Pangeran yang Dikasihi Laut

PANGERAN YANG DIKASIHI LAUT

karya Luz Balthasaar

Tahun Seribu, Bulan Pasang, Hari Sepuluh.

Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua mati dan dilarung.

Itulah kalimat terakhir di dalam buku riwayat Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua. Memang singkat sekali. Para Tua-tua telah memutuskan bahwa rakyat tak perlu tahu banyak tentang kematianku.

Kulihat dahimu berkerut. Sabarlah, Daeng! Nanti engkau akan tahu alasan mereka memutus begitu. Untuk saat ini, tataplah saja pantai Somba Opu. Kaulihat ribuan manusia yang berbaris di atas pasir putihnya? Mereka rakyatku. Mereka sedang berkabung untukku.

Sekarang amati baik-baik laut dan dermaga di depan pantai. Sebentuk pinisi lamba berlayar tujuh sedang berlabuh di sana. Intiplah bagian dalam kapal itu. Di atas sebuah sekoci berhias, kaubisa melihat tubuhku yang diselimuti cindai laut putih. Juga tangan kananku yang menyandang badik, dan mataku, yang tak akan pernah terbuka lagi.

Engkau terhenyak. “Astaga! Engkau masih begitu muda! Bagaimana bisa?”

Sebetulnya kita tak usah heran. Langit bisa kikir membagi usia kepada siapapun. Tapi aku yakin Daeng, menyalahkan Langit tidak membunuh penasaranmu.

***

Sebelum menjadi Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua, aku digelari Andi Pangerang Ningai ri Tamparang. Artinya, Pangeran yang Dikasihi Laut.

Sebutan itu bermula dari suatu upacara adat untuk para pemuda Somba Opu. Saat kami ingin melamar seorang gadis, kami harus membawakan hadiah, yang kami ambil sendiri dari kedalaman laut.

Aku tak suka adat itu. Pasalnya, aku bukan penyelam tangguh. Tapi para Tua-tua tak bersedia mengecualikan seorang pangeran, maka jadilah pada suatu siang, aku berdiri di bibir pantai. Teman-temanku berseru menyemangati. Hanya kekasihku, Andi Putri Kananga, yang tak bersuara. Tangannya terkatup. Bibirnya membisikkan doa. Wajahnya pasrah menghadap terang Langit.

Saat tubuhku menyambut pelukan gelombang, takutnya menjadi takutku.

Entah dari mana ombak besar datang. Tubuhku terlilit arus. Napas yang kusimpan terhambur menjadi gelembung. Pandangku kabur; meski pengawal-pengawalku berjaga di bawah air, aku tak bisa melihat mereka, apalagi memberi isyarat minta tolong.

Engkau menebak, “Ah! Engkau mati tenggelam!”

Tidak, Daeng. Ketika itu sesuatu menghampiriku dari kedalaman. Kusangka itu seekor nagajene, atau ular air raksasa, karena tubuhnya panjang dan penuh sisik perak. Pun di kepalanya tumbuh rambut berwarna mutiara yang sangat panjang dan berkilau. Bagian itulah yang biasa dipangkas para penyelam untuk ditenun menjadi cindai laut.

Tapi kemudian makhluk itu menarik tubuhku dengan tangan-tangan manusia. Juga menyambung napasku dengan napas manusia. Baru setelah menghirup udara di atas laut, kulihat bahwa ia memiliki tubuh bawah ular air, serta tubuh atas seorang pemuda.

Serta-merta aku berkata, “Makhluk apa kau?”

Ia menyahut, “Nagajene.”

Kami berpandangan takjub.

Kemudian ia berkata, “Demi Langit, aku bisa mengerti ucapanmu! Apa kau juga mengerti ucapanku?”

Aku mengangguk.

Dan begitulah awal mulanya, Daeng, hingga aku terikat pada Arung, dan bisa memberi Andi Putri Kananga sembilan kumpar cindai laut terbaik sebagai hadiah lamaran.

***

Arung tak pernah mempersoalkan mengapa kami bisa saling paham. Tidak juga mengapa bagiku, ia terlihat lain dari nagajene biasa.

“Anggap saja semua ini hadiah Langit,” katanya suatu kali. “Katamu Ia kikir, tapi kataku Ia murah hati.”

Aku tak menerima pendapat Arung. Namun, ia berhasil mengubah caraku memandang laut. Tempat itu bukan lagi sekedar genangan raksasa yang menghidupi rakyat Somba Opu. Di bawah sana, di mana tidak ada manusia, adat, maupun cakap, Arung menunjukkan padaku suatu tatanan yang—jika engkau mau berandai-andai—dapat kita umpamakan sebagai suatu negeri. Warganya para nagajene. Mereka tinggal di gua-gua bawah air, dan menjalani hari dengan menyebarkan bakal bunga karang ke seluruh penjuru laut.

Mereka juga menggembala ikan dan berburu camar.

“Tunggu,” engkau menyela. “Bagaimana caranya ular air berburu camar?”

Aku pernah menanyakan hal yang sama kepada Arung. Alih-alih menjelaskan, ia menyuruhku naik ke perahu cadik dan mengikutinya ke tengah laut. Ia menyelam tak jauh dari permukaan air dan mulai bergerak meliuk-liuk. Sisiknya berkilau seperti sekawanan ikan.

Tak berapa lama seekor camar terpancing turun. Tak pelak ingin menyambar makan siang. Begitu si burung melayang cukup rendah, Arung melompat keluar dari permukaan air.

Tangan-tangannya menyambar makhluk itu.

Ekornya, dan rambutnya yang telah kembali panjang setelah dulu kupangkas, membentuk sepasang lengkung perak.

Menjelang senja kami kembali ke pantai. Di sana aku belajar bahwa camar bakar ternyata lezat, walau Arung terus bersikeras bahwa daging burung lebih enak mentah. Para nelayan dan penyelam menatap segan keakraban kami. Wajar saja; bagi orang selain diriku, Arung kelihatan seperti layaknya nagajene biasa, seekor ular laut raksasa yang cukup besar untuk melahap orang.

Awalnya aku tak terlalu mengacuhkan mereka. Tapi kemudian datang para tubarani, atau ksatria-ksatria istana, para lelaki dan perempuan yang memakai ikat kepala bersulam ikan pedang. Kuberi mereka isyarat agar mendekat. Arung pun melonggarkan ekornya, yang melingkar di sekitar kami berdua.

“Andi Pangerang Ningai ri Tamparang,” begitu sapa pemimpin tubarani, “maaf, kami membawa berita buruk. Andi Putri Kananga tiba-tiba tak sadarkan diri. Kembalilah ke istana, sekarang juga!”

 

***

 

“Istrimu terkena teluh.”

Begitulah kata Dukun Tenri, ahli nujum istana yang juga bibi istriku.

“Sebetulnya, kaulah yang disasar, Andi Pangerang,” ia melanjutkan. “Tapi laut mengasihimu. Laut melindungimu, maka teluh itu tertepis kepada dua orang yang paling dekat denganmu.”

“Dua?”

“Kemenakanku sedang mengandung putramu.”

