Perjalanan Mencari Diri

PERJALANAN MENCARI DIRI

karya Adam T. Fusama

Alkisah di Lembah Dalur, tinggallah sepasang tungkai kaki. Kaki kanan bernama Sahi, kaki kiri namanya Vama. Keduanya senantiasa melangkah, berjalan, berlari, berpetualang, dan menjelajah bersama. Layaknya saudara, mereka terkadang bertengkar, juga berselisih paham. Kadang mereka saling jegal, saling sandung, saling tendang. Kadang mereka melangkah terpisah, meski pada akhirnya mereka kembali bersama.

Suatu hari, mereka bosan bercekcok, merasa sudah waktunya untuk melangkah ke arah yang sama, satu tujuan. Maka mereka memutuskan untuk mencari tubuh supaya dapat bersatu.

Tapi dimana kita bisa menemukannya?, tanya Sahi.

Kudengar ada sebuah tubuh perkasa di Hutan Upplond, jawab Vama. Tubuh tak bertuan yang mendiami pohon tertinggi di hutan itu selama ratusan tahun.

Sahi-Vama pun meninggalkan Lembah Dalur, menuju ke Hutan Upplond di Utara. Berhari-hari mereka melangkah beriringan, bersisian, setapak demi setapak. Hari ketujuh, sampailah mereka di pinggir Hutan Upplond yang gelap gulita. Saking lebat dan besarnya pepohonan di sana, sinar mentari pun gagal menyelusup.

Sahi-Vama meragu. Dari kejauhan nampaklah sebatang pohon Akasia yang menjulang nyaris menyentuh awan. Di sanalah raga tak bertuan berada. Namun jaraknya jauh sekali, puluhan kilometer di perut hutan.

Ayo, Vama, kita beranikan diri.

Ayo, Sahi, aku akan selalu di sampingmu.

Tungkai bersaudara menapaki jalan kecil berbatu, memasuki hutan selangkah demi selangkah. Mereka terkesiap mendengar lolongan serigala menggema di udara… lalu senyap. Ada suara kertak dahan pohon… lalu senyap. Jeritan burung entah dari mana… lalu senyap. Angin mendesau –seakan hutan itu bernafas… lalu senyap.

Sahi-Vama melanjutkan perjalanan. Hutan Upplond rupanya memang tak ramah dengan pendatang baru. Serombongan babon memekik bersahutan, mengumandangkan ancaman perang. Kedua kaki segera berlari menyelamatkan diri dari kejaran babon-babon ganas itu. Mereka berderap menghindari pepohonan, meloncati akar-akar yang menyembul, melewati bebatuan tajam, hingga akhirnya – entah mengapa – para rombongan babon berbulu biru itu berjengit, lantas berlarian meninggalkan mereka.

Sahi-Vama pikir mereka sudah selamat. Alangkah salahnya, sebab mereka baru saja membangunkan seekor macam kumbang. Semula yang mereka lihat hanyalah dua bola mata warna emas di tengah udara, sampai mereka sadar bahwa macan kumbang itu memiliki bulu sekelam malam, berbaur sempurna di gelapnya rimba.

Sekali lagi si dua tungkai kaki berusaha menyelamatkan diri. Sang macan kumbang berkali-kali nyaris mengoyak daging mereka, menjadikan mereka makan malamnya. Berkat kecekatan dan kekompakan, keduanya berhasil melumpuhkan si macan, menggiringnya ke pasir isap. Kucing besar nan malang, meronta-ronta hebat sekedar untuk tenggelam dan menghilang.

Menjelang malam, akhirnya Sahi dan Vama tiba di tujuan. Di sana, mereka mendapati sebidang tubuh teronggok di bawah pohon, duduk bersandar selama bertahun-tahun hingga berlumut, seakan menyatu dengan sang Akasia.

Hai raga tak bertuan, kami Sahi dan Vama datang untuk menemuimu.

Aku Mala, raga Hutan Upplond. Katakan apa maksud kedatangan kalian.

Vama pun menerangkan maksud kedatangan mereka. Mendengar penjelasan Vama, Mala amat tersentuh.

Tahun demi tahun kulewati tak bergerak di sini, dan kalian datang untuk memintaku menjadi tubuh kalian? Sungguh suatu kehormatan, Mala tak percaya. Kuterima tawaran kalian. Apalagi kalian cukup tangguh menghadapi kejamnya Hutan Upplond. Akan tetapi, aku punya satu permintaan.

Sebutkanlah hai Mala sang raga hutan, pinta Sahi.

Mala menceritakan niatannya. Ia ingin memiliki kepala dari Gunung Fjallstindur. Namun untuk mencapai ke sana, mereka perlu memiliki sepasang tangan. Dan satu-satunya tempat untuk mendapatkan tangan-tangan andal adalah di Ladang Ahugasvio.

Sahi dan Vama menyanggupi permintaan Mala. Setelah itu, ketiganya bergabung menjadi satu kesatuan. Dan untuk pertama kalinya – setelah seabad lamanya – Mala meninggalkan Hutan Upplond.

 

***

 

Awal perjalanan berlangsung tertatih-tatih. Baru kali ini Sahi dan Vama berjalan memikul sesuatu di atas mereka. Akan tetapi Mala senantiasa menyemangati mereka, sehingga keduanya menjadi kuat, terbiasa, bahkan sanggup berlari cepat-cepat. Sahi-Vama belajar mensinkronasikan langkah. Bila yang satu melangkah ke depan, yang lainnya menopang di belakang. Tidak boleh ada ego, jiwa pengorbanan dibutuhkan jika mereka tak ingin jatuh terjengkang.

