Provectus

PROVECTUS

karya Vectus

Kisah Lama Fatum adalah kisah yang terjadi hampir dua ribu tahun lalu di sebuah kota kuno bernama Dignus. Di kota itu datang sekelompok makhluk menyerupai manusia yang memiliki kemampuan aneh yang berbeda-beda, mereka disebut Provectus. Mereka juga membawa sebuah batu putih yang mempunyai kekuatan untuk menenagai kota yang akan mereka bangun.

Dituliskan para Provectus adalah buangan dari Dunia Atas, lalu mereka datang ke bumi dan berlaku semena-mena dengan kemampuan mereka, singkatnya mereka bagai ‘supervillain’ masa lampau. Tapi aku adalah Provectus, bukan berarti aku ‘supervillain’.

Hanna, Raf, dan Aku berdiri tercengang di depan sebuah pintu besi besar. Tingginya hapir dua kali tinggiku, permukaannya terpoles sempurna dan mengkilap, dan terdapat lambang sebuah bank swasta kecil di ukir di tengahnya. Tidak ada tanda-tanda sebuah pegangan pembuka pintu untuk membukanya, hanya ada sebuah benda elektronik berbentuk persegi tertanam di tembok sampingnya.

“Wow…” Hanna terkesima sambil menaikkan tangannya ke mulutnya. Terlihat cat kukunya yang berwarna ungu mengkilap, mataya yang sedikit sipit membelalak kaget, dan rambutnya yang keriting kecil diikat ke belakang.

“Beratnya pasti sejuta ton” bisik Raf yang juga terkesima mengeluskan tangannya berkali-kali ke kaos hitamnya yang bertulisan ‘Java Rockinland 2012’ menghapus keringat. Hanna memperkenalkannya padaku beberapa tahun lalu, aku rasa kita bertiga bisa aku bilang sahabat.

“Sungguh terlalu” ejekku meremehkan pintu menakutkan itu.

Aku mengulurkan telapak tanganku ke arah pintu itu, lalu menarik napas dalam-dalam.

“Sungguh terlalu jika kau serius berpikir bisa mengendalikan benda sebesar itu” balas Raf serius. Aku mulai berpikir, bisakah aku?

Di Kisah Lama Fatum diceritakan tentang para Provectus melawan rakyat Dignus dan para tentara pada zaman itu, Militis. Para Provectus membangun kota di atas tanah tandus yang biasanya digunakan untuk para rakyat Dignus untuk melakukan ritual, saat para rakyat mulai murka mereka membakar Kiros, kota bangunan Provectus dan mencuri batu putih suci milik mereka. Aku selalu bertanya-tanya, Apa ada korban di kebakaran itu? Tapi hal mengenai itu tidak disebutkan di dalam Kisah.

 

Raf menyentuh layar alat elektronik yang berdekatan pada pintu itu, lalu meraba-raba sekitarnya untuk sebuah tombol. Sesekali tangannya mengelus rambutnya yang dicukur menjadi tipis. Bahkan setelah Hanna membuka komponen-komponen alat itu, masih tidak ada gunanya.

“Mungkin pintu ini dibuat untuk seorang Provectus” gumamku kurang percaya diri. Mereka berdiri di belakangku tanpa kata.

Aku ulurkan tanganku lagi dan kugerakkan jari-jariku pelan-pelan dan pergelanganku lebih pelan lagi sambil berkonsentrasi untuk membayangkan robohnya pintu itu.

Lapisan luar yang mengkilap itu sekarang mulai menekuk nekuk di pinggirannya, mengeluarkan suara besi dengan besi yang nyaring. Lalu lama-kelamaan berubah menjadi besi yang terlipat-lipat ke dalam. Terlihat seperti besi itu bergerak sendiri, tapi sebenarnya aku yang mengendalikannya.

 

Saat Kiros dibakar, pemimpin Provectus yang hidupnya lama karena memiliki kemampuan kebal terhadap senjata membunuh para pembakar Kiros. Kemudian Dignus dikepung oleh para Provectus hingga terjadi kelaparan di pihak Dignus. Lalu seorang anggota Militis dengan berani menusuknya dengan pedang tembaga, dan berhasil membunuhnya. Setelah mengetahui kelemahan Provectus terhadap tembaga, Militis berhasil mengalahkan pendudukan Provectus dan mengusir mereka dari Benua mereka.