Pernahkah kaualami apa yang saat itu kualami, Daeng? Kekasih dan darah dagingmu, menyambut maut yang sebetulnya dikirim untukmu? Mungkin tidak. Tapi kalau pernah, kuyakin engkau akan menanyakan hal yang berikutnya kutanyakan, disertai murka yang sama.

“Perbuatan siapa ini?”

“I Manrabbia Karaeng ri Tallo. Pamanmu.”

Ah, harusnya aku bisa menduga. Karaeng Tallo. Raja Tallo, negeri tetangga Somba Opu. Ia kakak Ayah. Hubungan mereka terlihat baik, tapi Ayah tahu benar bahwa saudaranya itu luar biasa licik.

“Jika kau dan ayahmu lenyap, Andi Pangerang, Somba Opu akan jadi miliknya,” kata Dukun Tenri lagi. “Apalagi dengan keadaan kemenakanku dan putramu yang seperti sekarang.”

Selama tiga malam setelah itu, aku tak beranjak dari sisi Andi Putri Kananga. Pada pagi hari keempat ia sadar. Ia tersenyum, menyentuh wajahku, lalu berbisik lemah, “Teluh ini luar biasa kuat. Kukira Karaeng Tallo melahirkannya dengan menggunakan segenap murkanya kepadamu. Pergilah cari nenek buyut dari nenek buyutku, Tumangissengi I Balangkoa, yang tinggal di Pulau Padengo. Ia tahu cara mematahkan segala teluh.”

Maka aku melaksanakan pesan istriku, dan engkau menerka lagi, “Ah! Engkau mati saat mencari pulau itu! Perahumu tergulung ombak!”

Mana mungkin aku mati tenggelam, Daeng. Lupakah engkau pada Arung?

Satu malam sebelum berangkat, aku merenung di lepas pantai. Arung datang. Ia memanjat ke dalam perahu tempatku duduk. Separuh ekornya melingkar di dalam, separuh lagi menjuntai di air. Matanya terpejam. Sisik dan rambutnya cemerlang di bawah purnama.

“Jangan takut,” begitu ia berkata. “Kau tidak akan berlayar sendirian. Aku bersamamu.”

“Tak bisa begitu,” bantahku. “Kata Dukun Tenri, Pulau Padengo tidak akan terlihat oleh manusia yang mencoba datang bersama satu atau lebih manusia lain.”

Arung tertawa. “Satu atau lebih manusia,” ujarnya. “Aku bukan manusia, dan kalaupun manusia, hanya separuh.”

***

Telah seminggu lebih kami berlayar ke selatan. Laut tenang dan angin bersahabat, tapi keduanya tak kunikmati. Bayangan istriku yang pucat terus hadir mengusik. Aku berusaha membuang cemas dengan menyibukkan diri. Kadang membaca bintang, kadang mengikat temali. Paling sering, menangkap ikan.

Tapi tak ada yang bisa mengalihkan pikiranku. Tidak bahkan berlatih badik. Padahal, aku adalah petarung tertangguh di Somba Opu. Biasanya, sekali aku memegang senjata, tak sesuatupun bisa mengusik untai jurusku.

Mungkin karena itulah, semakin hari, aku semakin tidak menyukai saat-saat Arung naik ke perahu. Aku tahu ia bermaksud baik. Ia giat mengajakku bicara, atau membawakanku rumput lawi-lawi lezat yang hanya tumbuh di laut dalam. Tapi sungguh, tak tahan aku melihat senyumnya. Betapa ia begitu tenang, begitu bebas, begitu bahagia. Bagi Arung, perjalananku adalah petualangan mendebarkan dua orang sahabat. Bukan pertaruhan menyakitkan untuk menolong seorang kekasih.

Pada suatu malam aku hampir meminta Arung agar tak datang terlalu sering. Tapi belum lagi kata kususun, ia mendongak ke langit dan berseru, “Parakang!

Serta-merta kuhunus badik. Di atas kepala kami, tampak makhluk-makhluk yang disebut Arung: mayat-mayat manusia yang dihidupkan lewat kuasa teluh, dengan ekor kalajengking raksasa alih-alih kaki, dan sayap-sayap yang dianyam dari bayangan. Tampaknya Karaeng Tallo mengirim mereka karena teluh biasa tak mampu mencapaiku di tengah laut.

Makhluk-makhluk itu menukik. Satu kusabet tepat di pinggang. Selagi ia terhuyung, Arung menyambar dan menariknya ke bawah air, membuyarkan napasnya.

Kami melakukan hal yang sama untuk membunuh empat ekor parakang sisanya. Tiga mati mudah. Satu melawan gigih. Saat hendak ditenggelamkan, ia menyengat bahu Arung. Mereka bergumul, keluar masuk permukaan air, tapi aku hanya bisa diam. Terlalu cepat, silih ganti ekor perak dan sayap bayangan itu; jika aku menebas, bisa jadi jurusku hanya akan melukai sahabatku.

Lama kemudian baru makhluk itu diam. Arung membiarkannya tenggelam lalu mendekat ke perahu. Pembuluh-pembuluh darah berdenyut di sekitar luka sengat di bahunya, ungu oleh racun.

“Kita harus mencari dukun,” aku berkata.

“Ke mana kau akan mencari, di tengah laut seperti ini?”

“Ke manapun!” balasku sengit. “Kau teracuni oleh teluh yang lahir dari murka raja. Luka ini kecil, tapi kalau dibiarkan, kau pasti mati. Jangankan kau. Istriku nyaris meninggal karena teluh Karaeng Tallo, padahal di dalam nadinya mengalir darah para dukun terkuat!”

“Tapi istrimu bukan raja. Padahal, murka seorang raja hanya bisa dilawan dengan kasih seorang raja.”

Aku tak mengerti. Pun Arung tak menjelaskan. Ia hanya menyentuh dadanya dengan telapak kanan, lalu memindahkan tangan itu ke dadaku. Dalam hitungan kejap, pembuluh-pembuluh ungu di sekitar lukanya berubah pupus.

Pagi harinya, luka tersebut sudah hilang tanpa bekas.

Sejak itu malam-malam kami tak pernah tenang. Menjelang senja, parakang selalu datang. Kadang lima. Kadang tujuh. Tapi pernah pula hanya tiga. Arung menjelaskan bahwa itu adalah pertanda bahwa kekuatan Karaeng Tallo sedang melemah, karena, “kelihatannya istri dan dukunmu mencoba memakai kasih ayahmu untuk melawan pamanmu.”

“Apa mereka akan menang?”

“Jika kasih ayahmu lebih kuat daripada murka pamanmu.”

Mendengar itu harapanku naik. Aku menimbang untuk pulang, tapi Arung tak setuju. “Tetaplah mencari I Balangkoa,” ia berkata. “Dukunmu akan mengirim kabar kalau mereka menang.”

Aku menurut.

Tiga hari kemudian, seekor gagak putih turun ke perahu. Dari hiasan manik-manik pada lehernya, aku tahu bahwa burung itu dikirim oleh Dukun Tenri.

Pada cakarnya tergenggam dua benda.

Yang pertama adalah sehelai ikat kepala merah, bersulam nagajene emas dan bunga karang. Ikat kepala ayahku, Sang Karaeng Somba Opu Keduapuluh Satu.