Perjalanan panjang jadi terasa singkat. Mereka sampai di sisi Sungai Aegir. Di seberangnya, terdapatlah Ladang Ahugasvio. Masalahnya, bagaimana cara mereka ke sana? Sungai Aegir begitu lebar hingga mirip lautan. Ujung-ujung sungainya pun tak tampak. Arus airnya ganas, tak ada kapal, tak ada jembatan. Sesekali punggung-punggung entah makhluk apa timbul-tenggelam dari dalamnya.

Di kala mereka kebingungan, seekor platipus raksasa datang menghampiri. Sahi-Vama-Mala mundur ketakutan. Untungnya platipus itu tak bermaksud jahat. Sebaliknya, ia justru menawarkan bantuan, setelah ketiganya menceritakan alasan kedatangan mereka ke sungai ini.

Dengan senang hati Breionefur ini akan membantu kalian menyeberangi Sang Aegir, kata si platipus. Cuma kuharap kalian tidak jatuh dari punggungku. Sungai ini berisi binatang-binatang menyeramkan, terutama Raja Buaya.

Setelah mengucapkan terima kasih, ketiganya naik ke punggung Breionefur. Bebuluan hewan ramah itu mencengkram lembut Sahi-Vama-Mala, supaya mereka tidak terjatuh. Tanpa basa-basi lagi, Breionefur meluncur ke air. Laksana pisau, ia membelah derasnya arus sungai. Tentakel-tentakel raksasa, sirip-sirip besar, dan serombongan ikan salem sebesar pohon turut melintas, terlihat bak ancaman. Namun Breionefur tak merasa terganggu. Penghuni sungai pun nampak tak mengganggunya.

Teror baru muncul begitu seleret punggung bergerigi datang membuntuti mereka. Si Raja Buaya tengah mengintai. Breionefur menyadari hal itu, walau ia tetap tenang. Si raja sungai terus membayangi, menunggu saat yang tepat. Kala mangsanya terlihat gelisah, ia melompat dari atas air dengan mulut terbuka lebar, siap mencaplok.

Sahi-Vama-Mala menganggap hidup mereka berakhir sudah. Tidak secepat itu! Dengan sigap, Breionefur menyelam lalu kabur. Kejar-kejaran di lorong-lorong sungai pun berlangsung.

Kawanan hewan berhamburan. Beberapa yang tak sempat menghindar berakhir dengan malang, tatkala si Raja Buaya merobek-robek tubuh mereka. Ubur-ubur cantik sebesar kereta kuda, kepiting sebesar rumah, belut sepanjang kereta api, mereka semua mati dibabat Raja Buaya yang menggila.

Breionefur melompat keluar. Raja Buaya ikut melompat. Begitu ia menyelam lagi, ia kaget saat Breionefur menedang perutnya. Si Raja Buaya memekik kesakitan. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Breionefur membawa Sahi-Vama-Mala ke tepian. Mereka tiba di sisi Ladang Ahugasvio dengan selamat.

Terima kasih hai platipus yang budiman, ucap Mala.

Tak perlu sungkan. Aku senang membantu kalian.

Bagaimana dengan Raja Buaya?, tanya Sahi.

Dia mungkin tidak mati, tapi akan sangat kesakitan. Kaki belakangku memiliki taji beracun.

Usai mengucapkan terima kasih sekali lagi, trio Sahi-Vama-Mala melanjutkan pencarian mereka. Ladang Ahugasvio merupakan ladang paling ajaib yang pernah ada. Alih-alih tanaman, ladang itu berisi ratusan pasang lengan yang tumbuh menyembul dari dalam tanah.

Pelbagai jenis tangan ada di sana. Ramping, gempal, berotot, tua, muda, berjari lentik, berjari bengkok, dan lain sebagainya. Kuku-kuku mereka tumbuh memanjang, bergelung, lantas gugur bak dedaunan pada akhirnya. Kedatangan Sahi-Vama-Mala membuat para lengan bergairah, berharap dipilih untuk diajak bergabung.

Ketiganya kebingungan saat memilih. Akhirnya Mala mengungkapkan tujuan mereka ke Gunung Fjallstindur, dan mereka butuh lengan-lengan yang bisa diandalkan.

Mendengar Gunung Fjallstindur disebut, tak ada lagi lengan yang bersedia dipilih. Lengan gila macam apa yang nekat menyambangi gunung mengerikan itu? Namun rupanya ada sepasang lengan yang bersedia. Lengan muda yang sehat, meski tidak terlalu berotot.

Kami Hatha bersaudara, dan kami bersedia membantu kalian mencapai Gunung Fjallstindur, ucap mereka memperkenalkan diri.

 

***

 

Hatha bersaudara sungguh menakjubkan. Mereka betul-betul bisa diandalkan. Sesampainya di Gunung Fjallstindur yang tinggi, curam, berbatu, serta bersalju, jasa Hatha kanan-kiri sungguh tak tergantikan. Mereka membuat pendakian terasa mudah. Cengkraman mereka solid. Mereka memungut kayu ramping untuk dijadikan tongkat, sekaligus untuk membuat api unggun kala mereka mencapai bagian bersalju.

Cuaca di puncak gunung sangat tak bersahabat. Kuil Sira tempat si kepala berada tak kunjung mereka temukan. Bila badai salju tiba, mereka terpaksa beristirahat di celah-celah bebatuan yang membentuk gua. Untunglah tidak ada ular atau kalajengking di daerah sedingin itu. Namun pasukan Yak merupakan ancaman paling mengerikan.

