Pembela Orakel

PEMBELA ORAKEL

karya Ivan Z.

 

Sebelum Sidang
Kantor Pengacara Nicholas Astaire

Aku mempersilahkan orakel itu masuk ke kantorku. Dia mulai duduk di  sofa, tempat klienku mengajukan keluhan. Orakel adalah ras yang terlangka di Newrealm.  Sungguh kejadian yang lebih langka mendapatkan salah satu dari mereka menjadi klienku.

“Jadi,” aku mengeluarkan buku catatanku, “ceritakan kejadiannya, Nyonya.” Mulailah aku mencatat segala rinciannya.

“Waktu itu saya hanya menjalani bisnis sebagai orakel biasa. Jasa pengintipan waktu. Sampai… di tanggal empat bulan sembilan, saya kedatangan seorang pelanggan.”

“Si penggugat?” tanyaku.

“Iya. Tuan Pendragon. Smith Pendragon. Dan, seperti di berkas gugatan, dia memang seorang vampir.”

Kubuka berkas gugatan yang diserahkan. Isinya menyatakan bahwa nyonya orakel, Luna Rheanda, telah mencemarkan nama baik penggugat dengan menuduhnya melanggar hukum keharmonisan PAR. Persatuan Antar Ras.

“Seperti pengunjung lainnya, ia hanya datang. Meminta dibacakan masa depannya. Begitu saya membuka linimasa Tuan Pendragon, saya menjelaskan segala masa depannya… bahwa ia akan dipromosikan menjadi kepala marketing perusahaannya, bahwa ia akan bertemu dengan seseorang yang menjadi belahan jiwanya… serta beberapa arahan menghindari kemalangan.”

Dari cerita klienku ini sepertinya tidak ada yang salah. Belum ada yang salah.

“Begitu Tuan Pendragon meninggalkan kios, saya segera menelepon penegak hukum dan menceritakan satu penglihatan yang tidak diceritakan kepada orangnya langsung. Bahwa dalam kisaran lima bulan ke depan, Tuan Pendragon akan melanggar hukum keharmonisan PAR… dengan membunuh dan menghisap kering darah seorang Feline!”

Jantungku langsung menciut. Ini adalah kekejian tingkat tinggi! Perang antara ras baru terjadi ribuan tahun sebelum hari penghakiman. Dan setelah berdirinya PAR sangat sedikit sekali terjadi kekerasan antarras. Kejahatan yang melambangkan supremasi ras tertentu.

“Namun, satuan penegak hukum itu tidak menggubris. Mereka tertahan dengan alasan bukan kejahatan kalau belum terjadi. Entah bagaimana Tuan Pendragon mengetahui tentang laporan ini, sehingga…”

“…dia menggugatmu?”

Orakel wanita itu tertunduk lesu. Aku adalah pengacara yang ditunjuk hakim untuk membelanya. Itu berarti aku tidak mengharapkan bayaran dari Nyonya Rheanda. Akan tetapi aku tetap harus memberikan usaha terbaik.

Nyonya Rheanda berdiri dan menepuk gaun orakelnya. Aku tetap terkagum dengan keberadaan orakel di depanku ini. Sang orakel, sang pengintip waktu. Dengan kulit pucat mereka dan juga titik cermin di antara dahi mereka.

Aku menyodorkan lenganku. “Kalau begitu… sampai bertemu di sidang temu dengar, Nyonya Rheanda.”

Dia menyambut jabat tanganku, lalu ia tersenyum. Aku sudah merasa menang, walaupun aku tahu para pengintip waktu tidak pernah bisa mengintip waktu mereka sendiri.

 

Sidang 1
Temu
Dengar
Ruang
Sidang Nomor Tiga

“Jadi, pada intinya, Nyonya Rheanda telah melanggar rahasia pasien-konsultan.” Ini Lee Robinson, memberikan pendapat pembukaannya di depan hakim. Aku mengenalnya sudah setahun lebih. Dia pengacara dan juga manusia, sama sepertiku. Empat kali berhadapan, dua kali aku kalah sidang, sedangkan dua lainnya klienku menerima perjanjian di luar sidang dengan keuntungan di pihak kami. Dengan perjanjian di luar sidang… berarti dia memiliki rekor tak terkalahkan di dalam sidang.

Dia andal, namun tak terlalu hebat.