Yang satu lagi adalah carikan selendang. Aku mengenali bahannya. Cindai laut terbaik, rambut Arung yang kujadikan hadiah saat melamar istriku.

Kedua benda tersebut ditulisi oleh pesan yang sama. Bukan huruf tapi noda darah, hitam dan busuk oleh kemenangan teluh.

***

Jika saat itu engkau kutanya, “Apa yang baiknya kulakukan?” apakah jawabmu, Daeng? Akankah kausuruh aku kembali ke Somba Opu untuk melawan Karaeng Tallo?

Engkau menggeleng.

Benar, Daeng. Kembali adalah perbuatan bodoh. Barangkali aku bisa melawan Karaeng Tallo karena aku dilindungi laut, tapi itu berarti memantulkan teluh kepada mereka yang kukasihi. Ayah dan istriku telah mati. Mungkin berikutnya Ibu yang terkena. Lalu saudara-saudaraku. Lalu pengawal-pengawalku. Dan akhirnya, rakyatku.

Tapi saat itu akalku sudah hilang. Sambil berteriak-teriak aku mengayuh ke arah darat. Arung mencegah; ia menggerakkan tabir awan menutup Langit, membuatku tak bisa membaca bintang. Ia juga menyuruh arus merampas dayungku, dan memerintah kawanan nagajene untuk mendorong perahuku menjauhi Somba Opu.

Pada akhirnya ia menang. Perahuku merapat di Pulau Padengo. Aku merangkak keluar, dan berteriak mengutuki Arung sampai sadarku hilang.

Saat bangun aku telah berada di sebuah kuil pualam. Penghuninya para gadis dan pemuda berbaju putih. Mereka merawatku selama dua hari, lalu membawaku menemui Tumangissengi I Balangkoa yang cantik tapi mengerikan, yang memakai gaun dari bulu-bulu gagak putih.

“Karaeng Somba Opu,” demikian sapanya, tak lalai bahwa kematian Ayah telah menjadikanku raja. “Kau kemari untuk membalas Karaeng Tallo. Benarkah?”

Aku mengangguk. Kepalanku erat, menggenggam ikat kepala ayah dan selendang istriku.

“Ini perkara pelik, Karaeng. Teluh semakin kuat seiring bertambahnya jiwa yang ia renggut. Karaeng Tallo telah membunuh cucuku dan ayahmu. Satu berdarah dukun, satu seorang raja. Jika kita hendak mematahkan teluhnya, kita pun harus mengorbankan darah dukun dan seorang raja.”

I Balangkoa berhenti sejenak.

“Aku bisa membayar syarat pertama dengan darahku. Tapi yang kedua—”

Aku lekas memotong, “Kau menginginkan jiwaku.”

I Balangkoa menggeleng.

“Kalau kau mati, Karaeng, murka siapa yang harus kupakai untuk melahirkan teluh balasan?”

Setelah itu ia tersenyum pahit dan mengajukan satu pertanyaan kejam.

“Ribuan tahun lalu, kami para penghuni Pulau Padengo memberi gelar karaeng kepada raja-raja yang lahir di atas tanah. Tapi tahukah kau, gelar apa yang kami beri untuk raja-raja yang menjelma dari kasih laut?”

***

“Arung.”

Makhluk yang kupanggil muncul dari antara lipatan ombak, melata di pantai, dan menghampiriku.

“Ada apa, Karaeng?”

Saat itu adalah kali pertama Arung menyebut gelarku. Harusnya aku sadar bahwa hal tersebut adalah pertanda. Ia sudah paham mengapa aku ingin bertemu dengannya. Juga, niat apa yang bermain di benakku.

“Maaf aku mengumpatmu kemarin.”

Tapi ia tak lari.

“Tidak mengapa.”

Aku melanjutkan, “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

“Apa?”

“Jika raja Somba Opu bertitah, semua yang ada di Somba Opu, baik itu nelayan, prajurit, maupun dukun, patuh kepadanya. Bukan begitu?”

“Benar.”

“Seperti halnya jika raja laut bertitah, semua yang ada di laut, baik arus, awan, dan para nagajene, patuh kepadanya.”

Arung mengangguk lemah.

Dulu ia pernah berkata bahwa Langit murah hati. Jika itu benar, tentu Langit akan mencegah hal-hal yang terjadi setelah detik itu. Ia akan memutar balik waktu. Ia akan mengembalikan masa-masa ketika aku masih menjadi Pangeran yang Dikasihi Laut, ketika aku tidak tahu bahwa arung bukanlah nama, tetapi gelar.

Kami berhadapan.

Arung menutup mata.

Napasnya, yang dulu pernah menyambung napasku, berubah menjadi dangkal dan pendek-pendek.

***

Aku yakin Daeng, engkau bisa membayangkan apa yang berikutnya kulakukan.

Engkau bisa merasai getar tanganku saat menghunjam badik.

Engkau bisa mendengar raunganku, saat tertunai syarat I Balangkoa untuk membalas Karaeng Tallo; saat degup-degup terakhir jantung Arung merambat pada kale badikku, dan menjerit, dari tubuhnya ke jiwaku.

Engkau diam, Daeng. Langit juga. Tapi berbeda darimu, Ia diam bukan karena kaget atau muak.

Ia tidak peduli.

Ia membiarkan aku mencicipi kematian.

Ia juga tak mencegah Arung menunjukkan kepada siapa kasihnya tertuju. Begitu singkat, dengan ketulusan yang membunuhku pelan-pelan, tak ubahnya luka yang terus berdarah.

***

Ketika aku pulang, para Tua-tua menulis beberapa catatan baru di dalam buku riwayatku. Bunyinya seperti ini:

 

Tahun Sembilan Ratus Sembilan Puluh Empat, Bulan Surut, Hari Delapan.

Karaeng Tallo berupaya merebut Somba Opu dengan teluh. Andi Pangerang Ningai ri Tamparang menghalangi niatnya, dengan berlayar ke Pulau Padengo…

Tahun Sembilan Ratus Sembilan Puluh Empat, Bulan Pasang, Hari Tiga.

Andi Pangerang Ningai ri Tamparang kembali. Nyaris seluruh keluarganya telah mangkat, tetapi perjalanannya tak percuma. Ia berhasil mengajukan pinta kepada Tumangissengi I Balangkoa, yang melahirkan teluh balasan dan membunuh Karaeng Tallo…

 

Tapi lihatlah, Daeng! Tak mereka sebut mengapa kuperlu lima tahun untuk kembali. Sesungguhnya, I Balangkoa menahanku, dan mencoba segala cara untuk memulihkan jiwaku setelah apa yang kuperbuat.

Ia gagal.

Maka pulanglah aku sebagai jasad bernapas yang dihantui kenangan. Setiap hari, aku meracau tentang ikat kepala nagajene. Atau selendang putih. Tapi paling sering, tentang laut yang mengasihiku, dan kubunuh dengan tangan sendiri.

Puncak kegilaanku terjadi pada suatu senja. Ketika itu aku dikunjungi oleh Patarai, anakku lelaki, hadiah terakhir dari Andi Putri Kananga. Dukun Tenri telah menyelamatkannya, dengan memohon pada Langit agar ia boleh tumbuh dan lahir dari dalam anyaman daun lontara bertulis doa. Harusnya ia kujaga dan kukasihi. Tapi apa yang kuperbuat?

