Planetarium

PLANETARIUM

karya Red Rackham

“Kenapa sih ada orang yang membangun gedung di puncak bukit?”

Aku menggerutu sambil melangkahkan kaki menaiki ribuan anak tangga di depanku. Kotak logam yang kubawa jadi terasa semakin berat seiring dengan tiap langkahku. Matahari yang bersinar terik di atas sana membuat penderitaanku semakin lengkap.

Sesekali aku menyeka keringat yang mengucur di wajahku.

“Kalau ini bukan urusan penting, aku tidak mau susah payah begini!”

Aku menggerutu lagi sambil terus melangkah naik. Butuh waktu 15 menit hingga akhirnya aku sampai di puncak bukit. Sambil berteduh kelelahan di bawah pohon, aku memandang ke arah Planetarium di depanku. Bangunan tua itu sudah ditinggalkan tidak terpakai selama beberapa tahun, dan ada tanda larangan masuk di pintunya. Tapi beberapa hari yang lalu aku berhasil mendapat izin untuk menggunakan tempat itu.

“Cyrus!! Kenapa lama sekali?!”

Seorang gadis terlihat berdiri di pintu masuk Planetarium sambil mencibir ke arahku.

“Kau pikir mudah membawa kotak ini sampai kesini, Iona? Benda ini lebih berat dari kelihatannya!” protesku. “Coba kau angkat sendiri kalau tidak percaya!”

Aku langsung mengangkat kotak logam yang kubawa. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tapi percayalah, benda ini berat sekali!

“Aku percaya,” balas Iona tanpa memperdulikan seruan protesku. “Jadi itu barangnya?”

“Galaksi-Dalam-Kotak, bagian terpenting dari proyek musim panas kita,” ujarku sambil memamerkan logo spiral di permukaan kotak itu. “Ngomong-ngomong ini kudapatkan dengan susah payah loh.”

“Ya, ya, bagus! Bawa masuk ke dalam biar kita bisa mulai bekerja!”

Dengan seenaknya Iona meninggalkanku dan masuk ke dalam Planetarium. Dia benar-benar mengabaikan usaha keras yang sudah kulakukan demi mendapatkan dan membawa Galaksi-Dalam-Kotak ini.

“Cyrus!!!”

Aku mendengar Iona berseru dari dalam Planetarium. Sambil menghela nafas, aku berjalan masuk ke ruang utama Planetarium yang berbentuk silinder dan beratap kubah tinggi. Ruangan itu nyaris kosong, hanya ada beberapa peralatan milik Iona yang ditempatkan di salah satu sisi ruangan. Begitu masuk, aku langsung meletakkan kotak logam yang kubawa di lantai.

“Apa yang kau tunggu? Ayo buka!”

Iona berseru sambil memandangiku dengan mata berbinar-binar.

Sambil membalas senyumannya, aku membuka tutup Galaksi-Dalam-Kotak di depanku. Sebuah bola hitam pekat langsung melayang naik dan berhenti tepat sejajar dengan dadaku. Bola aneh itu berpendar sambil mengeluarkan semacam gelombang energi, membuatku geli karena merasakan energi asing mengalir di tubuhku.

“Apa itu Material Dasar Semesta?” tanya Iona penuh semangat.

“Benar sekali.”

Aku menjawab sambil merentangkan kedua tanganku kesamping. Setelah menarik nafas panjang, aku menyalurkan energi dari dalam tubuhku ke kedua telapak tanganku. Kemudian aku menoleh ke arah Iona.

“Sudah siap?”

Iona mengangguk dengan bersemangat.

“Kalau begitu….MULAI!!”

Dengan sekuat tenaga aku menepuk bola hitam di depanku dan melepaskan energi yang sudah terkumpul di kedua tanganku. Seketika itu juga muncul sebuah kilatan cahaya menyilaukan, diiringi suara gelegar yang memekakkan telinga. Walaupun hanya berlangsung beberapa detik, fenomena itu dengan sukses membuat mataku perih dan telingaku berdenging. Aku jadi menyalahkan diri sendiri karena tidak membawa kacamata pelindung atau penutup telinga.

