Penjaga Mimpi

PENJAGA MIMPI

karya El Lydr

“Lenyaplah kau.”

Darah biru mengalir membanjiri tubuh makhluk sihir yang sekarang tergeletak tak bernyawa. Kemenangan diraihnya sesuai dengan apa yang di inginkan. Ksatria wanita menatap katana es-nya yang bermandikan darah. Senyum kecil menghiasi sebuah wajah di iringi dengan kegelepan yang menyeluruh.

“mhhh.”

Secercah cahaya menerpa wajah kusut seorang gadis yang terbaring di kasurnya, mengganggu rutinitas yang belum ingin ia akhiri. Mata coklatnya perlahan terlihat jelas, di pandangnya langit-langit setia yang menemani tidurnya diiringi sebuah lengkungan kecil yang menghiasi wajah kakunya.

“Mimpi yang sempurna. Jika disuruh memilih, aku pilih dunia kekuasaanku-dunia mimpi yang bisa ku kendalikan.”

Langkah kakinya terasa begitu berat, angin pagi yang dingin meniup kulit rentahnya. Membuatnya semakin malas untuk beranjak. Jika saja hari ini tidak ada hal penting yang harus ia kerjakan, sudah pasti ia lebih memilih berkemul dengan selimutnya dan kembali menyinggahi dunia indahnya.

 

“Dream Bender.”

Dua kata yang kini terpampang di layar computer miliknya, tidak peduli dengan mata-mata yang sedang  melihatnya dengan tatapan tidak suka. Kembali teringat saat pertama kali ia mengatakan pada temannya jika ia bisa mengendalikan mimpinya. Namun yang di dapat sebuah cercaan. Gila yang sekarang mereka jadikan label untuk dirinya. Tidak peduli bahkan jika seluruh orang di dunia ini bilang bahwa dirinya gila dan menjauhinya. Ia akan terus percaya bahwa bukan hanya dia yang bisa. Hari itu hari keberuntungannya, dua suku kata yang ia ketik membawanya pada sebuah bloger yang berisi tentang apa yang ia cari.

“Jika tak percaya dengan artikel ini tidak perlu dibaca. Saya hanya ingin menyampaikan sedikit yang saya ketahui dan saya alami ^^. Menjadi pengendali mimpi atau seorang Dream Bender, itu bukan hal yang aneh atau hal yang perlu di takuti, karena secara ilmiah semuanya bisa di jelaskan. Sadar jika anda sedang bermimpi dan mengendalikan mimpi anda semau anda, keadaan seperti itu disebut Lucid Dream. Tidak semua orang mempunyai bakat alami untuk melakukan Lucid Dream, tapi setiap manusia jika mau bisa melakukannya dengan teori-teori yang tepat. . . . . . . . . . “

 

Mata coklatnya terus terbelalak mengamati setiap kata yang di dapatnya, merasa tidak sendiri, merasa jika semuanya masih tergolong kenormalan biasa dan perasaan penasaran memenuhi hatinya. Membuat segumpal darah di dalam sana berpacu dengan cepat. Kalimat demi kalimat dicerna otak kecilnya yang kini terus berjalan, hingga mendapati apa yang memang ia cari.

 

“Secara keseluruhan semuanya terihat biasa. Hal yang alamiah, hanya saja ada batasan yang kami para Dream Bender tidak mengerti. Sebuah misteri yang hanya akan diketahui oleh kami si Pengedali Mimpi. Matahari tenggelam selimut kegelapan membungkus langit. Sepasang mata lelah terpejam dan kembali terbuka dalam kesemuan yang tak berbatas. Kastil gelap berselimut awan berdiri kokoh diatas kerapuhan yang  tak nyata. Hati menyatu, darah menggebu disini keajaiban dalam gelap menuntunmu ^^.”

Langit malam terlihat sunyi tanpa cahaya bintang yang menyinari, udara berhembus tenang seolah menyembunyikan keadaannya. Kedua mata coklat itu kini tak dapat terpejam. Apa yang diketahuinya membuat tenang dan menjelaskan semuanya. Hanya saja sepenggal kalimat penutup terus berputar-putar di otaknya. Tak tahu harus melakukan apa namun hatinya terus memanggilnya untuk terlelap. Kegelapan memenuhi ruang hampa, mata coklat itu kembali terbuka dan menatap sekelilingnya.

 

“Sudah sampai, tapi entah kenapa aku jadi malas untuk bermimpi sesuatu.”

