Portal

PORTAL

karya Ardi Pramono

Mengapa kami bermusuhan, tak pernah kupahami dan menjadi pertanyaan besar untukku. Saat aku melihat tubuh Robert tergores karena puluhan sabetan pedang dan sekarat, pertanyaan itu makin mengganggu pikiranku. Apa sebenarnya yang membuat pembantaian ini pantas terjadi?  Bukankah aku dan teman-temanku hanyalah manusia-manusia biasa yang ingin merasakan kedamaian?

“Kamu harus hidup demi kami,” kata Robert dengan sisa-sisa tenaga.

Aku mengangguk dan Robert menjadi tenang. Ia kemudian pergi dalam kedamaian. Raut wajahnya tak menggambarkan rasa sakit.

Kakiku mengangkat tubuhku. Aku memandang lagi Robert sebelum berjalan meninggalkannya. Mula-mula aku melangkah pelan. Lalu aku berlari. Berlari hingga tak kurasa lagi perih di kakiku yang tergores semak-semak belukar. Meski masih kurasakan pedih memar di punggungku akibat pukulan godam orang-orang Seres itu, aku tak berhenti. Ketika itu aku bertemu mereka dengan tak sengaja. Beruntung itu adalah momen dimana Robert muncul dan menolongku. Momen itu jugalah awal dari kepergian Robert untuk selamanya.

Tiba-tiba, pikiranku melayang. Kuteringat pada sosok teman baikku, Danh Ca. Kami berdua mendambakan hidup bahagia bersama. Berdua, kami mencintai dunia keempat, tempat kami tinggal. Kami suka bersama-sama menunggangi Cabalo, Kumbang besar seukuran kuda yang jinak, dan mengelilingi hutan di sekitar rumah kami. Lalu kami akan memetik Buah Naga, Pisang ataupun buah-buah liar lainnya di dalam perjalanan kami.

Teringat benar di benakku, ketika ia memelukku erat di belakang karena takut jatuh dari Cabalo. Tapi kurasa itu bukan alasan mengapa ia memeluk aku. Ia punya alasan lain dan aku senang dengan alasan itu. Aku ingin selalu bersamanya.

Saat sore tiba. Kami akan duduk di tepi lembah, memandangi matahari terbenam bersama. Terlalu biasa memang kegiatan kami. Tak masalah, kami menyukainya. Hanya saja, kadang kami terganggu. Di bawah lembah itu, sering terlihat orang-orang Seres sedang menambang batu-batu granit dan pasir. Di antara mereka, manusia-manusia sepertiku  membawa cambuk panjang dengan ujung kait besi. Ketika orang Seres itu agak lelah, mereka mengayunkan cambuknya. Menggores punggung-punggung orang Seres tak berdaya itu dengan lengkingan cambuk yang memekakkan telinga.

Orang-orang Seres itu akan berteriak kesakitan. Suaranya keras dan menyedihkan. Danch Ca sering ketakutan ketika mendengar suara itu. Ia memeluk aku ketika suara itu melengking keras. Aku sendiri hanya bisa menatap kosong. Tak habis pikir mengapa manusia memperlakukan Orang Seres seperti itu.

Ibu selalu berkata, meski bisa bicara bahasa manusia, orang Seres tetap saja bukan manusia. Mereka itu tak ubahnya hewan, kata ibu.

“Jika Beo bisa bicara bahasa manusia, bukan berarti dia manusia kan?” kata ibu padaku, sinis. “Mereka tak ada bedanya dengan ayam! Hidup untuk kita manfaatkan!”

Ketika sampai pada penjelasan itu, aku akan diam dan mencoba menerima saja. Aku masih berusia 13 tahun, tak tahu apa itu benar dan apa itu salah. Aku tak suka membantah, maka aku diam saja. Biarpun kulihat orang-orang Seres diperlakukan bagai binatang di jalan, bahkan untuk sekedar duduk di desa milik manusia saja tak boleh, aku diam saja. Bagaimanapun aku tak berani membantah ibuku sendiri.

Orang Seres memang bukan manusia jika definisi manusia adalah sama seperti aku. Mereka adalah bangsa yang lahir dari persilangan manusia dan mahluk-mahluk humanoid

( mahluk mirip manusia ). Terkadang mereka setengah elf. Terkadang setengah vampir. Bahkan ada juga yang seperti kurcaci. Lebih aneh lagi, mereka juga ada yang setengah vampire dan setengah kurcaci.