Aku mencekiknya.

Padahal apakah dosanya, selain bahwa ia memberiku pelukan, dan berkata bahwa ia mengasihiku; selain bahwa ia kebetulan mengulangi apa yang diperbuat Arung sebelum mati?

Maka para Tua-tua membuat keputusan. Hal terbaik untuk Somba Opu adalah meracuniku, dan tidak membiarkan rakyat tahu banyak tentang kematianku.

Engkau tak menyalahkan mereka. Aku tahu itu.

***

Nah, Daeng, telah kupenuhi janjiku. Kautahu kini bagaimana aku mati. Kaujuga paham tentu, mengapa Langit mengembalikan warasku, sekaligus mengutukku menjadi arwah kelana: Ia ingin aku meratapi semua perbuatanku untuk selamanya.

Apa kau ingin mengatakan sesuatu?

Engkau menggeleng dan menatap iba. Pertama padaku, lalu pada pinisi pelarunganku. Tambatan kapal itu baru saja dilepas. Angin dan ombak mendorongnya ke tengah laut, menuju titik di mana jasadku akan meninggalkan geladaknya.

Saat itu tak akan lama, lagi Daeng. Maukah kau menemaniku sampai semuanya selesai?

Kulihat engkau mengangguk, maka ijinkanlah aku pamit sejenak, untuk berbaring di dalam jasadku. Para pengawal istana telah menurunkan sekoci berhias ke permukaan laut. Dukun Tenri mengawasi mereka. Di sebelahnya Patarai berdiri, mengenakan ikat kepala bersulam nagajene dan bunga karang. Bekas-bekas jemariku di lehernya belum hilang. Namun, ia masih bisa menangis untukku.

Begitu sekoci berada di air, Dukun Tenri membaca doa, agar laut menerima tubuhku dan Langit menerima jiwaku. Tapi entah dari mana, tiba-tiba saja ombak besar menggulung sekociku. Sama seperti dulu, ketika aku menyelam demi mencari hadiah lamaran; dan seperti dulu juga, tangan-tangan manusia menarik tubuhku.

Sepenggal suara menyapaku.

Selamat datang, Karaeng.

 

Arung?

Mustahil.

Apa begitu mustahil, jika kukata Langit mengijinkanku menunggumu?

 

Tak mungkin. Tak mungkin Arung menolak ketenangan abadi, hanya demi menunggu aku, arwah kelana yang dikutuk Langit.

Engkau tak dikutuk, Karaeng. Dulu engkau merampas seorang raja dari laut. Tapi baru saja, rakyatmu menyerahkan seorang raja kepada laut. Bagi Langit, engkau sekedar berhutang, dan sekarang, Ia memberimu kesempatan membayar.

Ah, Arung! Bagaimana aku harus membayar?

 

Dan ia menjawab, dengan memberiku napas untuk kali kedua. Desir-desir tenaga memasuki relung-relung jasadku dan mengisi kekosongan yang dahulu pernah ditempati hidup. Jemariku mulai bergerak. Mataku mengerjap, kemudian terbuka.

Adakah kaulihat apa yang kulihat, Daeng? Negeri di bawah laut, menampakkan diri tanpa aku perlu berandai-andai. Bunga-bunga karang, dalam kecerahan yang tak pernah terlihat mata manusia, menari di bawah jejaring sinar matahari dan buih ombak. Arus, awan, serta angin bergulung menjadi satu. Ketiganya berbisik kepadaku, mengajariku bercakap dalam bahasa mereka.

Dan para nagajene, semua nagajene, kini tampak separuh manusia. Tangan mereka  terkatup khidmat di depan dada. Serempak mereka memanggil aku sekaligus memanggil laut yang mengasihiku. Tunduk menghormat, kepada kami yang telah satu.

“Selamat datang kembali, Arung.”

***

Adakah kauduga ceritaku berakhir seperti ini?

Jika kaubalikkan pertanyaan tersebut padaku, akan kujawab, “Tidak.”

Pun tak kusangka, bahwa pada saat aku menengadah, akan terjadi sesuatu yang luar biasa.

Dari bawah permukaan laut, kulihat seekor camar terbang di Langit. Aku melompat keluar air untuk menyambar burung tersebut. Tak kusangka, tubuhku rupanya melonjak tepat di depan pinisi pelarunganku sendiri.

Para tubarani berseru takjub. “Nagajene! Nagajene!”

Dukun Tenri mengucap doa puji. Setelahnya ia berseru lantang, “Ini suatu pertanda! I Malombassi Karaeng ri Somba Opu telah damai!”

Sorak bergemuruh sorai. Di tengahnya, Patarai menengadah. Takjub ia menatap sepasang lengkung perak, tubuh dan rambutku yang berkilau di bawah matahari.

Kemudian, senyumnya berubah menjadi satu kata indah.

Engkau tertawa. “Apa ia bilang, ‘Ayah’?”

Ah, Daeng. Akhirnya ada juga tebakanmu yang tepat!

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

164 Responses to Pangeran yang Dikasihi Laut

  1. H.Lind says:

    Oke… ini cerita yang bisa bikin semua pengarang ngiri. Saya kagum dengan gaya narasinya dan imajinasi yang membuat seolah-olah cerita ini benar-benar folklore Indonesia. Saya rasa alur dan ceritanya sederhana saja, mungkin ada yang bilang berat karena ga biasa dengan pelafalan nama2nya (saya juga ga biasa sih :P). Saya cuma agak bingung dengan penanggalannya. Congratz! :D

    • Hum.

      Saia memang paling bahagia kalau bisa bikin orang iri. #eh

      Mengenai penanggalan, memang bisa agak membingungkan kalau di sini. Rencananya sistem itu akan saia jelajahi dan jabarkan kalau saia bikin cerpan.

      Thanks for reading~! Lapaknya no 226 bukan?

  2. Hai salam kenal ya :D

    Wah ceritamu keren!! Endingnya gw suka. Ini pake POV campuran orang pertama dan kedua ya? Hehe. Jadi seolah2 pembaca ada di sana menyaksikan sendiri perjalanan sang Karaeng.

    Penamaannya agak bikin sedikit pusing sih pas baca. Hehe. Naming conventionnya diambil dari adat mana btw? :D

    Alur ceritanya udah rapih, penulisannya juga udah oke. Cerita ini bagus banget :) Haha. Jadi minder banget sama ceritamu.

    Oh ya, kalau sempat mampir ke lapak 244 ya :)

    • Hai hai~! Salam kenal juga ^^

      m(_ _)m

      Makasih sudah baca dan doyan endingnya!!

      Dulunya saia juga pikir cerita macam ini POV campuran, tapi kayaknya lebih tepat kalau ini disebut 1st Person POV yang memakai trope Breaking the Fourth Wall. (Dimana tokoh cerita bicara ke Daeng, apabila Daeng dianggap sebagai pembaca.)

      Biasanya Breaking the Fourth Wall dipakai di komedi. Tapi dalam rangka iseng saia pake di cerita non-komedi. :3

      Yup, siap laksanakan kunjungan balik! Mohon sabar menunggu kedatangan saia di 244… ^^

  3. negeri tak pernah-48 says:

    Keren!