Tubuh kecilnya duduk diatas batu putih yang tiba-tiba muncul serempak ketika tubuhnya bergerak. “Kastil gelap berselimut awan berdiri kokoh diatas kerapuhan yang  tak nyata. Hati menyatu, darah menggebu disini keajaiban dalam gelap menuntunmu.”  Penggalan terakhir artikel itu kembali bermain-main diotaknya. Spontan senyuman kecil tehias di wajah yang tadinya kehilangan sedikit kemauan. Konsentrasi kini ia layangkan pada kalimat itu. Perlahan kembali matanya tertutup mengumpulkan keyakinan yang memang harus ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Setelah merasa cukup, mata coklatnya menyala. Selembar piama yang tadi melekat di tubuhnya menghilang bergantikan sebuah seragam yang mirip dengan seragam anak sekolah dalam komik jepang. Diikuti dengan perubahan disekitarnya, aura gelap yang menyelimuti masih terasa hanya saja kegelapan tidak lagi menutupi jalan. Hutan yang lebat mengepung sekitarnya, dari tempatnya berdiri dapat terlihat tiang tinggi sebuah mercusuar. Tanpa ragu dan ditemani Katana es kesayangannya, ia melangkah menuju apa yang dilihatnya.

 

“Luar biasa.”

Matanya membelalak menatap sebuah kastil besar dengan kegelapan dan awan indah yang menyelimutinya. Lengkungan di bibirnya terus mengembang hingga tanpa disadarinya ada seseorang yang hendak menyerang, dengan sigap dan langkah yang pasti ia menghindar. Menahan pedang raksaksa dengan katana esnya. Matanya menatap pria berambut putih dengan tubuh tegap dan seragam yang sama dengan yang ia gunakan. Matanya beradu tatap dengan pria yang tengah menyerangnya. Pikirannya terus berkerja berusaha untuk menghapus sosok pria yang tak diharapkannya ini, namun untuk pertama kalinya kegegalan yang ia dapati. Membuatnya terkejut dan melompat kebelakang menjauhi si pria.

“A.. Aku tidak bisa menghapus mu!”

Senyum iblis terpampang di wajah pria itu, dengan santai langkahnya mendekat. Secepat kilat tangan besar pria itu mencekik lehernya kuat. Membuat udara tak dapat masuk ke tenggorokkannya.

 

“Welcome in Lucid Dream casstil, Voxa.”

“BRAAKKK!!!”

 

Tubuhnya terjatuh kuat menimbulkan sedikit sakit, mata coklat itu kembali menatap sang pria yang tengah berdiri dihadapannya.

 

“Vo.. Voxa?.” Tanyanya bingung.

“Ya, namamu di kastil ini, kami selalu memberikan nama pada setiap penghuni baru yang datang. Rive, panggil aku Rive. Kau tidak dapat melenyapkanku karena aku juga seorang Dream Bender sama sepertimu, hanya saja aku lebih senior daripada kau.”

Rive mengulurkan tangannya pada Voxa yang masih terduduk, yang dengan senang hati disambut Voxa. Dua pasang kaki itu sekarang bergerak seirama mendekati kastil.

“Kau datang dan kini kau tidak bisa lagi menjadi seorang Dream Bender yang hanya mencari kesenangan. Kau terpilih sama seperti aku dan yang lain. Kita mempunyai tugas, kita adalah pelindung Lucid Dream.” Tatap tajam mata biru Rive yang tampak beku dan tenang.

“Pelindung? Apa? Aku tidak mengerti, tugas apa? Apa yang harus dilindungi.”

 

“Kau wanita yang cerewet. Kau pikir di Lucid Dream hanya ada dirimu seorang? Berpuluh, bahkan ribuan Dream Bender ada di Lucid Dream…”

 

“Lalu apa hubungannya dengan ku!?” Sela Voxa yang membuat raut wajah Rive berubah menyeramkan.

 

“Kau Dream Bender bodoh! Jelas ada hubungannya!” Bentak Rive yang seketika membuat diam Voxa.

“Dream Bender  yang murni seperti kau dan aku hanya ada beberapa. Seharusnya semua dapat mengendalikan mimpi dengan sesukanya tanpa harus melindungi apa-apa. Salah satu dari kita mulai berulah. Mereka hanya ingin Lucid Dream di huni oleh para Dream Bender murni. Sehingga memusnahkan setiap Dream maker para manusia yang memasuki Lucid Dream dengan menggunakan teori-teori. Awalnya para Dream maker hanya dibuat untuk takut kembali ke Lucid Dream. Namun ada beberapa dari mereka yang terus kembali, membuat muak para Dream Bender yang serakah. Mereka menghancurkan roh para Dream maker dan membuat sang pemilik roh menjadi tak sadarkan diri.”

Rive menatap Voxa dengan pandangan layunya yang terlihat begitu menyakitkan. Voxa merasa tertekan dengan apa yang baru ia ketahui. Semuanya tampak mengerikan, bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin teman yang bisa mengerti dan tahu apa yang ia alami. Bukan malah menjadi pelindung atau apalah. Otaknya ingin berkata tidak namun hatinya menolak untuk diam menjadi pengecut.

 

“Baiklah, tak seharusnya aku memaksamu. Aku hanya tidak menyangka ternyata seorang Dream Bender ada yang punya nyali sekecil kau. Pulanglah dan kembalilah pada dunia mimpi yang kau kuasai, berbahagialah sebagai seorang pengecut.”

