Permohonan Pada Bintang

PERMOHONAN PADA BINTANG

karya Ciel

Apa tujuanku berada di sini?

Entah sudah berapa kali aku bertanya tentang keberadaanku. Di sini aku selalu sendirian menatap langit biru serta perbukitan berumput hijau di sekelilingku. Memandang kumpulanpepohonan di balik kota kecil di kaki bukit ini. Memikirkan bagaimana hanya aku yang berada di sini.

Aku selalu bertanya pada rerumputan di bawahku, apa tujuan mereka berada di bukit ini. Jawab mereka, ‘Kami adalah penyambung hidup ternak manusia. Kami adalah esensi kecil pembentuk lingkar kehidupan.’

Aku kagum. Tujuan hidup mereka pasti, sedangkan aku tidak mengerti tujuan hidupku sendiri.

Ketika aku kembali menyuarakan kebingunganku, rerumputan kembali menjawab, ‘Kau masih muda, pohon. Lihatlah, batangmu masih lunak dan ramping. Daunmu masih berwarna hijau muda. Jalan hidupmu masih panjang, dan masih banyak hal di dunia ini yang belum kau ketahui. Seiring pertumbuhanmu, kami yakin kau akan menemukan tujuan hidupmu.’

Seiring dengan berjalannya waktu, tubuhku bertambah besar. Batangku mengeras, daunku lebat dan hijau, akarku kini mencuat dari tanah. Tetapi aku tetap belum mengerti tujuan hidupku.Aku bingung.

Aku pun kembali bertanya pada rerumputan, mereka terdiam dan berkata, ‘Mungkin kau memang tidak sadar, pohon. Bukankah seringkali manusia berhenti dan duduk dibawah dahanmu? Barangkali itu tujuan hidup yang kau cari.’

Benar. Manusia memang seringkali duduk di bawah dahanku. Mungkin itu memang salah satu dari tujuan hidupku. Namun aku menginginkan hal yang lain. Aku yakin memilikinya. Jika tujuan hidupku hanya sebagai tempat bernaung manusia, maka aku sama seperti pepohonan lain di hutan. Lantas lebih baik aku berada di hutan bersama kawananku, bukan berada di sini sendirianbersama rerumputan dan tujuan hidup mereka yang pasti.

Waktu terus berjalan tanpa aku mengerti sedikit pun tentang keberadaanku. Tidak kusangka, hari ini aku kedatangan seorang tamu aneh.Dia seorang pria muda, tubuhnya cukup tinggi dan rambutnya kecoklatan. Matanya coklat muda terang bersinar ramah. Seulas senyuman menghiasi wajahnya.

“Selamat siang, pohon,” ujar pria itu, “hari ini cukup panas, jadi izinkan aku beristirahat di bawah dahanmu.” Pria itu terdiam sebentar dan segera duduk di antara akarku. Tubuhnya bersandar ke batangku.

Jujur aku terkejut. Manusia yang datang dan duduk di bawahku tidak pernah meminta izinku. Terlebih lagi, bicara padaku. Aku bertanya pada rerumputan tentang siapa dia. Mereka menjawab bahwa sepertinya ia pendatang baru di kota.

“Pemandangan ini luar biasa!” ujar pria itu tiba-tiba. Aku dan rerumputan dikejutkan oleh suara lantangnya. Kami segera diam dan memperhatikan pria itu. Ia berdiri seraya merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin semilir.

“Kau hebat, pohon! Kau memilih lokasi untuk berdiri yang sangat indah. Kau bisa melihat seluruh bukit dari atas sini,” ujarnya lagi.Ia kembali duduk sembari merogoh sakunya. Sebuah buku kecil serta pena kini sudah berada di tangannya. Tanpa menunggu ia membuka buku itu dan menulis pada bagian yang masih kosong.

Wajahnya terlihat serius saat menulis, namun dalam rautnya ada sedikit kegembiraan. Akhirnya ia meletakkan pena dan merenggangkan seluruh ototnya. Ia menatap tulisan yang baru dibuat dan menghela napas puas.

“Hei, pohon. Aku baru saja membuat puisi dan tempatmu berdiri ini. Maukah kau mendengarnya?” ujar pria itu sembari menolehkan kepala ke batangku.

