Neverland

NEVERLAND

karya Milfeule

Semua anak kelas lima sedang sibuk membicarakan kegiatan akhir minggu mereka. Kecuali Peter. Tak ada yang mengajaknya bicara, tak ada yang mengundangnya ke acara menginap, apalagi mengajaknya ikut pertandingan sepak bola antar kelas. Peter memang mengharapkan begitu. Ia memilih untuk menjadi ‘tak terlihat’, baik oleh teman-temannya maupun oleh guru-guru.

Peter duduk diam di bangkunya, sibuk menggores buku sketsanya dengan pensil. Saat ini ia sedang menggambar beruang berwajah rakun. Sesekali ia mengangkat wajahnya untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Ia harus berhati-hati sejak Hookey membuat seluruh kelas menertawakan flamingo pelanginya di kelas dua.

Ketika suasana tiba-tiba hening karena Bu Dawson, atau lebih dikenal dengan Dada Dawson, masuk kelas, Peter segera menukar buku sketsanya dengan buku pelajaran. Ia menatap buku di tangannya sambil diiringi suara Dada Dawson di depan kelas. Pikirannya sama sekali jauh dari geometri dan dimensi bangun ruang yang memenuhi halaman-halaman buku itu. Ia sedang berada di dunianya sendiri. Di Neverland.

Satu jam kemudian Peter benar-benar tiba di sana. Tidak, ia tidak terbang atau terhisap ke dimensi lain. Ia pergi dengan cara yang lebih sederhana. Hanya dengan sepeda dan sedikit berjalan kaki menuruni bukit ia sudah sampai di Neverland.

Tempat itu kosong dan tenang. Suara burung atau serangga jarang terdengar. Beberapa puluh meter di hadapan Peter, di seberang padang rumput yang luas, terdapat barisan pohon yang semakin jauh semakin tinggi dan rapat. Peter pernah mendengar, itulah perbatasan hutan.

Segera Peter duduk di atas rumput, mengeluarkan pensil dan buku sketsa dari tasnya lalu mulai mencoret-coret kertas. Sesaat ia berhenti untuk memandangi hutan itu. Bagi Peter, hutan itu terlihat ajaib. Padang rumput yang terhampar di antara dirinya dan hutan seperti penyeberangan menuju dunia lain. Dia sering membayangkan makhluk-makhluk ajaib akan muncul dari hutan itu. Bahkan, ia sedang menggambar salah satunya. Seekor rusa. Bukan rusa biasa tentunya, pikir Peter sambil menambahkan loreng di tubuh, surai di leher dan sayap-sayap di punggung rusa itu.

Sesekali Peter melirik ke arah hutan untuk menangkap bentuk pepohonan yang digunakannya sebagai latar, melengkapi rusa buatannya yang sedang terbang. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang lain. Peter memicingkan matanya. Sesosok manusia mengintip dari balik pohon. Rambutnya yang panjang dan berkilau melambai sesaat sebelum ia lenyap dari pandangan.

***

Hari Sabtu pagi, Peter bangun dan kaget melihat ayahnya berdiri di dapur. Walaupun tinggal bersama, mereka jarang bertemu. Ayahnya selalu pergi sebelum Peter bangun dan pulang setelah Peter tidur. Di hari libur ayahnya akan bangun lebih siang, jauh setelah Peter menghabiskan sarapan dan pergi.

Karena itu Peter masih terpana ketika ayahnya menoleh dan bertanya,” Mau telur?”

Peter hanya mengangguk dan duduk di meja makan, menatap punggung ayahnya dengan heran.

“Setengah matang? Atau..”

Peter tak menjawab. Dia lebih terbiasa diam, terutama sejak ayahnya membuang buku-buku cerita bergambar miliknya.

Karena tak ada jawaban, Pak Jennings merebus dua telur setengah matang dan meletakkannya di meja makan.

“Nah, ayo makanlah,” katanya sambil tersenyum.

Peter mengambil telur bagiannya lalu makan tanpa suara. Matanya terus menatap meja. Ia ingat ketika suatu hari ia pulang dan menemukan rak bukunya kosong. Sejenak kemudian ia merasa mual. Maka ia berhenti makan.

“Kenapa?” tanya ayahnya.

Peter menggeleng. Ia masih menunduk.

“Kalau tak suka setengah matang, akan kubuatkan yang lain,” kata ayahnya lagi.

Peter menggeleng lagi.

“Peter. Lihat dan jawab aku,” ujar ayahnya tegas. “Apa aku tak pernah mengajarimu sopan santun?”