“Aduh! Aku tidak tahu suaranya akan begitu keras….” gerutuku sambil menepuk telingaku, berusaha menghilangkan suara denging yang masih tertinggal.

“Namanya juga Big-Bang,” celetuk Iona sambil mengusap matanya yang berair. Dia lalu berseru kegirangan. “Lihat! Cantik sekali!”

Aku membuka mataku dan terpana melihat kabut berpendar yang memenuhi seluruh ruangan. Kabut aneh itu terasa lembut, hangat, serta bergerak mengikuti arah gerakan tanganku.

“Ini yang dinamakan Awan Gas Primordial ya?” tanya Iona sambil membuat pusaran kabut dengan sebelah tangannya. “Indah sekali.”

Aku setuju. Kabut di sekitar kami memang terlihat indah, terlebih karena kabut itu kini mulai menampakkan warna-warni yang menakjubkan. Aku lalu menyadari kalau Iona sekarang sedang menari ringan mengitari ruang Planetarium dengan gembira. Meskipun dia jadi terlihat sangat menawan, tapi sekarang aku harus fokus pada tujuan kami melakukan semua ini.

“Oke. Bisa kita mulai bekerja sekarang? Ada banyak hal yang harus dikerjakan dan libur musim panas tinggal 3 minggu lagi,” ujarku sambil memutar kabut di tanganku menjadi sebuah spiral. “Galaksi Tiruan ini harus selesai dalam waktu seminggu, supaya kita punya waktu mengamati semua fenomena angkasa yang terjadi sampai akhir liburan.”

Iona berhenti menari dan memandangiku dengan tatapan jengkel.

“Apa?” tanyaku.

“Tidak. Ayo kita mulai bekerja,” balas Iona sambil mengambil papan pencatat holografis yang sudah dia siapkan. Dia lalu mengedip nakal ke arahku. “Dan tentu saja bagian yang susah-susah kuserahkan padamu.”

Aku langsung mendengus kesal dan menepuk wajahku.

 

****

 

Hari-hari selanjutnya kami habiskan dengan menata Galaksi Tiruan kami. Setelah memicu Big-Bang dan menghasilkan Kabut Kosmik, kini kami harus menentukan dan mengatur parameter-parameter dasar yang akan menjadi hukum alam di galaksi buatan kami.

Percayalah. Itu sama sekali tidak mudah.

Aku dan Iona menghabiskan waktu 3 hari penuh untuk menjaga agar galaksi kami tidak berkembang terlalu cepat. Kalau tidak, benda itu akan melesak keluar dari Planetarium dan musnah terkena sinar matahari asli diluar sana. Awalnya aku membuat sebuah Lubang Hitam raksasa di tengah ruangan untuk menahan laju perkembangannya. Tapi rupanya itu ide buruk. Galaksi Tiruan menyusut hingga nyaris setengahnya, sebelum akhirnya berhasil kami perbaiki. Selain itu, mengatur dimensi waktu di galaksi kami rupanya bukan perkara mudah. Butuh waktu sehari penuh sampai aku dan Iona memahami cara kerja pengatur aliran waktu di panel kendali Galaksi-Dalam-Kotak.

Setelah banyak mencoba, dan tentu saja banyak kekacauan, Galaksi Tiruan kami akhirnya stabil pada akhir minggu pertama. Dengan begitu tugas awal kami selesai sudah. Selanjutnya pengaturan dan penjagaan kestabilan galaksi kami percayakan pada sistem kendali Galaksi-Dalam-Kotak. Sekarang kami tinggal mengamati berbagai fenomena angkasa yang akan muncul dalam galaksi kami.

Entah sihir dan teknologi macam apa yang dimasukkan ke dalam benda ini, yang pasti ini luar biasa!