Suatu malam, mereka tiba di bagian gunung yang menjadi rumah bagi gerombolan Yak bertanduk empat, berbulu coklat keemasan. Kedatangan Sahi-Vama-Mala-Hatha sama sekali tidak disambut ramah. Sebaliknya, para Yak melenguh marah, lantas mengejar mereka.

Sahi-Vama bergegas membawa mereka menyelamatkan diri, Mala memberi strategi supaya mereka keluar dari lahan luas, Hatha bersaudara membawa mereka mendaki ke tempat yang lebih aman. Rencana mereka berhasil. Para Yak kesulitan menggapai mereka. Akan tetapi rombongan itu keras kepala. Mereka berusaha memanjat, melaung lantang, mengentak-entakkan kaki dengan marah. Mala khawatir para Yak akan menyebabkan longsor salju.

Sebuah ide kemudian muncul. Mala meminta supaya mereka menjatuhkan batu besar ke arah para Yak. Semua setuju. Dengan mengerahkan segenap kekuatan, mereka bekerja sama mendorong sebongkah batu besar. Begitu batu tersebut jatuh menggelontor, para Yak panik, buru-buru menyelamatkan diri. Sayang upaya itu terlambat. Si pemimpin Yak tewas tertimpa batu. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Akan tetapi, dengan matinya sang pemimpin, Yak-Yak lain berhenti mengejar Sahi-Vama-Mala-Hatha.

Kuil Sira akhirnya ditemukan dua hari kemudian. Mereka masuk ke kuil kosong itu, lantas menemukan sebuah kepala botak yang bersemayam nyaman di atas sebuah singgasana. Sahi-Vama-Mala-Hatha membungkuk memberi hormat. Setelah kedatangan mereka diterima, Mala mengungkapkan keinginannya.

“Aku, Sira, merasa terhormat atas tawaran kalian. Aku mendengar ada suara gaduh dua hari yang lalu. Jadi kalian yang mengalahkan pasukan Yak gunung?”

Ya, wahai Sira yang bijak, jawab Hatha bersaudara.

“Kalian mengagumkan,” puji Sira, tersenyum, “Kuterima tawaran kalian, apabila kalian membantuku mendapatkan Kecerdasan.”

Sira lantas bercerita betapa hampa hidupnya di puncak Gunung Fjallstindur. Sendirian, melewati hari hanya memandangi panorama yang sama setiap hati. Ia ingin berpergian, melihat dunia, memiliki kecerdasan, tenggelam dalam pengetahuan…  Oh betapa dia mendambakan itu semua…

Sahi-Vama-Mala-Hatha berkata mereka siap membantu.

“Terima kasih. Kalau begitu, kita perlu mengunjungi Gua Hellir. Di sanalah Mastiska si jenius berada.”

 

***

 

Gua Hellir berada di Pegunungan Tignarleg yang gersang. Butuh waktu sebulan perjalanan untuk mencapainya. Kendati demikian perjalanan kali ini terasa berbeda. Berkat Sira, mereka semua dapat melihat, mendengar, bernafas, mencecap, makan, minum, dan lain sebagainya. Sungguh sebuah dunia yang berbeda.

Sira pun bercerita kalau Mastiska bukanlah sosok yang ramah. Kecerdasannya amat cemerlang, namun ia tidak mudah bersosialisasi. Ia sang intelejensi yang kaku tanpa emosi. Karena itulah, Sira memperingatkan supaya mereka semua berhati-hati di Gua Hellir.

Mulut Gua Hellir ditutupi pintu beton setinggi sepuluh meter. Hatha bersaudara saja tak mampu membukanya. Pintu itu baru terbuka setelah mereka memecahkan teka-teki yang terukir di permukaannya. Di luar dugaan, gua itu sempit sekali, cuma selebar mulut gua.

“Bukan begitu,” kata Sira, “Gua ini membentuk labirin raksasa, sehingga seperti lorong-lorong sempit. Tapi jangan salah! Gua ini luas sekali. Sekali kita lengah, kita bisa saja tersesat dan takkan pernah keluar lagi.”

Mendengar penuturan Sira saja sudah cukup membuat siapapun gentar. Akan tetapi, mereka tidak datang jauh-jauh untuk menyerah. Mereka memasuki gua yang gelap itu dengan tekad bulat. Pintu di belakang mereka tertutup, obor-obor di sepanjang dinding gua menyala.

Menjelajahi labirin Gua Hellir laksana mimpi buruk. Jebakan terpasang dimana-mana. Belum sehari mereka di sana, Vama sudah terluka, begitu juga Hatha kanan. Waktu istirahat ibarat tak pernah ada.

Selain jebakan-jebakan rahasia, mereka pun perlu waspada dengan serangan rombongan tikus yang ganas. Mereka perlu melewati kolam darah, parit lava, menyelamatkan diri dari bola api raksasa yang menggelinding tanpa kendali, menghadapi pasukan patung yang hidup, terjebak di sarang laba-laba raksasa, menolak bujukan siluman di Aula Harta Karun, serta nyaris tersesat di ruang hampa gravitasi.

Mereka berlari, melompat, berenang, berkelahi, mencari akal, menyelamatkan diri. Mereka tersesat, jatuh terpuruk, sempat putus asa, tapi pantang menyerah. Mereka bahkan mesti membunuh, jika tak mau terbunuh.

