Persimpangan Seribu Masa

PERSIMPANGAN SERIBU MASA

karya Amarillo Heinz

“Masih juga belum mau bicara, eh?!”

 

Untuk kesekian kali, si negrobotak bersetelanArmani serba hitam itu mendaratkan tinju beruntunnya padapipi dan perutmu. Wajahmu terkulailemas. Namun tidak sekali pun bibirmu mengerang. Kau sudah terlalu bosan.

 

“Segera saja habisi,” usul salah seorang rekan si botak, negro lain yang berjanggut lebat dan juga bersetelan hitam. “Kukira gembel sial ini sudah tidak tahu apa-apa lagi.”

Si botakberhenti. Kaumanfaatkan secercah kesempatan itu untuk menarik nafas. Tiba-tiba sajatendangannya melesakdi selangkanganmu. Mustahilkau tidak melenguh-ronta. Tapi tetap tidak ada yang bisa kaulakukan dengankedua tanganterbelenggu ke atas.

 

“Tidak, ini belum usai.” Si botak menggertakkan gigi. “Aku yakin masih ada sesuatu yang disembunyikannya.”

 

Si botakmembebaskanmu. Tubuhmu terhempas. Namun lagi-lagi sebelum sempat menarik nafas, si janggut sudah menelikung dan memborgol kedua pergelangan tanganmu ke balik punggung. Selanjutnya sibotakmenjambak kasar rambutmu dan menyeretmu. Tertatih, kau patuh mengikutinya menyusurilorong panjang lalu menuruni tangga. Hingga akhirnya, suatu pintu besi berkarat dibuka lebar dan kau dijebloskan begitu saja ke dalamnya.

 

“Matilah membusuk,” ejek si janggut sebelum membanting dan mengunci pintu.

 

Dalam kegelapan, untuk pertama kalinya kau bolehmerana lepas. Seluruh tulangmu serasa remuk. Kulit pucatmu terkelupas perih. Semilir bisa kauendus darah amismu bercampur bau busuk semerbak yang menyesaki ruangan. Tapi kau sudah terbiasa menerima dera dan menahan sakit. Bahkan sejujurnya ini masih jauh lebih baik daripada peristiwa terakhir kali yang nyaris menamatkan riwayatmu.

 

Oleh karena itu, di antara denyut panas sekujur tubuhmu, hanya kepalamu saja yang tetap dingin. Mereka bolehsaja menyiksamu lebih sadis lagi. Tapi selama tidak menggoyahkan inti jiwamu yang terdalam, kemampuan pemulihan dirimu akan segera mengatasi segalanya. Maka, meski lebam, kau tersenyum. Inilah titik balik yang paling kautunggu. Masa bersakit-sakit telah berakhir.

 

Tiga kali kau bersiul sebelumterbalas cicitan.Lega. Temanmu satu-satunya itu tidak pernah mengecewakanmu. Seuntaikawatlogam terselip di tanganmu. Dengan cekatan, jari-jemarimu mulai mengorek dan borgol itu pun terurai. Sejenak kau mengumpulkan tenagasebelummerayapsenyap menuju pintu. Beberapa saattelingamu meramal situasi.

 

Sepi.

 

Kawatmu kembali beraksi dan kunci pintu besi itu pun terbongkar sama mudahnya. Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa segalanya berjalan lancar. Tapi kini kau sudah mempunyai kawan baru: kejutan Karena sebenarnya kau bukanlah sekedar penyusup biasa. Dan musuh-musuhmu akan sangat menyesal mengapa tidak segera melenyapkanmu saat ada kesempatan untuk itu.

 

Kepalamu mendongak tegak. Jauh di atas sana, di antara keremangan cahaya kuning, kau melihat kelebat bayangan tunggal. Di sanalah titik terbaik untuk memulai. Tungkai kakimu meniti anak tangga sesunyi otakmu merangkairencana. Kauputuskan untuk mengeksekusi modus aksi yang seperti biasanya.Yang sudah terbukti ampuh dan tidak pernah gagal.Menjadi bayangan, merebut senjata, dan bantai satu per satu.

 

Girang. Kau berhasil merebut belati. Senjata favoritmu. Kini tidak ada lagi yang bisa menghentikan iblis dalam dirimu. Tidak pula si janggutatau si botak yang perawakannya jauh lebih kekar. Dengan borgol dan kedok tertanggal, kautunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa. Mata belatimu lebih cepat sepersekian detik mengiris urat leher si janggut sebelum Beretta-nya sempat meletus. Sementara si botak, kauterkam dan tikam sebanyak tinjunya yang terhujam padamu.

 

Manis.

 

Sayang, kau tidak diperbolehkan berlama-lama melampiaskan hasrat hewanimu. Khusus sekali ini, itu bukan misimu. Maka kau bersiul lagi. Tikus jenius sahabat sejatimu segera menunjukkan jalan. Lincah dan tanpa ragu, ia menyusuri lorong demi lorong seolah hafal luar kepala cetak biru gedung beton terlantar ini. Selalu kau takjub dan bersyukur karenanya.

 

Akhirnya langkah kecilnya terhentikan sepasang pintu ganda yang menjulang tinggi. Kau tahu benar, di balik pintu itulah misi utamamu menanti. Kau juga tahu benar sambutan macam apa yang telah dipersiapkan untukmu di dalam sana. Sekujur tubuhmu gemetar karena eforia sekaligus tegang. Segeracakar kananmu mencabik lengan kirimu. Di antara genangan darah, kautemukan sebentuk tabung perak seukuran buku jari.