Dia bicara lagi padaku. Kurasa dia memang orang aneh. Seharusnya dia tahu aku ini hanya pohon dan tidak mungkin aku bisa membalas perkataannya. Namun ia tidak peduli. Lantas membacakan puisi tentangku dan bukit ini. Aku tergugah oleh puisinya. Kata-kata pilihannya terasa tepat. Gambaran tentang kesendirian dan pemandangan bukitku terasa sangat indah.

Tanpa terasa petang telah tiba. Pria itu bersiap untuk kembali ke kota. Seharian ia bercerita tentang puisinya dan cita-citanya untuk menjadi penulis. Sesaat setelah ia menghilang di balik cahaya kota,perasaanku mendadak aneh. Aku bertanya pada rerumputan. Mereka menjawab, ‘Kau terlihat berbeda, pohon. Selama ini kau selalu terlihat murung. Hari ini pria itu datang dan bicara padamu, ada perbedaan dalam dirimu. Tidakkah kau pikir ini ada hubungannya dengan tujuan hidup yang selama ini kau cari?’

Aku segera membantah. Aku hanya merasa aneh. Ia berbicara dan membacakan puisi untukku. Siapapun pasti akan merasa aneh dengan hal ini. Rerumputan tetap berkerassesuatu dalam diriku berbeda. Kami pun memutuskan untuk menghentikan perdebatan.

Hari-hari berikutnya pria itu selalu datang dan duduk di bawah dahanku. Ia akan bercerita tentang harinya dan membacakan puisi buatannya. Lambat laun aku menantikan kedatangandan merindukannya. Si penyair, begitulah aku memanggilnya sekarang.Rangkaian puisinya mendorongku untuk memanggilnya begitu.

‘Kau menyukainya, bukan?’ ujar rerumputan suatu hari, saat aku berkata betapa sepinya malam tanpa si penyair. Aku terdiam, mencoba menyerap pertanyaan rerumputan. ‘Akui saja, pohon. Kau menyukainya,bukan? Kami semua sudah tahu dari sikapmu ketika si penyair ada di sini,’kata mereka lagi.

Menyukainya? Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Aku hanya merasa senang saat berada dekatnya, dan selalu menanti kedatangannya. Aku sendiri tidak mengerti arti‘menyukai’. Sering terlitas dalam benakku memang. Jika aku saja bisa selalu berada di dekatnya.

‘Itulah yang dinamakan ‘menyukai’. Kau ingin selalu berada di dekatnya dan merindukannya saat ia tidak ada,’ ujar rerumputan, ‘entah kenapa aku merasa dia adalah orang yang akan membawa dan membuatmu mengerti tujuan hidupmu.’ Rerumputan kembali mengatakan hal itu. Sama seperti saat si penyair pertama datang.

Kini aku tidak membantah. Mungkin perkataan mereka benar. Namun sebesar apapun keinginanku untuk berada di sampingnya, hal itu tidak mungkin terjadi. Aku hanya sebuah pohon. Dia manusia. Dilihat dari sisi manapun keinginanku hanyalah harapan konyol semata.

Mendengar ungkapan hatiku lantas rerumputan kembali berkata, ’Apakah kau ingat cerita milik si penyair, tentang harapan yang dikabulkan oleh bintang jatuh? Bagaimana kalau kau mencobanya? Mungkin saja harapanmu terkabul.’

Aku ingat cerita itu. Di antara cerita-cerita si penyair, kisah itu merupakan favoritku. Aku memandang langit. Rupanya malam sudah semakin larut. Bintang-bintang bersinar dengan cemerlang, seakan kapan saja salah satu dari mereka akan jatuh ke bumi. Belum berapa lama aku menatap, sebuah bintang jatuh dari takhtanya. Rerumputan segera mendorongku untuk mengajukan permohonan. Lantas aku membatin.

‘Wahai bintang, izinkan aku agar dapat bersama dengan si penyair. Izinkan aku untuk berjalan berdampingan dengannya,’

Bintang itu jatuh dan menghilang di balik perbukitan ketika aku selesai membatin. Tiba-tiba saja sebuah cahaya terang melingkupiku. Aku merasa takut. Namun kehangatan dalam cahaya itu membuatku tenang. Dalam benakku samar-samar terdengar suara lembut yang bergaung.