Kurasa mereka sebenarnya memiliki nama-nama suku tersendiri, tapi manusia memutuskan nama umum untuk mereka: Orang Seres. Seres sendiri berarti mahluk gaib dalam bahasa kami. Begitulah manusia memandang orang Seres. Mereka selalu melihat orang Seres sebagai mahluk aneh dan tidak layak dihargai. Padahal perasaan itu lahir karena manusia tahu banyak Orang Seres memiliki kemampuan-kemampuan di atas manusia. Manusia takut kekuatan itu akan digunakan untuk menyerang manusia. Begitulah menurut aku setelah aku tumbuh dewasa dan bisa berpikir kritis.

Menurutku, alasan itu tak masuk akal.

Sayang, sekali lagi aku hanya anak manusia berusia 13 tahun ketika itu, selalu berpikir bahwa diam adalah pilihan terbaik.

Ketika kubertemu Danch Ca, aku bertanya, apa pendapatnya. Ia menggeleng pelan dan menolak menjawab, kemudian ia hanya menggenggam tanganku.

“Kamu tahu?” kata Danch Ca. “Yang aku pedulikan hanya bagaimana caranya agar selalu bersama kamu.”

Aku memandang Danch Ca ketika ia mengatakan itu. Dan aku melihat matanya. Dalam hati aku berjanji bahwa matanya akan selalu kuingat. Tatapan mata dalam, hangat dan penuh arti itu. Ketika nanti di masa depan aku melihatnya menjadi kosong, dingin dan tak bernyawa. Aku akan selalu menghibur diriku dengan mengingat bahwa ia pernah punya tatapan sehangat itu.

 

*          *          *

 

“Siapa saja kawanmu yang telah mati?” Aku menengadahkan mukaku ke arah asal suara. Di sebelahku kulihat seorang wanita kerdil dan tua. Wajahnya seperti nenek sihir dalam cerita Snow White karya Brother’s Grimm. Aku kenal siapa dia. Dia adalah peramal di desaku. Peramal yang kata banyak manusia adalah orang Seres, hanya saja ia selalu menyangkal dan mengatakan ia adalah manusia cacat.

“Banyak Mimi,” kataku padanya dengan pandangan kosong. “Robert, Lucas, Shiva dan juga..”

Aku tak kuat mengatakannya. Aku memeluk kedua lututku dan menenggelamkan kepalaku di sana dan menangis sesenggukan.

Mimi tak berusaha menghibur. Ia hanya menyeringai licik.

“Oh, Tokkie yang malang. Kamu tak pernah menyangka kan kalau akhirnya posisi kamu terbalik sekarang. Siapa sangka, Orang Seres yang kalian katakan bodoh itu, ternyata bisa melawan dan angkat senjata untuk memberanggus manusia-manusia sombong seperti kalian!” kata Mimi lagi. “Dasar manusia, baru di saat seperti ini saja kalian mau menundukkan kepala!”

“Apa salah aku, apa salah kakak dan teman-temanku?” kataku. “Apa salah Danh Ca ?!”

Mimi tertawa lagi.

“Kalian memang tidak menyiksa orang-orang Seres. Kalian juga tidak menolong mereka. Pembiaran, itu yang kalian lakukan. Terserah mereka dong, mau berbuat apa dengan kalian. Toh, kalian juga membiarkan mereka mati seperti ayam potong”

Jantungku berdegup kencang mendengar kata-kata Mimi.

Aku merenungkan kembali kata-kata Mimi. Namun malah bayangan Danh Ca yang bermain di kepalaku. Kuingat ketika aku berlari ke rumahnya di hari kacau itu. Aku menemukan dia bersembunyi di lemari. Aku mengajaknya lari, kabur. Ia mengiyakan. Kami keluar dari rumah, berlari masuk hutan. Orang Seres itu tahu, mereka selalu tahu dengan mata batinnya. Mereka melempar tombak itu dengan kekuatan gaibnya. Tombak itu melayang seperti hidup. Mencari korban dan korbannya adalah Danh Ca.

Tombak menembus punggungnya, tembus hingga dadanya. Ia terjatuh ke samping. Mulutnya memuntahkan darah segar. Rumput-rumput hijau di sekeliling kami segera berubah warna. Aku berlutut di sampingnya, memegangi kedua kepalaku. Frustasi.

“Tokkie,” kata Danh Ca padaku. Ia memandang aku dengan kekuatan terakhirnya.

“Iya,” kataku padanya dengan berusaha menahan supaya air mataku tidak keluar.