“Ayolah Yang Mulia! Mengintip waktu bukanlah pekerjaan seperti tabib, penstabil jiwa, ataupun penyembuh.”

“Tuan Astaire!” Hakim Judy mengetok palunya. “Gunakan kata-kata formal di dalam persidangan.”

Aku mengangguk namun tetap memberikan pandangan tidak setuju. “Apakah aku harus mengulangi sanggahanku barusan, Yang Mulia?”

“Notulen boleh mencatatnya.”

Dengan itu aku kembali merapikan pakaian dan duduk di bangku. Nyonya Rheanda memberikan tatapan tidak percaya yang sering kudapat dari klienku. Mayoritas dari mereka memang biasanya terkejut dengan kemampuanku.

“Silakan lanjutkan, Tuan Robinson,” ujar Hakim Judy kemudian.

“Memang, pekerjaan mengintip waktu para orakel tidak datang dengan perjanjian rahasia pasien-konsultan. Namun kita tahu, bahwa sama seperti tabib, atau penstabil jiwa, pengintip waktu bermain dengan sisi privasi dari pasien. Sudah seharusnya ia menyimpan informasi ini untuk dirinya sendiri.”

Aku berdiri seanggun mungkin ketika Robinson menutup informasi. Aku baru saja mendapatkan sebuah peluru untuk ditembakkan kembali ke wajahnya! “Bisakah pihak penggugat lebih lanjut menjelaskan tentang informasi apa yang harus disimpan?”

“Seperti kataku: informasi ini lebih baik disimpan.”

Dia memperlambat. Kena kau, Robinson. “Informasi yang menyatakan bahwa Nyonya Dheandra mengintip waktu Tuan Pendragon, dan melihat Tuan Pendragon dengan sadis…”

“KEBERATAN. Pengacara pembela beropini!”

“Kuganti pernyataanku: Tuan pendragon menghisap kering darah seorang feline!”

Kata keberatan hampir meluncur di ujung lidah Robinson… namun ia tahu. Ia tahu tidak ada yang bisa disanggah. Aku sengaja menjabarkan rincian ini karena Hakim Judy sendiri adalah seorang feline yang kurasa pasti bersimpati dengan kalimat yang baru kuucapkan.

“Tentu saja, kalau itu benar terjadi.” Robinson mengubah taktiknya. Ia mempertanyakan kredibilitas pengintipan waktu.

“Setelah pengintipan waktu yang menentukan Hari Penghakiman, dua belas tahun lalu, PAR menyatakan bahwa kualitas dan ketepatan dari pengintipan waktu sangatlah tepat dan sulit diubah oleh hanya segelintir pihak.” Aku memberikan beberapa lembar Hukum Harmonisasi dan Definisi Orakel keluaran PAR kepada Robinson. “Kusarankan kau kembali dulu ke kuliah hukum dan mengambil kembali Mata kuliah PAR!”

“Tuan Astaire, jangan memberikan celaan kepada Pengacara Penggugat.” Baik, Hakim Judy.

Kutaruh berkas itu tepat di atas kopor Robinson, lalu kembali duduk di kursi. Robinson berbisik kepada kliennya, sedangkan aku melihat seuntai senyuman tipis pada wajah Nyonya Dheandra.

Sebagai pengacara pembela, di sidang temu dengar yang bisa kulakukan hanyalah menyanggah argumen pembuka dari pengacara penggugat. Dan aku yakin aku baru saja melakukan kerja yang bagus.

“Tuan Robinson, ada argumen tambahan?”

“Tidak ada lagi, Yang Mulia.”

Hakim Judy menghembuskan nafas panjang, Kata para pengacara lainnya, ia hanya melakukan itu jika aku atau Jaksa Lawfer yang ada di ruang sidangnya. Aku bangga orang menyamakan diriku dengan jaksa muda terbaik yang pernah ada. Walaupun dalam hal buruk seperti merepotkan hakim.

Hakim Judy melanjutkan. “Saya merasa tidak akan bisa adil dalam menangani kasus ini. Terutama mendengar Informasi yang terakhir kali diucapkan pengacara pembela. Jadi, untuk pertemuan selanjutnya, saya akan membentuk dewan juri. Lalu seperti sidang perdata lainnya, saya yang tentukan dua saksi ahli yang bisa kalian tanyakan. Jika ada yang ingin menambah saksi, serahkan daftar saksi paling lambat lusa. Ada komentar?”