 

Aku menjatuhkan hasil ‘karyaku’ yaitu berupa bola kusut besi besar yang terlipat-lipat ke dalam. Lalu terlihat lapisan tembaga di pintu itu dengan lambang pedang dan obor yang bersilangan lalu di belakangnya terdapat huruf ‘M’ besar yang ditumpuki oleh kedua lambang. Militis.

Napasku tertahan karena ketakutan. Sebelum aku bisa berlari ke pintu keluar, tidak sampai beberapa meter aku baru melangkah sepasukan orang-orang berseragam hitam atas hingga bawah lengkap dengan pelindung menyergap dan meringkusku. Aku tidak bisa menolehkan kepalaku ke arah Raf atau Hanna karena ada dua orang Militis menahanku ke lantai.

Kugerakkan jari-jariku yang masih bebas ke arah sebuah pistol yang terikat di pinggang salah satu Militis. Tanpa perlu meyentuhnya aku tembakkan ke arah seorang Militis lain, tanpa aku sengaja peluru itu tepat mengenai lehernya yang tidak berpelindung.

Terasa cengkeraman salah satu Militis yang meringkusku perlahan mulai merenggang. Dengan kesempatan itu, aku membebaskan tangan kananku dengan paksa. Kemudian aku pecahkan semua lampu di ruangan, bahkan lampu-lampu di ujung senjata api mereka.

“Hanna! Raf!” aku berharap mereka bisa mendengarku. Aku tahu mereka cukup pintar untuk tahu sekarang saatnya lari.

 

Beberapa tahun setelah Provectus diusir dari Benua dimana Dignus berdiri, muncul sebuah ramalan. Ramalan itu kemungkinan berasal dari peramal kerajaan yang menamakan dirinya sendiri Ambitus. Ambitus kemudian menghilang setelah ia meramalkan tiga bait.

-Para buangan dunia lain itu, Provectus akan bersembunyi di antara orang-orang pulau.

-Seorang darinya dapat menggerakkan tanpa menyentuh akan mengambil batu putih itu karena benda itu memanggilnya saat dekat.

-Jika selesai ia mengambilnya, akan bangkit semua yang bersembunyi untuk membalasmu.

Militis akan melakukan apapun semampu mereka agar ramalan-ramalan ini terwujud, seperti mengambil anak-anak Provectus dan menghilangkan kemampuan mereka agar tidak terjadi kebangkitan. Dan menyembunyikan Batu Provectus agar tidak diambil. Aku dengar desas-desus tentang Militis diam-diam membunuh para Provectus yang bisa menggerakkan tanpa menyentuh. Itu adalah kemampuan Provectusku, Apa aku satu Provectus yang disebut di ramalan Ambitus? Tidak mungkin, bisa saja orang lain.

 

Lima tahun yang lalu;

Aku dan kakakku, Lina sedang berjalan ke sekolah, lalu sebuah mobil mengikuti kita. Lama kemudian pintu mobil itu membuka. Lalu Lina menggenggam tanganku erat-erat.

Tiba-tiba sekitar kita berubah menjadi sebuah pantai yang pasirnya bahkan bukan pasir sama sekali, melainkan tanah yang lembek menjadi lumpur, melengket di sol bersih sepatu baruku. Berpindah tempat adalah kemampuan Provectusnya. Lina lalu menjelaskan tentang Teleportasi dan Provectus. Teleportasi adalah kemampuan berpindah tempat dengan kekuatan non-fisik.

Aku tak ingat bagaimana Lina bisa menemukan pasangan suami-istri Provectus, sepertinya mereka kenal orang tuaku. Pada saat itu aku tidak tahu apa-apa tentang Provectus, Militis, Kisah Lama Fatum, Batu Provectus, atau apapun yang berhubungan dengan mereka. Aku bahkan tidak tahu aku adalah Provectus karena pada waktu itu kemampuanku belum muncul.

Pasangan itu merawat kami untuk beberapa minggu. Tapi sejak itu aku tak pernah bertemu orang tuaku lagi, terlalu berbahaya untuk mecari mereka.

Kami bersembunyi di antara orang-orang biasa, begitu juga para Militis dan sekutu-sekutunya. Dunia yang sekarang terlihat normal tanpa diketahui secara umumnya Provectus, Militis dan segala yang berhubungan dengannya. Dan Kisah Lama dianggap sebagai mitos punah.