 

Hati-hati dengan dua tangan, kaurapatkan tabung itu menuju hidung. Gas putih beraroma khas seketika meluap ketika tabung itu kaupatahkan.Segera kauhirup semuanya habis tanpa sisa. Kedua matamu memejam khusyuk saat sensasi surgawi merasuk kuat. Sesaat kemudian, akalmu balik menajam. Seisi relung dadamu bergolak percaya diri.

 

Kini kau yakin seyakin-yakinnya, meski hanya seorang diri, kau pasti akan menang.

 

Cukup satu untuk kalahkan semua.

 

Namun sekonyong-konyong sesuatu menyengat konsentrasimu.

 

Bukan. Bukan gas putih itu….

 

Pintu itu. Lambang itu.

 

Ya, ada sesuatu yang kau tahu tapi juga tidak tahu pada saat bersamaan.

 

***

 

“Misimu kali ini bukanlah melenyapkan,tapi menyelamatkan.Selalu ada yang pertama untuk segalanya.” Sepasang mata tua itu berkilat. “Lagipula bayarannya sangatmenggiurkan.”

 

Sejak awalpun kau sudah tahu tentang hal itu. Bahkan sebelumsi tua bangka menyeringai memamerkan deretan gigi emasnya. Tadi kau sempat mengintip keluar. Meski tidak mengenakan lencana identitas apapun, tapi wajah-wajah kaku itu tidaklah asing bagimu. Lebih dari sering kau melihatnya berlalu lalang di jalanan utama kota.

 

Tidak salah lagi, mereka adalah kaki tangan sang Gubernur.

 

Tapi setahumu, di penghujung minggu ini, sang Gubernurberencana menggelar pesta pernikahan akbar untuk putera sulungnya. Jadi siapakah yang harus diselamatkan? Mengapa sampai harus merendah meminta bantuan pada kaum kulit merah Apache? Sebegitu gawatnyakah?

 

Firasat buruk itu datang lagi. Maka kaubatalkan niat penolakan. Kau merasa penasaran dan ingin mengetahui lebih detil tentang misi tidak lazim ini.

 

“Tugasmu hanyalah menyelamatkan seorang perempuan tertentu.”

 

Seketika kau tersentak paham. Undangan sudah disebar. Segala kemeriahan sudah dipersiapkan. Tapi apa jadinya suatu pesta pernikahan jika sang pengantin wanita tidak hadir? Jelas sekali, ini adalah masalah kehormatan.Gengsi. Atau bisa jadiancaman lawan.

 

“Tapi masalahnya cukup rumit,” ia melanjutkan. “Kita harus berlomba dengan sheriff dan para pemburu bayaran. Jika sampai terdahului, kita tidak akan memperoleh apapun. Sementara waktusudah sangat sempit.Informasi pun terbatas.”

 

Kautegaskan bahwa siapapun juga, selama masih tinggal di atas bumi dan di bawah langit yang sama, pastilah bisa kaulacak. Apalagi kau tahu perempuan itu mempunyai keterikatan kuat denganmu. Nuranimu mulai terlibat. Ya, walau terlahir hina, bukan berarti kau tidak tahu membalas budi. Tanpa membuang waktu lagi, kau segera mengutus sahabat elangmu. Sementara kau baru menyusul setelah berkemas secukupnya.

 

Seperti biasa, kau tidak pernah tahu ke mana harus mulai melangkah. Yang kauandalkan hanyalah kata hati. Kaubiarkan jiwamu melebur dalam semesta. Hanya dengan begitu, kau bisa mendengar suara bisikan roh alam. Karenanya, kau selalu bekerja seorang diri. Tidak ada manusia normal yang bisa menyesuaikan denganmu. Lagipula kau juga tidak akan membiarkan mereka memahami karunia terkutukmu.

 

Mula-mula kau bergerak ke hutan di timur. Di tengah jalan kau berbelok ke perbukitan utara lalu berbalik menuju padang gersang di selatan. Akhirnya kau benar-benar menemukan arahmu. Menuju reruntuhan kuil di suatu lembah terpencil.

 

Seksama kaupantau situasi dari kejauhan sambil menunggu. Tak lama kemudian, temanmu satu-satunya itu kembali. Ia baru saja selesai menjelajah cakrawala. Langit tidak pernah memendam rahasia. Mata tajamnya berhasil memindai lokasi sandera. Selain itu, ia pun menambahkan bahwa para penjaga bertopi sombrerodan bersenapan memagariketat di segala penjuru.

 

Nah, bagaimana caranya menghancurkanpertahanan kokoh itu?

 

Tentu saja dengan menebas jantungnya. Karena yang tampak kuat dari luar, biasanya lemah di dalam.

 

Tapi bagaimana caranya menyusup masuk ke dalam?

 

Berpura-pura tertangkap. Berpura-pura lemah tidak berdaya. Berpura-pura menyimpan informasi penting agar mereka tidak langsung menghabisimu. Serta segala bentuk kepura-puraan lainnya yang menyulut kelengahan. Dengan begitu, mereka menganggapmu remeh dan tanpa sadar mengundangmu masuk.

 

Bukankah begitu prinsip utama pertarungan? Semuanya didasarkan tipu daya.