“Ya, yang mulia.” Aku mengangkat tanganku dan berdiri. “Untuk persiapan, siapakah dua saksi ahli yang akan Anda datangkan untuk sidang selanjutnya, Yang Mulia?”

“Karena kalian masih ribut tentang PAR dan pengacara penggugat sepertinya masih kurang memahami—” Hebat, dia boleh menyindir Robinson sedangkan aku tidak. “—aku akan mencoba memanggil pencatat serta pengamat PAR di kursi saksi. Lalu aku juga akan menaruh Lalu aku juga akan menaruh pembesar penegak hukum untuk bertanya tentang sistem kejahatan yang belum terjadi.” Sang hakim memberi jeda. “Ada yang lainnya? Kalau tidak ada, maka sidang dilanjutkan minggu depan. Sidang ditunda.”

Hakim Judy pergi meninggalkan ruangan, sedangkan aku berbalik menghadap Robinson… memberikan senyum terlebar dan paling menjengkelkan yang bisa kubuat.

 

Sidang 2
Memeriksa Saksi

Ruang Sidang Nomor Tiga

“Radam Schneider. Ras arsipir. Bekerja sebagai pencatat data di PAR cabang Lost Attic County,” kata sang saksi setelah ditanya petugas sidang.

“Tuan Robinson, saksi anda.” Hakim Judy mempersilakan Robinson memulai tanya-jawab.

“Tuan Snaider…”

Schneider. Gunakan S yang mengecil di depan.” Tipikal para arsipir: perfeksionis! Mereka adalah ras terbaik yang memang sering diperkerjakan untuk tanggung jawab arsip. Volume otak mereka yang lima kali lebih besar dari pada kaum lainnya memampukan mereka untuk mengatur ingatan mereka seakan ingatan itu adalah benda nyata. Berkat itu pula kepala mereka melonjong tinggi.

Setelah sedikit termenung karena dikoreksi pelafalannya. Robinson melanjutkan tanya jawabnya. “Tuan Schneider,” ia menyebutnya perlahan demi memastikan ejaannya benar. “Terdakwa yang duduk di sana. Bisakah kau sebutkan apa rasnya?”

Homo chronium. Masyarakat sekarang lebih menggunakan nama orakel.”

“Dan apakah kelebihan utama dari para orakel?”

“Mengintip waktu. Dengan kata lain, meramal seseorang atau suatu kejadian.”

“Pernahkah, dalam statistik PAR, seorang orakel… berbohong, atau salah dalam penglihatan mengintip waktunya?”

Warna mata Tuan Schneider menggelap, menjadi abu-abu. Itu adalah pertanda bahwa seorang arsipir sedang memeriksa ulang ingatannya.

“Pernah!”

Robinson kini menghadapkan tubuhnya ke para dewan Juri, berlagak percaya diri. “Jadi, Tuan Schneider, apakah ada kemungkinan bahwa Tergugat berbohong ataupun salah atas hasil penglihatannya?”

“Tentu saja mungkin.”

“Tidak ada lagi Yang Mulia!”  Robinson menundukkan sedikit kepalanya.

“Saksimu. Tuan Astaire.” Kini giliranku. Sudah ada beberapa pertanyaan, namun aku harus membuatnya sesistematis mungkin. Dimulai dengan mempertahankan klienku.

“Pertanyaan bagus, Tuan Robinson. Mari kita tepuk tangan dulu untuk Pengacara penggugat kita!” Para juri saling memandang, tidak yakin akan mengikuti ajakanku. Saat seorang juri hendak menepukkan tangannya aku segera memulai aksiku. “TAPI! Tuan Robinson lupa bertanya se-di-kit tentang rinciannya!”

“Tuan Schneider!” panggilku dengan lantang. “Dalam persenan, berapa banyakkah orakel yang pernah berbohong tentang penglihatan mereka?”

“Sebelas persen. Sebelas.”

“Lalu berapa banyak kejadian seorang orakel salah dalam penglihatan mereka?”

“Hanya satu. Tentang penglihatan Hari Penghakiman.”

Aku berbalik menghadap dewan juri, menggunakan kharismaku. Terutama kepada beberapa merman dan feline wanita. “Setiap dari masing-masing orakel menaruh kebanggan besar dalam ramalan mereka!.”

“KEBERATAN. Ini bukan argumen penutup; pengacara Tergugat seharusnya bertanya kepada saksi!”