Sungguh mengerikan. Gua Hellir tak sekedar mengancam nyawa mereka, namun juga membuat mereka nyaris gila. Fisik, mental, emosi, serta psikologi mereka dipermainkan hingga batas maksimal. Tatkala mereka sampai di Aula Mastiska yang megah, penampilan mereka tak ubahnya gelandangan linglung, khawatir serta cemas akan marabahaya macam apa lagi yang bakal mereka hadapi.

Kuucapkan selamat atas keberhasilan kalian hingga mampu mencapai Aulaku, meski kalian tampak mengenaskan. Apa kalian telah kehilangan akal?

Mereka yakin mereka sudah tak waras, begitu melihat ada otak yang melayang-layang di tengah aula.

“A-Apa kau… Mastiska?” tanya Sira.

Pertanyaan lancang! Tentu saja aku Mastiska yang Agung!

“Kami datang untuk menemuimu, wahai—”

Tak perlu kau lanjutkan!, potong Mastiska, tajam. Aku tahu maksud kedatangan kalian, dan aku menolak untuk bergabung dengan kalian.

“Ta-Tapi…”

Diam! Jangan bicara lagi! Kalian cuma raga-raga hampa tak berguna! Mana sudi aku bergabung dengan wujud memprihatinkan seperti kalian?

“Kami datang jauh-jauh dan penuh kerendahan hati untuk—”

Jawab pertanyaanku, hai jasad tak berakal! Untuk apa aku bergabung dengan kalian? Terus terang saja, dengan seluruh kemampuan yang kumiliki, aku tak butuh seonggok tubuh. Aku menggunakan 100% kemampuan pikiranku, sehingga mampu melakukan apa saja! Jadi, untuk apa aku terjebak dengan kalian dan menghilangkan 90% kemampuanku tersebut? Untuk apa?

“Supaya engkau dapat mencerahkan kami dengan ilmu-ilmu yang kau punya, hai Mastiska,” jawab Sira.

Supaya engkau dapat memenuhi kami dengan pemahaman akan hidup dan alam semesta, jawab Mala.

Supaya engkau dapat mengajari kami menjadi wujud yang berakal, jawab Hatha bersaudara.

Supaya engkau dapat membantu dan membimbing kami menjadi wujud yang lebih baik lagi, jawab Siha.

Supaya engkau dapat menaikkan derajat kami. Kami membutuhkan bantuanmu, wahai Mastiska. Tanpamu, kami hanyalah segumpal daging tak berguna, jawab Vama.

Mendengar jawaban-jawaban tersebut, Mastiska bungkam seribu bahasa. Mendadak, ia teringat akan ucapan dari masa lalunya. ‘Tak peduli seberapa hebatnya dirimu, siapa yang akan mengakuinya bila kau tak bisa berguna bagi keberadaan wujud lainnya?’

Pikiran Mastiska berkecamuk.

Baiklah. Akan kupertimbangkan tawaran kalian… dengan satu syarat, katanya.

“Apakah syarat itu, hai Mastiska?” tanya Sira.

Bantu aku menemukan kembali saudariku, Sang Nurani, di Istana Langit Himnariki, jawab Mastiska, Bantu aku berjumpa lagi dengan Antakarana.

“Dengan senang hati, hai Mastiska,” kata Sira, “Tapi, bagaimana cara kita menuju Istana Langit?”

Tak perlu khawatir. Kita ke sana dengan kapal angkasa milikku!

 

***

 

Perjalanan mereka dilanjutkan setelah Vama dan Hatha kanan pulih seperti sedia kala. Ekspedisi menggunakan kapal angkasa Mastiska benar-benar mengagumkan. Sebuah pengalaman yang tak tertandingi. Baru kali ini mereka melihat ada kapal yang mengarungi lautan awan. Bentuknya mirip kapal laut, lengkap dengan tiang-tiang besar dan layar yang membentang lebar. Bedanya, di atas tiang-tiang kapal, terdapatlah sebuah balon raksasa yang terbuat dari kulit-kulit hewan. Balon raksasa itu diikat menggunakan tali-tali tambang yang kuat.

Mastiska bercerita, Istana Himnariki hanya dapat dicapai oleh mereka-mereka yang berhati bersih. Mustahil mendatangi tempat kudus itu dengan hati yang sombong, kotor, atau ragu. Pelbagai malapetaka akan menghadang mereka-mereka yang tak layak menginjakkan kaki di istana tersebut.

Malapetaka serupa mulai menimpa mereka siang itu. Rupanya, paling tidak salah satu di antara mereka ada yang berhati tak damai. Mendadak, langit bergolak, angin menderu dahsyat, dan awan bergelung bak pusaran air di lautan. Pusaran yang menyedot kapal angkasa yang mereka tumpangi. Kepanikan melanda. Mereka bekerja keras keluar dari badai aneh itu.

Keluar mulut singa, masuk ke mulut buaya. Berhasil lolos dari pusaran awan, mereka dihadang badai dahsyat. Air hujan yang turun laksana tirai kelambu, disertai turunnya salju dan es. Belum lagi gelegar petir yang konstan menyambar. Mereka pun nyaris menabrak puncak gunung, tatkala melewati ladang angin puting beliung.

Semua lega sewaktu badai mereda. Masa-masa tenang itu dimanfaatkan Mastiska untuk menceritakan kisahnya dengan Antakarana.

Mastiska dan Antakarana adalah saudara kembar titisan dewa yang diturunkan ke dunia untuk memberikan manfaat. Meski mereka bersaudara, watak keduanya saling tolak belakang. Mastiska pintar, namun kaku dan tidak memikirkan perasaan. Sebaliknya Antakarana begitu lembut dan perhatian meski tidak secerdas saudaranya.