 

 

Suara teriakan-teriakan dan dilepasnya pengaman di pistol-pistol Militis menjingkatkanku dari lamunan. Terdengar suara dentuman keras dari kejauhan lalu menyala lampu darurat berwarna merah

Aku melayangkan pistol-pistol para Militis itu hingga menyentuh atap. Lalu aku jatuhkan ke kepala-kepala mereka.

Aku tahu jika aku mencoba lari sekarang, usahaku akan sia-sia karena mereka sekarang mengepungku rapat. Mereka akan menaikkanku ke dalam truk yang di dalamnya akan dijaga beberapa orang Militis.

Seorang pria mendesak-desak antara para Militis ke arahku. Ia berdiri di depanku tanpa kata. Ia memakai kemeja abu-abu, bukan seragam hitam Militis, tingginya hampir sama denganku hanya sedikit lebih tinggi beberapa sentimeter, dan matanya yang lebar dengan kantong mata dan kerutan di bawahnya memandangiku dingin. Aku merasa mengenalinya, lalu rasanya seperti tersedak saat aku ingat siapa dia.

 

Satu malam aku menyelinap keluar dari rumah pasangan yang merawatku dan Lina untuk melihat bintang jatuh bersama anak tetanggaku, tetapi dia tidak datang untuk melihatnya denganku.

Sebuah mobil berhenti di depanku, lalu seorang pria menarikku ke dalamnya sebelum aku bisa bereaksi. Ia adalah pria itu, ia adalah provectus yang bekerja pada Militis, kemampuannya adalah kebal dan bisa melumpuhkan sementara kemampuan Provectus lain.

Mereka menempatkanku ke Reservasi kelas satu, yang setahun kemudian aku berhasil melarikan diri.Dan hingga sekarang aku tak tahu apa yang terjadi pada Lina.

 

“Senang bertemu denganmu lagi, nak” ujar pria itu sarkastik sambil mendekat. Tanganku masih terborgol di belakang tanganku.

“Sudah lima tahun sejak kita bertemu” lanjutnya tanpa emosi. Aku meludah ke kakinya. Lalu menatapnya geram di mata.

 

Mereka membawaku ke sebuah ‘panti asuhan’ Provectus yang disebut Reservasi. Tetapi tidak seperti panti asuhan, kami diambil meskipun masih memiliki orang tua, aku tak tahu apa yang mereka lakukan terhadap orang tua kami. Empat gedung tinggi yang berjajar, di sebelah kirinya terdapat bangunan lebar yang dijaga oleh Militis di sekelilingnya, di sebelah kanannya terdapat lapangan lebar berumput hijau terawat sempurna, depannya terdapat pos-pos jaga Militis.

Aku dibawa melewati pintu belakang gedung ke-dua, tembok-temboknya dilapisi untaian kawat-kawat tipis tembaga menyerupai pagar kawat, begitu juga langit-langitnya.

Akhirnya aku ditempatkan di sebuah ‘kamar’ yang tertutup rapat dari luar. Di ujung ruangan, antara dua tembok tertanam sebuah kamera pengawas. Sebuah kaca yang ukurannya tepat untuk tinggiku. Lalu pintu yang menghubungkan kamarku dengan kamar mandi terbuka pelan-pelan.

Keluar seorang gadis yang sedikit lebih pendek dariku, di pipinya terdapat sebuah luka panjang hingga dagunya, rambut hitamnya yang lurus sempurna digerai lembut. Ia berhenti melangkah lalu memandangiku dengan malu. Aku mengenalinya.

Matanya lalu tertuju pada kamera pengawas, lalu melihatku ragu. Sepertinya ia memperingatiku untuk tidak berkata sembarangan, karena kita diawasi. Aku mengangguk.

“Selamat pagi” sapanya ragu.

“Aku tidak tahu ini sudah pagi atau belum” jawabku mencoba tersenyum meskipun perasaanku sedang campur aduk.

“Pukul 10, waktunya istirahat luar” ujarnya masih malu.

Pintu yang tadinya terkunci sekarang dibukakan oleh seorang Militis, gadis itu keluar. Aku mengikutinya lalu Militis itu menghalangiku.

