Para Pelopor Perdamaian

PARA PELOPOR PERDAMAIAN

karya Nuno Qadarwaty

Pesta kembali di gelar. Bermacam-macam nyala kembang api menghiasi langit malam. Genderang saling bertabuh di susul suara terompet yang begitu memekakan telinga. Sorak sorai penuh kebahagiaan dan suka cita terpancar di hampir seluruh wajah penduduk desa Brugendville. Kembali lagi desa ini mengukuhkan keberadaannya sebagai desa terkuat di seantero Dunia Tengah. Desa ini baru saja mengambil kekuasan atas desa Venators, sebuah desa yang di huni oleh para drawf. Tentu ini menguntungkan bagi desa Brugendville untuk memperluas daerah kekuasan di tengah kemelut peperangan yang tengah terjadi.

Namun dengan begitu, semua kejayaan yang sedang di raih oleh desa Brugendville tak lantas membuat salah satu penduduknya merasa senang. Mabel Brunie, dia satu-satunya penduduk desa ini yang tidak pernah ikut bersuka cita ketika desa Brugendville berhasil meraih kekuasaan. Bahkan dia tidak pernah sekalipun ikut dalam peperangan melawan musuh. Yang ada dalam pikirannya hanyalah menyudahi peperangan. Baginya hidup akan terasa damai tanpa ada perbedaan antar bangsa yang hidup di Dunia Tengah. Sayangnya niat Mabel itu selalu mendapat cemoohan dan tawa meremehkan dari seluruh penduduk desa. Begitupun dari orang yang paling berkuasa di desa Brugendville, Malcom Brunie.

Mabel terduduk dipinggiran dekat sungai dengan mata kosong menatap pantulan bulan purnama yang terlihat indah dengan kesempurnaan warna kuning menyala. Di tambah dengan kilauan warna-warni dari kembang api yang menghiasi langit. Sekali dua kali Mabel melempar kerikil ke dalam sungai sehingga membuat gelompang kecil disekitarnya. Tatapannya kosong menatap aliran sungai yang tenang hingga sebuah suara menyadarkannya dari lamunan.

“Siapa di sana?” Tanya Mabel menoleh cepat pada jejeran hutan pinus yang ada di sebelah kirinya. Tidak ada siapapun selain angin malam yang berhembus dari dalam hutan. Matanya penuh selidik melihat pada kebisuan hutan pinus yang berdiri kokoh, tak terpengaruh oleh kebisingan dan keramaian di alun-alun desa yang sedang merayakan pesta. Tak ada siapapun di hutan selain desiran angin yang menggoyangkan dedaunan. Mabel bangkit dari duduknya. Perlahan dia beranjak dan berjalan menuju hutan pinus. Sesekali dia menoleh pada jalan setapak menuju desa yang ada dibelakangnya. Terlihat sepi dan tak ada tanda-tanda orang melewati jalan itu selain jejak sepatunya. Mabel semakin masuk ke dalam hutan pinus dengan penuh waspada.

“Halooo, apa ada orang di sana?” Ucap Mabel setengah teriak di tengah suara-suara asing yang ada di hutan. Sesekali lolongan srigala yang terdengar jauh di dalam hutan membuat Mabel meningkatkan kewaspadaannya. Tidak menutup kemungkinan kalau musuh sedang mengintai Brugendville dan berkesempatan untuk menyerang desa di tengah pesta. Sebuah tongkat sihir kini berada dalam genggaman Mabel. Matanya begitu waspada pada setiap gerakan sekecil apapun. Tampak ada sesuatu yang bergerak di dalam semak-semak. Mabel mendekatinya dan mulai mengacungkan tongkat sihirnya. Nyaris saja kucing berwarna coklat di sekitar ekor, telinga dan kakinya itu terkena sihir Mabel. Sesaat Mabel lega namun matanya membelalak melihat tubuh kucing itu bermandikan darah. Bahkan ada sebilah anak panah yang menembus kaki depan sebelah kanan si kucing.

