Penjelajah Waktu

PENJELAJAH WAKTU

karya Siti Nurhidayati

Kami adalah penjelajah waktu. Aku dan Seth. Kami senang mengutak-atik jam tua milik George, kakek Seth. Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan jam ajaib itu ia wariskan pada cucu lelaki satu-satunya, Seth O’Bryan.

Lima tahun yang lalu, Seth memberitahuku sebuah rahasia besar. Dia bilang, dia mendapat sebuah arloji kuno dari kakeknya. Bukan hanya sebentuk arloji tua biasa, melainkan penuh dengan keajaiban.

”Apa hebatnya?” tanyaku tidak mengerti.

”Ayolah, kau ini bodoh atau apa? Kau harus tahu, arloji ini bisa membawa kita ke masa lampau. Dan triiing… Kita akan kembali berada pada beberapa tahun yang lalu. Atau bahkan beratus tahun yang sudah lewat.”

Seth tersenyum. Jelas sekali bahwa ia percaya pada kehebatan jam kuno itu. Kami sudah berusia dua belas tahun, dan dia masih percaya pada dongeng anak kecil.

”Kau tidak percaya. Iya, kan?” senyum Seth menghilang.

”Seth, dengar. Kita sudah hampir dewasa, tolong jangan…”

”Kau yang harus mendengarkanku!” Seth berteriak marah.

Aku terdiam. Kedua mataku melotot. Berani sekali dia membentakku!

”Maaf, tapi ini sama sekali bukan omong kosong. Akan kubuktikan bahwa perkataanku benar. Kita akan kembali ke… tunggu sebentar!”

Seth mengutak-atik arloji tua itu. Sesekali dahinya mengkerut, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.

”Nah, sudah. Sekarang, pegang tanganku!” perintahnya.

Aku segera menggenggam tangannya. Kemudian, ia menekan tombol kecil yang terletak di pinggir arloji tua itu.

Tiba-tiba segalanya terasa berputar. Kami melayang-layang di dalam pusaran berbentuk pipa. Di sekeliling kami, foto-foto hitam putih tampak bertebaran. Mulutku menganga takjub.

Bruk!

Seth membantuku berdiri. Pantatku terasa sakit sekali.

”Yah, mungkin kau harus belajar menyeimbangkan diri setelah melompat dari pusaran tadi. Saat pertama kalinya aku ke tempat ini, aku malah tercebur ke situ,” katanya sambil menunjuk selokan di depan kami.

Aku meringis. Lebih karena kesakitan ketimbang merespon kisahnya yang tragis. Sedetik kemudian, mataku sudah jelalatan ke sana ke mari. Kami berada di pinggir hutan. Tepat di seberang hutan, sebuah lapangan berumput tampak hijau kekuning-kuningan. Di atas lapangan berumput tadi, berdiri puluhan tenda dengan anak-anak berseragam pramuka.

Mataku membulat, ”Perkemahan musim panas?”

Seth tersenyum misterius, ”Ya, dua tahun yang lalu.”

Aku mengangguk paham.

”Ayo!” Seth menarik pergelangan tanganku.

Kami berlari menyeberang jalan dan menyelinap di belakang tenda berwarna merah, biru, hijau, dan kuning itu.

”Bagaimana kalau mereka melihat kita?” tanyaku was-was.

”Tidak akan. Kau tenang saja,” ujarnya meyakinkanku.

Kamudian, kami berhenti di belakang sebuah tenda berwarna biru muda. Kalau aku tidak salah ingat, itu adalah tenda milik Seth.

”Kita mau ap…”

”Sssttt…” Seth membekap mulutku.

Kami membungkuk. Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati tenda di depan kami.

”Seth…”

Jantungku seperti berhenti berpacu. Aku mengenal pemilik suara itu. Tidak salah lagi, dia pasti Marry Ann. Mantan kekasih Seth.

”Aku… aku…” Seth menjawab tergagap. Seth di depan sana, bukan Seth yang membekapku.

”Seth, maafkan aku.”