Perbedaan itulah yang menjadi muara keretakan dan perpisahan di antara mereka. Setiap hari mereka berdebat tentang mana yang lebih dibutuhkan bagi makhluk hidup: kepintaran atau kemuliaan hati.

Apa gunanya baik hati namun bodoh?

Apa gunanya pintar namun lalim?

Perdebatan tiada ujung itu akhirnya berakhir pahit. Keduanya memutuskan untuk berpisah jalan. Mastiska membangun Gua Hellir di dasar bumi, Antakarana menyepi di Istana Himnariki.

Tahun demi tahun berlalu, dekade demi dekade berlalu, Mastiska mulai merasakan kesepian. Dia mulai berpikir, barangkali Antakarana ada benarnya. Barangkali kecerdasan tidaklah begitu penting. Barangkali…

Barangkali, kami diturunkan berdua memang untuk bekerja sama, padu, dalam satu kesatuan, pungkas Mastiska. Karena hanya dengan begitu, kami mampu menggapai potensi tertinggi kami…

Begitu Mastiska selesai berkisah, kapal mereka diserang kembali, kali ini datang dari Monster Awan, yang dapat mengubah bentuknya sesuka hati. Bila monster itu berhasil menangkap kapal angkasa, maka tamatlah riwayat mereka. Herannya, sebuah keajaiban kemudian terjadi! Monster itu menghilang begitu saja! Apa yang terjadi? Apakah itu artinya hati para penumpang kapal angkasa telah layak untuk memasuki istana langit? Tak hanya itu, awan di depan mereka tersibak begitu saja, sehingga tampaklah Istana Himnariki dari kejauhan. Perjalanan mereka hampir selesai!

Antakarana… aku pulang…, Mastiska tenggelam dalam kerinduan yang amat sangat.

Senja itu, mereka mendarat di pekarangan Istana Himnariki yang menakjubkan. Sahi dan Vama tak percaya mereka bisa menjejakkan diri di atas awan nan lembut. Kendati ingin sekali bermain-main di pekarangan istana, mereka harus bersabar, sebab ada hal yang jauh lebih penting untuk dilaksanakan.

Sahi-Vama-Mala-Hatha-Sira mengikuti Mastiska memasuki pintu istana. Mereka mengira aula istana dipenuhi oleh peri dan malaikat. Nayatanya istana itu kosong tak berpenghuni. Dimana Antakarana?

Mastiska… Apa itu kau, saudaraku?

Antakarana menampakkan diri. Selain Mastiska, tak ada yang tahu apa sebenarnya Antakarana itu. Segenggam cahaya kah? Segumpal air yang berkilau kah? Bola lampu yang melayang kah? Tak ada yang tahu.

Sudah lama sekali, saudariku…

Kulihat kau memiliki teman, kata Antakarana.

Mastiska lantas memperkenalkan Sahi, Vama, Mala, Hatha bersaudara, Sira, serta menceritakan maksud kedatangan mereka ke istana langit.

Mereka menyadarkanku bahwa aku membutuhkanmu, Antakarana

Mendengar ucapan Mastiska itu, binar Antakarana menghangat, sehangat sinar mentari di luar sana.

Akhirnya kusadari, aku ini memang sombong dan tidak bijak, imbuh Mastiska.

Tidak, saudaraku. Aku selalu mengagumimu. Kecerdasanmu memesona. Dan aku pun merindukanmu. Aku yang lemah ini butuh sosok sepertimu, ungkap Antakarana.

Maafkan kesombonganku, Antakarana…

Maafkan kebodohanku, Mastiska…

‘Perang Dingin’ selama satu dekade pun berakhir indah senja itu… Baik Mastiska maupun Antakarana sama-sama menyadari bahwa mereka ditakdirkan untuk selalu bersama, bekerja beriringan. Untuk itulah, mereka memerlukan satu ‘rumah’ yang sama.

Dan kukira, kita telah menemukan rumah kita, ujar Mastiska, merujuk ke keberadaan Sahi-Vama-Mala-Hatha-Sira.

Kurasa kau telah menemukan rumah yang sempurna, tanggap Antakarana.

Ya. Aku akan merasa terhormat bila mereka bersedia menerimaku bergabung dengan mereka, kata Mastiska.

Aku pun merasa demikian, timpal Antakarana.

“Kehormatan itu justru milik kami,” balas Sira.

Wahai raga yang perkasa, sudikah kalian menerima kami berdua untuk bernaung di dalam kalian?, tanya Mastiska.

“Wahai Mastiska dan Antakarana yang azim, dengan penuh kerendahan hati, kami menerima permintaan kalian.”

Maka meleburlah Mastiska dan Antakarana ke dalam raga yang pemberani itu. Raga yang telah menempuh perjalangan berat dan panjang sekedar untuk menemukan dirinya sendiri. Mastiska merelakan 90% kemampuannya, dan Antakarana meninggalkan istana ajaibnya, demi bergabung ke dalam raga yang telah rela melakukan apa saja untuk bersatu. Kendati demikian, tak sekalipun mereka menyesali keputusan mereka itu.

Hari itu, sesosok makhluk paripurna telah lahir ke dunia. Makhluk dengan dua kaki yang kompak, tubuh yang tangguh, tangan-tangan andal, kepala yang bijak, kecerdasan nan cemerlang, serta nurani yang jernih.