Dengan puas aku menatap sistem-sistem tata surya yang akhirnya berhasil kami atur. Total ada lebih dari 10.000 sistem tata surya di galaksi kami, dan 1500 sistem itu kini sedang kami amati dengan seksama. Tadinya aku ingin mengamati setidaknya 5000 sistem, tapi Iona protes karena menurutnya itu mustahil dilakukan dalam waktu kurang dari dua minggu. Masuk akal memang. Tapi tetap saja aku ingin melakukannya.

Aku menatap Iona yang sedang sibuk mengamati peristiwa runtuhnya sebuah bintang menjadi Lubang Hitam. Aliran waktu di galaksi sengaja sedang kami percepat supaya peristiwa lahirnya Lubang Hitam itu bisa dia amati dengan mudah.

Sosok Iona yang sedang serius bekerja terlihat begitu cantik bagiku. Sialnya karena sibuk mengagumi kecantikannya, aku jadi tidak sadar kalau Iona sedang melotot ke arahku.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Dasar aneh!” ujar Iona. “Daripada bengong melihatku bekerja, kenapa kau tidak mulai kerja juga?”

Aku langsung mengangkat papan holografisku dan mulai bekerja. Namun ketika sedang memandangi sebuah planet berwarna kebiruan di depanku, tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku.

“Hei, Iona. Apa menurutmu akan menarik kalau kita tambahkan Makhluk Hidup Berakal di Galaksi Tiruan kita?” tanyaku. “Mengamati perilaku mereka bisa jadi proyek sampingan untuk tugas musim panas kita.”

“Ditolak!”

Aku langsung berbalik dan bertanya.“Kenapa tidak?”

“Dua alasan,” jawab Iona sambil mengacungkan dua jari di depan wajahnya. “Satu: kita sudah cukup sibuk mengatur dan mencatat semua fenomena angkasa di galaksi ini, jadi tidak ada waktu untuk proyek sampingan. Dua: keberadaan Makhluk Hidup Berakal di galaksi ini pada akhirnya hanya akan merusak keseimbangan sistem yang telah susah payah kita buat. Apa kau mengerti?”

Aku menggelengkan kepala dan menyilangkan kedua tanganku di depan dada.

“Tidak.” balasku. “Kenapa kau begitu yakin soal itu?”

“Aku tidak mau menjelaskannya,” jawab Iona. “Yang pasti kau tidak bisa sepenuhnya mengatur tingkah laku makhluk-makhluk itu.”

“Kenapa tidak bisa?” tanyaku lagi.

Iona menghela nafas panjang dan mengacungkan papan holografisnya ke arahku.

“Kau tidak bisa mengatur semua parameter yang ada dalam Galaksi Tiruan ini! Banyak parameter berjalan secara otomatis berdasarkan hukum dasar yang sejak awal ada dalam sistem kendali Galaksi-Dalam-Kotak!” seru Iona jengkel. “Kita hanya bisa mengatur kurang dari setengah parameter yang ada! Dan tingkah para Makhluk Hidup Berakal itu tidak termasuk dalam parameter yang bisa kau atur!”

“Aku yakin bisa mengatur mereka semua,” bantahku.

“Ya ampun Cyrus, kau bukan Tuhan!!” bentak Iona.

“Secara teknis disini kita adalah Sang Pencipta,” sahutku tanpa bisa ditahan.

“Terserah apa katamu!”

Sambil menggerutu tidak jelas, Iona kembali fokus pada Lubang Hitamnya tadi. Benda itu kini sedang menyedot sebuah bintang naas yang mengorbit terlalu dekat dengannya.

Aku memandangi gadis itu sambil menghela nafas.

Memangnya apa yang salah dengan ideku itu?

Meski Iona menolak, tapi aku tetap akan menambahkan beberapa ras Makhluk Hidup Berakal di Galaksi Tiruan ini.