Bergegas Mabel membawa kucing malang itu menuju rumahnya. Darah segar tak pernah berhenti keluar. Denyut nadinya semakin melemah dan memperburuk keadaan. Sesekali kucing itu mengeong kesakitan ketika Mabel mencoba untuk mengeluarkan anak panah itu dengan perlahan. “Panah ini beracun.” Gumam Mabel melihat gumpalan darah kucing itu mulai membeku. Dengan ilmu sihirnya, Mabel membuat pentagram bintang biru dan menempatkan kucing itu di sana. Dihadapan pentagram, Mabel berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Mantra terucap dan perlahan cahaya biru menyemburat membalut kucing dan membuatnya melayang. Tak lama gelembung-gelembung kecil berwarna hitam pekat keluar dari dalam tubuh kucing itu. Mabel memindahkan gelembung-gelembung kecil penuh racun ke dalam sebuah mangkuk besar. Dengan begitu sekarang dia bisa mengeluarkan anak panah dan mengobati luka si kucing.

Berbekal ilmu meramu yang dia pelajari di akademik, Mabel mulai membuat ramuan. Hasil dari ramuan yang berupa cairan berwarna biru berkilau itu, dia teteskan pada luka si kucing. Perlahan lukanya pun kembali merekat dan terlihat kucing itu terlelap. Mabel bisa bernafas lega meski ada segurat heran dikeningnya melihat panah yang tadi manancap di kaki si kucing. Panah dari bangsa elf.

*     *     *

Mabel terbangun bukan hanya karena suara meongan saja, melainkan suara bising di luar rumahnya pun turut membangunkannya. Matanya masih terasa kantuk. Kucing itu menatap lama pada Mabel seolah ingin mengucap terima kasih karena sudah menolongnya.

“Kamu terlihat sehat kucing manis.” Ucapnya sembari mengusap lembut kepala kucing itu. Si kucing membalasnya dengan meongan manja. Mabel berdiri dari duduknya dan tampak dia memijat-mijat tekuk lehernya yang terasa sakit.

“Kita harus lebih waspada dan meningkatkan jumlah patroli kala malam tiba. Jangan sampai kita lengah.” Suara tegas Ayah Mabel barusan membuatnya mengintip dari jendela. Keningnya berkerut melihat begitu banyak orang yang berkumpul dihalaman rumahnya. Mabel jadi tahu dari mana suara bising tadi berasal. Dia pun menggendong kucing itu dan berjalan keluar rumah.

Langkahnya langsung terhenti ketika semua orang menatapnya penuh curiga. “Nona Mabel, apa semalam kamu masuk ke hutan pinus?!” Tanya langsung pria berbadan tambun yang berdiri di samping Ayah Mabel, Malcom Brunie. Mabel mengangguk perlahan sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Meongan dari kucing yang memiliki warna bola mata yang berbeda itu membuat berpuluh-puluh pasang mata menoleh pada si kucing.

Terlihat di antara mereka saling berbisik sambil menatap tajam pada kucing itu. Bahkan pria tambun di samping Ayah Mabel pun berbisik seolah memberitahukan suatu hal dan menunjukkan sebilah anak panah yang mirip dengan anak panah yang menusuk kaki si kucing semalam.

“Mata-mata!!!” Teriak seseorang tiba-tiba dari dalam kerumunan. Teriakannya itu mampu memprovokator orang-orang di sekitar dan berteriak hal yang sama sambil mengacung-ngacungkan tongkat sihir mereka. Suasana seketika gaduh.

“Dia mata-mata! Bunuh mata-mata sekarang juga!!!” Kini malah ada seorang pemuda yang berdiri paling depan dari kerumunan, mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Mabel.

“Apa kalian sudah gila. Aku bukan mata-mata!” Protes Mabel tak terima.

“Kucing ini adalah mata-mata.” Tiba-tiba saja seorang pria berjubah hitam mengambil paksa kucing yang ada di tangan Mabel. Bagaimana mungkin seekor kucing dengan bola mata sebelah kiri berwarna kuning dan yang sebelah kanan berwarna hijau itu adalah mata-mata. Mabel berusaha mengambil kucingnya dari tangan Otis, pamannya. Sayang, tangan pamannya lebih gesit dan melempar si kucing ke dalam kerangkeng berisi mantra sihir.

“Atas dasar apa kalian menyebut dia mata-mata. Kalian tidak punya bukti berkata seperti itu.” Ucap Mabel berjalan menuju kerangkeng itu berada. Mabel mengacungkan tongkat sihirnya untuk mengeluarkan si kucing. Namun tiba-tiba kepala desa Brugendville mengucap mantra dan melucuti tongkat sihir Mabel hingga terlempar beberapa langkah darinya.