Kali ini Peter menatapnya tajam.

Ibu yang mengajariku sopan santun. Terima kasih.”

Setelah mengatakan itu, Peter bangkit dari kursi dan segera menghilang seiring suara bantingan pintu depan.

Pak Jennings duduk tertunduk sambil meremas dahinya. Lima tahun yang lalu, ia sedih melihat Peter terus menangis sambil memeluk buku-buku cerita ibunya. Maka ia memutuskan untuk membuang buku-buku itu. Ia tak menyangka Peter akan menanyakan hal yang tak pernah bisa ia lupakan.

“KENAPA KAU MEMBUANG IBU?”

Peter berlari dan terus berlari. Baru ketika ia tiba di padang rahasianya, ia menyadari air mata telah menggenang dalam pelupuknya. Peter duduk dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut. Hanya di Neverland ini, tempat tak seorang pun akan melihatnya, ia membiarkan air matanya mengalir.

Setelah beberapa saat, ia merasa lebih baik. Semilir angin pagi yang sejuk dan lambaian lembut padang rumput membuatnya tenang. Tepat ketika ia mengusap matanya yang buram karena air mata, ia melihat kilasan perak dari hutan. Peter menggosok matanya lagi. Sekarang ia dapat melihatnya lebih jelas. Seorang anak perempuan berdiri memperhatikan dirinya, lalu berbalik dan menghilang dalam pelukan pepohonan.

Hari itu, Peter memutuskan untuk mengejarnya. Ia berjalan hingga hanya beberapa langkah dari pohon terluar. Setelah menghirup napas dan memberanikan diri, ia masuk ke dalam hutan. Dedaunan dan ranting pohon yang rapat membuat suasana sejuk dan hening. Berkas-berkas sinar matahari masuk melalui celah-celah ranting. Udara seolah berwarna hijau. Tak ada suara burung atau serangga. Hutan itu seperti sedang menahan napas.

Peter masuk semakin dalam dan mulai merasa kuatir kalau ia tak akan menemukan jalan pulang. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak semakin besar dan mengancam, seperti raksasa yang tertidur tapi dapat bangun sewaktu-waktu. Terlebih lagi, setelah sejauh ini pun, Peter sama sekali tak menemukan tanda-tanda gadis berambut perak itu. Ia menyerah dan memutuskan untuk pulang. Tapi setelah beberapa lama waktu berlalu, ia berdiri dengan wajah pucat. Ia tersesat.

Tepat saat ia hampir putus asa, seekor kupu-kupu melintas di depan wajahnya. Tanpa harapan, kakinya melangkah mengikuti arah terbang kupu-kupu itu. Tak lama kemudian, ia berdiri tercengang. Peter berada di depan semacam kubah pohon yang berlubang di tengahnya. Setiap dahan pohon saling berpautan membentuk jalinan yang rapi dengan banyak celah. Tempat itu bermandi kelap-kelip cahaya matahari.

Sang gadis berambut perak ada di tengah-tengah kubah cahaya itu. Matanya terpejam, seperti sedang menikmati siraman cahaya. Di sekelilingnya, kupu-kupu yang tak terhitung banyaknya ikut menari. Mereka membentuk barisan yang rapi dan mengalir, bagai selendang membalut tubuh anak berambut perak itu. Tapi yang lebih membuat Peter heran ialah hewan yang sedang ditunggangi gadis itu. Seekor rusa jantan, bertubuh loreng, bersurai, dan bersayap.

Tiba-tiba gadis itu membuka matanya dan melihat Peter. Bersamaan dengan itu seluruh kupu-kupu berhamburan, memaksa Peter menutup wajahnya dengan lengan. Ketika ia akhirnya dapat melihat kembali, ia sudah berada di luar hutan.

Malam harinya, di atas tempat tidur Peter berbaring telentang. Sambil menerawang ke arah langit-langit kamar, ia memikirkan pengalamannya hari itu. Saat Peter melihat gadis itu, sesuatu bergejolak dalam dirinya. Ada perasaan yang sama ketika ia dulu melihat ibunya duduk dan membuka sebuah buku cerita baru. Rasanya seolah seekor dari kupu-kupu yang berhamburan itu terjebak dan terus mengepakkan sayap dalam perutnya.

Tanpa ia sadari, Peter jatuh terlelap. Ia tak pernah tahu, ayahnya telah lama berdiri di luar pintu kamarnya. Pak Jennings menarik kembali tangannya yang telah menggenggam tombol pintu lalu melangkah perlahan ke kamarnya sendiri.