Diam-diam aku membuka panel sistem kendali dan membuat beberapa pengaturan kecil. Aku memerintahkan sistem agar beberapa ras Makhluk Hidup Berakal bisa ditambahkan secara acak ke dalam Galaksi Tiruan kami. Tak lama kemudian aku melihat laporan dari sistem kendali bahwa 300 ras Makhluk Hidup Berakal sudah muncul di 200 planet yang berbeda.

Aku tidak bisa menahan senyumanku melihat salah satu ras Makhluk Hidup Berakal mulai membangun peradabannya di sebuah planet. Perbedaan aliran waktu antara ‘dunia’ mereka dan duniaku membuatku seolah melihat video yang dipercepat. Peradaban makhluk-makhluk buatan itu tumbuh dengan sangat cepat hanya dalam hitungan menit. Aku jadi ikut bersemangat ketika mengamati mereka yang sedang menjalani ‘hidup’ dengan penuh semangat.

Nah! Begini baru asyik!

Aku bersenandung pelan sambil kembali bekerja.

 

****

 

“Cyrus! Aku kan sudah bilang padamu…..BERHENTI MENAMBAH KERJAANKU!!!”

Aku mundur selangkah ketika Iona menjerit sambil mengangkat papan holografisnya tinggi-tinggi. Sepertinya dia ingin sekali melemparkan benda itu ke kepalaku.

Dua hari sudah berlalu sejak aku menambahkan Makhluk Hidup Berakal di Galaksi Tiruan kami…dan Iona marah bukan main ketika mengetahuinya.

“Kenapa? Kau kan tidak perlu mengamati kehidupan ras-ras berakal yang sudah kutambahkan!” balasku tidak mau kalah. “Itu urusanku, bukan urusanmu!”

Iona melangkah maju dan menekan dadaku dengan telunjuknya. Jelas dia semakin jengkel dengan ucapanku.

“Bukan urusanku?!” balasnya dengan nada tinggi. “Cyrus! Ini Galaksi KITA!!! Ini proyek musim panas KITA! Aku tidak mau semuanya jadi kacau!!!”

Aku menepis tangan Iona dengan kasar.

“Dengarkan aku! Apanya yang jadi kacau setelah aku menambahkan beberapa Makhluk Hidup Berakal dalam galaksi kita?” tanyaku dengan ketus.

“ITU!”

Iona berseru sambil memperlambat aliran waktu di Galaksi Tiruan. Dia lalu menunjuk ke arah benda-benda mungil yang bergerak tidak beraturan, serta dihiasi kilatan-kilatan cahaya berwarna-warni. Tidak lama kemudian sebuah planet kecil tiba-tiba saja meledak dengan dahsyat, setelah sebuah benda mirip gurita raksasa mendarat disana. Aku terkejut saat menyadari bahwa benda-benda mungil bercahaya tadi adalah barisan Armada Kapal Perang Antar-Bintang yang sedang saling tembak. Sedangkan benda mirip gurita tadi sepertinya merupakan sebuah Senjata Anti-Planet.

Seketika itu juga, aku paham apa yang sedang terjadi.

Perang!? Aku tidak percaya ini!

Ras-ras Makhluk Hidup Berakal itu sedang berusaha saling menghancurkan!?

“Apa-apaan ini?” tanyaku bingung. “Iona?”

Iona balas memandangiku dengan tatapan marah.

“Mereka sudah begini sejak tadi pagi,” balas Iona ketus. “Gara-gara kau datang terlambat, sepagian ini aku harus mati-matian membuat banyak penyesuaian disana-sini, supaya Galaksi Tiruan ini tidak hancur karena ulah makhluk-makhluk tidak berguna itu!”

Aku berjengit kaget. Kupikir keberadaan Makhluk Hidup Berakal di Galaksi Tiruan ini akan membuat tugas kami jadi lebih menarik. Tapi mereka malah berusaha menghancurkan apa yang sudah susah payah kami kerjakan selama lebih dari seminggu ini. Tadinya aku berharap mereka akan saling berinteraksi dengan damai. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya, kontak antar ras Makhluk Hidup Berakal yang berbeda justru diwarnai dengan pertikaian.