 

Maka kau mulai bersiap. Kautinggalkan belati kesayanganmu dan berbagai tetek bengek lainnya. Toh tidak akan berguna jika nantinya dirampas. Hanya sepucuk pistol Coltyang kaubawa. Dan dari keenam selongsongnya yang terisi, mungkin hanya satu saja yang akan kautembakkan untuk menarik perhatian. Lalu sejenak kau membuka suatu bungkusan. Kaupisahkan beberapa helai daun kering. Sedikit lagi sisanya kausisipkan ke saku rahasia di dalam celana. Kau tahu kau akan memerlukannya nanti.Kaulinting daun itu lalu kaubakar. Kauhisaparomanya yang wangi membuai. Matamu mengerjap-ngerjap nikmat. Serasa melayang.

 

Kini kau siap menjalankan misi. Kau siap menerima apapun yang terjadi. Kau siap menyerahkan diri. Kau siap untuk kalah. Tapi pada akhirnya, kau yakin pasti akan berjaya.

 

Tidak terkalahkan.

 

Maka kau beranjak keluar dan melangkah berani,menyongsong sarang musuh. Namun tiba-tiba saja suatu kilasan mengusik konsentrasimu.

 

Bukan. Bukan aroma daun itu….

 

Tembok kuil itu. Lambang itu.

 

Sesuatu yang kauingat.Tapi saat bersamaan,kau juga ragu di mana atau kapan pernah melihatnya.

 

***

 

Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, kau sengaja singgah ke pemukiman Dravida kumuh di selatan. Bercelana compang-camping seadanya. Bertelanjang dada, memamerkan perutmu yang cukup berotot dan berwarna coklat gelap. Kauturunkan sedikit sorban lusuhmu untuk menyamarkan wajah sebelum duduk bersila di suatu pojokan. Menyamar sebagai pengemis. Di sana kau menyaksikan perkelahian anak-anak, percekcokan ibu rumah tangga, pergulatan adu jantan, kemalasan tua-tua, perselingkuhan terselubung segala umur, dan sebagainya. Pemandangan yang sangat biasa kausaksikan seumur hidupmu. Membuatmu merasa bernostalgia.

 

Kesengsaraan memang tidak pernah jauh darimu,seolah itu adalah takdirmu semenjaklahir.Ayahmu kadal, ibumu kecoak, saudara-saudarimu belatung. Bisa diakhiri kapan saja hanya sekali injak. Binatang najis yang terjerumus dalam sukma manusia. Tapi kau menghendaki derajat dalam kenistaan. Maka kautempuh jalan berdarah. Karena selain materi, jalan itu juga menawarkan harga diri. Jadi tidak kauijinkan sembarang makhluk menginjakmu.

 

Matahari mulai naik. Angin semakin berdebu. Ketiga kalinya anjing sobatmu menyalak nyaring,berusaha menghentikan kesia-siaan yang sedang kaulakukan. Tapi kau mengeraskan niat untuk menunggu sebentar lagi. Pandanganmu tertuju penuh harap ke pintu itu. Gerbang si bidadari. Biasanya ia akan memulai dengan seulas senyum tulus sebelumjemari lentiknya membagikan ubi tanpa pandang bulu. Lalu kau akan datang merangkak untuk memohon bagian sedekah. Sesuatu yang sebenarnya pantang kaulakukan. Tapi hanya itu satu-satunya cara agar bisa menatap wajah si bidadari dari dekat. Bahkan jika beruntung, kau bisa memperoleh belaian lembutnya. Lalu kau akan turut tertawa bersamanya. Terbahak sebebas-bebasnya, melupakan sejenak segala kegetiran hidup. Jauh lebih nikmat daripada bungailusi yang biasa kaucandu.

 

Padahal ia hanya seorang gadis Arya biasa dengan sepasang bola mata biru yang luar biasa. Tapi kau mengerti. Sebagaimana ada malam gulita, ada pula siang ceria. Sebagaimana ada api yang mencekam, ada pula air yang menentram. Maka sebagaimana ada pembunuh keji macam dirimu, maka pastinya ada pula penyembuh pemurah macam dirinya.

 

Bersamanya, kau seperti menemukan kepingan jiwa yang telah lama hilang. Kehadirannya terasa melengkapkan. Sayang, tangan nistamu tidak diijinkan menjamahnya. Terlalu suci. Tapi menyerah bukanlah kebiasaanmu. Hanya saja kau belum menemukan cara terbaik. Untuk mengubah sosok iblismu menjadi bidadari. Atau mengubah sosok bidadarinya menjadi iblis. Karena kau sungguh tidak bisa membayangkan iblis dan bidadari jalan berdampingan.

 

Tapi angan tinggallah angan. Rencana tinggallah rencana. Pangeran berkudaitu datang tanpa pertanda. Wajahnya putih bersih. Tangan kirinya memikul sutra. Tangan kanannya menggenggam permata. Lidahnya tanpa henti menawarkan masa depan keemasan tiada berkesudahan. Tapi dugaanmu, darahnya lebih kotor darimu. Iblisbeludakberkedok kelinci. Sempat terpikir olehmu untuk menyingkirkannya. Tapi ia sanggup membuat bidadari itu tertawa sekaligus menangis bersamaan. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa kaulakukan.

 

Ah, sebagai penghuni kasta terendah, seharusnya kau sudah terbiasa menerima kenyataan semacam itu. Bahwa sesuatu yang berarti boleh direngut darimu begitu saja kapanpun juga. Tapi kali ini tidak. Dadamu tercabik. Tidak terkirakan perihnya.