Hening. Semua mata tertuju pada Malcom yang terkenal tegas dan keras kepala. Hubungan ayah dan anak ini tak pernah akur sejak Mabel menolak untuk ikut berperang. Keinginannya untuk membuat damai seluruh Dunia Tengah tidak sepaham dengan sang ayah. “Bawa dia ke alun-alun desa dan bakar dia beserta para elf!” Perintah Malcom pada penduduk desa dan mengacuhkan tatapan penuh harap dari putri bungsunya. Seruan lantang disuarakan oleh warga untuk membunuh siapapun yang menjadi mata-mata dan menjadi musuh desa Brugendville. Tak ingin sesuatu terjadi dengan si kucing, Mabel berlari di belakang rombongan warga menuju alan-alun.

Tak dapat di percaya, alun-alun desa yang semalam penuh suka cita kini berganti dengan wajah-wajah bengis ingin membunuh. Mabel berusaha menerobos barisan warga. Matanya membelalak begitu melihat ada 2 orang dari bangsa elf tersujud dengan kedua tangan terikat kebelakang di dalam pentagram hitam. Begitupun dengan si kucing yang di lepas dari kerangkeng dan dilemparkan ke dalam pentragram yang sama. Itu adalah pentagram kutukan yang tidak sembarang orang menggunakannya.

“Bunuh! Bunuh! Bunuh!” Suara itu menggema ke seluruh desa.  Yang muda dan yang tua saling mengacungkan tongkat sihir mereka ke atas penuh dengan semangat.

Dengan tatapan tajam, Malcom perlahan berjalan menuju mata-mata yang ada dihadapannya. Senyum kecil merendahkan sepintas terlihat diwajahnya. “Kalian memang mencari mati sudah berani menyelinap ke desa Brugendville tadi malam. Apa kalian pikir bangsa elf bisa mengalahkan kami para penyihir, heh!” Teriaknya tepat dihadapan salah satu elf yang wajahnya sudah berlumuran darah. Tongkat sihir Malcom terayun dan mampu membuat elf itu menjerit kesakitan dengan mantra yang diucapnya.

“Arghttt!!!” Teriak elf itu lebih kencang tak bisa menahan sakit dari cahaya hitam yang keluar dari pentagram, yang mulai mencabik-cabik tubuhnya. Malcom semakin mempermainkan tubuh elf itu, membuatnya melayang-layang bahkan berguling-guling tak tahan dengan mantra siksaannya. Melihat hal itu semua penduduk desa tertawa membahana. Tangan Mabel teremas menyaksikan kematian yang dialami elf itu, hingga akhirnya sinar hitam menyelimuti seluruh tubuh elf dan dia pun mati terbakar.

Selanjutnya Tuan Malcom mempersilahkan adiknya untuk membunuh satu elf yang lainnya. Hal serupa dilakukan Otis pada elf yang masih terlihat muda itu. Tersirat wajah ketakutan dari elf itu. Mantra sudah terucap dan cahaya hitam mulai membalut tubuh si elf. Tentu saja Mabel tidak bisa tinggal diam menyaksikan kembali kematian itu. Dengan penuh keberanian dan keinginan untuk menciptakan perdamaian sekalipun itu harus menentang keluarga dan seluruh desa Brugendville, akan Mabel lakukan.

“Deriva altum!” Mabel mengucap mantra dan elf itu keluar dari pentagram hitam. Kontan itu membuat Malcom dan seluruh penduduk desa menoleh kompak pada Mabel.

“Apa yang kamu lakukan Mabel!!!” Teriak Malcom penuh amarah dan kesal. Dia berjalan hingga berada dihadapan putri bungsunya itu. “Kamu tahu dengan apa yang kamu lakukan itu, heh. Itu sama saja kamu sudah mengkhianati desa Brugendville.”

“Untuk membuat perdamaian, kita harus melakukan perubahan, Ayah. Dunia Tengah ini luas dan bukankah hidup akan lebih sejahtera jika kita hidup berdampingan dengan  berbagai bangsa.” Mabel menjelaskan. Sayang, ucapannya itu membuat Malcom semakin marah dan langsung mengucap mantra pada elf yang terduduk lemas tak jauh dari Mabel. Seketika elf itu mati tanpa menyisakan raganya.