***

Sejak itu, setiap hari Peter masuk ke dalam hutan untuk mencari gadis berambut perak itu. Kadang yang ia temukan adalah hewan-hewan yang pernah ia gambar. Sekarang ia menyesal pernah membuat buaya raksasa buas untuk menelan Hookey. Bagaimanapun, bertemu buaya raksasa tidak terlalu menyenangkan.

Awalnya, ia akan terlempar ke luar hutan setiap kali gadis itu melihatnya. Tapi ia tak menyerah. Lama kelamaan gadis itu membiarkan Peter mendekat, bahkan cukup dekat untuk menggambarnya. Sayang, tak berapa lama si gadis berambut perak selalu menghilang. Sampai suatu hari ketika Peter menambahkan goresan terakhir dalam sketsanya, ia terkejut melihat gadis itu masih tetap berdiri di hadapannya.

“Ini lihatlah,” ujar Peter gembira sambil menunjukkan sketsanya. “Ini gambar dirimu. Bagaimana?”

Gadis itu menatap buku sketsa Peter dan meniliknya seperti seorang anak kecil melihat hal baru.

“Kau suka? Kutambahkan sayap peri di punggungmu. Terlihat bagus.”

Gadis itu tak menjawab. Ia sekarang memegang buku sketsa Peter dan membalik-balik halamannya. Tiba-tiba ia menunjuk sesuatu di sudut halaman yang bergambar dirinya. Mata hijaunya melihat Peter seolah bertanya.

“Tink. Singkatan dari Tinkerbell. Aku memanggilmu begitu, kecuali kau mau memberitahuku namamu sebenarnya,” jawab Peter.

Gadis berambut perak itu tidak menyahut. Ia menatap tulisan namanya dan menyusurinya dengan jari, seolah sedang menyelami setiap huruf, setiap bagian dari nama yang digunakan Peter untuk menyebut dirinya.

Tak lama kemudian hutan sudah bermandi cahaya keemasan dan Peter ingin pulang sebelum matahari terbenam. Tepatnya sebelum ayahnya pulang, agar tak perlu menjelaskan dari mana ia pergi seharian.

“Sampai bertemu besok, Tink,” ujar Peter sambil tersenyum, meninggalkan gadis itu duduk di atas batu berlumut.

Tepat ketika ia akan keluar dari hutan, Peter merasakan sesuatu menarik punggung bajunya. Ia menoleh dan melihat Tink sedang memegang bajunya. Tink tidak mengucapkan sepatah kata pun tapi raut wajahnya berkata ‘jangan pergi’.

“Besok. Aku janji akan datang lagi besok,” kata Peter.

Segera setelah mendengarnya, Tink mengangguk dan melepaskan pegangannya. Sejenak Peter ingin menyentuh rambut keperakan yang melambai itu, tapi ia mengurungkan niatnya. Peter pun beranjak meninggalkan hutan dan menyusuri padang. Dari balik bayangan pepohonan, sosok keperakan menatapnya hingga hilang tertutup semak.

***

Peter tidak lupa pada janjinya, tapi Dada Dawson menahannya di sekolah. Ia mendapat hukuman karena ketahuan menggambar ‘hal-hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran’ di saat ia seharusnya memperhatikan penjelasan tentang probabilitas. Peter dikenai detensi, dan harus menyelesaikan setumpuk soal-soal sebelum ia boleh pulang. Lebih buruk lagi, hujan turun.

Peter pulang ketika langit telah gelap dengan tubuh lelah dan basah, serta kepala yang sakit karena dihantam ratusan rumus dan persamaan. Baru saja ia membuka pintu rumah dan melangkah masuk, ia disambut suara yang tak diharapkannya.

“Peter. Aku perlu bicara sebentar,” kata suara itu dari ruang makan.

Peter mendesah panjang. Sengaja cukup keras agar terdengar ayahnya.

“Ini penting,” tambah ayahnya. “Sebentar saja.”

Peter membenamkan dirinya di kursi meja makan setelah mengeringkan diri dan mengganti pakaian. Pikirannya benar-benar sedang penuh. Ia hanya mendengar selintas kata-kata ayahnya. Jam kerja..pendidikan..lebih tepat…pindah. Apa, pindah?

“Pindah?”

“Benar. Jadi, aku sudah menemukan lingkungan yang lebih baik untuk kita,” kata Pak Jennings sambil menatap mata Peter dalam-dalam. “Aku juga akan mencari pekerjaan lain, supaya kita bisa..”

“Bohong! Ayah tak pernah membicarakannya denganku sebelumnya!”