 

Sekarang sudah semusim berlalu sejak pinangan si pangeran. Sejak saat itu, gerbang selalu hampa. Tidak ada lagi ubi. Tidak ada lagi kilau. Tidak ada lagi berkah. Apakah ia lupa? Apakah ia buta? Apakah sebegitu berbisa racun yang ditebar si pangeran?

 

Yang pasti, racun itu sukses membodohimu. Setiap hari mengulangi ritual pengemis yang sama. Menunggu dan menengadahkan telapak tangan. Memohon keajaiban yang tidak mungkin terjadi. Menyakiti diri tulus semoga langit tersentuh.

 

Akhirnya terik matahari memusnahkan harap. Lesu, kau bangkit berdiri dan meninggalkan pojokan itu. Temanmu satu-satunya itu langsung berjingkrak-jingkrak mengitari sambil mengibas-ngibaskan ekornya gembira. Tapi dalam hati kau berjanji, besok pagi akan kembali lagi.

 

Ada yang tidak biasa hari itu. Kau berpapasan dengan iring-iringan kereta kencana. Ya, hanya satu di kota ini yang memiliki segala kemewahan itu. Maka segera dan susah payah, kau mencariketinggian untuk menilikpara penumpangnya. Tapi aneh, tidak kautemukan si bidadari itu. Hanya si pangeran besertapara begundalnya. Dan lebih aneh lagi, semuanya kompak menyiratkan kegundahan.

 

Kau sibuk bertanya-tanya. Sempat terlintas di benakmu sosok bidadari yang teraniaya. Tapi lekas-lekas kautepis kemungkinan itu karena sama saja dengan menyiksa diri. Tapi adegan itu sudah terlanjur meresap dan membuatmu sinting. Maka kau segera mencari sudut sepi tersembunyi. Kaurogoh kantung kecil yang selalu tergantung di pinggang. Lalu mulai kaukunyah bunga kering itu.

 

Beberapa saat kemudian, pikiranmu mulai menghampa. Khayalmu meliar. Tabir awan terburai menampilkan panggung langit yang jernih nanbiru. Lalu muncullah sekelompok bidadari bersayap. Merekamenari riang sambil berbaris rapi. Formasinya meliuk-liuk, membentuk dua bulatan terpilin.

 

 

 

Keinginanmu sederhana.Menyematkan sedikit makna dalam ketiadaan. Mengaissesuatu yang sangat berharga dan kosong dari dirimu. Tanpa sadar,jiwamu telah memutuskan terlibat.

 

Inilah awal.

 

Kau tidak cukup waspada putaran itu akan menyesatkanmu.

 

Karena lintasannya tidak penah terputus.

 

Tiada akhir.

 

***

 

Kebisingan itu usai sudah.

 

Di antara sekian banyak manusia, entah yang semula berjaga di dalam atau datang dari luar, pada akhirnya hanya kau yang masih tetap berdiri tegak. Yang lainnya terkapar bergelimang darah.

 

Kau menang seperti yang kauperkirakan. Satu mengalahkan semua.

 

Saatnya mengklaim hadiah. Kaualihkan sorot matamu ke sudut jauh ruangan. Memang ada seorangmanusia lagi yang masih bernafas selain dirimu. Tapi tidak mungkin ia mampu berdiri tegak dengan ikatan erat pada kursi. Mulutnya terbebat rapat, membendung setiap tangis terintih. Satu-satunya yang berdaya hanyalah sepasang bola mata bulat.

 

Biru sedalam samudera.

 

Kau terbuai nyaman. Jiwamu mendesir hangat. Kepingan yang hilang itu akhirnya kautemukan lagi. Hidupmu kembali sempurna.

 

Namun sekonyong-konyong kau meringis. Jemarimu segera menyelidik perut. Kaurasakan rembesan hangat. Merah menyala di antara kulit pucatmu. Tanpa kausadari, sebulir timah telah mencacati kemenanganmu. Dan cukup sebulir saja untuk memangkas separuh kegesitan dan melipatgandakan kesulitan.

 

Dan sekali lagi, cukup sebulir untuk menghadirkan dilema pelik.

 

Kode etikmu jelas. Misi adalah misi. Untuk itulah, kau sudi berjerih payah. Kau harus membebaskan jeratnya, mengeluarkannya dari gedung ini, dan menuntunnya balik pada sang jutawan.

 

Tapi biru itu adalah segalanya. Kau tidak rela kenyamanan itu direnggut lagi darimu. Dan kau tidak bisa menyangkal. Dorongan itu sangat kuat. Kau ingin memendamnya untuk dirimu sendiri.

 

Maka kau merenung dalam. Mengenai sesuatu itu, yang kau tahu tapi juga tidak tahu saat bersamaan. Untuk kesekian kalinya, kau kembali berdiri tepat di titik persimpangan dua bulatanterpilin itu. Lahir untuk mati, kemudian terlahir kembali untuk mati lagi, dan seterusnya. Melintasi jaman dan menjelajah raga yang berlainan. Tapi momen ini sama persis seperti yang dialami reinkarnasi jiwa-jiwamu sebelumnya. Dan sungguh-sungguh kau tersadarkan.

 

Kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika tetap mematuhi aturan. Kau akan kembali ke kondisi sediakala. Kadang muncul penyesalan tapi kau terus berburu. Sampai akhirnya muncul pemburu lain yang lebih hebat darimu. Kau akan mati dalam derajat, tepat seperti yang kauinginkan.