Rive mendorong tubuh mungil Voxa ke dinding, menahannya dan dengan sekejap kastil megah itu berubah kembali jadi ruang hampa yang gulita.

 

“Auf wiedershen.”

Rive memberi hormat dengan dua jarinya dan menghilang dari pandangan Voxa. Diam tak bergerak tanpa memandang apapun, itu lah yang terus Voxa lakukan hingga semua kegelapan lenyap disambut hangatnya matahari pagi. Ditatapnya bayang wajahnya dicermin.

“Pengecut, itukah kata yang cocok untukku?”

“AGRRRRRRRRRRRRRRHHH!!”

Jeritan kebimbangan memenuhi setiap sudut ruangan yang diam. Sinar matahari dihabiskannya dengan kebimbangan nyata untuk sesuatu yang semu. Tubuh lelahnya kembali berbaring saat bulan menduduki tahtah matahari. Kegelapan telah menyelimuti ruang hampa di tempatnya berdiri saat ini.

 

“Tidak perduli jika aku dibilang pengecut, aku hanya ingin bersenang-senang. Tidak mengganggu kalian dan tak ada hubungan apa-apa sama masalah itu. Ok, duniaku aku kembali.”

Auranya berubah, diiringi dengan semua yang ada disekitarnya. Perlahan di tatapnya keseluruh penjuruh. Apa yang ia dapati membuat kerutan-kerutan rumit di dahinya. Menghela nafas panjang dan menapakkan kakinya perlahan itulah pilihan yang ia pilih.

 

“Kenapa? Kau tidak bisa melupakan tempat ini? Bingung kenapa kau bisa kembali lagi? Jawabannya hanya satu hatimu sudah terkunci disini.”

Sesosok pria yang tak asing lagi baginya berdiri tepat dihadapanya, menghentikan langkah kaki yang tadinya terus berjalan.

 

“Sepertinya tidak bisa menghindar lagi ya? Aku juga merasa tidak tenang seharian ini. Bergabung, itu pilihanku.”

Jawab pasti Voxa dengan tatapan tajam tegasnya yang disambut senyuman tipis menusuk milik Rive. Dalam waktu kurang dari 2 detik hutan dan kastil menghilang. Tempat berubah begitu saja, ini bukan lagi hal yang mengejutkan karena ini dunia mimpi.

 

“BRAAAKKK!”

Sebuah robot raksaksa melintas di hadapan Rive dan Voxa yang kemudian terhempas ke dinding belakang mereka. Spontan membuat Voxa sedikit terkejut, dilayangkan pandangannya pada tempat yang ia singgahi sekarang. Padang pasir luas dipenuhi dengan berpuluh-puluh pyramid yang di huni oleh tiga orang manusia beserta makhluk-makhluk aneh yang saling menjatuhkan satu sama lain.

“Yang kau lihat ini tugas sebenarnya para Dream Bender, wanita dengan jubah hitam di ujung sana adalah Black Dream Bender. Mereka yang harus dimusnahkan. Tunggu dan lihat cara kerja kami. Pastikan kau tetap terjaga dari rasa takut.”

Secepat angin Rive sudah masuk ke kerumunan makhluk yang tak di kenalinya. Saling merobek, saling menghujat, saling mematahkan terus terjadi namun tak ada yang tumbang. Semua tetap pada tiangnya. Hal yang sia-sia. Bagaimana memusnahkan Dream Bender? Mereka pengendali mimpi akan terus memiliki cara yang bisa mereka gunakan semau mereka tanpa henti-hentinya. Hanya dengan sedikit berpikir apa mau mereka, maka semuanya akan muncul begitu saja bak sihir yang tak berbatas. Pertarungan yang benar-benar tak ada habisnya. Semuanya membuat Voxa bingung, bagaimana cara menghancurkan sesama mereka, pikiran itu terus berputar di otaknya. Ketika sadar akan lamunannya langit disekitarnya berubah merah gelap menakutkan. Kilat menyambar-nyambar dengan liar, aura gelap menusuk hatinya membuat sesak seluruh atmosfir. Kembali di tatapnya tempat Rive berada, sesosok manusia api terlihat mengambang diangkasa mencengkram kepala wanita berjubah hitam itu. Terlihat sorotan mata takut milik sang wanita. Begitupun dengan Voxa, takut menyelimuti hatinya. “Apa yang terjadi?” teriak hatinya sesaat sebelum semuanya memudar, Voxa hampir kehilangan kesadarannya karena takut. Sekuat tenaga ia kembali memfokuskan dirinya, mengumpulkan keberaniannya. Hingga akhirnya semuanya kembli terlihat, namun langit menyeramkan itu telah musnah. Rive berjalan mendekatinya diiringi seorang pria dan seorang orang wanita yang juga berseragam sama dengannya. Voxa menatap Rive dengan tatapan yang masih cemas, disambut dengan pandangan brutal Rive yang terlihat mengamuk.