“Setiap kali aku berusaha melakukannya, pikiranmu seperti sedang melayang entah kemana. Kau selalu melamun, menolak melihat wajahku, berpura-pura aku tak ada.”

“Ayah memang tak pernah ada!”

“PETER!”

Peter meringis. Pak Jennings berdiri mematung dengan sebelah tangan masih terulur. Napasnya memburu. Baru saja tangannya menampar anak semata-wayangnya itu. Peter berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Pak Jennings duduk di kursi meja makan. Tubuhnya gemetar. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang memerah.

Di dalam kamarnya, Peter berbaring meringkuk. Wajahnya merengut karena menahan tangis bercampur amarah. Pindah? pikirnya. Hal itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pindah berarti meninggalkan rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya bersama ibu. Pindah berarti meninggalkan semua kenangan berharga itu. Pindah berarti meninggalkan Neverland. Pindah berarti.. meninggalkan Tink. Tink. Ia sudah berjanji akan menemuinya hari ini.

Tidak akan. Tidak akan pernah, pikir Peter.

Dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian mengenakan mantel dan sepatu. Lalu ia membuka jendela kamar, melompat ke luar rumah, dan berlari menuruni bukit di tengah kegelapan malam. Kalau Ayah mau pindah, kata suara dalam benaknya berulang-ulang, dia bisa pergi sendiri.

Pak Jennings berdiri diam di depan pintu kamar Peter. Tangannya menggenggam tombol pintu. Dari luar terlihat lampu kamar Peter padam, menunjukkan pemiliknya telah tidur. Pak Jennings menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Setelah beberapa saat, ia mengetuk pintu.

“Peter, kau sudah tidur?”

Tak ada jawaban. Pak Jennings pun memutar tombol pintu dan masuk.

“Peter, aku mau minta..”

Kata-katanya terhenti. Matanya terbelalak. Lewat sinar bulan dari jendela yang terbuka, Pak Jennings bisa melihat tempat tidur Peter dengan jelas. Di atasnya hanya ada bantal dan selimut yang berserakan. Tidak ada Peter.

Peter sedang berdiri di tengah hutan. Sinar bulan mengalir di antara ranting-ranting dan dedaunan kemudian menerpa titik-titik air sisa hujan di tanah dan batang pohon, membuat seluruh bagian hutan seperti lautan bintang. Segalanya menakjubkan. Begitu pula dengan Tink.

Terpaan cahaya bulan membuat rambut perak Tink berkilau indah. Ia duduk di sebuah batu besar, dengan ratusan kunang-kunang menari di sekelilingnya. Dan yang paling mengagumkan, kini ia bersayap. Ketika ia melihat Peter, senyumnya langsung terkembang. Bersamaan dengan itu, sebagian kunang-kunang terbang dan menyambut Peter.

“Aku datang, Tink,” kata Peter gembira.

***

Di ujung lain dari hutan ada sebuah tebing. Di sisi tebing itu, beberapa batu mencuat dan bisa dipakai sebagai anak-anak tangga. Pagi hari Peter dan Tink mencoba menuruni tebing dan mereka menemukan pantai berpasir putih. Ombak berderai perlahan. Awan-awan melayang malas di angkasa. Langit biru bagai cermin yang memantulkan warna laut.

“Ini betul-betul Neverland,” kata Peter sambil berdecak kagum. “Aku akan tinggal disini selamanya.”

“Benar, kan, Tink?” tanya Peter sambil menoleh.

Tapi yang dilhat Peter bukan gadis berambut perak. Seorang wanita dewasa berparas lembut sedang tersenyum ke arahnya. Rambut ikalnya terjalin rapi menghiasi salah satu bahu.

“I..bu?”

“Peter, cerita apa yang paling kau sukai?” tanya wanita itu, masih dengan senyuman khasnya.

Peter ingat, ibunya pernah menanyakan hal yang sama. Dulu sekali, ketika ia masih kecil.

“Peter Pan,” jawabnya lirih.

“Benarkah?” tanyanya sambil tertawa kecil. “Kau benar-benar anak Ibu. Tapi jangan lupa, ya?”

“Lupa?”

“Ya. Kita sudah pergi berpetualang di Neverland, sekarang waktunya..”

Peter berusaha sekuat tenaga untuk mendengar. Suara wanita itu semakin menjauh. Bersamaan dengan itu, tubuhnya dan ibunya seperti dipisahkan kekuatan tak terlihat. Semakin lama semakin jauh, menyusut dengan cepat. Tak terjangkau, sekalipun Peter berusaha meraih tangannya.

