Primata

PRIMATA

karya Chwilyswr

I

 

[Panen tawa dan jerit yang tak terhingga]

 

[Hiburan abadi untuk kebijaksanaan keji yang tidak pernah mati]

 

 

 

 

Malam ini terlalu panas. Walaupun akhir-akhir ini suhu malam memang meningkat, dengan pembakaran kuil-kuil Hydrus ini, panas bukan hanya pada udara, melainkan juga pada setiap gemuruh jantung pendeta dan pemeluk Hydrus. Yang pasrah, menjerit bisu, ketika tempat ibadahnya dilahap api. Ini keputusan pemerintah. Yang menentang diperbolehkan dibunuh. Beberapa sudah dibunuh. Beberapa dipaksa mengumumkan pembatalan imannya di alun-alun. Beberapa kehilangan kewarasannya.

 

Seekor primata tua. Janggutnya lebat, matanya satu. Berlumur air mata, ia meringkuk. Di dasar sumur yang kering; menggigil, memeluk patung kadal dengan erat. Terdengar liurnya. Primata itu melayangkan sederet kecupan terhadap kepala patung, juga menggesekkan ekor patung ke selangkangannya. Beberapa saat kemudian tangis rentanya terpotong dengan getaran nafasnya yang nyaring. Dia tergolek becek. Punggung melengkung. Primata tua itu merintih serak, “Hydrus kasihku ….”

 

Di luar sumur tempat primata itu bersembunyi, kuil agung Hydrus meluluh terpesona lenggak-lenggok api. Ada seseekor primata tua bertelinga satu sedang berlutut. Ia mengerang sambil menyebut-nyebut nama milik dia yang bersembunyi di dalam sumur. Primata telinga satu itu meracaukan masa lalu; kisah kasih terlarangnya dengan si mata satu. Ketika dahulu mereka dijadikan kambing hitam atas ketidakhadiran Tuhan Hydrus dalam mencegah bencana baskara.

 

“Kita sesungguhnya sama! Aku ingat perbincangan kita dahulu, bagaimana kita sama-sama mengejek bentuk Tuhan kaum Attaksi, dan bagaimana menurut kita konsep keimanan kaum Tottekon sangatlah konyol. Kita dahulu sama-sama menolak ratusan Tuhan lainnya kecuali Hydrus. Hanya kini berbeda jumlah satu. Tinggalkan kadal itu demi masa depan kita!”

 

Kefrustrasian si primata telinga satu itu kemudian diakhiri dengan sebuah raungan yang berupa pertanyaan. Sementara itu samar-samar mendengar suara si telinga satu; si mata satu kemudian secara tidak sadar juga menyerukan sebuah pertanyaan yang sama.

 

 

 

 

D  I       M  A  N  A       K  A  M  U

 

 

 

 

Jeritan yang padu; dalam kesengsaraan sejenak; senyaman secercah benak;  merangkak dan mencakar rahim; dari dalam dan luar. Di kejauhan, harmoni itu menggelitik telinga raksasa seekor proboscida. Proboscida itu menutup mata erat-erat. Mencoba mencegah air mata lepas. Karena ia tahu, air mata itu begitu beracun dan akan menyebabkan gadingnya lemas.

 

Saling mendengar; saling menilai. Dari intonasi suara saja sudah cukup bagi mereka untuk mengambil kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa diperbaiki. Dahulu, setelah hubungan sesama kelamin mereka dikecam, si telinga satu diusir dari tempat itu, lalu pergi menjadi relawan ilmu alam di Keadirajaan Antariksa. Sementara si mata satu tetap di tempat, melanjutkan pembersihan dosa; berbakti kepada Hydrus. Kemudian ketika pada akhirnya mereka bertemu kembali, si telinga satu menawarkan seperangkat ilmu alam untuk meringankan dampak bencana baskara, dengan syarat dihancurkannya Kuil Hydrus.