*     *     *

Senja mulai turun keperaduan. Langkah Mabel terhenti ketika desa terdekat mulai terlihat dihadapannya. Ucapan Ayahnya yang sudah tidak menganggap Mabel sebagai putrinya dan bukan bagian dari desa Brugendville masih terngiang dalam benaknya. Keputusannya untuk pergi meninggalkan desa tak menyurutkan tekadnya untuk membuat Dunia Tengah damai. Meski niatnya itu sempat di larang oleh Ibu dan Kakaknya tapi pada akhirnya Mabel kini menjadi seorang penyihir pengelana. Berkelana untuk menyeruakkan perdamaian ke seluruh Dunia Tengah. Namun hingga kini niatnya itu masih menjadi bahan cemoohan dan bahan lelucon bagi orang-orang yang pernah Mabel temui.

“Mau sampai kapan kamu seperti ini. Mengeong layaknya seekor kucing sungguhan. Sudah sepekan kita hidup bersama, Keetlyn.” Tanya Mabel tiba-tiba pada Keetlyn, kucing yang dulu pernah ditolongnya. Sebelum meninggalkan desa, Mabel berhasil meyakinkan seluruh penduduk desa kalau Keetlyn bukanlah mata-mata dan hanya seekor kucing biasa. Untungnya bukti itu cukup kuat sehingga kini Keetlyn lah yang menemani perjalanannya.

“Sejak kapan kamu menyadari kalau aku bukanlah kucing biasa.” Jawab Keetlyn. Perlahan dia berubah wujud. Memang tak ada lagi yang harus ditutupi olehnya pada Mabel yang sudah dua kali menolongnya.

“Sejak aku mengobati luka kamu. Jika memang kamu kucing biasa, mungkin kamu sudah mati akibat dari racun itu. Lagi pula untuk apa para elf tiba-tiba saja datang ke desa Brugendville jika tidak sedang mengejar sesuatu.” Mabel mendeskripsikan bagaimana dia tahu kalau Keetlyn bukanlah kucing biasa. Ditatapnya sosok Keetlyn yang memakai jubah berwarna hijau tua. Rambut panjang berwarna perak tergerai begitu saja dan kedua telinganya yang lancip sudah menjelaskan kalau dia berasal dari bangsa elf. Namun yang membuat Mabel heran adalah kemampuannya dalam menyamar mampu mengelabui mata dan kekuatan para penyihir lain. Ilmu menyamarnya begitu sempurna. Jelas Keetlyn bukan sekedar elf biasa. “Sebenarnya kamu ini siapa?”

Keetlyn menoleh pada Mabel. Penyihir ini memang berbeda dengan para penyihir lain yang tidak menginginkan perdamaian. Sudah dua kali nyawanya di tolong oleh Mabel. Dan sudah sepekan pula dirinya menemani Mabel. Alangkah baiknya dia tidak menutupi apapun dari Mabel yang sudah dianggapnya sebagai teman. “Namaku Altariel Bronlairia. Darah yang mengalir dalam tubuhku berasal dari penyihir dan elf.” Altariel kemudian menceritakan kisah hidupnya yang harus bersembunyi dari kejaran para elf dan para penyihir, sejak kedua orangtuanya meninggalkan desa masing-masing dan memilih hidup bersama. Saat itu Ibu Altariel yang berasal dari bangsa elf jatuh cinta pada seorang pemuda dari bangsa penyihir. Tak heran Altariel memiliki kekuatan sihir.

Seperti halnya Mabel dan kedua orangtuanya yang sudah meninggal, Altariel pun berkeinginan untuk menciptakan perdamaian. Seolah menemui titik terang dalam menciptakan perdamaian, Mabel tersenyum penuh arti selesai Altariel menceritakan kisahnya. Mabel yakin kalau mereka berdua mampu meyakinkan semua bangsa untuk ikut menyudahi peperangan.

*     *     *

Seiring berjalannya waktu, Mabel dan Altariel berhasil meyakinkan beberapa desa untuk menyebarkan perdamaian. Hingga kabar buruk pun sampai di telinga Mabel yang kini sedang berada di desa Regendville. Desa penyihir yang terletak di sebelah timur. Tempat Ayah Altariel berasal.