Kemudian, mereka berpelukan.

Aku memejamkan mata. Sesuatu menghantam dadaku kuat sekali. Rasanya perih. Perasaan cemburukah?

”Ann, tunggu! MARRY ANN!!!” teriak Seth putus asa.

Tapi Marry Ann terus berlari. Aku tahu gadis itu pasti terluka. Begitu pula Seth-ku. Tanpa sadar, aku memeluk Seth. Kusurukkan kepalaku di dadanya. Tangisku meledak.

Hatiku terasa hancur saat melihat Seth terluka. Aku ingin memberitahunya bahwa aku menyayanginya. Aku ingin berteriak bahwa aku mencintainya. Bukan. Aku tidak mencintainya, tetapi sangat mencintainya.

Namun, lidahku terasa kelu. Aku hanya menangis dan semakin tenggelam dalam pelukannya. Aku ingin terus seperti ini, selamanya…

”Hei, kau kenapa?” tanya Seth kebingungan.

Aku semakin memeluknya erat. Seth diam dan tak meneruskan pertanyaannya. Ia balas memelukku dan mengelus rambutku. Hei, bukankah seharusnya aku yang menghiburnya. Bukan sebaliknya?

Selalu begitu. Dia selalu ada untukku saat aku terluka dan terpuruk. Dia ikut tertawa saat aku merasa bahagia. Dia turut bersedih saat aku menangis. Bahkan setelah bertahun-tahun, aku belum pernah sekalipun menyadari bahwa Seth sangat berarti. Dia adalah hidupku. Dan aku baru sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpanya.

Kutatap manik matanya yang berwarna hazel. Mencari sesuatu yang sangat indah. Sebuah cinta dan ketulusan hati. Keduanya terlihat jelas memancar dari sana. Cinta dan ketulusan dalam sebuah pertemanan. Karena dia tidak pernah bilang bahwa dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia hanya menganggapku sebagai teman. Sahabat. Dan aku harus puas dengan hal itu.

”Ayo, kita kembali!” katanya beberapa menit kemudian.

Sejak saat itu, kami bermain-main dengan arloji kuno milik Seth. Kami kembali melihat berbagai macam kenangan bertahun-tahun yang lalu. Kami kembali mengunjungi George, menonton konser Elvis Presley dan The Beatles, bahkan melihat hebatnya Perang Dunia.

Sayangnya, kami tidak bisa menyentuh George, Elvis, apalagi mencegah meledaknya Perang Dunia. Kami hanyalah penonton, bukan aktor yang terlibat dalam peristiwa itu. Kami hanya bisa melihat dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Tapi yang paling kusukai dari arloji kuno itu adalah bahwa aku bisa melihat adikku lagi. Mauren meninggal karena tenggelam saat umurnya baru menginjak lima tahun. Tepat dua minggu setelah kepergian kami ke perkemahan musim panas.

Aku selalu bertanya-tanya, kenapa Tuhan tidak mengambilku saja? Kenapa Dia harus mengambil Mauren? Kata Mom, Tuhan sangat menyayangi Mauren sehingga Dia memutuskan untuk mengambil kembali Mauren dari kami. Kenapa harus Mauren, kenapa tidak orang lain saja? Kuakui aku memang egois. Tapi aku juga menyayangi Mauren.

Aku selalu bertanya pada Seth, ”Bisakah kita mengubah masa lalu?”

Jawabannya membuatku kecewa, ”Aku tidak tahu.”

Melihat wajahku yang murung, ia melanjutkan, ”Mungkin kalau kita memang bisa mengubah masa lalu, kita juga akan bisa mengubah masa depan.”

Aku sedikit terhibur dengan kata-katanya. Dan aku menyimpan kata-kata itu di hatiku sampai saat ini.

Suatu hari, aku mengusulkan pada Seth untuk mencoba menyelamatkan nyawa Mauren dengan ikut campur urusan masa lalu. Tapi Seth berpendapat bahwa ideku benar-benar gila. Dan bahkan bisa membahayakan nyawaku.