“Kau memotongku, Robinson. Aku baru saja akan berkata: bukankah begitu, Tuan Schneider?”

“Iya.” Bahkan Schneider pun membantuku setelah melihatku mempermalukan Robinson.

“Sekarang, Tuan Schneider, Anda membawa otak ajaib anda ke mana-mana. Coba hitunglah ini! jika tanpa motif, yang sampai sekarang tidak bisa ditemukan pihak penggugat, berapa persen kemungkinan klienku memfitnah Tuan Pendragon?”

“Nol persen!”

“KEBERATAN! Pengacara penggugat memaksa saksi ahli beropini!”

“Ayolah, Robinson, aku tidak pernah teriak keberatan di saat aksimu!”

“Diterima. Harap Notulen menghapus pertanyaan dan jawaban saksi yang terakhir.” Di persidangan Juri, tulisan Notulen tidak terlalu berpengaruh dengan apa yang sudah didengar langsung oleh juri.

Kini tahap kedua. Menyerang penggugat.

“Tuan Schneider, bisakah ada menjelaskan ras Penggugat?”

Homo sanguinis. Masyarakat sekarang lebih mengenal mereka sebagai vampir.”

“Dan apakah kelebihan utama mereka?”

“Vampir memiliki kemampuan atletis dan kekuatan diatas segala kaum, namun tidak terlalu efektif di siang hari.”

“Dan pola makan mereka?”

“Tanpa adanya sistem pencernaan yang memadai, vampir hanya bisa mencerna makanan yang berbentuk cairan.”

“Termasuk darah?”

“Terutama darah.”

“Baik. Saya tidak akan bertanya ada berapa kejadian pelanggaran Hukum Keharmonisan PAR. Yang ingin saya tanyakan kali ini adalah: berapa perbandingan antara orakel yang berbohong tentang hasil ramalannya, dengan para vampir penjahat yang telah melukai kaum lain demi darah mereka. Silakan, Tuan Schneider.”

Mata Schneider kembali berubah menjadi abu-abu.

“Dewan juri yang terhormat, perbandingannya adalah…” aku menunjuk segera kepada Schneider yang selesai berhitung.

“Satu orakel berbanding enam vam—”

“KEBERATAN. Pengacara tergugat mengarahkan saksi untuk merendahkan ras klienku!”

“Ini hanya statistik, Robinson. Statistik!”

“Ditolak,” kata Hakim Judy.

“Tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia.” Aku duduk dan merasakan hawa kemenangan yang mengalir di udara. Robinson yang hebat telah salah memilih klien.

Saksi kedua adalah kepala penegak hukum bagian kejahatan antarras. Robinson menggunakan kesempatan ini untuk mencari simpati kepada dewan juri untuk tidak menghukum kliennya atas kejahatan yang tidak terjadi. Seandainya ia membiarkan Nyonya Dheandra setelah polisi tidak menggubris laporannya, ia tidak akan terpojok seperti ini. Karena jika dewan juri memenangkan klienku untuk kasus ini besar kemungkinan ia akan langsung dinyatakan bersalah atas kejahatan yang memang belum dilakukanya.

“Saksimu, Tuan Astaire.”

“Tidak ada pertanyaan, Yang Mulia!”

Kulihat seorang arsipir lainnya masuk ke ruangan. Ia mengantarkan amplop manila kepada Robinson dan berbisik sesuatu.

“Jadi, tidak ada komentar lagi dari kedua pihak?” tanya Hakim Judy.

“Izin untuk mendekat, Yang Mulia?” Robinson hendak melakukan suatu langkah. Hakim Judy memberikan gerakan tangan seperti memanggil, dan kami berdua pun maju mendekat ke tempatnya. “Saya hendak menambahkan bukti yang menjelaskan tentang adanya motif Tergugat terhadap klien saya.”

“Hei, kenapa bukti ini baru muncul sekarang?” bisikku pada Robinson. Aku juga mencoba memberikan tatapan memelas kepada Hakim Judy. Beliau tidak menggubrisnya.

“Demi adilnya jalannya persidangan ini, pengadilan menerima bukti ini. Silakan jabarkan kepada juri.” Demi taring vampir, Hakim Judy sepertinya tidak senang jika aku menang di pengadilan ini.