“Tidak bisa aku percaya. Ketangguhan dan kekuatan para penyihir desa Brugendville bisa terkalahkan oleh bangsa elf. Sungguh memalukan. Desa itu dihanguskan oleh mereka selama peperangan tiga hari tiga malam.” Seorang pria bertopi kerucut memulai percakapannya dengan pria kurus yang ada dihadapannya.

“Itulah akibat dari kesombongan mereka yang tidak pernah mau meminta bantuan pada kita, penyihir dari desa Regendville.” Tambah pria kurus itu. “Kejadian ini sungguh mencoreng bangsa kita sebagai penyihir. Seperti dulu yang pernah dilakukan oleh Ralph Bronlairia. Kita harus melawan bangsa elf itu.” Mendengar nama Ayahnya disebut, Altariel hanya bisa bersabar.

Mabel masih berdiri lemas di belakang kedua pria itu. Seluruh tubuhnya bergetar membayangkan desa tempat dia lahir dan dibesarkan, kini sudah dihanguskan oleh bangsa elf. Mabel pun tak bisa membayangkan bagaimana nasib Ibu, Ayah, kakak dan seluruh penduduk desa. Matanya sudah berkaca-kaca, sekalipun dirinya sudah di usir namun hatinya merasa miris mendengar hal itu.

“Mabel, kamu mau kemana?” Teriak Altariel menyusul sahabatnya. “Tenang dulu Mabel.” Suruh Altariel setelah berhasil menyusul Mabel yang hendak terbang menggunakan sapu terbangnya.

“Aku tidak bisa tenang begitu saja, Altariel. Desaku hancur, bagaimana dengan nasib keluargaku. Aku harus ke sana untuk memastikannya. Mungkin saja masih ada penduduk desa yang masih selamat.” Tersirat cemas dan khawatir di wajah Mabel.

“Tapi kamu tidak boleh ke sana, Mabel. Itu berbahaya dan mungkin saja saat ini bangsa elf sedang menuju ke sini dan akan melakukan penyerangan.” Pinta Altariel.

“Untuk itulah aku akan berusaha untuk meyakinkan mereka agar menghentikan peperangan ini.” Mabel memegang pundak Altariel. “Dengar Altariel, kamu pun harus bisa meyakinkan penduduk desa Regendville. Yakinkan hal ini pada pemimpin desa ini, kakek kamu. Aku yakin kamu pasti bisa.” Altariel masih terpaku dengan kepergian sahabatnya itu dengan harapan perdamaian yang masih semu.

*     *     *

Firasat Mabel benar. Ternyata masih ada beberapa orang yang selamat dari peperangan. Salah satunya adalah kakak dan pamannya. Mereka bersembunyi di sebuah desa kecil yang sudah mendapat pengaruh Mabel tentang perdamaian.

“Bagus kamu ada di sini, Mabel. Kita harus serang para elf demi membalaskan dendam para penduduk desa dan orangtua kamu.” Tegas Otis di tengah Mabel sedang menyembuhkan lukanya.

“Paman, kita tidak mungkin balas dendam dengan jumlah kita yang sedikit. Lagi pula, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk memulai peperangan lagi. Sudah saatnya kita berdamai dan hidup berdampingan dengan bangsa lain.” Mabel mencoba meyakinkan pamannya.

“Cuih, aku tidak sudi berdamai dan hidup berdampingan dengan bangsa lain. Kita adalah bangsa penyihir yang paling terhormat di Dunia Tengah ini.” Angkuh Paman Otis memalingkan wajahnya.

“Apa yang dikatakan Mabel memang benar paman. Sudah saatnya kita hidup damai dengan bangsa lain di Dunia Tengah ini.” Tak di sangka ucapan itu keluar dari mulut Welfred, kakaknya. Mabel tersenyum dan merasa senang mendengarnya. Paman Otis malah marah dan meninggalkan desa beserta pengikutnya untuk melakukan penyerangan kepada bangsa elf.