”Baiklah, aku akan melakukannya sendiri!” tukasku ketus.

”Kau hanya sedang bingung. Dengarkan aku, masa depan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Sedangkan jam tua itu hanya dapat digunakan untuk kembali ‘melihat’ masa lalu. Yah, seperti alat yang digunakan untuk memutar film.”

Aku megulang-ulang perkataannya. Seperti alat untuk memutar film. Aku memang sudah memutarnya ratusan kali. Melihat adikku tenggelam ratusan kali pula. Dan aku tak bisa menolongnya. Tidak seorang pun bisa menolongnya.

Hari ini aku berulang tahun ketujuh belas. Seth mengatakan padaku bahwa ia akan memberiku sebuah kejutan. Aku menunggunya sampai ia keluar dari kelas Mr. Trevor pukul satu siang. Aku penasaran, apa kejutan yang akan ia berikan padaku?

Teman-teman sekelas Seth sudah berhamburan keluar kelas. Tapi Seth sama sekali belum kelihatan batang hidungnya. Aku cemas, apa yang sedang terjadi pada dirinya? Jangan-jangan Mr. Trevor menahannya karena ia tidak mengerjakan tugas.

Dan tebakanku ternyata benar.

”Hai, Bee. Maaf, aku telat. Kau pasti sudah menungguku lama, ya?”

“Hmm,” jawabku kesal. Aku sampai hampir lumutan, Tuan Seth O’Bryan!

”Maaf sekali lagi, Bee. Mr. Trevor sebentar lagi akan mencabikku. Hanya karena aku lupa tidak mengerjakan tugas makalahnya. Kau bisa pulang dulu, aku akan menyusulmu nanti. Dah, Bee!” teriak Seth sambil berlari kembali ke kelas.

Sialan sekali kau, Seth! Aku merutuk kesal. Dan aku harus menunggu sampai sore hari hanya untuk mengetahui kejutan dari Seth. Sampai Seth yang agung mengetuk pintu rumahku.

”Apa yang mau kau berikan padaku?” tanyaku kesal.

”Yah, hanya sesuatu yang kupunya. Semoga Bee-ku yang manis menyukainya,” katanya sambil tersenyum seratus watt.

Seth mengangkat bahu saat aku tak merespon. Ia mengeluarkan tangannya dari balik punggung. Seikat mawar merah telah menutupi wajahnya. Di atas mahkota bunga-bunga mawar merah itu terselip dua tiket konser.

Aku menjerit senang, ”Tiket konser Owl City!”

Seth tersenyum, ”Kau suka?”

”Sangat! Ehm, terima kasih.”

”Sama-sama. Ayo kita berangkat!”

Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku mengira ajakannya ini sebagai kencan. Mungkin dia hanya menganggap ini sebagai hadiah ulang tahun untuk teman baiknya. Tapi aku lebih suka menyamakannya dengan kencan berdua.

Di dalam venue, lampu dimatikan. Semuanya gelap. Aku menatap panggung dari awal sampai akhir. Melihat Adam Young yang satu tingkat lebih tampan dari Seth. Aku tidak mau menatap Seth dengan pikiran bahwa dia akan menyatakan perasaannya setelah konser.

”Bagaimana menurutmu?” tanya Seth setelah Adam menyanyikan encore terakhir.

”Dia tampan,” kataku. Kulihat Seth memutar bola matanya.

Aku sudah melangkah keluar bersama kerumunan saat Seth menarik tanganku. Dia membalikkan tubuhku hingga kami saling berhadapan. Kemudian, dia menciumku.

Di perjalanan, kami hanya saling diam. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Itu adalah pertama kalinya kami berciuman. Aku bahkan tidak menolaknya, atau mendorong Seth menjauh. Dengan bodohnya, aku malah balas menciumnya.

Seth mengantarkanku sampai di depan rumah. Kami benar-benar kehabisan stok kata-kata. Aku baru saja akan masuk rumah, namun Seth kembali memanggilku.