 

Kau juga sudah tahu apa yang akan terjadi jika mencoba melanggar. Sang jutawan tidak akan tinggal diam membiarkan kehormatannya tercoreng. Ia akan mengerahkan pemburu dan anjing-anjing pelacak baru. Awalnya kau akan menang. Tapi dengan luka menganga dan sesosok lemah dalam lindungan, tidak mungkin kau bisa terus menang. Kau akan mati dalam kenikmatan sesaat.

 

Entah sudah berapa ratus atau bahkan ribu kali roda itu berputar. Secara berirama, urutan peristiwanya selalu berulang. Dan tak lupa terselip perangkap mematikannya yang menggoda.

 

Bisa jadi ini kali pertama kau mempunyai keunggulan langkah. Entah bagaimana pikiranmu tercerahkan dan mampu menerawang segala kejadian masa lampau. Tapi tetap saja ini bukan perkara mudah.Biru itu tanpa henti menatap memelas. Mengikis dan mengombang-ambingkan nuranimu.

 

Nah, apa pilihanmu kali ini? Apakah putaran kanan, tetap menempuh jalur aman?

 

Kau menghela nafas panjang. Tidak menarik.

 

Apakahputaran kiri, mencoba lagi jalur terlarangdan gagal?

 

Gamang pikiranmu. Betapa sulit mengelak dari sorot biru itu.

 

Lama sekali kau termenung. Namun tiba-tiba saja kau merasa sangat lelah. Kau muak terus terperangkap dalam putaran ganda terkutuk yang tidak berujung itu. Sekonyong-konyong dalam kegalauan, suatu gagasan terbetik.

Ataukah mencoba yang lain…?

 

Ya, kode etik adalah kode etik. Misi adalah misi. Tapi bukan berarti misi tidak bisa gagal.

 

Dobrak….

Ya, tidak salah lagi. Bidadari itulah akar segala kutukan dan kemalangan yang menimpa jiwamu selama ini. Perlahan kauangkat moncong Beretta-mu. Kauarahkan tepat pada titik tengah antara kedua alis tipisnya yang terangkat panik.

 

Patahkan!

 

Kaupejamkan rapat kedua mata. Kaukuatkan niat. Tapi tetap tidak kuasa mengusir bayang-bayang eloknya. Lirihnya menggema, memohon pengampunan amat sangat. Segenap daya kaukerahkan untuk mengabaikannya.

 

KELUAR!

 

Seketika wujudnya memburam, seketika itu pula telunjukmu menekan pelatuk.

 

DOR!

 

Kerlip biru itu padam seiring keheningan menyentak relung dadamu. Kau merasa sangat lega karena berhasil membuat satu keputusan sangat penting dalam legenda hidupmu. Meskibersamaan, kau juga mengutuki diri karena telah melakukan perbuatan yang sangat bodoh.

 

Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Tiada gunanya disesali. Yang harus kaupikirkan sekarang adalah meloloskan diri dan mencermati perubahan situasi akibat keputusanmu ini.

 

Kaulempar Beretta di tanganmu ke dekat seorang bersetelan hitam yang tertelungkup bergelimang darah di lantai. Tawamu berangsur-angsur lepas. Tidak sabar kau ingin tahu ke mana takdir akan mengantarkan hidupmu setelah ini. Sekujur tubuhmu bergidik penasaran. Sayang, kau hanya mencadangkan satu tabung ilusi. Lalu kau bersiul tiga kali mengajak tikusmu pulang.

 

Tapi saat melewati pintu tinggi itu, kau terkesiap. Legamu lenyap sekejap.

 

Pengaruh serbuk yang terakhir seharusnya telah pupus. Jadi rasanya tidak mungkin kau berhalusinasi.

 

Tapi memang ada sesuatu yang sangat ganjil. Sesuatu yang sama sekali kau tidak ingat pernah melihatnya di mana atau kapanpun.

 

Lambang itu memang masih sepertikelopak bunga. Masih seperti daun baling-baling. Masih berupa bulatan-bulatan terpilin. Hanya saja kini bulatannya tidak lagi dua.

 

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Persimpangan Seribu Masa

  1. little owlie says:

    Pak guru, ceritamu selalu berhasil bikin mataku ga bisa copot sampe selesai. Tapi entah gimana, aku ga bisa melihat plotnya. Alur maju-mundur soh ok-ok aja buatku. Tapi ya itu, plotnya kerasa samar. Keknya aku lebih suka entri tahun lalumu. Maaf… >_<

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

    (ohya, selamat atas kelahiran baby nya ^^/)

    • Amarillo Heinz says:

      Thx dah pertamax bu tabib.

      Sederhananya sih skema plotnya: 3-2-1-4 (mirip formasi bola haha). Alias flashback dua kali dulu baru nyambung lagi ke cerita awal. Cuma ya itulah flashback-nya gak sekedar flashback, tapi ada “peralihan setting dan generasi” (itu pun kalo nyadar hehe). Yah, kuakui aku emang agak mempersulit alur cerita ini. Tapi kalo alurnya gak dibikin begitu, konsep “peralihan”-nya akan terasa hambar.

      Tapi yang lebih gawat lagi, astajim, formatnya berantakan. Banyak spasi yang ngerapet. Dan yang paling fatal, gambar di akhir section ketiga hilang! Udah lapor ke Bang Villam. Tapi biar aman, keliatannya aku harus posting versi asli di kekom. Tapi btw, uhuk-uhuk….pasang gambar gimana ya di kekom, lupa lagi….