“Terima kasih,” katanya. Ia tersenyum dan itulah terakhir kalinya aku melihat senyum itu.

Kembali aku ke waktu sekarang. Tepukan Mimi di pundakku menyadarkan aku.

“Bagaimana jika aku berjanji untuk menyelamatkanmu?” kata Mimi. “Maukah kamu menerima tawaranku?”

“Bagaimana caranya?” kataku.

“Sebentar,” kata Mimi, lagi-lagi terkekeh. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan apel merah dari balik jubah hitamnya.

“Makan ini,” kata Mimi.

Aku agak ragu. Meski apel itu terlihat ranum. Jika Mimi yang memberikannya, kurasa semua orang akan curiga.

“Sudah, makan saja, aku tak akan meracuninya. Buat apa aku meracuni anak bau kambing sepertimu,” kata Mimi.

Kuambil apel itu dengan ragu, sejurus kemudian aku mulai memakannya pelan-pelan. Tiba-tiba aku merasakan pusing yang amat sangat. Pandanganku berputar hebat. Kulihat wajah Mimi berbayang. Menjadi kabur dan bahkan menjadi dua. Kulihat Mimi mengangkat tangan keriputnya dan melambai padaku. Ia memamerkan gigi-gigi hitam tak utuhnya.

“Selamat tidur nak,” katanya nakal.

Aku tak berkata apa-apa, hanya pingsan begitu saja.

Saat aku bangun lagi, aku ada di depan sebuah pohon. Pohon itu batangnya besar, diameternya luas, terlihat seperti General Sherman Tree[1]. Bedanya ada lubang hitam di batang itu. Cukup untuk satu orang manusia.

“Bagaimana tidurmu nak?” kata Mimi.

“Apa yang kau pikirkan sebenarnya Mi ?” kataku. “Dimana aku ini?!”

“Kamu ada di depan portal yang telah kuciptakan khusus untuk kamu,” kata Mimi dengan santai.

“Portal, maksud kamu?” kataku padanya.

“Yah, masa aku harus menjelaskan semua padamu? Ini namanya portal. Jalur untuk keluar masuk dari dunia keempat ke dunia kesatu, kedua dan ketiga dan seterusnya! Aduh nak, apa sih yang gurumu ajarkan di sekolah?”

“Mimi, aku tak paham, jadi aku harus masuk kesini?” kataku kebingungan.

“Iya Tokkie manis, kamu harus masuk kesini untuk selamat dari amukan Orang Seres itu. Tak ada lagi pilihan kalau kamu masih mau hidup. Kalau tidak ya sudah.”

“Apakah aman?” kataku pada Mimi.

“Yah, dulu temanku pernah membuatnya dan tembus di sebuah lemari kayu tua. Kadang-kadang tembus juga di lukisan atau lorong kereta api. Yah, setidaknya tak ada yang tembus di dasar laut.”

Aku memalingkan muka ke arah Mimi. Aku masih ragu.

“Kenapa?” kataku. “Kenapa memilih untuk menyelamatkan aku?”

Mimi menghela napas panjang. Ia memandang mata aku. Pandangannya menjadi serius sekarang, tidak sekonyol tadi.

“Kamu tahu kenapa Orang Seres membenci manusia. Karena mereka serakah dan egois!” kata Mimi. “Mereka merendahkan yang lain dan membunuhinya untuk kepentingan diri sendiri. Ketika ‘yang lain’ itu marah, mereka akan bangkit dan melawan manusia. Inilah buktinya! Kalian semua berlari, mencoba menghindari lemparan tombak dan parang dimana-mana!”

“Lalu, apakah di dunia yang lainpun akan ada orang Seres juga? Nasibku akan sama saja Mimi!”

“Aku bilang yang lain. Yang lain itu bisa apa saja,  hewan di sekelilingmu, tanah yang kau pijak. Mereka bisa melawan manusia entah bagaimana caranya. Orang Seres hanyalah satu contoh belaka.”

“Aku tak paham Mimi.”

Mimi maju ke depanku. Ia menengadahkan mukanya. Melihat aku seperti melihat langit.

“Biarlah Manusia di Dunia Keempat ini mati karena mereka memang sudah tak terselamatkan, otak mereka sudah terlalu bebal untuk berubah! Ini adalah sebuah siklus dunia, dimana kamu memetik apa yang kamu tanam. Tapi jangan sampai ini terjadi di dunia Kesatu, dunia yang akan kamu datangi nanti. Buatlah mereka sadar bahwa menghargai alam dan perbedaan di sekitar mereka adalah kunci kedamaian.”