Ibu, tunggu! teriaknya dalam hati.

Sejurus kemudian, Peter membuka matanya. Tangannya teracung ke udara. Langit gelap. Ia tidak berada di pantai. Ia masih ada di dalam hutan, berbaring di atas anyaman rumput. Ia lega menemukan Tink duduk di samping kepalanya.

Samar-samar ia mengingat kalimat terakhir ibunya. Ia pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Di suatu tempat. Dalam bisikan. Baru saja ia duduk hendak memikirkan mimpinya, sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Peter! Peter!”

Jauh, tapi Peter mengenali suara itu.

Peter pura-pura tak mendengarnya, tapi Tink terus memandang ke arah datangnya suara itu.

“Tink?”

Tiba-tiba Peter melihat pepohonan bergerak. Mereka seolah berlari hendak menabrakkan diri padanya. Ketika melihat ke bawah, Peter melihat seluruh tanah bergerak seperti sungai deras, kecuali sebagian kecil yang berada di bawah dirinya dan Tink. Dari sela-sela jarinya yang menutupi mata, ia melihat selintas punggung Tink dengan sayap terlipat.

Ketika akhirnya pohon-pohon berhenti bergerak, Peter mendapati dirinya duduk di atas hamparan daun. Tink ada di sebelahnya, menunjuk ke suatu arah. Di arah yang ditunjuknya, Pak Jennings sedang berdiri.

Ia berjalan ke sana ke mari, meneriakkan nama Peter. Peter mundur selangkah. Ayahnya sudah dekat dengan pintu masuk hutan. Ia kuatir kalau-kalau bayangan hutan tak mampu menyembunyikan dirinya. Ia akan kembali ke dalam hutan. Tapi sebelum itu, Peter menoleh ke arah Tink, mencari dukungan. Tink menjawabnya dengan alis berkerut dan kembali menunjuk ke arah ayahnya.

Peter menggeleng. Tidak. Kau tidak mengerti.

“Dengar, Tink. Kalau aku keluar sekarang, aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi,” ujar Peter setengah berbisik. Jangan sampai ayahnya bisa mendengar suaranya.

“Aku tak mau itu terjadi. Kau juga, kan?”

Pertama-tama Tink menggeleng, tapi wajahnya berubah bingung. Alisnya semakin berkerut. Mulutnya setengah terbuka, kemudian ia menggigit bibirnya seolah hampir saja mengatakan sesuatu. Lalu ia menunduk dan terus menunduk, hingga Peter merasa kehilangan.

“Tink?”

“…sekarang..”

“Eh?”

“Sekarang waktunya, Peter,” katanya lagi.

Peter tercengang. Baru kali ini Tink berbicara padanya.

Tapi itu suara ibu. Ia teringat ucapan ibunya ketika ia menutup buku cerita. Ia selalu mengucapkannya sambil tersenyum. Kata demi kata.

“Nah, Peter, kita sudah pergi berpetualang di Neverland. Sekarang waktunya pulang.”

Masih tertegun, Peter merasakan Tink mendorong tubuhnya. Ia melihat semuanya seperti bergerak lambat. Wajah Tink. Mata hijaunya berurai air mata. Rambut peraknya terlihat redup.

Detik berikutnya ia merasa badannya terhempas di padang rumput. Lalu ia merasakan seseorang yang besar merengkuhnya. Ayahnya. Sesuatu yang hangat mengalir membasahi rambut dan wajah Peter. Ada perasaan yang aneh meluap dalam dadanya. Perasaan yang hangat. Sama seperti dulu.

Di hari ibunya pergi, ayahnya juga merangkulnya seperti ini. Peter masih begitu mungil, sehingga walaupun ia berdiri, ayahnya bertumpu pada lutut untuk mendekapnya. Saat itu, ayahnya tidak menangis. Peterlah yang menangis keras-keras. Kini ayah yang begitu besar gemetar. Ayah yang begitu tegar menangis.

“Maafkan aku,” kata ayahnya berulang-ulang.

Selama ini Peter selalu merasa kesepian. Tapi ia menyadari bahwa ia sendiri yang membangun tembok untuk mengurung diri. Dengan begitu ia tak akan lagi merasa kehilangan, sebab yang ia punya hanya dirinya. Semua orang ada di luar tembok itu, termasuk ayahnya. Seorang ayah yang terus-menerus melihat dan menunggu anaknya dari balik tembok pasti merasa kesepian juga.

“Tidak, Yah,” bisik Peter sambil memeluk ayahnya. “Maafkan aku.”