Robinson menyerahkan satu berkas buktinya kepadaku dan kepada Hakim. “Bapak-bapak dan ibu-ibu dewan juri yang terhormat, kini saya serahkan hal yang menjadi dasar motif Tergugat memfitnah klien saya.”

“Keberatan. Sesuai pernyataan saksi, ramalan orakel bukanlah fitnahan!”

“Diterima. Tuan Robinson, ganti perkataan Anda.”

“Di hadapan anda… terdapat berkas yang menyatakan bahwa perusahaan tempat klien saya bekerja pernah menyita sebuah properti yang berada pada 12th & Downway, North Lost Attic. Dan sesuai penyelidikan kami, pemilik properti tersebut adalah Thomas Dheandra, mendiang suami dari Nyonya Dheandra. Dan itu, dewan juri, bisa digolongkan sebagai motif balas dendam!”

Aku hanya terdiam di tempatku, membaca berkas yang dikasih Robinson.

“Benarkah itu, Nyonya?” tanyaku dengan berbisik.

“A-aku tidak tahu bahwa Tuan Pendragon berasal dari perusahaan properti yang sama yang menyita rumahku!”

“Kau seorang orakel. Pernyataan seperti itu akan membuatmu dianggap berbohong. Lebih baik kita tidak membela diri di sini!”

Nyonya Dheandra mengangguk dan kembali duduk dengan tenang.

“Sekian, Yang mulia. Tidak ada lagi dari saya.”

“Jika Tuan Astaire tidak memiliki sanggahan—” Aku menggeleng setelah ditatap Hakim. “—sidang akan kita lanjutkan minggu depan dengan jadwal argumen penutup.”

Sial. Itu pukulan telak. Robinson akan memakai masalah motif ini besar-besaran di penutupnya minggu depan.

 

Sidang 3
Argumen Penutup

Ruang Sidang Nomor Tiga

Robinson sudah menempati posisinya di depan para juri. Dengan gagahnya ia melanjutkan kesimpulannya minggu lalu. “Pada tanggal keempat bulan kesembilan Tergugat melaporkan sebuah kejahatan keji yang tidak dilakukan oleh klien saya. Ini adalah pencemaran nama baik bagi klien saya. Tuan Pendragon merupakan seorang vampir yang tidak pernah ada catatan kejahatan atau kesalahan di berkas penegak hukum. Dan klien saya juga merupakan keturunan dari vampir yang sudah tidak meminum darah kaum lain sejak buyutnya…”

Semua juri melihatnya dengan serius. Robinson selalu gagah di argumen penutup. Dia sempat mengancamku, tiga hari lalu, ketika kami berkumpul di ruang rapat firma. Dia mengajukan perjanjian bahwa akan menarik segala tuntutan jika Nyonya Dheandra membayar biaya ganti rugi. Baru kali itu aku melihat Robinson membuka perjanjian dengan keuntungan di pihaknya.

Segala keputusanku tergantung klien. Permasalahannya, sejak “penemuan” motif di sidang sebelumnya aku memperkirakan kedudukan kami seimbang. Hanya masalah kharisma argumen penutup yang bisa memenangkan sidang ini.

Nyonya Dheandra menolak perjanjian itu. Padahal biaya ganti rugi yang diminta oleh Robinson cukup masuk akal, malah hanya seperti biaya jasa. Tuan Pendragon sepertinya tidak ingin meributkan ini.

“…sehingga masuk akal jika saya mampu menyatakan bahwa laporan palsu yang dibuat oleh Nyonya Dheandra dilakukan untuk balas dendam. Saya mohon para juri untuk menyelamatkan orang tidak berdosa. Karena kalian tentu tahu, jika tuntutan dimenangkan oleh Nyonya Dheandra, tuntutan kriminal yang berdasarkan ‘ramalan’ mungkin akan dikenakan kepada klien saya!”

Heh, dia secara harafiah memohon di depan juri. Seperti biasa, dia adalah salah satu yang terbaik di argumen penutup. Tapi hari ini rekornya akan hancur.

Aku mengambil tempatku… dan memulai konserku!

“Dewan juri yang terhormat.” Aku membuka dengan menyapa dan menatap mereka satu persatu walaupun sekilas. Argumen pembuka dan penutup kelas dasar. “Klien saya adalah seorang orakel yang mencari nafkah dengan mengintip linimasa konsumennya. Namun, pada hari kejadian, ia kebetulan mendapat konsumen sang Penggugat, dan setelah mengetahui kenyataannya yang klien saya lihat, ia segera melapor kepada para penegak hukum.”