      And last, little Tristan say hello to phantabib!

      • little owlie says:

        Kalo formatnya sih tau. Tapi kurang penjelasan sedikit lagi. Misal, apa itu cewek yang sama dengan yang dulu? Lalu yg dulu udah merit kan? Kok yg sekarang dimeritin lg kalo emang itu orang yg sama? Hehe… Dan lagi, tanda di akhir cerita itu aku ndak paham. Lalu apa keistimewaan si tokoh ini? Tambahan lagi. Siapa si tikus? Aku sempat berasumsi itu sebutan untuk bocah kecil, atau bisa jadi itu hewan kecil?

        Sori kebanyakan protes. Xixiix~

        [halo juga, little Tristan <3 ]

        • Amarillo Heinz says:

          Cewenya juga sama. Tiga-tiganya kan mo dimeritin terus diculik. Di section 1 diselametin. Di section 2 baru mau diselametin. Di section 3 baru diculik.

          Kalo tentang si tikus, itu salah satu pembeda peralihan setting. Pokoknya si tokoh utama itu selalu punya teman hewan tapi cuma satu. Entah tikus ato elang ato anjing.

          Keistimewaan si tokoh ini ya dia selalu reinkarnasi berulang-ulang untuk mengulang kesalahan yang sama.

          Dan gambar yang terakhir itu, ini rada tricky. Tapi berhubung gambar di akhir section 3 ga muncul, aku belum bisa jawab. Tapi gambar di section 3 itu adalah gambar infinity yang dua lingkaran bersambung itu.

          Haha, sori sudah membingungkan amat.

          • Little Owlie says:

            woot?
            ternyata ada unsur reinkarnasi? o__o;;;

            yah ntar kubca lagi deh ^^;;;

          • Amarillo Heinz says:

            O iya, maksudnya cewenya sama tuh sama jiwanya. Raganya sih beda cuma mata birunya doang yang sama.
            Dan tiap kali flashback, itu reinkarnasi mundur.

      • little owlie says:

        Majang gambar di kekom sekarang kan canggih. Sama kek majang di blog kok. Upload dulu aja gambarnya di dropbox atau semacamnya lah, link nya taruh di bagian gambar,

        Kabarin kalo udah majang. Mau ta baca lagi :3

        • Amarillo Heinz says:

          Hm payah nih aku urusan beginian. Maklum emang gak punya blog juga. Tapi dah kuurus dropbox.
          Udah juga posting di kekom.
          Tapi emang muncul tampilannya dalam bentuk alamat link? Bukan gambar langsung?

  2. shaoan says:

    Sengaja loncat dulu ke sini (sayang ga pertamax & keduluan Bu Tabib). Belum baca cerpennya sih, soalnya gw bacanya ngurut. Tapi pasti gw baca. :D
    Cuman mau ngabarin, cake-nya baru aja nyampe. Thx yah! Congrats sekali lagi! (jadi pingin ikutan nambah lagi. Hihihi) :D

    • Amarillo Heinz says:

      Haha. Padahal gw tadi yang delivery langsung ke andir.

      Nambah lagi? Dua sepasang masih gak cukup pula?

      • shaoan says:

        Hi Heinz! :D
        Wogh ini keren! :D Salah satu cerpen yg mnrt gw paling menonjol di FF2012. Karakter dan narasinya beneran keren. Cuman apa ga mending dikasih penanda setting dan waktu di tiap reinkarnasinya? Gw berharap banget baca ini lagi di kumcer. :D

  3. katherin says:

    Pas mulai baca, langsung berasa keunikannya.

    Namun makin dibaca, rasanya ini bukan my kind of story.
    Loncatan2 adegannya kerasa berantakan buat aku.
    PoV nya juga kurang bisa masuk ke otakku.

    Sorry, but this really is not my kind of story. >.<
    Good luck!!

  4. Darin Kowalski says:

    Dark undertones dan sad ending. (;_;)

    Buat saya ini bukan tipe cerita yang bisa dimengerti dalam sekali baca, terutama mengenai motif si tokoh utama, arti simbol misterius yang muncul dan perubahannya… Tapi tetap menarik, meskipun begitu.

    P.S. Cara move-on si karakter utama ini ekstrem juga.

    > Maaf kalau komentar ini kurang berkenan.

    *banner: Silakan mampir di nomor 73*

    • Amarillo Heinz says:

      Minimal thx dah mampir dan meninggalkan jejak.
      Untuk sekali ini aku emang mencoba teknik “menyulitkan yang mudah”
      Prinsip sama yang digunakan C.Nolan untuk Batman dan Inception.
      Tapi ya mungkin ini masih kurang berhasil untuk semua kalangan.
      Lagian formatnya juga masih berantakan dan gambarnya belum lengkap.

      No 73 ya? Aku pasti mampir walau gak dalam waktu cepat.

  5. LPD says:

    cerita berat, tapi bagus. Saya gak bisa komen apa-apa. Yang jelas, bacaan ini pas buat orang dewasa yang punya penalaran tingkat tinggi ==>komen gak jelas

    Cerita-cerita begini kayak baca cerita sastra tingkat tinggi hehehe.