Hal yang ditakutkan pun terjadi. Peperangan antar bangsa elf dan bangsa penyihir pun terjadi. Mabel dan Altariel ikut dalam pusaran peperangan. Kedua sahabat ini terus berusaha meyakinkan agar perdamaian harus tercipta di Dunia Tengah, meski keduanya harus ikut merasakan serangan dari bangsa penyihir maupun bangsa elf. Mereka-mereka yang menginginkan perdamaian dari berbagai bangsa ikut menjadi korban. Begitupun dengan Mabel yang ikut tewas dalam peperangan saat tubuhnya menangkis serangan dari bangsa elf begitupun sebaliknya. Banyak korban yang berjatuhan membuat kedua bangsa menyadari satu hal. Peperangan tidak akan pernah usai jika tidak hari ini diselesaikan. Di saat senja mulai turun keperaduannya, baik bangsa penyihir maupun bangsa elf menyudahi peperangan dengan berdamai dan itu berlaku untuk semua bangsa di Dunia Tengah. Itu tak lepas dari keinginan Altariel dan ucapan Mabel untuk hidup sejahtera dengan berbagai bangsa terngiang dalam benak mereka.

Satu tahun berlalu. Desa Bornegville lahir dengan penduduknya dari berbagai bangsa. Kehidupan mereka pun begitu damai dalam perbedaan. Altariel mencatat perjalanan dia dan sahabatnya untuk membawa perdamaian di Dunia Tengah dalam sejarah. Kini salah satu pelopor perdamaian itu menghilang tanpa jejak dan alasan. Sejarah mencatat kalau Altariel menjalani hidupnya menjadi seorang pengelana. Tak ada yang tahu di mana dia berada kini.

*     *     *

Dua puluh lima tahun kemudian. Seorang gadis kecil bertopi kerucut tersenyum lebar melihat seekor kucing begitu terpaku menatap patung para pelopor penggerak perdamaian di Dunia Tengah ini. Dia pun menghampiri kucing yang tak terusik oleh hilir mudik warga yang sedang merayakan 25 tahun Dunia Tengah tanpa peperangan. Begitu damai hidup berdampingan antar bangsa penyihir, elf, drawf dan bangsa lainnya.

“Diusianya yang masih muda, mereka sudah membawa perubahan yang berdampak besar pada perubahan Dunia Tengah. Kehidupan Dunia Tengah kini lebih damai, hidup berdampingan antar bangsa. Tentunya perjuangan mereka untuk mendamaikan Dunia Tengah tidaklah mudah. Setidaknya Sejarah mencatat perjalanan mereka. Itu yang aku tahu di sekolah.” Ucap gadis kecil itu menjelaskan pada si kucing. Kucing itu mengeong dan mengelus-ngeluskan kepalanya pada kaki si gadis kecil seolah dia mengerti dengan apa yang diucapkannya. Tatapan gadis kecil berambut merah itu tak lepas pada patung seorang penyihir dan seorang elf yang berdiri berdampingan. Patung itu diletakkan di alun-alun desa dan seluruh warga desa begitu menghormati patung itu. Jika bukan karena perjuangan mereka mungkin hingga kini Dunia Tengah masih berperang antar bangsa untuk saling merebut kekuasaan.

“Yvone, di sini rupanya kamu berada. Ibu sampai cemas mencari kamu, Nak?” Sebuah suara membuat gadis kecil itu menoleh. Dia tersenyum lebar begitu wanita berambut merah keriting mendekatinya.

“Ibu, aku baru saja menceritakan tentang kisah Mabel dan Altariel pada kucing ini.” Ucap Yvone antusias sembari menggendong kucing berwarna coklat di bagian ekor, telinga dan kakinya itu. Sekilas wanita itu menyernyit mendengar ucapan anaknya. “Aku melihat kucing ini sedari tadi terus terpaku melihat patung itu.” Lanjutnya, menunjuk patung Mabel dan Alteriel yang berada lima langkah darinya.

“Ow  itu bagus, Nak. Tapi alangkah bagusnya kalau kita segera menemui kakek kamu sebelum dia menyadari kalau kamu tidak ada disampingnya.” Suruh Lilyana, Ibu Yvone.

“Mmm… Tapi apa boleh aku membawa kucing ini, Bu? Aku menyukai kucing ini dan aku pikir Kakek Welfred pasti akan menyukainya juga.” Pinta Yvone yang langsung dapat anggukan setuju dari Ibunya.