Malam itu, di rumah, ayahnya menceritakan segala hal yang selama ini disimpannya sendiri. Ibunya, Wendy, berasal dari keluarga bangsawan, sedangkan ayahnya, Edward, orang biasa. Kedua keluarga tak menyetujui hubungan mereka tapi mereka melarikan diri dan menikah. Beberapa kali mereka berpindah tempat karena keluarga Wendy selalu mengejar dan berusaha membawanya kembali.

Tempat terakhir mereka tinggal bersama adalah rumah Peter yang sekarang. Bagi Wendy, hidup bersama Peter dan Edward seperti tinggal di Neverland. Ia sangat bahagia. Tapi kadang, di waktu malam, ia teringat ibunya yang menangis dan jatuh sakit waktu ia pergi. Ia tak bisa tinggal di Neverland selamanya. Suatu hari Wendy memutuskan untuk pulang, karena keluarganya membutuhkan dirinya. Walaupun berat hati, Edward menyetujui keputusan Wendy.

Sayang, setahun kemudian Wendy pun meninggal karena sakit. Dan bagian terakhir kisah ini ialah satu-satunya yang Peter tahu sampai ayahnya menuturkan keseluruhan cerita itu.

***

Di hari Peter akan pindah ke kota lain, untuk terakhir kali ia mengunjungi Neverland. Padang rumput itu bergalur-galur karena hembusan angin. Udara pagi masih sejuk. Peter duduk, menikmati pemandangan. Pikirannya berkelana ke malam waktu itu, dalam perjalanan pulang dari hutan bersama ayahnya.

“Untunglah seorang tetangga melihatmu berlari ke balik bukit, maka aku mengejarmu,” tutur ayahnya.

“Kupanggil namamu berulang-ulang tapi tak ada jawaban. Kau..lenyap begitu saja. Dan, astaga, hampir jantungku berhenti waktu melihatmu terbaring di atas rumput.”

Peter tertawa kecil.

“Maaf, Yah. Sebelumnya aku bersembunyi di dalam hutan.”

Ayahnya tertegun. Sambil mengernyitkan dahi, ia menatap Peter.

“Hutan? Hutan apa?”

Tak ada hutan. Tak pernah ada yang melihat hutan di padang Neverland. Sejak malam itu bagi Peter pun sama. Sejauh matanya memandang hanya ada padang rumput. Beberapa kali Peter mencoba datang ke tempat ini, hutan itu tak pernah terlihat lagi. Demikian juga Tink.

Awalnya Peter kehilangan, tapi kemudian ia lega. Rasanya seperti menutup satu buku cerita kemudian membuka yang baru, kali ini bersama ayahnya. Segera setelah ayahnya membunyikan klakson, Peter berlari dan masuk ke dalam mobil.

“Bagaimana? Kau siap?” tanya ayahnya.

Peter tersenyum dan mengangguk.

“Ada yang tertinggal?” tanya ayahnya lagi, sambil menilik barang-barang yang berdesakan di bagian belakang mobil.

Peter tersenyum lebar sambil menatap jalan di balik kaca depan.

“Tidak. Tidak ada.”

 

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

132 Responses to Neverland

  1. Voxa / El-Lydr says:

    Peter and Tink ( panggilan sayang sama pacar)..
    T.T
    Jadi kayak baca cerita diri sendiri.
    #Dihajar
    #Bukannya komen malah curhat
    XDd
    Gak bisa ngomong apa-apa lagi, suka banget sama Peternya.
    <3 <3

    • negeri tak pernah-48 says:

      Pertama-tama, makasih dah mampir :D

      Trus, aku ga gitu ngerti sih. Maksudnya namamu Peter trus kmu panggil pacarmu Tink?

      Apapun itu, makasih udah baca dan suka hehehe ^^

  2. frenco says:

    sangat Eropa ceritanya, tetapi harus kuakui ceritanya bagus sekali.

    narasinya dibangun sangat apik.

    mulai dari sekarang mesti belajar banyak dari Peter Pan nih hehehe…

    Franco 218

  3. Fransisca Liang says:

    Teduh… tapi sayang kurang konfliknya

  4. Stella says:

    Halo! Akhirnya bisa baca cerita ini juga. Salam dari lapak 13 ^^

    I’m a big fan of Peter Pan :D.
    Dan agak ngerasa seperti baca AU fanfiction nya.
    Bagus banget. Good luck yah!

  5. Rahadin says:

    Wakakak, saya baru sadar ini ada hubungannya dengan Peter Pan pas tau kali si cewek rambut perak ternyata dinamai Tink.

