OSIS

OSIS

karya Alexander Blue

Sudah hampir satu jam berlalu sejak Pak Rudi, guru fisika kami yang merupakan seorang perjaka tua, mengajarkan teori relativitas Einstein. Hampir semua murid di kelas melakukan kegiatan lain selain mendengarkan ‘khotbah’ membosankan darinya dari bermain handphone hingga berkhayal dengan muka mesum seperti Vincent, teman duduk sebelahku.

Bukannya Pak Rudi tidak peduli dengan ulah para murid kelas XI-2 IPA ini, namun ia sudah puas asalkan ada satu atau dua orang yang memperhatikannya seperti si cantik Diana yang duduk di paling depan. Ketua OSIS kami yang juga merupakan primadona sekolah tersebut selalu serius belajar setiap mengikuti pelajaran apapun. Selain memiliki wajah rupawan, kulit putih, dan tubuh semulus penyanyi Beyonce, ia juga sangat berbakat dalam seluruh bidang olahraga.

TUK!

“Aduh! Sakit tau!” decakku dengan sebal karena dipukul dengan pulpen oleh si mesum Vincent.

“Elo ngeliat ke mana? Itu si perjaka ting tong lagi nerangin fisika kok elomalah fokusnya ke si primadona? Mikir apa hayooo,” ejek Vincent.

“Heh,gue cuman lagi mikirin ujian seni musik nanti. Suara gue kan bagus, takut menjatuhkan mental murid lainnya gitu loh.”

Vincent spontan menusuk dadaku dengan ujung pulpen sampai aku hampir saja berteriak kesakitan.

“Aduh!! Sakit tau dasar bego mesum!”

“Hush! Daripada elo mikir hal ga penting, mending cariin cara untuk kita ‘selamat’ di ujian nanti dari dia,” ujar si mesum sambil melirik ke arah sang primadona.

Aku mengikuti Vincent melirik Diana sepintas dan melihat jam dinding di atas whiteboard. Pelajaran fisika hampir berakhir dan dilanjutkan dengan seni musik. Pelajaran yang menyenangkan bagi sebagian orang namun menyengsarakan bagi yang lainnya.

***

Dan dimulailah saat-saat menyengsarakan tersebut.

“Diana Valentine”

Nama sang primadona dipanggil oleh Ibu Anisa, guru seni musik kami sekaligus penasihat OSIS yang masih muda. Biasanya, seluruh mata murid sekelas akan berbinar-binar setiap melihat primadona berjalan dengan anggun bak model kelas dunia. Sayangnya, hal ini tidak berlaku setiap ujian seni musik.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Anisa dan teman-teman sekalian. Untuk ujian kali ini, saya akan menyanyikan Yamko Rambe Yamko, lagu daerah dari Papua,” pidato singkat sang primadona sebelum mulai bernyanyi. Nyanyiannya terdengar seperti klakson truk berat.

“Suaranya bahkan bisa membuat zombie mati,” bisik Vincent sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.

Meskipun memiliki suara yang kurang bagus, ia tetaplah seorang primadona yang sempurna bagiku.

Dari empat… Menjadi… Tiga…

DUARRRRR!!!

“!!!”

Seisi kelas langsung terkaget ketika mendengar ledakan tersebut.

Lycan…,” ucap primadona dengan tiba-tiba sambil berlari ke luar kelas.

Seluruh murid panik, namun Ibu Anisa menenangkan kelas dengan mengatakan bahwa OSIS dapat mengatasinya.

“Percayalah semuanya, Diana dan anggota OSIS lain dapat mengatasi serangan para Lycan tersebut. Mari kita mendoakan keselamatan mereka dari sini, dan jangan ada yang beranjak keluar dari kelas,” ajak Ibu Anisa dengan suaranya yang menenangkan.

“Hmm.. Setidaknya kita tidak perlu mendengar nyanyian Diana untuk sementara. Ya kan Vi-… Alvin?” ujar Vincent yang terkejut ketika melihatku beranjak dari kursi dan berlari keluar kelas.

Aku berlari mengejar primadona tanpa menghiraukan teriakan Alvin maupun Ibu Anisa. Aku sangat ingin melihat pertarungannya dengan para Lycan, manusia setengah serigala dengan kemampuan fisik yang lebih unggul dari manusia pada umumnya.

Setelah berlari menyusuri lorong sekolah yang seolah tak berujung ini, aku menuruni tangga untuk menuju ke wilayah laboratorium sains di lantai satu. Sebuah kepulan asap putih tampak menyembur dari dalam ruang laboratoium fisika. Aku segera memasuki ruang tersebut dan mendapati adegan pertarungan yang menakjubkan.

“Haiiittt!!”

Sang primadona menghujamkan pukulan mautnya bertubi-tubi pada tiga… ah empat ekor Lycan yang datang menyerbunya dari berbagai arah. Para Lycan tersebut menggunakan celana abu-abu, yang berarti mereka sebelumnya adalah para murid.

“Hiaattt!!”

Tendangan primadona mengenai telak kepala seekor Lycan yang menyerang dari belakang dirinya. Lycan tersebut jatuh tersungkur di lantai dan sang primadona mengambilnya untuk melemparnya ke arah dua ekor Lycan lain yang mencoba mendekati primadona.

Satu ekor Lycan tiba-tiba menyerang dari arah atas ketika sang primadona tampak tak menyadarinya, namun sebuah anak panah tiba-tiba melesat dan menembus persis bagian tengah kepala Lycan malang tersebut hingga darah berhamburan. Seorang ceweberkuncir kuda dan kurus pendek berdiri di belakangku.

“Apa yang murid biasa lakukan di sini? Cepat pergi dan berlindung di salah satu kelas!” teriak cewe bermuka judes yang kukenal sebagai salah satu anggota OSIS.

“Alvin!? Apa yang kau lakukan di sini?” teriak primadona sambil menendang perut seekor Lycan yang menerjangnya tiba-tiba. “Elisa, antarkan dia ke kelas terdekat. Aku masih bisa menangani semuanya sendirian di sini.”

“Hm, oke. Kalau begitu hati-hati-.. AWASS!!”

Seekor Lycan tinggi berjas praktikum tiba-tiba menerjang primadona, namun ia terlambat menyadarinya. Cakarnya yang tajam hampir merobek perutnya, namun panah yang dilesatkan Elisa ke arah lengan Lycan tersebut dan gerakan reflek primadona berhasil meminimalisir luka yang timbul.

“Ia pasti Pak Timothy, guru praktikum fisika yang dijuluki sebagai tiang listrik. Hati-hati Diana,” ujar Elisa sambil menyiapkan beberapa anak panah sekaligus. Sang primadona mengangguk pelan dan menyiapkan kuda-kuda untuk mulai menyerang Pak Timothy.