“Kecuali kau” katanya, lalu datang seorang wanita yang membawa buku catatan dan pria Provectus kebal tadi. Ia memegang tanganku rapat lalu merapatkan sebuah gelang tembaga yang terlihat komponen-komponennya rumit di permukaannya.

“Ini Prof. Diana” ia memperkenalkan pada wanita itu, wanita itu megulurkan tangannya untuk berjabat tapi aku abaikan. Aku berjalan menuju tempat tidur bertingkat di kamarku, lalu duduk di tepat tidur bawah.

Prof. Diana menjelaskan panjang lebar tentang kemampuan Provectusku. Ia menjelaskan bahwa kemampuan Provectus disebut ‘Provec’ dan jenis kemampuanku adalah ‘Telekinesis’ yang artinya  kemampuan untuk dapat menggerakkan, menekuk, atau menerbangkan objek dengan menggunakan kekuatan pikiran atau kekuatan non-fisik lain. Aku hanya mengangguk sarkastik sambil mencoba meyakinkan diri bahwa Raf dan Hanna baik-baik saja.

“Jadi, apa saja yang bisa kamu lakukan dengan Provec-mu?” ironisnya setelah panjang lebar menjelaskan, ia bertanya itu padaku. Aku tidak menjawab. Lalu ia menjelaskan betapa pentingnya jawabanku untuk penelitian ilmiah.

“Aku bisa mengendalikan batu, kayu, besi, sampai makanan, bahkan sedikit-sedikit tubuh hewan tapi aku tidak bisa melakukannya ke tubuh manusia. Aku tidak bisa mengendalikan tembaga. Aku hanya bisa mengendalikan objek fisik, dan jika pria ini tidak memberiku gelang ini aku bisa mengendalikan sepatu di kaki-kaki kurusmu untuk berlari keluar” jawabku marah.

“sudah cukup?” lanjutku memberi pandangan bertanya pada keduanya. Ia mengangguk lalu dengan kesal berjalan keluar.

“Sebaiknya kau tidak berbicara seperti itu lagi” pria itu mengggelengkan kepala.

“Apa tidak terlintas di kepala kebalmu itu jika aku benci tempat ini dan aku ingin dapat mencekikmu?” balasku tetap marah.

“Apa kau khawatir tentang temanmu dan pacarmu?” aku menebak ia menyebut Hanna dan Raf.

“Dia dan aku Cuma teman” aku menunduk.

“Tenang saja, Rafli bekerja untukku selama ini. Tidak mungkin aku menyakiti pekerjaku sendiri” pria initidak pernah berhenti mengejutkanku.

“Apa kau tahu dia itu juga provectus?” ia bertanya secara retoris. Jika aku menjwabnya, jawaban itu akan jadi ‘tidak’.

Aku tidak mampu membalasnya. Raf?! Ia selama ini bekerja untuk orang ini? Pria itu kemudian keluar dan pintu kamarku kembali terkunci.

Aku tidak menyangka Raf memata-mataiku untuknya, selama ini dia berpura-pura menjadi temanku untuk apa? Kenapa dia tidak langsung saja membawaku ke Reservasi? Mungkin dia benar-benar temanku. Ah  Lupakan saja!

Berhari-hari di tempat baruku ini aku tidak ingin bertemu orang lain kecuali Ella, gadis yang berbagi kamar denganku. Mungkin karena diberatkan pikiranku tentang Raf si penghianat.

 

Teringat dua tahun lalau, waktu usiaku baru mencapai 15 tahun, Hanna dan Raf 18 tahun. Kami baru saja kenal dengan Raf, sebelumnya ia beralasan hanya membutuhkan uang untuk melunasi hutang dan ia tahu aku adalah seorang Provectus, jika dia tidak kami perbolehkan bergabung dia akan menyebarkannya. Sebenarnya aku bisa menyakitinya selama ini, tapi Hanna merasa kasihan padanya.

Aku merusak kamera-kamera pengawas dalam suatu bank, lalu mengeluarkan uang dari dua mesin ATM-nya, tentu saja tanpa menyentuhnya.

“Wow! Bagaimana kamu bisa mengendalikan mesin ATM?!” Raf membelalak kagum.

“Hanya konsentrasi dan kehebatan Provectus” Hanna yang bukan merupakan Provectus memuji , membesarkan kepalaku sedikit.