“Bagaimana?” kataku.

“Pikirkan saja sendiri,” kata Mimi, ia kembali ke sosok awalnya dan sejurus kemudian tertawa menyebalkan. Tiba-tiba tangannya yang seperti ranting tua mendorong perutku dengan kuat-kuat. Aku kaget, tak kusangka ada tenaga lebih di tangan tua itu. Seketika aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam lubang hitam itu. Dasarnya ternyata sangat dalam. Aku terus jatuh, meluncur keras seperti orang terjun payung tanpa payungnya. Sebagian perasaanku mengatakan Mimi menipuku supaya aku mati dengan perasaan lebih enak. Aku pasrah saja, apalagi aku rasanya kehilangan kesadaran lagi. Efek bius apel itu terasa lebih kuat sekarang. Kelopak mataku semakin berat, lama-lama kurasakan aku akan tertidur, tertidur dalam mimpi berlapis. Dalam telingaku, kudengar lagi tawa memekakan itu.

 

*          *          *

 

Tiga puluh tahun berlalu, saat pertama kali aku melewati portal itu, aku jatuh di depan sebuah rumah di Bloemfontein, Afrika Selatan. Ketika itu sebuah keluarga yang baik memungut aku dan mereka kaget karena dengan usiaku, aku tak bisa bicara bahasa Inggris meski berkulit putih layaknya bangsa Anglo-Saxon. Butuh setahun untuk aku belajar bicara bahasa Inggris dengan baik dan lancar.

Di duniaku yang baru ini aku memiliki kehidupan. Setidaknya begitulah menurut aku. Aku memiliki  keluarga dan juga saudara. Bahkan aku punya cita-cita, tak seperti dulu dimana aku hanya berpikir untuk menghabiskan waktu selama mungkin di hutan dan mati di medan perang atau mati kelelahan mengelola tanah pertanian. Aku ingin menjadi novelis sekarang, pekerjaan dimana aku bisa menyebarkan mimpiku ke semua orang.

Kenapa? Kalian mungkin bertanya, kenapa aku mau jadi novelis di dunia ini. Aku sadar betul bahwa aku telat bersekolah dan ilmu teman-temanku takkan sanggup kukejar. Di dunia ini semua orang memakai logika, tak seperti di duniaku. Duniaku dipenuhi mitos-mitos dan pengetahuan akan sihir. Kami belajar merapalkan mantera untuk memindahkan batu dan bukannya mempelajari pesawat sederhana. Sementara di sini berbeda, semua dijelaskan dalam konteks Fisika, Biologi dan Kimia.

Lalu, jika dibandingkan, keunggulanku dibanding teman-temanku adalah ‘mimpi’. Begitu kata mereka. Mereka kagum padaku ketika aku menggambar sebuah peta dunia antah-berantah dimana peta itu sangat detail, seolah-olah memang dunia itu benar-benar nyata. Mereka kagum ketika aku menceritakan dongeng-dongeng unik seperti tentang kisah “Manusia kurcaci”. Kata mereka itu cerita luar biasa. Padahal bagiku biasa saja karena keluargaku ‘memelihara’ manusia kurcaci itu sebagai pembantu di rumah dulunya.

Selain itu, aku merasa dunia ini perlu mimpi. Perang dan pelanggaran kemanusiaan terus terjadi. Kecurigaan antar manusia terjadi. Di sini mungkin lebih buruk dibandingkan di ‘Dunia Keempat’, manusia di sini membunuhi manusia lainnya. Menyiksa manusia lainnya tanpa alasan. Aku tak mengerti mengapa, apakah ini kodrat manusia? Aku ingin anak-anak menjadi perubahan. Manusia dewasa mungkin akan selamanya begitu hingga mereka semua mati. Tapi anak-anak itu tidak, jika aku bisa memberi mereka mimpi. Mereka bisa menciptakan dunia yang lebih baik. Aku yakin sekali pada hal itu.

Anak-anak itu, mereka akan belajar bagaimana menghargai manusia lainnya. Mereka juga akan belajar menghargai ‘yang lain’ seperti kata Mimi. Teringat aku pada kata-kata salah seorang temanku di Dunia Kesatu ini. Suatu saat akan terjadi saat dimana es-es di kutub akan meleleh. Lalu air akan naik dan menenggelamkan manusia-manusia. Ngeri aku mendengarnya.