 

Maka sesungguhnya, mereka sama-sama sedang memanggil Sang Kuasa. Si mata satu kepada Hydrus; si telinga satu pada takhayul.

 

Yang memuntahkan benci berlalu pergi, yang di dalam sumur kemudian mendengkur.

 

Bagi primata yang mampu bersyukur atas dicongkelnya mata sebagai pengampunan dosa dari Tuhannya. Bukankah lebih baik mati daripada sekadar tidur dan bermimpi? Bagi primata yang mabuk cinta hingga terpercik mani kepada patung Tuhannya. Bukankah lebih baik berjumpa Hydrus di Telaga Pelangi daripada kembali ke dunia ini hanya untuk menatap kerusakan para pendosa? Kasihan. Ia hanya tertidur.

 

Ia mengira hujan turun. Terbangun karena takut tenggelam. Meraih tambang hendak memanjat. Kepalanya mendongak. Menatap wajah raksasa di atas sana; mengintip, menyeringai. Wajah itu menangis. Air mata sedingin es menetes deras membasahi si mata satu. Lidah putih bergerigi melayang turun hingga dasar sumur; tepat di hadapannya. Makhluk itu adalah Sang Panglima Kadal Putih, seekor penyampai wahyu Hydrus. Terperangkap euforia, ia memeluk lidah, dan naik. Menyambut wahyu yang disampaikan makhluk gaib itu; wahyu itu memberinya arahan untuk mengungsi jauh ke pegunungan Tereram. Di sana akan terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang nantinya akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga.

 

Sekarang si mata satu ini harus berhasil dahulu melalui perjalanan sukar. Di mana banyak pemerintahan telah takluk kepada tuntutan Keadirajaan Antariksa untuk memburu primata-primata sepertinya, yang dicap sebagai ahli takhayul, ahli pemecah belah primata.

 

Pada suatu persinggahan di penginapan,  jikalau ia tidak pergi sejenak ke luar untuk memperhatikan purnama, maka mungkin ia sudah menjadi daging hangus; kamarnya dibakar. Lain hari, pada suatu perjamuan dengan kerabatnya, jikalau ia tidak bersin dan menumpahkan minuman dan melihat tikar menjadi berlubang karena airnya, maka mungkin perutnya yang akan berlubang. Puji Hydrus! Pengalaman-pengalaman itu mendorongnya untuk memilih jalur alam liar dan tidak percaya kepada siapapun. Hanya percaya kepada Hydrus. Ia selamat. Syukur.

 

Terik lagi dingin. Tinggi dan berkabut. Kadang terjal namun lebih sering landai. Perjalanan ini hampir sampai. Dengan satu matanya, ia melihat terlalu banyak primata. Ganjil. Pegunungan  Tereram bukanlah target wisata. Untuk mencapainyapun harus melalui perjalanan yang sulit. Lalu kenapa? Tiba-tiba perhatiannya teralih kepada patung Attaksi yang menyembul dari balik ransel seseekor primata di depannya. Imannya tergelitik hingga ia muak. Entah kenapa, tanpa sadar ia menyiapkan kuku panjangnya,  hendak membunuh pendeta Attaksi di depannya. Sebelum dirinya bertindak, terdengar derapan kaki. Ia menoleh ke belakang.

 

Seekor primata.

 

Ekspresinya sama bengis dengan dirinya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di sini terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai, jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga. Sungguh sayang, rupanya si pendeta Hydrus bermata satu itu tidak berhasil sampai untuk turut menyaksikan mukjizatnya. Hanya gambaran bilah pisau berlambang Tottekonlah yang menghiasi akhir nyawanya yang sia-sia. Oh tenang. Tidak perlu khawatir. Si mata satu bukanlah satu-satunya pendeta Hydrus yang digiring ke sini. Hydrus juga bukan satu-satunya sistem ketuhanan yang diundang ke sini. Masih ada banyak lagi.