“A…aku masih tidak mengerti. Kenapa ini bisa terjadi?” tanyaku kebingungan.

“Tanya saja sama orang yang membuat Galaksi-Dalam-Kotak ini!” sahut Iona. “Tapi biar kutebak! Sistem dasar untuk Kecerdasan Buatan para Makhluk Hidup Berakal itu pastinya ditiru dari sifat kita. Suka berperang dan merusak!”

Dengan marah Iona menyapukan tangannya dan menghancurkan ribuan Armada Kapal Perang Antar-Bintang di dekatnya. Sebelum aku sempat berbuat apapun, Iona sudah mengumpulkan energi di tangannya, menepuk sebuah bintang, dan mengubahnya jadi Lubang Hitam. Tindakannya itu dengan sukses menghancurkan sebuah sistem tata surya, tempat tinggal setidaknya 3 ras Makhluk Hidup Berakal. Tidak sampai disitu saja, Iona lanjut menampar sebuah bintang hingga menabrak bintang tetangganya. Sebuah Ledakan Supernova dahsyat terjadi dan menelan 2 tata surya, serta membuat 5 tata surya terdekat menjadi tidak stabil. Gara-gara Supernova itu, kestabilan Galaksi Tiruan jadi mulai kacau. Beberapa tata surya lain mulai lepas dari orbitnya dan saling bertabrakan. Kini galaksi yang kami buat dengan susah payah mulai tidak terkendali.

“Hentikan!” Aku berlari menghampiri Iona, tepat sebelum dia melemparkan sebuah bintang yang dia genggam ke tata surya lain di seberang ruang Planetarium. Tentu saja Iona memberontak dan berseru marah padaku.

“Lepaskan! Ini tidak ada gunanya! Semua fenomena yang tadinya harus kuamati kini jadi kacau! Ini semua gara-gara kau, Cyrus!!”

Dengan kasar Iona menyentakkan tangannya, lalu mendorongku mundur. Karena tidak siap, aku jadi kehilangan keseimbangan. Sebelum terjatuh ke lantai, aku menabrak setidaknya 10 benda angkasa dan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Dengan marah aku bangkit dan berusaha menahan Iona yang mengamuk, sambil menghancurkan apapun yang ada di dekatnya.

Perkelahian pun tidak bisa dihindari.

Selama beberapa menit kemudian, Iona sibuk memukuliku dengan papan holografisnya. Tentu saja aku tidak diam saja dan berusaha membalas dengan papanku sendiri.

Perbuatan kami jelas membuat kondisi galaksi semakin buruk.

Bintang-bintang dan planet-planet hancur terkena pukulan nyasar dariku, atau dari Iona.

Segalanya bisa jadi lebih buruk lagi, kalau saja aku tidak sengaja melihat sesuatu yang tiba-tiba sangat menarik perhatianku.

Sebuah tulisan kecil tampak bersinar tidak jauh dari kami yang sedang sibuk berkelahi. Ukuran tulisan itu tidak terlalu besar, hingga nyaris luput dari pengamatanku. Tapi aku tidak mungkin bisa melewatkan apa yang tertulis di situ.

Tolong berhenti dan selamatkan kami.

Begitu membaca tulisan itu, aku langsung berhenti membalas pukulan Iona.

Menyadari aku berhenti memukulinya, Iona juga berhenti memukuliku. Kini dia memandangi tulisan yang menyala dengan warna merah itu dengan tatapan tidak percaya, sama sepertiku.

“Astaga! Tidak bisa kupercaya!”

Aku berseru kagum ketika menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan bantuan panel kendali aku melihat ras-ras Makhluk Hidup Berakal yang tadi sibuk berperang, kini sudah bersatu demi membentuk tulisan kecil itu.