Aku dan Hanna menggunakan uang kami untuk membayar Provectus-provectus lain untuk menyusun rencana, dan bergabung untuk merusak fasilitas di reservasi demi reservasi. Pada akhirnya kami dapat membebaskan ribuan anak dari reservasi kelas satu, reservasi untuk anak-anak di bawah 15 tahun.

Di antaranya yang bebas adalah Ella, sayang sekali sekarang dia tertangkap lagi.

Aku dengar para Militis akan menghapus Provec kami saat usia kami mencapai 18. Sedikit konspirasi di sana-sini, aku tidak tahu bagaimana para Militis bisa mendapat persetujuan dari pemerintah untuk membangun fasilitas modern rahasia mereka. Pastinya bukan dengan alasan tentang ramalan Ambitus yang akan terdengar absurd di telinga orang-orang sekarang.

 

 

“Memang provec-mu apa?” aku bangun dari tempat tidur penasaran.

“Mens Lectio, membaca pikiran” ujar Ella sambil turun dari tempat tidur.

“Kudengar itu langka” lanjutnya bangga.

Ia lalu berdiri di depan pintu yang masih terkunci. Saat jam yang tertempel di atas tembok menunjukkan angka digitalnya ’10:00’ pintu di depannya dibuka oleh seorang Militis. Seperti biasanya Ella dengan semangat keluar menuju lapangan berumput yang terletak di samping gedung pertama. Ia bilang disana kita bisa dengan bebas berbicara tentang apapun, dan diperbolehkan menggunakan Provec di bawah pengawasan. Tapi aku tetap di kamarku selain untuk sarapan, makan siang dan makan malam yang dilakukan di aula utama.

Militis yang membukakan pintu menunggu untukku, lalu aku kembali berbaring. Ia menutupnya lagi. Saat aku sendiri, aku berpikir, dan yang aku pikirkan tidak membuatku tersenyum.

Apa yang terjadi pada Lina? Hanna? Orang tuaku? Raf? Aku menghela napas kesal akan Raf. Pikiran itu membuatku bentur-benturkan gelang tembagaku ke tembok berkali-kali karena kesal, tidak ada gunanya.Benda sialan ini tidak akan rusak. Kuusap air mataku yang tadinya aku tidak sadar keluar, aku sebenarnya tidak mau terlihat lemah pada siapapun yang melihatku dengan kamera itu.

Aku mengetuk-ngetuk pintuku, berharap kalau Militis yang membuka pintuku tadi masih berada di depan. Aku mengetuk lagi dan lagi hingga buku-buku jariku memerah. Tiba-tiba terdengar suara kunci dan pituku membuka.

 

Lapangan ini tidak begitu buruk. Aku mengenali beberapa anak di sini, mungkin dari Reservasi kelas pertama, atau aku dulu membebaskan mereka.

“Sarah?” seorang anak laki-laki mendatangiku sambil tersenyum.

“Dani?” aku berdiri dari bangku yang terletak di pinggir lapangan. Aku mengenalnya dari Reservasi kelas satu, ia dulu sering mencuri roti coklatku.

“Lama tidak bertemu, kudengar kamu merampok bank” dia tersenyum usil sambil menggaruk-garuk rambut ikalnya.

“Bukan merampok, mengambil uang dari mesin ATM tanpa izin dan merusak lemari penyimpanan uang” jawabku dengan senyum kecil mulai terbentuk, aku tidak percaya aku tersenyum setelah kemarahanku tadi.

Dani tertawa sambil memegangi perutnya.

“Itu sama saja” ejeknya sambil menyalakan dan mematikan api dengan tangannya dari udara.

“Pyrokinesis, menciptakan dan mengendalikan api dengan kekuatan non-fisik” ia menyombong.

“Telekinesis, aku tak ingat” lalu kita berdua tertawa. Aku ingat dulu aku menjulukinya Bocah Kompor.

Aku dan Dani akhirnya berjalan keliling lapangan untuk bertemu pada sebanyak mungkin orang, kurasa aku melakukannnya agar tidak memikirkan Hanna atau Raf. Rata-rata mereka berumur lima belas, disini tempat bagi Provectus berusia lima belas hingga tujuh belas.

“Lalu apa yang terjadi saat usia kita delapan belas” Anak bernama Susan bertanya.

“Mungkin Militis akan menghilangkan Provec kita” jawab Dani kecewa. Usiaku dan Dani sudah mencapai tujuh belas, Ella dan Susan lima belas.

