataan.

“Kau tak apa-apa, Larry?” tanya James sambil memegangi lehernya.

“Ini tak seberapa.” katanya mencoba tersenyum. Meski hal itu tak cukup untuk menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya. Pandangan James lalu tertuju pada kantung kecil yang ada di dekat Shery.

“Pensil Iblis?”

“Ya. Salah satu dari artifak hitam buatan sang Iblis.” jelas Shery, “Pensil itu adalah pensil angkuh yang merasa jika dirinya bisa menggambar jauh lebih hebat dari pensil yang lain. Masalahnya, dia selalu menginginkan darah untuk bayaran dari setiap hasil karyanya.”

“Maksudmu, monster-monster itu adalah perwujudan dari goresan pensil?”

“Pensil haus darah yang kelaparan.” tegas Shery.

“Dan untuk apa kita membeli semua penghapus ini?”

“Pensil itu diciptakan oleh sang iblis, sehingga dia pun memiliki sifat yang sama. Apa kalian tahu salah satu sifat sang iblis?” tanya Shery, “Dia sangat takut dengan ‘neraka’. Jangan pernah membayangkan neraka sebagai tempat yang penuh dengan kobaran api. Pada hakikatnya neraka adalah sebuah tempat terburuk yang tidak ingin kau masuki sedetik pun. Dan tempat apalagi yang paling buruk bagi sebuah pensil, selain kantung yang berisi banyak penghapus?”

James menghembuskan nafas panjang. Terlepas dari segala tingkah lakunya, dia sangat bersyukur karena apa direncanakan Shery, yah, sebagian besar, berhasil dengan baik.

“Pensil yang mengerikan.” desisnya pelan.

***

“Final Wimbledon dihentikan karena hujan. Pertandingan final antara Robb dan Sterry akan digelar ulang hari ini. Setelah melalui..”

“Bukan. Bukan berita itu. Tapi berita di bawahnya.” potong inspektur Lennard.

“Yang mana?”

“Tentang kebakaran.”

Larry dan James membaca berita itu dengan seksama. Keduanya menatap inspektur Lennard dan Shery bergantian.

“Ada apa dengan berita ini?”

“Aku merasakan sensasi kesombongan dalam foto itu. Kobaran api yang angkuh dan menggila persis seperti kebakaran hebat yang terjadi di London pada tahun 1666.” tukas Shery.

“Salah satu artifak iblis?” tebak James.

“Dugaanku juga begitu. Bagaimana jika kita selidiki?”

“Ayo.” katanya bersemangat.

Larry melirik James keheranan.

“Aku pikir kau tidak suka diperintah oleh seekor hamster, James?”

Well, aku berubah pikiran.” kata James cepat, “Jadi kemana kami harus mengantarmu sekarang, nona Shery?”

“Baker Street!”

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Monstektif Hamster

  1. Enormous issues listed here. Now i’m willing to professional your site. Thanks a lot a good deal exactly what looking in front to get hold of you. Are you going to remember to fall me a postal mail?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>