“Gadis bodoh! Aku sudah berpesan padamu agar kendalikan rasa takutmu kan? Kau juga mau lenyap seperti wanita itu dan tak lagi dapat kembali ke Lucid Dream, hah!?”

Rive dengan cepat menghampiri Voxa dan mendorong tubuhnya hingga terpelanting jauh namun cepat di atasi dengan pikiranya. Membuatnya kembali berdiri dihadapan Rive dalam waktu yang singkat walau sudah terpelanting.

 

“Dia pemula Rive jadi wajar jika sedikit takut, sudahlah yang jelas dia masih bertahan disini setelah melihat apa yang kau lakukan.”

Pria berambut hitam dengan gaya emo, bermata biru pekat menepuk pundak Rive dan mencoba menenangkannya.

“Aku Crowly, beruntung kau masih bisa mengendalikan rasa takutmu. Lain kali berhati-hatilah, ketatukanmu akan membawa kemusnahan untukmu.” Senyum lembut yang menenangkan terhias diwajah Crowly saat menatap Voxa.

 

“Pulanglah dan kembali lagi besok. Aku akan memberitahumu semuanya.”

Mereka bertiga berlalu pergi, meninggalkan Voxa sendiri dalam kegelapan yang berakhir lagi dalam cahaya nyata.

 

“Hoaahhhh..”

Gadis ini menguap dan merasakan tubuhnya sedikit pegal. Sesaat diam dan berfikir jika yang ia kerjakan bukanlah hal yang bisa disebut tidak bahaya. Jika kalah dirinya lah yang akan musnah dan tidak dapat lagi kembali ke Lucid Dream. Walau tak dapat kembali lagi ke Lucid Dream bukan hal yang buruk, namun baginya Lucid Dream sudah seperti rumah kedua.

Malam ini tampak sama seperti malam sebelumnya. Setelah merilekskan tubuhnya Voxa kembali masuk ke kastil Lucid Dream yang sudah di sambut dengan wajah serius Rive.

“Dengarkan aku baik-baik. Jika kau ingin tetap bisa masuk ke Lucid Dream hilangkan rasa takutmu. Layaknya Dream Maker para Dream Bender juga dapat lenyap ketika takut menguasainya. Jangan biarkan kekuatan pengendalian lawan menguasai pikiranmu. Focus pada pengendalian dan lawan. Tetap terjaga dimimpimu. Dan sebaliknya gunakan semua hal menyeramkan yang pernah kau temui untuk mengahcurkan konsentrasi pengendalian lawan. Buat mereka takut, buat mereka merasa tersudut hingga tak ada lagi jalan untuk mereka melakukan pengendalian. Ketika hal itu terjadi lawan secara otomatis tak lagi di Lucid Dream, Lucid Dream mereka menjadi mimpi buruk, saat itu tiba hancurkan bayangnya. Buat mereka lenyap sehingga mereka tak akan lagi dapat mencapai Lucid Dream. Mengerti?”  Kembali mata dingin Rive menatap Voxa yang dengan sigap mengangguk cepat.

“Pakai gelang ini, ini dibuat oleh para Dream Bender terdahulu dengan mengorbankan diri mereka. Gelang ini akan memberitahumu saat Black Dream Bender datang ke Lucid Dream. Kau tinggal percaya gelang ini dan dia akan langsung membawamu ke tempat para Black Dream Bender berada. Mulailah karena aku tak bisa menamanimu. Auf wiedershen.”

 

Sekejap Rive menghilang dari pandangan. Voxa menatap gelang yang kini menjerat pergelangan tangannya. “Apa bisa? Bagaimana caranya?” Sesaat hatinya tidak percaya akan gelang itu, tidak masuk di akal menurutnya. Namun setelah berulang kali berpikir ia sadar jika semua yang ad disini merupakan hal yang tidak masuk diakal. Gelak tawa kecil mengisi waktunya beberapa saat sebelum sesak menghampirinya dan panas api seolah membakar pergelangan tangannya.

 

“Apa mungkin?”

Belum sempat otaknya menyelesaikan pikiran yang mungusiknya, ruang tempatnya berdiri telah berubah secara spontan. Ketika pandangannya menangkap sesosok manusia berjubah hitam barulah ia sadar jika rasa sakit sesaat yang ia rasakan adalah cara untuk bertemu dengan Black Dream Bender. Sebuah senyum menusuk mengembang disebrang sana, seiring dengan serangan halilintar tajam yang mengarah tepat ke Voxa, membuat gerakan reflex menghindar dari Voxa di sertai dengan lemparan jarum-jarum beracun kearah lawan yang juga dengan cepat mengelak dan menghilang. Pertarungan yang tak berujung tak lagi dapat terelakkan. Serangan demi serangan terus menghujat hingga seekor monster raksaksa mencengkram kuat leher Voxa membanting tubuhnya dan menindihnya hingga tak ada lagi celah untuk Voxa melawan. Takut mulai menghiasi pikiran Voxa, tubuhnya sesaat seakan-akan memudar, hanya saja ia masih bisa melihat senyum iblis yang sedang berjalan mendekatinya. Lelah dan ingin berakhir terus menghantui pikiran Voxa. Menyerah dan berakhir sia-sia jalan yang sudah dipilihnya.