    Ceritanya keren, ilustrasinya keren XD
    *kyaa kyaa heboh kaya cheerleader kepanasan*

    Aku malah lebih suka yang ini daripada Dongeng Kanvas. Gaya bahasanya memang ga simpel sih, tapi ga susah dimengerti juga koq. Nuansanya kerasa bangeut daerah Makassar, walaupun nebak-nebaknya Padang (geografiku mah parah dah). Ada konsentrat yaoi dikit, tapi ga bikin cerita butek.

    Nais sutori lah! 20 thumbs up XD

    Sembari pede walaupun minder, mampirlah ke lapak 48 jika berkenan.

    • Ah, makasih sudah menyukai cerita ini (dan membaca Dongeng Kanvas juga…)

      Saia maklum kalau ada yang sempat gak ngeh ini Indonesia sebelah mana. Gak kenal negeri sendiri itu wajar! Saia sendiri juga baru ngeh kok kalau di Padang ternyata ada yang jual konsentrat yaoi! #eh

      Nanti saia datang. Di No. 48 kan? ^^ Foke… eh Wokelah kalau begitu….~ #eaaa

  4. elbintang says:

    aha.ha.ha…asik banget, Luz.
    Tapi kenapa Karaeng bergelar Andi? bukannya Daeng yang bergelar Andi?
    pengetahuan gw tentang ini emang sedikit sih (tau gitu protes :p) but seems both of them are different.

    walo gak pernah denger nagajene tapi kalo ada sesuatu yang muncul dari laut dan mengangkasa pasti gw ingat nagajene-mu :-)
    thumbs up!

    *masuk kantong, deh*
    mengingatkan sesuatu…kapan novelmu ada di rak tokbuk, say?

    • Uwaaa, akhirnya!

      Udah saia tunggu-tunggu komentar Mbak El nun jauh dari Sulawesi sana!

      *nempel gaya koala* :3 :3 :3

      *psst… nagajene itu memang bikin-bikinan saia aja kok Mbak. Hihihi~ Tapi kalau kebetulan ke Somba Opu dan nemu Arung di sana, poto dong.*

      Setau saia, “Andi” itu cuma dipake sama anak raja atau (orang yang bapaknya) bangsawan tinggi. Granted, ini lebih ke Bugis daripada Makassar sih, sementara Karaeng itu Makassar banget.

      Sebaliknya, “Daeng” itu panggilan untuk to maradeka, atau orang-orang merdeka, alias rakyat umumnya yang bukan taklukan atau sahaya. Kalau seseorang termasuk rakyat biasa, dia malah gak boleh pake “Andi” di namanya.

      *lari ngumpet di lapak laen sebelum ditagih naskah yang lg diedit*

  5. Omake Corner #2

    Kali ini saia mau ngasih arti nama-nama para dukun di dalam cerita ini. Ada Dukun Tenri, ada Andi Putri Kananga, dan ada Tumangissengi I Balangkoa.

    Tenri (ten-RI) itu nama perempuan yang umum sekali di Sulawesi Selatan dulu.

    Andi Putri Kananga, (an-DI PUT-ri ka-na-NGA), saia kira gampang ditebak. Seperti nama suaminya, Andi adalah gelar bangsawannya. Putri ya “putri”, dan Kananga adalah “bunga kenanga.”

    Dan terakhir, Tumangissengi I Balangkoa, yang berarti “Si Gagak yang Mengetahui.”

    Bagian pertama namanya terdiri dari tau, atau to, yang berarti “orang”, dan mangissengi. Mangissengi berasal dari kata dasar isseng yang berarti “tahu, paham.”

    Dus, mangissengi berarti “mengetahui, memahami.”

    I adalah kata sandang. Kira-kira bisa disamakan dengan “si”

    Dan Balangkoa, adalah “burung gagak”. Ada juga yang pernah bilang sama saia kalau itu bilang burung elang, tapi yang kedua ini saia nggak terlalu yakin.

    Yup, sekian Omake Corner kali ini. Seperti biasa, kalau ada koreksian, mohon bantuannya! >w<

    • Jinbei says:

      Luz, gw penasaran dgn sistem penanggalannya.
      terutama yang bulan pasang dan surut.
      1 bulan ada brp hari?
      1 tahun ada brp bulan?

      • Un… kalau ini saia agak sulit jawab. Belum selesai sih bikin konsepnya. Maunya bikin pake sistem 13 bulan, belum terlalu ngeh sama sistem 13 bulan yang pernah saia baca. Saia lagi minta tolong orang untuk riset soal ini.

        Nama-nama bulannya juga masih belum fix. Mau dibenahin lagi nanti kalau worldbuildingnya disempurnain. ^^ Mau bantu?

    • Johan Padmamuka says:

      WOA! Gitu rupanya :D

      Eh, Kaka Luz tahu ini semua dari mana? Apa jangan-jangan Kaka Luz orang makasar?

      • He… saia emang punya darah Makassar. Pas kecil tinggal lama di sana. Tapi sekarang dah kelamaan di Jakarta, aksen Makassar dan pengucapan saia perlu dilatih lagi.

        Bahasanya juga saia dah kurang lancar sih. Tapi toh masih banyak saudara di sana. Ada sepupu-sepupu manis-manis yang bisa disogok coklat untuk jadi narasumber, hehehe. ^^

        • Johan Padmamuka says:

          Pantasen :D

          Pingin bikin kisah seputar Makasar… masalahnya orang makasar yang kukenal cuma Yusuf Kalla dan Sultan Hasanuddin :(

          Pan-kapan bisa sharing? :D

          • Un! Boleh aja sih.

            Saia akan share soal budaya Makassar sejauh yang saia tahu dan bisa saia tanyakan dari gerombolan sepupu di sana. Terutama klo kita semua lagi kongkow di Mall Panakkukang. Hihihi~

    • yin says:

      lanjutin lagi omake nya kk, saia koleksi yah <3
      (saia kira tenri itu nama cowo akakakakaka)

      • Eh beneran, “Tenri” itu kalau bahasa Jepang bisa nama cowok XD XD ada di komik apa gitu saia pernah baca!

        Oh ya, saia lupa ngasih cara baca Tumangissengi I Balangkoa. Caranya tu-MANG-isseng-I I balang-KOA’. “A” yang terakhir itu pakai apostrofi karena ditempelin bunyi “k” gantung, seperti kalau kita bilang, “kelak.”

  6. Atla Rhat says:

    wew~ satu lagi cerita yang bikin speechless 0.0
    bahasanya beraaaaaaaaaaat -.-

    namanya khas makassar ya, keren sih.. cuma nggak biasa aja ngucapinnya, jadi agak sulit ngapalinnya, apalagi gelarnya..

    setiap awal paragraf ko gak ada tab-nya ya??

    Arung itu cewe apa cowo si?
    katanya badan atas seorang pemuda, tapi dari kisah aku nangkepnya dia seorang cewe ya? *apa aku yg lola -.-*

    mampir ya, lapak 225
    kayak biasanya, maichi is allowed :D

    • Hoo~ Makasih!

      Soal awal paragraf ga ada tabnya, saia ga tau. Mungkin masalah di script situs, mungkin masalah browser. Soalnya di display saia formatnya sama aja dengan semua cerita lain.