 

Mukjizat ini diawali dengan acara mutilasi manusia oleh pendeta dari berbagai ketuhanan! Dari para pendeta Hydrus, dengan kuku panjang mereka yang mampu mencongkel bola mata dan menggunting telinga, hingga kapak kebanggaan pendeta-pendeta Pomutop yang mampu membelah batok kepala dengan sekali ayun! Ketika hanya tersisa satu pendeta dari masing-masing ketuhanan tersisa. Baskara ditutupi oleh makhluk raksasa hitam. Dengan kepala penuh berisi takhayul, para pendeta yang terpesona, yang ketakutan, yang kebingungan, segera memohon-mohon. Dalam pandangan mereka tergambarkan bahwa Tuhan mereka akan segera turun memberikan pertolongan.  Mahkota baskara yang seperti tirai seakan tumpah kepada mereka. Turun dan menjelma awan-awan cemerlang. Bergulung-gulung. Banyak terlihat makhluk mitos berenang-renang di dalamnya. Lalu ketika semuanya buyar …

 

 

 

Ribuan halilintar.

 

 

 

Ribuan bayi Tuhan jatuh ke pelukan para pendeta.

 

 

 

Awal dari ribuan kebangkitan.

 

 

 

 

II

 

[Saya berpartisipasi dalam pestanya]

 

[Dengan memimpin Antariksa menuju kecemerlangan nurani]

 

 

 

 

 

Telinga ini perih mendengarnya. Dada ini bergemuruh dengan amarah. Namun saya berhasil meredam murka; memerintahkan sang pelapor berita pergi dari hadapan saya dengan tutur kata sepantasnya. Saya duduk sejenak di singgasana. Memejam. Mengatur embus. Tenang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk beranjak menuju kekasih saya. Atau lebih tepatnya, tawanan saya.

 

Dia berada di taman. Mengendus bunga-bunga rekayasa yang sedang saya teliti. Menoleh kepada saya. Tajam dan ceria tatapan hijaunya. Dia tahu saya hendak mengadu lagi. Tangan saya diambilnya. Dia menuntun saya. Perlahan melangkahi rangkaian batu pijak. Hingga sampai pada teratai raksasa di tengah kolam; tempat kami biasa bercinta. Dia berbaring. Saya di atasnya. Meremas. Melumas. Menggilas.

 

Semanis itu memang tingkahnya. Namun sesungguhnya dia tidak pernah menjadi kekasih saya. Dia selalu menolak tawaran menjadi permaisuri. Saya juga selalu berusaha membuahinya, menginginkannya melahirkan anak-anak saya. Namun tidak pernah berhasil, entah cara apa yang dia gunakan. Akalnya memang luar biasa. Sedari dulu, sejak pertama kali saya menawannya, dia selalu mampu memberi saya jawaban bijaksana atas segala kesulitan saya. Berkatnya juga, saya akhirnya mampu naik tahta beberapa tahun lalu. Namun semakin saya mengagguminya, membuat dirinya seakan terlalu jauh dan tak terjangkau. Saya merasa tak pantas. Tak mungkin menyandinginya. Apalagi menjadi kekasihnya. Saya hanya bisa menawannya dan merenggut perilaku permukaannya. Dan kali ini. Sekali lagi saya merasa sangat rendah. Begitu lemah. Saya mengadu. Kepada sosoknya yang terlalu istimewa bahkan untuk seprimata Adiraja.

 

Saya ceritakan kepadanya. Pengkhianatan. Kekacauan. Penggulingan. Kebangkitan takhayul besar-besaran.   Impian, upaya keras saya menyatukan primata dengan cara menghapus kepercayaan-kepercayaan yang membuat mereka selama ini berselisih dalam damai maupun perang sedang terancam. Genting. Oleh sulap tidak wajar. Meraganya Tuhan-Tuhan mereka ke dalam bentuk fisik yang dapat dilihat disentuh dan disembah secara langsung. Beruntung kekuatan mereka tidak sekuat apa kata kitab-kitab, namun tetap saja, hal itu memberikan motivasi besar bagi mereka untuk merdeka dari Keadirajaan Antariksa.