“Gadis bodoh! Aku sudah berpesan padamu agar kendalikan rasa takutmu kan? Kau juga mau lenyap seperti wanita itu dan tak lagi dapat kembali ke Lucid Dream, hah!?”

 

Ketika kehancuran menghampirinya sebuah susara yang tak asing untuk Voxa menggema di telinganya, membuat gerakan spontan melempar tubuh monster itu hingga menabrak batu tajam dan musnah.

 

“Hampir saja kebodohan dan sifat pengecutku menghancurkan semua yang pernah ku miliki. Terimakasih Rive,kau sumber kebangkitanku.”

 

Senyum penuh makna tersirat di wajah Voxa, beriringan dengan langit yang tiba-tiba menggelap, kabut tebal menyelimuti semua hingga yang terlihat hanya seorang manusia berjubah hitam yang tampak gugup dengan apa yang dilihatnya. Perlahan Voxa mendekati Black Dream Bender dengan membawa kesesakkan bagi lawannya yang kini terlihat begitu ketakutan. Ditatapnya mata hitam dihadapannya dengan sebuah tatapan membunuh yang selama ini selalu ia gunakan saat kebencian sudah menguasai dirinya.

 

“Kau salah memilih lawan, iblis yang selalu tertidur kau bangunkan dan kini saatnya kau menerima hukuman dari sang kegelapan.”

 

Api menjalar dari tubuh Voxa membakar seluruh atmosfir ruang hampa mereka, Black Dream Bender itu menjerit histeris sesaat sebelum api membakarnya dan memusnahkannya dari pandangan Voxa. Senyum puas terpampang jelas di wajah beku Voxa. Api menghilang, kegelapan musnah kabut digantikan cahaya terang.

Seorang gadis bertubuh kecil ramping berambut hitam mengombak berdiri tegap memandang langit menikmati kemenangannya. Hari ini kemenangan yang dirasanya, esok hari mungkin kegelapan yang akan memakannya. Entah hingga kapan semuanya baru berakhir namun kegelapan akan terus menjadi tempat yang indah bagi mereka yang hidup di alam yang tak nyata. Ini bukanlah akhir tapi awal dari sebuah penyelesaian yang baru saja terjadi.

Semua mata terpejam, membangunkan beberapa pasang mata yang siap menghujat. Menjaga dan bertarung dalam kehampaan yang tak berakhir, itulah tugas mereka para Dream Bender sang Pejaga mimpi yang selalu terjaga dibawah kesadaran manusia.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Penjaga Mimpi

  1. Adham117 says:

    Wew! Pertamax! :D

    Ide Dream Bendernya menarik, tapi sayang eksekusinya kurang apik jadi terasa agak datar. IMO. 2,5/5

  2. gurugumawaru gurugumawaru says:

    ah sial! keduluan! *usrek usrek tanah*

    Oke. Idenya seru. Dream Bender? para pelindung Lucid Dream? Owww yeah!

    Tapi sayang pengeksekusian ceritanya kurang mulus. Saya sampe bosen bacanya. Gimana ya, perpindahan adegannya dadakan, narasinya pun ga berasa.

    Juga banyak typo. Oh ya, di mimpimu bukan dimimpimu, di angkasa bukan diangkasa. Di yang digabung itu kayak kata ‘ditutup’ ‘dibalik’, yang gak menunjukkan tempat.

    sama kalimat ini: “Gadis bodoh! Aku sudah berpesan padamu agar kendalikan rasa takutmu kan? Kau juga mau lenyap seperti wanita itu dan tak lagi dapat kembali ke Lucid Dream, hah!?”

    Kenapa kalimat itu diulang dua kali sama persis? Kalo adegannya dejavu, ato ada semacem adegan yang berkaitan dengan perubahan waktu, masih masuk akal. Tapi kalo 2 adegan yang berbeda punya satu kalimat yang sama sampe ke tanda baca, kesannya – maaf – penulisnya males mikirin narasi.

    2 out of 5. nice try :)

  3. Ardani si nomer 191 says:

    Narasi terasa sangat lemah di sini. Hasilnya, tiap adegan terasa melompat begitu saja tanpa ada penghubung yang kuat dan jelas di antaranya. Selain itu, kesalahan eja dan grammar juga bertebaran. Dan aku ngerasa heran kenapa nama seseorang bisa berubah dalem lucid dream castle? Kenapa ga bisa pake nama aslinya aja? (Bukan karena nama aslinya terasa ga keren, kan?)

    Dan, terlalu banyak istilah yang memakai bahasa inggris. Kesannya sedikit dipaksakan. Idenya menarik, sayang eksekusinya tidak rapi.