“Mengapa itu bisa terjadi,” kataku.

“Alam membalas. Siapapun, bukan, apapun akan membalas jika manusia mengusik mereka. Alampun begitu, ketika kesabaran sudah habis. Mereka akan membalas manusia.”

Tidak hanya hal buruk itu yang terjadi. Orang membicarakan badai, banjir dan amukan-amukan alam lainnya. Manusia satu-persatu dibasmi oleh alam seperti kecoak. Alam muak dengan kita.

 

*          *          *

 

Pada suatu malam, aku kedatangan tamu. Ketika itu aku tinggal di London. Tamuku adalah seorang pria terhormat, namanya Christoper. Di dunia kesatu ini ia adalah seorang aktor terkenal karena perannya sebagai penghisap darah bernama Drakula. Drakula itu begitu mirip dengan Vampir di duniaku. Bedanya Vampir di duniaku tidak menyerang manusia. Malah mereka bisa mati kalau minum darah manusia. Tentu juga mereka tidak mati karena sinar matahari dan bawang putih.

“Saya kagum pada anda Mr. Christoper,” kataku memujinya. “Anda menciptakan sosok vampir dengan sempurna.”

“Tentu saja, saya sendiri pernah merasakan hidup sebagai vampir,” kata Christoper tiba-tiba dengan enteng.

Mula-mula kukira dia bercanda, jadi aku tertawa. Tetapi ketika ia tersenyum dan memamerkan giginya. Aku baru menyadari kalau gigi taringnya lebih panjang dari manusia biasa. Itu adalah ciri bangsa Vampir. Aku terhenyak, dia adalah salah satu orang Seres.

“Jangan takut,” kata Christoper. “Aku tak bermaksud untuk membunuhmu.”

“Aku tak mengerti, mengapa kau kesini? Apakah karena…”

“Mimi, dia yang mengirimku kesini,” kata Christoper. “Ia memintaku untuk tetap hidup.”

Raut wajah Christoper tampak sedih. Raut muka kerasnya menjadi kelihatan menyedihkan.

“Bangsa Seres telah mati. Kami bertengkar satu sama lain. Half Vampire tak sudi dipimpin oleh Elf. Kaum kurcaci tak mau bekerja di dapur lagi, mereka ingin di medan perang. Manusia kami jadikan budak dan meski kita tahu mereka cerdas, tercerdas diantara kaum kami semua. Tak ada satupun kata-kata mereka yang kami dengarkan. Lalu, Goblin menyerang dengan pimpinan Ratu Salju. Kami tak bisa apa-apa. Mereka semua mesin perang dan tak peduli apapun kecuali memenangkan perang. Sementara kami semua terpecah belah. Hancur lebur. Tak sulit bagi mereka menghempaskan kita.”

“Lalu bagaimana?” kataku.

“Bagaimana? Kurasa kita hanya bisa pasrah. Mimi mengatakan bahwa ‘Dunia Keempat’ akan diselamatkan oleh empat orang manusia dari Dunia Kesatu pada suatu saat nanti. Tapi toh bisa saja dia hanya mencoba menghiburku sebelum aku pergi dengan portal itu.”

“Portal itu ya?” kataku. Aku terdiam beberapa saat. Mengenang masa-masa dimana aku melewati portal itu. Mulai dari awal ketika aku kehilangan ayah dan ibuku. Lalu Danh Ca, lalu Robert…”

“Aku ingin bertanya padamu,” kata Christoper. “Menurutmu mengapa Mimi menyelamatkan kita?”

“Menyelamatkan dunia kesatu, itu kata-katanya,” kata aku. “Tapi aku sendiri tidak yakin bagaimana tepatnya cara aku menyelamatkan dunia ini.”

“Ya,” kata Christoper. “Akupun begitu, tak tahu bagaimana cara menyelamatkan dunia ini. Meski aku tahu situasi sudah memburuk. Di sini aku malah jadi seperti bintang sirkus, bermain film dan mendapat ketenaran. Tapi aku tak puas!”

Kami berdua terdiam beberapa saat.

“Mungkin kuterdengar sok tahu,” kata aku. “Hanya saja aku memiliki sebagian keyakinan bahwa cara menyelamatkan dunia ini adalah dengan mengubah anak-anak di dunia ini. Aku ingin memberikan mereka mimpi untuk dikejar. Mimpi dimana mereka tak lagi memikirkan perang dan akan lebih memikirkan keindahan sebuah imajinasi.”

Christoper tertawa.