‘Aku mendengar permohonan tulusmu, pohon. Aku juga selalu mengawasimu dengan pria itu. Apa kau benar-benar menginginkan untuk berada dekat pria itu?’ tanya suara itu.

Aku tidak menjawab. Memikirkan dengan seksama pertanyaan itu. Kudengar rerumputan bersemangat dan mendorongku untuk mengiyakan. Ujar mereka, ‘Ini adalah kesempatanmu, pohon. Harapanmu akan terkabul. Kau memiliki kesempatan untuk mencari tujuan hidupmu.’

Mungkin saja, begitu pikirku. Lantas aku mengiyakan. Dalam benakku suara itu kembali bergaung, ‘Kalau kau benar-benar menginginkannya, ada satu persyaratan yang harus kau penuhi. Kau akan menjadi manusia, namun hanya jiwamu yang berubah. Raga aslimu tetap merupakan sebuah pohon. Karena itu kau tidak bisa menampakkan dirimu di depannya. Dia bahkan tidak boleh mengetahui keberadaanmu. Jika kau melanggarnya, maka jiwamu akan menghilang. Raga aslimu yang tidak memiliki jiwa akan mati. Kau hanya dapat mengawasinya dari jauh. Apakah kau dapat menyanggupinya?’

Mendengar persyaratan tersebut aku kembali diam. Ada sedikit perasaan kecewa dalam hatiku. Persyaratan itu cukup berat. Namun hati kecilku berkata lain. Kalau aku dapat berada di dekatnya, walaupun ia tidak menyadarinya itu cukup. Dengan keteguhan hati ini aku menyetujui persyaratan yang diajukan.

‘Baiklah saat kau tersadar nanti, kau akan menemukan dirimu dalam rupa yang berbeda,’ ujar suara itu diiringi cahaya yang menerang. Lalu semuanya menggelap.

* * *

Bau harum rerumputan menggelitik penciumanku. Semilir angin mempermainkan helaian yang terjuntai dari atas kepalaku. Perlahan aku membuka pengelihatan. Sebuah pohon besar berdiri di depanku. Sontak aku terkejutmendapati ragaku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri dan melihat ragaku sendiri?

Aku teringat kejadian semalam. Lantas akutersadar dan berdiri. Aku merasa limbung. Pandanganku beralih ke bawah, dan mendapati sepasang kaki. Kakiku. Aku tersadar ternyata aku juga memiliki sepasang tangan yang sempurna. Perlahan aku menggerakkannya danmeraba wajahku. Satu per satu kurasakan seperti apa mata, hidung, mulut, dan telinga. Aku sudah berubah menjadi manusia. Dengan begini aku bisa berada dan berbicara kepada si penyair.

Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Tiba-tiba saja perjanjian itu serasa menghantamku. Aku menggelengkan kepala, menyakinkan diri pada keputusanku.

‘Kau sudah sadar, pohon?’

Terdengar suara dalam benakku. Mereka adalah rerumputan, syukurlah aku masih bisa berkomunikasi dengan mereka.Lantas aku menyuarakan kegembiraanku, namun aku dikejutkan oleh suara langkah yang amat kukenal. Rerumputan berbisik bahwa si penyair datang dan memerintahkan untuk bersembunyi pada ragaku. Tanpa memedulikan kakiku yang masih lemas, aku memanjat ragaku dan bersembunyi pada dahan yang terindang.

Akhirnya si penyair muncul dalam pengelihatanku. Seperti biasa ia selalu menyapa dan meminta izinku untuk duduk di bawah dahanku.Si penyair kembali membacakan puisi barunya dan bercerita tentang harinya. Entah kenapa ia terlihat berbeda, mungkin sudut pandangku sebagai manusia memberi persepsi lebih terhadapnya. Namun aku cukup menikmatinya. Sampai aku hampir tertawa terkikik sebelum rerumputan berteriak memperingatkan.

Waktu berlalu begitu cepat hingga senja kembali datang. Si penyair bersiap untuk kembali ke kota, namun aku tidak merasa sedih dan kesepian. Sebaliknya, aku malah merasa sangat bersemangat. Dengan wujudku sekarang, memungkinkanku untuk mengikutinya. Aku mengikutinya perlahan, diiringi peringatan tajam rerumputan.