Dan makhluk itu dinamakan… manusia.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

142 Responses to Perjalanan Mencari Diri

  1. Rushii Veru says:

    Ide ceritanya unik banget. XD
    Aku kira ini cerita tentang apa, ada sepasang kaki gitu. Ternyata ini…. Begini toh. *ini comment paling gak jelas*
    aku nemu sedikit typo. :3
    Pesan dari cerita ini dapet banget. Pokoknya keyen lah. XD

  2. negeri tak pernah-48 says:

    Bagus!

    Itu nama-nama apa ada artinya? Karena rasanya pernah dengar yang mirip-mirip itu di suatu tempat.

    Intinya, ini cerita yang bagus. Narasi oke. Plot memang agak berulang, tapi masih bisa dijalani dengan senang hati. Dan endingnya… bikin senyum :)

    Mudah-mudahan manusia ga pernah kehilangan nurani yang jernih.

  3. MR A -156 says:

    Sahi-Vama-Mala-Hatha-Siranya itu bikin males baca deh.. haha. atau mungkin supaya quota pas?*loh

    oiya ini ide ceritanya unik.. tapi terlalu simple dan aku sedikit ngantuk untuk benar2 membacanya. cerita ini juga bisa dibaca cukup sekali dengan skipping/scanning karena sebenarnya inti ceritanya bisa ditebak dengan mudah.

    terus saya bingung, jika emang ini bagian manusia, ada nurani nya segala macam, tp kenapa untuk sampai ke langit bagian2 itu harus punya ‘hati’ yang bersih? emang tangan,kaki,kepala punya hati ya? *semakinbingung

    klo seandainya ‘punya’ terus kenapa hati mereka harus pisah dengan nurani. hati ada tp kenapa nurani harus dicari dulu? jadinya kontradiksi.
    :(
    terus ini sebenarnya ada konflik apa emang konfliknya bukan konflik? *bingung sendiri

    terus-terus aku nemu typo deh hahaha (diluar cara penceritaannya yg mengalir dan seperti dongeng, tapi ya itu, cukup bikin ngantuk)

    ide ceritanya unik jadi aku kasih nilai 4 eh tapi konfliknya kurang, kurang 1 deh.. trus krn ada bagian “hati” itu yg aneh kurangi lagi 0.5.. tp karena kata2nya mengalir bagus aku tambah 0.5 jadiiiii nilainya 3/5 :)

  4. MR A -156 says:

    Sahi-Vama-Mala-Hatha-Siranya itu bikin males baca deh.. haha. atau mungkin supaya quota pas?*loh

    oiya ini ide ceritanya unik.. tapi terlalu simple dan aku sedikit ngantuk untuk benar2 membacanya. cerita ini juga bisa dibaca cukup sekali dengan skipping/scanning karena sebenarnya inti ceritanya bisa ditebak dengan mudah.

    terus saya bingung, jika emang ini bagian manusia, ada nurani nya segala macam, tp kenapa untuk sampai ke langit bagian2 itu harus punya ‘hati’ yang bersih? emang tangan,kaki,kepala punya hati ya? *semakinbingung

    klo seandainya ‘punya’ terus kenapa hati mereka harus pisah dengan nurani. hati ada tp kenapa nurani harus dicari dulu? jadinya kontradiksi.
    :(
    terus ini sebenarnya ada konflik apa emang konfliknya bukan konflik? *bingung sendiri

    terus-terus aku nemu typo deh hahaha (diluar cara penceritaannya yg mengalir dan seperti dongeng, tapi ya itu, cukup bikin ngantuk)

    ide ceritanya unik jadi aku kasih nilai 4 eh tapi konfliknya kurang, kurang 0.75 deh.. ada typo jd kurang 0.25.. trus krn ada bagian “hati” itu yg aneh kurangi lagi 0.5.. tp karena kata2nya mengalir bagus aku tambah 0.5 jadiiiii nilainya 3/5 ….;0

    • Hahahah. Iya, biar pas kuota, soalnya Sahi-Vama-Mala-Hatha-Sira tetap dihitung 1 kata. Wekekekek. *Perhitungan*

      Soal kenapa bagian-bagian tubuh itu punya kecerdasan dan hati, soal itu sudah pernah saya jelaskan di komentar sebelum-sebelumnya. Anggap saja mereka seperti hewan yang juga punya kecerdasan serta hati, namun lebih sederhana daripada manusia. Nah dengan bergabungnya Mastiska dan Antakarana, tingkat kecerdasan dan perasaan mereka meningkat, plus mendapatkan nurani juga. Kira-kira begitu. Hehehe.

      Barangkali cerita ini mungkin tidak logis, namun intensi pertama saya sewaktu menulis cerita ini memang bukan untuk mengedepankan logika, melainkan fantasinya. Sejenak tersesat dalam alam fantasi. Begitulah.

      Iya, ada typo yang lolos dalam proses proof-read saya! >,< It's such a shame, mengingat saya sangat concern dengan proses editing dan proof-read. Uf, padahal kalau nggak ada typo saya bisa dapet 3,5. Hahaha.

      Terima kasih sudah mampir.

  5. xeno says:

    Balas mampir! ^o^/

    Bagaimana ya mendefinisikan cerpen ini? Sureal dengan bumbu horor?

    Bayangkan bagaimana kaki berjalan tanpa badan, dua tungkai melompat-lompat di tengah hutan; tubuh teronggok tanpa kepala yang kemudian ditemukan di tempat lain; otak yang melayang, dua makhluk yang tak kasat mata dan ‘taman potongan tangan’. That’s creepy, right?