”Umm, aku masih punya sesuatu untukmu. Ini…” ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil padaku.

”Apa ini?”

”Kau buka saja nanti, aku mau pulang. Bye, Bee… ” kata Seth sambil menguap lebar.

Aku menatap punggung Seth sampai menghilang di belokan jalan. Kututup pintu rumah sambil menimang-nimang bungkusan kecil dari Seth. Apa ini?

Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku membuka kertas pembungkusnya dengan perasaan berdebar-debar. Kemudian, arloji kuno itu sudah tergeletak di atas telapak tanganku. Mulutku memekik tanpa sadar.

Aku tidak bisa tidur sampai pukul tiga pagi. Arloji itu masih tergeletak di atas meja. Kuhampiri telepon kamarku. Kemudian menekan beberapa nomor yang sudah kuhapal di luar kepala. Nada tunggu berdering di telingaku. Tidak ada yang mengangkat. Aku kembali meletakkan gagang telepon di tempatnya semula. Menekan beberapa angka dan mencoba meneleponnya sekali lagi. Tetap tidak ada yang mengangkat.

Aku melirik jam beker di atas meja belajar. Pukul tiga lebih dua puluh menit.

Bodoh! Tentu saja tidak ada yang mengangkat teleponku. Seth pasti masih tertidur lelap.

Aku menarik napas panjang. Dengan putus asa, kuyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa berbicara padanya besok pagi di sekolah.

Di luar, hujan turun deras. Mataku nyalang menatap butiran air yang turun membasahi halaman berumput. Kubuka jendela kamar dan melompat di atas tanah yang basah. Tetesan hujan langsung membasahi seluruh tubuhku. Piama yang kukenakan terasa dingin dan melekat di badanku yang sudah kuyup.

Kakiku melangkah dengan pasti. Seperti tahu kemana arah yang ingin dituju. Aku bergidik. Aku tidak bisa mengontrol kakiku sendiri. Dia terus berjalan membawaku. Aku seperti tertarik oleh magnet yang amat kuat.

Dan di sinilah aku. Di dekat danau yang tampak gelap dan menyeramkan. Aku menatap danau yang terlihat hitam dan beriak. Hujan masih turun, namun hanya tinggal gerimis kecil. Aku berjongkok dan memandangi pantulan wajahku di atas air. Tanganku terulur ingin menyentuhnya, sampai sebentuk wajah lain berganti menatapku. Wajah paling pucat yang pernah kulihat. Dan aku menjerit tanpa sadar.

Bunyi jam beker mengagetkanku. Ternyata hanya mimpi buruk. Kulemparkan selimut sembarangan. Lalu bergegas berlari ke kamar mandi. Aku tidak mau terlambat. Lagi pula, Seth masih berhutang penjelasan padaku.

Aku berhasil mencegat Seth di koridor sebelum dia berhasil masuk ke kelas Bahasa Inggris.

”Apa maksudmu memberiku ini?” tanyaku. Arloji kuno itu kugoyang-goyangkan di depan wajahnya.

”Hanya sebagai hadiah untukmu.”

”Tapi… ini milikmu yang paling berharga!”

Seth mengeleng-gelengkan kepala, ”Kau memang sok tahu.”

”Aku tidak sok tahu!”

”Ya, kau selalu sok tahu! Padahal, kau tak tahu bahwa aku menyayangimu. Kau tak tahu bahwa aku mencintaimu. Sejak dulu, sampai saat ini. Kau cinta pertamaku dan akan selalu tetap begitu. Selamanya.”

Aku kehilangan kata-kata.

”Jadi, kau adalah milikku yang paling berharga.”

Aku mendongakkan kepala. Mataku panas sekali. Aku takut kalau sampai menangis di depan Seth. Hanya karena aku tahu bahwa perasaannya sama denganku.

”Kau cengeng sekali.”

Aku mendelik padanya.