    Sangat suka dengan penyelesaian masalah antara Peter dengan ayahnya, heartwarming sekali.

    Cerita yang sangat bagus! :)

  6. Nichole A says:

    salam dari lapak 200!!

    hmm… fantasy banget! i like that… ^_^
    Peter ini siapanya Peter Pan ya?? sepupunya kah? atau ponakannya?
    hahahahahaha *just kidding!*

    • negeri tak pernah-48 says:

      kayanya cucu dari saudara tiri nenek ipar ibunya :D

      thanks dah mampir~ ntar jalan-jalan ke nomer 200 juga.

  7. red_rackham says:

    (O w O)

    *nangispelangi.jpg

    Ini bener2 heart warming sekali. Kalau ini forum macam kemudian.com, bakalan saia timpuk full-point dan kalau ini forum macam kaskus atau indowebster, bakalan saia timpuk banyak2 pakai cendol/reputasi. Tadinya saia pikir bakalan klise karena saia tebak ini referensi kuat dari cerita Peterpan, tapi ternyata tidak. Tema itu digarap dengan baik dan alurnya mengalir pas sekali. Love it.

    Saia harap cerpen ini menang atau paling ga masuk ke kumcer FF2012.

    Very good story, good luck and keep on writing~! (o__<)b

    PS:
    Sudahkah anda berkunjung ke Planetarium saia di no.18?

    • negeri tak pernah-48 says:

      Uwaahh.. banjir air pelangi di lapak saya.. :D *dipandangi sebentar sebelum dipel

      Hahaha. Makasih banyak. Planetarium udah saya kunjungi. Udah PO galaksi-dalam-kotak malah. Ceritamu juga bagus koq. May the best story win :D

  8. Hm. Pelangi ditatapi sebentar ya? Menarik. Memang tak perlu diratapi.
    Setubuh. May the best stories win. (Hey Hey Gryffindor! ;) )

    Super Smiley for all of us here, today, this cozy freezing morning.
    Wilujeng ngetik.

  9. Gemmyni says:

    Hallo,, Aku SUKA BANGET NEVERLAND & PETERPAN!

    “let me go to never neverland let me fly for one day and throw that fairy dust in my hair, so I can pretend I’m flying away!” *singtogether

    Penceritaannya mulus, enak bacanya. Terasa ikut masuk ke neverland nya, *aku jg pny “neverland” ku sndri, hehe..
    Aku mikirnya ke sisi psikologis jg dh jadinya terbentuklah neverland. Tink (ilustrasinya cantik bgt!) seperti tmn imajinasinya dan hutan itu tempat yg nyaman untk katarsis.. Apalagi stlhnya hutan itu ngga nyata :D
    Sukses terus ya :D

  10. Mr A says:

    well, ini baguss. aku suka dengan penuturannya.. gaya ceritanya.. konsepnya sebenarnya sederhana, tp lumayan ada pesan moralnya. yg gw bingung, maksudnya ada si tink itu apa? apakah itu perwujudan ibunya? klo untuk ceritanya sih, klo gw udh bisa nebak endingnya, soalnya dr awal kyknya bapaknya mau cerita sesuatu.. tp cerita bapak.ya ttg ibunya yg bangsawan dll kurang kena dan agak gak penting. hrusnya bisa dibikin lebih emosional lagi, misal ibunya meninggal saat si anak lahir,dsb.. well dan gw nemu bbrp tanda baca yg kurang tepat. selebihnya, cerita ini teduh :) oia, jujur, ilustrasi cerpen ini, menurut gw yg paling indah sejauh ini. keep on writing :) klo bisa mampir ke 156 :)

  11. Bing Ung says:

    o well, cerita ini kekanakkan, dan konfliknya sangat anak-anak

  12. Narasinya bagus, ceritanya heartwarming.
    I love it :D

    Hanya saja, yang sedikit bikin bingung, itu pelajaran + hukuman buat anak kelas 5 kok sepertinya agak ekstrim, ya? :p

    • negeri tak pernah-48 says:

      Makasih udah baca dan suka :D

      Ohohoho, beban pendidikan anak masa kini emang dahsyat… :D
      FYI, geometri dan probabilitas itu udah ada di kelas 3 SD saya walau masih konsep dasarnya aja.

  13. cielsinomor183 says:

    ok, saia datang mampir~~ xD

    secara keseluruhan saia suka narasi dan gaya penceritaannya. ilustrasinya juga keren. :3
    this is really a heartwarming story..