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Para Pelopor Perdamaian

  1. rick luck says:

    Keren!! muatan moralnya …, moral banget =..= (ala pak bondan)
    asli keren!!!

  2. sintamilia says:

    Well written, Nuno. Good job! :)

  3. negeri tak pernah-48 says:

    Waah ini settingnya zaman Tolkien ya. Awalnya aq pikir ini typo ‘drawf’ tapi sepertinya memang sengaja? Karena diulang lagi dalam cerita dan persis sama.

    Bagian waktu Mabel jadi korban dalam perang mungkin bisa digali lagi. Ini bagian paling penting dalam cerita. Perlu dijelaskan lebih detil kenapa orang-orang sekarang berubah pikiran. Sebelumnya juga mereka udah berperang dan pasti sering jatuh korban. Kenapa sekarang mereka ingin damai? Kematian Mabel kurang berkesan untuk jadi alasannya.

    Satu lagi, untuk penulisan ibu (orangtua kandung) ditulis dengan ‘i’ kecil. Ibu dengan ‘i’ besar untuk panggilan.

    Narasinya enak dan mengalir. Moralnya juga jelas. Cerita yang bagus. Maaf kalau komennya tidak berkenan.

    Silakan mampir ke 48 :)

    • Nuno says:

      Pertama : Terima kasih lho udah baca dan komentnya ’48′ a.k.a. Milfeule. :)
      Kedua : Drawf itu kaya kurcaci. Kalau pernah nonton LOTR pasti tahu drawf itu kaya apa.
      Ketiga : Tadinya sih nih judul ada kata ‘jejak’ diawal judul, entah kenapa jadi ikutan dihapus dengan beberapa adegan yang dihapus juga karena kelebihan karakter termasuk adegan peperangan dan Mabel meninggal. T _ T
      Keempat : Dari segi penulisan nanti akan aku perhatikan lagi.
      Kelima : Siap menuju lapak 48 :)

  4. deyun says:

    kereeeenn…
    ga pernah kepikiran tuhh bikin yang beginian pasti menguras otak..hehhe
    meskipun bacanya ngebut tapi ngena kok.. :)

  5. Stella says:

    Keren nih. Gue suka endingnya. :D

  6. hijri cowell no 68 says:

    mampir ke tetangga. :D
    setelah baca ceritanya. jadi keinget film Hell boy 2. hehehe salah mungkin ya.
    btw corak kucing yg di diskripsikan mirip kucing gue loh. mocka namanya. wkwkwk
    mampir ke lapak q no 68 ya.

  7. Nuno says:

    Eh, kita tetangga ya. Terima kasih udah mampir dan komentnya.
    Salam kenal ya Hijri dan kucingnya, Mocka. Kebetulan memang kucingku yang bernama Manis, ciri-cirinya seperti itu. Hheee… :)
    Wah…, baca ini jadi keinget sama film Hell Boy 2 : The Golden Army ya? Pas bagian mananya ya? Hhheee… ^0^
    Okey deh siap menuju lapak 68.

  8. Atla Rhat says:

    ada beberapa pilihan kata yang menurutku kurang tepat :

    1. (i)[Hening. Semua mata tertuju pada Malcom yang terkenal tegas dan keras kepala. Hubungan ayah dan anak ini tak pernah akur sejak Mabel menolak untuk ikut berperang. Keinginannya untuk membuat damai seluruh Dunia Tengah tidak sepaham dengan sang ayah. “Bawa dia ke alun-alun desa dan bakar dia beserta para elf!” Perintah Malcom pada penduduk desa](/i)
    aku kira yg mau dibakar itu Mabel lho! ternyata si kucing!
    lbh enak gini gak sih.. :
    “Bawa kucing jahanam itu ke alun-alun desa dan bakar dia beserta para elf!”