Aku berjalan mundur perlahan keluar dari ruang praktikum karena masih ingin menyaksikan pertarungan tersebut dari jarak aman, namun seekor Lycan pendek yang mengenakan rok abu-abu tiba-tiba saja muncul dari arah belakangku dan menyerang… Elisa.

“AWAS!!” teriak primadona namun terlambat.

Tangan Elisa berhasil dilukai dengan parah ketika ia melesatkan anak panahnya tepat ke arah mata Lycan pendek tersebut. Darah segar mengalir membasahi lengannya yang putih.

Lycan Pak Timothy tiba-tiba menerjang primadona hingga berhasil menjatuhkannya, kemudian ia langsung menerkam Elisa yang lengah akibat serangan sebelumnya.

“ELISAAAAA!!”

Primadona berteriak kencang denganwajah pucat ketika melihat rekannya dimutilasi dalam sekejap oleh Lycan Pak Timothy. Hujan darah terjadi tepat di hadapanku.

Primadona tampak kesulitan untuk bangun, sedangkan Lycan tinggi tersebut kini memalingkan wajahnya ke arahku setelah puas mencabik-cabik tubuh yang sudah tak bernyawa lagi di hadapanku.

***

Hujan turun dengan deras, namun prosesi pemakaman Elisa yang cukup mewah berjalan dengan lancar.

Sang wakil ketua OSIS kami yang berwajah jutek tersebut telah gugur dalam pertempuran di ruangan praktikum. Seluruh teman dekat dan keluarganya menangis sejadi-jadinya di dekat makam tempat Elisa berbaring untuk selamanya. Dua anggota OSIS yang lain datang membantu tepat pada waktunya sehingga seluruh Lycan di ruangan praktikum berhasil dibunuh.

Primadona masih berdiri di dekat makam Elisa, berusaha untuk menegarkan wajahnya yang tampak pucat.

“Usa… Ah, maksudku Diana,” ucapku sambil menghampiri primadona dengan perlahan, “Aku turut berduka atas kepergian salah satu anggotamu.”

Primadona masih berdiam sejenak sebelum akhirnya memandangkan wajah cantiknya ke arahku.

“Al-.. Oka, apa yang kamu lakukan waktu itu? Kamu mungkin memiliki indigounik yang membuatmu tidak pernah diserang para Lycan saat tidur sekalipun, namun keberadaanmu waktu itu menyulitkan aku dan Elisa dalam membasmi para Lcyan…,” lirih primadona.

Indigo merupakan istilah yang mengacu pada kekuatan terpendam seorang manusia. Hanya aku dan primadona yang mengetahui indigo unik yang kumiliki ini.

“Kita adalah teman sepermainan sejak kecil, jadi seharusnya kamu bisa mengerti keadaanku sebagai seorang ketua OSIS kan? Kami ada untuk melindungi kalian semua, para murid dan guru SMA Sumpah Pemuda 1,” ucap primadona dengan suara bergetar.

Primadona dan aku sudah saling kenal sejak masih kecil. Ia kupanggil Usagi, atau Usa, yang berarti kelinci dalam bahasa Jepang. Nama itu kuberikan karena kulitnya yang putih bersih dan sayuran kegemarannya adalah wortel, seperti kelinci. Sebaliknya, primadona menjulukiku Okami yang berarti serigala karena indigo yang kumiliki seolah-olah membuatku seperti dewa para Lycan. Panggilan Oka berasal dari julukan tersebut.

Lycan sendiri konon merupakan alien yang datang ke bumi dan menyebarkan semacam virus yang disebut Lycanolog. Virus tersebut dapat menyebabkan manusia berubah wujud menjadi Lycan tanpa dapat kembali ke wujud manusia. Keberadaan mereka baru diketahui khalayak umum sejak 17 tahun yang lalu. Lycan yang berasal dari luar angkasa disebut sebagai Lycan Alpha, atau sebagian orang menyebut mereka sebagai Okami.

“Sekarang apa yang harus ku-… ”

Primadona berhenti berkata-kata ketika aku mengusap keningnya seperti yang sering kulakukan padanya waktu kami masih kecil dulu.

“Yang berlalu biarlah berlalu. Aku mau mencoba tes masuk OSIS yang akan diadakan minggu depan,” ucapku sambil tersenyum.

Muka primadona yang sedari tadi muram berubah jadi terkejut.

“HAH? Kamu yakin Oka?. Kamu mungkin punya keuntungan karena memiliki indigo yang unik, tapi yakin bisa lolos? Nilai kamu kan jelek-jelek,” tanggap primadona spontan atas ucapanku sebelumnya.

“Yah mungkin aja kan hoki-..”

Honeyyy!? Kamu ngapain sama orang aneh itu?” teriak seorang cowo berkulit pucat menyebalkanyang memotong pembicaraanku dengan primadona.

“Ah, Marco, aku hanya mengobrol sebentar dengan Ok-.. dengan Alvin kok.” jawab primadona pada pacarnya yang norak tersebut.

Primadona berpacaran dengan orang norak ini sejak awal kelas X. Mereka langsung jadian saat baru saling mengenal. Entah apa yang ada di pikiran primadona waktu itu.

“Duh cinta, mending sekarang kamu temenin aku ke mall. Lapar nih. Langsung capcus yuk, sekalian mau liat diskon di salon,” ucap albino norak yang agak kemayu tersebut sambil menarik lengan putih primadona.

“Ahaha iya Marco. Aku temenin kok,” primadona berjalan sambil ditarik namun sempat menoleh kepadaku sambil menyemangatiku, “Semoga kamu berhasil ya Oka!”

Aku melempar senyum kepadanya sambil membayangkan tes seperti apa yang akan kulalui nanti.

***

Aula sekolah yang luasnya kurang lebih separuh lapangan sepakbola dengan langit-langit tinggi ini menjadi saksi bisu seremonial dimulainya tes masuk OSIS. Tidak sampai dua puluh murid yang menjadi peserta tes masuk ini.

Pak Fritz, kepala sekolah kami yang berbadan besar dan selalu memakai jas abu-abu ke manapun ia pergi bahkan ke kolam renang sekalipun, mengucapkan pidato pembukaan yang membosankan selama dua jam sebelum akhirnya menjelaskan mengenai tes yang akan dialui para calon anggota OSIS yang baru. Primadona beserta dua anggota OSIS yang lain dan Ibu Anisa berdiri di belakangnya.

“Tes yang akan kalian jalani terdiri dari tiga macam, yaitu tes fisik, kepandaian, dan mental,” Pak Fritz tiba-tiba mengangkat sebuah kepingan seperti medali dengan lambang OSIS.