    • Voxa says:

      Terimakasih dulu nieh buat komentarnya..
      Masalah nama nya waktu di lucid dream berubah itu udah ketentuan dari para leluhur.
      #plakk
      Becanda .. Hehehe..
      Peraturan itu di buat agar hidup nyata para Dream Bender gak terganggu.. ^^d

  4. Bobby Huang says:

    Idenya menarik ;D

    Menanggapi gurugamawuru.. Menurut saya, itu seperti kata-kata Rive yg terus terngiang-ngiang dalam ingatan Voxa ;D
    Saat dia takut, dia teringat kata-kata itu sbg sumber motivasinya. Just my opinion.

    Hanya saja, beberapa kata memang salah penulisan, mungkin karna memang nggak disengaja. Contohnya seperti Seorang orang wanita, pikiranya, dan masih ada beberapa kata yang terbolak-balik hurufnya.

    Rating : 6 of 10 :)

    Mampir lapak 71 yah.. Saya juga perlu banyak dikoreksi. Hehehe

    • Voxa says:

      boby termakasih sudah ngebantu saya menjelaskan sesuatu hal ke gurugawawuru.
      :D

      makasih juga sudah memaklumi kesalahan saya, tapi seharusnya saya lebih teliti lagi dan membaca tulisan saya berulang-ulang kali dulu agar tidak terdapat kesalahan dalam penulisan..

  5. imajinaria says:

    hmm, kayaknya udah banyak yang membahas tentang betapa menariknya ide yang dimiliki pengarang cerita ini….

    Mimpi…. yeah, saya selalu tertarik dengan cerita yang berhubungan dengan mimpi.

    Dan untuk cerpen ini, menurut saya cukup bisa saya nikmati. Tanpa mempedulikan beberapa typo, alur cerita yang cukup datar, adegan berantemnya kurang klimaks, endingnya ngegantung, tanpa mempedulikan itu semua….. saya enjoy baca cerpen ini

    Good job :D

    • Voxa says:

      wah..
      walau bilang enjoy dan terkesan menikmati cerpen saya. Tapi anda memberitahu secara jelas kekurangan dalam cerpen saya..
      huahahahaha..
      ^^

      • imajinaria says:

        Yang pentingkan pembaca (saya) enjoy membacanya :p

        Bahkan saya merasa kalau ini cerita dibikin atau ada versi cerbungnya (cerita bersambung), atau sekalian dibikin cerita yang panjang, bakal lebih keren lagi :D

        • Voxa says:

          nyahahahaha..
          mungkin, itu pun kalau saya gak kehabisan kata-kata waktu nulis atau kejebak dalam alur saya yang gaje..
          -.-

          thank’s lagi dah..
          XD

  6. dachna says:

    semua uda bilang idenya bagus. it’s gold! masukin rincian idemu ke satu buku tulis biar ga lupa. soal alur dan plot bisa tambah tajam kalo kamu terus nulis.

  7. Alfare says:

    Apa… cuma aku yang teringat sama film Sucker Punch saat membaca ini?

    Hahaha, aku pribadi ngerasa ini salah satu karya yang agak terburu buat dikirimkan.

    • Voxa says:

      sucker punch?
      saya belum pernah nonton, jujur ini cerpen saya buat karena saya memang suka main-main sama Lucid Dream..

      saya akui saya memang terlalu terburu-buru mengirim nie cerpen..
      –d

  8. Xamdiz says:

    Bakal lebih seru kalau perang nyali antara bender dan black bender dibuat lebih horor dan mencekam lagi. Di situ main attractionnya, ketika perang mental dan imajinasi dideskripsikan dengan baik pasti keren!

    Good job.

    • Voxa says:

      Maunya buat gitu, tapi kehilangan kata-kata di tengah jalan.
      T.T

      Terimakasih sudah mau mampir dan membaca.

  9. ok… menurut pendapat saya… keseluruhan cerita ini hanyalah pembuka di sebuah cerita yang lebih besar. dan itu, dan itu.

    mengesalkan. karena yang saya dapat seperti nonton setengah awal dari film matrix pertama (sampai ia bisa narik HELI) dan udah. saya gak tahu lebih dalam tentang Metafisika ceritamu, saya gak bisa tahu lebih dalam dari garis besar ceritanya….

    intinya… adalah sayang sekali kalau ini hanya jadi cerpen 3000 kata.

    kalau kata Juri American Idol. “anda salah pilih lagu, padahal penyanyinya bagus”

    anda salah menyajikan cerpen. padahal cara tulisnya bagus.

    • Voxa says:

      Ah, komentar anda mengingatkan komentar temen saya sebelum saya ngasihn nie cerpen.
      Seharusnya saya mendengarkan dia baik-baik dan tidak terburu-buru mengirim.
      fiuuhh..
      Benahrkah saya salah menyajikan cerpen
      dan benrkah cara tulis saya bagus?
      Perasaan cara tulis saya hancur banget deh.. –a

      Hampir lupa, Terimakasih sudah mampir dan terimakasih atas komentarnya..
      ^^

  10. katherin says:

    Idenya sangat menarik.
    Sayang narasi tidak mengalir lancar sehingga keseluruhan cerpen terasa berantakan.
    Entah kenapa terasa sedikit nuansa .//hack di sini.