Sepulangnya dari sekolah, aku mengajak Seth ke danau di dekat rumahku. Aku ingin kami bisa melihat kembali Mauren kecil. Kami kembali memutar jam. Berpegangan erat melewati pusaran penuh gambar dan terlontar ke danau itu lima tahun silam.

Kami bisa melihat Mauren kecil berlari-lari ke arah danau. Kaki-kakinya yang mungil menapak tanah dengan mantap. Lalu, dia semakin mendekat ke danau. Tangannya menggapai-gapai air dengan perasaan senang. Dan kemudian… kakinya terperosok ke dalam danau. Tubuhnya terjatuh ke dalam air. Kepalanya timbul tenggelam di atas permukaan air.

Aku mulai menangis.

”Kita tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Seth sambil menggenggam erat tanganku.

”Tidak ada yang bisa menolongnya,” kataku parau.

Saat aku memeluk Seth, aku seperti mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara. Mereka lumayan dekat. Aku melongok ke belakang bahu Seth dan menemukan sumber suara itu.

”Mereka bisa menolong Mauren!” teriakku.

Seth melepaskan pelukannya, ”Siapa?”

Aku menggigit bibir. Apa yang bisa kulakukan?

Aku terus berpikir.

Ah, ya! Aku mengambil batu kerikil dan melempari orang-orang itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Berhasil!

Salah satu dari orang-orang itu menengok ke arahku dan berteriak, ”Seseorang melemparkan kerikil padaku!”

Orang itu menghampiri kami. Seth menatapku dengan sorot mata yang aneh. Aku kembali menggigit bibir.

Dan orang itu melihat apa yang seharusnya dia lihat. ”Seorang gadis kecil tenggelam!”

Orang-orang berbondong-bondong datang. Mereka melihat Mauren yang sudah mulai tidak berdaya. Salah satu orang itu melompat ke dalam danau dan menolong Mauren.

”Mauren selamat! Mauren selamat!” teriakku sambil melepas tinju ke udara.

Kulihat Mom berlari dan memeluk Mauren.

”Sebaiknya kita kembali,” kata Seth khawatir.

Seth menarikku sebelum aku dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Kami menuju pusaran penuh dengan foto hitam putih dan terlontar kembali ke tempat di dekat danau. Masa sekarang.

Seth dan aku saling berpandangan.

Kemudian kami berteriak bersamaan, ”Mauren!”

Kami berlari kencang ke arah rumah. Sebuah mobil van berwarna oranye baru saja meninggalkan garasi. Oh, tidak! Orang tuaku baru saja pergi.

Seth dan aku berhenti berlari. Kemudian kami berjalan dengan lunglai.

”Mereka sudah pergi,” Seth yang pertama kali berbicara.

Aku duduk di atas undakan tepat di depan pintu rumah. Seth menatapku iba. Aku tidak menyadari seseorang membuka pintu di belakangku, sampai Seth berteriak.

”Mauren?!”

Aku menoleh. Seorang gadis cilik menatap kami dengan heran. Rambut pirangnya diikat dengan pita berwarna merah. Dia mirip aku saat aku berumur sepuluh tahun. Matanya yang biru masih menatap kami heran.

”Kau… Mauren?”

Aku berjalan mendekatinya. Tenggorokanku tercekat.

”Tentu saja, kau pikir siapa aku?” gadis itu memutar bola matanya.

Aku tercekat. Kami sudah berhadapan satu sama lain. Tiga langkah lagi aku sudah bisa menyentuhnya. Aku takut, kalau ini tidak nyata. Hanya ilusi yang membohongiku. Tapi aku harus mencoba. Aku menyentuh rambutnya, hidungnya, pipinya yang bersemu merah muda.

Oh, Tuhan! Dia benar-benar nyata.

Aku memeluk Mauren erat. Dia meronta-ronta dalam pelukanku.

”Apa-apaan kau ini!” teriaknya marah.

”Aku bahagia, kau masih…” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

Dia sudah berlari ke dalam rumah dan meraih telepon.

”Mom, Bee sudah agak sinting! Dia menangis dan memelukku erat sampai aku kehabisan napas. Mom, kupikir dia mau membunuhku!”