  6. Amarillo Heinz says:

    Berhubung cerpen ini formatnya agak kurang enak di mata (cuma spasi ngerapet sih) dan ada satu gambar yang hilang di penghujung section 3 (pas adegan mengkhayal formasi bidadari langit), maka kalau berkenan (dan belum pusing) untuk mencari tahu, bolehlah mampir ke sini: http://www.kemudian.com/node/264916.

    Gambarnya masih perlu diklik sih linknya. Bakal segera diperbaiki begitu tahu cara menampilkan gambar langsung.

    Dan itu pun semoga bisa membantu.

  7. Nectarpilair says:

    Sepertinya kalian sudah saling mengenal..
    Sy menumpang liat-liat mau ikutan komen. Tadinya..
    Ng… Hm… ok.. Masukan saja.
    Bagi saya (umur 19) yang awam sastra dan hanya tahu bahasa Indonesia sehari-hari. Baca ini ga kayak baca cerita, tp kakay baca puisi. Apa itu yg namanya sastra ya? Sy sangat tidak terbiasa baca -mu -mu sudut orang kedua. Bahkan sampai tidak terbayang isi yang ingin disampaikannya apa dan di mana letak keindahannya.
    Sy bahkan ga bisa ngasih nilai.. karena ga bs menangkap. Mungkin sy harus belajar sastra dulu..

    • heinz says:

      Kalo maksudnya tentang SPOK yang dituker-tuker itu sih bukan sastra.
      Tulisanku masih jauh dari istilah sastra.
      Dan ini sama sekali gak indah kok.

  8. Ceritanya bagus…
    *selalu terkesan dengan penggunaan pov2*
    Walaupun masih banyak yang sulit dimengerti,
    tapi aku yakin itu karena emang kemampuan otakku yang belum sampai…
    T~T

    suka banget bagian >> ‘Tapi kau menghendaki derajat dalam kenistaan. Maka kautempuh jalan berdarah. Karena selain materi, jalan itu juga menawarkan harga diri. Jadi tidak kauijinkan sembarang makhluk menginjakmu.’
    Keren…

    Master, bisa minta ajarin ga?
    *ingin keluar dari ranah pov1*
    T~T

    *baca lagi ah sambil belajar*

    • heinz says:

      Thx dah mampir n komen.

      Sebenernya sih gunain POV2 di sini agak eksperimen. The real master sih ada tuh dari kalangan juri, yang doyan makan buku.

  9. hantu says:

    - hantu kastil sedang patroli -

    *baca
    *biasa
    *masih biasa
    *mengernyitkan dahi
    *makin mengernyitkan dahi
    *kehilangan
    *baca ulang


    *manggut-manggut

  10. negeri tak pernah-48 says:

    Dikit-dikit sepertinya aku bisa nangkep maksud cerita ini. Agak-agak mirip Butterfky Effect. CMIIW.

    Ada sistem kasta Arya dan Dravida. Settingnya di India kah? Geografi saya parah jadi kalau salah maafkan hehe :D

    Eniwei, narasinya oke banget. Okelah plotnya loncat-loncat agak bikin bingung. Tapi aku masih nangkep jalan ceritanya. POVnya itu juga bikin spesial mungkin ya. Kesannya ada yang nontonin si tokoh utama tiap kali dia gagal lalu pilih jalan yang lain.

    Begitulah, sukses ya!
    Silakan mampir di nomer 48 jika berkenan :D

    • heinz says:

      Yeah, di segmen ketiga settingnya di India karena ada Arya dan Dravida. Segmen kedua di jaman koboi karena ada Apache dan colt 6 peluru. Segmen pertama dan terakhir di jaman modern karena ada Armani dan Beretta.

      Tentang kesan nontonin, ah thx. Akhirnya ada yang nangkep juga maksud aku pilih POV 2. Kukira POV2 emang cocok untuk genre thriller dan horror. Jadi kesannya seperti pembaca jadi kameraamn yang selalu ngikutin tepat dari balik punggung si tokoh kau.

      Dan tentang efek kupu-kupu, sebenernya gak juga sih. Kalo gak salah, efek kupu-kupu itu kan tentang kejadian yang berubah di masa lampau akan mengubah kejadian di masa depan. Di sini sih karakter utamanya gak pernah balik ke masa lalu. Tapi akhirnya ia emang mencoba membuat perubahan dengan tujuan lepas dari roda takdir yang hasilnya…

  11. franci says:

    hi heinz,

    aku baca versi publish yg kekom. agak terganggu dgn penyatuan 2 kata itu :D

    aku gk tau apa yg aku tangkap benar.
    tokoh utama adalah seekor hewan yg mendapat karunia utk berpikir n merasa sebagaimana manusia. ada feeling hidupnya seperti mengulang sesuatu yg pernah terjadi sebelumnya dan selalu berakhir sama. kaitan yg selalu ada adalah sang wanita yg akhirnya malah dimusnahkannya supaya jalan hidup yg kemudian bisa berubah?

    yah semoga yg kutangkap gk melenceng jauh2 amat yak. hahaha…

    bagiku kalimatnya sarat humor. pemilihan kata enak. feel hewannya hidup n kuat bgt. mgkn agak krg penanda bagaimana menyikapi gmn sisi penterjemahan disisi manusia n hewannya? tidakkah pembaca semestinya mampu melihat n merasa 2 view sekaligus, heinz?

    i’m not sure sih

    • heinz says:

      Akh, tokoh utamanya masih manusia kok, Fran.