 

Dan pada saat saya bercerita tentang hal ini, ingatan tentang masa lalu tawanan saya ini merasuk. Dia adalah salah satu korban takhayul. Dia dan keluarganya merupakan pemeluk Amudabi yang tinggal di antara para penganut Sasakhva Talis untuk berbisnis. Pada awalnya ia dan keluarganya mampu hidup damai di antara mereka karena sikap yang ramah dan kedermawanan yang cukup. Namun ketika segelintir pemeluk Amudabi garis keras melakukan peledakan kuil Sasakhva Talis tak jauh dari situ. Masyarakat Sasakhva Talis yang akalnya ditutupi kabut rasa takut, mulai memusuhi keluarganya yang tak terlibat apapun. Rumah mereka dilempari batu. Masih usia sekolah, dia dan adik-adiknya kehilangan teman bermain. Dihujat, dikencingi. Ayahnya menuntut keadilan kepada pemerintahan setempat namun sia-sia. Itulah. Salah satu motivasi saya menginvasi negara itu dan juga negara-negara lainnya, yang membiarkan hukum-hukum mereka dikangkangi sentimentalisme sesembahan. Ketika tanpa bukti, takhayul-takhayul itu sudah begitu berbahaya, bagaimana sekarang? Ketika bayi-bayi Tuhan mereka meraga? Mengerikan.

 

Sesaat pikiran saya mengawang kepada masa depan yang runyam. Terusik pikiran ketakutan luar biasa. Bagaimana jika bayi-bayi itu tumbuh dewasa? Lalu memiliki kekuatan seutuhnya seperti Tuhan-Tuhan pada kitab mereka? Tentunya mereka akan saling tuduh bahwa pihak lain adalah iblis atau pendosa atau penyihir atau semacamnya lalu hendak saling menumpas dengan dukungan sulap-sulap mengerikan? Kehancuran macam apa yang akan mereka bawa kepada dunia ini?

 

Jemari selembut kapas menarik leher saya turun. Lidah kami bertautan. Air liurnya terasa manis. Aroma yang terpancar dari tubuhnya sungguh memabukkan; lebih harum daripada bunga-bunga di taman ini. Tidak pernah sesaatpun dirinya membosankan.

 

“Wahai Adiraja. Momentum yang Yang Mulia dahulu manfaatkan sesungguhnya masih dapat diandalkan.”

 

“Dahulu saya berhasil memanfaatkan bencana baskara itu untuk membeli takhayul mereka dengan teknologi, namun sekarang apa daya? Bayi-bayi Tuhan mereka itu sungguh sakti mandraguna, dan mampu mengatasi dampak bencana baskara tanpa perlu teknologi saya lagi.”

 

“Kombinasi teknologi dan niat mulia. Itulah momentumnya.  Ayolah, ditambah dengan satu buah momentum lagi, Keadirajaan Antariksa ini tak akan dapat dihentikan.”

 

“Apa itu oh Adinda? Berikanlah petunjuk kepada saya yang tak berdaya ini.”

 

“Takhayul. Oh bukan. Tapi iman. Kepercayaan tak tergoyahkan kepada Sang Kuasa. Manfaatkanlah itu.”

 

“Saya tidak mengerti dengan apa yang Adinda sampaikan. Jelaskanlah.”

 

“Sesungguhnya, bagaimanapun Yang Mulia dan primata-primata Antariksa menolak sosok-sosok Tuhan sebagai sekadar takhayul. Keinginan untuk ditolong, keinginan untuk dibimbing, keinginan untuk bergantung, kepada sesuatu yang memiliki kekuasaan tanpa batas tidak akan pernah sirna dari jiwa-jiwa seluruh primata. Maka manfaatkanlah momentum mukjizat itu. Percayalah. Bangunlah sebuah iman yang kuat dan cemerlang. Lahirkan kepercayaan yang membawa harapan akan perubahan. Bukan ketakutan kepada bermacam-macam neraka dan keinginan nafsu terhadap bermacam-macam surga. Ciptakanlah tuntunan baru dengan gaya Antariksa.”