  11. Salam kenal Voxa :D

    Seperti yang sudah dibilang sebagian besar pengunjung, ide ceritanya menarik banget. Pas pertama-tama gw fokus baca karena ada key idea Dream Bender (terinspirasi dari Avatar Aang?) dan Lucid Dream. Hehe.

    Kayanya ceritamu mau fokus pada adegan pertarungan antara Dream Bender dengan Black Dream Bender ya, cmn agak kurang kerasa fokusnya karena memang alurnya agak datar dan banyak perpindahan adegan yang kurang pas “tali penyambungnya”.

    Oh ya, di luar typo, keberadaan “Wall of Text” terus terang bikin gw agak mempercepat membaca cerita menarik ini sih ^^ Dari tengah cerita sampe beres banyak banget paragraf yang terdiri dari banyak kalimat. Paragraf yang terlalu padat agak bikin mata pusing, IMO.

    Kayanya kalau Voxy menjadikan tema cerita ini sebagai novel bakal laris nih, karena idenya yang udah oke :D Dengan beberapa perbaikan penulisan, bisa makin laris lagi malah. Hehe.

    Jangan lupa mampir di lapak 244 ya. :)

    • Voxa says:

      Salam kenal..
      :D
      tertama-tama saya ngucapin terimakasih dulu nih karena sudah mau menyempatkan diri membaca. ^^

      Terimakasih juga untuk komentarnya, saya sendiri merasa banyak kekurangan, tapi saya tidak meminta untuk di maklumi atas kekurangan saya.
      hehehehe.. Saya juga bersyukur banyak yang mau membagi ilmu dan mengingatkan saya atas semua kesalahan saya.
      #jadi curhat nih XD

      Untuk ide sama sekali tidak terinspirasi dari Avatar, ini murni terinspirasi dari mimpi yang saya alami. Sebenarnya ide ini tidak terlalu menarik karena Lucid Dream itu sendiri memang benar adanya. ^^
      (entah sebenernya apa yang mau saya sampaikan, lagi-lagi saya tidak erhasil menyampaikan apa yang sebenarnya mau saya sampaikan).
      fuuhhhh.
      Sekian. –d

      • Oh bukan idenya yang terinspirasi sih, tapi istilah dream bender-nya agak mengingatkan dengan kartun avatar itu (Fire bender, Water Bender, etc) Wkwkwk.

        Jangan lupa yah mampir ke lapak 244 :)

        • Voxa says:

          akakakakak..
          Iya sih emng mirip..
          #plakk
          Ok, ntar mamir, tapi harap maklum kalo cuma bisa komentar gaje ya..
          :)

  12. meibee says:

    Kalo narasinya lebih rapi, kayaknya ini lebih enak buat dibaca pelan-pelan….
    itu jarak antar paragrafnya emang sengaja jauh2?

    • Voxa says:

      :D
      Terimaksih atas kunjungannya.
      Mungkin suatu saat nanti bakal aku perbaiki.

      Ah, Gak tau kalo masalah itu, kenapa jadi jauh-jauh ya. -.-a

  13. adhow says:

    Sama seperti komen2 di atas… Ide sebenarnya bagus, cuma eksekusinya kurang.

    Mungkin ini buat refrensi aja… ya bagi2 ilmu sekalian ^^ (walau q jg blm bisa semuanya)
    Ada beberapa faktor yg hrs dimiliki semua penulis fiksi :
    1. kemampuan menciptakan ide dan imajinasi >> menurutku u dah bisa menciptakan ide cemerlang dan membangun duniamu sendiri.
    2. kemampuan penuangan ide dan imajinasi ke dalam tulisan.
    >> mungkin ini yang paling sulit. biasanya bikin penulis kehabisan kata-kata atau malah ide yang seharusnya sudah ada jadi hilang karena bingung harus bagian mana yang ditulis dulu. Tapi semuanya emang butuh proses. yang penting terus nulis n temukan gaya menulis sendiri ^^ (q juga masih sering ngalaminya hehe…)
    3. jadi editor diri sendiri >> buat benerin kesalahan typo
    4. jadi orang lain saat baca tulisan sendiri
    >> alasannya knp? biasanya penulis pemula akan merasa karyanya paling bagus. lebih tepatnya ga sadar jika apa yg ditulis kurang menarik atau bikin janggal para pembaca. untuk ini solusinya ya minta orang lain baca n mengomentari
    5. Selalu lakuin riset pada apa yang sedang ditulis ^^
    >> untuk fantasi murni, sebenarnya faktor ini g terlalu penting. cuma jika ingin gabungin dengan dunia nyata atau unsur lokal, baru faktor ini harus atau wajib dilakuin.

    mungkin cuma itu yg bisa kubagi. n maaf klo kurang berkenan dalam dunia kepenulisan, cos kelima faktor itu dari pengamatanku di dunia tulis menulis fiksi. n klo kurang ya tolong di tambahin ^^ hehe

    Cukup sekian dan terima kasih ^^d

    Klo sempet mampir ke “Penjuru Angin – 213″

  14. Shelly Fw says:

    Hai, voxa :)

    Jangan takut, saya hanya akan memberikan nilai 7/10. Mungkin perlu digali lagi dan seandainya adegan terakhirnya dilakukan bersama Rive mungkin lebih seru.