Tenang, Sayang. Mungkin kakakmu hanya merindukanmu,” terdengar jawaban dari seberang sana.

Mom berkata lagi. Mauren mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

”Baiklah, Mom. Aku juga sayang padamu. Dah…” kemudian ia menutup teleponnya.

Aku dan Seth saling berpandangan. Kami tersenyum. Misi kami telah berhasil. Aku menatap arloji kuno dalam genggamanku.

”Aku ingin melihat kenangan Mauren yang tak sempat kulihat selama lima tahun yang sudah lewat,” ujarku pada Seth.

Seth mengangguk setuju. Aku mulai memutar arloji itu.

”Siap?”

Seth mengangguk lagi.

Kutekan tombol kecil pada pinggiran arloji itu seperti biasa. Kugenggam tangan Seth dengan tanganku yang lain.

Satu detik. Lima detik. Tak ada yang terjadi.

Kami saling bertatapan bingung.

”Apa yang terjadi?” tanyaku.

”Aku tak tahu,” jawab Seth seraya mengangkat bahu. Sama-sama tidak mengerti.

Kami mencobanya sekali lagi. Tetap tidak berhasil. Aku menggeleng putus asa.

”Pasti ada yang salah,” kataku sambil mencobanya sekali lagi.

Tapi Seth menahan tanganku, ”Tidak akan berhasil. Jamnya sudah rusak.”

”Kenapa?”

Aku menelan ludah. Mungkin arloji ini sudah tak berfungsi karena aku nekat mencampuri urusan masa lalu.

Aku menatap Seth menyesal, ”Maaf, aku sudah merusakkan arlojimu.”

Seth menggelengkan kepalanya, ”Tidak, ini semua bukan salahmu. Toh, aku sudah memberikan arloji itu sebagai hadiah ulang tahun untukmu. Arloji itu sudah menjadi milikmu.”

Aku kembali menatap mata Seth, mencari kesungguhan di sana. ”Terima kasih. Aku berjanji untuk menyimpan rahasia besar kita.”

Seth tersenyum. Ini akan menjadi rahasia paling hebat milik kami. Hanya aku dan Seth. Kusimpan arloji itu di kamarku. Sesekali, aku melihatnya hanya untuk mengingat kenangan kami. Kami, aku dan Seth. Sang penjelajah waktu.

 

 

Cerpen ini kudedikasikan untuk Ibuku tercinta,

Ich liebe dich, Mutti.

 

 

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Penjelajah Waktu

  1. Darin Kowalski says:

    Akhirnya berhasil juga Bee mengubah masa lalu… Touching. Kalau masalah hubungannya dengan Seth, ya, no comment :] *nggak pinter komen romance*

    Nicely done! Good luck! :)

    *pesan sponsor: Silakan mampir ke nomor 73.*

  2. Evan says:

    woooowwwww… kereeeenn ceritanya :’)

  3. Evan says:

    woooowwwww… kereeeenn ceritanya :’)
    Hwaiting….!!!

  4. Lia amtaf says:

    Jempol deh !

    • Siti Nurhidayati says:

      Makasih banyak atas jempolnya, hehe… Maaf kalau masih banyak kekurangannya. Ditunggu kritik dan sarannya. :D

  5. Agathies Tities says:

    ceritanya bagus banget,,…
    tingkatin terus kreatifitasmu kawan!!!

    #the enchancer

  6. Alexander Blue says:

    Halo salam kenal ya :D

    Konsep penjelajahan waktunya menarik, simpel dan fun. Pace ceritanya juga oke, ga terlalu cepat dan ga terlalu lambat. Penulisannya juga rapih. Hehe. Btw itu berarti memang jamnya rusak karena masa lalu diubah oleh Bee ya? sebenarnya waktu kembali ke masa lalu, Seth dan Bee itu dapat terlihat atau ga ya oleh orang-orang masa lalu? Kan batu kerikil aja bisa dilempar oleh Bee. Hehe.