“Mengapa mereka tidak lakukan sekarang saja?” aku terkejut pada diriku sendiri untuk bertanya ini.

“Pemerintah, mereka tidak membolehkannya. Ada batas usianya” balas Susan.

Aku kembali tertunduk menatap sepatuku.

“Apa kalian dengar berita tentang orang-orang yang akan berteleportasi dari luar reservasi?” Adit, anak yang berdiri di sebelah Dani mengalihkan pembicaraan.

“Untuk apa dia masuk?” tanya Dani mengerutkan dahi.

“Kukira untuk membebaskan kita seperti orang yang membebaskan reservasi kelas satu dulu” jawabnya. Apa dia membicarakan aksi lamaku dan Hanna?

“Apa dia berhasil?” Susan menjadi penasaran.

“Tentu tidak, jika iya kita pasti sudah berada di luar sana” ujar Ella sambil menunjuk ke arah pagar utara.

“Kalau tidak salah pemimpinnya adalah orang dalam Militis, namanya Rafi… Afi… Erian ah aku tidak ingat. Pokoknya Militis menembaknya dengan peluru tembaga” Adit dengan mudah berkata.

“Rafli Arian?” tanyaku serius. Ia mengangguk yakin.

Ella yang sudah aku ceritakan tentang Raf menunduk tak berkata-kata.

“Kau kenal dia?” Susan mendekatiku. Aku mengangguk pelan. Sebelum mereka bisa berkata apa-apa aku sudah berlari menjauhi mereka untuk kembali ke kamarku.

Aku berhenti sejenak, mencoba menahan tangis. Meskipun dia berhianat, bukan berarti aku melupakan sahabatku. Di mataku yang tertutup terlintas sebuah batu seukuran genggaman tanganku lalu rute-rutenya agar aku sampai ke sana. Seperti aku dipanggil oleh batu itu. Aku membelalak terkejut, Apa aku satu Provectus yang disebut di ramalan Ambitus? Tidak mungkin, aku tidak ingin.

Aku tetap berjalan menuju kamarku. Tiba-tiba aku menemukan diriku berjalan melalui ruangan-ruangan dan lorong sempit rahasia yang menuntunku ke pintu tersembunyi kecil yang akhirnya menyampaikanku ke depan pintu tembaga besar seperti yang aku lihat di bank.

Seorang Militis masuk ke melalui pintu utama lalu tercengang saat melihatku.Aku melayangkan pistolnya lalu menjatuhkannya keras ke kepalanya. Dia jatuh pingsan, sebelumnya mengeluarkan suara kesakitan sebelum kesadarannya hilang.

Aku mencari di kantong-kantongnya untuk kunci pintu tembaga itu. Aku menemukan kunci besar yang sama-sama terbuat dari tembaga. Lalu aku ambil bersama pistolnya. Aku memutarnya di lubang kunci itu, lalu pintu itu bergeser terbuka.

Di tengah ruangan terdapat batu yang kulihat tadi di tengah ruangan besar itu diletakkan di sebuah pelindung kaca yang di atasnya tersambung kabel-kabel tebal. Ada dua orang Militis bersenjata besar menyuruhku untuk berhenti, aku layangkan pistol-pistol mereka, itu adalah jurus handalanku. Lalu kutembak mereka di leher mereka yang tak berpelindung. Tiba-tiba alarm keras berbunyi, pasti ada kamera di ruangan ini.Tetapi aku tetap melangkah cepat ke arahnya.

Aku pecahkan kaca pelindung itu dan kuambil batu putih itu di dalamnya. Lampu-lampu dan alarm berhenti berfungsi, Sepertinya batu ini adalah sumber tenaganya.

Batu itu terasa hangat di tanganku, seolah-olah ikut menghangatkan darahku yang mengalir. Di Kisah Lama Fatum tertulis bahwa batu ini bisa membuat seorang Provectus lebih kuat. Bahkan aku pernah meragukan keberadaannya, tapi tidak sekarang.

“Batu itu… memanggilmu?” suara seorang pria berkata sedikit terputus-putus. Lampu darurat yang berwarna merah menerangi ruangan, aku bisa melihat Si Kebal dan beberapa Militis berdiri di seberangku. “Apa kalian takut?” aku bertanya secara retoris padanya. Aku tidak takut.

***

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>