    Lalu bagaimana kedua kaki, badan, dan tangan itu berpikir untuk saling melengkapi, menemukan ide melawan bahaya yang mengancam, dan berargumen melawan akal tanpa akal itu sendiri? Bagaimana pula mereka melihat dan mencari sebelum mendapatkan kepala dan kedua matanya, di mana saat mendapatkan kepala itulah kali pertama dijelaskan kalau kaki, badan dan tangan itu baru bisa melihat? Oke, kukira ini bagian surealnya. Mengerutkan kening, tapi mungkin memang itu maksud sebuah surealisme.

    Lepas dari dua beberapa hal tadi, alurnya urut, petualangannya fantastis, dan pesan yang sepertinya coba disampaikan tampak dengan jelas. Overall, cerpen ini unik.

    Tetap semangat, Adam! :)

  6. Ada perulangan di beberapa tempat, dan setengah jalan udah ketebak jadinya bakal gimana, tanpa ada kejutan lebih lanjut.

    Sedikit berkerut dahi di bagian Mastiska merelakan 90% kemampuannya. Ini didasarkan dari dalil “manusia cuma memakai 10%” kemampuan otaknya dalam keadaan biasa” ya?

    Menurut satu artikel yang saia baca, dalil ini mitos. Manusia memang nggak memakai 100% kemampuan otaknya dalam satu waktu tertentu, tapi pengertiannya berbeda dari yang disiratkan di cerita ini.

    Untuk melaksanakan tugas yang berbeda, manusia memakai bagian otak yang berbeda. Jadi, otak itu kepake 100%, hanya saja nggak ‘switch on’ semuanya sekaligus; bagian otak yang ‘switch on’ bergantung pada tugas apa yang dikerjakan tubuh.

    Lainnya saia nggak terlalu mempermasalahkan. Keunikan ide ceritanya menutupi kekurangan-kekurangannya. Ini bacaan ringan yang menyenangkan, dan kalau saia punya anak nanti, mau saia ceritain ke mereka. Hehehe~

    • Wew, makasih udah mampir Mbak Luz! Yeeey!

      Yah anggap saja saking hebatnya, Mastiska punya kemampuan otak yang melebihi kemampuan otak manusia sekarang, jadi walau pun dia ‘cuma’ ngasih 10% kemampuan otaknya, ‘kepingan’ 10% itu tetap 100% otak manusia sekarang. That 10% is a whole brain for us, so Mastiska’s ability is 10 times more powerful than us. Hahahaha.

      Ampun deh, saya jago banget kalau berdalih. Hahahaha.

      But thank you untuk informasinya. Saya aja baru tahu. Duh ampun deh. Di saat seperti ini saya nyesel karena pas sekolah dulu suka males ngikutin pelajaran MIPA. Hihihihi.

      Anyway, terima kasih udah mampir dan komen. Semoga nanti anak Mbak Luz juga senang diceritain kisah ini. :D

      Nuhun pisan…

  7. fr3d says:

    membalas kunjungan juga ^^

    adham (kenapa pake “h”?), ceritanya sangat jelas dan sebenarnya sangat menarik,
    tapi sangat luar biasa melelahkan yah *lap keringet*
    perjalanannya itu loh… jauuuhhh bangeeeett…
    belum lagi monsternya… banyaaakk amaaaattt… xD xD xD

    dan semua quest (yg mirip game RPG itu :P) terasa berulang-ulang
    mungkin itu yang bikin membaca cerita ini jadi agak membosankan dan ada yg sampai skip-skip segala bacanya (?)
    mungkin kalau bagian di perjalanannya itu dibuat lebih variatif, bukan cuma sekedar berbeda monster/musuhnya, tapi dicocokkan antara jenis quest-nya dengan “hadiah”-nya (kepala, tangan, tubuh, akal, dst), kurasa cerita ini akan jadi keren banget karena idenya udah bagus

    oya, nama-nama tempatnya juga terlalu sulit >__<
    kalaupun memang ada sumber acuan bahasanya, mungkin ada baiknya disingkat aja supaya lebih sederhana, atau kalau gak, ya pakai aja bahasa lain, xP

    good luck! ;)

    • Yey! Mas Fred nongol juga! :D

      Kenapa pake H? Karena Adham T. Fusama itu anagram dari nama asli saya. Jadi klo kurang 1 huruf saja, ya nama asli saya ga bakal bisa diketahui. Hihihi.

      Iya, memang perjalanannya yang ‘panjang’, melelahkan serta terkesan diulang-ulang banyak dikritisi. Saya juga sebenarnya mengkhawatirkan akan hal itu tapi tidak apa-apalah. It’s already written. :D

      Nah, justru setiap stage perjalanannya ada makna-makna tersembunyinya loh, yang sudah saya cocokkan antara jenis quest dengan hadiahnya. Ada simbolisme2 yang memang tidak bluntly obvious atau kentara, dan memang sengaja saya buat demikian. Tapi mungkin banyak yang tidak menyadarinya. Hehehehe.

      Iya, nama-nama yang saya pilih juga mengandung resiko, tapi tetap saya pakai sebagai tribute bagi sumber inspirasi cerita ini.

      Terima kasih udah mampir! *Bungkukkan badan*

  8. meibee says:

    itu gimana ceritanya nemu ide kaki yang berpetualang tanpa tubuh ><"
    nyari anggota badan pula :D

    cerita petualangan dibagian awal, lebih bagus narasinya daripada di bagian akhir yang kesannya agak terburu2.

    and by the way…kenapa namanya manusia?
    kayaknya agak sinkron sama nama kamu (kalo gak pake H) adam = manusia pertama yg tercipta.