      Cuma ya manusianya emang kejem kayak hewan (assasin gitu loh) dan agak-agak supranatural dikit karena punya kemampuan regenerasi dan bisa ngerti bahasa hewan.

      Dia bisa ngerti bahasa hewan dan emang selalu ditemani satu hewan (ini salah satu faktor penanda peralihan generasi). Hidupnya terus berulang (reinkarnasi) ampe puncaknya selalu tepat pada momen pengambilan dua keputusan itu. Dan pas pada kali itu, dia nyadar dan dia mencoba mendobrak keluar, gak mau lagi ngambil salah satu dari dua keputusan itu. Tapi ternyata takdir masih juga hendak bermain-main dengannya.

      Jadi ya temanya sih dalam bahasa gaul: go on run. go on hide but fate always find a way to trick u. Hoho.

  12. Salam kenal ya :D

    Well, ini cerpen kedua atau ketiga (setelah cerpenku) yang entah kenapa ada banyak typo spasi. Kenapa ya bisa kaya gitu? Kita senasib di sini. Wkwk.

    Oh ya, gw suka POV keduanya karena unik. Baru pertama kalinya ngebaca cerpen dengan POV kedua. Dengan mengabaikan typo, penulisanmu sebenarnya rapih dan mengalir.

    Cmn ya.. gw termasuk pembaca yang awam sih, jadi honestly gw kurang begitu nangkap semua ceritanya. Setelah liat komen yang di atas, dan keluhanmu soal gambar yang ga muncul di section ketiga (kayanya satu cerpen cuman boleh satu gambar, aturan lombanya) ini cuman nebak-nebak aja sih.

    Gambar kelopak daun itu.. melambangkan jumlah kehidupan yang sudah dijalani si tokoh utama bukan? Kalau pemahaman gw benar, setting cerita saat ini adalah kehidupan ketiga kalinya si tokoh utama (“kau”). Di akhir section dua dan tiga itu, sebenarnya si tokoh utama mati – atau semacamnya- dan kemudian bereinkarnasi. So, kenapa ada gambar tiga kelopak di akhir cerita itu, mungkin karena si tokoh utamanya mati.. untuk ketiga kalinya?

    Sory ya kalau salah pemahaman. Nice story kok :D Kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya.

    • heinz says:

      Tos! Senasib!
      Mungkin kali ya cuma boleh ada satu gambar. Kupikir aturannya cuma masalah kilobyte. Padahal aku dah kirim ulang fileku ke juri, tapi ampe sekarang gak ada respon juga.

      Sebenernya si karakter utama ini udah hidup dan mati aka reinkarnasi ribuan kali untuk akhirnya mengulang kebimbangan yang sama. Si kelopak dua daun cuma simbolik aja.

      Nah kenapa akhirnya kelopaknya terakhir jadi tiga? Karena ya si tokoh utama ini akhirnya jadi punya tiga pilihan, bukan lagi duga. Dan ia belum bisa lepas dari putaran reinkarnasinya.

  13. fr3d says:

    heh? jadi ini ceritanya ada di masa-masa yg berbeda gitu ya?
    tadinya malah kukira masih orang-orang yang sama semuanya, cuma sekedar flashback biasa aja ^^
    rupanya memang infinity loop, hehe

    eniwei, imo, ini adalah salah satu entri dengan judul terkeren! :D

    ide dan konsepnya juga bagus, tentang mencoba melawan takdir dan takdirnya diceritakan dengan tiga reinkarnasi yang berbeda, namun selalu berakhir pada titik yang sama
    lalu pada akhirnya, kejemuan terhadap takdir itu berujung pada merusak infinity loop dan membuka percabangan baru, yakni tidak memilih, loop ketiga
    tapi penggunaan POV 2-nya meski rapi, sepertinya kurang begitu cocok untuk cerita ini, entahlah, aku sih merasanya begitu, malah jadi menambah kerumitan buat ceritanya sendiri :|

    cheers, heinz!
    ;)

    • heinz says:

      Tentang pemilihan POV, pertimbangannya sih POV 1 atau 2. Tapi akhirnya kupilih POV 2 untuk menciptakan efek thriller yang lebih dark. Yah, walau emang disadari bakal nambah kerumitan, tapi ya kuambil resiko itu karena emang kunilai layak. Lagipula ada beberapa kalimat yang kurang cocok terucap dari POV 1 sehingga kesannya kok kayak narsis.

      Thx fred dah mampir dan komen.

  14. Mr A says:

    ini… keren. gw suka butterfly effects.. dan ini mirip, bedanya ya ini reinkarnasi.. tp gw suka serius. dan krn emang gw suka dgn plot maju-mundur kyk gini, menurut gw ini sama sekali ga membingungkan kok. cuma ada penjelasan yg kurang ttg simbol itu, dan pas ba ca komen trnyata udh dijelasin.hmm, tunggu, berarti si tokoh ini nggak bakalan mati dong? trus setelah dia membunuh wanita-mata-biru apakah stlh reinkarnasi wanita itu ada lagi? endingnya, sepertinya sih, belum tuntas dan bikin penasaran.. gudlak ya, salam lapak 156.

  15. Fapurawan says:

    Mantap… pengulangan reinkarnasinya mengingatkan pada the fountain, diceritakan denga cekaman yang liat, kuat dan mengagumkan.

    Having said that, gue masih belum nemu, what’s the point buat si tokoh? What’s the revelation? yang lo punya adalah twist yang keren, tapi gue gak liat konklusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>