      Arung itu cowok kok. Calabai sih, alias “laki-laki yang seperti perempuan.” Saia sepenuhnya ngerti kenapa ada yang loading dulu pas baca. Nggak semua orang terbiasa dengan… euh… cita-cita Bang ‘Rea’ Bowo pasca membaca cerpen ini. ^^

      Siap jalan-jalan siput ke Karnaval Lampion oleh Atla Rhat!

  7. R.S.B. says:

    Woh… Komen Subjektif :
    Okey. Saya perlu baca ini dua kali. Pertama saya selesai baca terus gak ngerti karena banyak kosakata yang saya kurang paham. Setelah jeda sekitar dua minggu lebih baru selesai baca dan coba memahami lagi… ooh…. #Perlu belajar bahasa Indonesia lagi.

    Saya baru tahu maksud Daeng itu apa, #Apa saya masih salah yah. Ini jenis ceritanya Breaking the fourth wall ya? Daeng di sini maksudnya pembaca. Urgh, baru ngerti setelah googling… Apa jangan2 saya salah lagi.

    Ini karya pasti perlu riset bener-bener yah (Atau orangnya udah dasarnya sulawesi yah?) =_= Hebat bener. Narasinya juga enak. Deskripsinya bikin kebayang-bayang, kosakata yang kau pake itu lohh cantik betul #gemes, terlihat sekali skill penulisnya udah jempolan ^_^..!b ==> *Ini gambar orang ngasih jempol, ga penting deh.

    Walaupun pas pertama baca gara2 masalah daeng ini saya sempat bingung. Saya kira Daeng itu tokoh dalam cerita, bahkan… BAHKAN #a minute facepalm… merasa malu sebagai anak Indonesia

    Karena saya belum paham betul adat istiadat budaya Sulawesi dan bla-bla dan sebagainya dan sebagainya, jadi saya gak bisa banyak mengkomentari soal latar ceritanya. Tapi kau berhasil membawa saya ke dunianya dengan nyaman… Terus apa yang kurang? Metode fourth wallnya itu loh! Naratornya sok tau nih, masak nebak-nebak is pikiran pembaca terus sih… Bete #Kabur sebelum diseret ke laut sama penulis…

    Nilai 9.5/10 Beautiful story with amazing narrative, amazing description, skillfully made. Argh!!!
    Oh ya, mampir dan minta pencerahan dong ^_^ ke 96 ya..

    PS: Gambarnya kok…. tak kirain Nagajene si Arung ini cowo kok digambar cewe yah -_-)”’ #Just wondering…

  8. Zehel says:

    TERTIPU!
    Itulah yang saya rasakan setelah mengubek-ubek cerita rakyat di berbagai tempat untuk mencari ‘akar’ dari cerita ini.
    Gaya narasi yang bagus, setting unik, kisah cinta yang tidak biasa, dan penutup yang luar biasa.
    Saya tidak bisa berkomentar banyak selain, cerita ini bagus. Sangat menghibur – terlepas dari banyaknya tokoh yang tewas.

  9. laurentia says:

    Ehh bagus :)
    Aku suka model narasinya yang mengalir tanpa boros kata, dan bisa menarik pembaca. Lalu, buat karakter, saia suka arung. Haha..
    Penceritaan settingnya ga perlu dibahas lagi ya, dgn bahan yg mantap hasilnya bisa jd mewarnai ceritanya dgn khas.

    sukses yap :)

    • Makasih. Arung juga suka dikau dan menitipkan kecupan mesra dengan background penuh bunga-bunga mawar ala anime~ ^^*

      Minta nomor lapaknya boleh Mbak, buat kunjungan balik? Tadi saia cari, saia nggak nemu nama dikau di daftar peserta. Kalau sotoy takutnya saia nyeplos di lapak orang. Huhuhu~

  10. Shamyaza says:

    Hyaaaaa saya iri banget sama narasi dan gaya Bugisnya.

    Busyet! Busyet! Busyet! Busyet!

    Ini kereeennnn bangeeeettt!!!!

    Di saat kebanyakan angkat tema fantasi lokal cenderung memakai budaya Jawa…. Mbak Luz bisa pake budaya Makassar!!! Huwaaaa!!!!!

    • Panda nyari tombol like untuk kalimat “Di saat kebanyakan angkat tema fantasi lokal cenderung memakai budaya Jawa…. Mbak Luz bisa pake budaya Makassar!!! Huwaaaa!!!!!”

      Harusnya malah gak sekedar di-like tapi di-super-like itu bagian itu! Saya setuju sekali, rawr.

      Hehe.

    • Ini Bang Manik bukan?

      Makasih yap. Emang saia niatnya ngambil setting ‘seolah-olah Indonesia’ yang gak berbau Jawa. Bukan karena sukuis yak. Sekedar pengen nyoba aja bisa nggak nampilin nuansa Indonesia yang kental, tapi ga pake wayang, batik, atau Jawa. Untunglah kayaknya lumayan berhasil.

      Tunggu saia di Pengadilan oleh Shamyaza”!

  11. *mupeng sama ilustrasinya*
    *celingukan*
    EEEEEEHHHH??? Keren sangadh, bung Balthazor palsu.
    Panda… Panda… Panda…. *lempar Kapten Kucing ke Udara* <= Ini kan cuma kopas komentar pemilik Kastil. Ugyahaha. Ajarin dong Corel Draw dan Photoshopnya? Aku lagi butuh Maestro niy. NO KIDDING! ;)

  12. Desire Purify Loki says:

    Orang Sulawesi makanannya seram, kalong rica-rica krekes krekes. Orang batak makan anjing. Orang korea makan kimchi terus bladder-nya merah semua. Orang Jawa punya nasi goreng mawut, magelangan, wedang jahe, dan tentu saja getuk lindri. Orang Sunda punya camilan bubur sum-sum, pastel, kue sus Braga tanpa rum, dan terutama.. Kopi luwak membuat pipis anda wangi kopi krim. Apa bedanya sih sama budaya ras manapun? Orang Eropa punya Nessie, Scottish accent, dan tentu saja Arthur serta kroco-kroconya. Orang Arab punya Saladin. Orang Mars punya John Carter. Christopher Paolini punya Glaedr, Thorn, Saphira Bjartskular tapi jelek banget naga ijonya. Roran Stronghammer punya istri dengan kecelakaan zinah. Orang Afrika main Voodoo pake Shaman dan dukun-dukun yang kalau diliat-liat paling kaya orang Papua lagi punya mumi asli dan koteka dan tombak dan panah dan Belda dikerjain di acara Pulau Terbuang. Makanya Indonesia nggak aman, makanya kita semua dilahirkan di sini. Terlebih, kitalah satu-satunya yang ngerti apa itu Lingga Yoni, Borobudur, Green Canyon, Taman Safari, Ragunan, dan Jl. Ganesha yang ada palang Pintu Surga. Makanya jangan jajan sembarangan. Sekarang semua orang kena stroke, darah tinggi, mati seketika ketika wisuda kelulusan. Yang salah bukan Tuhan, tapi manusianya. Kalau mau menyalahkan dia, mestinya kita introspeksi duluan. Bukan mencela dengan analisa kaya Mahadibya Nurcahyo Chakrasana. Jangan menyerah meskipun kau kurang 1 kalimat. Spasi krusial. Sama seperti abjad, logo, simbol, apapaun, bahkan link YouTube yang dijadikan anagram seperti Headline Prediction. Makanya Inner Circle saia cuma 5. Makanya teman saya hanya anda semua. Intinya sih, sudahlah, lepaskan saja semua perangkat basi dan mulailah menulis. Jangan mau kalah meski kamu miskin, alasan, keluhan, bantaian jitakan sabetan dan goresan pena yang lebih tajam dari pedang itu biasa. Aku? Ini udah enakan. Tapi nyaris saja kena DBD. Obatnya paling jus jambu biji campur tomat, tidur, dan tentu saja air putih dibanyakin. Tolong re-consider sajalah. Aku hari ini ga ada guna men-summon siapapun, selain bicara bias sama perangkat elektronik saya. Bersyukurlah, aku tidak pernah sendirian. :)