Aku tidak begitu paham bagaimana itu bisa terjadi, tapi aku punya dugaan.

Entah bagaimana caranya, sepertinya mereka bisa melihat perkelahian kami dan tentu saja merasakan akibatnya. Itu membuat mereka takut hingga berhenti berperang, kemudian menyatukan kekuatan untuk menghentikan perbuatan kami yang merusak dunia mereka.

Sungguh sesuatu yang luar biasa dan sama sekali diluar dugaan!

“Tidak mungkin!”

Iona ikut berseru kagum setelah terdiam cukup lama. Dia tidak kalah takjubnya dengan diriku, ketika melihat apa yang diperbuat ras-ras Makhluk Hidup Berakal itu.

“Bagimana bisa mereka mendapatkan kesadaran aktif seperti itu? Ini tidak seharusnya terjadi,” ujar Iona. Dia lalu menoleh ke arahku. “Apa yang sudah kau lakukan?”

Aku menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.

“Tapi kan kau yang menciptakan dan mengatur parameter dasar untuk mereka!” seru Iona lagi.

Aku berpikir keras selama beberapa saat. Seharusnya ras-ras Makhluk Hidup Berakal itu hanya memiliki Kecerdasan Buatan yang terbatas, tapi tingkat kecerdasan dan kesadaran mereka kini telah berkembang ke taraf yang terlalu tinggi. Ketika sedang berpikir, tiba-tiba aku ingat parameter dasar yang kutetapkan saat memasukkan Makhluk Hidup Berakal di dalam Galaksi Tiruan kami.

“Astaga!” Aku berseru kaget ketika menyadarinya. “Aku membuat mereka mampu belajar dari pengalaman dan kesalahan! Itu pasti membuat mereka memiliki kesadaran sebagai individu!”

Iona melotot ke arahku. Aku mengangkat papan holografisku karena mengira dia akan mulai mengamuk lagi. Tapi bukannya marah, tapi Iona justru bicara dengan suara lirih.

“Cyrus….itu sama saja dengan…..” Iona berhenti sejenak, lalu kembali bicara. “Cyrus! Kau sudah membuat mereka ‘hidup’! Kalau mereka mampu belajar dan memiliki kesadaran sebagai individu, makhluk-makhluk itu sudah jadi lebih dari sekedar ‘makhluk hidup buatan’. Mereka hidup!!”

Aku menelan ludahku. Iona benar soal itu. Secara tidak sadar aku telah membuat ras-ras Makhluk Hidup Berakal di galaksi kami menjadi makhluk hidup ‘sungguhan’. Menyadari hal itu membuatku jadi merinding sendiri.

“La…lalu apa yang harus kita lakukan?” Aku bertanya pada Iona.

“Kita sudahi saja semuanya,” balas Iona. “Kita hancurkan galaksi ini.”

Aku langsung berjengit marah.

“Kau gila?! Kau tidak boleh melakukan itu!”

Aku lalu berjalan ke tengah ruangan dan merentangkan kedua tanganku kesamping.

“Bagi kita galaksi ini memang tidak lebih dari sekedar benda yang dibuat demi memenuhi tugas musim panas. Tapi bagi makhluk-makhluk di dalam Galaksi Tiruan ini, seluruh galaksi ini adalah dunia mereka! Tempat tinggal mereka!” ujarku lagi. “Kita tidak bisa menghancurkannya begitu saja!! Kita harus membiarkan makhluk-makhluk buatan itu ‘hidup’ dan berkembang! Seluruh galaksi imitasi ini sekarang sudah jadi ‘milik’ mereka!”

Iona sepertinya hendak membantah lagi, tapi kemudian dia diam saja.

Selama beberapa menit kami berdua tidak berbicara sepatah katapun, sementara tulisan ‘tolong berhenti dan selamatkan kami’ itu masih melayang di udara. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Iona bicara lagi.