“Kepada kalian yang berhasil melalui seluruh tes akan diberi kepercayaan untuk mengenakan medali OSIS ini. Medali ini berfungsi untuk memaksimalkan potensi tersembunyi dalam diri masing-masing, atau disebut indigo, termasuk mematerialisasi benda terkait dengan indigo tersebut,” jelas kepala sekolah berambut botak tersebut sambil menyuruh salah seorang anggota OSIS untuk maju.

Simon, anggota OSIS yang kurus ceking dan berkacamata tebal serta tidak pernah terlihat tersenyum apalagi tertawa, memeragakan dirinya mematerialisasi sebuah buku tebal.

“Psstt, Vin. Kalau gue, kira-kira apa ya yang bakal termaterialisasi? Moga-moga pedang perak besar, kan keren. Hehe,” bisik Vincent yang juga ikut tes masuk OSIS karena iseng.

Meneketehe? Buat lu yang mesum sih kayanya DVD porno atau artis bokep yang bakal termaterialisasi,” jawabku cepat sambil membayangkan Lycan berbikini seksi mengalihkan perhatian Lycan-Lycan cowo saat mereka diserang para anggota OSIS.

Tidak lama kemudian, tes pertama dimulai. Frans, anggota OSIS yang berbadan gemuk dan muka penuh jerawat, memegang sebuah alat berbentuk detektor logam.

“Tes pertama adalah tes mental. Saya akan mengetes kalian dengan menggunakan alat baru yang disebut Lycan Detector ini untuk mengukur resistensi terhadap virus Lycanolog. Silakan berbaris satu demi satu,” jelas Frans sambil menyiapkan detektor tersebut.

Satu per satu murid mulai diperiksa dengan detektor tersebut, namun entah mengapa wajah Frans tampak kebingungan setiap selesai memeriksa murid.

“Ada yang aneh Frans?” tanya Vincent yang menjadi ‘pasien’ berikutnya sebelum giliranku diperiksa ‘dokter’ Frans.

Frans menjawab sambil menghidupkan detektor tersebut ke arah Vincent, “Err, dari tadi hasil pembacaan detektor ini…”

Dari tiga… Menjadi… Dua…

ZLEEBBB!!

“AGGHHHH!!!” teriak Frans tiba-tiba saat perutnya ditusuk oleh Vincent yang berubah menjadi Lycan dengan sangat mendadak.

“Fransss!!” Simon dan primadona yang sibuk dengan persiapan tes berikutnya belum sempat bertindak apa-apa saat rekan mereka diserang oleh Lcyan Vincent tersebut. Dalam sekejap, lebih dari setengah murid peserta tes OSIS berubah menjadi Lycan dan membantai murid-murid lainnya.

Frans ditusuk berkali-kali oleh beberapa Lycan sehingga menyerupai sate manusia. Sepertinya tidak mungkin nyawanya dapat tertolong. Primadona dan Simon bergerak cepat untuk meredakan serangan para siswa yang telah menjadi Lycan tersebut. Aku dan beberapa murid yang selamat berlari ke pojok aula untuk berlindung bersama Ibu Anisa dan Pak Fritz, karena jalan menuju pintu keluar aula terhalangi oleh pertempuran OSIS dengan Lycan.

Primadona mengeluarkan berbagai jurus tangan kosong untuk menaklukkan para Lycan, sedangkan Simon menggunakan bukunya untuk memunculkan efek semburan es dan petir. Ia mirip sekali dengan para penyihir dalam game-game petualangan.

“Kenapa para murid peserta tes bisa tertular virus Lycanolog tiba-tiba begini!?” teriak primadona sambil menghantam kepala seekor Lycan.

“Tenang Diana, sebaiknya mereka dibereskan dulu baru kita investigasi-..”

“Bagaimana aku bisa tenang Simon!? Frans terbunuh dengan tiba-tiba seperti ini! Kita kehilangan lagi seorang anggota OSIS!”

“Aku tau Diana! Tapi prioritas kita saat ini adalah menjamin keselamatan kepala sekolah dan mereka yang sedang berlindung di sana-.. AWASSS!!!”

Dari dua… Menjadi… Satu…

“KYAAA!!!”

Sebuah semburan api besar tiba-tiba menyerang ke arah primadona, namun Simon melompat mendorongnya sehingga separuh tubuh bagian bawahnya terbakar. Sumber api tersebut adalah seekor Lycan yang berdiri di sampingku. Ya, Ibu Anisa telah tertular virus Lycanolog dan bergerak cepat menyerang OSIS.

Lycan Ibu Anisa menyerang Simon yang lumpuh tak berdaya, namun primadona yang baru diselamatkan Simon dengan sigap menghalangi serangannya. Aku masih terdiam di tempat.

“Kenapa Ibu juga bisa tertular virus Lycanolog!? Kenapaaa!?” teriak primadona dengan histeris yang kini harus menghadapi Lycan Ibu Anisa beserta beberapa Lycan lain mantan siswa peserta tes.

Dengan tubuh yang terbakar separuh, Simon berusaha membantu primadona dengan memunculkan efek petir yang berhasil membunuh paraLycan siswa. Lycan Ibu Anisa bergerak sangat lincah sehingga sulit diserang Simon, namun primadona yang memiliki indigokecepatan dan kekuatan alami dapat seimbang dengannya.

Di tengah pertarungan sengit tersebut, mendadak Lycan Ibu Anisa menyemburkan api kepada Simon yang tak berdaya.

“Ugh, Ibu, kenapa harus dirimu!?”jerit primadona yang setengah menangis dan langsung berdiri di tengah jalur antara semburan api dan Simon.

“AWASS!!” aku berlari kencang menuju primadona untuk berdiri di depannya dan…

“!?”

Api yang disemburkan oleh Lycan Ibu Anisa tiba-tiba berbelok ke arah lain. Seperti yang sudah kuduga, indigo unik yang kumiliki dapat membuat diriku tidak diincar Lycan maupun dikenai serangannya.

Lycan Ibu Anisa yang hendak menyerang kembali tiba-tiba tertahan karena ia terbungkus semacam barrier transparan berbentuk bola ungu yang mengitarinya. Ternyata Simon dapat berteleportasi ke belakangnya dengan memunculkan barrier tersebut menggunakan kekuatannya.

“Simon!? Apa yang kau lakukan?” teriak primadona.

“Sudah saatnya kita mengakhiri ini semua. Aku akan menahan Lycan ini untuk berhenti bergerak. Cepat materialisasi senjata indigo milikmu untuk menyerang barrier inisehinggaiaakan tewas bersamaan dengan hancurnya barrier.”

“Tapi.. Kalau begitu KAU juga akan mati Simon!? Aku TIDAK mau lagi melihat anggota OSIS yang gugur! Aku-..”