“Jadi aku memberi mereka contoh untuk menjadi seorang konglomerat haus darah,” kata Christoper. “Yang bisa terbang seperti kelelawar,” tambahnya.

“Tidak Christoper, Drakula hanya akan menjadi satu peran yang akan kamu mainkan. Kamu adalah aktor! Kamu bisa menjadi siapa saja dengan meyakinkan. Pilot, dermawan, pelukis dan pengarang, kamu bisa jadi siapa saja. Itu bakat terbesar kamu! Kamu bisa membuat anak-anak itu berpikir untuk bekerja sebagai apa saja kecuali berperang. Itulah bakat kamu sahabat aku. Atau, Siapa tahu, kamu akan membuat orang lain ingin menjadi aktor sepertimu.”

Christoper terdiam sejenak, hembusan napasnya bisa kudengar di telingaku.

“Kamu, apa yang mau kamu ciptakan?”

“Aku? Aku bukan aktor sepertimu. Aku hanya bisa menulis cerita. Maka aku akan menulis sebuah cerita. Sebuah cerita dimana aku akan menunjukan kalau orang Seres dan manusia bisa bekerja sama untuk satu tujuan. Cerita dimana keserakahan hanya akan membawa kehancuran. Kisah impianku ini akan menjadi inspirasi bagi manusia-manusia di sini.”

Tawa kecil keluar dari bibir Christoper.

“Menarik sekali kawan. Novelis. Sebuah pekerjaan hebat menurut aku.”

“Aku sudah punya draft novelnya,” kataku. “Sebentar, akan kuambilkan.”

Aku bangkit berdiri dari kursiku. Lalu berjalan ke kamar untuk mengambil naskah novelku. Tak lama aku kembali dengan setumpuk kertas tebal. Christoper menerimanya dan kemudian membaca-baca secara sekilas tulisanku. Beberapa kali aku melihat dia tersenyum. Nampaknya dia menyukai novelku.

“Kalau ada filmnya, aku akan main di dalamnya,” kata Christoper. “Menjadi penyihir jahatnya mungkin.”

“Boleh, kalau kamu memang mau,” kataku riang.

Christoper menumpuk kembali naskah novelku dengan rapi. Ia lalu menyerahkan novel itu kembali kepadaku.

“Kamu patut bangga dengan karyamu.”

“Aku tahu,” kata aku. Aku lalu melihat novel buatanku itu dan merasa sangat bersyukur. Rasanya aku seperti baru saja menjadi seorang ayah. Tatapanku lalu kuarahkan pada nama pena yang kupilih dan kutulis di halaman terdepan novelku. Nama itu adalah sebagian namaku di ‘Dunia Keempat’ dulu. Nama itu adalah pemberian keluargaku di sini. Keluarga yang mau menerima aku dengan hangat dan mengajari aku arti toleransi, persahabatan dan kebahagian. Nama itu adalah : John Ronald Reul Tolkien.


 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

62 Responses to Portal

  1. Darin Kowalski says:

    J.R.R. Tolkien!!

    *Father of Fantasy…*

    Secara teknis, memang masih ada typo *pengakuan jujur: di tempat saya juga ada*, tapi twist di akhirnya bagus! Suka! :D

    Salam kenal, dan silakan mampir di nomor 73~

  2. sungguh tak menyangka sembari jadi UCP bisa membuat karya. I really love the way you deliver your imagination into this cerpen. but If I can say, cerita nya seru dan tidak membosankan :”) ayo ayo buat lagi buat lagi :”)

    • ardi Pramono says:

      Hidup harus seimbang, seni adalah salah satu cara untuk melatih kreatifitas dalam berorganisasi. hehehehe

  3. Salita says:

    Wah, ini bagus sekali. Kekurangannya mungkin di masalah diksi. Beberapa kalimat terasa kurang padu, tapi itu nggak masalah, karena ceritanya tetap mengalir. Plotnya bagus. Sukses ya! :D

    • ardi Pramono says:

      Masih perlu banyak belajar sih Sal, lama gak nulis. Semoga ke depannya bisa lebih enak dinikmati cerpen gw, seenak Domino Pizza, masih anget. hehehe

  4. Putri D says:

    Kamu udah jadi President AIESEC Unpar masih sempet nulis, Di? Kagum aku :’) You’ll nail the competition lah :D

  5. Widy Dinarti says:

    Arrdiii!! ceritanya keren!!!
    ayo bikin cerita lagi! aku pengen baca :)

  6. david k says:

    good luck di.. semoga berhasil ya.. :)
    klo boleh kasih pendapat sih aq agak bingung sama ceritanya, agak kurang fokus.. tp okelah udah mencoba.. semangat kawan!! :)

    • ardi Pramono says:

      Makasih :) , maklum sudah lama gak menulis cerpen, hehehehehe. semoga ini awal untuk aku menembus K**pa* hohohohoho. Moga-moga udah tercapai sebelum saya lulus.