Di kota aku tersadar, sepertinya si penyair cukup disukai. Ia selalu disapa oleh siapapun yang berpapasan dengannya. Si penyair selalu memberi balasan berupa senyuman ramah, dan aku menyukainya. Ketika ia terlelap, aku kembali ke bukitku dan antusias menceritakan semua pengalamanku kepada rerumputan. Mereka setia mendengarkanku dan kembali memperingatkanku agar berhati-hati.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku pergi ke kota untuk mengawasi si penyair. Aku mengikuti rutinitas harinya sebelum pergi ke bukitku. Lambat laun hal ini menjadi rutinitasku. Aku senang. Aku dapat melihat sisi lain si penyair yang tidak mungkin aku lihat sebagai sebuah pohon. Aku sangatbersyukur menjadi manusia.

Suatu hari ketika aku sedang menunggu si penyair di atas dahanku, rerumputan bertanya, ‘Hei, pohon. Apakah kau sudah menemukan tujuan hidupmu?’ Jujur aku sedikit melupakan masalah itu. Aku terlena dengan tingkah laku si penyair dan keunikan lain dirinya. Aku larut dalam pikiranku sampai aku disadarkan oleh suara si penyair di bawah.

Seperti biasa ia menjalankan rutinitasnya di bukitku. Namun hari ini terasa tidak biasa. Ia terlihat sedikit pucat dan lesu. Harinya di bukit berlangsung singkat. Matahari baru mengarah ke barat saat ia kembali ke kota. Aku sedikit khawatir dan mengikutinya.

Hari-hari berikutnya ia semakin terlihat aneh. Senyuman ramah masih menghiasi wajahnya, namun ia semakin memucat. Aku semakin khawatir dan cemas. Pada akhirnya suatu hari tiba-tiba ia limbung dan tidak sadarkan diri. Sesaat aku ingin berlari keluar dari persembunyianku. Menghampirinya. Namun perjanjianku serasa kembali menghantam. Tidak kusangka, ternyata perjanjian itu jauh lebih berat daripada dugaanku. Pada akhirnya aku hanya bisa menatap si penyair yang terbaring di jalanan berbatu dengan getir, sementara orang-orang mulai berdatangan untuk menolongnya.

Mereka membawa si penyair ke suatu tempat bernama rumah sakit. Dari bisikan orang di kota sepertinya ia terkena penyakit yang langka dan tidak bisa disembuhkan. Sehari kemudian barulah aku berani untuk datang. Aku menemukan si penyair pada sebuah jendela di halaman rumah sakit.Ia menerawang. Kusadari ia sedang menatap bukitkudengan lesu. Mungkin ia sedang memikirkan ragaku masih menantinya di sana.

Walaupun begitu, sepertinya ia belum pupus harapan. Ia masih menulis puisi sambil menerawang menatap bukitku. Namun seiring dengan mendinginnya udara, penyakitnya semakin bertambahparah. Kini ia mulai kehilangan rona semangat di wajahnya. Ia tidak lagi menulis puisi seperti yang ia lakukan sebelumnya.Badannya kini terkulai lemah. Harapannya memudar. Ia berserah pada apa yang disebut takdir oleh manusia. Tidak ada lagi senyum semangat yang kadang ia tunjukan. Semuanya digantikan oleh keputus-asaan.

Rasanya aku ingin datang dan tidak memedulikan perjanjianku. Lantas apa tujuan hidupku? Aku tidak terima kalau tujuan hidupku adalah mati di tangannya. Aku yakin ada tujuan besar daripada kematian.

Aku ingin berguna untuknya. Ia menyelamatkanku dari rasa sepi,dan memberi kehidupanku arti lebih. Karenanyaaku ingin berbuat sesuatu. Aku ingin membangkitkan semangatnya. Apapun itu aku rela. Sejenak aku tersadar. Benar. Mungkin itulah tujuan hidup yang selama ini aku cari. Aku ingin berguna baginya. Akhirnya aku yakin bahwa aku telah menemukan apa yang aku cari.