  13. dan Pus berkata: (maaf telat) says:

    “Tapi kemudian makhluk itu menarik tubuhku dengan tangan-tangan manusia. Juga menyambung napasku dengan napas manusia. Baru setelah menghirup udara di atas laut, kulihat bahwa ia memiliki tubuh bawah ular air, serta tubuh atas seorang pemuda.”

    Aha. I zee wat u did dhere.

    *disabet ekor Arung*

    ow … well, aniwai, untuk ceritanya dan penulisannya sendiri … ak enggak bisa bilang apa-apa selain dikau tahu jelas apa ingin yang dikau tulis, dan hasilnya memang WIN. Selain itu, ilustrasi itu … benar-benar …. argh. *mulai guling-guling mengerang sendiri*

    *uhuk* btw … soal kepenulisannya sendiri, ak mau sedikit share pengalaman ak pas baca cerita ini di blog anda dulu.

    Waktu itu, ak baca cerita ini dalam mood yang agak enggak baik (dan karenanya, lebih sensitip dari biasanya), dan waktu si “engkau” menyela saat Karaeng-Arung bercerita tentang keberangkatan dirinya ke Pulau Padengo, ak sempat jengkel dan membatin, “Hayah, diamlah kau! Aku ingin mendengar Arung bercerita, bukan mendengar ocehanmu!” Yah, mungkin si “engkau” yang sedang mendengar cerita ini memang begitu sifatnya, tapi karena ak merasa yang dimaksud dengan si “engkau” di cerita ini adalah aku, jadi aku merasa jengkel sendiri, seolah tengah ditegur oleh sesuatu yang bahkan tidak aku lakukan :v Mungkin membuat identitas si “engkau” ini menjadi “pasti” bisa menghindari prasangka ini? Tapi belum pasti juga sih, secara kemungkinan tidak ada orang lain selain ak yang merasakan ini .. *foreveralone.jpg*

    Hahahah, well, aniwai, thanks a lot for this delightful reading! ^^

    • *Membulatkan Pus sampai kayak Poyo lalu slam dunk ke ring basket terdekat*

      Kalau jengkel sama si engkau itu juga gpp kok. Identitasnya sengaja ga saia jelasin karena dia ga cuma bisa jadi pembaca. Dia juga bisa jadi orang kepo yang doyan nyelak. Sikap dia itu bertujuan mengemulasi situasi dimana ada orang menuturkan cerita seru, tahu-tahu ada satu oknum yang nyelak mulu dan yang lain pengen menganiaya dia.

      Ini dimaksudkan untuk memancing pembaca bereaksi pada cerita–yup, mau wujudnya rasa kesal pada tokoh sekalipun, reaksi adalah reaksi–hingga mereka lebih ‘terlibat’, sekaligus ngasih jeda tanpa make pergantian babak.

      Dan yang terakhir, makasih mampirnya~! Nanti Spr~oink bawakan ikan~

  14. Luz~

    Kukira kalau menilik dari gayamu, cerita ini akan berakhir di kematian Karaeng. Mungkin dengan nagajene yang menariknya ke dalam air, selamanya memenjaranya di sana. Tapi aku salah. Ternyata ini tidak se-dark perkiraanku, walaupun perasaanku waktu baca cerpen ini rata-rata down dan agak depressed. Indah, nonetheless. As always.

    Pembukaannya agak ganjil buatku, yang sama sekali nol dalam pengetahuan budaya Bugis atau Makassar. Mungkin itu yang membuat aku ragu untuk membaca cerpen ini, walaupun aku sudah membuka lapak ini lebih dari enam kali sejak Fanfes dimulai. Ceritamu selalu jadi yang awal yang kucari. Tahun lalu aku sukses menyelesaikan cerpenmu dalam satu kali bukaan lapak. Hahahahaha.

    Tapi kali ini aku menyelesaikannya, dan aku tidak dikecewakan.

    • Nyang~ jangan bilang dark ah! XD

      Bilang “gelapgulita” dong. Kita kan harus memakai istilah bahasa Indonesah yang baik dan benar~ >:3

      Ini komen pertama yang memakai D-word, dan ini menarik. Soalnya, saia gak niat bikin suasana demikian–ga niat sedikitpun, bahkan. Bad ending atau deathcount tinggi nggak identik dengan gelapgulita, kan? Happy Tree Friends, contohnya.

      Saia sebetulnya lebih terbantu kalau dikasih tahu apa bagaimana yang ‘”ganjil” di pembukaannya, dibanding dikau langsung menyimpulkan kalau akar soalnya subjektif, dalam arti “Oh, masalahnya di saia karena saia ga kenal budayanya.” Soalnya, bisa jadi masalahnya bukan itu, dan memang ada yang bisa diperbaiki.

      Thanks sudah mampir ^^ Nanti saia balas datang ke Lexica by Fenny Wong

  15. Hehehe, sebenarnya dua baris pertama ini yang bikin aku selalu terhenti:

    Tahun Seribu, Bulan Pasang, Hari Sepuluh.

    Karaeng Somba Opu Keduapuluh Dua mati dan dilarung.

    Pertama adalah aku kesulitan membayangkan penanggalannya. Saya tipikal orang yang nggak banyak mikir kalau soal yang begini, mungkin yang Luz bisa kategorikan untuk melihat cerita ini sebagai sebuah roman indah daripada yang berlapis-lapis. I enjoy things in a simpler way, tapi aku tidak diizinkan untuk itu dengan kalimat pertama itu.

    Lalu baris keduanya tidak membantu. Karaeng? Somba Opu? Dilarung?

    Aku suka membaca yang indah-indah dan yang kalimatnya perlu ditelaah lagi lebih lanjut. Tapi untuk kebanyakan waktu aku capek juga. Agak menguras tenaga, walaupun aku tahu itulah yang harus dibayar untuk narasi yang indah. Contohnya seperti di ‘Juga menyambung napasku dengan napas manusia.’, aku nggak sadar mereka ciuman sampai Ivon nyinggung soal ini di komentar atas. Bukti bahwa banyak dari kalimat-kalimatmu yang malah jadi pass by semata di benakku.