  7. kevin #23 says:

    Keep up your good work bro… try to be more creative for the idea and the storyline…

  8. Veve says:

    Bagus kok.. Serasa baca Narnia’s side story. Haha..
    alurnya juga gak keliatan aneh. Nyambung2 aja.
    Cuman mau kasih saran, gak tw ini saran penting apa gak.. di alinea 5, “….memetik Buah Naga, Pisang ataupun…” kalok yg bener bukannya buah naga, pisang, ataupun.. Jadi gak pakek huruf besar ya? (Maaf kalok komen-nya ada yang gak penting)
    Good luck! :D

    • ardi Pramono says:

      Kayaknya kesalahan Typo itu. hahahaha. Yang sering baca novel-novel fantasy kayaknya ngerti beberapa ‘jejak’ yang sengaja aku tinggalin.
      Hahahahahaha
      Makasih atas komennya :)

  9. Joseph G says:

    what a nice story brother…. :D

  10. Lydia Angelina says:

    Had fun reading the story. Goodluck with the competition! :)

    • ardi Pramono says:

      Makasih Lydia. Semoga salah satu keinginan saya untuk dapat penghargaan di bidang sastra bisa kesampean sekarang. hehehehe

  11. Lauren says:

    Gokiiill lu di! hahahaha.. overall gw suka ceritanya, maenkan fantasinya bho! hahahahaa..

  12. Benny Wijaya says:

    ceritanya keren di… pas baca serasa ada di sana.. kebawa suasana…
    terus berkarya kembangin lagi kreativitas mu…. good luck brooo

    • ardi Pramono says:

      Terima kasih, pujian anda adalah bensin bagi saya untuk terus berkarya. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi :)

  13. Alvin Gunawan Lunar says:

    Great story !! as usual, cukup galau, hehehe tapi menginspirasi dan membawa pesan kuat.. keep working !!

  14. ardi Pramono says:

    Kayaknya kelebihan gw adalah bikin orang galau yah ( atau dibikin galau? ) wakakakakakak, thanks yah by the way :D

  15. Bwahaha. This is daring. Bahkan saya tidak kepikiran untuk ‘mengisahkan’ Tolkiens begini.

    Ah, saya harus buru-buru beresin TLOTR dan The Hobbits yang sudah jenuh nunggu di rak -____-”

    Good luck! 3/5

    Silakan mampir ke 117!

  16. Salam kenal ya Ardi :D

    Terus terang waktu awal bacanya agak bikin bingung sih, kenapa ada orang namanya Robert dan tiba-tiba ngomong “Kamu harus hidup demi kami”. Setelah baca sampai beres, IMHO, lebih baik kalau peran itu diisi oleh Danh Ca, karena ternyata Robert kurang digali dengan jelas hubungannya dengan si tokoh utama dibandingkan Danh Ca.

    Btw, gw juga sempet bingung, Danh Ca itu nama cewe ya? Gw kira tadinya cowo. Haha. Setelah baca baru bisa ngebayangin dia cewe.

    Gw suka endingnya :D ini cerpen kedua fantasy fiesta 2012 yang pada bagian endingnya baru ketahuan tujuan adanya cerita ini adalah asal usul dari suatu benda / tokoh.

    Selain ada beberapa typo, mungkin overall sudah oke kok. Nice story :) Jangan lupa mampir ke lapak 244 kalau sempat ya.

    *Off-topic : Kamu mahasiswa Unpar yang di Bandung? Sepertinya ada komentator yang menyebut AIESEC Unpar.