‘Bagaimana kau melakukannya, pohon? Kau akan menghilang jika ia melihatmu. Bahkan sebelum kau berkata apapun,’ ujar rerumputan ketika aku berada di bukit dan memberitahu pikiranku. Tentu saja aku tahu. Aku sudah memikirkan dan memutuskan cara lain. Mungkin rerumputan akan marah. Aku tidak peduli. Semakin parah keadaan si penyair, semakin aku yakin keputusan ini tepat.

‘Kau gila! Bagaimana mungkin kau melakukan hal itu? Kau tetap…’ Rerumputan memprotes keras keputusanku. Mereka tidak sanggup berkata lagi. Apapun kata mereka, aku tidak akan goyah. Tekadku sudah bulat. Aku tahu ini berat. Bukan hanya untuk mereka saja. Begitu pula untuk diriku. Mereka pasti mengerti betapa beratnya saat aku memutuskan hal ini. Air mataku menetes membasahi rerumputan. Penggal demi penggal kenanganku bersama rerumputan melintas. Tanpa lelah mereka mendukung dan menemaniku. Bagi mereka mungkin akuegois. Namun aku tetap berterima kasih pada mereka. Lantas aku berbisik, “Terima kasih, rerumputan. Maafkan aku.”

Bintang bertebaran memenuhi langit. Sama seperti malam itu.Sekarang adalah waktu yang tepat. Aku melangkah menuju rumah sakit tempat si penyair.

Kini aku berdiri di depan kamar si penyair. Si penyair tampak terlelap di dalamnya. Hela napasnya terdengar berat dan panjang. Tidak ada lagi rona kemerahan di wajahnya. Akumendekat dan menggenggam tangan kurusnya perlahan. Kuletakkan di dahiku.

Mataku terasa basah.Aku tahu ia tidak akan bertahan lebih lama. Aku mengalihkan pandangan ke jendela, menatap bintang di langit. Menanti seberkas cahaya turun ke bumi. Doaku terjawab. Sebuah bintang jatuh ke bumi. Aku memejamkan mata dan membatin.

‘Wahai bintang, kalau aku boleh memohon sekali lagi. Jangan biarkan ia pergi. Ambil saja waktuku untuk menggantikan waktu yang seharusnya berhenti.’

Selesai membatin, seberkas cahaya turun dan menyelimutiku. Lalu kudengar suara lembut itu bergaung dalam benakku. ‘Apa kau mengerti permohonanmu itu, pohon?’

Aku mengangguk, “Aku sangat mengerti. Dan aku siap menanggungnya.”

‘Sekalipun itu kematianmu?’

“Sekalipun itu kematianku. Bagiku pria ini adalah orang yang memberiku harapan dan mengerti tujuan hidupku. Karena itulah, aku ingin memberi dia harapan dan membuat ia mengerti tujuan hidupnya sendiri. Dengan begitu aku tidak memiliki penyesalan.”

Suara itu terdiam dan berkata, ‘Baiklah, pohon. Genggamlah kedua tangan pemuda itu dan jangan lepaskan.’

Lantas aku meraih sebelah tangannya lagi. Cahayayang menyelimutiku semakin meluas. Sekilas ia membuka matanya sedikit. Aku berbisik, “Terima kasih penyair, hiduplah, dan selamat tinggal.’

Aku memejamkan mataku. Tubuhku terasa tertarik dan semuanya menggelap.

* * *

Daun-daun kemerahan melintas di jendela ruanganku. Aku memang masih terbaring di ranjang, namun dokter mengatakan bahwa besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit. Akuterkejut. Sudah 2 hari penyakitku dinyatakan menghilang. Padahal penyakitku didiagnosa tidak akan sembuh. Keadaanku cepat memburuk.Akhirnya dokter menyerah, dan aku berpasrah menanti ajal.

Seluruh orang mengatakan bahwa ini mukjizat. Aku sendiri tidak yakin. Namun samar-samar kuingat saat nyawaku berada di ambang batas, aku melihat sesosok berambut dan bermata kehijauan. Wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas. Mulutnya menggumam sesuatu yang aku yakin ucapan terima kasih. Aku mengira itu hanyalah mimpi sebelum kematian menjemput. Keesokan harinya, penyakitku dinyatakan hilang dan tubuhku berangsur membaik.