    Sip deh, kalau sempat mampir ke lapak 244 ya. Makasih :D

    • Siti Nurhidayati says:

      Haha, menarik juga pertanyaannya. Itu dia… saya juga bingung, hehe. Supaya ceritanya nyambung aja. Sebenarnya sih Seth dan Bee dapat terlihat di masa lalu. Seperti orang-orang biasa, hanya saja mereka berasal dari masa depan. Nah, kalau ibunya Bee atau salah seorang penduduk mereka melihat keduanya, kalau kelak mereka bertemu–misalnya sepuluh tahun yang akan datang–kan aneh kalau dua orang itu masih terlihat seperti sepuluh tahun yang lalu. Kalau masih bingung, coba kembali baca Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Di sana ada jam milik Hermione yang bisa digunakan untuk kembali ke masa lalu. :D

  7. nurwi says:

    pokoknya aku acungkan 4 jempol buat cerpennya. *yg 2 jempol kaki ya! Haha,*

    • Siti Nurhidayati says:

      Iya, makasih banyak atas komentarnya. Ditunggu ya, kritik dan sarannya. Mau ngirim bakso juga boleh. Dikirim aja ke alamat di bawah ini.
      …………………………………..
      :P

  8. negeri tak pernah-48 says:

    Hola Siti~ Salam kenal :D

    Ide cerpenmu menarik lho. Penulisanmu juga cukup rapi. Kalau bagian yang kurang, mungkin di plotnya. Romantisnya okelah, tapi kerasa mendadak muncul waktu Bee tiba-tiba ternyata suka sama Seth. Jadinya ga ada rasa penasaran lagi untuk bagian romancenya. Apalagi ternyata hubungan mereka lancar-lancar saja tanpa masalah.

    Yang bikin penasaran malah bagian nolongin Mauren. Sebetulnya aku pikir bakalan susah atau ada konsekuensi yang lumayan berat dari mengubah sesuatu di masa lalu. Ternyata ga. Untuk pribadi sih (subjektif) jadi ga ada klimaksnya.

    Begitulah. Semangat dan terus nulis ya :D
    Mampir ke nomer 48 kalo sempet~

    • Siti Nurhidayati says:

      Makasih banyak atas komentarnya, ya. :D
      Haha, itu cerpen awal yang saya buat. jadi, tidak terlalu serius dan hanya sebagai hobi nulis aja. Maklum, saya masih harus belajar banyak. Memang, cerpen itu tergolong ABG banget, hahaha. Tapi, trims atas masukannya ya…

  9. faiiii says:

    idaaaa…..
    sehr guttt………
    lanjutkan!!!!!!
    heheeeeee
    sukses slalu yaaa :)

  10. Kiki Suzuki says:

    Uehem, karena ada perubahan di sana-sini, ye, aku coba scanning itu dan menurutku si Seth tambah galak. :D /rolls /dipelototinSeth

    Oke, dari awal aku sedikit ganjil dengan Bee-yang-tiba-tiba-suka-sama-Seth itu :o mungkin bakal lebih mantap kalau setelah adegan menyelamatkan Mauren itu, Bee merasa simpati kepada Seth sebagai ucapan terima kasih tapi lama-lama perasaan itu berkembang jadi rasa suka yang you-know-lah. XD Tapi ini cuma saran, lho .___. intinya hubungan antarkarakter lebih diperkuat lagi sajah~

    Kalau plothole, kurasa enggak ada :D plot-plot berbau sci-fi itu biasanya mayan panjang, dan ternyata engkau bisa menulisnya dengan cukup ringan, Nak :D /emangakumbokmu. Kalau mikirin fantasi aku langsung nyambung dengan seorang putri raja yang terkungkung di istana dan menunggu sang pangeran menyeretnya keluar dari dunia kelamnya menuju masa yang lebih bahagia~ /ceileh tapi kembali-ke-masa-lalu itu bisa jadi fantasi, toh? OwO /pikiranmupendekdeh