 

“Tidak mungkin ….”

 

“Mungkin? Pasti.” Pipinya menyentuh pipi saya. Setelah mengunyah telinga, kemudian ia menjilat bahkan meneguk tetesan yang membanjiri pipi saya, memburu hingga pangkal kelopak mata.

 

“Air mata ini, apakah mereka berbohong? Ini adalah ungkapan kerinduan jiwa primata kepada Tuhannya. Sejauh apapun primata mencoba mengisi kerinduan itu dengan mukjizat teknologi, sebuah konsep Sang Kuasa yang penuh misteri itu tidak akan tergantikan. Percayalah. Hamba yang lemah ini. Yang sedari remaja menderita karena sesembahannya, tidak pernah mampu menghilangkan rasa ketergantungan, kerinduan itu.”

 

“Akankah Tuhan mengampuni saya?”

 

“Yang Mulia akan diadili oleh Tuhan seadil-adilnya. Memohonlah. Lalu pimpinlah primata.”

 

“Bagaimana?”

 

“Janganlah terlalu manja. Lihatlah kebelakang, kenapa negeri ini dahulu dinamakan Antariksa? Itu karena para leluhur Yang Mulia memiliki ketertarikan luar biasa dengan Antariksa. Sebagian besar sumber daya negeri telah dihamburkan dengan proyek-proyek Antariksa. Kaitkanlah dengan bencana baskara, kehadiran Tuhan, dan Antariksa.”

 

Termenung saya dibuatnya. Masih memeluknya di atas teratai, pikiran saya melanglang buana …

 

“Terima kasih,” gumam saya sembari mengecup kedua matanya.

 

Saya mengerti. Keputusan telah tercipta. Maka sudah waktunya saya berpisah dengan sosok surgawinya dan kembali menghadap dunia buruk rupa ini demi menyelamatkan primata, dan menuntun mereka dengan iman Antariksa.

 

Mekanisme mukjizat. Pertama, saya harus benar-benar yakin dahulu. Yakin. Percaya. Membarengi kepercayaan itu dengan antisipasi sebab akibat kedepan. Dan saya tidak mau dijatuhkan bayi Tuhan dari langit. Saya tidak mau semudah itu. Saya mau bimbingannya. Bukan jalan pintas.

 

Meragalah wahai iman!

 

***

 

Sampaikanlah kabar gembira ini kepada primata, bahwa mereka diwajibkan untuk meninggalkan takhayul, sihir, dan pemujaan-pemujaan. Dan adalah hak bagi mereka untuk bersembahyang kepada diri mereka sendiri secara kesatuan kebersama, mandiri berkembang, belajar dari kesalahan, dan mengupayakan perbaikan peradaban.

Sesungguhnya mereka diciptakan bukanlah untuk sekadar kembali kepadaKu dengan cara yang singkat. Bukan dengan menyiksa diri. Bukan dengan berkhayal akan kesenangan abadi setelah mati. Bukan dengan berkhayal disiksa selamanya dengan keji setelah mati.

Jikalau ada di antara mereka yang khawatir tentang kesudahan setelah mati. Sampaikanlah, tidak ada ancaman, hanya akan ada keadilan. Akan Aku pastikan bahwa segala kematian dan peninggalan kehidupan mereka, baik atau buruk, akan menjadi suatu manfaat pembelajaran dalam perbaikan peradaban mereka secara padu.

Maka janganlah mereka ragu!

Mereka diciptakan untuk berjuang dengan nyata mencari jalan bangkit dari keterpurukan. Bencana baskara hanyalah satu dari banyak pembelajaran. Dan ketika mereka berhasil meninggalkan planet yang perlahan terbakar baskara dan tertelan takhayul. Maka itulah pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman. Mereka mampu.