“AKU TAHU Diana! Tapi kita tidak punya pilihan lain. Bagaimana kalau Lycan Ibu Anisa menyebarkan virus Lycanolog dan mengubah murid dan guru lain menjadi Lycan?”

“Tapi-..”

“Lakukanlah, Usa!” aku memotong pembicaraan mereka, “Simon tampaknya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Sebaiknya kau cepat mengakhiri ini semua.”

Primadona tampak bingung.

“Tugas OSIS wajib dijalankan meskipun mengorbankan diri sendiri ataupun sesama anggota OSIS. Lakukanlah, Diana.” bujuk Simon. Ia tampak hampir pingsan.

“… Baiklah. Sebagai ketua OSIS, aku harus mengutamakan keselamatan penghuni sekolah… Terima kasih, Simon, Oka,” primadona mengatubkan kedua tangannya sambil tersenyum simpul dengan wajah sedih, “… dan Ibu Anisa, penasihat kami.”

Primadona mematerialisasi sebuah benda berbentuk pedang besar. Pedang tersebut memancarkan sinar yang terang benderang sehingga mataku hampir tidak bisa melihat.

“… Aku tidak suka mematerialisasi indigo milikku karena kekuatannya yang terlalu besar, tapi tidak ada pilihan lainnya,” ucap primadona sambil mengayunkan pedang besar tersebut ke arah barrier berisi Lycan Ibu Anisa dan Simon.

Begitu pedang besar primadona menyentuh barrier tersebut, hal terakhir yang kulihat adalah senyuman Simon.

***

Hujan kembali turun dengan deras, seolah-olah langit ikut bersedih atas gugurnya seluruh pengurus OSIS selain primadona.

Primadona tampak termenung sendirian di lorong sekolah. Ia berdiri sambil bersandar di dekat jendela memandangi aula yang rusak parah. Aku berjalan menghampirinya pelan untuk menghiburnya.

“Usa…” panggilku dengan pelan, takut mengagetkannya.

Primadona menggelengkan kepalanya ke arahku. Tatapan matanya tampak kosong. Wajahnya yang tegas dan selalu bersemangat berganti dengan kesuraman dan dipenuhi keputusasaan yang dalam.

“A… Aku…,” suaranya terdengar lirih dibarengi dengan isakan kecil, ”Seluruh anggotaku tewas, bahkan aku mengorbankan rekanku sendiri. Aku orang gagal… Aku-…”

Suara primadona terhenti begitu keningnya kuusap-usap dengan pelan seperti waktu kami masih kecil dulu. Butir-butir air matanya mengalir semakin banyak, layaknya sungai yang kembali mengalir setelah arusnya tertahan batu besar.

“Yang lalu biarlah berlalu. Teruslah berjuang untuk rekan-rekan pengurus OSIS yang telah gugur demi mereka,” ucapku dengan tenang.

“Dan jangan lupa juga, pacarmu si albino itu pasti bakal sedih banget kalau melihat cewenya bermuka suram melebihi hantu bermuka pucat kaya gini. Pasti dia lagi kebingungan gara-gara nyari-nyari kamu buat diajak nemenin menicure pedicure.

“Eh!? Siapa yang mukanya pucat kaya hantu?” balas primadona dengan muka cemberut sambil menghardik tanganku yang sedang mengusap keningnya.

“Hehe, yah coba aja kamu cari kaca. Muka kamu yang biasanya cantik jadi kelihatan jelek kaya nenek-nenek tau.”

“Huh! Biarin ah,” gerutu primadona sambil mulai berjalan menjauh dariku, ”Oh ya, kapan-kapan kita makan bareng lagi yuk di warung nasi Bik Sumi dekat rumahku. Udah lama juga kan kita ga bareng ke sana?”

“Sippp!” ucapku sambil mengacungkan jempol ke arahnya

Primadona tersenyum dengan lembut ke arahku. Mukanya sudah tidak sepucat tadi lagi.

Honeyyy!! Kamu ngapain sayang?” teriak cowo albino yang sangat kuketahui dengan jelas. Ia berdiri di ujung lorong seperti bencong di pinggir jalan.

“Oke, tunggu sebentar ya Marco!” balas primadona pada si albino.

“Umm.. makasih ya Oka. Jangan lupa janji kita tadi.”

Primadona berjalan pelan ke arah si albino setelah berterimakasih padaku sesaat. Meskipun masih dalam keadaan bersedih, ia tetap memperlihatkan cara berjalan yang anggun seperti biasanya. Sungguh primadona yang sangat sempurna.

Dari Satu… Yang Terakhir…

Sayang sekali pria yang dipilihnya untuk menjadi seorang pacar sangat tidak sesuai dengan kepribadian primadona yang anggun dan menawan. Marco si albino sangat tidak pantas untuk disandingkan dengan primadona.

Honey, kamu tidak apa-apa kan?Dari tadi aku cari-cari kamu lho dan—KYAAA!!”

“Belakangmu!! Awas Marcooo!!”

Ia pintar… Ia juga kuat… dan anggun…

Seharusnya sejak awal ia tidak menjadi pacar primadona. Apa bagusnya seorang pria berkulit putih pucat dengan gaya norak bagi seorang primadona yang sempurna?

Honeyyy!! Kakiku berdarah banyak!! Cakarnya yang tajam sudah– KYAA!!”

Lycan brengsekkk!! Menjauh dari Marcooo!!”

Ya… Ia seorang Primadona sejati…

Seharusnya si albino disiksa lebih kejam oleh Lycanbesarberjas abu-abu tersebut. Seharusnya ia dimutilasi kecil-kecil seperti Elisa, dibakar dengan api membara seperti Simon, lalu ditusuk-tusuk seperti Frans. Meskipun primadona menyelamatkannya, percuma saja karena si albino sudah kehilangan kaki kanan dan lengan kirinya. Primadona sudahbukan milik si albino lagi.

“Ugh… Honey… Tolong… Aku… Tol…”

“Tidakkk!! Bertahanlah!! Marcooo!!!”

Ia menjadi milikku…

Ya, sebab ia menjadi milikku, Alvin sang Okami.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

193 Responses to OSIS

  1. sen no namae says:

    Kunjungan balasan dari 152

    Pertama2, nice twist!

    Lalu, soal ceritanya sendiri, aku kurang menikmati. Gambaran visual suasana cerpen ini terasa samar di benak. Seperti apa sih lycan itu? Gada penjelasan deskripsi jelasnya di sini. Tau2 mendadakan udah ngerobek orang. Perpindahan nuansa adegannya terlalu drastis. And im like…. Woot?? O_o

    Kemudian karakterisasinya kurang terasa. Kebanyakan karakter, jadi kurang tergali. Ini pasti ide novel yang dipadatin jadi cerpen.

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

    • Hai thx udah mampir balik ya :D Untung ga bawa virus gurita. Haha.