Mereka mulai terfokus kepada keadaan Nyonya Dheandra. Tarik mereka untuk empati lebih dalam!

“Di berkas penyelidikan yang kalian pegang, kalian menyadari jarak antara Penggugat meninggalkan tempat usaha sampai laporan telepon yang diajukan klien saya tidak sampai lima menit. Mungkinkah dalam waktu segitu klien saya memikirkan tentang balas dendam? TIDAK. Yang klien saya lakukan hanyalah menjadi warga negara yang teladan, Melaporkan kekejian antar-ras yang ia saksikan dalam pengintipan waktunya.”

Beberapa pandangan mata para juri memancarkan rasa bangga. Bagus, aku sudah mengait mereka.

“Ya, Klien saya melakukan yang pasti akan kalian lakukan juga jika melihat sebuah kejahatan. Apakah pantas, jika warga negara teladan, orakel kita ini, KLIEN SAYA… dikenakan tuntutan semacam ini?” Aku mengambil nafas pelan, membiarkan mereka berpikir sejenak. “Keputusannya ada di tangan Anda semua, dewan Juri.”

Aku berbalik dan duduk di tempatku.

“Sidang Saya putuskan ditunda sampai ada keputusan dari juri tentang hasil diskusi mereka!” Palu pun diketok.

 

Sidang 4
Pembacaan Keputusan

Ruang
Sidang Nomor Tiga

Sudah empat hari setelah sidang terakhir. Semua pemain telah duduk di tempat masing-masing. Empat hari dihabiskan untuk mengartikan diskusi dewan juri yang sangat berat, dan kemungkinan besar yang terjadi adalah hasil sidangku kali ini berakhir buruk.

“Apakah para dewan Juri sudah menetapkan keputusan?” Hakim Judy bertanya kepada juri nomor satu, kepala para dewan juri. Dengan bantuan petugas persidangan, juri nomor satu memberikan hasil diskusinya di selembar potongan kecil. Hakim Judy tetap menjaga wajah datarnya saat membaca keputusan itu.

Apakah itu merupakan wajah Ah sudah biasa kalau Robinson menang atas Astaire,’ ataukah memang wajah tanpa emosi saat pembacaan surat juri merupakan keahliannya?

Sial, tanganku mulai berkeringat.

“Berdasarkan suara mayoritas—” Mayoritas. Bahkan bukan suara bulat. Ini benar-benar membuatku tegang. Bahkan para dewan juri pun terbelah dua pihak. “—maka kami nyatakan bahwa Tergugat…”

AGGGHHHH mengapa mereka selalu mengambil jeda lama sebelum membaca kalimat terakhir!?

“…dibebaskan dari tuntutan Penggugat, dan diperbolehkan melanjutkan usahanya!”

“DI MATAMU, Robinson!”

“TUAN ASTAIRE! Untuk berapa kalinya saya bilang, jangan mencela di ruang sidang!”

Aku membereskan berkasku dan memberikan jabat tangan kemenangan kepada nyonya Dheandra. Aku sudah menyelamatkan seorang orakel, di kasus melawan Robinson! Sesuatu yang perlu kucatat dalam autobiografiku.

Kurasa mendapatkan penghargaan pengacara terbaik di Lost Attic bukan merupakan sekedar mimpi lagi.

 

Lima Bulan Kemudian

Aku kembali untuk kedua kalinya mempersilahkan Nyonya Dheandra duduk di Sofa yang sama. “Saya memanggil Anda kesini terkait dengan kasus gugatan sebelumnya yang saya tangani.”

Dia duduk tanpa terlihat penasaran dengan apa yang akan kusampaikan.

“Kemarin, di lembaga pemasyarakatan, Tuan Pendragon menyerang sesama narapidana dan menghisap kering darah narapidana tersebut. Narapidana yang merupakan seorang feline.”

Nyonya Dheandra tetap tidak terusik atas berita yang aku sampaikan. “Kalau hanya itu, Tuan Astaire, bolehkah saya pulang dan kembali bekerja?” Dia berdiri dari kursiku dan memutari tubuhku untuk berjalan keluar melalui kantorku.

“Beberapa pertanyaan lagi, Nyonya. Dari reaksi Anda, saya rasa Anda sudah tahu bahwa penglihatan yang waktu itu berlokasi di dalam penjara?”