Untuk menguasai Antariksa!

Untuk mencari diriKu secara fisik!

Sesungguhnya mereka telah Aku karuniai dengan nurani dan logika yang cemerlang. Maka ini bukanlah perkara sulit atau perkara mudah, melainkan perkara iman dan usaha. Dan Aku akan senantiasa memberi petunjuk keberadaanku yang pasti kepada setiap langkah perbaikan diri mereka.

Aku selalu menanti mereka dengan tangan terbuka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III

 

[Planet ungsi yang pertama]

 

[Kamu berada di antara yang hingga dan hanya hingga kali ini]

 

 

 

 

 

 

Ketika kamu pertama kali menatap gulita tanpa kompromi ini dan menatap tempat asalmu yang kecil; kamu menggigil. Sensasi ketakutan bercampur aduk dengan rasa kepahlawanan. Sebagai penganut iman Antariksa, kamu benar-benar tergugah dengan seberapa dahsyat tantangan Tuhan untuk kaummu menaklukan Antariksa. Dan kamu ada. Kecil meronta. Mencoba menggigit dunia dengan sekuat-kuatnya. Mampukah kamu menciptakan luka?

 

***

 

Tidak mudah. Sangat sukar. Saat wahyu-wahyu suci pertama disebar dulu, kamu harus melalui banyak rintangan untuk membuang yang lama, demi memilih iman Antariksa. Rintangan terbesar sendiri datang dari kepalamu. Kepalamu yang takut dicemplungkan ke dalam air mendidih ketika mati nanti. Kepalamu yang sudah terbiasa melantunkan tembang-tembang Pomutop Sang Esa. Kepalamu yang akan segera menjadi target kapak para pendeta jika berpindah kepercayaan.

 

Setelah yakin. Berhasil mengungsi diam-diam ke Keadirajaan Antariksa, kamu berharap segalanya akan lebih tenteram. Namun karena tiba-tiba dari seluruh dunia terbentuk pasukan persekutuan yang menyerbu Keadirajaan Antariksa; kamu terpaksa harus angkat senjata. Perang itu menyebabkan kamu kehilangan tangan kiri. Sebelum kamu dan banyak primata kehilangan lebih banyak lagi, perang itu terhenti akibat bencana baskara yang semakin parah. Suhu meningkat tak terkendali.

 

Tidak ada lagi malam hari yang sejuk. Angin yang berembus pada subuh dan senja juga sudah mampu membuat unggas menjadi gila. Bongkahan es dunia habis lumer. Banjir melanda yang rendah, sementara yang tinggi dan kering menderita kebakaran. Tak ada harapan. Teknologi dan sulap-sulap mulai tidak sanggup menanggulanginya. Segala sumber daya Keadirajaan Antariksa dialihkan ke proyek Bahtera Surya dan proyek Planet Ungsi. Kamu. Yang kecil; bodoh; berlengan satu. Bekerja sebagai buruh mati-matian. Kamu ingat bagaimana kamu sembilan kali jatuh pingsan saat bekerja. Bangga akan kontribusimu ketika akhirnya Bahtera Surya berangkat menuju Planet Ungsi.

 

Mengarungi gulita yang jelita.

 

Pendaratan cukup mulus. Walaupun kamu sempat terkejut ketika Bahtera Surya tiba-tiba terpisah-pisah menjadi ratusan bagian. “Untuk mengurangi benturan,” Kata seekor primata yang tampak cukup pintar. Ternyata Planet Ungsi ini tidak sepenuhnya baru bagi Keadirajaan Antariksa. Leluhur mereka, dalam berbagai generasi sudah sangat tertarik dan terus berusaha membuat Planet Ungsi ini menjadi layak ditinggali bagi primata. Hasilnya adalah setidaknya seperempat Planet sudah layak huni. Primata pintar tadi juga menjelaskan kepadamu bahwa dahulu Planet Ungsi ini sama sekali tidak memiliki lapisan langit dan awan, bahkan tidak ada air yang dapat digunakan untuk kehidupan kecuali bongkah-bongkah es raksasa.