      Makasih untuk complimentnya ya ^^b

      Soal visualisasi dari Lycan sendiri, memang tidak dijelaskan terlalu detil selain melalui kalimat di awal cerita ini:

      “… Aku sangat ingin melihat pertarungannya dengan para Lycan, manusia setengah serigala dengan kemampuan fisik yang lebih unggul dari manusia pada umumnya.”

      Jadi visualisasi bentuk Lycan secara detil memang diserahkan ke pembaca ^^b

      Ahaha untuk jumlah karakter, memang sebenarnya hanya dua karakter utama di sini yang ceritanya dibutuhkan, Alvin dan Diana. Berhubung ini prekuel novel, di mana kedua tokoh tersebut akan punya peran penting di novelnya, alur cerita di cerpen ini lebih difokuskan ke mereka. Selain itu, ya kuota 3000 kata juga jadi faktor lain karakterisasi yang kurang sih *Ngeles*

      Yup, tepatnya ini prekuel novel, makanya ada beberapa informasi yang ga direveal. Teasernya bisa dilihat di sini : http://axblueworld.blogspot.com/2012/07/okami-saga-introduction.html

      Oke makasih yah udah mampir balik ;)

  2. Fenny Wong says:

    Hai, hai, mampir ke sini dari Lexica. :)

    Sebenarnya tentang bagaimana wujud Lycan sendiri bagiku memang tanda tanya, tapi aku masih bisa bayangin mirip sama werewolf. Yang penting banget tapi nggak dikasih tahu itu, malah cara penularan virus Lycanolog, dan bagaimana berkembangnya. Apa ada masa inkubasi dan bisa kambuh tiba-tiba? Apa aturannya, hingga Vincent dan anak2 yang nge-apply jadi OSIS bisa kambuh bersama-sama? Terus apa mereka nggak sadar sudah ditulari, atau sadar dan malah apply supaya bisa ngebantai para OSIS?
    Dari segi setting sendiri, aura cerita ini mirip fantasy nya manga, mungkin lebih enak kalau dibuat settingnya di Jepang saja sekalian. Toh pakai namanya pun Usa dan Okami. Waktu baca nama SMA nya Sumpah Pemuda, rasanya kok agak-agak bagaimana. Karakter-karakternya sendiri aku nggak kebayang apa mereka orang eropa (nama-namanya… Vincent, Alvin, Marco, Diana?) atau asia, atau indonesia (sumpah pemuda)?
    Menurutku narasinya dan penulisannya udah enak dan membuat baca jadi ngalir. Itu adalah plus besar untukku. Hehehehe. Terus menulis, fighting! :3

    • Hai Fenny, Zocblade-nya dibawa juga kan? :D Hati-hati ada beberapa Lycan ganas berkeliaran di sini.

      Yup, Lycan itu sejenis werewolf, tapi ga ada pengaruh dengan bulan purnama seperti yang terlihat di cerita ini ya :D Deskripsi singkatnya ada di awal kemunculan cerita lewat kalimat ini:

      “… Aku sangat ingin melihat pertarungannya dengan para Lycan, manusia setengah serigala dengan kemampuan fisik yang lebih unggul dari manusia pada umumnya.”

      Berhubung udah page komentar udah masuk halaman baru, jadi mungkin musti gw post ulang lagi nih. Haha. Cerita ini memang prekuel dari sebuah novel, jadi ada beberapa informasi yang sengaja tidak direveal seperti bagaimana penularan virus ataupun latar dari Okami sendiri. Next time untuk fantasy fiesta kalau ikut lagi gw bakal lebih berhati-hati dalam mensubmit cerita ^^

      Aura fantasy manga, mungkin gara-gara gw pribadi jauh lebih banyak baca manga daripada novel kali ya. Haha. Gw sendiri masih amatir banget dalam nulis >_<; Jadi kalau ada beberapa hal yang dirasa kurang berkenan ya mohon dimaklumi juga ya.

      Untuk naming para tokohnya, ini kepengaruh dari orang-orang di sekitar gw yang emang kebanyakan namanya agak berbau barat sih ^^; Haha. Jadi gw pribadi masih merasa naming mereka masih berbau setting indo, tapi ini subjektif di gw sih.

      Penamaan Usa dan Oka sendiri, sebenernya ini ada latar yang kepangkas dan gw luput untuk masukin lagi. Diana (a.k.a. Usa atau primadona) yang merupakan teman masa kecil Alvin sebenernya suka dengan anime, jadi dia agak kepengaruh dengan penamaan Jepang.

      Nama Okami sendiri… well tunggulah novelnya ya. Teasernya bisa diliat di sini kalau mau : http://axblueworld.blogspot.com/2012/07/okami-saga-introduction.html

      Makasih untuk complimentnya, dan keep fighting juga ;)

  3. d3pi says:

    Trala……..
    Aku datang, g nyangka klo endingnya bakalan ngetwist banget, beneran g nyangka klo si “aku” yg melakukan itu semua, ck…ck…
    Napa sih si Alvin g milih jalan simplenya z klo cuma mo dapaten tu primadona, dari pada bunuh satu persatu orang yg tidak disukainya, jangan2 Si Okami itu juga penakut, hehehehe…..

    Gaya penulisannya enak, cuma mungkin spasinya banyak yg ilang, jadi ada beberapa kata yg nyambung, bikin sedikit bingung juga. Oya saran z, mending bikin setting dunia sendiri, abisnya rasanya aneh banget banyangin SMA Sumpah Pemuda 1 yg kesannya ada di kehidupan kita sehari-hari bisa jadi seperti itu, hehe…tapi itu menurutku saja sih, mungkin yg lain tidak merasa terganggu.

    • trilili.. hai D3pi thx udah berkunjung balik ya. :D

      Ahaha makasih untuk compliment twist-nya. Kalau soal typo, itu sepertinya masalah teknis di kastil sih, karena di naskah aslinya sendiri ga ada typo spasi.

      Oke, kenapa Si Alvin milih jalan yang notabene sedikit muter2 dengan ngebunuhin anggota OSIS yang lain? Alasan gampangnya, biar cerita ini ada *kabur sebelum ditempeleng pemilik kastil*

      Haha. Alasan sebenernya sih, sebelumnya sory dulu karena ini cerpen yang dibuat untuk prekuel novel, jadi otomatis ada banyak keterkaitan dengan novel dan cerita terkait lainnya. Ada 3 faktor utama kenapa Alvin mau mendapatkan Diana dengan cerita yang ‘agak muter2′ ini :
      1. Diana udah punya pacar. Ini udah disebut sih di cerita ini.
      2. Sesuatu yang terkait dengan latar Lycan dan penyebaran virus Lycanolog. Ini ada hint kecil di ceritanya, tapi memang ga akan terlihat sampai nanti cerita lain dan novelnya rilis. Maaf ya ^^;
      3. Suatu coincidence. Haha. Yup, ada faktor ‘kebetulan’ juga yang nantinya akan direveal di cerita yang lain.