    • Hahaha. Dapet idenya dari film pendek asal Ceko.

      Ya maklum, namanya juga terbentur kuota maksimal. Hahaha.

      Kalau dinamain burung kan ga mungkin, karena ga ada sayapnya. Hihihi.

      Terima kasih udah mampir.

  9. Gem says:

    Keinget kisah One Piece, si Buggy yang badannya bisa kepotong-potong dan keilangan bagian badannya :D

    Satu yang kurang hingga kisah ini kerasa agak datar … yaitu humor, jika ada kekonyolan yang gila pasti akan sangat menarik kisah ini.

  10. Rawr, here I go.

    Sumpah, pas pertama kali ngebaca “sepasang kaki” dan kakinya itu bisa hidup sendiri gitu, kukira ini cerita horor!!!

    Tapi ternyata bukan, wkwk.

    Ini cerita yang dipenuhi hal-hal absurd, tapi saya sukses menikmatinya dari awal sampai akhir tanpa banyak mikirin absurd2nya, logika ini dan logika itu. Saya menerima segalanya begitu saja sebagai bagian dari cerita ini, tanpa banyak tanya. :P

    Eh, bisakah pernyataan terakhir itu dimasukkan ke pujian? Saya sebenarnya memaksudkannya sebagai pujian, tapi agak sukar mengungkapkannya. (Halah, ini panda satu emang pelit pujian, udah gitu masih gak mau ngaku pulak!)

    Jadi, iya, saya mendapati diri saya nggak ada protes2nya sama sekali dengan seluruh logika cerita ini. Gak mikir tentang gimana itu badan, kaki, tangan bisa gerak tanpa ngeliat arah, gimana kaki bisa gerak, dll dkk itu. Sempat sih kepikiran tapi udahnya ditampik dengan, “Ya udahlah ya.” dan lanjut baca lagi, rawr.

    Dari segi teknis tulisan, gak ada komentar juga, rawr.

    Humm, dengan begini, cerita ini termasuk bagus untuk standar saya, rawr. Bagus, tapi bukan superb. Rawr.

    Hehe.

    • Horeeee! Mbak Mantoel nongol! Thank you ya udah kasih komen! Rawr!

      Bisa kok. Bahkan saya anggap kedatangan Mbak sebagai pujian buat saya :D
      Saya pun menerima pujiannya tanpa banyak protes juga deh. Hihihi.

      Terima kasih sudah mampir dan suka! Rawr!

      :D

  11. Shafia says:

    Salam kenal Adham!
    I just have a little thing to say about this.
    Dari judulnya, aq sudah bisa memperkirakan garis besar dongeng ini. Serupa dengan kisah ‘Sepasang Sandal Jepit’ yang pernah kubaca, hanya ini lebih kepada pembentukan seorang manusia.
    It’s a wonderful tale. Hanya pengulangan di plotnya saja yang sedikit buat (q) bosan di pertengahan cerita. Made me keep thinking, ‘duh, kapan sih selesainya!’ Hahaha. Anyway, namanya juga pencarian jati diri itu ga gampang, jadi masih acceptable lah.. ^_^
    Good Luck ya!
    Oya, kalau sempat mampir ke 206 ya..

  12. Jovyanca says:

    Wuah. Wuah. Wuah. *so speechless at first*

    Wkwkwkwkwk.. Salam kenal, Adham. :D

    OMG! Ini cerita unik sekaleeeee~ Saia suka! :D

    Tokoh2 utamanya bukan orang. Bukan juga binatang. Tapi tungkai kaki!!! (dan anggota tubuh laennya ^^ hehe..) Dapat ilham dari mana tu, Sir? Ckckck.. Mantep la.

    Saia awalnya ikutin dengan semangat, tapi lama2 kesandung juga ama nama2nya. ^^a

    Ada beberapa kata yang rasanya janggal juga, terasa berlebihan. Tapi gpp, still enjoyable banget di banyak banyak bagian laennya, plus ceritanya juga amat bermakna. Good jOb! b^^

    Sukses ya! :D

    Jangan lupa mampir2 di 129 juga. ^^ tQ~

  13. Connie says:

    unikkkk…hahhaa…tp aneh kl dipikir2 ya…setiap anggota tubuh ada di tempat2 yg berbeda itu artinya apa ya?? trs kenapa endingnya lahir manusia, jadi manusia tercipta karena mereka saling memilih anggota tubuh?? hahhaa… trs kenapa tungkai, tubuh, tangannya itu masing2 bisa melihat, mendengar dan berbicara ya??? saya sempat berfantasi kl masing2 anggota tubuh itu memiliki mata, telinga dan mulut sendiri. hahaha, makin aneh aza… tp unik idenya…nice catch :)

    • Ya makannya jangan dipikirin terlalu serius. :P
      Kenapa manusia? Karena kalau disebut burung, tidak punya sayap. Disebut kebo nggak punya tanduk. LOL.
      Silakan difantasikan dengan bebas. Anggap saja setelah mereka bergabung ‘mata’, ‘telinga’, dan ‘mulut’ mereka hilang, selain mata, telinga dan mulut di kepala :D

      Terima kasih sudah mampir dan suka.

  14. Gemmyni says:

    Ceritanya lucu, aku suka!
    Didlm pikiran aku, mereka loncat-loncat *tuing..tuing* gitu.
    Terasa dh perjalanannya, jd ngerasa ngos-ngosan. Hehe, ending yang cantik.
    …Manusia
    I love Sira dan isi yang ada di dalam Sira :D
    Sukses terus ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>