    Oye, satu lagi, meski nggak ada plothole, tapi tetep tingkatkan ‘kecuraman’ plotnya, ya =w= maksudnya jangan datar-datar aja, sebisa mungkin cari suatu konflik yang bisa bikin deg-degan pembacanya dan penyelesaian konflik yang tidak disangka-sangka, dijamin yang komen bakal banyak, deh~ /gayaseorangsales

    Udahan, deh, terus semangat menulis, yah! >w<)9
    Dan kalau kepanjangan dan banyak bacotan nggak guna, mohon jangan diambil hati .___. tapi ambil jantungnya saja(?) hahaha~

    • Siti Nurhidayati says:

      Siti Nurhidayati says:
      August 10, 2012 at 12:31 pm

      Ealah Mbok, saranmu banyak amat. Hehehe…
      Sip, dah! Aku bakalan dengerin kata2 kamu yang bagaikan sales itu. :P
      Hayo je, sesuk tak bikin cerita tentang sang putri yang jatuh cinta sama tukang bubur yang telah menyeretnya dari kurungan ayam. Hahaha…
      Sekalian deh, kamu komennya lima halaman folio spasi single. Pis!
      Thanks ya. :D

  11. Siti Nurhidayati says:

    Ealah Mbok, saranmu banyak amat. Hehehe…
    Sip, dah! Aku bakalan dengerin kata2 kamu yang bagaikan sales itu. :P
    Hayo je, sesuk tak bikin cerita tentang sang putri yang jatuh cinta sama tukang bubur yang telah menyeretnya dari kurungan ayam. Hahaha…
    Sekalian deh, kamu komennya lima halaman folio spasi single. Pis!
    Thanks ya. :D

  12. Desire Purify Loki says:

    Hai mbakyu Siti. Situ orang jawa ya? Nggak apa-apa sih, cuma begitu liat nama mbakyu, saya ngacleng kemari, sekalipun komennya kepost 2x. :P
    Boleh aja kok, Klo aku sih komentar di mari aku kopas semua, kopdar, terus di-print out. Dan jadilah kumpulan wacana SMS. Hehehehe. *rawr* Salam kenal ya! :D

    • Siti Nurhidayati says:

      Tahu saja saya orang Jawa. :D
      Boleh tuh… besok kamu bisa nerbitin buku kumpulan SMS.
      Salam kenal juga, ya…

  13. Dialekmu ndak bisa boong, mbakyuku Siti.
    Maturnuwun sanget, nggih. Hanacarakadatasawala sekarang udah jarang…
    Daku jadi sedih deh liat candi-candi yang dipugar tapi disensor. *whoeps*

    Oke, met rehat ya? Anda beruntung lho… Jangan pernah nyerah ya? (Kayanya mending 1 bahasa sajalah di sini, daripada ngegila genjrang genjreng atau henshin jadi Ronggeng Dukuh Paruk. *duutttt* Aduh maaf, saya lagi kembung banget. Syukron katsiraa ada mbak Siti. Kapan-kapan saya ingin ke Jogja, Solo, tapi ogah Malioboro.
    Cuma pengen kopi Arang doang, ko’…. ;)

    • Siti Nurhidayati says:

      Saya sarankan panjenengan datang saja ke Magelang. Menonton dengan sepuas hati relief di Candi Borobudur. Itu kalau belum dicorat-coret. Ngomong-ngomong kok ogah ke Malioboro, kenapa?

  14. Desire Purify Loki says:

    Untuk satu alasan sederhana: Aku suka pusing di keramaian.
    Bukan karena dehidrasi, tapi karena gelombang pikiran orang-orang di situ bikin saya seperti “dilempari kotoran”. :(

    Makasih juga udah me-reply dengan sopan sekali, saya juga harus lebih santun.
    Tetaplah latihan menulis. Aku suka ilustrasinya.

    • Siti Nurhidayati says:

      Iya, makasih. Yang buatin ilustrasinya itu temenku. Dia jago gambar gitu. Makasih buat kata-kata penyemangatnya. You too, ya.
      :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>