      Next time gw ga akan pakai cerita yang prekuel novel lagi, rasanaya terlalu banyak kebolongan informasi yang bikin beberapa pembaca kurang puas. Thx sudah cukup bisa menikmati ceritanya ya :D

      Untuk setting cerpen ini memang di Indonesia, tapi setting dari cerita secara keseluruhan sebenarnya mengambil seluruh tempat di bumi. Kenapa ga di dunia fantasi lain, lebih ke preferensi sih :p Wkwk

      Makasih ya udah mampir ;)

  4. :-| <= Ini kalau bibir saya jadi setipis kertas.
    :-? Kalau yang ini, saya garuk-garuk dagu sampai kumis saya jadi tebal.
    Blue, =)) oke, Awas S nya nanti jady Slytherin lho. Good Luck in everything.

  5. Nuno says:

    Hi, Blue. Balas kunjungan dari lapak 67 nih.
    Pas awal adegan ngebahas guru Fisika, aku langsung teringat sama guru Fisikaku waktu SMA. Kalau lagi nerangin emang jarang banget diperhatiin. Hhheee. ~~> Curcol

    #Anyway busway… Agak menyernyit nih pas baca, “Hmm.. Setidaknya kita tidak perlu mendengar nyanyian Diana untuk sementara. Ya kan Vi-… Alvin?” ujar Vincent yang terkejut ketika melihatku beranjak dari kursi dan berlari keluar kelas.
    Aku berlari mengejar primadona tanpa menghiraukan teriakan Alvin maupun Ibu Anisa.
    Itu mungkin seharusnya…, ” Aku berlari mengejar primadona tanpa menghiraukan teriakan Vincent maupun Ibu Anisa.” ~~> *Bener gak ya?* Entah bagian ini udah dikomen atau belum karena komentnya udah banyak.
    #Hahahaaa… Untuk tokoh Marco kayanya rempong banget ya cin. Sayangnya kenapa Diana bisa pacaran sama dia. Kontras banget sama pribadi Diana.
    #Ending : “Kok gitu sih?” Itu yang terlintas dalam benakku pas tahu endingnya kok tiba-tiba ada lycan dan menyerang si Marco. Dan asli aku gak tahu ternyata Alvin itu yang ngebunuh semua anggota OSIS minus Diana. Ternyata eh ternyata ini bagian dari novel ya.
    #For all nice. d(^o^)b
    #Maaf kalau komentnya kurang berkenan.

    • Hai Nuno :D Makasih udah berkunjung balik ya membawa kedamaian. Hehe.

      Soal adegan guru Fisika, itu terinspirasi sedikit dari guru PKN gw. Hahaha. Kurang lebih seperti itu juga sih kejadiannya. *tos karena pny guru yang sejenis*

      Soal nama, iya itu typo. Harusnya Vincent, bukan Alvin. Haha. Sory sempat membuat bingung ya :D

      Soal si Marco, memang sejak awal niatnya dijadikan tumbal untuk menutup cerita ini dengan ‘manis’ sih. Wkwk. Tadinya ada paragraf yang menjelaskan kenapa mereka pacaran, tapi gw potong soalnya terlalu bertele-tele dan ga mempengaruhi jalan cerita. Haha.

      Soal ending, kamu ga salah kok. Haha. Yah memang gw kasih hint berupa ‘indigo unik’ Alvin. Ada yang nebak twistnya, ada yang ga ketebak, dan ada pula yang ga puas.

      Makasih untuk semua komennya. Berkenan banget kok ;) Gud luck ya

  6. virusimoet says:

    twistnya bagus tapi saya merasa terlalu cepat.
    trus saya rasa perlu dideskripsikan lycan itu seperti apa soalnya saya ga dapet bayangannya sbg mahluk setankah? seperti harimaukah? atau bentuk lain?
    terima kasih.
    Salam kenal.

    • Hai Virus thx udah mampir balik. Haha

      Terlalu cepat ya? Mungkin karena naskah aslinya memang lebih dari 3000 kata dan banyak dipangkas di sana sini sih, jadi pace-nya memang kerasa agak cepat. Haha. Selain itu, gw tipe orang yang lebih suka main di alur cerita daripada penjabaran deksripsi. Gw akan coba perbaiki kebiasaan ini sih ke depannya.

      Untuk bayangan mengenai lycan, sebenarnya sudah ada di kalimat yang ditulis pas awal-awal munculnya lycan :

      ________________
      “… Aku sangat ingin melihat pertarungannya dengan para Lycan, manusia setengah serigala dengan kemampuan fisik yang lebih unggul dari manusia pada umumnya.”
      ________________

      Mungkin kelewat bacanya? Haha. Deskripsinya hanya muncul sekali dan singkat pula juga sih, jadi mungkin beberapa orang kelewat ya ^^; Intinya sih sama dengan bentuk werewolf.

      Makasih sudah berkunjung ya :D

  7. frenco says:

    Ini komentar balik

    ceritanya menarik tentang sekelompok pelajar melawan monster. Jadi ingat ama digimon. hehe..

    terus kalimat “Dari empat… Menjadi… Tiga…”, awalnya gak mudeng sampe baca komen Blue sendiri bahwa itu adalah pikiran si Alvin..

    Baku hantamnya terlalu cepet deh, soalnya belum ada perkenalan OSIS itu kayak apa. Bayangan saya OSIS ya adalah organisasi siswa yang senang eksis, tiap hari rapat sampe malam hahaha, eh di sini malah organisasi penakluk Lycan. haha. Apa ini impian sang penulis menjadikan OSIS sebagai organisasi penakluk monster? Haha

    eniwei, udah berkunjung ke blog pribadi Blue dan melihat ini bagian dari sebuah novel. Sukses ya buat novelnya ^^

    • Hai Frenco :D Thx udah berkunjung balik ya.

      Digimon? Wkwk. Gw punya satu konsep lain terkait partnership action battle macam digimon sih. Kalau ini kan yang tarung masih manusianya sendiri. Haha. Are you a fan of Digimon too?

      Iyap betul. Itu adalah pikiran a.k.a. suara hati si Alvin sih, untuk menyatakan bahwa satu per satu anggota OSIS akan mati. Kecuali untuk yang terakhir, tentunya ^^

      Yep, kau benar. Baku hantamnya memang agak cepat karena masalah kuota sih, tapi gw juga mencoba untuk tidak terlalu mendetilkan deskripsi pertarungan supaya pembaca bisa lebih berimajinasi dan lebih fokus di alur cerita (serta menghemat kuota tentunya).