Aku diizinkan pulang besok. Begitu memikirkan besok tiba-tiba aku teringat pohon di bukit itu. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku mengunjunginya. Kuputuskan untuk mendatanginya besok.

Selepas keluar dari rumah sakit, aku melangkahkan kakiku menuju bukit itu. Membayangkan bagaimana menghabiskan hariku di bukit saja, sudah membuatku mempercepat langkah. Akhirnya aku sampai di puncak bukit dan bersiap menyapa pada si pohon.

Hal yang ada di depanku sangat mengejutkan. Bahkan sebelum aku bisa membuka mulut, mataku membelalak tidak percaya. Dalam benakku bayangan pohon besar berdaun kekuningan, berjatuhan tertiup angin hilang. Di sana hanya ada ‘bangkai’ dari pohon yang dulu pernah berdiri kokoh. Batangnya berwarna pucat, daun-daun berserakkan di rerumputan kering dan berwarna kecoklatan. Tidak ada lagi kehidupan yang berdiam di dalamnya. Aku mengalihkan pandanganku, tidak tega melihat pemandangan menyedihkan itu.

Perlahan aku melangkahkan kakiku dan berdiri di depan batang pohon. Mataku terpaku melihat batang pohon yang pucat. Sesuatu dalam diriku mendorong tanganku bergerak ingin menyentuhnya. Sensasi aneh menjalariku.Air mata membumbung di pelupuk mataku. Entah mengapa.Pada saat bersamaan muncul potongan-potongan memori melintas dalam benakku. Aku ada di sana. Ada pada setiap penggalan. Semenjak pertama aku berdiri di bawah pohon ini, hingga saat aku terbaring lemah. Setiap penggalan memori menyisakan perasaan senang, sepi, sedih, bahagia, dan tenang. Semua berakhir pada kehampaan. Bayangan yang hadir dalam mimpiku kembali terlintas. Aku tersadar. Semuanya begitu cocok. Lantas aku menengadah menatap ranting-ranting kering dan pucat.

“Kaukah itu, pohon? Kaukah orang yang kulihat dalam mimpiku, saat ajal akan menjemputku?” Hanya ada kesunyian di sana. Aku mengepalkan jari dan meninju-ninju batang pohon itu. Kesembuhanku ternyata memiliki bayaran yang sangat mahal. Kalau aku tahu ini akan terjadi, aku lebih memilih kematian.

Tiba-tiba angin berhembus kencang di sekelilingku.Dedaunan kering naik dan berterbangan ke mana-mana. Aku tidak dapat melihat apapun. Badai dedaunan itu serasa membutakanku. Namun kurasakan sepasang tangan merengkuh dari belakang.Terdengar bisikan lembut dalam telingaku.

‘Teruslah hidup, penyair.Carilah harapan dan tujuan hidupmu. Janganpernah lagi kau putus harapan dan menyerah. Aku akan terus berada di sisimu.Mengawasimu. Karena itu, hiduplah.’

Badai dedaunan mereda. Aku terdiam dan air mata mengalir di pipiku. Rupanya ia masih berada di sini. Muncul sebuah harapan baru dalam diriku. Aku akan terus hidup. Perasaan hangat membanjiri tubuhku perlahan dari ujung kaki hingga kepala. Tiba-tiba aku melihat setitik sinar kecil dekat telapak kakiku. Aku berlutut untuk melihat, lantas tersenyum.

Sebuah tunas kecil berwarna kehijauan cerah, tumbuh di antara dedaunan kering. Rupanya ia memegang kata-katanya barusan. Ia masih menjagaku. Di sini.

Lantas aku berbisik, “Kini kau akan menemukan harapan dan juga tujuan hidupmu yang baru. Akuakan menjagamu dan terus membisikkanmu tentang puisi-puisiku.”

Aku bangkit dan melemaskan badanku. Semilir angin berhembus menyapu air mataku. Matahari keluar dari balik awan dan menyinari bukit ini. Aku menengadah perlahan. Menikmati  sinar mentari dengan senyuman.