    Soal dark, sejujurnya aku merasa Dongeng Peri itulah yang lebih… sparkly dan magical (?), dan cocok dengan ending happy tapi gak happy2 amat kayak ending di sini. Sedangkan untuk cerita ini, malah kupikir kalau Karaeng ditarik oleh Arung ke bawah laut, sebagai hukuman dan balasan (diberi tanggung jawab untuk menjaga laut selama-lamanya, menggantikan Arung, for instance) lebih cocok. Atau mungkin si Arung udah foresee ini semua dan sebenarnya dia mendekati si Karaeng, ‘mengasihinya’, adalah karena untuk ulterior motive ini. Membuat si Karaeng hutang budi pada Arung, agar dia bisa menggantikan posisi never-ending Arung di laut.

    Tapi itu hanya ocehanku saja, hehehe. ^^

  16. Ah, IC. “Larung” itu bisa bingungin ternyata ya? Saia baru tahu, soalnya saia yakin itu termasuk kata yang cukup lazim dalam Bahasa Indonesia. Itu ga spesifik budaya Sulawesi malah. Di Jawa tradisi melarung sesajen ke laut juga dikenal soalnya.

    Saia juga bukan ga menimbang bikin ending kayak yg dikau bilang. Bisa jadi itu akan lebih menyenangkan atau lebih mencekam. Tapi kalau seperti itu, saia mengorbankan tema dengan menjadikannya dangkal. Saia nggak kepingin Dongeng Kanvas terlalu hepi karena nanti kesan yang tertangkap akan berubah jadi, “Mimpi itu gak usah usaha. Cukup dibantu sihir dan peri kita bisa sukses dan hidup bahagia.”

    Sama halnya, ngga pas saia bikin Arung cuma jadi penjahat yang mengincar si Karaeng, atau si Karaeng dihukum. Tema cerita ini bukan “ada kekuatan ‘yang di atas’ menghukum orang,” atau “cowok duyung jahat bikin rencana menjebak orang”, tapi “penebusan.” Sebab itu penting bagi si Karaeng untuk sukarela menerima nasibnya.

    Soal Ilustrasi, thanks! ^^ Kalau diminta komisi, asal spesifik ilustnya apa dan resolusinya berapa mungkin bisa. Tapi nggak janji juga klo waktunya mepet. Tergantung kesibukan kuliah saia soalna. :3

    • Hehehehe, mungkin aku aja kok Luz yang bingung, karena kurang baca novel-novel yang berbau Nusantara. Kata-kata seperti ‘cindai’ atau ‘badik’ pun sebenarnya asing, kalau bukan pertama kali kudengar.

  17. Dion says:

    Jd keingat la Galigo …ini setting spt Indo bagian Timur … bgs sekali

  18. Jovyanca says:

    Salam kenal, Luz! :D

    Ceritamoe bagUzzzzzzz~

    Bahasanya beda ya (ada bagian yang sempat bikin mikir, “Apa ini maksudnya begini ataw mungkin begitu ya?” wkwkwk.. Tapi tidak terlalu mempengaruhi keseluruhan cerita si). Saia salut, dirimoe bisa bikin yang unik begini. *thumbs up* Ilustrasinya juga mantep. b^^ And Arungnya keRRren~ :D

    Hanya saja, si Arung itu sayang banget yea ama si Pangeran. Rasanya agak gimana gitchu. Hehe.. ^^a

    Lalu karena tidak tahu arti kata Daeng (saia pikir itu sejenis dewa kematian atau roh lain), saia baru nyadar kalo yang dimaksud dengan Daeng itu pembaca yang diajak bicara ama tokohnya, setelah baca komen-komen. Mpe akhir masi mikir, “Jadi Daeng ini apa fungsinya ya dalam cerita ini?” Wkwkwkwk.. Kacaonye dakoe. Ckckck..

    Yak. Anyway. This is one of the most interesting. ^^ Sukses ya! :D

    • Makasih banyak Mbak (atau Mas?) Jovyanca. ^^

      Arung memang begitu. Yaa… namanya sayang, kadang orang ga bisa milih mau sayang siapa, gak cewek gak cowok. Tapi saia senang dikau bilang Arung keren! Menampilkan karakter seperti dia dalam taraf yang nggak angst, nggak ekspolitatif, dan “acceptable” untuk rata-rata orang itu memang tantangan tersendiri.

      Nanti saia berkunjung balik ke Perjalanan Bian by Jovyanca Ditunggu ya. :3

      • Jovyanca says:

        hm.. Adek aja, kalo bisa. ;p hahahahaha.. #PunyaObsesiJadiABGLagi#

        Sip. Saia senang dikau senang. hehehe..

        Woke. Tak tungguin kunjungannya ya~ ^^

  19. Orett says:

    Walaupun saya agak-sangat-amat terlambat melihat event Fantasi Fiesta 12 ini dan juga membaca cerpen Luz, tapi saya yakin nggak ada kata terlambat buat bilang kalau ceritamu ini KEREN banget!
    Pertama, karena Luz bisa memadatkan informasi perjalanan saga Karaeng dalam satu cerpen saja. Kalimat yang dipakai efisien namun indah. Kosakatanya juga bervariasi sehingga nggak membosankan. Tema ceritanya sekilas sederhana, tapi ketika ditelusuri sangat menarik dan tidak terduga perkembangannya. Saya suka dengan “murka raja yang dibalas kasih raja”. Alurnya enak dibaca dan nggak bikin pusing. Nama-namanya juga eksotis dan jelas gelarnya. Ngomong-ngomong, sudah lama saya nggak dengar kata ‘larung’ haha…
    Kedua, karena latar belakang etnik yang dipakai. Begitu membaca kata Somba Opu dan Daeng, pikiran saya langsung flash back ke buku sejarah jaman sekolah dulu. Rasanya ada hubungannya sama Sultan Hasanuddin XD Lalu saya duga-duga, mungkin ini Makassar, tapi dari perahu pinisi dan masyarakat nelayan yang menghormati laut dalam cerita ini, bisa jadi juga Bugis. Well, ternyata benar dua-duanya ^^. Saya kagum dengan istilah dan nama-nama yang dipakai, yang pastinya sudah diriset sehingga walaupun bukan riil, akan mudah dihubungkan dengan bahasa suku yang bersangkutan. Nama-namanya eksotis, punya makna dan gelar-gelarnya jelas. Saya sampai percaya kalau nagajene memang bagian dari folklore loh, dan mengubek KBBI untuk cari arti kata cindai XD
    Ketiga, karakter-karakternya mudah dikenali dan nggak ada karakter yang sia-sia. Saya sempat penasaran dengan I Balangkoa, nenek buyutnya nenek buyut. Tuanya kayak apa ya? Eh ternyata, seperti wizard-wizard yang awet muda haha.. Baru sadar juga kalau Karaeng Tallo itu antagonis yang nggak pernah kelihatan batang hidungnya. Lalu, tokoh Arung yang pastinya seperti mermaid. Awalnya, saya merasa ada ‘hints’, tapi itu nggak kentara dan seiring berjalannya cerita saya berusaha ‘fokus’ XD hingga akhirnya bahagia melihat ending yang nggak terduga. Luz sukses meramu elemen makhluk gaib Nusantara jadi keren dan menarik. Singkat kata, saya terharu dan senang bisa membaca tulisan sebagus ini XD Apa ada rencana untuk dibuat extended versionnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>