    2. (i)[Tangan Mabel teremas menyaksikan kematian yang dialami elf itu, hingga akhirnya sinar hitam menyelimuti seluruh tubuh elf dan dia pun mati terbakar.](/i)
    teremas? mengepal kah maksudnya??

    cerita ini kayak gabungan antara setting LOTR dan sihir HP..
    sebenernya idenya bagus, tapi terasa terlalu dipaksa untuk dipangkas dan dipadatkan *apa mungkin potongan dari cerita besar?* seolah2 agar memnuhi kuota 3000 kata..
    kematian Mabel terasa hambar, dan ada beberapa adegan yang sebenarnya bisa dipangkas malah didetailkan sedetail2nya.. (kayak nemu kucing terpanah), padahal urusan perang itu malah justru yg harus diperdetail..

    untuk penokohan sepertinya terlalu banyak untuk ukuran cerpen 3000 kata…

    it should be amazing~

    *balasan kunjungan dari lapak 225 :D

    • Nuno says:

      Makasih atas balasan kunjungan dan komentnya ya Alta. :)
      Lain kali akan aku perhatikan lagi kata-katanya.
      Gabungan antara setting LOTR dan HP??? Hmmm, apa mungkin karena aku memasukkan istilah ‘Dunia Tengah’ yang mana itu ada di dunia karangan Tolkien. Untuk setting HP?? Dibagian mana ya? Apa karena mengambil tokoh seorang penyihir? Penyihir kan bukan milik HP doang. ^o^

      • Atla Rhat says:

        aq gak bilang setting HP..
        bilangnya sihir HP..
        *yg adegan tongkatnya Mabel ditepis itu lo..serasa HP menurutku*

        ada cerita versi panjangnya kah?

  9. hmmz keren bgt ceu coba diriku bsa nulis kayak gtu ;) good luck ya :)

  10. laurentia says:

    Halo Nuno :)

    Ceritanya menarik, mengangkat tema yang lumayan serius. Idenya ada, dan berpotensi. :) Cuma ada perasaan karena potensinya besar, cerita ini jadi kerasa lebih cocok untuk novel komplit daripada cerpen, karena di cerpen, ceritanya jadi kerasa di ‘fast-forward’ di bagian2 tertentu dan konfliknya jadi ga maksimal efeknya.

    Soal ‘mirip2 setting cerita lain’ buat saia bukan masalah koq. Sperti yang kmu bilang gaya ‘bertarung’ dan ‘setting’ nya cukup umum. :) Sekarang tantangan berikutnya itu untuk ngebuat ide kamu jd disajikan dengan gaya yang ‘khas nuno’ biar sekalipun aspek2nya typical tapi kerasa kreativitasnya sebagus ide dasar plotnya.

    Tetep semangat yap! :)
    mampir ke tempat saia nomor 199 klo sempat? hehe..

    • Nuno says:

      Terima kasih Laurentia udah berkunjung dan meninggalkan jejak. :)
      Aku udah balas berkunjung ke lapak kamu. Sampai salah nulis nomer.

  11. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Humm..saya suka cerita soal pahlawan yang berjuang, terus di akhir cerita dikenang sama orang-orang (entah dalam bentuk patung, lukisan, atau buku). Heroik banget (ini juga salah satu alesan saya mesem-mesem sendiri waktu liat patung Aang di Legen of Kora XD).

    Buat saya, ceritanya oke. Not great, tapi oke. bagian battlenya agak rusuh, jadi ga kegambar dengan baik. Tapi memang cuma beberapa cerita aja yang berhasil nyampein adegan battle-nya ke saya. Memang imajinasi saya soal battle masih kurang kayanya.

    3 out 5 :)

  12. Roedavan says:

    Wow, ceritanya bagus. Pesan moralnya dapet. Tapi buat dijadiin cerpen kayaknya terlalu maksa ya? Kalau mau dibikin novel malah lebih bagus. Jadi ga berkesan buru-buru dan menuhin quota 3000 kata, hehehe.

  13. Halow salam kenal ya Nuno :D

    Wah ini kedua kalinya gw nemu cerpen di fanfest yang hero/heroine dibuatkan patung peringatan setelah gugur di medan perang untuk memperjuangkan something. Hehe. Ceritanya menarik kok.

    Cuman satu aja sih, kematian Mabel-nya kurang terasa berkesan. Mungkin gara-gara pemangkasan adegan yang dilakukan untuk memenuhi kuota 3000 kata? :D Hehe

    Di luar itu oke kok. Suka ma konsep ceritanya :D Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya.

    • Nuno says:

      Hallo, Blue salam kenal juga.
      Terima kasih sudah berkunjung. Ini emang masalah kuota 3000 kata. Bagian pentingnya malah kepangkas. @_@
      Siap menuju lapak 244. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>