“Tentu saja!”

Ternyata memang. “Walau begitu, Anda tidak menerima perjanjian yang ditawarkan Robinson untuk menghindarkan Tuan Pendragon masuk penjara?”

“Kami adalah orakel, Tuan Astaire. Kami bangga atas kemampuan kami mengintip waktu. Namun kami lebih bangga saat melihat ramalan kami terpenuhi sampai ke rincian terkecil. Sampai ke rincian terkecil.” Ia berhenti sejenak. “Selamat siang.”

Dan pergilah dia. Pergilah mantan klienku yang paling keji.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

154 Responses to Pembela Orakel

  1. Atla Rhat says:

    cerpen ttg hukum dan perdebatan…aku gak begitu suka sih..
    tapi aku berhasil baca sampai akhir :D

    dan agak kecewa juga sih, karena banyak pemilihan kata yang kurang tepat *kayak yg udah dibahas di komen sblmnya*
    dan akhirnya twistnya gak begitu kerasa, karena setting pengadilan bikin aku mabok duluan *uhuk, maav*

    lapak 225, kutunggu
    kayak biasanya, maichi is allowed :D

  2. R.S.B. says:

    Pengadilan… Komen subjektif:
    Sedikit kecewa, ngambil bentuk persidangan Amerika (Anglo-saxon), coba yang bentuknya kayak di Indonesia (Eropa-kontinental) mungkin akan terasa lebih unik dan khas.
    Walau idenya unik. Ada hal yang kurang klik aja rasanya. Entah kenapa memasukkan tokoh yang bisa melihat waktu itu bisa membawa banyak pertanyaan dan logika tertentu pada diri sendiri, kalo begini gimana? Kalo begitu gimana? Oh kok bisa gitu? Hmph… Yasudahlah itu ga penting, Btw untuk drama sidangnya, okey bisa dibilang seru. Cuman membingungkan, karena kadang-kadang dengan dialog antara lebih dua orang, saya sempat loss ini yang ngomong siapa? Karena gak dijelasin… Jadi bacanya gak lancar. Dan dialog terasa banget taste bahasa terjemahannya (Pasti suka baca novel terjemahan/subtitle film), tapi ini bukan kritik loh. Menurut saya gapapa sih walaupun mesti diperhatikan terjemahan yang kadamg-kadang gak sesuai kalo di-Indonesiakan…

    Secara subjektif saya kasih nilai (7.5/10)
    Terima kasih, pengadilannya seru kok- mesti dipoles lagi aja
    Sent your objection to 96! hahahah… In your face/eyes!

    Good Luck!

  3. fr3d says:

    *mampir untuk meninggalkan jejak*

    sebenarnya sudah mulai agak bosan dengan cerita fantasi yang ngambil setting persidangan
    entahlah… mungkin karena belum nemu yang benar-benar “wow” banget :|
    #malahcurhat

    ceritanya sih oke, van
    tapi Astaire ini gak keliatan hebat-hebat banget yah, dan mungkin juga karena topik persidangannya yang gak terlalu “wah”, jadinya agak kurang greget meski ada twist di ending…

    selera pribadi, tapi buatku tema2 di cerpen-cerpenmu yang dulu-dulu terasa lebih menarik ;)

  4. A. Iryag says:

    Seperti menonton Law and Order. Perhatikan, menonton — penulis mampu membuat saya melihat, bukan membaca. Salut. Saya juga melihat kemiripan sistem yang digunakan: tiap scene diawali dengan pembukaan judul per scene, nama tempat, blablabla. Dan wow, saya menghargai sentuhan kelucuan khas jalannya persidangan.

    Aih, karena saya suka Law and Order, mungkin sekali bahwa review ini akan menjadi sedikit tidak objektif.

    Walau begitu, penulis masih kurang teliti. Ada kalimat (separuh kalimat, tepatnya) yang diulang. Beberapa pemilihan kata kurang sreg. Ada titik nyempil di akhir tanda seru suatu kalimat.

    Gak penting:
    - Wow. Ras… arsipir. Itu bukannya pekerjaan?
    - Sekedar info saja, volume otak tidak menjamin intelejensia seseorang. Lihat saja Einstein.

    Wait. Hakim juga ras Feline. Itu berarti… eing eing eing…

    … oh, ternyata bukan.

    Dan ternyata endingnya… wow. Wow. I did not see that coming. Wow.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>