“Kau benar. Kita tidak bisa menghancurkan Galaksi Tiruan ini sekarang,” ujarnya sambil tersenyum tipis ke arahku. “Lalu apa idemu?”

Aku ganti tersenyum mendengar Iona akhirnya sependapat denganku.

“Kita biarkan dunia para Makhluk Hidup Berakal kita ini berkembang dengan sendirinya. Kita hanya akan mengamati dan sesekali ikut campur kalau diperlukan. Aku ingin tahu seberapa jauh ras-ras Makhluk Hidup Berakal itu akan berkembang,” ujarku. “Lagipula Galaksi-Dalam-Kotak ini hanya akan bertahan 2 minggu lagi. Jadi tidak ada salahnya kita biarkan saja galaksi ini berkembang, sebelum hancur karena masa pakainya sudah habis.”

Iona mengangguk setuju dan itu membuatku merasa sangat gembira.

 

****

 

Sebenarnya aku ingin lanjut mengamati kehidupan para Makhluk Hidup Berakal di galaksi kami, tapi aku sadar sudah waktunya bagi kami untuk pulang. Setelah melakukan sedikit penyesuaian pada sistem, kami akhirnya meninggalkan Planetarium dan berjalan menuruni anak tangga menuju dasar bukit. Aku membiarkan Iona berjalan mendahuluiku sementara aku berjalan lebih lambat sambil berpikir.

Kejadian hari ini benar-benar membuatku memikirkan ulang arti keberadaanku di dunia ini. Aku jadi bertanya-tanya, apakah Makhluk Hidup Berakal buatan kami itu menyadari seberapa tidak berartinya mereka bagi kami? Apa mereka menyadari kalau kami bisa menghancurkan mereka semua dengan mudah?

Sayangnya memikirkan hal itu justru membuatku menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri. Apakah sebenarnya aku, Iona, dan seluruh makhluk yang hidup di dunia ini tidak lebih dari Makhluk Hidup Berakal yang dibuat oleh sosok lain yang lebih superior? Oleh mereka yang menciptakan dunia kami? Oleh mereka yang sengaja menempatkan kami untuk hidup di dunia kami ini?

Ketika pikiran itu terlintas dalam benakku, tiba-tiba aku tersenyum lebar. Kemudian aku mendongak ke arah langit ungu-kemerahan yang dihiasi 3 buah bulan berwarna kekuningan.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, aku berseru sekuat tenaga.

“Kepada yang telah menciptakanku, kuucapkan halo!!!” seruku sambil mengangkat sebelah tanganku. “Dan terima kasih banyak karena sudah menciptakanku dan duniaku!!”

Tentu saja tidak ada balasan, dan aku memang tidak mengharapkan ada balasan.

“Sedang apa kau? Ayo kita pulang!!”

Aku mendengar Iona berseru dari dasar bukit sambil melambaikan tangannya ke arahku. Sambil terus tersenyum, aku bergegas menghampirinya.

Aku Cyrus.

Dan ini adalah sepenggal kisah kehidupanku.

 

****

~FIN~

red_rackham_2012 for Fantasy Fiesta 2012

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

109 Responses to Planetarium

  1. Mr A says:

    oke, ini komentarnya. gw baca cerpen ini dua kali.. yg prtama cuma baca bagian awal.. soalnya gatau knapa bosen, terus berusaha lanjutin *knpjadicurcol* konsep cerita ini sangat sederhana dan klise. kayak nonton film doraemon. ngomong2 ini dunia apa ya? keeren bgt anak sekolahan proyeknya kyk gitu. narasinya lumayan lancar tp ada beberapa hal yg gw bingung. cara mereka (iona dan cyrus) jalan di antara dunia buatan ini gimana? dan knp tiba2 bisa ada tulisan itu? dibikin pake apa?
    dan endingnya… gitu aja? kirain ada apa. gitu aja serius? hmm yaudahlah. keep on writing yah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>