 

Upaya gigih leluhur membuatmu terpukau. Meskipun tentunya, masih banyak tantangan alam yang harus ditaklukan … Maka apakah yang dapat diperbuat buruh sepertimu? Banyak! Kamu masih muda. Masih bisa belajar untuk meningkatkan kapasitas!

 

Memperhatikan peradaban perlahan berkembang. Kamu yang juga semakin cemerlang, merasa lapar. Perutmu seakan ingin terus diisi pengakuan orang-orang. Kamu ingin penting. Kamu ingin berkuasa. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu lari dari Keadirajaan dan bergabung dengan para kapitalis bawah tanah? Kenapa kamu menipu? Kenapa kamu merampok? Kenapa inovasi-inovasimu busuk? Kenapa kamu melihat Planet Ungsi yang masih luas dan kosong ini sebagai ladang uang dan kesejahteraan pribadi?

 

Ketika nuranimu membisikkan fakta bahwa kamu itu masih kecil dan bodoh, kamu selalu panik, mencoba mengatasinya dengan membuka isi dompet, menatap brankas, dan memeluk betina-betina; mencoba meyakinkan diri bahwa kamu besar dan pintar. Kamu juga semakin jauh meyakinkan diri, bahwa tindakan-tindakan rakusmu saat ini akan menjadi pelajaran; bagaimana primata bisa sejahtera dengan merdeka dan berwirausaha dan merampas melalui inovasi-inovasi fungsi finansial turunan.  Tindakanmu yang paling keterlaluan adalah ketika pada saat kamu sudah benar-benar merasa mampu memberi gigitan pada Antariksa dengan melanggar peraturan-peraturan penting terkait keberlangsungan Planet Ungsi.

 

Kamu membangun Bahtera Surya pribadi; menggunakannya untuk ekspedisi tanpa izin ke bagian Planet Ungsi yang terlarang. Ha! Setelah ekspedisi itu gagal total, dan Bahteramu kembali dengan tangan kosong, kamu hanya berpikir, hal ini wajar, kerugian dalam spekulasi itu wajar. Namun beberapa saat setelah itu kamu mati.

 

Tahu kenapa kamu mati?

 

Bahteramu membawa wabah.

 

Wabah itu kemudian menyebabkan kematian massal primata.

 

Secuil rakusmu nyaris membawa satu peradaban pada kehancuran!

 

 

 

 

 

***

 

BUKAN YANG DIMAKANNYA

 

BUKAN YANG DIMINUMNYA

 

BUKAN YANG DIHIRUPNYA

 

BUKAN YANG DIPAKAINYA

 

BUKAN YANG DIANUTNYA

 

SUNGGUH SEJELEK-JELEKNYA SESUATU ADALAH PADA SIFAT-SIFAT MAKHLUK ITU SENDIRI

 

PRIMATA! TERUSLAH BERKHAYAL!

 

KALIAN TETAPLAH PRIMATA RENDAH!

 

 

[Semangatlah, oke? Satu dua kali bencana enggak akan buat kalian putus asa bukan?]

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

128 Responses to Primata

  1. Makasih Kak Dedek ___<
    5. Banyak-banyaklah berprocrastinate dek :v
    6. Itu spasinya enak-enak aja dibaca di msword kok. Di sini rasanya jadi ilang hmm.
    7. Gimana caranya???

    • what nomor 1-4nya kok ilang?!?!

      1. Ternyata typonya memang masih bersisa Q__Q
      2. Penulis Nasional? Apaan tuh? *ngakak* aduh sarkasmenya kelewatan untuk serabut ketek yang tidak paham sama struktur kalimat.
      3. Saya masochist kok dek. Gak perlu ngasih kandang. Biar saya dicakar dengan nikmat saya tamat.
      4. Terlalu tell, terlalu mengarahkan. Iya maap. Ini curhatan soalnya >___<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>