***

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Permohonan Pada Bintang

  1. asdfghjkl says:

    Ceritanya bagus. Pohonnyx galau. Scr keselurhn ak suka. Bs diprbaiki lg sih deskripsinyx sm permainanx spasi paragrafx

  2. cielsinomor183 says:

    untuk admin: spasinya kok jadi kacau ya? di beberapa titik ada yang spasinya ilang, jadi langsung tergabung gitu.
    bagaimana itu min? T_T

  3. little owlie says:

    Iya. Pohonnya galau xD
    Overall, this is a heart warming story. Mungkin masih bosa diperbaiki sedikit lagi deskripsinya. Agak over soale. Hehe…

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

  4. meibee says:

    Kkkkkkk~~ tadi udah komen apa gitu, cuma down, dan lupa lagi tadi ngetik apa –a

    mhhhhh.

    Pesan moralnya bagus, dan ini cerita ttg pohon yg entah keberapakalinya aku baca.

    Kalo mslh kata yg nempel, ini sama kayak cerita empat hadiah.

  5. Satu lagi cerita sederhana, ketebak, tapi oke.

    Setuju sma Bu Dokter Burung Hantu di atas: deskripsinya agak kebanyakan dan pemilihan katanya sedikit lebay. Terutama klo pas lagi gambarin kesedihan. Xixixi.

    Itu spasinya aneh saia kira karena filenya disimpan pake format .docx word 2010, tapi sama panitia dibukanya pake word 2007 atau kurang. Saia pernah gitu juga. Bukan kesalahan dikau sih, jadi semestinya ga dihitung typo. ^^

    • cielsinomor183 says:

      tengkyu buat cabenya ~~xD

      untuk spasi, setelah diinget2 dulu saia juga sering kejadian kalau mau print paper di kampus. alhasil terpaksa harus bolak balik ke laptop buat ubah format .docx jadi .doc . . . . . =_=”" (jadinyacurcol)

    • cielsinomor183 says:

      jadi beda tahun word bikin kacau spasi, sepertinya benar… =_=”

  6. ADAKAH DI ANTARA KALIAN PENGGUNA MS WORD 2007 YANG TAHU BAGAIMANA MENGEMBALIKAN WORD COUNT SEPERTI SEMULA???!!!

    Ini gaswat surawat berjerawat. Sudah cukup keanehan dengan Smadav.
    Fatal akibatnya untuk seorang penulis kawakan.

    Makasih sebelumnya.

    Balthazaar: ROAAARRRRRRRRRR! *pake toa segede terompet Israfil*

    Aduh! Kesandung! >.<

  7. negeri tak pernah-48 says:

    Lho.. ini cerpen bagus. Pada kemana nih pembaca? hahaha *sendirinya juga baru mampir

    Halo ciel~
    Ceritamu bagus. Sweet and heart-warming.
    Nuansanya agak mengingatkan pada cerpen sendiri, jadi berasa di rumah hahaha.
    Aku paling suka para rumput. Mereka keren, punya pendirian.

    Si pohon aku pikir jantan eh, cowo di awalnya. Ternyata waktu jadi manusia, cewe toh.
    Keseluruhan penulisan rapi koq, ga ada masalah waktu baca.

    Begitulah. Mampir ke nomer 48 juga klo sempet :D

    • cielsinomor183 says:

      ummm *ketauan baru nengok lapak lagi*

      thx udah komen ^^
      ok, nanti saia akan mampir ke lapak 48 juga~~

      untuk masalah gender pohon, saia no comment aja ah~~
      hahaha…

  8. frenco says:

    setuju, ceritanya bagus. saya pun ikut bertanya jadinya, “apa tujuan hidup saya?” hahaha

  9. Salam kenal ya :D

    Ceritanya menarik, heartwarming, dan pesan moralnya ketangkep jelas. Penulisannya juga udah rapi, dan soal typo itu senasib sama cerpen gw sih. Masalah teknis tampaknya ^_^;

    Sory ga komen banyak, komen sebelumnya ilang gara2 page sempet error. Kalau sempet silakan mampir ke lapak 244 ya. Makasih :D

    • cielsinomor183 says:

      hehehe.. makasih dah komen…

      yah masalah typo, seperti banyak juga yang begitu.. jadi ya sudahlah..

      lapak 244 kan? nanti saia akan mampir :3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>