    • ardi Pramono says:

      Terima kasih mas Alex,
      Masukkannya sangat berharga banget buat saya :D Sebenarnya nama Danh Ca ini adalah bahasa Vietnam. Untuk terjemahannya, mungkin bisa diterjemahkan lewat Google Translate ( Sebenarnya saya banyak iseng di cerpen ini, nama Danh Capun adalah salah satu bentuk keisengan saya ) hehehehehe

      Yap, saya mahasiswa UNPAR Bandung. Apakah anda juga mahasiswa di Bandung? :D

  17. Dini Afiandri says:

    Malam Ardi. Ceritamu bagus. Kamu menyembunyikan Narnia, Hobbit, dan sumber ide dari kisah fantasi yang ada dengan rapi sekali. Semula kau kira Christopher itu diambil dari Christopher Paolini, pengarang inheritance. Atau itu nama asli aktor yang memerankan Count Dracula? Apapun itu, ceritamu simpel, luwes, dan tegas. Juga rapi dalam teknik penceritaan. Enough said. Good Luck ya! :)

    NB: Mampirlah ke lapak 260. Nanti kusuguhkan “Sesuatu”! ;)

    • ardi pramono says:

      Terima kasih Dini :) Sesungguhnya ‘tribute’ memang menjadi salah satu bagian dari cerpen ini. Untuk pertemuan dengan Christoper, sebenarnya ini adalah bagian dari sebuah pertemuan bersejarah antara si ‘tokoh utama’ dengan seorang aktor. Kebetulan aktor ini adalah satu-satunya pemeran film dari novel si ‘tokoh utama’ yang pernah bertemu dengan ‘tokoh utama’ secara langsung. Siapa dia? Kayaknya dari cluenya sudah tahu siapa dia :D

      Baiklah, saya akan mampir nanti ke 260 :)

      • Fapurawan says:

        Christopher Lee, ya? Keren.

        Cuma sedikit canggung aja, dalam percakapan memanggil dengan Christopher, kan lazimnya menggunakan panggilan nama keluarga seperti Mr. Lee, gitu.

        (kebayang surat wasiat Tolkien: kelak kalau teknologi film sudah digital dan kolosal, saya berwasiat agar trilogi saya ini diperankan oleh seorang aktor bernama Christopher Lee. Sekian. Wkwkwkwkwk)

  18. 147 says:

    numpang mampir kak :)
    cuma mau tanya kak, knp dia nyasar ke afrika tp kok belajar bhs inggris? #plok x3
    lalu ttg 4 manusia ke dunia keempat itu narnia ya? xD
    keseluruhan ceritanya bagus kak, pesanya jg jelas :)

    • ardi pramono says:

      Hahahaha, kalo dibaca baik-baik, Afrika di sini adalah Afrika Selatan, yang mana waktu itu dijajah oleh Britannia raya alias Inggris. Dan sebenarnya, Afrika Selatan itu didominasi oleh warga kulit putih Inggris.
      Hmmmm, untuk yang soal Narnia atau bukan, itu kembali ke persepsi masing-masing aja :D

  19. narita amalia says:

    hmm, mngkin detailnya yg kurang, msalnya klo bangsa seres bs kekuatan batin seharusnya mereka bs mngejar tokkie mskipun smbunyi trus g mngkin danch bs smbunyi d lemari dg aman..

    klo sy ngebayanginnya org shabis d bius itu sush brdiri jd posisinya berbaring, krn emng g d sbutkn dia brdiri tp tb” perutnya d dorong msuk k lubang d pohon, agak bngung sh..

    biarlah mnusia d tmpat ini mati kata mimi kok mnusia d jdikan budak kt christoper? kn ktanya sdh mati smua brdsarkan omongan mimi?

    tehee, paling bgitu sh..
    tp jempol deh ide dan cara penulisannya meskipun agak g enak pas bilang kpunyaan dg ‘aku’

    knp g blg tmnku tp blg tmn aku, agak gmn gtu ehehehe

    smngat :D

    • narita amalia says:

      intinya, hrusnya smua mnusia gbs slamat soalnya kaum seres punya kkuatan batin apalagi mreka dndam sm mnusia..

      tp knp Tokkie slamat, bgitu paling =3

      • ardi pramono says:

        hmmm, pernah dengar genosida. Genosida itu pemberantasan ras. Jadi memang random begitu pembantaiannya, gak cuma mengincar Tokkie seorang di sini. Tokkie di sini kebetulan yang bisa lolos. Soal budak, yah tentu saja gak semua manusia dibunuh karena bangsa Serespun membutuhkan budak untuk perang ataupun keperluan lain mereka. Mati di sini gak cuma sekadar masalah kematian raga, namun juga kematian manusia dari kemanusiaannya ( maaf ya, agak filosofis, hehehehehe )

  20. aaaaa says:

    wah mantab bener.. dmn ngetransfer cerita yg suasananya perang dan dongeng.. menjadi kejadian di kehidupan nyata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>