    Good job btw, Cheers ^^

    • Voxa / El-Lydr says:

      hihihihi..
      Thanx Shelly,
      :D
      Banyak ending akhir yg ingin aku tulis sebenernya tapi akhirnya malah ending yang ini yang jadi..
      XD
      mungkin lain waktu aku bisa lebih lagi..
      XD
      Genbatte!!!
      :3

  15. Jinbei says:

    *facepalm* kamu tau arti “bender” itu apa nggak, sih?

    ==============================
    tanggapan.
    ————–
    kamu kelihatannya hendak menyajikan konsep mewah yang wah, rumit, seru dan menarik. tapi berhubung kamu udah nyebut “bender” dan mengartikannya sebagai “pengendali”, maka aku simpulkan bahwa kamu adopsi istilah ini dari Avatar, itupun yang versi terjemahan Indonesia pula. (banyak miss-translation fatal tuh)

    tapi sayang sekali, sebagai fans berat ATLAB, saya benar-benar merasa gak nyaman baca cerita kamu. pertama-tama, alasan saya suka ATLAB adalah karena dia menyajikan konsep ruwet dan sempurna dalam bentuk sederhana sehingga anak2 pun bisa bikin fanficnya. tapi cerita kamu ini–yang intinya cuma menceritakan konsep Dream Bender–berlaku sebaliknya. ini cerita sederhana yang jadi ruwet gara2 konsep ruwet ga jelas dengan konflik maksa yang terlalu mainstream.

    Antara kamu terlalu buru2 bikin cerpen ini, dadakan, atau emang konsepnya harusnya masih bisa dieksplore lagi. krn dikit2 ada begini, dikit2 ada begitu, ada tetek bengek aturan yang bikin gw males ngikutinnya.

    oke, mungkin ibarat makan di restoran, gue cuma makan 2 suap nasi goreng dan udah cabut duluan karena udah buru2 mikir nasi gorengnya ga enak. tapi beneran, menurutku ini bukan cerpen, ini contoh adegan untuk menjelaskan sebuah konsep.

    • Voxa / El-Lydr says:

      ^^
      Saya kembalikan pertanyaan anda sebenarnya anda itu tahu atau tidak sih arti “Bender” disini?
      Anda perlu tahu satu hal setiap orang punya pemahaman masing-masing dan anda tidak bisa memaksakan pemahaman anda pada orang lain.

      Ah ya, jika perkataan anda benar adanya cerita saya ini bukanlah cerpen, seharusnya cerita ini tidak akan muncul disini sekarang bukan? ^^

      • Jinbei says:

        lucid dream, kan?

        saya tidak memaksakan pemahaman saya kok.

        anda bisa lihat sendiri di lapak saya, banyak sekali respon2 yang sesungguhnya tidak saya sukai termasuk responnya RSB. tapi begitu saya main ke tempat dia, dan dia membuktikan kalau dia memang hebat, saya berikan respon yang pantas ia dapatkan dari saya, mengabaikan rasa tidak suka saya terhadap respon beliau.

        dari pertanyaan anda, tampaknya anda tersinggung dengan review saya?

        atau jangan2 anda hanya mau pujian saja nih? :D

        • Jinbei says:

          coba kamu cek aja deh respon2 yang lain terhadap cerpen kamu. kurasa kamu butuh introspeksi diri tuh.

          ikutan >>> ^^ juga deh.

          ^___^

        • Voxa / El-Lydr says:

          ^^
          Pujian?
          Pujian tidak berarti apa-apa buat saya, sama skali tidak membangun.
          Tersinggung?
          :)
          Apakah anda sedang membicarakan tentang diri anda sendiri?

          Ah, baiklah saya mendapatkan satu hal lagi, di tempat anda hanya orang-orang yang berkemampuan tinggi yang boleh mencela anda, sedangkan yang berada di golongan bawah hanya boleh Memuji anda. :D
          Begitu rupanya.
          ya ya ya..
          Saya jadi semakin paham dengan semuanya.
          SAya rasa saya tidak perlu lagi membalsan reply2 anda.

  16. Jinbei says:

    di kamus bahasa inggris, “Bender” artinya bengok.
    jadi arti yang tepat untuk bender atau bending adalah menyimpang, membengkokkan.
    hanya Avatar Indonesia saja yang mengartikannya “pengendali”.
    kalau kamu sebut “manipulasi mimpi”, saya mungkin masih maklum karena masih tepat.

    btw, di UK, “bender” artinya homoseksual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>