      Somehow gw memang tertarik dengan cerita2 mengenai organisasi sekolah semacam OSIS dengan peran yang lebih dari sekedar tukang rapat ^^ bahkan ada rencana mau bikin cerpen bertema OSIS lagi (tapi cerita lepas). Kau bisa coba lihat di sini : http://axblueworld.blogspot.com/2012/08/behind-making-osis.html

      Sip makasih untuk doanya dan Gud luck juga ya :D

      P.S. : Demonaga ga mau coba ditarungin dengan Okami? Wkwk

      • frenco says:

        oke, nanti dibaca.. iya, saya fans digimon, haha
        mungkin kalau sudah jadi novelnya, akan menjadi paham. haha
        demonaga dan okami? boleh saja, cross over seperti itu akan menjadi seru sekali. hahaha

        • Wah, sepertinya ada banyak hal yang bisa kita bicarakan sebagai sesama penggemar digimon. Wkwk. Crossover tokoh2 dalam cerpen sepertinya menarik juga. Hmm.

          Okeh, dan gw akan pastikan untuk leave comment di blogmu ya sesegera mungkin setelah sempat baca ^_<b makasih ya.

  8. Amarillo Heinz says:

    Jadi ini cerita adalah prekuel novel? Pantes aku agak-agak bingung dengan sejumlah hal yang tanpa penjelasan salah satunya adalah OSIS. Pertama sih kukira OSIS itu ya OSIS tapi mengingat OSIS-nya adalah organisasi pembantai Lycan kupikir itu adalah OSIS yang lain.

    Walau aku udah curiga, twistnya memang menipu. Tapi itu karena memang gak sejalan dengan pikiran si aku-nya.

    Tapi okelah, adegan tempurnya seru dan ceritanya masih bisa dinikmati lezat.

    Betewe, kenapa sih harus disebut primadona terus berhubung namanya ada? Dan ni cewe lurus banget. Lagi pemakaman sedih karena seluruh temennya dibantai eh tiba-tiba bisa langsung ceria lagi.

    • Hai heinz :D makasih atas kunjungan baliknya.

      Ahaha iya ini prekuel novel. Untuk berikutnya gw ga akan pake cerpen prekuel novel sih di sini, jadi membingungkan sebagian pembaca soalnya. Thx karena masih bisa menikmati ceritanya ya.

      Nama primadona disebut terus sebenarnya merupakan bentuk penekanan bahwa Alvin ‘terobsesi’ sama si primadona. Primadona yang dia anggap sempurna dan tanpa celah (meskipun sebenernya ga juga).

      Perubahan sikap yang cepat itu karena… Kuotanya cuman 3000 kata *ngeles mode ON* Wkwk

      Makasih atas komentarnya :D

  9. Desire Purify Loki says:

    Aku gabung jadi sesama penggemar Digimon.
    Boleh kah, Blue?

    • Hai Dini :D

      Boleh, tapi kau harus melewati serangkaian tes dulu untuk menguji apakah shaman queen sepertimu membawa virus Lycan atau tidak. Bayangkan semua digimon menjadi lycanmon karena virus yang kau bawa. Wkwk.

      Just kidding ^_^b

  10. Halo… Saya balas komen, ya :)

    Untuk beberapa hal yang terasa bolong, saya sudah baca dari komen-komen sebelumnya bahwa cerita ini adalah prekuel dari sebuah novel (but still, masih semacam geregetan, kenapa untuk lomba ini ga di-”pack” jadi satu cerita utuh saja? xP)

    Saya tertarik dengan konsep ceritanya. Tentang organisasi sekolah yang melawan makhluk misterius out from nowhere. (Kalau di JRPG jadi teringat Persona 3 :p)

    Walaupun overall-nya bagus, ada berapa hal yang ingin saya tanyakan:

    - Itu countdown yang “Dari empat… Menjadi… Tiga…” dst itu maksudnya apa? Nampaknya tidak dijelaskan :P

    - Apa alasan Alvin “membunuh” semua anggota OSIS? (CMIIW, tapi yang men-”trigger” virus lycan itu Alvin, kan?)

    - Kenapa Diana selalu disebut “Primadona” dalam cerita? Menurut saya sepertinya akan lebih nyaman kalau disebut Diana saja, but I guess it’s just me :p

    Itu saja. ^^ Mohon maaf apabila tidak berkenan.

    • Hai Hazzelnut :D Makasih udah mampir balik ya.

      Iyup betul, gw sudah cukup digetok pake palu cabe maicih level 100 gara-gara pakai cerita teaser prekuel novel yang sengaja dibikin bolong beberapa informasinya. ^^ Jadi gw maklum kok kalau banyak pertanyaan. Next time gw bakal pake cerpen yang pasti bisa dijadikan “one pack” aja, terlepas nantinya mau di-expand jadi cerita yang lebih besar atau tidak.

      Untuk pertanyaanmu, jawabannya pernah ada di komen lain, tapi ini gw jawab ulang ya : :D

      1. Countdown itu sebenernya pernyataan isi hati alvin bahwa anggota OSIS akan berkurang satu demi satu. Kayanya ga banyak yang berhasil nebak ya. Hehe. Yah ini cuman untuk iseng si.

      2. Alasan Alvin membunuh semua anggota OSIS (kecuali Diana) yang lengkapnya bisa dilihat di jawaban gw untuk d3pi (beberapa di atas komentar ini, masih page yang sama). Singkatnya karena 3 hal: 1) karena Diana udah punya pacar, 2) suatu unsur yang terkait dengan informasi mayor dalam cerita yang belum dijelaskan di cerpen ini, dan 3) suatu unsur kebetulan, yang bisa diketahui nanti di cerpen teaser lainnya.

      3. Diana disebut primadona terus karena ini pakai POV 1 dari Alvin, sehingga bisa lebih terlihat kalau Alvin agak terobsesi dengan sosok Diana sebagai primadona yang (nyaris) sempurna.

      Semua komentar berkenan kok ^^b Dan kalau Hazzel tertarik, bisa lihat di link ini untuk teaser proyek novelnya : http://axblueworld.blogspot.com/2012/07/okami-saga-introduction.html

      Makasih banyak atas komentarnya. Kita sama-sama belajar ya, karena gw juga masih amatir. Haha :D

  11. hadiyahmarowati says:

    Ceritanya rame banget ya, jadi binggung karena tokohnya banyak dan berinteraksi acak. Ide ceritanya keren tentang OSIS, remaja banget…:)

    • Hai hadiyah thx udah mampir balik ya :D

      Ahaha iya mungkin sedikit banyak dan peran mereka mungkin ga semuanya besar selain mati dalam dalam cerita ^_^ maaf ya kalau sempat bikin bingung.