  14. Luck says:

    Hai :) ceritanya sangat2 enak dibaca, cuma aku ngga dapet apa sebenernya inti dari cerita ini… Apakah si peter sebenernya ngga mau meninggalkan dunia khayalannya? Tapi kalau dibilang ngga mau, begitu cepat dia berubah pendapat. Si tink sendiri sebenernya mau si peter tinggal atau ngga? Kok kayaknya pengennya sih tinggal, tapi kok ya diusir… And the million dollar question is…. Why??? Knapa si tink malah ngusir? Dan kenapa secepat itu peter berubah pendapat? Jadi kalo aku bilang, untuk membuat pesan, sooner or later you’ll need to move on – nya jadi ngga berdasar… Itu kalau aku ngga salah menebak apa yang ingin kamu sampaikan :)

    • negeri tak pernah-48 says:

      hola~
      makasih udah baca dan komen ^^

      Kenapa? karena…kalo ga cepet berubah pikiran ntar keburu nabrak kuota 3000 kata. *kemplang :D

  15. Narasinya rapi dan ngalir, ceritanya simpel tapi bermoral. Sama seperti pembaca lain yang sudah menyebutkan, saya juga baru sadar ini ada hubungannya dengan Peter Pan ketika Peter menyebut si peri sebagai Tinkerbell.
    Dan saya sempat mengira ini sedang menuturkan tentang bagaimana Peter Pan bisa menjadi bos di Neverland. Ternyata saya salah.
    Good job! :)

  16. hadiyahmarowati says:

    bagus ceritanya, memang menyenangkan bila mempunyai sebuah tempat menyendiri semacam neverland, asalkan jangan lupa dunia nyata tentunya. :)

  17. shaoan says:

    Hi Milfeule! :D
    Dada Dawson? *gubrak* :D ini keren sih. Komplen gw cuman satu: Gw agak ngerutin kening waktu baca bagian ibunya ternyata bangsawan dan bokapnya itu orang biasa, dst, dst. Kesannya sinetroniyah banget yah? Dan bagian itu kayanya cuman elu tulis kaya tempelan aja, buat sekedar ngejelasin latar belakang hubungan mrk. Kl gw pribadi sih, bagian itu mending dipangkas aja (kayanya tanpa bagian itu cerita ini jg ud jelas konfliknya & dapet feel-nya) . Atau kl mau dijelasin ya jelasin sekalian dgn porsi lebih banyak. Soalnya itu awal mula konflik antara Peter dan bokapnya jg, dan kayanya kl digarap lbh bagus bisa lbh emosional jg ntar di endingnya. :D

    • negeri tak pernah-48 says:

      *manggut2 setuju.

      Itu nama si ibu guru hasil ngarang tanpa mikirin artinya dalam bahasa Indo sih. Cuma iseng maenin dua huruf pertama Dawson doang.. haha.

      Iyaaaa setuju sama sinetroniyah. Di bagian situh udah megap-megap dagh. Kalo dipangkas kaya kurang jelas, kalo ditambah ga muat.. =_=!

  18. Nyaaa… nice.

    Kalau suasana “rural England”-nya mau lebih ditonjolkan, penulisannya bisa diubah sedikit. Bu Dawson, misalnya, bisa dijadikan “Miss Dawson”; dan selucu-lucunya Dada Dawson–serius, itu bikin saia nyembur kopi–mungkin julukannya bisa diganti dengan apapun yang lebih cocok dengan suasana.

    Kalau sisa-sisa rasa ngendonesah ini mau dipertahankan oleh penulis, (barangkali karena tekanan dari beberapa pihak untuk “tidak kebarat-baratan”), saia nggak akan protes lagi. Begitupun, saia akan tetap merasa bahwa cerita ini sangat “barat”, dalam arti yang baik. Kalau boleh pake analogi, cerita ini bukan cerita bule celup. Ini cerita yang dari lahir emang udah bule. Alangkah baiknya jika dia dibiarkan tetap jadi dirinya sendiri.

    • negeri tak pernah-48 says:

      Huaaa, dikunjungi Luz juga akhirnya *terharu*
      *lagiseringterharugaragarafantasifiestanyaudahan*

      Makasih buat masukannya :D
      Syukurlah klo ini bukan bule celup, tapi anak bule yang lahir di Indonesia.

  19. 147 says:

    maap bgt kak kmaren dah komen tp g berhasil terus x3
    ini lbh kerasa d psikologinya drpd fantasinya sih
    tp bagus bgt kak, suka bgt sama tipe cerita kluarga heartwarming bgini <3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>