      Makasih untuk compliment-nya. :)

  12. Vect says:

    *Kunjungan balik dari urutan 14*

    Hallo!!
    Kisah yg sangat menarik.
    Gak bisa berkata banyak, cuma bisa ngasih saran, lebih dipoles lgi jalan cerita dan penuturannya.
    Selebihnya udah bagus.

    Btw, akhir ceritanya agak horror, pas penggambaran jalan pikiran Alvin yg mendadak berubah bak Lycan.

    Nice story!! :D

    • Haloo :D Makasih udah berkunjung balik ya.

      Sip deh, next time gw akan belajar untuk bikin penuturan yang lebih smooth. Masih banyak yang perlu gw pelajari sebagai newbie.

      Akhir terasa horornya? Hehe. Thx ya. Itu disengaja karena sudah menjelang dibukanya identitas sang tokoh utama yang sebenernya, meski sebenernya ga dimaksudkan untuk horor juga. Wkwk.

      Oke sekali lagi makasih ya :D

  13. Saia ga akan masalahin make sense dalam arti masuk akal. Saia akan masalahin make sense dalam arti masuk suasana pa nggak.

    Cerita ini suasananya nggak jelas. Mau serius pa mau komedi, ya? Lihat pembukaan, keknya komedi. Lihat belakang… Kok jadi serius?

    Kalau Lycan bahaya, kok si guru cuma nyuruh anak2 ga keluar jelas. Wajarnya mereka evakuasi. Apalagi kalau emang virus itu udah nyebar luas; harusnya udah ada SOP gimana menghadapi lycan outbreak untuk meminimalisir korban.

    Un…. tapi pertanyaan terpentingnya mungkin, gimana sebuah sekolah bisa berjalan normal pada keadaan macam itu?

    Lalu di bagian akhir. Diana lagi nangis2 karena temannya mati, kok cuma lewat berpa detik sudah gumbira lage?

    Kalau mau dibandingkan dengan anime, saia ga akan pake Guilty Crown. Saia akan pakai Angel Beats. Premisnya sama si, suatu student body yang bertarung ngelawan makhluk2 aneh. AB juga sama. Mereka juga bisa ngakak 5 menit setelah ada comrade yang mati. Tapi itu karena di AB mereka bakalan hidup kembali setelah beberapa lama, jadi ya… bagi mereka kematian itu emang kocak.

    Plus kalau memang alurnya lagi serius, ya suadananya beneran serius. Misalnya, ketika satu persatu karakter AB mulai pass ke kehidupan selanjutnya, alias mati beneran. Dan itu sedih sampe akhir, gak sedih terus 5 menit setelahnya ngakak.

    Mungkin penulis mau coba bikin cerita yang ada senang ada sedih, ada kocak ada serem. Nggak salah, tapi dijaga supaya gak kecampur baur dengan cara yang merusak. Untuk referensi cerita seperti ini, saia akan menyarankan manga Houshin Engi karya Ryu Fujisaki. That dude really knows his stuff.

    • Hai kk Luz makasih banyak sudah berkunjung balik ke sini :D

      Terima kasih banyak untuk masukannya. Kalau mau pakai alasan ngeles, karena kuota sih. Haha. Mungkin memang tipe cerita yang berubah-ubah suasana lebih sulit diterapkan dalam sebuah cerpen. Soal Diana yang dari sedih lalu mendadak jadi hepi, sebenarnya tadinya ada adegan yang kepangkas di sana untuk kuota.

      Sip. Sebagai penggemar manga, gw bakal coba baca Angel Beats (pernah dengar tapi belum sempat baca) sama Houshin Engi. Sepertinya menarik ^^

      Gw masih berlatih untuk bisa membuat cerita yang make sense di suasana, jadi sekali lagi makasih untuk kritiknya ya. :D

      • Kalau bole saran lagi, baca Angel Beats dulu baru Houshin Engi. Soalnya ntar kebanting kalau baca Houshin dulu. AB juga ada animenya, jadi kalau malas baca, nonton aja.

        Kalau HE, go for the manga. Itu jauh lebih bagus dari animenya.

        • Oke kk Luz :d

          Kebetulan gw lebih demen baca manga daripada anime. Haha. Jadi keinge belum selesai nonton anime persona 4 *jadi curcol*

          Oke jadi Angel Beats, terus Houshin Engi ^_^b Makasih lagi ya kak.

  14. 147 says:

    kunjungan balik :3
    ini menarik bgt kak, karakternya unik terutama pacar primadona yg albino itu #pletak xD
    twistnya jg bagus :)
    sejak awal primadona g tau klo alvin okami ya? cuma tau klo dia punya kekuatan indigo?

    • Hai red tail makasih udah berkunjung balik :D

      Sip makasih ya untuk compliment-nya. Haha iya sayang ya pacar si primadona berakhir tragis nasibnya.

      Iyup, sejak awal primadona ga tau kalau Alviin itu Okami, dan dia cuman tau kalau Alvin tuh punya semacam indigo unik di mana para Lycan ga mau dan ga bisa nyerang dia. Sebenarnya ‘indigo unik’ tersebut hanya kamuflase Alvin agar Diana tidak begitu curiga bahwa ALvin adalah Okami. Hehe.

      Oke makasih ya udah mamir :D

  15. shaoan says:

    Hi Alexander Blue! :D
    Gw terus terang agak kaget jg dgn perkembangan cerita, terutama di awal2 waktu tiba2 muncul Lycan-lycan itu. Trus nuansa cerita jg berubah drastis, dr komedi ala teenlit ke full action serius penuh gore. Bukan ga boleh sih, cuman peralihannya kurang mulus aja. Terlalu drastis. Ga ngerti jg kenapa Lycan itu nyerang sekolah dan kebetulan anggota2 OSIS itu punya kemampuan khusus buat ngehadepin mrk? Si Primadona sbg pemimpin OSIS jg terlalu histeris kayanya (dan bisa2nya dia ngobrol di saat genting! :D). Oh ya kenapa primadona ga ditulis Diana aja sih? :D

    • hai kk shao :D makasih udah berkunjung balik.

      Haha makasih ya masukannya. Next time gw akan coba untuk bikin adegan perpindahan nuansa yang lebih mulus. Maklum masih belajar ^_^

      Beberapa hal sengaja tidak dijelaskan di cerita karena ini semacam prekuel & teaser proyek novel. Next time gw bakal pake cerita yang independen supaya ga bikin banyak pembaca bingung.

      Berhubung ini pake 1st POV, Diana sengaja diganti jadi primadona buat nunjukkin kalau Alvin punya hidden obsession ke Diana. Hehe.

      Makasih ya udah berkunjung ke sini :D (Btw kk shao menghilangkan format komentar resmi dan tidak resminya?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>